.
.
.
Seijuurou menghembuskan napas lelah. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan laporan yang tengah dibuatnya. Sudah satu jam sejak dia mengerjakannya, dan sekarang laporan itu sudah hampir selesai.
Seijuurou menyandarkan punggung pada sandaran kursi, kemudian mengangkat tangan untuk meregangkan tubuh. Seluruh tubuhnya kaku akibat duduk tak bergerak selama satu jam. Pria berambut merah itu menarik gelas kopinya, tapi menyadari bahwa gelas itu sudah kosong. Dengan berdecak pelan pria itu mengambil gelasnya untuk diisi kopi baru di dapur. Dia menuruni tangga dengan malas, kemudian berbelok menuju dapur yang terletak tepat di sebelah tangga.
Setelah mengisi ketel dengan air sembari menguap, Seijuurou menyalakan kompor gas dan meletakkan ketel di atas kompor. Lalu pria itu berdiri bersandar pada meja dapur dengan setengah terkantuk, melipat kedua tangan di dada.
Duk duk duk duk.
Suara seseorang berlari membuat Seijuurou menoleh ke arah tangga. Suara itu asalnya dari lantai dua, dan kedengarannya seperti anak kecil berlari.
"Amaya?" Panggil Seijuurou. Kenapa pula tengah malam putrinya belum tidur, malah berlarian di atas?
Duk duk duk duk.
Suara itu kembali terdengar. Dengan gemas Seijuurou beranjak dari posisinya, berniat menyuruh Amaya pergi tidur. Saat itulah ponsel dalam saku celananya bergetar. Seijuurou meraih ponselnya sembari menaiki tangga.
From : Kouki
Subject : malam
Amaya baru saja tidur setelah heboh bermain dengan Akito dan Akane seharian. Bagaimana? Kau masih kerja? Besok jadi menyusul, kan?
Seijuurou berhenti di tengah-tengah tangga.
Duk duk duk duk.
Suara anak kecil berlari kembali terdengar. Seijuurou menelan ludah. Dia lupa sama sekali kalau Kouki dan Amaya pergi mengunjungi orangtua Kouki, dan rencananya Seijuurou akan menyusul mereka besok. Kalau Amaya tidak ada di rumah, lalu yang berlarian itu siapa?
Dengan segera Seijuurou berlari ke atas. Lorong lantai dua tampak lengang. Seijuurou langsung menyusuri lorong, mengecek setiap ruangan. Namun semuanya kosong, tidak ada orang. Wajar saja, karena memang dia sendirian di rumah.
Suara ketel berdengung di tengah heningnya malam membuat Seijuurou terlonjak kaget. Pria itu tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala, menyadari betapa tegangnya dia. Pasti suara orang berlari itu hanya perasaannya saja. Seijuurou menghembuskan napas pelan dan kembali menuruni tangga untuk membuat kopinya.
.
.
.
Karena merasa suntuk terus bekerja di dalam ruangan, Seijuurou mengambil laptopnya dan memutuskan untuk bekerja di ruang santai. Setelah meletakkan laptop dan kopinya di meja, Seijuurou menuju panel kaca di seberang sofa dan membuka gorden lebar-lebar. Kouki bersikeras menutup panel-panel kaca di rumah dengan gorden karena suaminya itu memang suka parno. Padahal pemandangan di luar bagus. Tapi karena Kouki bersikeras gorden harus dipasang, ya Seijuurou manut-manut saja.
Seijuurou duduk di sofa, menyesap kopinya pelan sambil menatap panel kaca. Di luar panel kaca langit gelap terlihat, juga sedikit gemerlap lampu perumahan. Sebelah rumahnya adalah lapangan basket—yang sejujurnya menyenangkan Seijuurou karena dia bisa pamer kehebatannya main basket sementara Kouki dan Amaya terbengong-bengong di kursi samping lapangan. Seijuurou tahu Kouki selalu ngiler kalau melihatnya main basket. Kadang-kadang mereka main bersama, tapi Kouki sudah lama menyerah bermain bersamanya karena Seijuurou selalu menang tidak peduli apapun yang terjadi. Paling-paling pada akhirnya Kouki ngambek sendiri.
Seijuurou tersenyum sendiri mengingat tingkah Kouki kalau sedang ngambek. Pria itu menghela napas pelan ketika tiba-tiba merasa rindu pada suami dan putrinya, padahal mereka baru berpisah kemarin. Rumah terasa sepi tanpa suara cempreng Amaya dan suara langkah kakinya...
Tap tap tap.
Seijuurou sontak menoleh. Hanya perasaannya saja atau memang dia barusan mendengar suara seseorang berjalan di lorong? Seijuurou meletakkan kopinya dan mengecek lorong. Sepi.
Pasti hanya perasaanku saja, batin Seijuurou.
Pria itu kembali ke tempat duduknya di sofa. Namun belum sempat dia duduk, matanya menangkap sesuatu di panel kaca. Ada sesuatu berwarna gelap bagian bawah panel kaca. Seijuurou terus menatap benda berwarna gelap itu, keningnya berkerut. Benda itu seperti ujung sapu ijuk untuk membersihkan sawang di pojok-pojok rumah. Tapi masalahnya, keluarga Akashi tidak memakai sapu. Seijuurou dan Kouki termasuk tipe orang-orang modern yang sudah meninggalkan berbagai peralatan tradisional dan beralih ke mesin. Dan lagi, masak jaman sekarang masih ada yang pakai sapu model begitu?
Kening Seijuurou makin berkerut ketika benda berwarna gelap itu bergerak. Makin lama makin naik. Dan benda itu sudah tidak seperti sapu lagi. Seijuurou menyadari bahwa itu adalah rambut. Pria itu diam saja melihat rambut itu naik, dan sesuatu berwarna putih pucat terlihat—kening. Kemudian kepala itu makin naik, alisnya terlihat... kemudian matanya.
Seijuurou mundur kaget ketika menatap mata itu. Kosong dan berwarna hitam. Tidak ada bola mata. Kemudian kepala itu terus naik. Hidungnya yang bengkok terlihat, juga pipinya yang kurus. Pipinya berwarna kebiruan, seolah olah lebam habis dipukuli. Kepala itu masih saja terus naik, dan bibirnya terlihat. Bibirnya berwarna merah darah dan tidak rata seperti tercabik. Kepala itu naik sampai dagu, kemudian berhenti. Itu adalah kepala seorang laki-laki. Rambutnya berdiri dan kasar seperti sapu ijuk, dan wajahnya menyeramkan.
Seijuurou masih berdiri, tubuhnya kaku karena kaget. Matanya bertatapan dengan mata bolong si kepala. Tiba-tiba saja, bibir merah si kepala tertarik, membentuk sebuah senyuman. Senyuman itu makin lebar dan makin lebar. Sudut-sudut bibirnya bahkan mencapai telinganya.
Seijuurou bertatapan dengan wajah itu, rasanya seperti terhipnotis. Lalu tiba-tiba saja bibir itu bergerak, dan Seijuurou bisa membaca jelas gerak bibirnya.
Doumo.
Tanpa pikir panjang Seijuurou melangkah ke depan dan menutup panel kaca dengan gorden. Pria itu masih menggenggam gorden sambil berkomat-kamit 'ini hanya halusinasi'. Tapi ketika Seijuurou membuka gorden lagi, kepala itu masih di sana. Dia mendongak menatap Seijuurou dan tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang kehitaman.
Segera saja Seijuurou menutup gorden kembali, kemudian menyambar laptopnya dan turun ke bawah. Sekarang dia tahu alasan kenapa Kouki suka parno terhadap panel kaca.
.
.
.
"Ayaaahhh!" Amaya berseru dengan suara cemprengnya, memeluk kaki Seijuurou. Yang dipeluk hanya tersenyum, kemudian mengangkat tubuh si gadis kecil dan menggendongnya.
"Kenapa terlambat?" Kouki, yang berjalan di belakang Amaya, bertanya.
"Aku ketiduran." Jawab Seijuurou singkat. Kouki mengangkat alis heran, tentu saja karena biasanya Seijuurou tidak pernah ketiduran. Dia tipe yang akan segera bangun begitu mendengar alarm.
Amaya memeluk leher Seijuurou dengan kedua tangannya, matanya melihat ke belakang ayahnya.
"Ayah kenapa bawa-bawa Nene-chan kemari?" Tanya Amaya. Seijuurou melihat dari sudut matanya bahwa Kouki menegang. Seijuurou berbalik, melihat belakangnya yang kosong.
"Apa ada Nene-chan di situ?" Tanya Seijuurou. Dia melirik Kouki yang tampak kaku di tempatnya.
"Hm." Amaya mengangguk.
"Kalau begitu suruh Nene-chan pulang. Kita tidak ada waktu untuk mengurusinya." Sahut Seijuurou enteng. Kening Amaya berkerut.
"Nene-chan tidak suka Ayah bilang begitu."
"Oh, ya? Apa yang akan dia lakukan, kalau begitu?"
"Sei!" Kouki berseru dengan wajah ketakutan. Seijuurou berdecak sebal. Dia sudah semalaman harus mendengarkan yang pastinya adalah Nene-chan ini berlarian di depan kamar sambil tertawa-tawa. Belum lagi si kepala mengetuk-ngetuk jendela kamarnya sepanjang malam sambil berucap, 'doumo, doumo.'
Setelah mencari di internet katanya garam ampuh mengusir setan, jadi Seijuurou bermaksud mengusir si kepala ini dengan garam dapur. Tapi begitu Seijuurou membuka pintu kamar, malah ada wanita tergantung di ruang tengah yang memelototinya. Seijuurou balas melotot padanya, tapi si wanita ini lebih memelototinya lagi sampai bola matanya jatuh.
Dengan sebal Seijuurou menghabiskan stok garam dapur mereka untuk dilemparkan pada si wanita tergantung—yang ternyata memang ampuh karena wanita itu langsung hilang. Dia juga melemparkan garam pada si kepala di balik jendela, yang meraung marah sebelum menghilang. Hanya Nene yang tidak dia temukan di manapun meskipun suaranya bisa terdengar, jadi Seijuurou tidak bisa mengusirnya. Dengan dongkol Seijuurou baru bisa tidur pukul enam pagi, ketika akhirnya Nene berhenti tertawa-tawa.
"Sudahlah. Ayo kita masuk. Nanti ada yang mau kubicarakan denganmu, Kouki." Seijuurou akhirnya berkata. Ketiga orang itu pun memasuki rumah keluarga Kouki yang sederhana.
.
.
.
"Apa kau masih sering dilihati hantu di rumah kita?" Tanya Seijuurou tanpa tedeng aling-aling. Kouki meringis.
"Tidak, sih. Paling hanya suara-suara saja." Sahut Kouki sambil mengangkat bahu.
"Oke. Kupikir sudah saatnya kita mengusir mereka. Tunggu dulu, Nene sedang main dengan Amaya, kan? Dia tidak boleh mendengar rencana pengusiran ini. Bisa gawat kalau dia lapor ke keluarganya yang lain." Seijuurou melongok ke arah ruang keluarga, di mana Amaya sibuk main masak-masakan dengan Nene. Sesekali anak itu tampak bicara pada udara kosong—yang pastinya adalah Nene. Ketika Seijuurou kembali ke tempatnya, Kouki tengah memandangnya dengan aneh.
"Apa?" Tanya Seijuurou sambil mengangkat alis.
"Tidak. Aneh rasanya kau tiba-tiba bicara seolah-olah kau sudah melihat mereka semua—tunggu. Kau sudah melihat mereka?" Kouki tercengang.
"Yah, sudah kusiram garam, sih. Tapi kelihatannya bakal kembali lagi." Sahut Seijuurou sambil lalu. Kemudian wajahnya berubah jadi serius. "Nah, makanya aku ingin mengusir mereka secara permanen. Maksudnya, dulu itu memang rumah mereka, tapi kan sekarang sudah kita beli. Sekarang rumah itu milik kita. Dan mereka harus pergi. Jadi aku berencana memanggil pendeta untuk melakukan penyucian."
"Pendeta? Memangnya ampuh?"
"Entahlah. Lebih baik dicoba dulu. Tapi aku sudah menghubungi pendeta dan katanya mereka akan datang sore ini. Amaya bisa tinggal di sini sementara, ada Akito dan Akane juga, kan, yang bisa menemaninya main. Ah, tapi dia harus bisa membujuk Nene ikut pulang bersama kita." Jelas Seijuurou. Akito dan Akane adalah keponakan kembar Kouki, anak dari kakaknya.
"Kau selalu bertindak cepat, ya." Ujar Kouki sambil meringis.
"Tentu saja." Sahut Seijuurou.
.
.
.
.
.
Kouki dan Seijuurou duduk dengan sikap resmi di depan dinding ruang tengah—apa yang tadinya ditempati televisi. Sekarang semua barang-barang sudah disingkirkan, dimasukkan ke kamar Seijuurou dan Kouki. Jadi ruang tengah kosong.
Di tengah-tengah ruangan, ada meja yang penuh dengan sesajen dan dupa, juga o-nusa yang berdiri tegak di samping sesajen. Seorang Pendeta duduk di hadapan meja, sementara beberapa orang Pendeta lain duduk setengah melingkar di belakangnya. Pendeta yang duduk di hadapan meja, yang adalah sang Kepala Pendeta, membakar dupa, kemudian mulutnya berkomat-kamit membaca doa. Beberapa saat kemudian dia mengambil o-nusa, mengibas-ngibaskannya ke kanan dan ke kiri, atas-bawah, miring—semuanya sambil membacakan doa keras-keras. Jajaran Pendeta di belakangnya ikut berdoa.
Kouki memandang kumpulan Pendeta itu dengan khidmat. Kemudian sudut matanya menangkap sesuatu.
Kaki.
Ada kaki di atas Kepala Pendeta. Kouki mendongak, mendapati seorang wanita tergantung di plafon ruang tengah, menunduk melotot pada Kepala Pendeta. Tampaknya Kepala Pendeta mengetahui hal itu juga, karena bacaan doanya makin keras. Wanita itu terus melotot padanya, tak bergerak. Kouki bergerak merapat pada Seijuurou.
"Huuu. Huuuu. Huuuu."
Suara tangisan membuat Kouki dan Seijuurou sama-sama melihat sekeliling.
Dug. Dug. Dug.
"Huuuu. Huuuu. Huuuu."
Suara tangisan beserta seseorang yang menghentak-hentakkan kaki dari lantai dua terdengar makin keras.
BRAK!
Gebrakan keras itu membuat Kouki terlonjak dan otomatis memegangi tangan Seijuurou. Mereka menoleh ke sumber suara.
BRAK. BRAK.
Di panel kaca, laki-laki berwajah menyeramkan tampak berkerut marah, tubuhnya berkali-kali menghantam panel kaca. Suara doa makin kencang dan cepat.
Dug. Dug. Dug.
"Huuuu. Huuuuuuuu. Huuuuuuuuu."
BRAK. BRAK. BRAK! BRAK!
Semua suara itu makin lama makin keras, mengimbangi suara doa para Pendeta. Kepala Pendeta kemudian berdiri tiba-tiba dan mengayunkan o-nusa nya ke arah si wanita yang tergantung.
"PERGI!" Serunya.
Wanita itu mengeluarkan suara seperti jeritan tercekik dan lenyap seketika. Begitu pula suara-suara lain.
Hening.
Ruangan menjadi begitu hening. Para Pendeta berhenti berdoa, menatap satu sama lain dan sekeliling. Begitu pula Seijuurou dan Kouki.
"ARRRRRGHHH!" Tiba-tiba salah seorang Pendeta menerjang Kepala Pendeta sampai tersungkur di depan sesajennya. Meja sesajen itu bergoyang dan isinya bergeser sampai beberapa terjatuh. Dupanya miring.
Pendeta itu mencekik Kepala Pendeta, sambil berteriak dengan menggunakan suara marah yang parau,
"KAU YANG PERGI! KALIAN YANG PERGI!"
Pendeta yang lain dengan segera memegangi tubuh Pendeta yang kesurupan itu, berusaha menyingkirkannya. Kouki dan Seijuurou serentak berdiri, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana jika mereka ikut-ikutan tapi keadaan malah tambah parah?
Kepala Pendeta tampaknya segera menguasai diri. Dia meraih guci kecil di meja sesajen. Pendeta yang kesurupan itu meronta-ronta dipegangi Pendeta-Pendeta yang lain. Kakinya menendang-nendang dan matanya mendelik-delik. Dia berteriak-teriak, menyumpah pada mereka semua. Kepala Pendeta meletakkan satu tangannya di kening Pendeta yang kesurupan itu. Tangannya yang lain membuka guci dan menciduk isinya—air suci. Disiramkannya air suci ke tubuh Pendeta yang kesurupan. Asap langsung keluar dari tubuh yang tersiram air.
"Pergi kau dari tubuh ini! Pergi kau dari rumah ini! Di sini bukan tempatmu!"
Kepala Pendeta berseru sambil sekali lagi menyiramkan air ke Pendeta yang kesurupan itu. Pendeta itu menggeliat-geliat kesakitan.
"ARGHHH! ARRGGGHHHHHH!" Teriaknya. Kepala Pendeta kemudian mengambil o-nusa yang tergeletak dan mengibaskannya pada Pendeta yang kesurupan.
"ARRGGGHH!" Pendeta itu masih saja berteriak dengan suara parau. Tubuhnya berasap ketika air suci kembali dicipratkan ke badannya. Kepala Pendeta mengibaskan o-nusanya ke kanan dan ke kiri sembari membaca doa.
"PERGI!" Ujar Kepala Pendeta sembari memukulkan o-nusa ke kepala Pendeta yang kesurupan. Seketika Pendeta itu diam tak bergerak.
Seijuurou menghela napas lega setelah menit-menit tegang di dalam ruangan. Tangannya otomatis menggenggam tangan Kouki.
Dingin.
Seijuurou menunduk, mendapati Kouki menunduk dalam.
"Kouki?" Panggil Seijuurou.
"Huuuu. Huuu. Huuuu." Tiba-tiba Kouki menangis. Para Pendeta menoleh ke arahnya.
"Kouki. Kau kenapa?" Seijuurou bertanya sambil mengguncang-guncang bahu Kouki.
"Huuuu. Huuuuuu. Huuuuuuuuu. Huuuuuuuuu." Tiba-tiba Kouki menangis makin keras. Dia jatuh berlutut di lantai, kedua tangannya menutupi wajah. Tangisannya makin keras, diiringi dengan sesenggukan. Tangisan yang pilu, menderita, dan serta merta Seijuurou merasakan kesedihan melandanya, rasa sakit menghantam dadanya.
Dia tidak pernah melihat Kouki menangis seperti itu. Ada saat-saat di mana keadaan menjadi benar-benar buruk sampai membuat Kouki menangis karenanya, tapi tak pernah sampai seperti ini. Karena Seijuurou benci ketika Kouki menangis, dan ia akan melakukan apapun untuk membuatnya berhenti. Ia ingin Kouki selalu bahagia. Itu naif, karena tak ada seorang pun yang selalu bahagia di dunia ini. Tapi setidaknya Seijuurou berusaha. Maka tanpa berpikir dia memeluk Kouki dan mulai menenangkannya.
Para Pendeta hanya memandang mereka dengan bingung, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kouki tiba-tiba saja menangis. Tapi Kepala Pendeta memandang mereka dengan tegang.
"Ssh... Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja." Seijuurou berbisik menenangkan. Satu tangannya melingkari pundak Kouki, yang membenamkan wajah di dadanya, sementara tangannya yang lain mengelus punggungnya. Seijuurou menggumamkan kata-kata yang sama berkali-kali, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu tiba-tiba tangisan itu berhenti seketika. Seijuurou menjauhkan diri dari Kouki, menundukkan kepala dan berusaha melihat wajah Kouki yang tertunduk dalam.
"Kouki?"
"Benarkah?" Tanya Kouki pelan.
"Apanya?" Seijuurou balas bertanya bingung.
"Kalau semuanya akan baik-baik saja." Kouki meneruskan, suaranya masih begitu pelan dan lirih.
"Tentu saja. Karena aku ada di sini."
"Kalau begitu jangan usir aku. Karena aku juga ingin ada di sini." Kouki mendongak. Matanya menatap Seijuurou, dan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman Kouki yang biasanya—senyuman itu seperti kosong dan kaku.
"Menyingkir!" Kepala Pendeta tiba-tiba berseru. Tapi belum sempat Seijuurou bergerak, kedua tangan Kouki mencengkram tangannya. Cengkraman itu teramat kuat, sampai-sampai Seijuurou yakin pasti akan berbekas di lengannya. Wajah Kouki seolah-olah berubah, ekspresinya menjadi sangat liar.
"AKU JUGA INGIN ADA DI SINI. KAU TIDAK AKAN MENGUSIRKU, KAN?" Tanya Kouki dengan suara keras yang parau.
"PERGI KAU! INI BUKAN TEMPATMU!" Kepala Pendeta menyiramkan air suci pada tubuh Kouki. Serta merta tubuh itu terhempas ke dinding, menggeliat-geliat sambil berteriak kesakitan.
"ARRRGGH!"
"Kouki!" Seijuurou dengan panik berusaha memeganginya akan tidak melukai diri sendiri. Asap keluar dari bagian tubuh yang barusan tersiram air. Beberapa Pendeta langsung datang untuk ikut memeganginya, sementara yang lain mulai kembali membaca doa. Kepala Pendeta menyiramkan air suci ke tubuh Kouki, yang langsung menggeliat-geliat kesakitan. Matanya melotot pada Kepala Pendeta yang sudah mengacungkan o-nusa padanya. Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi sedih, dan dia kembali menangis.
"Aku tidak ingin pergi...hu...hu...Aku hidup di sini...Aku mati di sini..."
Ekspresi Kouki tiba-tiba berubah menjadi liar.
"Hidup atau mati perempuan itu tetap di sini bersamaku! Tapi sekarang dia sudah pergi! Kalian sudah mengusirnya, dan aku bebas!"
Lalu tiba-tiba Kouki kembali menangis.
"Huhu...Aku ingin di sini... Huhu...Aku tidak mau lagi ikut ibuku...Kumohon, kumohon, jangan usir aku...Huhu..."
Kouki meratap menatap Kepala Pendeta, wajahnya bersimbah airmata. Kepala Pendeta berlutut di hadapan Kouki yang menatapnya dengan tatapan memohon.
"Tapi tempatmu bukan di sini. Kau mengganggu keluarga yang menempati rumah ini."
"INI RUMAHKU!" Seru Kouki tiba-tiba dengan suara melengking tinggi. Tubuhnya berayun ke depan, berusaha menyerang Kepala Pendeta namun tak bisa karena dipegangi. "KALIAN YANG MENGGANGGUKU! AKU YANG LEBIH DULU DI SINI!"
"Sayang sekali. Tapi kau sudah mati. Kau tidak bisa tinggal bersama yang masih hidup." Kepala Pendeta menatapnya dengan iba, kemudian mulai mengibaskan o-nusa dalam pegangannya ke kanan dan ke kiri sembari membaca doa. Bacaan doa para pendeta lain juga semakin kencang. Kemudian dalam satu sentakan, Kepala Pendeta memukulkan o-nusa nya ke kepala Kouki.
"Pergi!" Seketika Kouki tak sadarkan diri. Seijuurou segera menariknya ke dalam pelukan.
BRAK! BRAK!
Suara gebrakan kencang datang dari panel kaca. Sesosok laki-laki berwajah menyeramkan membenturkan tubuhnya terus menerus pada panel kaca. Wajahnya tampak beringas marah. Kepala Pendeta mengangguk pada Pendeta lain, dan ia diikuti mereka menuju taman belakang untuk menyucikan sosok itu.
Seijuurou melihat Kepala Pendeta keluar ke taman belakang dan mengulangi ritualnya yang tadi pada sosok laki-laki itu. Tak berapa lama sosok itu pun menghilang.
Ketika Kepala Pendeta kembali ke dalam rumah, suara langkah kaki terdengar di lantai atas. Semua orang mendongak.
"Itu Nene, putri bungsu mereka." Ujar Seijuurou. Kepala Pendeta mengangguk. Diikuti para Pendeta yang lain, ia berjalan menuju lantai atas.
Setelah beberapa saat para Pendeta menghilang dari pandangan Seijuurou, semuanya sudah naik ke lantai dua. Suara gedubrakan dan bacaan keras doa terdengar kemudian, diikuti jeritan anak kecil. Kemudian semuanya hening. Seijuurou mempererat pelukannya pada Kouki, menunggu.
Agak lama setelahnya barulah pada Pendeta itu turun.
"Sebaiknya dia dipindahkan." Ujar Kepala Pendeta sambil menatap Kouki. "Dan anak ini juga." Lanjutnya sembari menunjuk salah seorang Pendeta yang juga masih tak sadarkan diri karena kerasukan tadi. Ketika Seijuurou hanya menatapnya, Kepala Pendeta berkata,
"tenang saja. Mereka sudah tidak apa-apa. Semua roh jahat di sini juga telah pergi. Meskipun begitu aura negatif masih melingkupi beberapa bagian rumah ini. Kami sudah membersihkan lantai dua dari aura negatif, dan kami juga akan mulai membersihkan lantai satu. Sebaiknya mereka ditidurkan lebih dulu ke ruangan di lantai dua yang sudah bersih."
Maka Seijuurou menggendong Kouki ke lantai dua. Salah satu Pendeta juga membawa kawannya ke lantai dua. Bersama-sama, dua orang yang baru saja kerasukan itu ditidurkan di sofa ruang santai lantai dua yang luas. Terdengar alunan doa dari lantai satu. Seijuurou berharap semua ini akan segera berakhir.
.
.
.
Pria itu mengangkat tangannya, pisau berkilat di tangannya. Matanya menatap sedih sosok di hadapannya. Dia tahu, apapun yang terjadi, sejauh apapun mereka berpisah, mereka akan kembali bersama.
"Aku datang, Sayang."
Dan demikian pisau itu pun merobek nadi lehernya. Darah muncrat dari lehernya, mengotori kemeja putihnya dengan warna merah. Kegelapan melingkupi pandangannya, namun ia bisa melihat kedamaian serta kebahagiaan menerpa dirinya. Di sana, dalam secercah cahaya yang ia temukan dalam kegelapan, ia bisa melihatnya. Sosok yang selalu ia rindukan telah menunggu.
"Aku di sini, aku datang untukmu."
Dan ia pun tertelan dalam kegelapan.
Kouki berhenti mengetik. Pria itu menghembuskan napas lelah. Akhirnya novel selanjutnya jadi juga. Sambil meregangkan tubuh, ia berjalan menuju ruang kerja Seijuurou.
"Sei, bagaimana pekerjaanmu? Sudah selesai?" Tanyanya sambil melongok ke dalam ruangan. Seijuurou yang masih berkutat dengan laptopnya mendongak menatap Kouki.
"Belum. Sebentar lagi. Kau sudah?"
"Begitulah. Mau kubuatkan kopi?" Kouki bertanya sambil tersenyum.
"Boleh." Sahut Seijuurou sambil balas tersenyum. Kouki beranjak turun ke lantai satu, menuju dapur.
Semenjak rumah ini dibersihkan, sudah tidak ada lagi yang mengganggu. Tidak ada penampakan. Tak ada pula suara atau langkah kaki yang aneh. Semuanya berjalan dengan lancar, dan hidup pun berjalan tenang. Keseharian yang damai telah kembali tercipta dalam keluarga Akashi.
Kouki bersenandung pelan sembari mengisi ketel dengan air dan meletakkannya di atas kompor.
"Papa." Suara Amaya membuat Kouki menoleh. Pria itu mengangkat alis. Amaya berdiri sambil mengucek matanya. "Amaya mau coklat."
"Kenapa? Tidak bisa tidur? Mau Papa temani?" Kouki berjongkok di depan putrinya, mengelus kepalanya dengan sayang. Amaya menggeleng.
"Amaya cuma mau coklat panas. Amaya sudah besar, kan sudah kelas satu. Tidurnya tidak perlu ditemani." Ujar gadis kecil itu sambil cemberut. Kouki tertawa.
"Baiklah. Tunggu airnya masak sebentar, ya?" Kata Kouki. Amaya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Amaya bersikeras membawa sendiri mug doraemon-nya ke dalam kamar. Akhirnya Kouki membiarkannya saja. Baru enam tahun saja sudah begini, apalagi kalau nanti sudah remaja, pikir Kouki sambil geleng-geleng kepala.
"Hati-hati." Seru Kouki dari belakang.
"Iyaaa!" Sahut Amaya sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamarnya. Diam-diam Kouki mengintip ke dalam kamar, melihat Amaya meminum coklatnya di atas kasur. Sambil tersenyum Kouki naik ke atas untuk memberikan kopi Seijuurou.
.
.
.
Amaya mendengar langkah kaki papanya menaiki tangga. Gadis itu beranjak bangun dari kasurnya dan membuka pintu kamar mandinya. Kemudian ia tersenyum.
Di dalam bath-up kamar mandinya, duduk anak perempuan seusianya. Kulitnya putih pucat kebiruan, urat-urat tampak menonjol dari bawah kulitnya yang terekspos. Rambutnya panjang kusut, berwarna hitam sepunggung. Ia memakai gaun tidur warna putih yang sudah berubah warna menjadi coklat kusam. Anak perempuan itu tersenyum menyeringai pada Amaya yang mengacungkan mug berisi coklat sambil berkata,
"Papa sudah ke atas. Tenang saja, Amaya tidak akan bilang-bilang kalau kau masih di sini, Nene-chan."
.
.
.
A/N : O-nusa : alat untuk upacara pengusiran setan/roh jahat di Jepang, dibuat dari batang pohon sakaki yang dipercaya ampuh untuk mengusir roh jahat dan dipasangi oleh potongan kain atau kertas yang dibentuk zigzag. Lebih lanjut silahkan tanya mbah gugel.
Akhirnya ini selesai juga. Terus yaa... Itu cara pengusiran setannya saya karang sendiri, berdasarkan film horor Jepang dan beberapa video YouTube. Jadi jangan percaya-percaya aja sama cara meng-eksorsis di cerita ini. Lha wong saya aja belum pernah melihat/melakukan eksorsisme.
Yah, pokoknya gitu deh. Makasih ya buat yang sudah mengikuti cerita sampai akhir. Maaf kalau akhirnya kurang memuaskan dan kurang serem *bow*
Sekali lagi, Happy AkaFuri Day!
With love,
eileithyia
