Satu hal yang pasti.

─bukan salah Kagami kalau ia tidak mengingat Aomine.

.

.

-Flashback

Aomine pernah ditolak masuk akademi kepolisian karena umurnya belum cukup bulan dan terpaksa masuk ke universitas agar tidak menganggur. Aomine pikir, "okelah, satu tahun bukan masalah". Ternyata, menjalani satu tahun di universitas itu sungguh mengikis batin seorang anak soleh.

Di suatu hari yang dipilih secara acak dari memori ini misalnya. Buru-buru dari rumah, sudah pakai minyak wangi biar harum, sisiran sampai rapi dan ganteng…, eh, lima menit menuju angka sepuluh si ketua angkatan berteriak, "Hari ini kita tidak jadi kuliah. Dosennya tiba-tiba kena vertigo!"

Aomine tak berpikir dua kali untuk melempar minyak wanginya keluar jendela kampus.

Mengumpat sepanjang jalan menuju stasiun, mata jelalatan Aomine menemukan sosok biru mungil semasa SMA, Kuroko Tetsuya. Kecewanya langsung berganti riang. Tujuh bulan tidak bertemu dan kini ada banyak hal yang ingin Aomine bagi dengan sahabat unyunya.

Namun di samping Kuroko, Aomine menemukan sosok lain yang jauh lebih mencolok. Rambutnya merah bergradasi hitam. Alis bercabang. Tubuh tinggi dan berotot lengan liat. Lirik ke bawah, otot gluteus maximus yang terbungkus celana jeans ketatnya ternyata juga sangat atraktif. Aomine langsung suka dalam sekali pandang.

Sayang sekali, Aomine kala itu adalah seorang pengecut. Ini pertama kalinya ia ingin meng-uke-kan sosok yang lebih cocok jadi seme. Ia baru berani menemui Kuroko ketika Kagami sudah pergi. Bertanya ini-itu, akhirnya Aomine tahu namanya. Kagami Taiga, selamanya akan selalu Aomine ingat.

.

.

Bertahun-tahun lewat, Aomine berubah dari pengecut jadi makhluk mesum. Perubahan yang sama sekali tidak bisa disebut kemajuan.

.

.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Pairing : Aka x Nurse!Kuro, Ao x Nurse!Kaga, and many other

Warning : tidak ada rumah sakit seperti ini, kok.
EyD berantakan, bahasa kadang baku kadang enggak.

.

.

Suara Nijimura terdengar begitu memelas di telepon. Dua hari ini Kagami membuat masalah lagi.

"Tiga hari lagi, Kagami. Tiga hari lagi! Setelah itu kau bisa lepas dari makhluk gelap satu itu! Kau bisa ganti pasien!"

Suara di seberang telepon yang serak-seksi milik Kagami, menjawab ngotot. "Aku benar-benar tidak bisa datang hari ini, Senpai. Tiket seminarku bisa hangus!"

"Minta temanmu saja yang datang!"

Kagami menjawab enteng, "Ilmunya buat temanku, dong. Bukan aku."

Nijimura menggeram. Ia sudah tidak kuat bicara dengan Kagami. "POKOKNYA AKU INGIN KAU DATANG BEKERJA HARI INI!" Dan, sambungan pun diputus. Ponselnya dibanting. Nijimura mengumpat tak peduli dirinya sedang ada di mana. "DASAR TIDAK PROFESIONAL!"

Di belakang Nijimura, Kasamatsu dan Kuroko yang telah selesai operan memperhatikan dengan tatapan simpati─simpati pada si ponsel maksudnya. Sementara rekan perawat malam lebih peduli pulang daripada ponselnya atau bahkan Nijimura-nya. Maaf saja, tapi kelopak mata mereka sudah berat.

"Karena Kagami tidak bisa datang, Aomine kuserahkan padamu Kasamatsu."

Kasamatsu terbelalak mendadak keputusan tak berdasar Nijimura. "Maafkan aku, Nijimura. Tapi biasanya Aomine menolak jika aku yang merawatnya. Katanya auraku mirip orang yang sudah punya uke, jadi dia tidak tertarik."

Nijimura mengusap wajahnya. Tidak perawat, tidak pasien, semua membuatnya lelah. Apa pula uke itu? Bekerja di ruang Anggrek, Nijimura khawatir dirinya bisa kena stroke kapan saja. Di saat seperti inilah, Nijimura merasa butuh sandbag untuk jadi bahan pemukulan.

"Maaf, Senpai, aku telat lagi-ssu!"

Nijimura menoleh ke arah pintu masuk dengan tatapan membunuh. Baru saja dibahas, sandbag berjalan─ehem, Kise datang. Muncul di saat yang sangat tepat, Kise dapat hadiah cekikan oleh Nijimura.

"Ekh!" Kise tercekat. "Ke-kenapa aku dicekik? Senpai… S-senpai…!" Napas Kise mulai putus-putus. "To-long…"

Tidak ada yang menolong Kise.

.

.

"Akashi-kun?"

Sedang badmood, sosok yang muncul di ambang pintu berhasil membuat hati Akashi kembali berbunga-bunga. Buku politik di pangkuan akhirnya ditutup dan diletakkan di atas meja.

"Ah, Tetsuya," kata Akashi, "Aku merindukanmu. Tolong buatkan aku teh dan temani aku-"

Kuroko dengan sigap, ia mengangkat tangan di udara, memberi isyarat pada Akashi untuk berhenti bicara.

"Tahan, Akashi-kun."

"Kenapa, Tetsuya?"

"Aku datang hari ini untuk memberitahumu bahwa seharian ini aku akan merawat Aomine Daiki, pasien di ruang 9. Jadi, kalau nanti Akashi-kun butuh bantuan, silakan minta tolong dengan perawat lain. Aku permisi dulu, Akashi-kun."

Pintu ditutup Kuroko dengan cepat. Sementara Akashi menahan denyut di dadanya. Nama Aomine membuat sisi jahatnya terangkat ke permukaan. Baru beberapa detik yang lalu Akashi merasakan nikmatnya asmara, kini ia sudah cemburu buta.

Alis menukik tajam, Akashi nyosor ke lemari di samping tempat tidur. Boneka voodoo dikeluarkan, lengkap beserta foto Aomine yang dipotret oleh Hanamiya yang sudah bolong di banyak sisi dan sebuah gunting.

"Kali ini kau sudah kelewatan, Aomine. Akan kubuat kau menyesal telah mencoba merebut Tetsuya-ku!"

Rupanya Akashi masih salah menaruh rasa cemburu.

.

.

Awal-awal masuk rumah sakit, Aomine selalu mengharapkan dapat keluar secepat mungkin. Bisa segera berlari mengejar penjahat dan meringkusnya kembali. Membela kebenaran dan membinasakan kejahatan serta menjunjung perdamaian di muka bumi melalui pekerjaannya dengan kekuatan bulan miliknya. Oke, sedikit bercanda tadi.

Tapi setelah bertemu perawat Kagami, cinta pertama yang sampai sekarang belum juga jadi pacarnya, dokter berkata besok sudah bisa pulang Aomine justru menangis tidak rela. Karena itu artinya, Aomine tidak akan bertemu dengan Kagami lagi. Kalau boleh lebai, rasanya lebih baik wafat daripada tidak bertemu Kagami lagi.

"Aomine? Aomine? Kau mendengarku?"

Suara Kuroko di samping telinga membuat Aomine membuka mata kembali. Ia tersenyum lembut pada Kuroko.

"Hari-hariku akan segera berakhir, Tetsu. Kalau aku ada salah denganmu, aku minta maaf. Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu kembali."

"Plis, Aomine. Kamu hanya keluar dari rumah sakit, bukan keluar dari dunia."

Tapi Aomine tidak peduli dan kembali akting dramatis. Matanya ditutup pelan-pelan. Tangan dilipat di atas perut, yang kanan di atas yang kiri. Begitu keluar ruangan, Kuroko memberi laporan pada Nijimura.

"Bagaimana aku harus menanganinya?"

Nijimura hanya bisa mengusap wajah. "Cueki saja." Bahkan Nijimura pun menyerah menghadapi orang galau.

.

.

Setelah sedih sampai tidak jelas, besoknya Aomine sudah ganas kembali. Ia melempar bunga krisan keluar jendela. Ia kesal. Lagi-lagi, perawat yang dijatuhi cinta olehnya malah melipir dari tugas dinas. Demi titan yang berbokong bagus, ini sudah hari ketiga Kagami tidak merawatnya. Kemarin alasannya beli bokser, kemarin lagi ada seminar, dan entah kali ini alasannya apalagi.

"Kuroko, besok Kagami masuk tidak?" tanya Aomine dari ranjangnya.

Kuroko yang berkunjung saat itu hanya mengedikkan bahu. "Aku tidak terlalu yakin."

Aomine mengusap wajah. Putus asa. "Aku harap dia datang."

"Kenapa kau begitu berharap?"

Dan untuk pertama kalinya, Kuroko melihat Aomine tampak begitu sedih. "Tinggal sehari lagi, Tetsu. Tinggal sehari lagi! Setelah itu aku tidak tahu masih bisa bertemu dengannya atau tidak!" Aomine merengek. "Kalau sampai aku tidak bertemu dengannya besok, aku…" Aomine tak pernah menyelesaikan kalimatnya.

.

.

Keluar dari kamar Aomine, singa marah berdiri dua kaki di koridor sebelah kanan.

"Tetsuya!" panggilnya.

Kuroko pasang wajah datar. Perasaannya juga datar. "Kenapa, Akashi-kun?"

"Kita perlu bicara."

Kuroko melihat jam tangan, sengaja memberi isyarat kalau ia tidak punya banyak waktu. "Di mana?"

Akashi asal menjawab. "Di ranjang."

"…"

Kuroko melipir pergi.

Bentar lagi ganti shift.

"Oi, Tetsuya!"

.

.

Kagami Taiga, pukul 5 sore, sudah rebahan di kasur. Seharian ini, ia tidak ada kerjaan. Ada sih kerjaan, tapi Kagami menghindarinya. Tubuh ini belum siap dilecehkan lagi oleh makhluk gelap penghuni kamar nomor 9. Ia menyalakan televisi menggunakan remot. Tidak ada acara menarik. Televisi dimatikan kembali.

Kagami mengambil ponsel. Tak ada pesan, tak ada telepon, dan tak ada notifikasi. Baru kali ini Kagami merasa begitu sepi. Kelamaan jomblo sepertinya.

Drrtttt, sebuah telepon masuk. Pembaca sekalian pasti sudah bisa menebak siapa yang menelepon, kan?

"Kagami-kun?" suara Kuroko melas. Atau begitulah menurut Kagami.

"Ya, Kuroko? Ada apa?" Kagami bangun dan duduk di tepi ranjang.

"Apa Kagami akan masuk besok?" Kagami langsung rebahan lagi. Tiba-tiba mager lagi.

"Nggak, ah."

"Kagami-kun."

"Ya?"

"Nijimura-senpai marah."

Glek! "Haha..a..aa," tawa Kagami hambar. "jangan bercanda Kuroko."

"Serius, Kagami-kun. Makanya besok harus masuk."

Kagami guling ke kanan. "Ogah!"

Kuroko mendesah, membujuk Kagami lebih sulit dari biasanya. Apa karena Aomine ya?

"Aomine sudah menyesali semuanya, kok."

Itu dia yang Kagami harapkan! Tak bertanya lagi apakah Kuroko jujur atau sedang mengakalinya, Kagami berseru riang di telepon. "Oke, kalau begitu hari ini aku datang untuk shift malam! Aku hubungi Nijimura-senpai dulu."

.

.

Tiba di rumah sakit, Kagami dihadiahi tendangan halilintar oleh Nijimura. Padahal ketika di telepon manis banget. Tidak mau bokongnya jadi tambah montok karena terus ditendang, Kagami menurut saja ketika disuruh ke ruangan Aomine. Toh, Aomine sudah taubat, pikir Kagami.

Bgeitu membuka pintu, Kagami langsung disambut sosok Aomine yang memandang keluar jendela. Wajahnya nelangsa.

"Aomine-kun?"

Mendengar suara tersebut, Aomine buru-buru berbalik. Matanya melebar. Senyumnya terkembang. "Kau akhirnya datang."

Kagami sedikit merinding melihat senyum Aomine. Tapi ini lebih baik karena tidak ada tangan nakal yang mencoba menggerayangi. Mencoba profesional, Kagami mengeluarkan catatan dokumentasi dan bertanya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Aomine tersenyum semanis mungkin. "Lega."

"…"

Mungkin selama ditinggal beberapa hari, kewarasan Aomine mulai terjangkit virus aneh.

"Aku akan mengukur suhumu dulu."

"Aku tidak demam."

"Tapi kau bertindak aneh."

"Itu karena aku jatuh cinta padamu."

Kagami makin melongo. "Eh?"

"Aku menyukaimu," Aomine sempat-sempatnya menelan ludah. "Karena itu berpacaranlah denganku."

.

.

Kagami terjengkang ke belakang. Entah karena apa.

"A-apa tadi yang kaubilang?"

"Aku menyukaimu. Berpacaranlah denganku."

Wajah Kagami makin merah. Ia memalingkan wajah.

"A-aku tidak bisa, bodoh! Aku laki-laki!"

"Aku tahu kau gay. Baumu tercium jelas," Aomine asal menjawab.

Kagami teriak lebai. Matanya melotot. "DASAR MESUM!"

Aomine justru tertawa. "Bercanda," katanya santai. "Jadi bagaimana?"

Kagami membuang muka sekali lagi. Masih jual mahal. "Aku butuh waktu."

Aomine memutar kedua bola mata. "Padahal wajahmu sudah semerah itu."

Kagami naik darah. Tapi malu juga.

"Habis, ini pertama kalinya!"

Aomine melongo. "Pertama kalinya?" Pertama kalinya apa?!

Tapi Kagami tidak menjawab. "Lupakan saja."

"Kalau kau ingin kita mengenal lebih dalam baru ke jenjang yang lebih tinggi, aku tak keberatan," tawar Aomine.

Kagami mencoba menimbang. "Tidak buruk," katanya. "Jadi, apa yang ingin kautanyakan?"

"Apa yang kaulakukan selama hari libur?"

Kagami tak bisa yakin menjawab, "Kadang-kadang, aku main ke rumah Kuroko. Kadang hanya main game di rumah. Kadang hangout bersama teman main basket."

"Kau bisa main basket? Aku juga! Kapan-kapan kita harus one on one!"

Kagami terbahak untuk pertama kalinya. "One on one bagaimana? Kakimu itu masih dalam masa pemulihan, bodoh."

Aomine tak terlalu mendengarkan ejekan Kagami. Ia terlalu terpesona dengan wajah senang Kagami. Ia terlalu sungkan mengalihkan pandangan dari mulut yang tengah tertawa lebar. Dan telinganya terlalu sibuk merekam cara Kagami tertawa.

Duh, Aomine ingin mencicip bibir tipis itu!

Melihat Aomine monyong tidak jelas, kepala Kagami langsung membunyikan alarm secara imajinatif. Tiang infus dihempas ke wajah lawan.

"Tidak secepat itu, Baka!"

.

.

Minggu berikutnya, Kasamatsu yang memulai dinas pagi menemukan Kuroko berdiri menatap papan pengumuman di ruang perawat dengan begitu khidmat. Ekspresi datar itu seolah menyuarakan sesuatu.

"Ada yang salah, Kuroko?"

"Kurasa manajemen rumah sakit ini sedikit melenceng," komentar Kuroko.

Dalam hati Kasamatsu menjawab, bukan sedikit lagi tapi memang sudah jauh melenceng. Tapi ia menahan ucapan itu tetap ada dalam kepala dan bertanya, "Memang apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Kuroko?"

Kuroko menolehkan kepala menghadap sang Senpai. Ekspresinya komplikasi. Antara bingung, curiga, dan terzhalimi. "Kok kita tidak pernah rotasi? Kita berjaga di ruangan Anggrek terus. Kurasa aku harus protes langsung ke kepala perawat."

Sebelum menuntut haknya, bahu Kuroko ditepuk pelan oleh sang senior.

"Batalkan saja niatmu," kata Kasamatsu kalem. "Kata perawat lain kita ini veteran."

Ya, terus?

"Perawat lain tidak sanggup merawat pasien di sini. Jadi khusus untuk perawat yang bekerja di ruang anggrek, sampai pensiun nanti kita tidak akan pernah pindah ruangan."

Mendengar fakta yang dituturkan Kasamatsu, jiwa Kuroko terguncang.

Kuroko ingin menangis saja. Dunia ini bengis, Pah, Mah. Mana ada veteran! Kuroko 'kan baru bekerja satu bulan yang lalu. Daripada disebut perawat veteran, ia lebih merasa telah ditumbalkan. Diskriminasi di rumah sakit ini sudah kelewatan.

"Aku tetap akan bicara dengan kepala perawat," ujar Kuroko, begitu teguh pada pendiriannya. Wajahnya datar saja, biasa. Namun di balik iris mata biru langit yang teduh itu ada berbagai kilatan amarah.

Kasamatsu akhirnya menyerah. Ia tak bisa menahan Kuroko. Dalam keheningan tersebut, Kasamatsu menatap punggung si kecil Kuroko.

"Semoga kau berhasil, Nak!"

Yah, hitung-hitung kalau Kuroko menyukseskan misinya, ia bisa lepas dari kewaijban mengurus pasien-pasien tidak beres di ruang Anggrek.

.

.

Sampai di ruang kepala perawat, Kuroko langsung menyatakan keberatannya. Sayang sekali, si perawat, yang diketahui bernama Nijimura Shuuzo, justru tidak menghiraukan setiap ucapan Kuroko.

"Maaf, Kuroko-kun. Aku sedang sibuk. Bisa kita bicara nanti?"

Dialihkan sedikit, Kuroko malah lupa tujuan.

"Memang Nijimura-san sedang sibuk apa? Kalau bisa akan kubantu."

"Nih!" Nijimura melambaikan kertas di tangannya. "Aku sibuk membuat laporan untuk atasan. Kalau kau memang mau membantu, tolong susun kertas yang ada di sana." Katanya sambil menunjuk.

Kuroko berjalan menuju tumpukan kertas yang berceceran. "Kenapa bisa sampai berantakan begini? Memang ini kertas apa?"

Nijimura berdecak. Harusnya kalau mau membantu Kuroko jangan banyak tanya.

"Haizaki tadi datang dan mengacak semuanya. Ck, dasar bocah satu itu! Ah, itu gabungan kertas instrument pelayanan per ruang dan laporan kondisi obat. Tolong dipisahkan, ya?

Kuroko menjawab mengerti dan mengambil satu per satu untuk diteliti. Semua berjalan dengan mudah hingga kemudian Kuroko menemukan sebuah keluhan laknat dari salah satu pasien di ruang Anggrek yang tertumpuk di dalamnya.

Kepada pegawai rumah sakit Teiko yang terhormat, perawat bernama Izuki Shun yang minggu ini merawat saya dari pukul 8 pagi hingga 4 siang tolong diganti saja. Pecat sekalian. Humornya garing. Saya ingin dia diganti dengan Kuroko Tetsuya. Sekalian yang dapat shift malam juga diganti dengan Tetsuya, meski yang mendapat shift malam sebenarnya tidak salah apapun.

Tertanda

Akashi Seijuro.

Kuroko kebelet ke apotek. Matanya iritasi. Kuroko diperbolehkan membalas surat keluhan ini tidak, ya? Ia ingin memberitahu bahwa memecat seorang pekerja hanya karena humornya garing itu tidak dibenarkan. Ngomong-ngomong, kalau shift pagi, shift siang, dan shift malam diborong oleh Kuroko, terus kapan istirahatnya?

Setelah menimbang masak-masak, Kuroko putuskan surat keluhan ini tidak boleh sampai ke tangan Nijimura. Menyalahi wewenang demi kesejahteraan pribadi, Kuroko menyimpan surat Akashi ke dalam hatinya-eaaaaa! Maksudnya, ke dalam saku celananya. Merasa lebih tenang, Kuroko mengambil surat selanjutnya yang lebih normal.

Siapa sangka yang terjadi justru matanya makin iritasi.

Sebenarnya saya tidak berniat mengeluh. Saya hanya ingin bertanya, perawat bernama Kagami itu masih perjaka ya? Galau nih. Mohon dijawab.

Tertanda,

Aomine Daiki.

Fasilitas kotak pengaduan ini sudah rusak!

Kuroko sudah tidak mau mengurusi surat keluhan tidak jelas ini.

Besoknya, surat baru masuk dan Nijimura membacanya dengan tampang serius.

Kepada kepala ruangan yang terhormat, Nijimura Shuuzo, saya melihat bahwa fasilitas kotak saran sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Banyak saran yang tidak bermanfaat serta keluhan yang tidak dilebih-lebihkan. Mohon sarana tersebut diperbaiki lagi. Terima kasih.

Tertanda,

Tetsuna.

Nijimura menggaruk kepalanya. Ia bingung dengan surat yang satu ini.

"Tetsuna itu siapa? Seingatku tidak ada pasien yang bernama Tetsuna."

Tidak mau ambil pusing, Nijimura lanjut ke surat berikutnya. Sementara surat keluhan Kuroko berakhir di kotak sampah─lagi. Pada akhirnya, Kuroko tetap akan merawat Akashi. Dan Aomine masih belum tahu Kagami itu masih perjaka atau tidak.

.

.

Tbc?