I'M SORRY TO LOVE YOU
CAST :
JUNG YUNHO
KIM JAEJOONG
SHIM CHANGMIN
Other Cast :
CHO KYUHYUN
RATED : T
GENRE : Hurt/Comfort, Angst , Romance
CHAPTER 6
.
.
.
"Ngghhh…"
Lenguhan panjang yang keluar dari bibir sang pemilik bermata musang itu menandakan kesadarannya mulai kembali dari tidur panjangnya semalam. Membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya saat cahaya matahari langsung menyinari mata itu melewati selah ventilasi di ruangan tersebut.
Yunho perlahan mendudukan tubuhnya masih diatas kasur king size itu. Memperhatikan keadaan sekitar yang sangat asing baginya. Ini bukan kamarnya, kamar ini sangat tidak dikenal oleh Yunho. Diedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang tidak diketahuinya, tiba-tiba arah pandangannya terhenti pada sofa yang sedang ditiduri oleh namja yang dikenalnya.
Kakinya yang panjang berjalan kearah sofa itu, memperhatikan intens bagaimana namja didepannya ini menikmati tidur ataupun menikmati indahnya mimpi dialam tidurnya. Dengan pelan, Yunho menyelinapkan tangannya disela belakang leher dan lutut namja tersebut, menggendongnya dan meletakkan namja yang bermaga Shim itu di ranjang yang sebelumnya sudah digunakan oleh dirinya.
CREESSS
Suara air yang berasal dari keran wastafel itu semakinn deras mengalir saat tangan Yunho yang menaikan volume air itu. Membasuh mukanya mungkin bisa menghilangkan rasa kantuk yang masih mendera pada matanya.
Yunho menatap wajahnya pada cermin dihadapannya kini. Menatap lekuk tiap garis ketampanan yang diturunkan oleh appanya. Memperhatikan air yang perlahan turun dan jatuh dari wajahnya
"Kenapa aku bisa disini? Seingatku, aku mabuk, lalu melihat seseorang dan aku tidak sadar" Entah kepada siapa dirinya berbicara, mungkin bayangannya pada cermin? Menanyakan apa yang telah terjadi semalam sampai akhirnya dia bisa berada di tempat ini sekarang
Kepalanya menggeleng pelan saat mengingat-ngingat siapa orang itu sebenarnya "Tapi kurasa, orang itu bukan changmin" Yunho mengusap kasar wajahnya dan pergi meninggalkan kamar mandi
.
.
.
"H-hyung" Changmin dengan cepat mendudukan tubuhnya yang masih dilindungi dengan selimut tebal. "Kenapa aku bisa tidur disini? Kau yang memindahkanku?" Tanya changmin
Yunho yang masih sibuk dengan kopi buatannya hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Changmin. Setelah kopinya selesai, Yunho langsung mendudukan kursi kayu yang diletakkan di depan kasur yang tengah changmin duduki
"Aku tidak tega melihatmu tidur seperti tadi. Badanmu bisa sakit nanti"
"Gomawo hyung"
Changmin membuka selimut yang masih menyelimuti tubuhnya, ingin bangkit dari kasur tapi tiba-tiba saja namanya yang dipanggil Yunho membuat tangannya menghentikan kegiatannya
"Siapa yang membawaku ke motel ini semalam?"
Raut wajah Changmin sedikit menegang mendengar pertanyaan yang diberi Yunho. Meskipun Yunho tidak melihat wajah changmin sekarang karena tengah sibuk mengaduk kopi yang dipegangnya.
Changmin menggigit bibir bawahnya pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Y-ya tentu saja aku hyung. Aku menemukanmu mabuk dijalan terus aku membawamu kesini"
Yunho menghentikan tangannya yang sedari tadi memutarkan sendok kecil di dalam gelas itu. Matanya menatap mata keraguan Changmin yang mencoba untuk tidak menatapnya "Kau tidak bohong kan pada hyung?"
Dengan sigap changmin menjawab "Tentu saja tidak. Lalu siapa lagi selain aku yang membawamu hyung? Tidak mungkin kan appa atau ummamu. Jika mereka, mereka pasti akan membawamu langsung pulang kerumah dan tidak mungkin dengan Jae hyung karena—"
"Karena aku tidak menyukainya"
Changmin terdiam saat mendengar penuturan Yunho. Ya, sudah berapa bulan Jaejoong berada ditengah-tengah mereka, yunho masih saja membenci Jaejoong. Selalu menyakitinya dan membuat namja itu selalu bersedih
"Kau seharusnya tidak boleh begitu hyung"
"Kenapa tidak boleh hem?" Tanya Yunho –lagi- halus
'Karena dia yang telah menolongmu hyung' Ingin sekali bibir Changmin mengatakan yang sejujurnya pada Yunho. Tapi mengingat apa yang Jaejoong katakan padanya sebelum dirinya pergi meninggalakan dirinya dan Yunho di motel ini beberapa jam yang lalu
"Arraseo hyung. Ingin ku antar?" "Tidak perlu aku bisa sendiri. Apa kau lupa jika hyungmu ini lelaki hah?" "Lelaki cantik hehehehhe" "Dasar! Baiklah aku pulang kalau begitu"
"Hati-hati hyung" Jaejoong menghentikan langkahnya dan berbalik pada Changmin "Jangan katakan pada Yunho jika aku yang membawanya kemari" Changmin mengernyitkan keningnya "Kenapa?" "Karena aku tidak ingin dia semakin membenciku"
Changmin tersenyum "Karena dia adalah teman kita"
Yunho tertawa kecil mendengar kata 'teman' pada kalimat Changmin barusan. Sejak kapan ia berteman dengan namja seperti Jaejoong? Seingatnya kenalan sajapun tidak dan yang lebih penting ia tidak pernah memanggil nama Jaejoong saat pertama kali bertemu dengan namja berkulit putih itu sampai sekarang. Seingatnya hanya kata-kata yang tidak enak saja yang dilontarkannya pada Jaejoong
"Aku tidak memiliki teman seperti dia" Yunho meninggalkan Changmin yang masih terbengong mendengar jawabannya.
Changmin tersenyum miris, ingin sekali dirinya memaki-maki Yunho sekarang dan mengatakan jika namja yang dibencinya sejak awal itu sangat mencintainya. Meskipun changmin tidak tahu seberapa besar rasa cinta Jaejoong untuk Yunho tapi dari sorot mata yang Jaejoong perlihatkan ketika mata itu bertemu Yunho rasa cinta yang tulus telah terbaca dari tatapan mata itu. Andai saja Yunho memperhatikannya, jika tatapan itu sangat berbeda dengan tatapan orang lain yang diberikan untuk Yunho bahkan Changmin tidak pernah memberikan tatapan sehangat dan setulus itu.
"Yunho hyung, suatu saat kau akan merasa kehilangannya jika dia tidak ada sekitar kita nanti"
"Supirku sebentar lagi akan menjemput kita disini" Yunho mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau menjawab apa-apa. Tidak ingin ada keributan antara dia dan changmin hanya karena namja yang bernama Jaejoong itu
"Kau janganlah mabuk-mabukan lagi hyung. Aku tidak suka memiliki hyung yang suka mabuk-mabukan seperti tadi malam. Dan ingat, jangan mabuk hanya karena aku menolakmu"
"YA! Kau pede sekali nae dongsaeng?"
Changmin mengembungkan pipinya gemas, membuat orang-orang yang melihatnya ingin mencubitnya "Itu fakta hyung , bukan opini"
"Hyung?"
"Ada apa?"
"Aku mencintaimu hyung, cinta yang diibaratkan untuk adik kepada kakaknya. Tidak lebih dari itu hyung. Aku yakin, suatu saat kau akan menemukan orang yang mencintaimu dan setiap detik kau akan merasakan apa arti cinta yang sesungguhnya"
Yunho tersenyum dan mengangguk mengerti. Mengerti dari maksud perkataan Changmin.
Mulai detik ini, ia akan menyerah untuk mendapatkan Changmin. Karena sekuat apapun Changmin tetap menganggapnya hanya sebagai seorang HYUNG, tidak lebih.
-YUNJAEYUNJAE-
Namja berwajah tampan nan cantik itu berjalan dibawah langit yang sudah mulai gelap. Tidak segelap warna hitam, hanya saja awan biru sudah mulai tergantikan dengan awan merah kekuning-kuningan menandakan awan hitam yang akan menyelimuti bumi.
Baru saja ia menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang guru biola untuk mengajari alat music gesek itu kepada murid-muridnya. Seperti biasa, sebuah tas hitam yang lumayan besar untuk menyembunyikan alat itu dari orang yang telah melahirkannya. Tidak tahu apa yang terjadi jika sang mama mengetahui jika dirinya kembali bermain biola
"Jaejoong hyung"
Jaejoong menghentikan langkahnya dan menoleh kesamping kiri. Ah, ternyata teriakan itu berasal dari namja yang mempunyai kaki yang sangat panjang itu. Changmin langsung keluar dari mobil merahnya yang di ikuti oleh dua namja dibelakangnya.
Changmin langsung menyambar tubuh Jaejoong dan memeluknya erat "Jae hyung, bogoshipeo"
Setelah kejadian di motel itu, Jaejoong mencoba menyibukan dirinya untuk menghindar dari changmin ataupun yunho. Ia mencoba tidak untuk menganggu lagi hubungan antara mereka berdua tapi takdir berkata lain, setelah satu minggu mereka tidak bertemu kini waktunya untuk mereka untuk menyapa satu sama lain
Jaejoong membalas pelukan Changmin "Nado, bogoshipeo"
"Uhuk..uhuk"
Suara batuk yang dibuat-buat oleh salah satu namja dibelakang changmin itu , membuat Jaejoong melepaskan pelukannya pada changmin. Changmin langsung menoleh kearah belakang dan memukul pelan kepala namja itu
"YA! CHO KYUHYUN KAU TIDAK USAH CEMBURU SEPERTI ITU!"
Namja yang bernama CHO KYUHYUN itu hanya menampilkan sederet gigi putihnya kepada changmin ketika mendapati pukulan pelan tadi. Tak lupa juga tersenyum pada namja yang baru saja dipeluk oleh kekasihnya itu. Berbeda dengan namja yang lagi satu yang hanya menyilangkan tangannya dengan ekspressi datarnya pada Jaejoong, siapa lagi kalau bukan namja bermaga Jung.
"Hyung, kenalkan ini kekasihku, cho kyuhyun"
Kyuhyun yang merasa dirinya diperkenalkan ke Jaejoong, mulai mengulurkan tangannya. Jaejoong sedikit mengintip ke arah Yunho saat kyuhyun memperkenalkan dirinya dengan status sebagai kekasih changmin, hanya ekspressi datar yang terlihat tidak ada rasa cemburu atau marah dari bola mata hitam itu. Tidak perlu menunggu lama karena tangan itu disambut oleh tangan halus Jaejoong "Kim Jaejoong. Senang berkenalan denganmu kyu"
"Senang berkenalan denganmu juga Jaejoong hyung"
"Yunho hyung, kenapa kau diam saja daritadi? Kau tidak menyapa Jae hyung?" Kyuhyun yang tidak tahu hubungan yang tidak baik antara Jaejoong dan Yunho hanya mengeluarkan pertanyaan yang membuat Jaejoong TERPAKSA untuk tersenyum
"Apa kabarmu?"
Jaejoong mematung. Berusaha mencerna dengan baik apa yang baru didengarnya. Seorang Jung Yunho menanyakan kabar tentang dirinya? Apakah ini sebuah mimpi indah yang diimpikannya dan menjadi kenyataan?
Tidak jauh berbeda dengan orang yang berada di samping Jaejoong, Changmin hanya mengerjapkan matanya pelan, meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah dengar jika Yunho menanyakan keadaan Jaejoong
"B-baik. Bagaimana denganmu?"
"Kau bisa lihat sendiri bukan, bagaimana sekarang kabarku?"
"Ya hyung! Kenapa jawabanmu seperti itu huh?" Changmin protes dengan jawaban Yunho, tidak ada semenit, Yunho yang dingin dan kasar kembali pada sosoknya "Apa kau tidak liat niat baik jae hyung yang menanyakan kabarmu?"
"Tidak apa changmin-ah, kau jangan kesal seperti itu"
"Sudahlah, kenapa jadi begini. Sekarang dengarkan aku" Suara kyuhyun membuat ketiga orang itu mengalihkan pandangannya pada namja berambut ikal cokelat itu, memperhatikan sebuah kertas persegi panjang yang tengah diangkat olehnya "Aku punya empat tiket untuk menonton festival kembang api malam ini di sekitar sungai han. Tiket pertama untuk changmin, dan juga sebagai hadiah karena telah menjadi kekasihku yang telah setia menungguku untuk menyelesaikan tugas kuliahku di USA, dan sisanya untuk Yunho hyung dan Jae hyung karena telah menjadi temanku"
"Thank you baby" Changmin mengecup pipi kyuhyun pelan dan memeluknya erat
"Orang yang punya sopan santun tidak mengumbarkan kemesraannya di depan umum" Canda Yunho
"Mian hyung hehehe"
"Kyuhyun-ah" Panggil jaejoong "Mian, aku tidak bisa pergi kesana karena aku—"
"Tidak ada penolakan jae hyung, kita berempat akan pergi kesana dan menonton indahnya langit malam yang diwarnai kembang api. Jika kau menolaknya, berarti kau menolak pertemananku ini padamu" Ancam kyuhyun yang disertai senyum evil yang sebagai ciri khas dirinya
"Arraseo"
"Bagus, jam 8 malam nanti kita bertemu di sungai han"
.
.
.
Namja bernama lengkap Kim Jaejoong itu tidak bosan-bosannya memperhatikan jam tangan yang menepel pada kulit tangannya. Jarum panjang yang tepat berada diangka 9 itu, menandakan bahwa ia telah berada disungai han 1 jam lamanya. Kulitnya yang putih pucat semakin terlihat pucat karena suhu udara yang semakin dingin. Hanya sebuah jaket hitam tebal dan kaos V neck yang menutupi keindahan tubuhnya. Telapak tangannya yang sudah dingin memeluk tubuhnya erat mencoba memberikan kehangatan pada tubuhnya sendiri
"Lebih baik kita pulang saja"
"Jangan, setengah jam lagi changmin dan kyuhyun akan kemari. Mereka mengirimkanku pesan jika mereka terkena macet"
"Hey kau namja bodoh, tunggu saja sampai kau membeku disini. Aku ingin pulang"
"Yunho, tunggu aku"
Yunho yang jaraknya sudah sedikit jauh dari Jaejoong membuat Jaejoong sedikit kesusahan untuk menyamakan langkah mereka. Karena mereka harus melewati kerumunan orang-orang yang menunggu pesta kembang api ini. Tak jarang Jaejoong menabrak kasar orang yang dilewatinya karena Yunho yang semakin cepat berjalan dan tidak lupa juga mengatakan kata maaf saat dirinya menabrak orang yang tidak dikenalnya sama sekali
BRUGHH
Sepertinya nasib jelek kini sedang menghampiri Jaejoong. Bukan anak-anak muda lagi kali ini yang ditbraknya melainkan seorang namja tua yang tengah mabuk karena terlihat dari minuman berakohol yang dibawanya
"Brengsek ! Apa kau tidak punya mata"
"Mianhae ahjussi, saya harus cepat-cepat" Jaejoong mencoba membantu namja tua itu untuk bangun tapi dengan kasar ditepisnya tangan Jaejoong dan di dorongnya hingga tubuh Jaejoong terjatuh diatas tanah
"Kau sudah membuatku terjatuh, kau harus menerima hukuman"
Kepalan tangan itu sudah terbentuk dengan kuat dari tangannya yang tidak membawa botol minuman, Jaejoong menyilangkan tangannya berusaha melindungi dirinya dari hantaman yang akan menerjang wajahnya tapi saat pukulan itu akan mengenai dirinya sebuah tangan menggenggam tangannya erat dan menarik paksa dirinya hingga sedikit terseret
"Lariiii"
Jaejoong yang mendnegar suruhan itu langsung berusaha berdiri dan berlari sekuat yang ia mampu. Ditengah lariannya, Jaejoong tersenyum melihat tangannya yang digenggam erat oleh orang yang dicintainya selama ini, Yunho. Jaejoong membalas genggaman itu, seakan takut tangan itu akan terlepas dari tangannya
"Hey anak muda mau lari kemana kau !"
Mendengar teriakan itu, Yunho dan Jaejoong semakin mempercepat langkah mereka. Yunho bisa saja melawan namja tua itu, tapi tidak mungkin ditengah banyak orang seperti tadi, yang ada akan membuat suasana menjadi rusak hanya karena dirinya yang memukul namja tua yang dibawah pengaruh alcohol.
Yunho merasa Jaket hitamnya ditarik oleh Jaejoong. Yunho menolehkan kepalanya kebelakang melihat Jaejoong yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan sedikit menggigit bibr merahnya.
"Aku tidak kuat lari lagi Yun, kakiku terkilir"
"Kau ingin dipukul olehnya huh?"
Lagi-lagi Jaejoong menggeleng "Tapi kakiku sakit"
"Kau sungguh namja merepotkan"
Yunho menghentikan langkah cepatnya dan membawa Jaejoong bersembunyi dibalik pohon besar yang mungkin akan menjadi tempat persembunyian yang aman untuk mereka. Yunho menyenderkan tubuh Jaejoong pada batang pohon dan mencoba menyembunyikan tubuh pendek Jaejoong daripada dirinya dengan Jaket panjang yang dikenakannya. Kini posisi mereka seperti seorang yang tengah melakukan sebuah adegan ciuman.
DEG
DEG
Yunho merasa jantungnya berdetak lebih cepat saat menatap wajah namja didepannya ini. Pertama kalinya Ia menyadari betapa indahnya wajah Jaejoong dengan jarak yang sedekat ini. Bagaimana tulang tulang wajahnya terbentuk sempurna dengan kulit putihnya, Bibir cherry merahnya, dan hidung mancungnya. Namja yang menjadi pusat perhatian seorang Jung ini tak menyadari jika mata musang itu tengah menatapnya. Jaejoong memejamkan matanya erat dan menarik nafas kuat-kuat. Tapi tangan itu meraba dadanya saat debaran dijantungnya semakin cepat, bagaimana tidak, Jaejoong dapat merasakan nafas Yunho yang menerpa pipinya. Semburat merah yang tiba-tiba muncul di pipi Jaejoong membuat Yunho tersenyum kecil.
DUAARRRR
DUAARRRR
Jaejoong membuka matanya saat didengarnya kembang api sudah mewarnai langit malam. Yunho juga menatap langit indah itu. Dibawah langit yang berwarna , dua orang itu saling tersenyum melihat indahnya warna dunia
"Tersenyumlah selalu. Jika kau tersenyum, kau akan merasakan indahnya hidup"
Mendengar penuturan Jaejoong, Yunho menurunkan bibirnya yang mengembang keatas tadi, kembali mengalihkan pandangannya pada Jaejoong yang kini tengah menatapnya. Dua mata itu saling bertemu dengan jarak yang sangat dekat
"Tuhan memberikanmu senyuman untuk kau perlihatkan kepada orang. Dengan senyumanmu, kau bisa membuat hidup orang lain seperti warna kembang api tadi"
Jaejoong menempatkan dua Jari telunjuknya di masing-masing ujung bibir Yunho. Perlahan menariknya keatas dan lihat, bibir itu terlihat sebuah senyuman
"Apa senyum itu sangat susah untukmu hmm?"
Yunho menatap mata itu sebelum akhirnya tangannya mengempaskan tangan Jaejoong kasar dari wajahnya tadi
"Kau siapa huh? Berani-beraninya kau memegang wajah orang tanpa seizinnya"
Yunho yang kasar dan dingin kembali pada dirinya. Jaejoong hanya tersenyum tipis. Setidaknya ia dapat melihat senyum tulus Yunho. Senyum yang membuat hatinya berdetak tidak karuan, senyum yang membuat warna tersendiri dalam hati Jaejoong, senyum yang membuat dirinya terbuai dengan seorang yunho
"Lebih baik sekarang kita pulang"
Dengan tertatih Jaejoong berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Yunho. Meski mencobanya, tapi tetap saja Yunho mendahuluinya.
Tak ada lagi kembang api, tak ada lagi warna langit malam yang berwarna. Kini hanya terdengar suara langkahan dan bayangan dua orang yang tengah berjalan
Jaejoong mengarahkan tangannya kedepan, memperhatikan bayangan hitam dari tubuhnya dan Yunho. Jaejoong semakin memajukan tangannya dan bayangan itu seperti terlihat seseorang yang tengah menggenggam tangan orang di depannya.
"Yun lihat bayangan itu"
Yunho menoleh kebelakang dan melihat Jaejoong menggenggam udara. Tidak ada yang digenggamnya tapi dilihatnya sekilas bayangannya. Benar, tangannya seperti di genggam oleh Jaejoong.
"Lihat jika seperti ini aku seperti memelukmu"
Yunho berjalan kearah Jaejoong dan memberikan punggunnya pada Jaejoong "Naiklah, kakimu akan tambah sakit jika dipaksa untuk berjalan"
Tanpa menolak, Jaejoong segera memeluk leher Yunho dan menautkan kakinya pada pinggang Yunho. Bibir cherry itu mengulaskan sebuah senyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho. Bau tubuh Yunho sangat tercium pada indera penciumnya. Memejamkan matanya dan merasakan hangatnya tubuh Yunho
"Yunho?"
"hmm?"
"Apa mencintai seseorang itu salah?"
"Tidak"
"apa membenci orang itu salah?"
"Membenci tanpa alasan itu salah"
"Lalu apa alasanmu membenciku?"
Yunho menghentikan langkahnya. Menatap lurus jalanan didepannya. Menyerap sempurna pertanyaan namja yang tengah digendongnya.
"Karena kupikir kau akan merebut changmin dariku"
Melanjutkan langkahnya yang dibarengi oleh tawa lembut Jaejoong "Aku tidak akan merebutnya darimu. Tapi bagaimana jika aku merebutnya?"
"Tidak mungkin. Karena changmin milik kyuhyun"
Jaejoong semakin erat memeluk tubuh Yunho "Tapi kenapa kau masih membenciku?"
"Berarti kau membenci orang yang salah. Tapi aku tahu kenapa kau membenciku"
"…"
"Kau membenciku karena Takdir yang sudah Tuhan rencanakan"
'Dan aku mencintaimu karena Tuhan' Gumam Jaejoong dalam hati
"Tidurlah, kau pasti sudah mengantuk. Omonganmu sangat kacau"
Yunho menolehkan kepalanya kesamping melihat Jaejoong yang sudah tidur terlelap
"Dasar namja aneh !"
"Dan kau salah, aku membencimu bukan karena takdir Tuhan tetapi aku membenci orang yang salah"
to be continue
Hello
masih adakah yang menunggu Fanfic ini? ^^
Makasih sudah read dan reviews di chapter sebelumnya
Untuk Fanfic ini mau dilanjutkan apa sampai di sini?
Jujur akhir-akhir ini saya kurang dapat imajinasi yang banyak -_- khayalan saya entah menjadi berkurang XD
Oke, bisa minta reviewnya readerrrrss lol
maaf kalo banyak typoooosssss yaaaaaa *bow*
Keep read this fanfic okehhhh
Bye~^^
