HISTORY OF LEGEND
CHAPTER 7: Rider Fight
DISCLAMER: BUKAN PUNYA SAYA
"HA" BERBICARA
'HA' BATIN
"HA" BERBICARA SCARED GEAR / /AMARAH/ / JURUS
'HA' BATIN SCARED GEAR / / AMARAH
WARNING:ABAL-ABAL/GAJE/OC/OOC/TYPO/No shinobi/OVERPOWER/History
PAIR: (NARUTO X YASAKA), (DAIKI X HIMIKO)
GENERS: ADEVENTURE, FATASNY, and SUPERNATURAL
RANTED: M
Summary: Uzumaki Naruto, manusia biasa yang diberkahi sebuah legend. Kekuatan yang didapat dari pergabungan dua kekuatan yaitu para tokoh sejarah, dengan kekuatan ini dia siap menunjukan pada mahluk supernatural taring manusia.
AUTHOR NOTE :.
Yossh, sekarang Author akan mengupdate Fanfic dari Hisotry of legend, selamat membaca Reader-san!
HISTORY Gear, adalah sebuah benda yang telahir dari kejayaan-kejayaan manusia atau lebih detilnya yaitu tekad dan keinginan akan kejayaan manusia. Dalam sejarah, manusia pernah mencapai puncak kejayaan seperti Napoleon, Leonidas, George Wanshiton, Nobunaga oda serta masih banyak lagi. Ketika jiwa mereka pergi dari ragannya mereka menuju kesebuah tempat yang dinamakan Land Of Glory. Kemudian ditempat itulah jiwa-jiwa mereka masuk kesebuah kartu History, kartu dengan jiwa. Namun hanya satu keunikan History gear, yaitu History gear bukan didapatkan, diwariskan, maupun dianugrahkan namun History gear itu sendiri yang memilih apa kau pantas atau tidak untuk memiliki kekuatan dari kejayaan. Pada saat History gear menemukan orang yang pantas maka jiwa raganya akan menyatu dengan History dan tidak bisa dihilangkan maupun dicuri. Sampai orang itu mati!. Untuk menggunakan kekuatan ini orang yang terpilih harus memasukan dua kartu History kelingkaran History gear, dan dari situ terjadi pergabungan dan melahirkan kekuatan baru.
Story Begins
Last Chapter:
Dengan malu Kunou mengambil sandwich tersebut kemudian membuka kemasannya dan memakannya secara perlahan, namun dia memalingkan wajah kearah lain agar tak malu dilihat. Dengan cepat dia langsung menghabiskan sandwich tersebut.
"Arigatou."
"Baiklah akan ku ceritakan masalahku dengan Adikmu itu, dan itu dimulai"
Flashback
Jun tengah berjalan di tengah guyuran hujan lebat, suara guntur dan sambaran halilintar dia tidak pedulikan, hanya ada satu tujuan dalam kepalanya kini yaitu menghentikan rekannya sekaligus teman terbaiknya untuk menghentikan hal yang sangat menakutkan baginya.
Hingga dia sampai di tempat tersebut, namun bukan seyuman yang mengambang di wajahnya hanya ada sebuah kemarah dan kebencian. Dihadapannya tergeletak sebuah tubuh yang sudah tidak beryawa lalu berdiri sosok temannya yang sudah Henshin menjadi kamen rider Skull tengah menundukan topinya.
Jun mendekati tubuh tersebut lalu merangkul dan memeluknya, wajah perempuan cantik berambut pirang dengan mata biru dan bibir mungil kini sudah tidak beryawa. Air matanya mengalir bersatu dengan rintikan hujan.
Sedikit-demi sedikit Tubuh perempuan ini mulai berubah menjadi pecahan cermin kecil, pada akhirnya tubuhnya pecah seperti kaca yang terkena hantaman benda keras. Jun lansgung bangkit dan mencekram leher dari temannya ini.
"Daiki!"
Daiki tidak menjawabnya, malah dia memberikan sebuah pukulan yang melesat ke pipi pemuda berambut merah ini, kemudian menepuk-nepuk tangannya sendiri dan mengarahkan jari-jarinya berbentuk pistol.
"Kau harus tahu Jun, musuh kita adalah para Kaijin dan kau malah memacari musuh yang bisa saja dia menusuk mu dari belakang dan mengacam kesalamatan yang lain harusnya kau berpikir dewasa bukan seperti anak kecil."
Jun bangkit kemudian menatap sekali lagi kawan dekatnya sekaligus bosnya yang benar-benar ingin sekali dia dewasa yang benar saja menurutnya apa kah bosnya ini berpikir seperti itu membunuh seseorang yang bahkan tidak melakukan hal kejahatan seperti para Kaijin lain lakukan.
"Sebelum kau menilai orang lain harusnya... kau menilai dirimu sendiri!"
Jun mengambil Belt Accel dari balik jaketnya kemudian meletaknya di pinggang, Memory Gaia dengan huruf A bertengger di tangannya.
ACCEL!
Hen...Shin!
ACCEL!
Muncul sosok Accel, satria merah ini memancarkan aura yang sangat mematikan pada Skull, dia mengambil pedangnya yang bertengger di punggungnya dan melesat kearah kawannya tersebut.
Daiki menghindari setiap serangan yang dilanacarkan oleh Accel, kemarah dan emosi yang tidak stabil adalah awal dari ke kalahan.
GRAAB!
Skull memegang, pedang milik Accel kemudian mengarahkan tendangan ke perutnya. Membuat satria merah ini terhempas ke belakang belum cukup sampai di siitu Skull mengambil Gaia memory miliknya dan memasukannya ke slot Maximun Drive.
SKULL! MAXIMUN DRIVE!
Skull melompat sangat tinggi dan muncul sebuah energi berwarna ungu diatas kepalannya, lalu melakukan tenik Salto dan menedang energi tersebut kearah Jun yang masih terbaring.
DHUAR!
"Jun harusnya kau sadar, dia musuh kenapa kau membelannya."
"DIAM!"
Dari arah kumpulan asap Aceel berdiri dengan tegap dan kuat seolah serangan yang dilancarkan Daiki tidak ada apa-apanya jun memasukan sebuah memory kedalam slot yang berada di senjata pedangnya.
ENGINE! MAXIMUN DRIVE!
"Yuki, dia berbeda dari yang lain! Dia bukan Kaijin yang di pikirkan kebayakan orang, yang seharusnya sadar disini adalah kau Daiki!" Teriak Jun yang sudah berlari kearah Skull yang tengah berdiri seusai melompat tadi.
"DYNAMIC ACE!"
Accel memberikan tiga terbasan berbentuk huruf A ke arah Daiki yang masih berdiam diri, entah apa yang ada di pikirannya sampai tidak menghindari serangan tersebut. Ledakan besar muncul tapi Skull masih berdiri tidak ada luka ataupun tanda-tanda akan kalah.
"Sudah selesai, yang tidak mengerti di sini adalah kau Jun! Kau lebih mementingkan Kaijin itu dari pada temanmu!" Daiki memukul Jun hingga mundur kebelakang, belum sampai di situ dia terus menghajar sosok Accel yang sudah di anggap saudara tapi tidak sedarah.
AKH!
BUAGH!
Jun yang tidak bisa bertahan dari seragan yang dilancarkan Daiki kemudian ambruk ke tanah yang di guyur oleh hujan. Daiki kemudian mendekati Jun dan berjongkok di dekatnya.
"Kau harus paham satu hal, kau itu terlalu polos."
Dan setelah mengatakan itu Daiki, mencabut Gaia Memory serta pergi meninggalkan Jun sendirian di tempat tersebut. Pada akhrinya Jun berubah menjadi seperti semula, sorot padangan menjadi sangat tajam dengan penuh amarah.
"Akan ku perlihatkan siapa yang seharus salah disini."
Flashback off
Mendengar cerita dari pemuda berambut merah ini membuat Kunou hanya dapat tertunduk sedih. Dia sangat tidak percaya dengan apa yang di ceritakan, adiknya seolah memiliki pendirian bahwa para Kaijin adalah monster-monster jahat dan tidak memliki hati. Sementara Jun memliki seorang kekasih yang ternyata seorang Kaijin tapi dia berbeda dari yang ada di lapagan.
Jun menutup matanya dan menghela nafas, mengingat kejadian yang membuatnya sangat ingin menghajar sekali lagi Bosnya itu, tidak lebih tepatnya mantan Bosnya tersebut. Secara tiba-tiba Kunou langsung memeluk Jun, entah apa yang ada di pikiran tuan putri dari fraksi Yokai ini.
"Oy!"
"Adiku, memang sangat bodoh."
Kunou kemudian mendekatkan wajahnya ke hadapan Jun, sambil terus memegang erat jaket merah milik pemuda rambut merah ini, wajah sang pengguna Gaia Memory Accel ini mulai memerah karena saling menatap satu sama lain.
"Jadi, jika kalau kau bertemu dengannya tolong berikan satu pukulan untuk ku agar otaknya sedikit berkerja."
Jun tidak harus menjawab apa, dia tidak menyangka Kunou benar-benar sedikit unik. Putri Yokai ini kemudian melepaskan pelukannya, dan tak berapa lama di langsung tertunduk dengan wajah yang sangat memerah.
"LUPAKAN TINDAKAN YANG TADI!"
"HAH!"
Jun benar-benar tidak menyangka, Kakak mantan bosnya ini apakah sebenarnya tidak sadar atas tindakan yang barusan dia lakukan. Tak mau terjebak dengan hal tersebut Jun menggelengkan kepalannya. Kemudian berdehem sebelum memperbaiki sikapnya.
"Begitulah, bagaimana aku bisa dendam pada adikmu."
Kunou bangkit dari tempatnya duduk, lalu berdiri dan merasakan angin yang berhembus. Jun yang memperhatikannya, hanya dapat berdecak kagum akan kecantikannya, ketika guguran dedaunan sakura di terpa angin dan kemudian berhembus ke arah Kunou.
"Cantik.." Gumam Jun.
Kunou yang melihat Jun terbengong melihatnya, mendekatinya dan menarik tangannya. Jun tersentak atas sekali lagi apa yang dilakukan Kakak dari mantan bosnya ini.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan."
Mendengar ajakan Kunou, membuuat mau tidak mau harus mengatakan iya. Dia memliki prinsip bahwa seorang wanita adalah mahluk yang harus di lindungi dan di sayangi dengan lembut dan segenap hati.
Keduanya kemudian mulai pergi meninggalkan taman. Pergi menuju ke tempat wisata yang ada di sekitaran kota Kyoto ini, mulai mengujungi tempat pembelanjaan, Kuil dan masih banyak lagi.
Entah kenapa di hati Jun, dia merasa sangat senang dengan Kunou. Meskipun adiknya adalah seorang yang membuatnya sangat menderita tapi kakaknya sangat berbeda, Kunou penuh dengan keramahan dan seyuman. Sosok yang hampir mirip dengan Yuki kekasihnya.
Tidak terasa kini Matahari mulai terbenam langit mulai berubah menjadi gelap dengan bintang-bintang sebagai penghiasnya. Kini terpakir sebuah motor berwarna merah di pinggir sungai yang sangat tenang.
Dua orang berbeda gender tengah duduk di tepian sugai sambil melemparkan batu ke sungai tersebut, Jun dan Kunou terlihat senang mereka tidak menyangka sepajang hari mereka telah terlewati.
"Terima kasih sudah menemaniku seharian." Ucap Jun.
"Iie, yang harusnya berterima kasih di sini yaitu adalah aku."
Tak lama setelah itu keadaan menjadi sunyi hanya suara angin yang berhembus melewati mereka, Jun kemudian memasukan tangannya ke saku jaketnya. Dia biasa melakukan hal itu ketika gugup dalam berbicara.
Sementara Kunou meremas pakaiannya dengan kuat karena sakin gugupnya, seharusnya dia tidak begini karena dia sudah belajar bagaimana menghadapi lawan berbicara. Tapi kali ini sangat lah berbeda.
"Jun/Kunou!"
Keduanya langsung tersentak akibat memangil satu sama lain secara serentak. Putri dari fraksi Yokai ini langsung menundukan wajahnya akibat malu, sementara Jun mengaruk bagian kepala belakangnya.
Kunou mengguatkan tekadnya, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Jun yang melihat Kunou agak bergetar akibat malu, hanya dapat cengok apa semua perempuan harus begini jika mereka akan mengucapkan sesuatu.
"Bagaimana kalau aku mengatar mu pulang."
Mendengar ucapan Jun, Kunou langsung diam tapi entah kenapa muncul pikiran aneh di kepalanya.
'Tunggu mengantarku pulang itu artinya, pelukan mesra di Motor. Aku belum Siap!'
Yah pikiran yang sangat aneh, Kunou kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya agar pikiran aneh tadi. Putri fraksi Yokai ini melirik ke arah Jun yang masih berada di sebelahnya.
"Tidak usah, aku dapat pulang sendiri." Tolak Kunou dengan halus.
"Sepertinya ajakanku ini sedikit memaksa, tidak baik membiarkan seorang gadis muda pulang sendiri kerumah apa lagi ini malam hari."
Mendengar ajakan yang pasti agak memaksa dari Jun, tapi itu sepatutnya benar Jun tidak bisa membiarka Kunou pulang sendiri meskipun dia kakak dari mantan bosnya namun dia tetap seorang gadis yang bisa saja menjadi sasaran empuk bagi kejahatan.
"Baiklah kalau bilang begitu."
Keduanya berdiri dan melangkah menuju Motor merah milik Jun yang terpakir, keduanya menaikinya dan melesat pergi dari tempat tersebut.
Kini di sebuah rumah dengan desain tradisional yang cukup besar, Sepeda motor terparkir di gerbang depan. Kedua muda-mudi ini saling berhadapan, Wajah mereka sedikit membulat merah. Entah apa yang terjadi di perjalanan tadi.
SREEK!
Gerbang terbuka dan kemudian memperlihatkan sesosok perempuan yang hampir mirip Kunou namun lebih dewasa, menggunakan pakaian khas miko dengan tambahan ekor dan telinga Kitsune.
"KAA-SAMA!"
Mendengar panggilan yang dilontarkan Kunou, Jun sangat ketakutan mengapa tidak Ibu Kunou jika di lihat sekarang tatapan wajahnya bertengger seyuman yang sangat mengerihkan dengan hawa tidak baik.
"Nee..Kunou-chan, kau tahukan sekarang jam berapa ?"
"Ano..."
Kunou dia tidak dapat menjawabnya, dia kadang-kadang memberi kode kepada Jun untuk membantunya. Tapi bagaimana Jun juga merasakan ketakutan menghadapai ibu Kunou ini.
"Dan lalu siapa laki-laki di belakang mu itu.."
Keringat dingin mulai bercucuran ketika Jun di tatapan serta di tanya secara bersama, entah kenapa ini lebih buruk dari yang tadi. Jika menjawab pasti salah dan jika tidak juga salah. Semoga saja ada seseorang yang menolong mereka dari sosok Ibu Kunou yang sedang mode menyeramkannya.
GRAB!
Sebuah sentuhan terasa di pundak Yasaka, di menengok ke belakang, terlihat Naruto dengan mimik wajah terseyum. Lalu menatap bola mata Yasaka.
"Tsuma, sudalah ini masih jam makan malam kan."
Mendengar ucapan suaminya ini, membuat Yasaka menghembuskan nafas pasrah dan sedikit melunak. Namun itu tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, Yasaka kemudian masuk kedalam. Sebelum masuk kedalam dia memberi kode pada putrinya dan seorang pemuda tidak di kenal tersebut untuk masuk.
Kunou dan Jun hanya dapat menelan ludah mereka, ini pasti akan menjadi malam yang panjang.
"Arigatou Tou-sama."
"Kali ini Tou-sama menyelamatkanmu dari amukan Kaa-samamu, tapi jika nanti terjadi lagi Tou-sama tidak dapat menjamin."
"Hm!"
"Dan Jun masuklah kami akan makan malam, kau boleh ikut."
Sebenarnya Jun ingin menolak, tapi mengingat kode yang di berikan ibu Kunou tadi membut Jun harus menerimanya. Ditambah ini soal harga diri.
"Baiklah."
Makan malam keluarga kecil ini di tambah Jun hanya ada kesuyian, mereka memahami etika ketika makan. Kunou menaruh mangkuknya ke meja makanan.
"Aku sudah selesai."
Yasaka kemudian berdehem, seolah itu perintah untuk tidak meninggalkan meja makan dia ingin mengintrogasi Kunou dan pemuda di sampignya ini atas hubungan mereka. Dan jangan lupa sorot mata Yasaka menjadi sangat serius, sementara Suaminya sendiri hanya Sweetdrop melihat tingkah laku istrinya ini.
Jun merasa seolah dirinya menjadi tersangka akibat tatapan tidak baik dari Ibu Kunou, tapi kemudian dia meneruskan makannya walaupun agak tergangu.
Ketika semuanya telah selesai, Yasaka entah dari mana langsung memakai kacamata hitam layaknya seorang polisi propesional, bahkan membuat Naruto langsung ambruk kebelakang akibat melihat kelakuan istrinya yang sudah di kategorikan berlebihan.
Sementara Kunou dan Jun langsung Sweetdrop melihat hal itu, benar-benar ibu yang sangat protektif.
"Sekarang, beritahu aku nama mu."
"J..Jun Akaji."
Mendengar namannya Yasaka melepaskan kacamatanya, lalu berkedip-kedip berulang-ulang. Tiba-tiba dia langsung mencekram baju suaminya yang masih tempar di lantai, dan kemudian tangannya satunya mulai menampar berulang kali.
"Naruto-kun!, dia disini!"
Sementara sang pemegang History Gear mulai tengah berada di titik paling menyakitkan yaitu cara aneh istrinya untuk meluapkan sesuatu. Bahkan dulu pernah ketika Yasaka mengandung Kunou dan Daiki, dirinya di minta menjadi samsak tinju latihannya.
Benar-benar kejam, Sementara Kunou langsung malu dan pundung di pojokan lantaran kelakuan orangtuanya, Jun hanya dapat membuka mulutnya lebar-lebar melihat kejadian yang semakin absurd ini.
Yah keluarga mantan bosnya ini sangat lah unik.
"Jadi begitu." Ucap Yasaka, yang sekarang tengah duduk seiza menatap pemuda yang dulunya adalah sahabat putranya ini. Mendengar cerita tersebut membuat Ratu yokai ini tidak habis pikir dengan yang dilakukan Daiki.
Kunou menatap Jun dengan perasaan sedih, Adiknya memang orang yang kurang ajar hanya karena pacarnya adalah musuh mereka bukan berarti dia harus di musnahkan. Mungkin saja pacarnya berbeda dari kebayakan musuh.
"Jun." Panggil Naruto di samping Yasaka, Jun mengalihkan pehartiannya ke seseorang yang sudah dia anggap seorang ayah sejak dia dan Daiki berteman, meskipun hubungan kedua sahabat ini kandas tapi Jun tidak membenci keluarga Daiki.
"Iya, Naruto-jisan."
Naruto sedikit terseyum karena mendengar namanya di tambahkan Ji-san, sudah sangat lama dia tidak mendengar kata itu.
"Kalau kau ingin menyelesaikan masalah dengan Putraku, dia berada di Kuoh."
Yasaka terkejut dengan ucapan suaminya dia memberitahu tempat diama Putranya sekarang tinggal, sebagai seorang ibu dia sangat mengawatirkan apa yang akan terjadi jika Jun dan Daiki bertemu.
"Tsuma, Daiki sudah dewasa dan dia harus bertanggung jawab atas apa yang di lakukannya."
Tentu saja perkataan itu membuat perempuan berambut blode ini bungkam, bukannya Naruto tidak mau menolong anaknya tapi setiap tindakan pasti memiliki tanggung jawab yang besar.
"Terima kasih atas infonya Naruto-Ji-san, kalau begitu aku pamit undur diri dan sekali lagi terima kasih atas makan malamnya."
Kunou yang melihat Jun akan meninggalkan tempat ini, menatap sang ayah dengan pandangan mata yang dapat membuat sesorang tidak dapat menolak. Naruto yang di tatapan begitu hanya dapat menghela nafas sebelum dia mengangukan kepala.
Kunou segera meninggalkan tempat tersebut dan berlari menuju Jun.
"Anata, sebenarnya apa yang ada di pikiran mu sih!"
Naruto hanya terseyum mendengar ucapan marah sang istri ya ini, Daiki dia yakin sekarang tengah menatap langit sambil menatap bintang-bintang bersama pacarnya.
"Sudahlah Tsuma, Daiki tidak selamanya menjadi bayi kecil."
"Tapi..Shuut"
Naruto menepelkan jari telunjuknya di bibir Yokai kitsune ini, dia kemudian merangkul pundak istrinya.
"Tenanglah, aku yakin Jun tidak akan berlebihan dalam memberi hukuman pada Daiki."
Sementara.
"Hei, jadi kau akan pergi dari Kyoto." Tanya lembut Kunou dengan kedua tangannya berada di belakang, sementara Jun sang satria merah ini tengah memgang helmya.
"Yah begitulah, lusa mungkin aku sudah pergi dari sini menuju Kuoh."
Kunou merasa di dalam lubuk hatinya terdalam dia tidak mengiklaskan kepergian pemuda berambut merah ini, tunggu dulu ini seperti dirinya tengah mengawatirkan seseorang apa mungkin Kunou jatuh cinta pada Jun saat pertama kali bertemu.
"Jun, kah aku meminta sesuatu."
Jun menatap Kunou, Permintaan mungkin dia akan turutkan asalkan permintaan itu tidak melebihi batasanya.
"Boleh." Jawab Jun.
"Bawa, aku!"
Suasana tiba-tiba suyi, dan dalam hitungan satu,dua,tiga Jun langsung menganga karena mendengar permintaan Kunou yang terdengar dapat di katakan berlebihan. Kunou hanya dapat mengaruk-garuk pipinya dengan jari terlunjuknya.
"Kunou, kau tahu kan apa yang akan ku lakukan di Kuoh."
"Tentu saja."
"Dan, jika aku membawa mu maka aku secara terpaksa akan berhadapan dengan Kaa-samamu." Ucap Jun, ayolah melawan ibu Kunou yang pasti dia akan kalah apa lagi jika ini ada sangkut pautnya dengan Kunou, tapi ini seperti aku meminta restu dari ibu Kunou untuk menimang Kunou.
Kunou mengeluarkan tatapan yang membuat seseorang tidak berkata ini, Jun bahkan sedikit kesal tapi entah kenapa hatinya menyuruh untuk mengajak Kunou ikut dengannya.
"Hah, sial. kau boleh ikut tapi dengan tetap berada di sekitar ku pahan lalu bagaimana dengan urusan meminta izin pada orang tua mu. "
"Soal itu tenang saja."
Medengar ucapan yakin Kunou ini, Jun menyalakan Motornya dan siap untuk pergi. Sebelum itu sebuah kecupan mendarat di pipinya. Seketika Jun langsung membeku dengan wajah memerah.
"Itu ucapan terima kasihku."
Kunou kini sedikit bersemu merah akibat tindakannya yang sepontan, kedua jantung orang ini berdegup kencang akibat hal tadi. Jun terseyum kecil dalam hatinya ini adalah hari yang terbaik dan tidak akan di lupakannya.
Broom!
Motor merah miliknya dipacu dan pergi meninggalkan Kunou yang juga agak senang, Kunou kemudian menatap bintang-bintang di atas langit Kyoto kemudian dia menyatukan kedua tangannya dan menutup mata.
Kuoh, Japan.
Sudah hampir seminggu Daiki berada di Kuoh, kini ketua dari Berseker Blood ini tengah berada di atap sekolah. Pakaiannya tidak di sesuaikan dengan sekolah malah dia memakai pakaian yang seperti biasa. Semuannya berkat aturan yang dia buat, bahkan dia tertawa kecil mengingat akan hal dimana kedua heir itu mau tidak mau harus menuruti aturan.
Flashback.
Kini diruangan Osis terdapat tiga kelompok, Sitri, Gremory, dan Berseker Blood. Daiki sang ketua dari Berseker dan Kamen rider Skull, tengah menikmati kopinya sambil duduk. Baginya Kopi lebih baik dari pada teh yang kadang tidak membuatnya dapat merasakan pahit.
Sambil meminum dia menatap kedua perempuan yang juga King dari preage Sitri dan Gremory yang tengah membaca Aturan yang dia buat.
Sudah hampir sepuluh menit, Sona yang sudah membacanya dan memahami setiap kalimat yang tertera di aturan ini merasa kesal. Tanpa banyak rasa peduli dia membanting kertas-kertas ini ke mejanya.
Sementara Rias pun merasakan hal yang sama, mereka berpikir aturan yang di keluarkan oleh laki-laki berambut kuning ini hanyala sebual larangan untuk tidak mengangu mereka tapi ternyata salah.
"Apa, maksud semua ini!" Geram Sona.
"Maksud semuai ini ?, tentu saja ini adalah aturan yang harus kalian taati apa salahnya." Ucap polos Daiki.
"Memang benar tapi Aturan ini sudah di anggap berlebihan bagi ku." Sona sudah tidak dapat mempertahankan muka temboknya lagi dia sangat marah ketika seseorang dengan seenak-enaknya membuat aturan yang sangat menguntukan satu sisi.
"Lalu apa masalahnya, K-A-I-C-H-O-U." Ejek seorang yang tengah menyandar di dinding ruangan tersebut, dia adalah Jun Chameleon atau Kamen rider Verde seorang yang sangat hebat dalam membuat orang lain termakan emosi dan terpovokasi orang ucapannya.
"Masalahnya adalah aturan ini, kau menanamkan bagi kelompok kalian bebas memakai baju ke sekolah, kemudian boleh keluar kelas kapanpun dan saat apa pun, di tambah kalian dapat pulang dan masuk ke sekolah terselah kalian di tambah aturan kalian bisa bebas dan tidak terikat aturan sekolah baik dari segi manapun , itu sudah sangat gila!" Perempuan berambut merah ini memang tidak sepintar sahabat kecilnya tapi dia tetap memahami aturann dan mereka baca adalah aturan tergila yang pernah ada.
Alex yang tengah berada di dekat jendela hanya terseyum mengejek, dia berjalan medekati kelompok Sitri dan Gremory. Melihat kedatangan Alex yang memiliki ukuran badan besar dan tinggi serta berotot luar biasa membuat Kedua kelompok ini menyiapkan masing-masing sihirnya.
Tap!
Sreek!
Sebuah map berwarna kuning di ambil dari balik jaketnya dan kemudian dia lemparkan ke udara, puluhan kertas berhamburan di udara, Kurosaki yang tengah berdiri di belakang Daiki, hanya menghela nafas melihat tingkah laku temannya ini.
Daiki yang tengah duduk dengan Kekasihnya yang berada di dekatnya siapa lagi kalau bukan Himiko Toga, hanya tenag-tenang saja dia malah bermersa-mersaan bersama kekasihnya ini.
"Jadi, kalian menolak untuk menaati aturan ini, Jangan salahkan kami jika ijin kalian akan di cabut." Ujar Alex
"Apa maksud mu, brengsek!" Saji bahkan sudah menyiapakan Sacred gearnya, dia sangat marah karena orang di hadapan mereka berani mengacam Kaichou yang dia sukai.
"Alex dari sini biar aku yang jelaskan." Perintah sang Bos.
Alex menuruti dia kembali ketempat semula, keadaan mulai seperti sedia kala hanya saja masih ada Atmosfer ketegangan yang belum lepas, Daiki bangkit dari Kursinya dan mengambil salah satu kertas yang sudah tergeletak.
"Kalian harus tahu yah, ini bukan sebarang kertas tapi Informasi." Sambil menunjukan kertas tersebut ke Sitri dan Gremory, dan membuat kedua kelompok iblis ini cukup terkejut,.
"Dengar yah, aku memiliki Informasi setiap kejadian di Kuoh, lalu ini adalah nama-nama korban yang menjadi target Iblis liar, Malaikat jatuh dan mahluk lainnya."
Sona masih memproses kata-kata yang keluar dari laki-laki memakai topi mafia berwarna putih ini, Daiki mengambil kertas lainnya.
'Tunggu, dia mengetahui segala informasi di Kuoh itu artinya.' Sona sekarang lumayan terkejut, Daiki akhirnya menampilkan Seringai liciknya Sitri berhasil menangkap apa maksud ucapannya.
"Benar Sitri, bahkan aku megetahui tindakan kalian yang kadang lambat dan lalai akan satu hal saja yang membuat seseorang kehilangan nyawanya, bahkan aku mengetahui setiap gerak gerik salah satu anggota Preagemu." Daiki kini menampilkan sebuah Biografi setiap anggota Preagea Sona dan Rias.
"Coba kita lihat disini, Hyoudo Issie. Umur sekitar 17 tahun, cita-cita ingin menjadi raja harem yang benar saja, jangan membuat ku tertawa Naga merah."
"Dari mana kau dapat Informasi itu." Tanya serius Queen Dari Sona, Tsubaki. Bukannya menjawab Daiki malah langsung tertawa terbahak-bahak dan bahkan teman-temannya ikut tertawa, Daiki bahkan memegangi perutnya karena sakit.
"HAHAHAH!"
Kedua kelompok Iblis ini menatap aneh ke Daiki, apa jangan-jangan ini mungkin Otaknya sudah konslet, Daiki mulai dapat mengendalikan kembali kondisinya.
"Hah, Lucu sekali Lelucon mu, Wakil ketua Osis."
Kiba merasa geram akibat orang yang bisa di katakan di sukainya ini di hina, melihat itu Rias menyuruh mereka untuk Tenang.
"Ini bukan hal lucu, Cepat katakan dari mana informasi ini kalian dapatkan."
Daiki kini bangun dan mendekati Rias sontak Preagenya menyiapkan Sihir dan senjatanya, tapi saat akan berhadapan dia dengan pelan mengetuk kening Rias.
"Halo, kau hidup di abad apa sekarang!" Teriak Daiki, Rias merasa tidak terima dengan hal ingin sekali dia meleyapkan Daiki dengan Power of Destructionnya, Kemudian Daiki kembali ke tempat duduknya.
"Woles, Gremory kau tahu aku hanya bertanya."
Issie yang sudah tidak tahan lagi melesat menuju Daiki untuk menghajarnya, Sementara Alex, Kurosaki, dan Jun Chameleon hanya bosan melihatnya mereka seolah tidak peduli dengan keamana si Bos.
Craash!
Sebelum sampai sebuah luka bacok sudah ada di tubuh sang Seikryutei, Pelakunya adalah kekasih dari Daiki sendiri Himiko. Terlihat sekarang dia terseyum seperti seorang manik yang sangat senang.
Oohk!
"ISSIE!"
"Yey~, mulai sekarang kita berteman yah Issie-kun~." Sambil memainkan senjata pisaunya yang terumuri darah, Himiko kadang harus di waspadain oleh sebagian besar anggota Berseker Blood bukan karena dia kekasih bosnya, tapi Sifatnya yang seperti tidak stabil.
"Kau, apa kau sudah tidak waras." Teriak Rias penuh dengan amarah akibat Pion yang dia cintainya tersakiti, Asia kini tengah mengobati calon raja harem ini. Sementara Himiko yang tengah diancam oleh Rias malah tenang-tenang saja, malahan dia langsung melesat menuju Rias dengan Pisau yang siap menyerang pewaris Gremory ini.
"Ayo kita berteman Rias-chan~!"
Tapi di tahan oleh Daiki dengan membiarkan dirinya tertusuk, bahkan Daiki seolah merasa tidak sakit dia malah langsung mencabut begitu saja pisau milik Himiko ini.
"Himiko, sudah cukup."
"Hai, Hai~"
Himiko kembali ke tempat duduknya, seolah tidak terjadi apa-apa sementara Daiki hanya membiarkan darah menetes, bahkan di pikiran para kelompok Gremory dan Sitri sekarang merasa sangat aneh dengan Daiki dia memilih seseorang yang tidak labil akan emosi dan sifatnya.
Bukannya minta maaf atas perlakuan pacarnya Daiki kembali menatap Sona dengan pandangan tajam.
"Kau ingin tahu darimana kami dapat Informasi ini bukan." Ujar Daiki dengan seolah tidak memperdulikan rasa sakit.
Sona yang telah sadar dari acara Shokmya menatap Daiki, perempuan berambut hitam ini sudah berpikir laki-laki berambut pirang ini mendapatkannya dari seorang di pasar gelap dunia Supernatural.
"Jawabannya ada di orbit bumi."
Saji yang memiliki kebodohan yang bisa di katakan terlalu besar, hanya geram dan marah. Dia langsung mencekram baju Daiki tanpa memperdulikan larangan teman-temannya.
"Dengar, yah Kaichou menyuruh menjawab dengan jujur bukan dengan kata-kata aneh seperti itu."
"Sebenarnya, aku heran kenapa kau bisa masuk Osis lalu di tambah apa kau tidak pernah belajar tentang Teknologi hah!" Ucap marah Daiki yang kini membuat nyali Saji ciut.
Sona sekarang paham, dia menyuruh Saji untuk melepaskan Daiki dan kemudian menaruh kedua tangannya di bawah dagunya.
"Satelit, bukan." Jawab Sona.
Daiki akhirnya terseyum, beberapa orang dari kelompok Sona dan Rias juga cukup terkejut. Daiki kemudian mundur berberapa langkah dan meminum kopinya yang sudah dingin.
"Tepat sekali, kau harus tahu Manusia sudah membuat banyak Satelit mulai Cuaca, Komunikasi, Astronomi, Navigasi dan Mata-Mata." Daiki menyelesaikan acara minumnya dan melanjutkan ucapannya dengan menyuruh Kurosaki.
"Dan kami menadapat Informasi tersebut dari Hacker yang berkerja dengan kami dia menghack setiap satelit baik indentitas, status dan masih banyak lagi. Ditambah juga dengan bantuan orang dari C.I.A" Jelas Kurosaki, Sekarang semua sudah jelas Informasi yang mereka dapatkan bukan berasal dari Supernatural tapi dari Teknologi dan Otak yang di perantara melalu seseorang.
"Setiap gerak-gerik kalian selama 24 jam selalu di awasi oleh kami, baik kebiasaan, penggunaan Smartphone dan lalu data-data rekening, nilai-nilai sekolah dan masih banyak lagi bahkan dari rekaman CCTV." Lanjutnya Rias dan Sona nampak sok Mereka menyadari bahwa memang benar teknologi sudah semakin maju bahkan berkembang pesat, tapi kadang mereka lupa akan hal dimana Teknologi dapat menjadi sebuah senjata.
"Aku tidak menyangka kalian dapat berbuat sangat jauh." Sona kini harus berpikir bagaimana mereka dapat keluar dari, tapi Jun Chameleon kini tepat berada di samping Sona, tentu saja sekali lagi Semua iblis terkejut akibat tidak melihat pemuda ini berpindah tempat.
"Kau harus tahu, Kaichou jika kau menolak peraturan ini.." Sang kamen rider Verde ini kemudian memaikan sebuah pulpen yang dia ambil dari meja Sona.
"Maka kami akan melaporkan mu ke Fraksi Yokai atas tindakan kelalayan."
Sona kini kembali menjadi kejepit tadinya dia sudah menempukan ide untuk dapat membuat semuanya terbalik tapi sekarang dia seperti tidak bisa apa-apa, Sona tentu saja mengetahui perjanjian anatar fraksi Iblis dan fraksi Yokai untuk penyerahan daerah Kuoh.
Shuut!
Tak!
Pulpen yang dimainaknnya di lepar seperti memahan dan menacap di dinding. Jun Chameleon kembali ke tempatnya ketika sudah berbicara seperti itu, Sona seperti dirasakan bahwa dirinya di tekan untuk mesetujui peraturan ini jika melawan maka sama saja mati.
"Baiklah kami setujui peraturan ini."
Tentu saja membuat para Iblis ini sontak terkejut dan bahkan ada yang tidak percaya, Rias yang berada di dekatnya mengebrak meja Sona untuk menuntut penjelasan sejelas-jelasnya akan jawaban yang di berikan.
"Rias, kita tidak dapat berbuat apa-apa."
"Apa Maksud mu Sona!"
Sementara Daiki sedikit terseyum mengejek kemudian dia bangkit dan kemudian melangkah ke hadapan Sona sambil meyodorkan telapak tangannya, melihat hal ini Sona terpaksa harus menyambut salaman yang di berikan Daiki.
"Senang, berbinis dengan mu Nona Sitri atau Shitori." Ucap Daiki.
Daiki dan teman-temannya pergi dari ruangan tersebut, kemudian Sona menjelaskan bahwa dia terpaksa menerima hal ini karena dia tidak punya pilihan, dia juga memberitahu jika tadi mereka tidak menerima aturan ini dapat membuat hubungan antara kedua Fraksi menjadi memanas.
Flashback end.
"Bos!"
Mendengar panggilan biasa untuknya, anak dari ratu yokai ini membalikan badannya. Para temannya telah berada di hadapannya, Mereka kini tengah tidak ada kerjaan karena masalah pengawasan Kuoh kini sudah berada sekitar 75%.
"Iya, aku kesana."
Himiko kini membawa sebuah keranjang pinik dengan berisi bermacam-macam makanan, tentu saja itu untuk makan siang mereka kali ini. Jun Chameleon mengambil kue brownies dan kemudian memakannya dengan lahap sambil duduk di atas pagar pengaman.
Begitu juga dengan yang lainnya, hanya ada kebosanan bagi mereka untuk siang ini. Karena tidak ada misi dan juga kontrak dalam suatu pengeliminasia dan untuk para iblis tersebut mereka hanya dapat terjebak di kandang sindiri tanpa berbuat apa pun.
"Jadi Alex, bagaimana tentang saudara mu yang berada di salah satu preage dari Iblis itu atau lebih tepatnya Gremory." Tanya Kurosaki, yang memulai pembicaraan setelah tadinya terasa sepi.
Alex hanya menghela nafas, dia menyatukan kedua tangannya dan meletakannya di bawah kepalanya untuk menjadi bantal.
"Sepertinya, dia berada di suatu ruangan meskipun dia memiliki darah dari keturunan sang penguasa seluruh bangsa di Transvania tapi bagaimana pun dirinya agak berbeda. Memiliki Phobia akan orang lain dan masih banyak lagi tapi uniknya dia memiliki Scared gear."
Alex menjeda sesaat karena sesuatu mendarat di atas kepalannya sebuah kelalawar mekanik berwarna mental dengan mata merah hinggap.
"Betulkan, Arc."
Ternyata dia adalah Arc Kivat, sebuah benda hidup yang di ciptakan oleh ras Legendorga untuk pemimpin mereka demi membuat semua ras di Transvania berada di bawa kekuasaanya tapi berhasil dihentikan oleh seseorang atau lebih tepatnya Raja yang pertama kali menyatukan seluruh Transvania dia adalah Kiva, selanjutnya Kiva dan Arc selalu bertempur demi membutikan siapa yang pantas akan gelar tersebut dan akhirnya mereka mejadi Rival yang saling mengejar itu terus terjadi dari generasi ke generasi jiwa Kiva dan Arc selalu berrengkarnasi. sekarang tibanya giliran Alex Legendora sang Arc ke 15.
"Doron, Doron, betul sekali Alex sepertinya pewaris Kiva kali ini terlalu lembek mungkin dia yang paling lembek di antara seluruh generasi Kiva, kau tahu itu dapat membuat nama Kiva tercemar."
Daiki tengah memakan Sandwichnya, kemudian menatap Alex. Harusnya temanya ini sedikit hati-hati dalam berkata karena meskipun sekarang dia lembek bisa saja dia bertambah kuat.
Broom!
Suara sepedamotor dari bawah lebih detailnya lapangan sekolah, motor berwarna merah dengan merek Ducati 999, sang penungang mengenakan pakaian anak motor berwarna merah dengan seorang di belakanngnya lebih tepanya perempuan berambut pirang dengan pakaian yang bisa dikatakan sama dengan pengendara.
Click!
Dia turun dari Motornya dan membuka helmnya terlihat rambut merah dengan mata berwarna merah, yah dialah Jun Akaji sang satria merah aka Kamen ride Accel, dengan Kunou yang berada di sampingnya.
"Bos, nampaknya kau harus melihat ini." Ucap Kurosaki.
Tapi sepertinya mereka salah Daiki sudah terlebih dahulu turun dari atap sekolah dengan melompat dari atas gedung, tentu saja membuat semua anggota Berseker Blood hampi jantungan melihat tindakan yang sangat sulit di tebak bosnya ini.
"Apa dia akan mati!" Tanya Jun Chameleon
"Entahlah, aku harap tidak." Jawab Alex yang masih shok dengan tindakan Bosnya ini.
"Yeh! Daiki-kun~ keren sekali!" Seru Himiko denagn girang, dan itu membuat ketiga laki-laki yang ada di atap ini memandang aneh dia bilang keren itu sudah hampir membuat seseorang jantungan dan mati.
Sementara di bawah sana, Jun dengan Kunou di kurumuni banyak orang akibat ketamanan dan kecantikan, tapi sampai kelompok Osis datang dan membuat semua orang langsung kocar-kacir, kelompok Gremory pun datang karena ingin mengetahui ada apa.
"Permisi, ada perlu apa kalian datang kemari." Ucap Sona.
Jun kemudian menatap satu-persatu mereka, dia merasakan sedikit energi gelap lalu dari situ di simpulakan bahwa mereka adalah Iblis, Jun melebarkan tangan kanannya seolah untuk melindungi Kunou.
"Maaf, saja Iblis aku tidak memiliki urusan dengan kalian."
Jawaban yang sangat dingin bahkan menusuk dan membuat para Iblis ini terkejut kembali karena dia mengetahui informasi kalau mereka adalah Iblis.
"Tunggu dari mana kau.."
Boom!
Rias yang ingin menayakan terhenti karena melihat sebuah ledakan kecil yang terjadi di sekitar mereka, Jun yang melihat itu terseyum. Asap berwarna cokelat mengepul dengan hebat, dari balik asap itu Muncul Daiki sambil memegangi Topinya.
"Lama tidak bertemu...Patner!" Dengan Sorot mata yang sangat tajam memberikan itimidasi yang membuat seorang seolah melihat sesosok mahluk dengan sabit raksasa.
Sementara Jun yang di panggil begitu geram, dia melangkah maju tapi Kunou sedikit memegang tangan Jun seolah dia tidak ingin kehilangannya, Jun membalikan sedikit kepalannya lalu terseyum seolah bicara 'Aku tidak akan kalah'
Mau tidak mau Kunou akhirnya menyerah dan membiakan Jun menghadap mantan temannya, sahabatnya, serta Bosnya.
"Kau juga lama tidak bertemu...Bos!"
Keheningan terjadi di tempat itu hanya suara angin yang bisa di dengar, Sona dan Rias saling menatap satu sama lain. Seolah memberikan kode kepada Rias agar dirinya membuka suara terlebih dahulu.
"Ano..Daiki-san apa ini teman mu." Tanya Rias dengan nada yang seperti di paksakan karena dia seolah tidak ingin menyebutkan nama Daiki akibat tindakannya kemarin.
"Neh..Bos sejak kapan kau akrab dengan mereka."
"Akrab, hanya dalam mimpi mu mereka hanya pengangu bagiku."
Mendengar ucapan Daiki tentu saja membuat ketegangan semakin meningkat, anggota Berseker Blood yang sudah turun kini berada di belakang Daiki. Mereka sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya Jun Akaji mantan anggota Berseker Blood dan tangan kanan Daiki atau bos merek telah kembali.
"Lalu apa yang dilakukan Ane-sama disini."
Kunou yang merasa dirinya di panggil menatap adiknya yang bodoh, seharusnya kau tahu apa yang telah kau lakukan dan berisap untuk di hukum.
"Outoto-Baka, kau harusnya sadar dengan tindakan yang pernah kau lakukan dulu."
"Kesalah yang kulakukan dulu.."
Daiki memasang pose berpikir, tapi bagi Jun dia semakin geram dengan tindakan Daiki aura intimidasi miliknya keluar dan mengambarkan seorang samurai yang marah dengan membawa sebuah katana dan memakai topeng oni berwarna merah. Semakin besar dan semakin menakutkan.
Beberapa orang di sekitarnya nampak ketakutan, beberapanya lagi hanya dapat meneteskan keringat dingin. Daiki akhirnya menjentikan jarinya.
"Oh, maksud mu saat aku membunuh Kaijin perempuan itu." Ucap Daiki.
"Dia memiliki nama kau tahu, namanya adalah Yuki!"
Daiki mengangkat kedua bahunya seolah tidak peduli, dia pun mengeluarkan aura yang sama persis seperti Jun dan ini berwarna keunguan dengan mengambarkan sosok Grim Reaper dengan mata merah menyala.
"Kau masih polos Patner, apa yang kau pelajari diluar sana. cara menjadi pahlawan!"
Keduanya mengeluarkan Belt mereka masing-masing dimana Daiki mengunakan Lost Drive, sementara Jun Accel Drive. Dan diletakan di bawah perut seseera kedua Belt ini mengingkat.
Jun mengambil Gaia memory miliknya kemudian dia tekan.
ACCEL!
Daiki juga mengambil miliknya
SKULL!
"Hen...Shin!" Ucap keduanya bersamaan.
ACCEL!
SKULL!
Daiki di kelilingi seperti sebuah listrik dan beberapa benda minimalis berwarna ungu, sementara Jun di keliling seperi pegas pendorong kecepatan motor berwarna kemerahan. Dan akhirnya keduanya mengunakan Armor masing-masing.
Daiki kini mengarahkan jari telunjuknya ke arah Jun.
"Sekarang hitunglah semua dosa-dosamu."
Kunou segera pergi dari belakang Jun ke arah anggota Berseker Blood agar tidak mengangunya, sementara Kelompok Iblis kemudian memasang kekai ilusi yang membuat seolah-olah tidak telihat. Melihat tindakan serius akan pertarungan ini maka sudah di pastikan ini akan sangat hebat.
Kedua orang berbeda armor ini sekarang tengah memandang satu sama lain, Accel atau Jun mengambil Blade egine miliknya sementara Skull atau Daiki dirinya mengambil Skull Magnum.
"Jadi mereka memasang kekai, tidak telalu buruk."
Ucapan tersebut berasal dari Jun Akaji sang Accel, mendengar hal itu tentu saja para Iblis sedikit kesal dan marah. Mereka tidak ingin ketahuan dan membuat gempar, Issie ingin sekali menghajar pemuda tersebut tapi secara tiba-tiba Scared gearnya muncul.
"Sebaiknya kau perhatikan pertarungan ini Aibou!"
"Ddraig!"
Teriak Issie karena tidak seperti biasanya dia mengometari suatu pertarunagn, Sarung tangan ini kemudian berkelip beberapa kali.
"Kau harus tahu Aibou, mereka berdua menurut ku berada jauh di atas dirimu bahkan seperti 10 tingkat di atas dirimu."
Mendengar itu Issie nampak tidak percaya dengan ucapan Patnernya ini, bahkan Semua iblis di buat sama oleh Ddraig. Kenapa Ddraig dapat menyimpulkan begitu dia sudah hidup sangat lama dan pastinya dia sudah merekam segala hal tentang seorang pertarung.
"Kenapa kau bisa begitu Ddrag-san."
"Mereka memiliki setiap hal yang harus di miliki seorang pertarung sejati, dimana untuk mendapat keteria seorang pertarung sejati di butuhkan kerja keras bahkan latihan yang sangat mengerihkan. Kau harus tahu Aibou meskipun mereka masih muda saran ku jangan gangu mereka berdua bahkan dari pancaran aura yang kulihat itu sebatas baru sekitar 20% dari seluruh kekuatan mereka."
Mendegarnya saja membuat Issie gemetaran, kekuatan tadi baru 20%, bagaimana kalau 100% itu pasti lebih mengerihkan.
Kini kedua mantan sahabat ini saling melancarkan seragan, Daiki menembakan bola energi berwarna bertubi-tubi ke arah Jun, bukannya menghindar dia malah menerima serangan tersebut.
Dor!
Dor!
Daiki mengambil memasukan Gaia memory Skull ke slot yang berada di Skull Magnum. Ketika itu terjadi terdengar.
SKULL! MAXIMUN DRIVE!
Skull megangkat bagian moncong senjatanya, kemudian mengarahkannya ke arah Accel yang masih dia di tempat, berbeda dengan serangan bola energi tadi kali ini pelurunya jauh lebih padat dan kuat.
SHUUT!
BOOM!
Ledakan besar dan sangat kuat terjadi di Accel, Kunou sempat kawatir dengan keadaanya. Tapi sebuah suara membuat semua orang terkejut, asap yang mengepul tadi sekarang hilang di gantikan dengan Accel yang masih berdiri dengan gagah berani tanpa terluka sedikit pun.
"Kau harus tahu satu hal, aku jauh lebih kuat dari mu sekarang!"
Jun melesat menyerang dengan menyeret pedangnya, sementara Skull dia juga melesat ke arah Accel, sambil berlari Skull terus menembaki lawannya berkali-kali tapi tidap mempan-mempan dan ketika mereka sudah beberapa seti.
Adu tinju terjadi, dengan dilapisi oleh aura merah dan ungu. Membuat benturan tersebut menghasilkan angin yang sangat kuat bahkan hampir membuat Kekai ini pecah.
'Hebat!'
'Kua..at!'
Belum sampai disitu Jun, mengatikan serangan mengunakan pedanngnya dia menembas ke arah Daiki, tapi lawannya berhasil memblok serangan tersebut, Daiki melancarkan seranga balik melakukan tendangan samping ke arah helm Jun, membuatnya telpental ke belakang.
Jun tidak ingin merasakan tubruka antara dirinya dengan tanah, membalikan tubuhnya dan kemudian mecoba menyesuakai tempatnya mendarat, sang kamen rider merah ini kini mendarat dengan sempurna hanya saja dia harus memikirkan serangan yang dapat melukai bosnya.
Daiki menatap Jun, dia sedikit melemaskan tangan yang memblok pedang Jun dari serangannya tadi Daiki merasaka sedikit sakit akibat ada dorongan besar dari pedang tersebut.
"Hei...Patner, bagaimana kalau kita selesaikan dengan cara seorang Rider." Ucap Daiki.
Mendengar itu, Jun paham begitu juga dengan anggota Berseker Blood mereka paham apa ucapan Daiki atau bos mereka ini, keduanya membuang senjata mereka. Daiki kini meletakan Gaia memorynya di slot Maximun Drive.
SKULL! MAXIMUN DRIVE!
"Akan kubuat kau menyesali apa yang sudah kau lakukan, Daiki!" teriak Jun, dia kemudian memutari stang Accel Drivenya.
ACCEL! MAXIMUN DRIVE!
Keduanya kembali melesat dan kini adu tinju dan bangku hantam saling menyerang, tak sedikit dari keduanya menerima pukulan yang menyakitkan di beberapa titik, Daik meinju perut Jun sementara Daiki mendapat pukulan di wajahnya membuat helm Ridernya hancur.
Keudanya langsung jantuh akibat serangan cukup seirus, Daiki yang kini helmnya sudah hancur, Sementara Jun mengalami sakit yang cukup serius di bagian perut, tapi ke duanya mencoba berdiri dengan sekuat tenaga.
"Hah hah hah.."
"Hah hah hah.."
Nafas kelelahan keluar dari mulut mereka, Daiki melnacarkan serangan terlebih dahulu ke arah wajah Jun, lalu di balas Jun ke arah muka Daiki. Saling serang terus di lancarkan bahkan helm yang melindung wajah Accel ini sudah hancur sama seperti Daiki.
"Apa kita tidak mencoba melerai mereka." Ucap Jun Chameleon.
Kedua temannya yang lain hanya mengelengkan kepala, bahkan hanya dapat menghela nafas karena melihat pertarungan Bos dan Patnernya ini.
"Tidak, jika kita menghentikan mereka yang ada itu hanya menambah buruk suasana."
Daiki memukul di bawah dagu Jun, sementara Jun menghatamkan kakinya ke arah perut Daiki.
Dhuak!
Dhuak!
Braak!
Akhirnya, armor rider mereka berdua hilang. Banyak luka lebam yang di sebabkan oleh pukulan mereka, terlihat bulatan berwarna ungu di mata Daiki, pipi sang kamen rider Aceel sedikit membesar, darah mengalir dari beberapa bagian dan mengotori pakaian masing-masing.
"Sial! Padahal ini pakaian Favorit ku!"
Dhuak!
Tap!
Jun sedikit mengambil kesempatan dengan mencekram pergelangan tangan lawannya, dia membanting lawannya, lalu memukuli wajah mantan bosnya ini.
Braak!
Brushh!
Daiki menyemburkan ludahnya pada Jun agar dapat bebas, dia bangkit dan mecoba menyerang balik Jun,
Dhuaak!
Jun yang masih ada ke sadaran, menahan serangan Daiki. Karena sudah mencapai batas maksimun ke duanya ambruk ke belakang. Tidak add pemenang, keduanya benar-benar menunjukan kekuatan mereka bahkan membuat lapangan sekolah ini berubang serta retak.
"Cih!"
Daiki bangkit dia menghampiri Jun yang masih terbaring ke lelahan, Jun seolah masih memiliki rasa benci yang sangat besar dia tidak akan menyambut bantuan tangan Daiki, bukannya memberikan bantuan Daiki mengambil Gaia memory dengan mentuk huruf M, kemudian dia jatuhkan tepat di atas wajah Jun.
"Semuanya ada di Memory tersebut, kau harus tahu aku terpaksa melakukan ini Patner."
Setelah mengatakan itu Daiki ambruk dan pingsan. Jun juga kemudian tidak bisa mempertahankan kesadarannya akhirnya menutup mata.
-TBC-
Baiklah, sekarang kita akan berpindah dari Naruto menuju Daiki,
Di capter kali ini terungkap bahwa Daiki terpaksa membunuh kekasih Jun Akaji.
Selain itu Author akan mejelaskan tentang struktur organisasi dari Berseker Blood
-Uzumaki Daiki : Ketua : Kamen rider Skull
-Jun Akaji : Wakil ketua : Kamen rider Accel
-Kurosaki Tonbo : Ahli persenjataan : (masih rahasia)
-Jun Chameleon : Intel : Kamen rider Verde.
-Alex Arc : Esekutor : Kamen rider Arc
Baiklah itu lah daftar anggota Berseker Blood, untuk Himiko toga dia memiliki grupnya sendiri bersama para kekasih dari anggota Berseker Blood yang bernama Rose Queen.
Sekilah itu saja informasinya yah, dan untuk kedepannya mungkin akan di perlihatakan bagaimana cara Berseker Blood dan Rose Queen dalam menyelesaikan misi pengleyapan.
Saa Jaane!
