Rumah tingkat dua yang berdiri di dekat pantai, di balik jendela besar mengarah pada pantai, di sanalah terbaring seorang pria berambut merah sutera di ranjang besar berukuran king size. Di dalam kamar ini yang terdengar hanyalah suara monitor jantung dan napasnya disambungkan oleh alat-alat pembantu oksigen.

Tidak ada satu pun yang tahu kalau orang terbaring di ranjang itu jari-jarinya bergerak. Perlahan-lahan, namun pasti. Bulu-bulu mata sedemikian rupa bergerak dan kelopak matanya yang belum terbuka, bergerak antusias. Napasnya kembali jadi normal. Suara di monitor menandakan dirinya tidak lagi koma melainkan hidup.

Mata bening itu pun terbuka, menatap langit-langit kamar yang ditidurinya selama ini. Diraih infus yang menusuk lengannya, dan mencabutnya. Rasa sakit menyengat lengannya, tetapi dia mengabaikannya. Pria itu mengangkat tangan untuk meraih alat oksigen yang menempel di mulutnya, lalu mencabutnya. Pernapasannya merasakan perbedaan aroma. Sekarang dia mencium aroma laut bercampur garam. Dan suara deburan ombak walau terdengar samar-samar.

Kedua matanya melihat jendela besar menghadap pantai Okinawa. Diturunkan kedua kakinya menuju tempat itu sehingga melepaskan alat pengontrol jantung sampai-sampai menimbulkan suara tiit panjang.

Pria berambut merah melangkah demi selangkah ke jendela besar itu, mengangkat tangan meraih handle jendela untuk membukanya. Aromanya masuk ke ruangan berkat angin laut. Perasaannya bercampur aduk. Matanya terus menerawang sekitar pemandangan setiap detiknya, merasa bersyukur diberikan kesempatan untuk hidup kedua kalinya.

Di luar, suara langkah kaki terdengar keras mendekati kamar di mana dia tertidur. Membuka pintu dengan cara dibanting, napas mereka terengah-engah seperti mau dicabut menatap tempat tidur yang kosong menyisakan suara monitor jantung sangat panjang. Merasakan angin berhembus di wajah mereka, kedua mata tertuju pada jendela besar.

Di sana ada seorang pria terus memandangi pemandangan laut di depannya. Terus memandangi sambil tersenyum. Kelegaan buat mereka melihat sahabatnya yang kemarin tertidur panjang, akhirnya bangun menyisakan perasaan senang.

"Sasorii!"

Pemilik nama itu menoleh ke belakang dan menatap sahabat-sahabatnya terutama sepupu-sepupunya, Kiba dan Shino. Senyuman manis merekah begitu indah bercampur cahaya mentari.

"Aku pulang."


..oOo..

.

SUNSHINE

.

.

DISCLAIMER: NARUTO © KISHIMOTO MASASHI

WARNING: OOC, AU, miss typo. Fanfict bergenre drama, dan romance. Rating-nya bisa berubah-ubah tergantung jalannya cerita. Dan, genre-nya juga bisa bertambah tergantung berjalannya alur cerita. Sekuel dari STARLIGHT.

..oOo..

Part VII

Seorang wanita tiba di negara Spanyol menggunakan pesawat jet pribadi, menyuruhnya untuk ke mansion tempat Uchiha Madara berada. Perasaannya sungguh tidak enak saat berada di dalam mobil panjang berwarna hitam ini. Semua mata memandanginya seperti melihat seorang wanita tidak becus dalam pekerjaannya seolah-olah dirinya merupakan penyebab hilangnya Uchiha Sasuke.

Karin yang merupakan namanya gemetaran hebat. Dia tidak menyangka resikonya bakalan lebih parah jika menentang semua perintah Uchiha Madara padahal dia merupakan tunangan Uchiha Sasuke. Lelaki baya itu benaran tidak akan menanggung keselamatan siapa pun apabila berniat menjauhkannya dari cucunya merupakan kunci balas dendamnya.

Dikepalkan tangannya yang lemas berubah jadi kapalan tinju, Karin menenggak air liur dan tertahan di tenggorokannya. Kemudian diangkat kepalanya mengamati orang-orang berupa pegawai Uchiha Madara yang berpenampilan jas serba hitam, tubuhnya tegak dan kuat. Karin memikirkan cara melarikan diri, tetapi kedua kakinya terlalu terpaku hingga saat-saat untuk bernapas pun susah.

"Apakah dirinya bakal dihukum?" batin Karin di dalam hati mengingat dirinya pernah jadi amukan kemarahan Uchiha Madara. Mei, sepupunya tidak bisa berbuat banyak karena kakek Sasuke ini sangat terpandang juga memiliki ambisi yang cukup kuat di negara Spanyol.

Seandainya kemarin dia mencari Sasuke ketimbang membunuh Sakura beserta anak-anaknya, dia tidak mungkin mengalami kejadian seperti ini, dibawa kembali ke Spanyol untuk menghadapi Uchiha Madara.

Punya rencana matang, Karin menekan perutnya berpura-pura seolah-olah sakit perut. "Aduuh… perutku! Perutku sakit sekali!"

Pegawai terpecaya Uchiha Madara duduk berhadapan dengan Karin, mengangkat kepalanya sambil menyilangkan kedua tangan dan kedua kaki, menatap tajam pada Karin.

"Jangan berpura-pura seolah-olah kamu sakit, Karin." Senyumnya sangatlah sinis dan keji, siap melahap siapa pun yang berani menentangnya. "Sebentar lagi kita sampai, jadi jangan buat aku menyiksamu di tempat ini."

Merasakan aura mengancam dari tatapan dan ketajaman lidahnya saat berbicara membuat dirinya langsung ciut. Karin menundukkan kepala, menggerutu kesal. Di antara semua pengawalnya, Karin paling benci jika berurusan dengan pria berambut emas berkuncir. Jiwa pemimpinnya kentara di dalam mobil, Karin bisa merasakannya.

"Kenapa?" Deidara berwajah biasa saja melihat ekspresi Karin yang sedikit kesal dan canggung bila berhadapan dengannya. "Takut? Tenang saja, Karin. Semuanya akan baik-baik saja, jika kamu bersikap baik nanti."

"Aku tidak takut," sahut Karin memalingkan muka, kesal mendengar suara dingin di bibir Deidara. "Aku hanya gugup saja. Biasanya aku tidak begini jika tidak bersama Sasuke. Biasanya aku bertemu dengan Uchiha Madara sering bersama Sasuke."

"Ooh." Deidara menatap benci nama cucu Uchiha Madara karena namanya sering dijadikan anak emas lewat mulut majikan kesayangannya. Dan juga, melihat gelagat Karin yang menyukai Sasuke membuatnya jadi mendesis kesal, namun Deidara berwajah datar seakan-akan menutupi mimiknya yang berubah. "Selama ada cucu Tuan besar Uchiha Madara, kamu tidak pernah takut dan gugup?"

"Te-tentu saja."

Sebenarnya Karin sering gugup apabila bertemu Uchiha Madara, meski bersama Sasuke. Aura Sasuke dan Uchiha Madara sangatlah sama. Ternyata aura gelap masih ada di benak dua orang Uchiha.

Deidara mendengus melihat kegugupan Karin yang terus marajela. Ketakutannya bisa dirasakan oleh para pegawai Uchiha Madara. Ketakutan Karin sangatlah beralasan, inilah membuat dirinya sangat takut jikalau bertemu kakek tua tersebut.

"Jika kamu ketakutan begitu, yang ada kamu malah dimakan oleh Tuan besar." Karin menyipitkan mata, memasang wajah cemberut hingga Deidara terkekeh geli. Deidara bisa melihat bulan besar yang menggantung di langit. Mansion besar berada di ujung mata. "Nah, kita sudah sampai. Siap-siap untuk bertemu Tuan besar kita, Terumi Karin."

Pagar besar nan panjang menjulang tinggi dengan ujungnya beruncing tajam terbuka secara otomatis, mobil limusin masuk ke gerbang. Sebelum itu, supir meminta izin pada penjaga gerbang untuk membiarkannya masuk, penjaga gerbang menganggukkan kepalanya, mempersilakan limusin masuk. Perkarangan mansion milik Uchiha Madara sangatlah gelap, hanya cahaya lampu taman yang menerangi setiap bagian halaman.

Karin bergidik ngeri dan merasakan betapa kecamnya aura mansion ini jika terlihat di luar. Bagaimana jika berada di dalam, ya? Apa sama saja? Karin sudah lama tidak ke sini. Terakhir kali waktu mengantar Sasuke tiga tahun lalu.

Limusin berhenti di depan pintu mansion yang besar. Di sana dijaga oleh dua orang pengawal bertubuh kuat. Deidara keluar terlebih dahulu dari limusin, mempersilakan Karin keluar.

"Silakan Nona Karin. Tuan besar sudah menunggu Anda."

Karin mendongak menangkap kekejaman dan kekuasaan mansion ini. Kedua kaki jenjangnya keluar dan menginjakkan kaki di tanah penuh kekuasaan ini. Benaknya tidak bisa berpikir jernih. Dirinya hampir oleng. Untung Deidara menangkap tubuhnya, membantunya masuk.

Pintu besar itu terbuka, ada banyak pelayan wanita menundukkan kepala untuk memberi hormat. "Selamat datang kembali, Nona Karin, Tuan Deidara."

Wanita berambut merah ini rasanya ingin lari dari tempat gelap dan mengerikan ini, namun pinggangnya ditahan oleh Deidara begitu kuat hingga dirinya tidak bisa pergi begitu saja.

Deidara membisikkan sesuatu di telinga Karin, "jangan sekali-sekali kamu kabur atau kamu akan sama seperti orang-orang yang mengkhianati Tuanku."

Karin tidak berbicara maupun bergerak. Dirinya membeku dan pasrah diantar ke tempat Uchiha Madara yang ruangannya berada di lantai dua. Deidara naik ke tangga melingkar, di sebelah kanan. Di pojok lorong lantai dua ini, di sanalah ruang kerja milik kakek Sasuke tersebut.

Di sana pula ada satu penjaga yang berjaga-jaga di pintu ruang kerja Uchiha Madara, membungkuk hormat pada Deidara dan Karin. "Tuan Madara sudah menunggu Anda."

Penjaga pintu meraih handle pintu, mendorongnya. Perasa Karin bisa memperkirakan betapa dinginnya ruang milik Uchiha Madara. Ketakutan Karin kembali muncul, tiba-tiba saja membeku dan diam di tempat. Deidara mendorong tubuh Karin agar masuk sampai penjaga pintu itu menutupnya kembali.

Betapa gelapnya ruangan ini, Karin tidak bisa bernapas. Lalu, muncullah cahaya lampu di meja kerja. Di sana duduk seorang lelaki tua masih berwajah tampan, tersenyum manis namun jahat kepada Karin.

"Akhirnya kamu datang ke tempatku, Karin." Dilirik Deidara yang membalas senyumannya, menyuruhnya untuk menjauh. Karin lega karena lelaki berambut kuning berkuncir menjauhi dirinya. Madara menatap Karin lekat-lekat. "Kamu sudah tahu 'kan, kenapa kamu aku suruh datang ke sini?"

"I-iya." Karin cepat-cepat maju dan berlutut, meminta maaf. "Saya minta maaf karena sudah membuat Sasuke menghilang! Saya memohon beri saya kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya!"

Madara mengangkat sebelah alis, rahangnya mengeras. "Seandainya kamu tidak membiarkan Sasuke pergi, aku mungkin bisa berkompromi denganmu. Tapi sayang, aku tidak bisa. Kesalahan tetaplah kesalahan. Kamu harus mendapatkan hukumannya."

"Ta-tapi…"

"Deidara!" panggil Madara penuh perintah. Lelaki yang disebut namanya maju ke depan meja kerja Madara, membungkuk hormat. "Dari dulu kamu suka sama Karin, 'kan? Ambillah dia! Aku tidak perlu lagi!"

Karin mengangkat kepalanya, kedua matanya berkaca-kaca menatap Deidara dan Madara bergantian. "Sa-saya mohon beri saya kesempatan!"

Membalikkan badan, Deidara memandangi Karin yang mau menangis. Akhirnya keinginannya tercapai untuk mendapatkan belahan jiwanya. Deidara menoleh dan menatap Madara, setengah menundukkan kepala. "Terima kasih telah berbaik hati, Tuan."

"Hahaha!" Madara tertawa penuh kemenangan. Melirik kembali Karin yang menangis, "dengar Terumi Karin, kamu bukanlah tunangan Sasuke lagi. Mulai sekarang dan besok, biar aku yang mencari Sasuke dan ketiga cucu-cucuku. Kamu tidak diperlukan lagi."

Madara bangkit berdiri, melewati Deidara maupun Karin dan meninggalkan ruangan kerja tersebut. Tinggal Karin dan Deidara di ruangan itu. Memang di ruangan kerja milik Uchiha Madara berupa meja kerja dan lemari yang tersedia banyak dokumen. Madara pernah kasih tahu Deidara kalau di balik lemari jika dibalik ada sebuah kamar tidur berupa ranjang king size.

Diraih lengan Karin dan terguncang karena dikagetkan, ditarik paksa ke sebuah lemari. Karin tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, yang ada hanyalah ketakutan dan perasaan tidak enak. Deidara mendorong lemari besar itu, lemari itu pun tiba-tiba berputar sendiri dan menampilkan sebuah ruangan dengan sebuah ranjang besar. Karin terkejut.

"Ke-kenapa ada ranjang di situ? Ka-kamu mau apa, Deidara?"

Deidara melirik Karin yang gemetar ketakutan, tersenyum licik dan dingin. "Menurutmu apa?"

"Ja-jangan bilang kamu…" Karin langsung menepis tangan Deidara di lengannya, kemudian berbalik badan berusaha melarikan diri. Alhasil, lelaki kepercayaan Madara memeluk pinggang Karin, menariknya masuk ke ruangan. Karin meronta di pelukan Deidara. "Lepaskan aku! Tolooong!"

Permintaan tolong di mulut Karin tidak terdengar oleh siapa pun di ruangan ini. Ruang kerja Madara kedap suara, suara apa pun tidak bisa terdengar dari luar meski itu berupa teriakan minta tolong.

"Jangan main-main denganku, Deidara!" lelaki itu terus memeluk pinggang Karin agar tidak terlepas. Karin merasakan lemari itu mau menutup, membiarkan dirinya bersama Deidara, mengulurkan tangan supaya bisa mencapai lemari tersebut. Hal terucap sebelum ditutup, hanyalah teriakan minta tolong kepada Uchiha Madara. "Tolong saya, tuan Ma—"

Lemari kembali ke tempatnya semula, berdiri kokoh. Tidak ada satu pun suara terdengar di ruangan itu. Yang terdengar hanyalah suara dari Uchiha Madara yang tertawa puas di luar ruang kerja. Tertawa penuh kemenangan.

Ditatap pengawalnya yang terpercaya di sampingnya. Orang ini berwajah biasa saja, tetapi ada sebuah benda panjang berwarna putih tertempel di mulutnya dan mengeluarkan asap yang menyengat, memilik janggut berwarna hitam.

"Asuma, pesankan tiket menuju Jepang. Kita akan reuni dengan mereka, cucu-cucuku tersayang begitu pula cucu menantuku. Hahaha!"

"Siap, Tuan."

.

.

.

.

Mobil milik seorang Polisi dan Dokter tiba di Okinawa dua hari kemudian. Mobil yang dikendarai oleh Tsunade tidak beristirahat dan bersantai di tempat-tempat mereka lewati, karena sang penumpang harus segera bertemu orang-orang dirindukannya. Apalagi keadaan mereka buru-buru pergi sangatlah terdesak.

Kata Tsunade, Uchiha Madara akan pergi ke Jepang dalam waktu beberapa hari. Entah berapa lama mereka tetap diam di kota Asakura tanpa melakukan apa-apa. Ini berkat informasi dari orang kepercayaan Tsunade, mengirimkannya ke tempat Uchiha Madara untuk memata-matai.

Setibanya di Okinawa, semua orang di dalam dua mobil keluar dan mendongak memandangi rumah mungil yang berhadapan dengan laut Okinawa. Jantung wanita berambut merah muda terdengar kencang dan memburu. Dirinya tidak tahu, sebentar lagi akan bertemu seseorang paling dirindukannya.

Pintu rumah mungil berwarna cokelat itu terbuka, memunculkan seorang lelaki berambut hitam jabrik dengan pipi bergambar segitiga berwarna merah. Wanita tiga anak ini kenal dengan lelaki tersebut, bahkan anak wanita ini pun berteriak senang dan sangat merindukan.

"Paman Kiba!"

"Hikari!"

Lelaki bernama Kiba langsung berlari tanpa mempedulikan orang di belakangnya, menerjang anak Sasuke, Uchiha Hikari. Gadis berusia 10 tahun memiliki rambut yang sama seperti Ibunya, melompat ke tubuh Kiba dan mengatakan kalau dirinya amat sangat merindukannya.

"Paman, aku kangen. Kenapa Paman ada di sini? Ke mana saja Paman selama ini?" Banyak pertanyaan berkecamuk di benak Hikari. Rasa rindu masih ada, Kiba mengelus punggung Hikari, sayang.

"Paman selalu ada di sini, kok, bersama Paman Shino." Dielus rambut merah muda Hikari. Yang memiliki nama Hikari membenamkan wajahnya di pundak Kiba. "Paman punya urusan, jadinya tidak bisa bertemu Hikari. Maafkan Paman, ya."

"Yang penting, Paman ada di sini lagi." Hikari menangis di pelukan Kiba hingga lelaki ini berjongkok agar menyeimbangkan tinggi tubuhnya.

Shino menatap Sakura, wanita tiga anak itu. Shino tersenyum. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Sakura."

"Aku juga. Senang melihatmu sehat, Shino, Kiba," balas Sakura tersenyum secerah matahari.

Di belakang Shino, ada wanita berambut pirang panjang berkuncir rendah melihat orang tidak disangka-sangkanya. Berlari melewati dua lelaki dan Hikari, membuka lebar-lebar lengannya buat orang disayanginya selama ini. Wanita ini mengeluarkan air mata dan membasahi pipinya yang manis.

"Sakura!"

Orang dipanggil itu menatap wanita pirang tersebut, menyambut pelukan kepadanya. "Ino!"

Ino pun berada di pelukan Sakura, melepaskan kerinduan selama ini tertahan di dalam dirinya. "Bodoh! Kenapa tidak bilang pada kami kalau kamu pindah dan mengganti margamu? Aku bisa membantumu mengatasi semuanya, jidat lebar yang bodoh!"

Sakura menangis, dan sesenggukan di dalam hati. "Maafkan aku, Ino. Waktu itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Sejak Sasuke menghilang di mana Iori lahir, aku kehilangan akal sehatku dan memilih jalan supaya aku tidak terlihat oleh siapa pun. Aku pun tidak membicarakan ini pada Ibu juga Ayahku."

Ino menarik tubuhnya dari Sakura, menyentil jidatnya yang lebar. Sakura meringis kesakitan, memegang keningnya yang kemerahan. Ino pun juga menepuk pipi Sakura, menyadarkannya. "Hei, aku ini sahabatmu! Seharusnya kamu bicara dulu denganku. Apa kamu mengira aku begini bukan karena dirimu juga? Jika kamu tidak di sisiku, mungkin aku hanyalah seorang anak kecil."

Sakura melihat Ino yang cemberut, memasang senyum indah dan menepuk pipinya lembut sebagai balasan yang tadi. Ino terkejut, menyentuh pipinya. "Ya! Ya! Aku berjanji akan selalu mengatakannya padamu, wanita manis." Ino memerah saking dipuji seperti itu oleh mulut Sakura. "Masa kamu merindukanku saja? Bagaimana dengan suamimu?"

"Eh? Sai?!" Ino baru tersadar pada suaminya yang kemarin-kemarin menghilang tanpa kabar, menoleh ke sana kemari dan mendapati suaminya tersenyum padanya di belakang mobil. Hanya atas tubuhnya yang terlihat, sisanya terhalangi oleh mobil. "Sai!"

"Aku pulang, Ino." Lelaki berambut hitam klimis tersenyum, Ino meringis dan mencubit lengannya hingga Sai merintih kesakitan. "Aduh… kok suami pulang, kamu malah mencubit, sih?"

Ino hampir menangis, menundukkan kepalanya dan menemukan sebelah kaki Sai di gips. Menatap kaki milik suaminya dan Sai bergantian. "Kamu terluka? Kenapa bisa?"

"Pasti kamu marah kalau Sakura terluka, 'kan?" Ino cemberut. Sai mengusap rambut isterinya penuh sayang, meminta izin. "Makanya aku menolong dia dan juga anak-anaknya."

"Bukannya sama saja kamu terluka?" tanya Ino jengkel pada pernyataan Sai yang santai. Lelaki berambut hitam malah tersenyum puas.

"Itu lebih baik daripada melihat isteriku dan isteri saudaraku terluka. Aku tidak mau terjadi." Tanpa meminta persetujuan, Ino memeluk leher Sai pelan agar Sai tidak jatuh ke belakang. Sepertinya Sai mengerti maksud Ino, mendorong punggungnya lembut supaya mendekatkan dirinya lebih dekat. "Aku tahu kamu mengizinkannya, sayangku."

Sakura bahagia melihat sahabatnya berpelukan seperti itu. Seandainya Sasuke ada di sini, apakah dia akan seperti Ino, memarahinya? Yang diinginkan Sakura, kembali di pelukan Sasuke dan berkumpul kembali selayaknya satu keluarga yang utuh.

Kembali ke pintu, ada sosok lelaki muncul dan tersenyum melihat adik dan keponakan tercinta baik-baik saja. Berdehem. "Apa reunian ini sudah selesai?"

Semua orang mendongak menatap lelaki berambut merah sutera tersenyum penuh arti. Sakura yang di samping Youta, menutup bibirnya dengan jari-jari lentiknya. Perasaan rindu kembali muncul, setelah sekian lama mereka berpisah sejak Iori lahir.

"Kak Sasori? Benarkah itu kakak?"

Sasori, panggilan kecilnya, mengangkat tangannya dan melebarkannya seakan-akan menyuruh Sakura untuk memeluk saudara kandungnya. Sasori hanya tersenyum simpul. "Apa kamu tidak mau memeluk kakakmu ini, adikku?"

Kedua kaki Sakura yang tertahan sedari tadi, akhirnya bergerak. Dirinya melangkah menuju orang yang selalu bersamanya dalam suka dan duka. Menaiki tangga kecil, merentangkan kedua tangannya dan meraih leher Sasori untuk dipeluknya. Mereka pun berpelukan sambil mengeluarkan air mata berupa kerinduan.

"Kakak… kakakku…" Sakura terus menangis, membenamkan wajahnya di pundak Sasori. Di balik rambut merah muda Sakura, mata Sasori berkaca-kaca. "Aku merindukanmu… dari mana saja kakak selama ini? Kenapa kakak tidak ada waktu Iori lahir?"

"Maafkan aku, Sakura. Ceritanya sangat panjang dan aku takut jika aku menjelaskannya, mungkin kamu akan sakit hati dan kecewa." Tangan Sasori membelai rambut Sakura, sayang.

"Tidak apa-apa." Sakura menghapus air mata di pipinya, menarik diri dari pelukan tersebut dan menatap Sasori. "Justru aku ingin tahu semua kejadian sebelum ini, kakak."

Ditatap Sakura dalam-dalam, kemudian beralih ke orang-orang di bawah. Sasori mundur selangkah, membiarkan orang-orang bersama Sakura masuk ke dalam rumah. "Akan aku ceritakan di dalam. Silakan masuk dulu."

Semua orang sambil bertatapan, mengangguk yakin. Mereka mengikuti ajakan Sasori buat masuk. Sasori juga tidak lupa menggendong Youta yang tumbuh lebih besar dan matanya sangat mirip dengan Sasuke. Hikari juga begitu, kecantikannya mirip Sakura. Inilah keluarga Uchiha yang luar biasa fisik dan batinnya.

.

.

.

.

Dua hari setelah meninggalkan Kyoto, Itachi dan tiga orang lainnya termasuk anak kecil tiba di Tokyo. Mereka di sini sudah dua hari yang lalu, tetapi mereka susah mencari keberadaan rumah milik Uzumaki Naruto yang terletak jauh dari kota. Mereka bersusah payah mencari ke sana kemari tanpa meminta bantuan pada keluarga Uzumaki.

Akhirnya setelah berjam-jam, ada seorang supir taksi pernah mengetahui tempat tinggal Uzumaki Naruto. Katanya, dirinya pernah mengantar seorang lelaki tampan ke sebuah rumah mungil di ujung kota sana. Itachi menduga, pasti salah satu teman-teman Naruto untuk mencari tahu di mana tempat tinggalnya.

Mereka pun mengikuti taksi itu ke sebuah perumahan yang terletak berada di ujung kota. Hutan sangat lebat, namun di sini hanyalah ketenangan yang terhindar dari keramaian kota. Sesampainya di sebuah rumah mungil bertingkat dua dengan taman yang agak kekuningan, Itachi berterima kasih pada supir taksi itu dan memberikan imbalan.

Supir itu menolak, dan menggelengkan tangan. "Saya hanya mengantar. Tidak perlu imbalan segala, Tuan."

Tetapi, Itachi keras kepala dan menaruh uang itu di telapak tangan supir tersebut. "Ambillah sebagai rasa terima kasih sudah mengantar kami."

Supir tersebut tidak menolak lagi, memohon diri untuk pergi. Menyisakan empat orang yang terus memandangi rumah mungil Naruto, sederhana tetapi indah. Shizune menaiki tangga kecil, merasakan perasaan aneh. Itachi bisa melihat gelagat Shizune yang sedikit aneh.

"Ada apa, Shizune?"

"Rumah ini dari luar terlihat tidak rapi, tapi kenapa seolah sering dibersihkan?" Shizune meraih kenop pintu yang pintunya tidak terkunci. Penasaran, Shizune mendorong pintu tersebut. Bau harum keluar, memberikan rasa lapar di perut. "Harum sekali."

"Siapa?"

Suara familiar terdengar lirih di pendengaran Itachi, langsung membuka pintu dengan paksa, membiarkan Shizune sontak terkejut pada tindakan Itachi. Lelaki berambut hitam ini menatap wanita di depannya, berambut biru disanggul ke atas, berkulit krim susu, memakai celemek dan matanya berwarna perak keabu-abuan.

"Hinata."

"Kak Itachi?"

"Hinata!" Saking senangnya, Itachi berlari, lalu memeluk Hinata. Dikencangkan pelukannya ke tubuh Hinata sampai-sampai Hinata terdesak akibat pelukan tersebut. "Kakak sungguh merindukanmu, adikku!"

"Kak Itachi?!"

Itachi mendengar dua orang lelaki mengucap namanya, sontak mengalihkannya ke atas tangga. Di sana dua orang pria berdiri di anak tangga, terkejut melihatnya. Itachi sontak melepaskan pelukan Hinata, memasang kewaspadaan yang tidak-tidak kepada orang itu.

"Ke-kenapa kamu ada di sini, Sasuke?"

Dua orang lelaki tersebut turun dari tangga, menghampiri Hinata dan memandangi Itachi. Pemilik nama kecil, Sasuke, bingung pada pola tingkah Itachi yang kekanakkan. Maju selangkah sampai-sampai Itachi juga mundur.

"Ada apa denganmu, kak? Aku tidak akan berbuat macam-macam, kok." Sasuke mengerutkan kening melihat Itachi yang waspada. "Mungkin kakak tahu kalau kemarin aku berbeda dari yang dulu." Mengacungkan dua jari, menandakan tidak tahu apa-apa. "Benaran, kok. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang bikin kakak jengkel."

"Kemarin kamu hampir menculikku lewat pengawal kakek Madara." Hinata, Naruto dan Sasuke membelalakkan matanya, terkejut. "Syukur, deh. Kamu telah berubah jadi lebih baik berkat tendangan Iori."

Sasuke mengibaskan tangannya. "Maksud kakak apa? Maksud kakak aku terbawa pengaruh dari kakek Madara untuk menculik kakak?" Itachi menganggukkan kepala, Sasuke jadi bingung lagi. "Lalu, Iori itu siapa?"

"Kenapa dengan nama kecil itu, he, Paman bodoh?" Tiba-tiba Iori maju ke depan, menegakkan dagunya, dan menyilang kedua tangan di depan dada. "Iori bersyukur bisa melihat Paman sadar kembali."

Sasuke mengernyit melihat bocah kecil yang amat sangat mirip dengannya, berdiri tegak sambil bersilang tangan. Sasuke berjongkok, menatap bocah yang mirip dirinya. "Kamu Iori? Apa kita pernah bertemu?"

"Sa-Sasuke…" Itachi dengan berani menepuk pundak Sasuke, memintanya untuk menatapnya. "Anak ini adalah anakmu dan Sakura. Anak bungsu yang terlahir ke dunia ini setelah kamu menghilang entah ke mana."

Di samping Hinata, Naruto sontak berlari dan menatap langsung anak bungsu Sasuke dan Sakura. Menatapnya dari ujung kaki dan ujung kepala. "Woaaa… sangat mirip Sasuke. Matanya juga berwarna hitam walaupun ada biru sedikit. Anak ini mirip denganmu, lho, Sasuke."

"Maksud Paman apa, sih? Jangan bikin Iori bingung." Iori cemberut, gusar pada kalimat-kalimat lelaki-lelaki dewasa yang menyatakan dirinya adalah anak Sasuke. "Memang benar aku anak dari Ibu yang bernama Sakura. Tapi, sepertinya aku mendengar nama Sasuke, deh."

Itachi menghela napas panjang, menepuk Iori agar mau mendengarkannya. "Iori, benar kamu punya Ayah bernama Sasuke." Itachi menunjuk lelaki di depannya. "Dialah bernama Sasuke. Mungkin pertama kali bertemu Iori tidak tahu karena waktu itu, Sasuke beda dengan sebelumnya."

"I-ini anakku?" Tidak mendengar kalimat Naruto dan Itachi, tangan Sasuke terangkat dan menyentuh pipi mungil Iori. Anak kecil ini tidak menolak malah menyetujuinya, ikut merasakan seperti apa tangan seorang Ayah. "Berarti adik Youta dan Hikari?"

"Kok tahu nama kakak-kakak Iori?" Mulut Iori menganga, terkejut dengan nama kecil saudara-saudaranya. Sasuke tersenyum, Iori langsung terpesona pada senyuman lelaki di depannya. "Senyum Ayah indah sekali."

"He? Tadi kamu panggil Sasuke dengan sebutan 'Ayah'?" Naruto menjerit tidak karuan pada pernyataan Iori, Itachi mendesis dan membekap mulut Naruto yang cerewet.

"Kamu sebut aku apa?" tanya Sasuke tidak percaya pada pendengarannya.

Tawa Iori melebar sampai ke matanya, menyentuh pipi Sasuke di setiap sisinya menggunakan kedua tangannya yang mungil. "Iori kangen Ayah. Akhirnya Iori bertemu Ayah. Dan senyum Ayah itu lebar sekali, Iori suka."

Diraih tangan mungil yang menempel di pipinya, dicium sangat dalam kembali menekan pipinya. "Kamu anakku. Anakku dan Sakura. Akhirnya Ayah bisa melihatmu lagi, Iori, anak Ayah."

Uluran tangan Iori yang bebas membuat dirinya mendorong dan memeluk Sasuke. Air mata sempat tertahan, keluar juga menetes di pipinya yang manis. "Hehehe… selamanya Iori tetap jadi anaknya Ayah."

"Selamanya."

Keharuan pemandangan di depannya bikin orang-orang ikut-ikutan menangis apalagi Naruto yang menjerit-jerit kesenangan. Hinata harus menenangkan suaminya dengan satu pelukan, Itachi paling jengkel pada sifat Naruto yang tidak berubah. Shizune dan Tenten saling berpandangan, ikut terbawa suasana.

Dua orang anak manusia menarik diri, menyentuhkan dahi masing-masing. Inilah Ayah dan anak yang tidak pernah bertemu. Sepertinya kebahagiaan keluarga ini akan kembali sedia kala suatu saat nanti, tetapi di ujung kebahagiaan itu pula pasti ada kematian di antara salah satu orang-orang di dalam rumah mungil ini dan orang-orang di Okinawa sana. Maybe!

To be continued…

..oOo..

A/N: Akhirnya bisa juga terlaksana. PVO-nya saya tunda dulu sementara waktu. Karena mesti menjalankan peranan pada 3 MC sekaligus, yaitu LD, Sunshine dan SAC. Maunya, sih, begitu.

Saya tidak tahu ini tanggal berapa, jadinya hari sabtu saja, deh update-nya mumpung di luar kota soalnya besok sangat sibuk sekali. Terima kasih buat kalian yang telah menunggu fict ini. ^^

Reply review (Previous Chapter):

Kasih Hazumi: Ini sudah ketemu, kok, dan sangat mengharukan. Ternyata pikiran anak kecil itu tidak bisa ditebak, ya. Sama-sama si pembuat ceritanya #plak
Mungkin dua-tiga chapter lagi mereka bakalan melawan, toh Uchiha Madara sudah bersiap-siap ke Jepang. Terima kasih sudah review… ^^
PS: Saya sudah followed, lho. Thanks, ya.

Akiko Rin: Mungkin kemarin ditangkap polisi, Kakashi tidak mungkin ganggu Sakura lagi.
Ini sudah dapat. Mereka lagi reunian, lho. Tenang! SasuSaku bakalan bersama. Tunggu sebentar lagi, ya. Tidak lama, kok. Terima kasih sudah review… ^^

Cherry: Akhirnya #ngusap dada
Iya, tidak nyangka. :3
Sabar saja dulu, ya. Tidak lama lagi, kok.
Dilanjutkan, kok. Seperti saya bilang di a/n, fict yang tertunda seperti LD dan SAC akan dilanjutkan. Meskipun SAC mungkin endingnya gantung. Terima kasih atas dukungan dan review-nya… ^^

Akbar123: Sudah, kok. Makasih review-nya… ^^

Iqma96: Benarkah? #ngasih tissue
Pendengaran anak kecil jaman sekarang bisa terlihat baik ketimbang jaman dulu. #lihat catatan pengamatan
Anak-anak jaman sekarang sukanya sinet, sih. Tapi buat Iori dan Youta, saya tidak akan kasih begitu. Mereka tuh unik.
Makasih atas dukungan dan review-nya… ^^

Quefee Amenore: Lama. Panjang ketimbang ff SasuSaku yang lain rata-rata sampai 15 chapter atau 23 chapter (#lirik LD). Karena penyelesaiannya juga lama, jadinya saya update per minggu. Aamiin…
Anak-anak jaman sekarang pintar-pintar, lho. Semoga di saat kamu menikah nanti, anakmu pasti bisa seperti mereka. ^^
Makasih atas review-nya… ^^

SSlovers: Lihat saja nanti. Sakura itu akan mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Di antara tiga keluarga itu, hanyalah keluarga Sakura yang termasuk unik. #lirik Youta
Makasih atas review-nya… ^^

Hanazono Yuri: Siap! Makasih atas review-nya… ^^

Hotaru Keiko: Makasih! Juga terima kasih buat review-nya… ^^

Guest: Iya, nih. Madara-nya telah turun tangan karena melihat pekerjaan Karin tidak becus. Jadi, kasihan sama si Karin. Lama kelamaan Sakura tidak sembunyi lagi saat Madara ke Jepang. Tunggu saja, ya. Banyak tokoh-tokoh Naruto yang muncul lagi selain saya masukkan ke dalam beberapa chapter lalu. Makasih atas review-nya… ^^

Racchan Cherry-desu: Tidak apa-apa. :D
Banyak tokoh terlibat dan chapter-chapter berikutnya bakalan banyak tokoh mati #sadis
Kakashi, setelah ditangkap polisi, saya berharap dia tobat. Dan Karin, setelah diambil Deidara, saya tidak tahu nasibnya gimana. Makasih atas review-nya… ^^

Mira Misawaki: Ini juga namanya jarang? Atau saya memang jarang ke ffn? O_o
Siapa, ya? Siapa, ya? #sengaja bikin orang penasaran
Yup! 14 bulan berarti umur Youta satu setengah tahun. Itu bisa disimpulkan. Saya memang sengaja begitu karena melihat Ibu hamil lagi padahal punya anak berusia 5-7 bulan, kalau tidak salah. Tanggapnya saya masuk ke situ, jadinya berakhir begini. Perbedaan umur mereka sekitar 5 atau 6 bulan. Mungkin saya kepo #dor #ditembak
Makasih atas sarannya (saya sering kepo masalah beginian, jangan maki saya #plak) dan review-nya… ^^

Signature,

Zecka S. B. Fujioka

Jakarta, 09 November 2013