Prince Slytherin and Princess Gryffindor © atacchan
.
Harry Potter © J. K. Rowling
.
Summary : Mereka bisa menyangkalnya sementara. Tetapi semakin lama mereka akan mengerti. Mereka akan mengerti bahwa mereka saling mencintai.
.
Warning : OOC mungkin, gaje, jelek, absurd, typo atau miss typo(s), dan kesalahan lainnya.
.
Yang di italic/dimiringkan adalah flashback.
.
Timeline : Setelah perang berakhir. Tahun ketujuh di Hogwarts. Kalau kurang mengerti silahkan baca buku atau nonton filmnya terlebih dahulu karena saya malas menjelaskan hehe.
.
Don't Like? Don't Read!
.
Page Seven : Too soon.
OoO
Hermione membuka matanya dengan susah payah. Kelopak matanya seperti telah direkatkan dengan cairan perekat atau lem rekat ajaib milik George. Dia mengerjap dua kali. Memandang sekeliling tanpa mencoba bangun. Dia masih lemas.
Sejak kapan kamarnya terlihat begitu elegan? Hermione mengalihkan pandangan ke meja belajar miliknya, meja itu tetap sama tetapi warna coklatnya berbeda, lalu dimana foto kedua orang tuanya dan kedua sahabatnya?
Baik, Hermione mulai menyadari ada yang salah disini. Saat Hermione menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya –selimut hijau yang diyakininya bukan miliknya- dia melihat dua tangan melingkar dengan santai di perutnya.
Saatnya untuk panik.
"KYAAAA!"
OoO
"Jadi apa yang terjadi?" tanya Hermione dengan tatapan tajam ke arah partnernya.
Draco Malfoy menghela nafas berat. "Tidak ada."
"Tidak ada? Huh?"
"Kau berharap ada apa?"
"Aku tidak berharap! Jelaskan! Kau pasti menyembunyikan sesuatu." Tuntut Hermione.
"Kau tidak ingat sama sekali?"
"Kalau aku mengingatnya aku tidak akan bertanya kepada anda Mister Malfoy." tekan Hermione saat mengucapkan 'Mister Malfoy'.
"Kau mabuk." Jawab Draco sekenanya.
"Jika aku mabuk, aku akan muntah. Aku tidak tahan alkohol."
Draco menghela nafas lagi. Ini akan jadi cerita panjang.
OoO
Draco menatap mata coklat yang berjarak beberapa centi darinya. Hidungnya menyentuh hidung Hermione. Draco menahan nafas. Dekat sekali hingga dia bisa mencium wangi Lavender milik Hermione.
Wajah Hermione hanya berjarak berberapa senti saat tiba-tiba Hermione menutup mulutnya. Draco yang melihat Hermione seperti tersedak dengan cepat mengerti keadaan di depannya.
Draco mengendong Hermione cepat ke kamar mandi. Hermione memuntahkan isi perutnya di wastafel. Draco mengelus punggungnya dan melingkarkan sebelah tangannya diperut Hermione dengan pelan.
Setelah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan Draco menyihir agar air wastafel hidup dan mendaraskan mantra pembersih. Draco memanggil sapu tangannya dengan mantra panggil dan membersihkan sekitar mulut Hermione. Setelah selesai Draco membuang sapu tangannya ke tempah sampah di pantry.
Masih sambil menggendong Hermione, Draco berjalan ke kamarnya. Hermione sudah tertidur setelah dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Draco membaringkan Hermione dan kemudian menyusul naik ke atas tempat tidur. Dia lelah, sangat lelah.
OoO
Hermione menaikkan alisnya tinggi. "Hanya itu?" tanyanya.
Draco megangguk. Masalah Hermione hampir menciumnya tidak mau dibahasnya. Lagipula itu hanya akan memperkeruh masalah.
"Kau menyembunyikan yang lain Malfoy."
"Mione, bisakah kau berhenti untuk berburuk sangka? Aku menolongmu. Hanya itu," Draco yang melihat Hermione baru akan protes melanjutkan. "Aku terlalu lelah sehingga lupa untuk mengantarmu ke kamarmu. Kau juga tidak berharap aku tidur dilantai kan?"
Hermione mengatupkan mulutnya. Hermione mengangguk –meski masih curiga-, kemudian beranjak ke kamarnya. Kelas pertama pagi ini adalah kelas Transfigurasi, dia tidak ingin terlambat hanya dengan alasan 'Saya sedang mengintrogasi Mister Malfoy'.
OoO
Draco dapat melihat ekspresi 'Oh tidak.' dari wajah Hermione saat Profesor Slughorn meminta mereka untuk bekerja sama dalam pembuatan ramuan Pengembali Ingatan. Draco mencoba sebisanya agar tidak memperburuk mood Hermione.
Tidak ada percakapan diantara keduanya, seakan mereka sudah tau apa kebiasaan masing-masing, Hermione pun menyiapkan bahan sementara Draco menimbang berat bahan agar pas. Setelah mencampurkan bahan pun Draco dengan santai membiarkan Hermione yang mengaduk. Tanpa dikomando, setelah Hermione mengaduk Draco langsung melambaikan tongkatnya.
Benar-benar tanpa percakapan sedikit pun. Setelah selesai mereka pun tidak berbicara. Draco melihat Blaise yang sedang menyelesaikan ramuannya dengan Hannah Abbott dan Hermione mencoba memberikan saran-saran tanpa suara kepada Ron yang berpasangan dengan Lisa Turpin.
Setelah kelas Ramuan selesai mereka tetap diam dan berjalan bersama teman-teman mereka. Harry yang menyadari itu –dan memang memperhatikan Hermione sejak tadi- memberanikan diri bertanya.
"Kau ada masalah dengannya Mione?" tanya Harry mencoba mencari tahu, informasi yang di dapatnya dari Draco juga tidak banyak.
"Siapa?" tanya Ron diikuti dengan pandangan membenarkan dari Hermione.
"Malfoy," tambah Harry.
"Tidak, kenapa aku harus memiliki masalah dengannya?" tanya Hermione mencoba tidak perduli.
"Ah iya Mione, bulan lalu kan kau sempat berpacaran bohongan dengannya dan kalian juga akrab sekali waktu itu. Sekarang aku lihat kalian seperti tidak saling kenal." komentar Ron.
"Jadi kalian merasa lebih baik jika aku berteman dengannya?" tanya Hermione datar.
"Yeah, tidak ada salahnya. Malfoy tidak terlalu buruk." balas Ron diikuti anggukan Harry.
"Terserah, aku ada kelas Rune." kata Hermione.
"Sampai jumpa saat makan siang kalau begitu." balas Ron.
Hermione mengganguk dan menatap Harry. Hermione sedikit menaikkan alis saat Harry mengisyaratkan 'Menara Astronomi jam sembilan.' Dan setelah itu kedua temannya mengambil arah ke koridor lain.
OoO
Sambil menerka-nerka maksud Harry, Hermione melanjutkan perjalanan ke kelas Rune. Dia tidak begitu melihat jalan sehingga bertabrakan dengan seseorang.
Hermione mengambil bukunya yang jatuh dan dengan cepat meminta maaf.
"Maaf, aku tadi tidak memperhatikan jalan."
"Tidak apa-apa, aku juga salah." Kata orang itu sambil mengambil bukunya yang jatuh.
Hermione membantunya dan menyadari siapa yang ditabraknya. Anthony Goldstein, Prefek Ravenclaw yang satu angkatan dengannya.
Hermione mengangguk. "Tidak ke kelas Rune?" tanyanya ramah.
"Ah, buku Rune ku tertinggal tadi. Aku berniat kembali ke Asrama untuk mengambilnya. Masih ada lima menit sebelum kelas dimulai. Aku duluan ya." Jawab Anthony dan berlalu dari pandangan Hermione.
"Hei! Kau bisa meminjam buku ku." Panggil Hermione.
"Ha?"
"Aku membawa dua buku, satunya lagi memang buku perpustakaan, tetapi masih berisi materi hari ini. Lagipula jika kau berlari sekarang kesana aku tidak yakin kau akan tepat waktu." terang Hermione.
"Terima kasih." balas Anthony dan berjalan kearah Hermione. Mereka berjalan beriringan ke kelas Rune.
"Tidak masalah, lagipula tadi aku mengurangi waktumu."
"Yah, kau sebangku dengan siapa nanti? Maksudku begini, jika kau sendiri kita sebangku saja. Lagipula kau juga membutuhkan bukumu." tawar Anthony ramah.
"Aku sendiri sih," jawab Hermione. Saat dia masih menjadi pacar bohongan Draco mereka sebangku di Rune Kuno. Tetapi sejak status itu terbongkar Hermione terkadang duduk bersama Lisa atau Padma.
"Kalau begitu kita sebangku."
"Well, terserahmu saja."
OoO
Draco Malfoy mecoba memfokuskan matanya kepada Profesor Bathsheda yang menjelaskan perbedaan kata-kata Rune Kuno yang terlihat mirip.
Jangan salahkan Draco kalau dia tidak konsentrasi. Melihat partnernya duduk disebelah seorang siswa Ravenclaw –Draco melihat warna dasi dan lambang asramanya- yang kalau tidak salah adalah salah seorang Prefek cukup membuatnya bertanya-tanya.
Hermione jarang sebangku dengan lelaki, selain kedua sahabatnya dan jika ada tugas perkelompok. Draco memperhatikan si Prefek yang terlihat menulis sesekali dan Hermione yang serius memperhatikan penjelasan dari Profesor Bathsheda.
Kenapa dia jadi curiga? Draco jadi ingin marah tidak tahu kenapa. Setelah ini dia harus bertemu Blaise.
OoO
Langit malam cukup cerah, ada cukup banyak bintang di atas sana. Hermione memandang bintang-bintang itu. Ada rasi Orion yang menurut Ron berbentuk seperti drum. Hermione tersenyum saat mengingat Ron pernah bertanya padanya 'Apakah ada dewa dari dunia muggle yang menggunakan rasi Orion untuk main musik?'
Dia menatap langit lagi. Sebenarnya masih ada 15 menit lagi sebelum jam sembilan, tetapi Hermione merasa lebih baik datang cepat.
Dia mengalihkan pandangan dari rasi yang baru dilihatnya ke rasi Draco. Rasi yang berbentung naga itu terlihat tidak begitu lengkap, ada beberapa bintang dari rasi itu yang tidak kelihatan sinarnya.
Rasi Draco. Hermione menundukkan kepalanya. Rasi itu mengingatkannya kepada Draco. Orang yang selama ini terang-terang dihindarinya.
Hermione menatap lagi ke langit. Kali ini dia mencoba melihat sebuah bintang yang terlihat seolah sendirian, tidak ada bintang lain di dekat bintang itu.
Pikiran Hermione melayang, memutar balik segala memori saat dia pernah berteman dengan Draco. Sekarang, masih bisakah dia dan Draco disebut teman? Mereka bertengkar kan? Lalu apa namanya? Apa mereka kembali menjadi musuh?
Hermione mengingat saat Draco masih memanggil nama depannya, lelaki berambut pirang platina itu masih menganggapnya teman.
'Tapi teman tidak saling mendiamkan saat bertemu.' batin Hermione.
Hermione jadi bingung, semua ini mungkin dimulai darinya yang menjauhi Draco, tapi kenapa Draco juga menjauhinya? Kalau saja dia tidak egois untuk kembali mengajak Draco berbicara, mungkin sekarang mereka masih bertegur-sapa.
'Apa yang membuatku begitu bodoh hingga menjauhinya? Dia salah apa?' tanya Hermione pada dirinya sendiri.
Kalau ada saat dimana dia tidak bisa menjawab, mungkin inilah saatnya. Hermione tidak tahu apa yang menyebabkannya begini. Setaunya Draco tidak memiliki salah kepadanya.
Hermione memang kesal saat Draco menjadikannya pacar bohongan Draco, tapi perasaan kesal itu sudah tidak ada. Dia juga tidak merasa marah pada Draco, karena selama mereka memiliki status bohongan itu tidak ada hal buruk yang terjadi kan?
Well, Hermione mungkin sempat dilirik tajam oleh penggemar Draco. Tapi, kan hanya itu. Malah selama itu Hermione lebih banyak tahu tentang Draco. Draco yang tidak marah saat Hermione mengacuhkannya, Draco yang dengan spontang menjadi baik saat ada orang yang melihat mereka berdua, dan Draco yang tertidur karena menunggu Hermione mengerjakan esainya.
Hermione tersenyum saat mengingat bagaimana wajah Draco saat tertidur, begitu tampan dan rileks. Seakan dia bayi baru lahir yang tidak pernah menyengsarakan partnernya.
"Ada hal yang ku lewatkan?" tanya sebuah suara dibelakangnya.
Hermione berbalik dan memutar kedua bola mata coklat madu miliknya. "Oh Harry, memangnya ada yang terjadi disini? Tidak ada pesta, jadi tidak ada yang kau lewatkan." jelas Hermione.
OoO
Harry berjalan ke tempat Hermione bersandar. "Aku melihatmu tersenyum sendiri, mungkin aku melewatkan sesuatu."
"Tidak ada, aku hanya mengingat sesuatu."
"Apa itu?"
Harry mengikuti Hermione bersandar dan menatap langit.
"Tidak begitu penting, lupakan saja."
Harry mengerling kearah Hermione sekilas dan kembali menatap langit.
"Bukankah itu rasi naga?" tanya Harry menunjuk sebuah rasi bintang berbentuk naga. Dia sengaja bertanya untuk memancing Hermione.
"Ya. Rasi," Hermione merasa lidahnya terlalu kelu untuk menyebutkan nama rasi itu. "Draco."
Harry memperhatikan perubahan wajah Hermione. Suara Hermione seolah bernada rindu saat mengumamkan nama itu dan hal itu berhubungan dengan hal yang ingin diketahui Harry.
"Jadi, ada apa meminta ku kemari?" tanya Hermione setelah tediam sejenak.
"Aku ingin bertanya," jawab Harry. Mendapat anggukan dari Hermione, Harry melanjutkan.
"Ada apa denganmu dan Malfoy?"
Saat itu Harry yakin dia melihat ekspresi terkejut di wajah Hermione. Ekspresi yang langsung terganti dengan ekspresi datar.
"Tidak ada."
"Kalian berteman beberapa saat yang lalu, berpacaran bohongan juga. Lalu sekarang bersikap seperti tidak mengenal satu sama lain. Kau menyembunyikan sesuatu."
Hermione menunduk, dia terdiam. Harry semakin yakin ada yang disembunyikan Hermione.
"Entahlah, aku tidak mengerti."
Harry menangkap nada putus asa di suara sahabatnya. Harry tidak bertanya lagi, dia mencoba membiarkan Hermione menyusun kata-kata.
"Aku takut Harry,"
Harry melemparkan pandangan bertanya.
"Aku takut menatap matanya. Aku juga tidak tahu kenapa, tapi terakhir kali aku menatap matanya aku merasa terhisap. Lalu aku juga tidak tahu kenapa, saat berada di dekatnya aku merasa jantungku bekerja lebih cepat." Jelas Hermione sambil mengingat-ingat.
Harry menaikkan alisnya dan senyum tipis terkembang di wajahnya.
"Mungkin Malfoy tidak baik bagi jantung mu." guraunya.
Hermione menatapnya dalam. "Mungkin. Apa dia menggunakan mantar verbal untuk menakutiku? Atau dia memasukkan sesuatu kedalam minumanku?"
Sekarang giliran Harry menghela nafas berat. Dia tidak menyangka temannya bisa begitu lambat dalam hal seperti ini. Harry jadi bingung kenapa Hermione bisa menjadi murid terpintar jika masalah seperti ini dia tidak mengerti.
"Ada yang lain?" tanya Harry mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada, seingatku cuma itu."
Harry mendapatkan hasilnya. Sama seoerti Draco, Harry yakin kalau Hermione juga sedang jatuh cinta.
OoO
"Setauku Goldstein sedang mendekati anak Hufflepuff. Tapi aku juga tidak tahu Drake. Memangnya kenapa?" tanya Blaise.
"Tidak ada aku hanya ingin tahu. Jadi si Goldstein itu tidak punya pacar?"
"Setauku tidak. Kenapa?" tanya Blaise lagi.
"Tidak apa-apa." Jawab Draco.
Blaise menautkan alisnya dan menatap Draco horror. Draco menatapnya balik Blaise dengan pandangan 'Apa?'
"Jangan katakan kau jatuh cinta padanya!"
Draco terkejut dengan perkataan Blaise dan langsung menatap Blaise dengan tatapan membunuh.
"Aku masih normal jika itu yang kau maksud." Balas Draco dengan penekanan pada setiap kata.
"Aku hanya menduga, siapa tau karena Granger menjauhimu kau jadi menyukai Goldstein."
Draco menatap Blaise malas. Ah iya, omong-omong soal Hermione,
"Blaise,"
"Ya mate? Aku dari tadi disini." jawab Blaise.
"Pernahkah kau curiga dan marah kepada seseorang karena dia mendekati wanita yang merupakan partnermu?" tanya Draco
"Jadi Goldstein mendekati Granger?"
"Bukan itu yang kutanyakan, tapi ya." Jawab Draco.
"Pernah, saat melihat Lisa dekat dengan Weasley di kelas Ramuan."
"Lisa? Turpin maksud mu?" tanya Draco.
"Yep."
"Lalu? Kenapa kau merasa begitu?"
"Aku menyukai Lisa, sedikit sih. Jadi karena itu aku tidak suka melihatnya dekat dengan siapapun. Yah, termasuk dengan Weasley." Jelas Blaise.
Draco menaikkan alisnya. Jadi dia menyukai Hermione?
"Jadi menurutku kau menyukai Granger mate. Mencintainya mungkin." tegas Blaise.
OoO
.
TBC
.
OoO
Afterwords: Yah, jadi begitulah kisahnya. Semakin gaje ya? Yah salahkan authornya ya, eh iya authornya kan aku -_- Kasih saran deh, mau digimanin ceritanya, stuck sih idenya. Jadi gitu aja ya. Ata pamit dulu. Dadah~
OoO
.
Review?
.
Without you I'm nothing.
.
