"Ini."

Joonmyun memandang sebuah handuk putih yang disodorkan Yifan padanya.

"Pakai ini untuk mengeringkan tubuhmu."

Joonmyun mengangguk dan menerima handuk putih itu. Kemudian ia mulai mengeringkan rambut cokelatnya yang basah kuyup itu. Sementara Yifan mengganti kemeja tartannya yang basah kuyup pula itu dengan sebuah sweater abu-abu.

"Kau tidak mengganti pakaianmu?"

"Ah... I-iya." Joonmyun mengangguk canggung kemudian menghampiri koper yang ada di sebelah sleeping bag-nya. Ia mengaduk-aduk isi kopernya, kemudian menaikkan alisnya. "M-mwo..?"

"Kenapa?" Tegur Yifan yang sejak tadi memperhatikannya.

"Eng... A-anu... Sepertinya pakaianku yang masih bersih sudah habis..." Keluh Joonmyun. Di kopernya hanya tersisa dua buah celana panjang yang belum dipakai, sisanya pakaian kotor. Joonmyun merutuki dirinya sendiri yang ceroboh seperti ini.

Yifan diam. Ia segera menghampiri travel bag-nya kemudian mengambil sebuah kemeja putih dari dalam. Yifan melepas sweater abu-abu yang semula dikenakannya tepat di depan Joonmyun. Joonmyun langsung menunduk malu saat ia melihat Yifan topless seperti itu. Yifan mengenakan kemeja putih itu, lalu menyodorkan sweater abu-abunya.

"Ini. Kenakan sweater-ku saja."

"Eh..?" Joonmyun mendongak memandang Yifan yang mengangguk yakin itu.

"Pakai saja. Daripada pakaianmu basah seperti itu?"

Joonmyun tersenyum. "Gomawo, Yifan..."

Yifan diam saja sambil kembali mengeringkan rambutnya.

Setelah mengenakan sweater milik Yifanㅡyang sedikit kebesaran di tubuh mungilnya ituㅡJoonmyun diam memandangi Yifan yang membelakanginya itu.

"Yifan..."

"Apa?"

Joonmyun tersenyum lirih. "Gomawo..." Ucapnya pelan. "Karena sudah menolongku."

Tangan Yifan yang sejak tadi mengeringkan rambut dengan handuknya, berhenti.

"Aku... Rasanya aku senang sekali waktu membuka kedua mataku dan mendapati kalau... Yifan lah yang sudah menolongku..."

"..."

Joonmyun menunduk lagi, menahan senyumnya. "Kalau Yifan tidak datang menolongku tadi... Mungkin aku sudah..."

"Aku datang menolongmu karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada ibumu kalau dia tahu kau ditemukan mati tenggelam di sungai."

Joonmyun tergelak kecil. "Em... Yang jelas... Aku sangat berterimakasih padamu, Yifan."

"Hm." Gumam Yifan menanggapi.

Bibirnya boleh saja berbicara singkat-singkat, tapi siapa yang tahu kalau dalam hati Yifan benar-benar ingin merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya kemudian membalas ucapan terimakasih Joonmyun dengan lembut.

Ah, tidak. Yifan bukan contoh orang yang bisa beromantisme seperti itu.

Itu menggelikan.

"Maaf sudah membuat cardiganmu basah, Yifan." Gumam Joonmyun sambil menunduk. Disodorkannya cardigan Yifan yang dipakainya tadi. "Kalau kau tidak keberatan, biar aku bawa ini pulang ke rumah dan kucuci sampai bersih."

"Sudahlah. Itu bukan masalah yang penting." Sela Yifan. "Yang penting kau tidak kenapa-napa, kan?"

"Ah..." Joonmyun mengangguk. "I-iya."

Hening sejenak.

"Kalau saja kau tidak berpasangan dengan maniak itu... Pasti kau tidak akan mengalami kejadian seperti ini." Yifan mencebikkan bibirnya.

Joonmyun nyengir. "Mianhae, Yifan..." Ujarnya. "Habisnya... Aku tidak tega menolak permintaan Tao, jadinya akuㅡ"

"Eoh?" Yifan menaikkan alisnya. "Tunggu. 'Permintaan Tao', katamu?"

"Eh? I-iya, kenapa?" Tanya Joonmyun balik. "Tao... Yang memintaku bertukar nomor lotre dengannya. Dia bilang kalau dia sangat ingin berpasangan denganmu."

"Ah... Jinjja. Dasar anak kecil itu." Gerutu Yifan. Ia masih ingat jelas kalau Tao mengatakan Joonmyun lah yang memintanya bertukar nomor lotre.

Hening sejenak.

"Apa kau... Tidak suka berada dalam kelompok yang sama denganku..?"

Joonmyun mendongak memandang Yifan.

Yifan mendadak gelagapan saat Joonmyun memandanginya seperti itu. "Maksudku... Kenapa kau mau-mau saja dibujuk Tao seperti itu..? Kalau kau menerima tawarannya bertukar nomor dengannya... I-itu artinya... Kau tidak mau satu kelompok denganku, begitu..?"

Joonmyun tersenyum lirih. Lagi.

"Bukan begitu..." Ucap Joonmyun lembut. "Aku... Sebetulnya... Aku senang sekali bisa satu kelompok dengan Yifan."

"Tapi... Aku merasa... Rasa senang Tao untuk bisa satu kelompok dengan Yifan, jauh lebih besar daripada rasa senangku untuk bisa satu kelompok dengan Yifan."

"Tao itu pacarmu, kan..?" Joonmyun mencoba tersenyum. Perih sekali rasanya mengucapkan kalimat seperti itu. "Tao... Pasti sangat senang dan merasa nyaman kalau bisa satu kelompok denganmu, pacarnya sendiri."

"Pacar?" Gumam Yifan sambil menaikkan alisnya.

Joonmyun mengangguk. "Iya... Tao itu pacarmu, kan?" Sekali lagi Joonmyun memaksakan otot-otot bibirnya untuk tersenyum. "Tidak usah malu-malu. Aku sudah tahu, kok."

"Ya. Kau ini bicara apa?" Yifan menyeringai kecil. "Aku sudah lama putus dengannya."

"Eh..?" Joonmyun mengerutkan keningnya. "Be-benarkah..? Lalu... Yang kemarin..."

"Yang kemarin apa?" Kejar Yifan, penasaran. "Aku sudah tidak ada hubungan ataupun perasaan apa-apa lagi dengannya. Dia saja yang suka dekat-dekat denganku. Tidak lebih. Aku hanya menganggapnya sebagai adikku sendiri. Kau tahu, Tao kan anak tunggal. Mungkin itu sebabnya ia sangat membutuhkan sosok seorang kakak."

"Oh... Ah... A-aniya." Joonmyun menunduk malu. Dalam hati ia bersyukur dan menghela nafas lega. Ternyata... Yifan tidak berpacaran dengan Tao. Jadi setidaknya... Joonmyun masih bisa berharap, kan? Hihihi.

...

Hari kedua summer camp benar-benar sangat melelahkan. Rafting dan climbing diadakan sekaligus hari ini. Dengan tubuh mungilnya, tak mungkin Joonmyun tidak merasa lelah. Hidungnya sedikit tersumbat karena air sungai masuk ke hidungnya saat perahunya terbalik dan menceburkan semua penumpangㅡtermasuk dirinya. Belum lagi pantatnya yang masih terasa sakit karena beberapa kali ia jatuh saat sedang climbing.

"Ukkkkhhhh..." Joonmyun bergelung di dalam sleeping-bag-nya. Tubuhnya pegal-pegal. Sepertinya ia harus memanggil tukang pijat sepulang dari summer camp.

"Joonmyun-a?" Jongin yang baru saja masuk ke dalam tenda mendapati Joonmyun yang terlihat seperti ulat bulu yang sedang bergelung di dahan pohon *bayangin Cha Eun Gyeol di To The Beautiful You pas Genie High School lagi kemping, episode 8 XDDD*. "Gwenchana? Kau terlihat kurang baik."

"Gwenchana..." Joonmyun meringis. "Hanya saja tubuhku rasanya pegal semua..."

Jongin tertawa. "Hahaha. Selama ini kau belajar terus, sih! Makanya, berolahraga sedikit saja kau langsung encok seperti ini." Guraunya. "Ayo keluar. Setelah membersihkan diri, kita ada acara api unggun."

Joonmyun meringis lagi, kemudian pada akhirnya mengangguk-angguk.

...

Sebuah api unggun besar menyala di tengah-tengah base camp. Para anak laki-laki melakukan kegiatan bermacam-macam di sana. Ada yang menghangatkan diri, bernyanyi dengan diiringi gitar, bermain kartu, dan lain-lain.

"...Mworago?! Nan ne mal moreugesseo, na sirtaneun~! Ne mareul moreugesseo, wanjeonhi?! MICHYEOSSEO! Jeongsin charyeo, MICHYEOSSEO! Are you crazy~~" Jongin dan Sehun bersenandung ria, bernyanyi menghentak-hentak diiringi petikan gitar dari Yifan. Kemudian mereka tergelak bersamaan.

"Huahahaha! Keren, hyung!" Seru Sehun. "Aku baru tahu kau bisa main gitar."

Yifan menyeringai kecil. "Dasar teman ketinggalan jaman."

"Lagi, hyung, lagi!" Pinta Jongin. Tangannya sibuk beradu dengan layar sentuh ponselnya, mencari-cari lagu yang bisa menghangatkan mereka.

Menyanyikan sejumlah lagu yang menghentak-hentak membuat Jongin dan Sehun menjadi lelah. Maka akhirnya tiga sekawan itu menghampiri stan panitia dan mengambil lemon tea hangat yang disediakan untuk para peserta.

"Ya." Gumam Yifan. "Ngomong-ngomong... Di mana Joonmyun..?" Tanyanya sambil menoleh kesana-kemari. Sejak tadi Yifan sama sekali tidak menemukan sosok Joonmyun.

"Joonmyun?" Jongin menyeruput lemon tea-nya sedikit-sedikit. "Tadi rasanya terakhir kali aku bertemu dengannya di tenda. Dia bilang badannya pegal-pegal. Lalu kuberitahu dia sebentar lagi ada acara api unggun. Setelah itu, sih, aku tidak melihatnya lagi."

Yifan diam. Beberapa saat kemudian ia bangkit dari duduknya. "Ah... Aku rasa pick-ku tertinggal di dalam tenda. Aku ambil dulu, ya." Gumamnya lalu ia segera berlari-lari menuju tenda.

Sehun dan Jongin berpandangan. Kalau pick-nya tertinggal di dalam tenda, lalu tadi Yifan bermain gitar dengan apa?

Ah, alasan yang konyol.

Pasti Yifan punya maksud tertentu untuk kembali ke tenda.

...

Untung saja di sekitar sini ada banyak ranting dan dahan pohon yang berjatuhan. Joonmyun mengumpulkan beberapa ranting serta dahan, kemudian menumpuknya dan menyalakan korek di atas tumpukan ranting dan dahan itu. Joonmyun tersenyum senang saat api unggunnya sendiri itu sudah menyala. Ditegakkannya kedua telapak tangannya di dekat api unggun itu, menghangatkan dirinya.

"Hhh..." Joonmyun mengusap-usap telapak tangannya, meniupnya, kemudian menghangatkannya lagi. Bergantian. Mengusap, meniup, lalu menghangatkan.

Setidaknya pegal dan lelah yang ia rasakan tadi sedikit berkurang karena kehangatan yang tengah melingkupi tubuhnya itu.

"Myun?"

"Ah..." Joonmyun menoleh mendengar suara yang sedikit mengagetkannya itu. Kemudian tersenyum begitu ia melihat Yifan sudah ada di belakangnya. "Yifan..."

"Kenapa menyendiri di sini?" Yifan mengambil duduk di sebelah Joonmyun.

Joonmyun tersenyum simpul. "Ah, tidak apa-apa. Aku tidak begitu suka dengan keramaian, hehehe..." Joonmyun meringis setelah memaparkan alasan anehnya itu. "Entah kenapa, kalau terlalu ramai, malah rasanya semakin dingin."

Yifan tersenyum geli mendengar alasan Joonmyun. "Oh iya. Ini. Minumlah." Disodorkannya gelas lemon tea hangat miliknya. "Jongin bilang kau kelelahan. Aku jadi... Sedikit cemas." Entah setan jurusan cinta mana yang sedang merasuki Yifan sampai ia bisa berkata lancar seperti itu; kalau Yifan mencemaskan keadaan Joonmyun.

Terang saja Joonmyun langsung tersipu malu. "Gwenchana. Setelah menghangatkan diri di api unggun ini, rasanya sedikit lebih baik."

"Baguslah." Komentar Yifan.

Joonmyun memandang Yifan.

"Kau tidak... Berkumpul di base camp?"

"Tidak." Jawab Yifan. "Aku rasa di sini lebih hangat."

Joonmyun tersenyum kecil.

Sejenak mereka terdiam.

Tak lama, Yifan meraih gitar yang ada di sebelahnya. "Mau aku mainkan sedikit lagu? Siapa tahu bisa menghangatkanmu juga."

Joonmyun memeluk kedua kakinya, kedua matanya berbinar terlihat antusias. "Boleh juga."

Yifan tersenyum, kemudian ia mulai memetik gitarnya.

.

This is how I feel

Whenever I'm with you

Everything is all about you

Too good to be true

.

Somehow I just can believe

You can lay your eyes on me

If this is a fairytale

I wish it will end happily

.

Even though we are apart

I can feel you here next to me

Here and now

I will vow

Stay with me

.

Let me love you

With all my heart

You are the one for me

You are the light in my soul

.

Let me hold you

With my arms

I wanna feel love again

I wanna feel love again

I wanna feel love again

.

Yifan tersenyum lembut, kemudian ia menatap dalam-dalam kedua bola mata Joonmyun yang sedang memandanginya itu.

.

And I know...

Love is you

.

Entah karena apa, tiba-tiba Joonmyun merasakan matanya memanas begitu Yifan mengakhiri lagunya. Ia tak kuasa menahan airmatanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Dengan cepat Joonmyun mengusap air matanya, lalu bertepuk tangan. "Hebat!"

Sret... Yifan memegangi pipi Joonmyun kemudian ia mengusap air mata Joonmyun yang belum sepenuhnya terhapus.

"Kau menangis?"

"Ah..." Joonmyun tertawa getir. "Um, ani. Aku cuma... Aku cuma tersentuh saja. Andai saja ada orang yang benar-benar mencintaiku dan... Dan... Menyanyikan lagu seperti itu... Aku..." Joonmyun menunduk, air mata harunya jatuh lagi.

Yifan meraih dagu Joonmyun, menegakkan wajah namja itu, kemudian memandangnya dengan penuh kelembutan.

Membuat jantung Joonmyun benar-benar berdegup dengan kencang saat ini.

Baru kali ini... Yifan memandanginya dengan pandangan selembut ini.

"Yi-Yifan..?" Celetuk Joonmyun karena sudah cukup lama mereka berdua saling berpandangan seperti iniㅡplus dengan tangan Yifan yang memegangi dagu Joonmyun.

"Kim Joonmyun..." Gumam Yifan lirih. "Orang yang benar-benar mencintaimu dan menyanyikan lagu ini untukmu... Aku ingin orang itu... Adalah aku..."

"H... Hah..?" Joonmyun memandang Yifan dengan tak percaya. "Ma-maksudmu..."

Yifan mengangguk kemudian ia tersenyum lembut. "Aku mencintaimu, Myun. Kau mau... Menjadi pacarku..?"

Joonmyun menunduk, kemudian ia menggigit bibir bawahnya dalam-dalam. Ini bukan mimpi, kan..? Yifan... Yifan menyatakan perasaannya pada Joonmyun..?

"Myun..." Yifan kembali mengangkat wajah namja mungil itu. "Kau mau..?"

"Yi-Yifan... A-aku..." Joonmyun tak tahu harus berkata apa. Bodoh. Padahal momen ini adalah momen yang paling ditunggunya semenjak ia menetapkan kalau ia menyukai Yifan. Tapi kenapa sekarang ia malah tidak bisa berkata apa-apa?

"Apa?" Tanya Yifan setengah berbisik.

Joonmyun menengadahkan wajahnya, mencoba menahan airmatanya dan menghela nafas. Tak lama, Joonmyun menahan senyumnya, kemudian ia mengangguk malu-malu.

"A-aku... Aku mau, Yifan."

"Apa?" Yifan mendekatkan wajahnya pada wajah Joonmyun, kemudian menyeringai. "Aku tidak dengar." Ucapnya menggoda Joonmyun.

Joonmyun semakin tersipu. "Aku mau jadi pacarmu, Wu Yifan."

Yifan tersenyum lega, kemudian ia segera merengkuh tubuh mungil Joonmyun di dalam pelukannya. Lalu berbisik, "Gomawo, Myun. Saranghae." Chups! Yifan mengecup mesra pipi Joonmyun.

"Umh..." Joonmyun langsung menunduk malu saat Yifan tiba-tiba mengecup pipinya seperti itu.

Yifan tertawa lepas.

Yifan tidak pernah tahu sekalipun tentang apa yang namanya cinta. Ia dibesarkan orangtuanya dengan harta berlimpah dan gengsi yang tinggi, bukan dengan cinta atau kasih sayang. Saat ia berpacaran dengan Tao, Yifan hanya menerimanya karena ia ingin mencoba sesuatu yang baru, bukan karena cinta.

Dan sekarang... Seorang malaikat yang dikirimkan Tuhan datang untuk Yifan. Malaikat dengan senyum manis miliknya, tubuh mungil miliknya, kulit putih susu miliknya, dan mungkin ia punya sepasang sayap yang kasat mata di punggungnya. Ya, tentu. Karena dia adalah malaikat. Malaikat yang bernama Kim Joonmyun. Yang membawakan sejuta kedamaian yang selalu menyejukkan hati Yifan.

Sekarang Yifan tahu apa nama perasaan aneh itu.

Perasaan yang selalu ada di hatinya saat Yifan berada di dekat Joonmyun... Perasaan rindu yang begitu tulus setiap kali Yifan tidak berada di dekat Joonmyun... Debaran jantung yang sama setiap kali Yifan melihat senyum manis atau tingkah imut yang dilakukan Joonmyun... Rasa takut dan kekhawatiran yang mendalam saat Yifan berpikir ia akan kehilangan Joonmyun...

Perasaan itu... Bernama cinta.

-THE END?-

.

.

.

finally~ akhirnya ff ini selesai juga ^^ sumpah, ane greget sendiri nulis ini ff XD full krisho moments nih wkakaka XD selama 7 chapters ini, saya terimakasih banyak buat para readers, authors, dan silent-readers yang udah nyempetin diri baca ff ini ^_^v I love you all!

btw, kira-kira kalian maunya ini the end, berlanjut tentang cerita sehari22 pacarannya krisho atau ff baru (yang pasti krisho~)? ^^ I need your suggest! (^/\^)