My Lovely Kid
Naruto © Masashi Kisimoto
Rated : K-T
Genre: Family & Romance
Warning: Terinspirasi dari sebuah komik tapi saya lupa *plak* dan beberapa fic semacam ini dan oke banyak Typo.
Chapter 7
"Siapapun mereka berdua kurasa bukan urasanmu Koyuki-chan." Kata Sumaru acuh meninggalkan Koyuki untuk bergabung dengan Sasuke dan Naruto yang terlihat bercanda dengan ibunya. Sumaru mempunyai spekulasi sendiri tentang dua sahabatnya itu, mungkin terdengar gila tapi dia mempunyai sebuah asumsi yang cukup kuat untuk ditanyakan pada Hinata dan Sakura secara langsung. Berkat kejadian tadi entah mengapa pikiran liarnya kembali lagi menghampiri dirinya.
"Aku harus tanyakan langsung pada Hinata-san dan Sakura-san." Ucapnya pada diri sendiri kemudian berjalan menghampiri mereka.
.
.
.
"Dobe ayo sini, Akamaru gak gigit kok." Ajak Sasuke pada Naruto yang tidak mau mendekat pada anjing besar putih milik Kiba. Saat ini Sasuke tengah asik bermain-main sedangkan Naruto meringkuk di belakang Hinata dengan wajah ketakutan yang anehnya jadi hiburan tersendiri untuk kawan-kawannya disana.
"Hei Naruto sampai kapan kau mau takut Akamaru hmmm! Ck dasar payah!" Cela Kiba dengan nada mengejek dari belakang Naruto. Pemilik Akamaru itu nampaknya sangat senang menggoda Naruto yang anehnya sekarang sangat takut pada Akamaru.
"Neee, Kaa-chan Naru gak terima dihina terus. Ayo main sendiri saja Kaa-chan." Rajuk Naruto yang sudah ngambek gara-gara terus saja digoda untuk mendekati Akamaru. Dengan tenaga yang tidak seberapa dia berusaha menarik tangan Hinata untuk menjauh dari kumpulan orang-orang yang terus membuatnya kesal.
Hinata sedikit terhuyung namun masih belum beranjak dari tempatnya. Dia pandangi Naruto dengan geli.
"Naruto-kun jangan begitu, apa asiknya bermain sendiri disini lebih banyak orang pasti lebih menyenangkan." Tutur Hinata lembut sambil mengusap kepala kecil si pirang yang menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca.
"Jangan manja dong jelek, Akamaru baik." Kata Sai dengan nada dan ekspresi datar.
"Tidak usah ikut campur paman muka datar! Neeeee! Kaa-chan, Naru tidak tahan ayo main sendiri!" Bentak Naruto pada Sai kemudian merajuk pada Hinata untuk diajak main sendiri. Mereka yang melihat tingkah Naruto hanya bisa bergeleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
"Ck, mendokusai!" Komentar Shikamaru pendek, dia terduduk di bawah pohon sambil tiduran.
"Krauk..krauk..krauk…mereke jadi lucu ya shika." Kata Chouji disela-sela makan keripik kentangnya yang entah sudah habis berapa bungkus hari ini.
"Tambah berisik!" Ujar Shikamaru pendek masih menutup mata. Sebenarnya Shikamaru ngeri bila memandangi tingkah Naruto dan Sasuke. Bukan ngeri dalam artian takut tapi apa iya jika suatu saat memiliki anak tingkah putranya akan seperti ini. Shikamaru membayangkan pasti sangat merepotkan sekali bila mempunyai anak-anak yang sifatnya seperti mereka. Hidupnya yang sudah merepotkan pasti tambah merepotkan lagi.
"Kaa-chan ayo!" Naruto masih saja merajuk untuk pergi dari sana.
"Naruto jangan manja pada Hinata, apa salahnya disini hah?" Akhirnya gadis bermahkota merah jambu turun tangan juga. Dia bisa dikatakan gadis yang bisa menjinakkan Naruto selain Hinata. Cukup dengan tampang cantiknya namun horor bisa membuat Naruto menurut dengan tegurannya.
"Permisi." Sapa suara anak kecil lain dengan nada tenang.
Bocah delapan tahun bermata merah dengan wajah tampan sudah berdiri diantara mereka. Sumaru memberanikan dirinya untuk berada di tempat ini demi memenuhi rasa ingin tahu yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Harapannya dia bisa berbicara serius dengan mereka, namun harapan tinggal harapan ketika sebuah teriakan ala fans girls tertuju padanya.
"Kyaaaa itu Sumaru-kun! Ehmmm, manisnya!" Reflek dia pandangi seorang gadis berambut pirang dengan wajah cantik meneriakinya sambil memandang gemas. Tanpa bisa berbuat apa-apa Sumaru menjadi bahan mainan untuk dicubiti sang gadis.
"Eh!" Kata Sumaru takut-takut.
"Waaa, kau tahu aku sejak tadi sudah menahan diri untuk tidak mencubitmu. Ternyata kalau dilihat dari dekat lebih menggemaskan. Coba kamu seumuran denganku pasti sudah kujadikan pacar." Tutur Ino yang sudah menerocos hebat ketika berhasil bertemu anak kecil tampan itu. Para Rokie 12 langsung sweatdrop lihat kelakuan Ino dan Sumaru jadi semakin takut dengan Ino.
"Hei Ino pig sadar! Dia masih anak-anak." Tegur Sakura sebelum kelakuan Ino semakin menjadi.
"Ha ha ha ha ha, aku hanya bercanda kok. Habisnya anak ini tampan kaya Sasuke-kun." Kata Ino yang menjauh dari Sumaru. Mimpi apa dia semalam bertemu wanita dewasa aneh ini.
"Abaikan dia Sumaru-kun, mau cari Sasuke dan Naruto?"Tanya Sakura seramah mungkin.
"Kebetulan sekali Sumaru! Ayo main saja denganku!" Dari belakang Naruto sudah tersenyum lebar ketika Sumaru datang. Apalagi yang membuat bocah satu ini bahagia kalau tidak teman yang bisa diajak bermain.
Sumaru berpaling untuk melihat Naruto yang menatapnya penuh harap untuk bermain.
"Mainnya nanti saja Naruto, sekarang aku sedang ada perlu dengan Hinata-san dan Sakura-san." Jawabnya pada Naruto yang langsung lesu. Sumaru menatap baik-baik Naruto sebelum senyum geli menghiasi wajah tampannya.
"Dengan kami?" Tanya Hinata sambil melirik Sakura yang sama terkejutnya. Sasuke yang tengah asik bersama Kiba dan Akamaru mendadak perhatiannya teralih ketika Sumaru mengatakan ada urusan dengan Sakura dan Hinata.
"Iya, sebenarnya ada hal penting yang kutanyakan. Ini tentang Sasuke dan Naruto." Kata Sumaru jelas dan serius. Dia abaikan pandangan para Rokie yang langsung tertuju padanya.
Gadis bersurai pink itu terpaku melihat sorot keingintahuan yang tinggi pada diri Sumaru. Sakura sangat jelas menemukan ada sesuatu yang sangat ingin diketahui sang bocah dan dia juga memahami akan sulit menghindar dari bocah cerdas seperti ini. Iris viridian Sakura diedarkan pada teman-temannya yang sama-sama menunjukkan aura serius hingga membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Mendengar nama mereka disebut Sasuke dan Naruto reflek berpandangan satu sama lain. Sasuke menatap sahabatnya dengan sorot kebingungan khas anak kecil seolah bertanya apa yang terjadi. Naruto menggidikkan bahu kemudian tersenyum kecil pada sahabatnya, Naruto lalu mengenggam erat tangan Hinata untuk menenangkan emosi sang gadis.
"Ck…cukup pintar juga dia rupanya." Pikir Shikamaru menanggapi sang bocah. Sumaru tergolong berani karena mampu berdiri diantara para Rokie yang serius menatapnya.
"Hei bocah sebaiknya kau cari tempat dan waktu yang lain jika ingin berbincang dengan mereka berdua. Kurasa waktu istirahatmu sudah habis." Tutur Shikamaru mewakili pada Hinata dan Sakura.
Sekarang mata merah Sumaru beradu tajam dengan Shikamaru yang mencampuri urusannya. Para Rokie cukup takjub, baru kali ini bisa melihat ada bocah berani beradu tajam dengan seniornya. Hanya dalam beberapa menit suasana sudah panas ketika keheningan makin lama terjadi sampai tangan kecil Sumaru telah ditarik oleh pemuda raven yang tidak tahan melihat wajah ibunya terdetensi lagi.
"Sumaru ayo kita kesana, lihat sensei Iruka sudah dilapangan. Urusannya dilanjutin nanti saja, aku juga mau tahu apa yang ingin dibicarakan Sumaru jadi ditunda dulu. Ayo!" Ajak Sasuke sambil menarik tangan Sumaru yang masih terpaku. Karena Sumaru diam saja Sasuke kemudian mendorong bahu kecilnya untuk bergerak.
"Sudah Ayo! Kok malah bengong." Sasuke dengan susah payah mendorong Sumaru untuk kumpul bersama Iruka yang sekarang sudah mulai memerintahkan berbaris.
"Saya menunggu kesempatan itu Hinata-san, Sakura-san." Ujar Sumaru mengikuti ajakan Sasuke dengan terpaksa. Nafas lega sementara langsung dikeluarkan oleh seluruh Rokie 12. Hinata kemudian berpaling ke bawah dan baru menyadari Naruto masih bersama mereka dengan sorot mata yang kosong ke depan.
"Loh Naruto-kun masih disini?" Tanya Hinata heran melihat pemuda berambut pirang itu justru masih terpaku kemudian tersentak kecil menatap Hinata reflek.
"Argh, maaf." Jawab Naruto kemudian melepas tangan kecilnya dari Hinata dengan nada datar. Gadis berambut indigo terkejut ketika merasakan perubahan sikap Naruto.
"Naruto-kun tidak apa-apa?" Tanya Hinata dengan nada khawatir. Naruto menggeleng pelan.
"Tidak Kaa-chan, hanya sedikit pusing." Naruto memegangi kepalanya yang mendadak seperti memunculkan gambar-gambar bergerak lagi di kepalanya. Meski berusaha ditahan namun sakit itu mendera kembali.
"Naruto jangan dipaksakan. Lebih baik kau istirahat saja, aku akan bilang sensei Iruka ." Sakura yang merupakan medic nin langsung turun tangan dengan mengecek Naruto.
"Kenapa Naruto?" Tanya Ino mewakili teman-temannya yang turut cemas.
"Naruto-kun memaksakan ingatannya." Ujar Hinata panik sambil memegangi tubuh Naruto yang terlihat mulai hilang keseimbangan.
"Lebih baik kau istirahat dulu Naruto. Jangan memaksakan diri." Pinta Sakura pada Naruto yang masih memegangi kepalanya.
"Aku tidak apa-apa bibi Sakura." Sangkal Naruto sambil memegangi kepalanya namun dia menggerakkan tubuhnya untuk kelapangan dimana Sumaru dan Sasuke berkumpul.
"Eh tunggu!" Kata Sakura panik ketika Naruto seenaknya berlari meninggalkan mereka tanpa meninggalkan penjelasan apapun.
.
.
.
"Huwaaaa! Kaa-chan capek! Cepat buka pintunya." keluh Naruto begitu di depan pintu apartemen mereka. Tampang bocah berambut pirang itu sudah kusut gara-gara waktu pulang berkejar-kejaran dengan Sasuke. Maunya sampai apartemen dia langsung bermanja-manja dengan Hinata namun dia harus tahan dulu sikap kekanakannya karena apartemen mereka kedatangan tiga tamu sekaligus yaitu Sasuke, Sakura dan Sumaru.
"Sabar dulu Naruto-kun." Kata Hinata sambil membuka pintu apartemen mereka.
Apartemen Hinata dan Naruto memiliki ruangan tidak terlalu besar namun sangat tertata rapi dan terlihat nyaman ditinggali. Hinata mempersilakan masuk tamunya untuk duduk di ruang tamu.
"Naruto-kun, langsung ganti baju kemudian cuci tangan dan kaki. Setelah itu bantu Kaa-chan-."
"Iyaaaaaa Kaa-chan nanti Naru bantu!" Belum juga Hinata menyelesaikan perkataannya Naruto sudah menyela Hinata. Naruto yang sudah terlalu capai langsung menuju kamar untuk berganti dan sejenak berbaring.
"Eng tunggu dulu, aku ambilkan minum." Ujar Hinata untuk pamit mengambilkan minum dan makanan kecil untuk para tamunya.
Sakura berusaha bersikap biasa dengan mencoba membuat obrolan ringan bersama Sasuke yang rupanya sudah sekongkol dengan Sumaru.
"Maaf menunggu lama." Tidak berapa lama kemudian Hinata datang dengan membawa orange juice beserta kue kering dalam toples.
Kini mereka berempat terdiam bingung untuk memulai dari mana pembicaraan, sampai pada akhirnya Sumaru yang mulai angkat bicara.
"Maaf sebelumnya Hinata-san dan Sakura-san aku hanya ingin bertanya suatu hal." Jika Sumaru yang bicara maka sudah tidak bisa diganggu gugat untuk tidak serius. Sasuke yang biasanya usil bahkan duduk diam disamping Sumaru untuk mendukung rekannya.
"Ceritakan saja asumsimu Sumaru-kun?" Pinta Hinata dengan lembut. Hinata sudah mendengar jika Sumaru itu siswa yang cerdas dari Naruto. Kemungkinan besar Sumaru memiliki pendapat ada yang tidak beres dengan Naruto dan Sasuke teman setimnya.
Sumaru terkejut ternyata Hinata langsung memintanya to the point. Dia tenangkan dirinya sampai dia mengucapkan maaf sebagai permulaan.
"Sasuke, maaf bukannya aku meragukanmu sebagai anak kandung Sakura-san tapi aku merasakan ada singkronisasi yang tidak tepat antara umur Sakura-san dengan Sasuke." Kata Sumaru tenang mengawali dugaannya sekaligus membuat bocah disampingnya shock.
"Neee, Kaa-chan mana cookiesnya?" Interupsi Naruto yang tiba-tiba keluar dari kamar dengan t-shirt orange celana pendek hijau tangan kanan memegang gameboot dan kedua telingannya ditutupi headseat berwarna orange.
"Di dapur Naruto-kun." Jawab Hinata disela-sela keperangahannya melihat sikap Naruto yang lain dari biasanya.
"Hah! Gak denger Kaa-chan!" Wajar saja Naruto cuma melihat bibir Hinata bergerak-gerak soalnya dia tengah mendengarkan musik dengan volume cukup keras. Hinata dengan kesabarannya kemudian mencopot headseat Naruto dan mengatakan letak cookiesnya.
Sumaru menatap tajam Naruto dia kira sengaja menginterupsi pembicaraan mereka. Pemuda berambut pirang itu hanya nyengir ditatap tajam kawannya yang tampak kesal.
"Sumaru lanjutkan maksudmu!" Kata Sasuke yang tampangnya sudah tertekan. Akibat sepenggal kalimat dari Sumaru tadi pemuda berambut dark blue itu akhirnya berani membuka pikirannya yang selama ini jarang digali. Akibatnya sekarang dia menemukan kejanggalan umur antara Sakura dan dirinya. Sesak tiba-tiba Sasuke rasakan ketika dari perhitungannya dia menemukan fakta yang sulit dicerna pikiran siapapun.
"Rata-rata umur anggota Rokie 12 menginjak awal dua puluhan sedangkan-." Sumaru menghentikan ucapannya ketika melihat teman disampingnya ingin angkat bicara.
"Sedangkan umur Sasu tujuh tahun Oka-chan. Tidak mungkin Oka-chan melahirkan Sasu diusia empat belas tahun. Hal itu memang masih mungkin tapi tidak mungkin Oka-chan menikah di usia sekitar tiga belas tahun. Apa itu artinya Sasu bukan anak Oka-chan?" Tanya Sasuke dengan lirih dan sedih. Sang raven tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajah sedih itu.
Sakura menatap uchiha terakhir dengan pandangan pilu. Hinata yang duduk disamping Sakura berusaha menguatkan dengan memegang bahu Sakura yang sudah bergetar. Sakura tahu masih banyak ketidak pastian jika Sasuke dan Sumaru bila mengetahui hal ini. Mungkinkah Sasuke bisa menerima dirinya kembali seperti Naruto.
"Itai! Aku ketinggalan banyak?" Lagi pemuda berambut kuning itu menginterupsi suasana yang sedang tegang dengan tingkah konyolnya. Dengan setoples cookies di tangan kanan, gameboot di tangan kiri kemudian dia duduk seenaknya disamping Hinata dan Sakura yang tengah bingung. Naruto sekilas memandangi Hinata dan menemukan mata lavender sang gadis yang menyipit marah.
"Ne, ampun Kaa-chan. Baiklah silahkan lanjutkan!" Kata Naruto tanpa dosa kemudian fokus pada gamenya sambil memasukkan sebuah cookies dimulut. Si pirang mengabaikan tatapan tajam dari Sumaru dan Sasuke yang bersamaan. Naruto sudah bisa menebak apa yang ingin Sumaru tanyakan namun dia tidak ingin ikut campur. Sumaru tipe orang yang serius dan dia kurang suka, lebih baik dia menyibukkan diri daripada terlibat lagi dalam suasana tegang yang jujur turut memicu emosinya.
"Bukan." Jawab Sakura lirih yang membuat air mata sang Uchiha turun.
"Lantas siapa Sasuke sebenarnya? Apa dia benar keturunan Uchiha?" Tanya Sumaru mewakili Sasuke yang sudah terisak sendu. Sumaru pegangi sang teman untuk menenangkan.
"Dia memang keturunan Uchiha dan kondisinya saat ini bukan sosok aslinya." Ujar Sakura lagi namun diiringi air mata yang turun. Sakura tidak tahan lagi untuk menunjukkan raut kesedihannya. Di ruang itu mungkin hanya Sumaru yang terlihat tegar dan Naruto terlalu cuek dengan lingkungannya sehingga sampai tidak sadar Sasuke dan Sakura menangis. Lain lagi dengan sang Hyuuga, dia justru ingin marah besar pada si pirang yang malah asik makan cookies sambil main game disertai mendengarkan musik.
Suasana saat ini benar-benar bagai ruang sidang untuk Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura. Mereka begitu larut dalam emosi masing-masing demi menemukan yang dicari.
"Bila boleh kulanjutkan Sasuke adalah Uchiha Sasuke anggota Rokie 12 pahlawan perang dunia Shinobi yang menghilang secara misterius hingga saat ini. Dia tidak menghilang tapi menjadi Sasuke ini, terdengar gila memang tapi dunia shinobi penuh dengan jutsu yang bisa saja menghasilkan efek seperti mengecilkan tubuh dan kehilangan ingatan. Hal yang sama juga berlaku pada Naruto." Terka Sumaru dengan nada lebih hati-hati. Dia tidak ingin tampak sebagai polisi yang menginterogasi penjahat. Sumaru ingin tahu kebenarannya itu saja. Dia juga tidak berminat membocorkannya jika tahu.
"Hikz…hikz..hikz..hikz..Oka-chan apa itu benar?" Tanya Sasuke disela-sela tangisanya.
Sakura sama terisaknya dengan Sasuke, air matanya terus saja mengalir membasahi pipi cantiknya. Melihat Sakura menangis sebenarnya membuat Sasuke ikut pedih. Namun, disini dia tidak bisa menahan rasa sedihnya ketika tahu bukan putra kandung dari orang yang sangat dia sayang. Sasuke tidak peduli siapa dirinya tapi dia sangat sedih ternyata Sakura bukan ibu kandungnya. Bersama Sakura dan keluarganya ia merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang sempurna, dia takut kehilangan hal itu. Anak itu takut kebahagiaannya terenggut, di dalam dirinya ada sayang yang sangat besar untuk Sakura, Kakek dan Neneknya. Bersama mereka bagai nyawa Sasuke saat ini.
"Sasuke-kun kami harap kau bisa menerima ini dengan baik. Tolong jangan membenci Sakura-chan karena dia sangat menyayangimu Sasuke-kun." Kata Hinata mewakili Sakura yang masih menangis. Hinata berusaha memberi pengertian sehalus mungkin pada Sasuke yang tampak begitu terguncang.
Sumaru turut memandang sedih mereka berdua. Bukan ini maksudnya membuat mereka bersedih. Mendadak rasa bersalah itupun muncul, dia tidak tega bukan ini maunya.
"Maaf aku tidak bermaksud Sakura-san , Hinata-san." Sumaru ikut larut dalam sedih ketika Sasuke makin menangis. Bahunya bergetar karena guncangan emosi yang dalam.
"Astaga kenapa ada acara menangis disini?" Tanya Naruto dengan nada tanpa dosa disituasi yang sudah amat telat disadari. Naruto bisa menebak jika Sumaru yang mengajak bicara suasana akan menjadi serius namun tidak menyangka akan melihat adegan menangis di depan matanya.
Sasuke yang terpukul dan shock tidak tahan lagi menyembunyikan kesedihannya kemudian berlari keluar dari apatemen milik Hinata. Uchiha kecil itu belum bisa terima kenyataan bahwa Sakura bukan ibunya.
"Sasuke!" Teriak Sakura ketika bocah kecil itu pergi. Namun gerakannya ditahan oleh Hinata untuk mengikuti Sasuke.
"Biarkan dia menenangkan diri dulu Sakura-chan, aku yakin Teme akan baik-baik saja." Kata Naruto untuk menenangkan Sakura yang masih menangis. Bocah pirang itu sama prihatinnya dengan Sakura namun sekali lagi dia memiliki keyakinan Sasuke akan baik-baik saja.
"Naruto-kun lebih baik kau dan Sumaru yang mengejar Sasuke sebelum dia pergi jauh." Pinta Hinata pada Naruto dan Sumaru. Naruto mengangguk mengerti kemudian keluar bersama Sumaru yang masih menyesal dengan tindakannya.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam namun mereka belum menemukan dimana Sasuke berada. Hinata menyerahkan sepenuhnya pencarian pada Naruto dan Sumaru, jika sampai larut malam belum ditemukan dia baru akan turun tangan turut mencari sang anak. Namun karena Sakura masih terus saja menangis Hinata akhirnya mengajak Sakura untuk pulang.
"Haaah kemana si Teme itu !" Umpat Naruto, bocah itu sudah kuyu akibat kakinya pegal memutari desa mencari makhluk bernama Sasuke. Si pirang bahkan hampir sepuluh kali menyusuri sudut taman untuk menemukan sahabatnya yang menghilang.
"Maaf aku tidak tahu bila akan jadi seperti ini Naruto-sama." Akhirnya mulut Sumaru yang dari tadi bungkam menuturkan rasa bersalah. Dia tidak menyangka Sasuke akan kabur.
"Jangan dipikirkan! Dan jangan memanggilku Naruto-sama." Kata Naruto dengan nada polos yang jujur membuat Sumaru bingung. Bukankah Naruto sudah tahu siapa dirinya terbukti dengan sikapnya yang cuek tadi.
"Tapi bukankah anda adalah Uzumaki Naruto-sama. Anggota Rokie 12 yang menjadi pahlawan desa." Ujar Sumaru dengan sopan. Sumaru jadi canggung bila mengingat status Naruto, bagaimanapun juga temannya ini lebih tua darinya.
"Neeeee, jangan begitu walaupun aku sudah tahu aku juga belum ingat apa-apa. Lagi pula Sumaru itu sahabatku sama seperti Sasuke." Kata Naruto riang. Sumaru tersenyum tipis karena masih dianggap oleh Naruto.
Tidak berapa lama, mereka sudah berada di depan pintu rumah Sakura. Hinata mengetuk pintu kediaman keluarga Haruno karena Sakura masih murung dengan kejadian tadi. Pintu dibukakan oleh Mebuki Haruno yang menampakkan wajah marah begitu melihat Sakura datang.
"Sakura apa yang kau lakukan pada cucu kecilku hingga dia pulang menangis? Dan kemana saja kau hingga baru pulang anak nakal!" Omel Mebuki Haruno. Bukannya Sakura takut tapi malah terperangah tidak percaya. Hinata, Sumaru dan Naruto hanya sweatdrop ketika tahu larinya Sasuke tidak lain dan tidak bukan adalah pulang kerumah.
"Sasuke sudah pulang?" Tanya Sakura memastikan dengan nada takut-takut.
"Iya, dia pulang menangis dan kemana tanggung jawabmu sebagai ibunya hmmm!" Tanpa bisa dilawan telinga Sakura sudah dijewer Mebuki untuk membawanya masuk.
"Oh maaf anak-anak sampai lupa mempersilakan masuk. Bibi sampai lupa ada kalian gara-gara Sakura, ha ha ha. Ayo masuk, jangan malu-malu." Kata Mebuki layaknya orang yang memiliki dua sikap manis dan kejam di saat bersamaan. Dengan manisnya dia berkata pada Naruto, Hinata dan Sumaru namun dengan sadisnya menjewer telinga Sakura. Ketiga tamu asing itu hanya manggut-manggut takut akan kekuasaan nyonya rumah.
"Sakit!" Keluh Sakura yang hanya bisa dikasihani oleh yang melihat. Di sepanjang rumah Mebuki terus saja menjewer Sakura tanpa ampun.
Rumah keluarga Haruno adalah rumah dengan gaya khas jepang. Mereka diajak masuk dan duduk di ruang tengah, sekali lagi mereka harus terperangah tidak percaya ketika melihat Sasuke dengan manjanya duduk di pangkuan Kizashi dan tengah bercengkrama memandangi buku cerita bergambar. Tentu disini yang paling kesal adalah Naruto sebab dialah yang paling lelah berkeliling Konoha untuk mencari si anak ayam yang ternyata bertengger manis di kediaman Haruno.
"Tou-san." Panggil Sakura pada ayahnya yang tengah memangku Sasuke. Mebuki kemudian tersenyum lembut dan melepaskan jewerannya. Dia akan membiarkan keadaan sesuai air mengalir.
"Mencari makhluk kecil ini?" Tanya Kizashi dengan nada sumpringah sambil menunjuk Sasuke yang sudah manyun dikatai makhluk kecil.
"Udah Sasu bilang Sasu udah besar kakek!" Rajuk Sasuke dengan suara khasnya sambil menarik jenggot Kizashi dengan sengaja. Kalau Sakura, Naruto dan Hinata tidak heran kepala keluarga Haruno sangat akrab dengan Sasuke tapi bagi Sumaru melihat hal ini menjadi bagian yang tidak biasa.
"Sejak kapan dia pulang?" Tanya Sakura pada ayahnya.
"Sebelum bertanya, tou-san tanya dulu. Kamu apakan Sasuke hingga bicaranya jadi ngaco gini? Tou-san pusing untuk mendiamkannya!" Curhat Kizashi yang rupanya sudah kelimpungan mendiamkan Sasuke saat menangis terus ketika pulang.
"Sudah dibilang Sasu nggak ngaco kek!" Sasuke menarik lagi jenggot Kizashi karena tidak terima dibilang ngaco. Sasuke sudah biasa bila marah menarik jenggot Kizashi sebagai pelampiasan.
"Jangan tarik lagi jenggot Kakek makhluk kecil!" Teriak Kizashi marah-marah pada bocah yang sudah dianggapnya cucu. Sasuke menjulurkan lidah kemudian melemparkan buku ceritanya ke muka kakeknya. Sungguh lucu jika dua orang ini bergabung.
"Jadi apa yang kau katakan pada makhluk kecil ini Sakura? Kau beri tahu dia kebenarannya?" Tanya Kizashi dengan nada seserius mungkin namun gagal total karena masih tetap saja terlihat seperti bercanda.
"Tou-san Sasuke-kun memang sudah tahu." Jawab Sakura sedih. Dia berusaha menahan air matanya jika membicarakan hal itu lagi. Iris viridian Sakura sejenak memandangi iris hitam sang bocah untuk melihat reaksinya.
"Wow, neee…cucu kakek yang manis ini sudah tahu. Wah kakek inginnya kamu tetap jadi cucu kecilku. Kalau begitu jadi mantuku saja deh! Boleh kan sayang?" Jawab Kizashi sembari memeluk Sasuke sambil melihat ke Mebuki yang mengangguk. Hinata, Naruto dan Sumaru tidak usah ditanya karena mereka terlalu terpesona pada kekuatan Kizashi sehingga membeku bagai es.
"Aku tidak keberatan punya menantu semanis Sasuke!" Ujar ibunya untuk menyetujui ayah Sakura.
Disini air mata Sakura sudah tidak jadi turun gara-gara kelakuan sinting ayahnya, demi apa dia bisa memiliki keluarga semacam ini.
"Nee,Sasu masih boleh sama Oka-chan? Lalu mantu itu apa ?" Tanya Sasuke yang moodnya jika bersama Kizashi sungguh baik. Oniknya menatap Sakura sambil nyengir lebar pada sang gadis berambut merah jambu.
"Besok kalau sudah besar jadi suaminya Sakura. Bikin cucu-cucu yang manis sepertimu bisa?" Sungguh sinting ayah Sakura ini, bisa-bisanya ia bicara begitu pada Sasuke. Wajah Sakura sekarang sudah semakin merah seperti kepiting rebus gara-gara ayahnya.
"Siap!" Jawab Sasuke sambil memeluk leher Kizashi dengan bangga dan membuat Sakura lemas tak berdaya. Tidak habis pikir bisa-bisanya Sasuke bisa jinak sekali dengan ayahnya. Yang jelas ini adalah takdir Sakura untuk mengurusi pemuda yang dikasihinya lebih lama lagi.
"Heeeee tou-san apa-apaan?" Pekik Sakura yang sudah sangat malu diperhatikan teman-temannya dibelakang, terlebih ada Sumaru yang murni masih anak di bawah umur.
"Oka-chan! Masih mau sama Sasu kan?" Tanya Sasuke yang sudah melompat dari pangkuan Kizashi menghampiri Sakura. Gadis yang menjadi ibu Sasuke itu kemudian menyetarakan tingginya dengan Sasuke. Dia tatap mata polos si bocah.
"Oka-chan!" Panggil Sasuke pada Sakura yang bingung dengan senyum mencurigakan sang bocah. Sakura merasakan feeling tidak enak, benar saja dengan gerakan lambat Sasuke mendekatkan tubuhnya pada Sakura.
Puk!
Sakura dengan mudah menonyol jidat Sasuke.
"Mau apa kau bocah, kecil-kecil mau mesum hmmmm! Besarin dulu tuh badan." Omel Sakura yang langsung berdiri meneriaki Sasuke, si anak manyun lagi diomeli Sakura. Semua tertawa melihat tingkah Sasuke dan Sakura termasuk Sumaru yang sudah sangat menyesal mengetahui fakta sebenarnya.
"Sepertinya hidupku akan makin repot saja." Batin Sumaru yang ternyata juga bisa nista.
Bersambung
Thank to
Ilham, Hanon hoshou, uchiha kirito, Akatsuki Hotaru, hanazawa kay, Kaoru-Kagami Yoshida, Lyn kuromuno, NaruGankster, missingnin68, , Yukihana Nokawa, karin78834166, 2, Nitya-chan, uzumaki kito, GraceAnnesh, , Yuki no Ame, SyHinataLavender, khuzaeri, Namikaze Husin, SANG GAGAK HITAM, beky, TheBrownEyes'129, .bs, Yourin Yo, Sana Uchiga, KouraFukiishi, milkyways99, mitsuka sakurai, UzuUchikaze Naru, fazrulz21, marina, JJ Bunshin14, UchiHarunoKid, Brian123, kushina namikaze, Minrin, nabilla, Yumi Murakami, Naozumi-kun, mfadlilarafat, IndoSedSarSupMie Ichiraku, Kirika No Karin, chii no pinkycherry, ypratama17, huddexxx69, ujhethejamers, .9, Ruqi No Hiken, Mangekyooo JumawanBluez, and96, NamikazeKevinnn, Yukori Kazaqi, akbar123, Bagaz-kun, akasuna no ei-chan, shirayuki-su, , Aihaibara88, koga-san, Ifaharra sasusaku, Himeka hoshizawa, Uzumaki Sagara, Yamamoto Hikaru, uzumaki naryo, viii-chan,j, hime-chan1301, sheren, , , Lhylia Kiryu, fajar jabrik, Dilaedogawa12, Nabila Chan BTL, 93, afirstletter, ekaaprillian, Akira No Sikhigawa, GazzelE VR, Shizura-Chan, All Guest dan yang udah mau baca dan mampir.
Mohon maaf lahir batin bila selama ini banyak tulisan dan balasan yang kurang berkenan. Kritik dan Saran dipersilahkan.
Berminat Review?
Terimakasih
