.

.

.

ITS NOT ABOUT LOVE

.

.

.

.

.

"Yoongi hanya terobsesi padamu, Suatu hari nanti rasa obsesi itu akan hilang, dan kau akan ditinggalkannya"

.

.

.

To : Jeon Jungkook

Subject : i'm sorry

Aku tidak pandai dalam meminta maaf atau memainkan kata yang akan menyenangkan hatimu. Aku tau kau sangat membenciku, kook. Semua memang salahku, aku menyesal kook, sungguh !

kumohon maafkan aku.

Aku menginginkanmu kembali, aku masih sangat mencintaimu ! Dan aku tau jelas, kaupun masih memiliki rasa yang sama.

Beri aku kesempatan kook.

.

To : Kim Taehyung

Subject : bastrad

BERHENTI MENGGANGGUKU TAE !

hanya berhenti menguntitku seperti seorang stalker dan mengirimiku beribu pesan.

Aku sudah tidak mencintaimu, meskipun iya, aku tetap tidak akan kembali padamu. Kau tau jelas alasannya kenapa.

Aku sudah hidup nyaman dan mewah seperti dulu lagi, yang tak mampu kau beri !

.

To : Jeon Jungkook

Subject : never

Aku tidak akan pernah melepasmu kook, bagaimanapun caranya aku akan mendapatkanmu kembali. Kau tau benar aku, kook.

Aku takkan bisa hidup tanpamu, dan aku tidak akan membiarkanmu untuk bisa hidup tanpaku.

Kita ditakdirkan bersama selamanya.

.

To : Kim Taehyung

Subject : fuck you

Brengsek kau tae ! AKU TAU APA YANG KAU LAKUKAN, berani sekali kau mengikut campuri urusanku.

kau ingin menghancurkanku lagi hah?

Jangan ganggu aku brengsek !

.

To : Jeon Jungkook

Subject : fuck you just do it.

aku lebih hancur kook !

Apa kau bahagia hidup tanpaku? Aku tau kau tidak.

Baik— untuk terakhir kalinya, Setidaknya temui aku.

jika kau memang tidak mencintaiku lagi, buktikan padaku !

Temui aku kook dan aku mungkin tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Aku janji—

.

.

To : Jeon Jungkook

Subject : kecelakaan 5 tahun lalu

Kau ingat kejadian 5 tahun lalu? Kecelakaan yang merengut nyawa kedua orang tuamu? Yang akhirnya membuatmu kehilangan semuanya? aku tau, kau masih belum bisa menerima semuanya.

Aku memiliki informasi mengenai detail kejadian itu.

Temui aku, setidaknya untuk informasi penting yang bisa kuberi padamu.

Dan aku akan menerima semua keputusanmu.

.

To : Kim Taehyung

Subject : none

Sabtu, 19 MEI 20XX, Temui aku di The Purple Bar, jam 9 malam.

semoga informasi yang kau miliki itu benar-benar penting.

.

.


.

SOUTHAMPTON,NEW YORK, AMERIKA SERIKAT

KEDIAMAN MIN, MINYOON MANOR

SABTU, 26 MEI 20XX

.

Min yoongi menatap puteri kecil yang kini ada dipangkuannya, puterinya yang memiliki kulit dan bola mata mirip dengannya dan selebihnya mirip jimin, sangat cantik.

Jimin tersenyum menatap sendu suaminya, meski ada rasa sakit sebagian dari dirinya merasa haru, bagaimana pandangan tajam yoongi yang melembut menatap puterinya, yoongi bahkan mengajak bermain dan berbicara puteri kecilnya yang tentu saja puteri kecilnya tidak dapat memahami apa yang dilakukan appanya. Dalam hati jimin sangat berharap puteri kecilnya tidak hanya mengubah hati eomma suaminya, tapi juga bisa mempertahankan keluarga yang susah payah dibangunnya.

"Min Yoongi tidak akan pernah mungkin bisa melepaskanku, jim"

Menggenggam erat jarinya, menutup matanya sebentar sembari mengatur nafasnya yang sesak.

"chim, bagaimana ini yoonji menangis"

Ingin rasanya jimin tertawa melihat yoongi dengan wajah paniknya, mengayun-ayunkan yoonji yang kini menangis kencang.

"sini berikan padaku hyung", yoongi memberikannya pada jimin, dan cengo melihat bagaimana yoonji yang langsung menghentikan tangisnya saat jimin menggendongnya sembari bernyanyi kecil. Cemberut, yoonji puteri kecilnya, tampak tenang dan nyaman bersama jimin, istrinya, daripada dirinya.

"yoonji anak appa pilih kasih rupanya", tawa kecil mengalun dari bibir cherry nya yang gemuk.

Jimin memanggil marilyn untuk menyusui puterinya, bagaimanapun setiap 1-2 jam sekali puterinya harus diberi asi.

Mengambil yoonji dari tangan jimin, marilyn membawanya pergi masuk kedalam untuk menyusui nona yoonji di kamarnya yang bersebelahan tepat dengan kamar tuannya. berbeda dengan pelayan lain, marilyn pun diberi fasilitas kamar pribadi untuk dirinya sendiri, sama seperti namjoon. karena yoonji tidur bersama keduanya, tentu mereka tidak ingin kerepotan jika malam-malam yoonji lapar ingin menyusui.

Mulai saat inipun marilyn tidak hanya menjadi ibu asi untuk yoonji tapi juga menjadi pelayan pribadi yang dipercaya jimin.

"pelayan itu selalu tampak ketakutan jika berada didekatku", yoongi menatap marilyn yang menjauh dari keduanya kedalam manor.

"marilyn? Tidak hanya marilyn, hyung, tapi semua pelayan takut padamu"

Mengernyit heran, "memangnya ada apa denganku chim?"

"Itu karena hyung galak pada semua pelayan", jelas jimin sembari menyentil main-main hidung suaminya.

yoongi menatap istrinya dengan raut wajah pura-pura tersinggung, kembali mendatangkan tawa kecil dari jimin yang merasa suaminya tengah bertingkah imut.

"aku tegas jim-", belanya. "lagipula kenapa kau menerimanya? Dia bukan dari yayasan tempat kita mengambil para pelayan, kan? Namjoon bilang kau memberi pekerjaan secara pribadi padanya"

yoongi menidurkan kepalanya di atas paha jimin, saat ini keduanya tengah berada di taman belakang manor yang luas, seperti orang tamasya, keduanya duduk diatas tikar yang dihamparkan diatas tanah, menikmati pemandangan yang tersaji ditaman yang dipenuhi berbagai macam bunga mawar kesukaan jimin juga danau kecil yang ada didepannya.

Jimin ingin menikmati waktu bersantainya dengan yoongi dan sebagai suami yang baik, yoongi hanya mengikuti keinginan istrinya.

Jimin mengingat kembali bagaimana ia bisa bertemu dengan marilyn, saat itu dirinya tengah menunggu yoongi yang katanya sibuk akan telat datang ke rumah sakit, menunggu wanita yang disewa rahimnya akan segera melahirkan anak mereka. Jimin berharap yoongi dapat menemaninya melihat moment kelahiran anak mereka.

Duduk diruang tunggu dengan sedikit kecewa karena suaminya.

Dan disana, ia melihat marilyn, yang sama akan segera melahirkan pula. Sayangnya, rumah sakit tidak mau menampungnya, rumah sakit itu adalah rumah sakit elite dan marilyn hanya orang miskin yang tidak memiliki sanak saudara yang akan membantu biaya rumah sakit.

Melihat perdebatan antara pihak rumah sakit dan wanita malang itu, jimin berniat membantunya, membiayai semua persalinannya. Tapi sayangnya, karena telatnya penanganan dokter tadi, Kandungan marilyn yang memang bermasalah menyebabkan janinnya meninggal dalam kandungan.

Jimin simpati sesekali mengunjungi kamarnya, berbicara banyak padanya. Marilyn mengingatkannya akan eomma nya dulu, yang hamil korban kekerasan lelaki. Memikirkan hidup marilyn yang akan luntang-lantung dijalanan nanti, jimin menawarinya pekerjaan mengingat anaknya nanti memerlukan asi. Awalnya marilyn ragu, tapi jimin memberinya waktu untuk berfikir. Hingga akhirnya marilyn mendatanginya dan menerima tawarannya.

"aku bertemu dengannya dirumah sakit, aku kasihan padanya hyung, anaknya meninggal dalam kandungan tepat saat ia akan melahirkan dan dia tidak memiliki sanak keluarga. aku berbicara banyak dengannya, ia mengingatkanku akan eommaku hyung", mata jimin menyendu, mengelus sayang surai hitam suaminya.

Yoongi menatap jimin intens, mengambil pergelangan tangannya, menciuminya, "istriku benar-benar seorang malaikat rupanya".

.

"aku ingin lihat seberapa kuat kau bisa bertahan, jim"

.


.

To : Dr. Ray Iskander

Subject : none

Hallo Dr. Iskander,

bagaimana kabar anda? saya harap anda masih mengenali saya, Jeon Jungkook.

Saya menghubungi RS tempat anda praktek di korea selatan, dan mereka mengatakan anda sudah tidak lagi bekerja disana dan pindah praktek di RS. California, benarkah itu?

Anda tau saya tidak pandai berbasa-basi, karena itu langsung pada intinya saja, saya ingin menemui anda untuk membicarakan kelainan yang saya miliki, yang tentunya anda tau.

Saya hanya dapat mempercayai anda, mengingat anda dokter pribadi keluarga saya dulu. Saya sangat berharap anda dapat membalas email ini dengan segera dan memberitahukan alamat rumah sakit tempat anda praktek saat ini.

Terima kasih. Semoga hari anda menyenangkan Dr. Iskander.

.


.

DESTINY USA, SYRACUSE, NEW YORK, AMERIKA SERIKAT

.

.

Kim seokjin menganga, berfikir seberapa bahagianya jika bisa hidup bersama min yoongi yang bisa memberimu segalanya, lihat saja Jeon Jungkook, temannya itu saat ini sangat menikmati menghabiskan uang yang sudah pasti pemberian Min Yoongi. Keduanya tengah berada di Destiny USA, Syracuse, mall terbesar di New York dan salah satu pusat perbelanjaan terbesar ke-6 yang ada di Amerika Serikat.

Beberapa jam yang lalu jungkook menghubunginya ,untuk menemaninya berbelanja, yang tentu saja dia tolak, dirinya hanya diberi waktu libur hari ini saja dan ingin menikmatinya dengan bersantai. Malas sekali kalau harus menemani Jeon Jungkook berbelanja, mengingat anak itu kalau sudah belanja lupa waktu seperti wanita.

Tapi saat jungkook mengiminginya dengan traktiran belanja sepuasnya, mana mau Seokjin menolak.

Dan sinilah ia, keliling kesana-kemari mengikuti jungkook yang masuk toko satu ke toko lainnya, dan yang membuatnya menatap tak percaya adalah setiap toko yang dimasuki oleh keduanya, Jeon Jungkook itu akan keluar dengan membeli beberapa barang yang bahkan Jin tau tidak diperlukannya.

Sepertinya menjadi peliharaan Min Yoongi sangat menyenangkan, melihat pemuda Jeon itu bisa menghamburkan uang tanpa khawatir akan miskin karena kehabisan uang. Well, Jin rasa harta milik Min Yoongi tak akan habis-habis, apalagi sekarang perusahaan itu maju dengan pesat di Amerika. Beruntungnya Jeon Jungkook.

"jin, jangan melamun saja, bantu aku"

Menatap jungkook dengan raut kesal, tak taukah ia kakinya itu sudah sangat pegal mengikutinya berkeliling, mana ia pun harus membawakan barang belanjaannya yang banyak, dan sekarang ia harus menambah kantong belanjaannya yang lain? yang benar saja !

"aku tidak tau, saat kau memintaku untuk menemanimu belanja, maksudnya adalah harus menjadi pelayan yang membawa barang belanjaanmu jeon"

Menatap jin dengan senyum jahil diwajahnya, "ayolah jin, aku kan mentraktirmu belanja sepuasnya juga"

Mendengus kesal, "jika bukan karena itu, aku malas sekali menemanimu apalagi harus seperti ini" mengangkat barang belanjaan jungkook yang ada ditangannya.

Tertawa kecil, "maaf, maaf, ayo sekarang kita cari tempat makan, yah- sambil istirahat", menatap jin dari bawah keatas yang kelelahan dengan wajah menahan kesal, "melihatmu yang seperti seorang pelayanku, aku jadinya kasian". Seokjin hanya melotot tak terima pada temannya itu.

.

"sekarang, aku merasa duduk adalah sebuah anugerah"

Menatap jin malas, "berlebihan", balasnya acuh.

jin menatap jungkook masih tidak terima, sebelum menatap sekeliling resto tempat mereka istirahat kini, jungkook memesankan makanan juga minuman untuknya dan untuk dirinya sendiri.

"aku senang melihatmu baik dan bahagia"

Jungkook menatap jin dengan senyum kecut, "aku tidak terlalu bahagia sih, tapi yah—setidaknya hidupku nyaman"

Jin menatap jungkook dengan pandangan menyelidik, membuat jungkook terkekeh geli, "aku suka kebebasan, dan sekarang aku harus mendapatkannya dengan memohon".

Seokjin mengerti jelas apa maksudnya, jeon jungkook adalah milik min yoongi, peliharaannya atau bahasa halusnya simpanannya. Seokjin jelas tau juga bahwa tuannya jungkook itu posesif sekali padanya.

Biasanya jika pergi kemanapun bahkan sekedar mengunjungi jin sekalipun, jungkook akan selalu dikawal oleh bawahannya Min Yoongi. Min yoongi amat sangat menjaga simpanannya ini, dan sekarang penjagaan jungkook semakin ketat semenjak adanya insiden jungkook yang melarikan diri dari Min Yoongi dulu, katanya.

Padahal sebenarnya, saat itu jungkook hanya tengah menenangkan diri dan Min Yoongi menganggapnya sebagai jungkook yang kabur darinya bersama mantan kekasih, menggelikan.

"kau memohon?", Jin tau seberapa besar ego jungkook, mendengar jungkook memohon pada seseorang tentu itu sedikit mengejutkannya.

Mendesah pasrah, "mau bagaimana lagi? jika tidak dia tidak akan membebaskanku, aku benci sekali jika kemanapun harus dikawal. Pejabat saja bukan aku ini !"

Berfikir mengenai hal itu membuat mood jungkook bertambah buruk, bagaimana tidak? dilobi apartemen nya bahkan selalu ada yang mengawasinya 24 jam, dan jika ia pergi kemanapun, bawahan Min Yoongi yang disuruh menjaganya –mengawasi- akan mengikutinya kemanapun.

Setiap kali jungkook berkata bahwa ia tidak akan berbuat kesalahan seperti saat itu lagi, Min Yoongi tetap tidak akan mendengarnya dan tetap menyuruh bawahannya bergantian menjaganya. Itu membuat jungkook kesal, bahkan untuk bertemu Jin saja tidak bisa. Belum lagi, kemana-mana dirinya yang harus minta ijin.

"Bahagia sih hidup mewah, tapi terkekang", batinnya miris.

Jin terkekeh geli melihat jungkook yang memberengut, "itu karena baginya kau berharga, kau satu-satunya yang dijadikan simpanannya"

bahkan kalau boleh jujur dirinya saja iri melihat jungkook yang dimatanya kini hidup senang dengan kemewahan yang didapatnya, apalagi Min Yoongi sangat memanjakan pemuda Jeon itu. Apa yang diinginkan Jeon Jungkook akan selalu terpenuhi.

Kini senyum bangga tampak diwajahnya, "tentu, aku berharga bagi siapapun".

Memutar matanya malas, kepercayaan diri jungkook masih saja besar meski itu memang benar.

Jungkook itu cantik untuk ukuran seorang lelaki, belum ditambah tubuhnya yang tinggi dan seksi. Juga jangan lupakan jungkook itu seorang penggoda ulung dan lihai dalam memberi service, karena itu dulu banyak sekali para pelanggan kaya, seorang pria maupun wanita yang hanya ingin dilayani olehnya.

Menatap Jungkook intens, semua orang hanya tau jika Jeon Jungkook itu orang yang baik dan ramah ditambah dengan sifatnya yang kekanakkan.

Tapi Seokjin tau jelas, jika Jeon jungkook itu sebenarnya orang yang licik dan sangat egois, salah satu aktor yang patut diberi penghargaan piala oscar, jungkook sangat pintar berakting hingga kau tidak akan pernah bisa menyadari dan menebak dengan pasti ekspresi yang ditunjukkannya. Kebohongan atau kebenaran yang diucapkan mulut manisnya tidak akan pernah bisa dideteksi.

salah satu kehebatan Jungkook adalah ia pandai mengambil hati dan simpati orang.

Dimata kim seokjin, jeon jungkook itu orang yang berbahaya, yang untung saja ia temannya.

Jika jeon jungkook sudah menginginkan sesuatu, maka pemuda jeon itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

"kim taehyung selalu menghubungiku, dia terus menanyaimu, itu sangat mengganggu. Bolehkah aku menyebutnya sebagai teror?"

Melirik sekilas pada salah satu orang disana yang terang-terangan memandanginya tertarik, sebelum kembali menatap jin, "biarkan saja"

"i know you still love him",

Tersenyum miring pada seokjin. Kim Seokjin adalah satu-satunya teman yang bisa diandalkan dan dipercaya olehnya, selain mereka sama-sama perantauan dari korea selatan yang terjebak di salah satu kota besar New York, Amerika Serikat, dan terpaksa bekerja sebagai pemuas hasrat, kim seokjin juga orang yang sangat paham akan jungkook.

Pertama kalinya ia masuk kedunia malam, Kim Seokjin adalah orang pertama yang menawarkan pertemanan disaat yang lain menganggapnya saingan.

Bar tempatnya bekerja adalah bar biasa, kalangan menengah kebawah dan si tuan pemilik bar selalu meng-anak emas-kannya karena semenjak adanya jungkook, bar biasa itu didatangi para pengusaha atau bahkan pria dan wanita kalangan atas yang tertarik padanya, lebih jelasnya tubuhnya. Awalnya jungkook selalu menolak jika harus melayani pelanggan dengan berhubungan intim, tapi karena butuhnya uang dan juga hasratnya yang ingin dipuaskan setelah dirinya putus dengan sang mantan, Taehyung, Jungkook menerimanya bahkan menikmatinya.

Sebelum akhirnya Min Yoongi datang.

"'jika hanya mengandalkan cinta, tentu tidak bisa membuatmu bahagia', Itu kata-katamu Jin"

Jin mengangguk membenarkan, "itu benar, tapi kau benar-benar masih mencintainya bukan?",

Tanpa perlu mengatakan jawabannya pun, Jin sudah tau jawaban dari pemuda Jeon yang duduk didepannya itu. dia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut munafiknya Jungkook.

Menatap Jin lekat, "of course Jin, taehyung is my first love, orang yang membuatku lihai hingga seperti ini dan yang paling penting—dia satu-satu nya orang yang selalu bisa membuatku puas"

Menghentikan pembicaraan disaat pelayan perempuan mengantarkan pesanan keduanya, jin mengucapkan terima kasih dengan senyum tampan yang mengundang saat sang waitress seksi menata makanannya di meja yang keduanya duduki, membuat pipi waitress yang jin lihat name tag nya bernama "Cally" bersemu dan sedikit salah tingkah.

Jungkook yang didepannya menatapnya jengah, Seokjin memang selalu tebar pesona.

Kembali menatap jungkook saat Cally si waitress seksi menjauhi mejanya melayani pelanggan yang lain, "kau berkata seolah kau tidak puas dengan Min Yoongi"

Jin langsung melahap makanan yang kini tersaji dihadapannya, perutnya sudah lapar dari tadi mengingat saat dirinya pergi mengantar Jungkook, belum diisi satupun makanan.

Geli menatap Jin yang makan lahap seperti orang kelaparan, lupa jika sendirinya juga suka seperti itu.

"tentu aku puas..hanya—"

jeda nya terlalu panjang membuat jin berdecak kesal sendiri, "hanya?"

"tidak sepuas Taehyung", nadanya pelan, berbisik, yang masih dapat didengar telingan tajam seokjin.

Jin mengangguk pelan dengan mulut yang masih mengunyah makanan, "aku lihat itu, lalu bagaimana dengan keinginanmu untuk menikah bersama Min Yoongi?"

Mengangkat gelas berisi cairan manis berwarna merah yang dipesannya, meminumnya sebentar sebelum menghela nafas dengan raut wajah yang tengah berfikir sesuatu, "aku akan membatalkan rencanaku, lagipula, aku mau pergi ke California"

Jin kini mengernyit heran, "kenapa? Min Yoongi mengajakmu tinggal disana?"

Jungkook menggeleng, "tidak, kau tau? Jimin menemuiku"

Tersentak kecil, jin menghentikan acara mengunyahnya sebentar, memandang jungkook ragu, "maksudmu istrinya Min Yoongi?"

Jungkook mengangguk dengan senyum tipis yang aneh.

"dia sudah mengetahui semuanya. apa Kau tau jin? meski Min Yoongi saat ini memujaku dan mengatakan sangat mencintaiku, tapi aku tau jelas hatinya hanya milik park jimin", jungkook menatap kaca besar resto yang memandangkan pemandangan kota yang cerah disore hari, mendesah pelan, "itu dapat aku lihat dari sulitnya Min Yoongi melepas Jimin, ditambah dengan Jimin yang kini sudah tau, rencanaku pun akan semakin sulit", jelasnya.

Jin mengangguk mengerti, Jin tau siapa park Jimin, meski tidak pernah melihatnya, Jungkook menceritakan segalanya padanya.

Bagaimana Min Yoongi yang bisa menikah dengan pemuda Park itu, dan semua hal tentang pemuda Park itu.

Yah, Seokjin dapat menyimpulkan sendiri, dalam hubungan kan memang selalu ada rasa jenuh atau perasaan ingin mencoba yang lain dan sebagainya. Mungkin saat ini Min Yoongi tengah bosan dengan istrinya, lalu bertemu dengan si seksi Jeon dan mendapatkan pengalaman baru bersama temannya itu hingga menjadikannya simpanannya.

Meringis dalam hati, inilah salah satu alasan dirinya enggan terikat. Baginya, pernikahan itu sesuatu yang sakral yang tidak hanya mengucap janji setia dihadapan tuhan, tapi juga sebuah komitmen besar yang harus dijaga, dan saling mempercayai satu sama lain adalah kuncinya.

"lagipula untuk apa juga kau ingin menikah dengannya? Bukankah semua ini juga sudah cukup untukmu? Kau sudah mendapatkan segalanya"

Seringai kecil kini bermain diwajah cantiknya, "manusia tidak akan pernah merasa puas dan cukup, begitupun aku, jin ! aku ingin lebih dan hanya menjadi istrinyalah aku bisa puas mendapatkan segalanya. Aku ingin semua yang dimilikinya"

Menelan makanannya dan meminum minumannya sendiri sebelum tawa kecil keluar dari dua belah bibir tebal Jin, Jeon Jungkook memang orang yang serakah pikirnya, "kau berharap banyak Jeon, meski kau jadi istrinya pun, kau tidak bisa mendapatkan semua kekayaannya menjadi milikmu, kecuali jika kau memiliki anak, dan seingatku kau cerita kalau Min Yoongi sudah punya puteri"

"anak ya?—aku juga bisa memberinya, lagipula ada alasan lainnya"

"baiklah, lalu apa sekarang? apa Min Yoongi tau istrinya menemuimu?"

jungkook kembali menggeleng pelan, "sudah kukatakan aku akan pergi ke Los Angeles, California, jin. well, Min Yoongi bahkan tidak tau jika Jimin sudah mengetahui semuanya"

"oke, lalu untuk apa ke LA? Yoongi mengajakmu berlibur lagi?"

Jungkook lagi-lagi menggelengkan kepalanya, menatap Jin tajam. "aku akan pergi dari Min Yoongi, sekarang—, aku akan benar-benar kabur darinya", berkata acuh sembari melanjutkan acara makannya. Seolah perkataannya barusan tidak berarti apa-apa.

Tersedak makanannya, mulutnya menganga, Seokjin menatap tak percaya pada Jungkook yang duduk didepannya, "APA?", Jin berteriak nyaring hingga mengundang tatapan heran dari sebagian pelanggan disana.

Jungkook menatap satu persatu orang yang memandangi heran keduanya dengan tatapan minta maaf sebelum melotot dengan kedua bola mata besarnya pada Jin, yang tidak menghiraukannya.

Jin pikir, temannya ini pasti sudah gila, kabur dari Min Yoongi? Mana mungkin bisa ! Apalagi dengan kekuasaan yang dimilikinya saat ini, perusahaannya saja tengah memasuki sebagian pasar wilayah Amerika Serikat, Min Yoongi bahkan bisa menyuruh seratus orang atau lebih untuk mencarinya, tentu jungkook kabur pun pasti akan kembali ditemukan.

"makanlah dengan benar Jin, jangan membuatku malu", desisnya membuat Jin sedikit ngeri.

Jin buru-buru menutup mulutnya dan membersihkan makanannya yang jatuh dari mulutnya, "kau pasti bercanda?"

tawa kecil mengalun dari dua belah bibirnya, "jelas tidak, ikutlah bersamaku Jin, lagipula apa yang kau harapkan dari pekerjaanmu saat ini? Kau tidak bertuan dan kau tidak hidup senang pula tuh", nadanya sedikit menyindir, "setidaknya bersamaku tidak akan merugikanmu, aku sudah menjual apartemenku", melirik Jin yang masih menatapnya tak percaya, "tentu secara diam-diam juga beberapa aset yang pernah dihadiahi Yoongi padaku dan aku juga memiliki simpanan uang yang banyak, aku bisa memberimu pinjaman untuk membuka usaha disana atau setidaknya anggaplah liburan bagimu selama beberapa bulan jika kau masih betah di New York"

Tawaran jungkook tentu menggiurkannya, lupakan kata sindiran yang terselip disetiap bait katanya tadi.

mengangguk setuju, Jin kini menatap Jungkook curiga, merasa ada yang aneh, "kau merencanakan sesuatu lagi bukan?"

Tersenyum sinis yang menurut Jin sedikit menakutkan, "apa yang harus kurencanakan Jin? ikut saja denganku. Aku sudah lelah begini terus, lagipula aku tidak mau membuat Park Jimin yang baik hati dan polos itu semakin terluka karena suaminya selalu datang minta dipuaskan olehku"

Kembali menganga menatap Jungkook, Tidak mungkin ini Jeon Jungkook. karena Jungkook yang Seokjin kenal bukan orang yang suka mengalah.

Ada kilat aneh dimatanya, Jin yakin Jungkook tengah merencanakan sesuatu.

.


.

To : Jeon jungkook

Subject : none

Hallo mr. Jeon jungkook,

saya senang anda dapat menghubungi saya kembali, kabar saya tentu baik dan saya harap anda juga baik.

mana mungkin saya melupakan anda mr. Jeon, tak perlu sungkan saya mengenal anda sedari dulu, saya mengerti dengan jelas anda mr. Jeon.

Benar, saya kini menetap dan bekerja di RS yang ada di Los Angeles, California. Saya tentunya senang mendengar bahwa anda hanya dapat mempercayai saya.

Anda bisa mengunjungi tempat praktek saya saat ini di Rs. San Judas Medical Group, 2972 Wilshire Blvd, Los Angeles, CA 90010, Amerika Serikat.

Saya menunggu kunjungan anda, Semoga hari anda juga menyenangkan mr. Jeon

.


.

.

NEW YORK, AMERIKA SERIKAT

MIN INTERNATIONAL CORP.

SENIN, 28 MEI 20XX

.

.

"APA KAU BILANG?!"

Namjoon menunduk dengan 5 orang bawahan lainnya yang berdiri di sebelahnya, memandang takut pada amarah yang menguasai tuannya.

"jelaskan sekali lagi !" desisnya berbahaya. meneguk ludahnya, salah satu dari lima orang bawahan itu memberanikan diri menjawab pertanyaan tuannya, "tuan jeon jungkook,—menghilang tuan" nada suaranya memelan di akhir.

Membanting vas kaca kantornya tepat pada bawahan yang menjawab pertanyaannya tadi, yang tidak bergeming meski kini kepalanya mengeluarkan darah.

"apa maksudnya Namjoon?" wajah pucat Yoongi kini memerah sepenuhnya, mata nya menatap tajam dengan pandangan ingin membunuh, dalam hati Kim Namjoon sebenarnya juga ketakutan, tuan Min Yoongi jika marah atau terpancing emosinya bisa mengerikan bahkan bisa menelan korban.

"sepertinya tuan Jungkook kabur, lagi", menjilat bibirnya yang terasa kering, namjoon berusaha bersikap tenang seperti biasanya, "kali ini tuan Jeon menjual semua aset dan barang pemberian anda, termasuk apartemen yang anda beri atas namanya tuan".

Kim Namjoon sungguh tidak mengerti akan sifat labil Jeon Jungkook, simpanan tuannya ini. Dirinya hendak akan mengantarkan hadiah dari tuan Yoongi untuknya, saat recepsionist mengatakan tuan Jeon sudah tidak lagi menempati apartement miliknya selama dua hari dan sudah menjualnya, dan kini diisi oleh orang lain. itu membuat namjoon panik, jika terjadi sesuatu pada kekasih tuannya itu, tentu kepalanya yang melayang.

mencari tau informasi hingga membuatnya tercengang, mengetahui selingkuhan tuannya itu sudah menjual semua pemberian tuannya dan pergi entah kemana.

yang membuat Kim Namjoon benar-benar tak menyangka adalah Jeon Jungkook yang sepertinya sangat niat untuk pergi meninggalkan tuan yoongi. tidak seperti waktu itu.

Menutup matanya, menggeram emosi, Min Yoongi itu orang yang royal apalagi jika menyangkut kekasihnya yang seksi, jika Jungkook minta di belikan ini itu, tentu Yoongi akan langsung memberinya, termasuk Jungkook yang meminta dibuatkan cafe karena katanya ingin memulai usaha, menginginkan dibelikan mobil mewah yang hanya ada 3 didunia juga apartemen miliyaran dollar, Min Yoongi akan langsung memberikan semuanya tentu atas nama Jeon Jungkook.

Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya kini Jeon Jungkook, kekasih tercintanya itu menjual semua pemberiannya untuk pergi kabur darinya.

"BAGAIMANA BISA DIA KABUR?" kali ini suaranya nyaring menggema, dengan aura gelap yang mengelilinginya menambah ketakutan yang sudah tercipta.

Berdehem kecil Namjoon kembali membuka suara, "tuan tidak memerintahkan bawahan untuk menjaga tuan jungkook selama beberapa minggu ini",

Shit. Min Yoongi masih ingat wajah cantik dan manja kekasihnya yang minta ingin pergi berjalan-jalan tanpa pengawasan penjaga darinya. Memohon dan merayunya agar tidak diawasi lagi.

Sial, tau begini ia tidak akan menuruti kekasihnya. Jika nanti sudah kembali ditemukan, Min Yoongi bersumpah akan memberi pelajaran dan benar-benar memenjarakan kekasih seksinya itu selamanya.

Menghela nafas untuk sedikit meredakan emosinya, "aku tidak peduli bagaimana caranya, temukan kembali Jeon Jungkook, atau aku akan benar-benar membunuh kalian. Termasuk kau Kim Namjoon", menunjuk satu persatu orang disana dengan jari pucatnya. Min Yoongi tak pernah main-main akan ucapannya, karena itu semua yang ada diruangan itu bersumpah akan mencari tuan Jeon Jungkook yang menjadi biang masalah saat ini. bagaimanapun caranya harus ditemukan.

Namjoon dan kelima bawahan lainnya keluar ruangan setelah diperintahkan Yoongi, meninggalkan Yoongi dengan pikiran frustasinya.

.


.

.

.

LOS ANGELES, CALIFORNIA, AMERIKA SERIKAT

.

.

Taehyung menatap pria yang sudah memenjarakan hatinya, dengan rasa rindu dan cinta yang membuncah, Jeon Jungkook nya selalu tampak indah.

Menyentuh wajah halusnya dengan tangan kasarnya, memeta bagian wajahnya dengan jari-jari panjangnya, Jungkook menutup kelopak matanya menyembunyikan bola mata kelam yang selalu mampu menghipnotisnya, kedua belah bibir delimanya sedikit membuka, menikmatinya sentuhannya.

"cantik"

mengecup bibir delimanya sekilas, meremas pelan surai hitamnya agar kepalanya sedikit menengadah menatapnya, dan menciumi setiap bagian wajahnya.

"kau sangat cantik, kook".

Jungkook tersenyum tipis dengan kedua mata yang perlahan membuka, menatap Taehyung dengan mata yang mulai menyayu.

Berjinjit agar menyamai tinggi Taehyung, mencium sekilas juga bibir tipisnya, "dan kau selalu sangat tampan tae"

Jungkook tidak bohong, Taehyung yang didepannya ini memang sangatlah tampan.

Matanya tajam bagai elang yang memangsa dirinya, dengan bulu mata lentik dan kedua bola mata sewarna coklat keemasaan, yang membuat siapapun orang yang ditatapnya merasa ditelanjangi. Termasuk dirinya.

Hidungnya mancung dengan bibir tipis dan smirk andalannya, yang mampu membuat semua orang bertekuk lutut.

surai rambut halus yang dicat pirang, menambah kesan seksi dari seorang kim taehyung.

Lebih tinggi beberapa inci darinya, tubuh tidak terlalu berisi tapi memiliki otot kecil yang terbentuk ditubuhnya dengan bahu lebar, terbungkus dengan kulit tan yang menggoda untuk disentuh.

Baginya, Kim Taehyung adalah defenisi dari kesempurnaan.

Jemari tangannya yang panjang dengan vena yang tampak menonjol mengelus rahangnya,

begitu lembut, sangat menggoda.

sebelum turun menyentuh tulang belakangnya yang masih ditutupi serat kain pakaian.

itu hanyalah sentuhan biasa tapi bisa membuat Jungkook bergetar dengan pikiran yang mulai melayang ke langit, matanya kian menyayu. Hanya Taehyung yang mampu melakukan sihir ini padanya.

Semakin mendekat, Taehyung semakin menipiskan jarak keduanya, Jungkook dapat mencium aroma parfurm maskulin ditubuh Taehyung yang menguarkan bau khas woody oriental yang membangkitkan gairah, membuat kepala Jungkook pusing. Terlalu memabukkan.

Memeluk Jungkook, Taehyung menghirup aroma vanilla yang khas, mencium kupu-kupu perpotongan lehernya. bergerak pelan maju, memundurkan langkah jungkook hingga kakinya sampai di sisi ranjang.

Taehyung mengiring perlahan tubuh Jungkook untuk berbaring diranjang.

pandangan Jungkook berkabut, ini belum inti tapi matanya sudah basah, tubuhnya kembali bergetar pelan kala jemari panjang Taehyung mengelus dada yang bergerak turun memberi rangsangan pada tubuhnya yang masih terbalut pakaian mahal harga ribuan dollar, mengigit bibirnya yang ingin melenguh karena sentuhan sensual tangan nakal Kim Taehyung.

"kook, aku menginginkanmu", bisiknya halus bagai bisikan iblis yang menggoda iman hamba tuhan. yang membuatnya terjatuh, kedua tangan jungkook meremas kain kasur. Matanya menutup erat, tubuhnya sangat ingin dinodai sang iblis yang menatapnya lapar.

Taehyung menatap intens bidadari cantiknya, membuka satu-persatu kancing baju yang dipakainya.

Taehyung tak perlu surga untuk dapat melihat malaikat, Jungkook yang tengah terbaring menahan hasrat dibawahnya ini adalah malaikat yang menciptakan surga tersendiri baginya.

Kembali menyentuh tubuhnya, tangan penuh dosa Taehyung bergereliya halus memeta bagian tubuh atas hingga pinggang bawahnya yang mulus tanpa cela. Kembali menghirup aroma memabukkan dari Jeon Jungkooknya, Menciumi kupu-kupu rahang Jungkook yang kemudian turun pada dadanya, menyapa kedua puting pinknya dengan ciuman halus, dan perlahan turun lagi untuk menciumi perut ratanya.

Menempelkan kening keduanya, "perlihatkan aku matamu kook", nafas hangatnya menggelitik hingga kehatinya, hidung mancung keduanya bersentuhan.

membuka kedua matanya, mata bening Jungkook melihat jelas kedua mata Taehyung yang terlalu dekat dengannya, menatapnya penuh kerinduan akan rasa sayang .

"aku mencintaimu kook"

Ingin rasanya Jungkook menangis, jujur pada dirinya sendiri bahwa ia masih mencintai pria diatasnya ini. Tapi pikiran rasionalnya menolak meski hatinya berteriak ingin Kim Taehyung.

Bibir keduanya begitu dekat , ingin menempel dan saling melumat, untuk menyatakan perasaan yang tak mampu terucap kata-kata.

Melenguh kecil saat tangan Taehyung mengelus area pinggangnya.

Memajukan bibirnya sendiri pada bibir diatasnya, mengecup sekilas bibir tipis Taehyung.

"sentuh aku tae"

Tersenyum kecil, mengelus pelan pipinya, menggenggam erat kedua tangan Jungkook dan membawanya diatas kepalanya.

Taehyung melumat bibir delima Jungkook, saling menghisap, berperang adu lidah sampai Jungkook tersedak ludahnya sendiri sebelum membiarkannya mengecap isi goa hangat mulutnya. Mendominasinya, Seperti biasa yang dilakukannya.

Sesak, ciuman keduanya terlepas, Jungkook mengisi pasokan udara diparu-parunya yang menipis. Wajahnya bersemu merah semakin cantik dipandangan Taehyung.

Turun dari ranjangnya untuk membuka bajunya sendiri, masih dengan tatapan yang mengunci pada mata bening Jungkook.

Taehyung tidak ingin terburu-buru, ingin menikmati momen yang ada kini untuk bisa memuaskan rasa rindu nya pada pemuda jeon.

Jungkook meneguk ludahnya, meski bukan yang pertama kalinya, tetap saja Taehyung selalu membuatnya gugup.

Hasratnya akan cinta yang masih tersimpan untuknya memenuhi tubuh Jungkook kini, gairah yang tak mampu lagi ditahannya membuatnya benar-benar semakin pusing. Matanya berair.

Taehyung sepenuhnya telanjang, menampilkan tubuh bak seorang dewa, dengan miliknya yang besar yang sudah mulai menegang.

Tubuh Jungkook terbakar, panasnya terasa bagai api neraka yang menyiksa, Jungkook menginginkan Taehyung menyentuhnya dengan dosa agar ia bisa mencapai surganya sendiri.

Kembali mendekat, Taehyung membuka satu persatu pakaian yang melekat ditubuh Jungkook dan membuangnya asal. Kini keduanya sama-sama polos.

Tangannya kembali menyentuh pelan dan mengelus paha padatnya, "kau begitu bersih kook", mencium kupu-kupu area paha sampai kaki bawahnya.

Bergerak naik dengan pelan, bibir penuh dosa itu kini menciumi sensual seluruh tubuhnya, memeta setiap detail bagian tubuhnya dengan jilatan, gigitan dan hisapan yang membuatnya meringis perih dan melenguh nikmat. Menodai kulit putihnya dengan warna merah yang keunguan.

Jemari panjang nakal dengan pembuluh yang menonjol itu, memilin dan memelintir puting pink yang menyembul malu-malu, kembali mengalunkan erangan dan pekikkan dari dua belah bibir delima yang tengah terbuka, meremas dadanya yang berisi layaknya meremas payudara wanita.

Sebelum mulut nakalnya yang mengambil alih, mengulum dan menggigit gemas putingnya dengan gigi putihnya.

"N-Nghhh- Taehh"

Kini menyembunyikan kepalanya diperpotongan leher Jungkook yang selalu menguar aroma memikat, "kau selalu membuatku hilang akal kook", lagi, menjilati sepanjang kulit tulang lehernya, sebelum ia tandai dengan hisapan-hisapan kuat.

Melihat hasil karyanya, leher dan tubuh tanpa cela jungkook kini dipenuhi noda merah dan luka lecet. bergerak turun—

"Akhh"

Mengigit sedikit keras paha bagian dalamnya yang mengangkang, jungkook memekik, perih akan gigi tajam taehyung yang menciptakan luka di paha mulusnya, kembali berlaku yang sama, mencium, menjilatnya, dan menghisapnya kuat tanpa menyentuh miliknya yang sudah menegang keras. Menyakitkan.

"Eunggg Taehh"

Tangan taehyung menyentuh milik jungkook, memompanya perlahan, menjulurkan lidah panjangnya, bermain-main menggoda kepala penisnya dengan lidahnya dan menjilatinya seperti tengah memakan ice cream.

Jungkook melenguh, matanya basah akan air mata, ingin lebih.

Taehyung memasukan milik jungkook sepenuhnya kedalam mulutnya. Jungkook dapat merasakan hangatnya goa mulut taehyung yang mengulum miliknya, memaju mundurkan kepalanya, taehyung memompa milik jungkook dengan mulut dan lidah lihai yang bermain didalamnya.

Jungkook kian menangis hebat, tangannya menggapai-gapai sebelum meremas kuat surai pirangnya.

Meringis kecil akibat remasan kuat tangan suci jungkook, taehyung menutup matanya semakin mempercepat gerakannya,

"A-Ahh- Taehh-N-Ngghh", jungkook mendesah nyaring—

tidak tahan untuk mengeluarkan cairan putihnya, sedikit menyentak pinggulnya keatas, hingga juniornya menyemburkan sperma putih tepat di kerongkongannya yang langsung ia telan habis, hampir membuatnya tersedak.

-dengan lenguhan yang panjang.

Melepas milik jungkook yang mulai layu. Menatap jungkook dengan kabut nafsu yang tercipta dimata pemangsanya kini, "aku selalu suka rasamu kook" nada suaranya masih mengalun serak.

"tae-hh", nafasnya tersenggal, jungkook menghirup udara disekitarnya.

Taehyung sebenarnya tidak pernah lembut, selalu bermain kasar dengan banyak gaya baru yang dicoba.

Mengelus sayang surai jungkook yang kini sedikit basah karena keringat. Tapi ini jungkook yang dirindukannya, yang dulu disakitinya tapi juga dicintai sebegitu dalam olehnya, karena itu ia ingin menikmati ini bukan dengan gairah nafsu semata.

Untuk membuktikan pada Jungkook rasa cinta padanya masih sama seperti dulu, masih sebesar dulu, dan masih menginginkannya layaknya dulu. Taehyung hanya ingin bersama Jungkooknya.

Mencium keningnya lama, "bolehkah kook?" bisiknya, mencium cupingnya main-main.

Menolehkan kepalanya kesamping sisi lain menghindari tatapan taehyung, jungkook ingin menolak semuanya dari awal. tapi sungguh, dirinya benar-benar lemah jika sudah berhadapan dengan taehyung jangan lupa tatapan tajamnya yang membuatnya lupa keadaan.

Kepalanya mengangguk, menuruti hasrat tubuhnya yang ingin disentuh taehyung.

Setidaknya ini akan menguntungkannya nanti.

Tersenyum, mencium pipi gembil jungkook, "berbalik dan menungging kook"

Menurut, dengan sedikit bergetar jungkook membalik badannya, menungging dengan melebarkan kedua pahanya lebar agar dapat memberi akses yang luas bagi taehyung.

membuka dua bongkahan pantat kenyalnya, taehyung dapat melihat hole pink jungkook yang mengerut, masih tampak sempit, seperti seorang perawan. Memberinya service dengan jilatan-jilatan lembut, sebelum menciuminya diiringi gigitan gemas dipantat kenyalnya.

Aromanya membuat pikiran taehyung melayang kesurga sepenuhnya, menjilat lagi kini lidahnya ikut bermain mencoba masuk kedalam lubang yang mengerut sempit.

holenya sepenuhnya basah oleh salivanya.

Mengarahkan tiga jemari panjangnya didepan bibir delima jungkook, "kulum kook"

memasukkan tiga jari panjang taehyung kedalam goa mulutnya, mengulumnya seperti yang diperintahkan.

Taehyung menutup matanya, sedikit menggeram menikmati rasa kuluman mulut dan lidah jungkook pada jemari panjangnya, memberikan sengatan rangsangan, membayangkan miliknya yang dikulum.

Mengeluarkan tiga jemari panjang yang benar-benar basah oleh saliva Jungkook. Taehyung tidak ingin Jungkooknya terluka lagi karenanya.

memasukan satu persatu jari panjangnya—

"Eumm Akh-Taehh", Jungkook meringis perih.

–dan membuat hole mengerut Jungkook sedikit terbiasa akan jari panjangnya yang bergerak maju-mundur didalamnya.

Lubang Jungkook sangat sempit, meremas kuat tiga jemarinya. membuatnya semakin tidak tahan.

Taehyung dapat melihat Jungkook yang menitikkan air mata. Jarinya bergerak random kini, mencari titik yang akan membuatnya nikmat.

Jungkook mengigit bibirnya menahan desah perih sampai—

"Ouhhh-Akhh-Taehh" – Taehyung menemukan spotnya, lenguhan nikmat terdengar.

menyentuh titik itu kembali, berulang kali hingga mengalunkan kembali desahan nikmat dari Jungkook.

Mengeluarkan tiga jarinya, membuat kosong holenya yang meminta diisi kembali, desahannya kini digantikkan erangan tidak terima.

Taehyung terkekeh kecil, seksi. "aku ingin kau keluar karena milikku yang menumbukmu kook", menciuim holenya kembali, menjilat untuk kembali membasahinya lagi.

"aku akan memasukkan milikku kook"

Jungkook mengangguk akan peringatan yang taehyung berikan, membasahi miliknya sendiri dengan ludahnya, memposisikan miliknya tepat didepan lubang kosong jungkook,

"Eungg-Hhh", dan memasukkannya perlahan.

Jungkook kembali meringis dengan air mata yang kembali basah, junior taehyung itu sangatlah besar.

Taehyung menutup matanya erat, miliknya belum sepenuhnya masuk kedalam hole Jungkook, tapi lubang jungkook sudah menekan kuat miliknya,

"jangan ditekan kook", -menggeram nikmat.

mencoba merilekskan diri, jungkook melampiskan sakitnya dengan meremas kuat bantal yang dibawahnya, menenggelamkan wajahnya pada bantal putih yang kini basah dengan air matanya.

"Akhhh"

Menyentak pinggulnya, memasukan sepenuhnya kedalam lubang jungkook, holenya menghisap dan meremas kuat junior taehyung.

Lubang jungkook selalu memberi kenikmatan tersendiri pada juniornya. Selalu saja sempit.

Menunggu agar jungkook yang tengah kesakitan terbiasa dengan miliknya yang besar tertanam di holenya.

"Bergeraklah-Taehh-Sshh"

Sesuai instruksi, bergerak perlahan, menekan pada titik spot jungkook yang sudah dihafal taehyung hingga kembali mendapat lenguhan nikmat dari pria dibawahnya.

"lebih cepat taehh",

Mempercepat miliknya, memaju-mundurkan pinggulnya cepat. Junior miliknya menumbuk keras spot jungkook. Menggeram nikmat akan lubang yang juga terus meremasnya kuat.

suara nyaring jungkook yang mendesah kian menyerak , menggema di seisi ruangan kamar hotel yang disewanya.

Tubuh keduanya basah akan peluh.

Ranjangnya ikut berderit pelan.

"lebih cepat, lebih keraass ahhh", bibirnya terbuka mengalunkan desahan dan lenguhan tanpa henti dengan liur yang mengalir, mata nya membuka tutup dengan pikiran yang melayang kelangit.

Ini seks biasa dan terkesan lembut, tapi rasanya lebih nikmat karena Taehyung yang melakukannya.

Menumbuk lebih keras lagi, kembali menciptakan tangisan hebat dari Jungkook yang sebentar lagi akan keluar.

Menyentuh junior Jungkook yang sudah kembali berdiri tegak, memompanya sama dengan ritme cepat yang menumbuk holenya.

"TAEHHHYUUUNGGG-Hhhh" -meneriakan namanya nyaring,

mencapai klimaks dengan tubuh yang bergetar dan sperma yang keluar deras. Milik jungkook kian meremas kuat juniornya pasca klimaks tadi.

membuat Taehyung juga akan mencapai klimaks sebentar lagi, memegang pinggang ramping Jungkook yang akan jatuh kebawah, memaju-mundurkan miliknya masih dengan tempo yang semakin cepat, sampai—

"Jungkook Ahh", menggeram dengan suara yang sama seraknya.

–Taehyung mencapai surganya, menyemburkan spermanya yang keluar banyak didalam hole Jungkook.

Mengeluarkan miliknya bersama cairannya yang juga ikut mengalir keluar.

berbaring disamping Jungkook yang terengah-engah, untuk kembali menciumi wajahnya.

"aku sangat mencintaimu kook, aku akan melakukan apa saja untukmu"

"apa saja?" tanya jungkook, masih berusaha mengatur nafas.

Taehyung dengan mata teduh menatapnya, mengangguk pasti. Jungkook tersenyum lelah, menyamankan diri dipelukan taehyung.

.

.

.


*OMAKE*

.

.

.

834 FIFTH AVENUE, NEW YORK

KAMIS, 17 MEI 20XX

.

"daddy—"

"tidak baby !"

Min yoongi terkekeh melihat kekasih cantiknya dengan bibir melengkung kebawah, cemberut.

Jeon jungkook menatap kesal yoongi, sebelum akhirnya meninggalkan ruang tv untuk memasuki kamarnya, menidurkan diri dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

Menghela nafas, min yoongi mengikutinya, ikut berbaring disamping jungkook yang terbungkus selimut. Memeluknya erat, "maafkan aku baby, kau tau aku tidak akan bisa membiarkanmu kemanapun tanpa pengawalan. Tidak saat kau pernah kabur dulu"

Jungkook membuka selimut yang menutupinya, menatap yoongi marah dengan mata beningnya, "sudah kubilang, aku tidak kabur daddy ! apalagi kencan dengan taehyung, aku hanya butuh sendiri !"

Jungkook yang marah terlihat semakin menggoda dimata yoongi, ingin sekali melahapnya jika saja ia tidak ingat ada urusan yang harus dibahas dengan hoseok sebentar lagi.

"butuh sendiri selama 4 bulan?"

Jungkook mengalihkan pandangan ke langit-langit kamarnya. Min yoongi tersenyum tipis, mencium pipi gembil kekasihnya, "kau mengerti aku sayang"

Mendecak kesal, tentu ia mengerti, sangat mengerti. Menggigit pelan bibirnya, "kumohon daddy, pelacur kecilmu ini memohon pada daddy nya"

Kembali menatap yoongi dengan pandangan memohon, Jeon Jungkook tidak pernah memohon, kecuali saat tengah seks. "daddy, aku ingin bebas kesana-kemari tanpa ada yang mengawasiku, lagipula apa yang akan aku lakukan? Ini menyebalkan ! toh akupun tidak akan pergi darimu, mana mungkin jalang kecil mu ini bermain dibelakangmu apalagi pergi meninggalkanmu", nada suaranya dibuat sememelas mungkin, "kumohon"

Jika kekasih cantiknya sudah merajuk seperti ini, mana mungkin min yoongi tega. Tapi jungkook pernah membuatnya takut dengan pergi darinya waktu itu, ia mana mungkin bisa percaya jika buktinya saja saat namjoon menemukannya, ia tengah bersama taehyung.

Min yoongi tersentak, kekasihnya terisak pelan dengan air mata yang jatuh. Menutup sekilas matanya, tangannya mengelus surai hitam jungkook, lalu bergerak menghapus air matanya yang mengalir, "kau tau aku tidak suka cintaku ini menangis", memandang sayang pada wajah jungkook yang masih memberengut.

"aku akan menyuruh bawahanku untuk tidak mengawasimu selama beberapa minggu", wajah jungkook kini kembali cerah, membuat min yoongi tertawa tak percaya dengan mood pria cantiknya yang berubah-ubah dalam sekejap, "tapi hanya selama 2 minggu, mengerti?"

Sebenarnya jungkook ingin protes lagi, inginnya ia tidak diawasi selamanya. Tapi itu tidak mungkin, Min Yoongi pemiliknya ini terlalu posesif.

"dan ingat, kemanapun sayangku ini pergi, harus ijin dulu, oke?"

Jungkook ingin sekali mengatakan memangnya dia siapa yang harus mengatur-atur dirinya. Sebelum ia sadar, dirinya kan sepenuhnya milik min yoongi.

Mengangguk mengiayakan pasrah, setidaknya jungkook senang, tidak perlu ada yang mengawasinya lagi beberapa minggu ini.

Mencium bibir delima dengan menggigit main-main bibir bawahnya, "sekarang aku harus pergi, ada masalah yang harus diurus"

Jungkook mengantar kepergian yoongi sampai depan pintu apartemen nya, "sayang, mungkin aku tidak akan bisa mengunjungimu beberapa hari ini", jungkook menatapnya dengan pandangan bertanya, min yoongi sedikit berdehem, "aku—ada urusan".

Ahh— jungkook mengerti, setelah menemaninya berlibur kemarin, tentu sekarang yoongi akan menghabiskan waktunya pula bersama istrinya. Ingin kembali merajuk, tapi diurungkannya, setidaknya dia juga bisa bebas pergi kemanapun kan?

Jungkook tersenyum, mencium bibir tipis yoongi, "oke".

.

.

.

"jimin?"

Jungkook kaget, yang ada didepan pintunya ini Park Jimin, istri dari Min Yoongi, pria yang baru beberapa menit lalu pergi meninggalkan apartemennya.

Jimin tersenyum tipis menatap raut terkejut jungkook, tanpa dipersilahkan, dirinya masuk kedalam apartemennya jeon jungkook, melewatinya yang tengah terpaku didepan pintunya.

Masih dengan senyum lembut yang menahan perasaan teririsnya, apartemen yang ditempati jeon jungkook ini adalah apartement termahal yang terletak di 834 Fifth Avenue, New York. menatap sekelilingnya, sesuai harganya yang mencapai USD120 juta (sekitar 1,67 trilliun)apartemen ini begitu luas dengan desain ornamen ukir menawan, dan tangga marmer bernuansa megah asli rancangan Palazzo Italia, juga diisi dengan berbagai barang mahal pula.

Menutup pintu yang tadi dibukanya, dan berbalik menatap jimin yang tengah meneliti isi apatemennya.

"kau tinggal di apartement mewah ini, kook? aku tidak tau jika kau bisa tinggal disini, bukankah kau sudah kehilangan semua kekayaan yang dimiliki orangtuamu tepat ketika mereka meninggal? kau juga belum mendapat pekerjaan kan? Bagaimana mungkin kau memiliki apartemen termahal yang ada di New York?", jimin berkata halus masih dengan wajah yang dibuat heran.

Bagaimana jungkook harus menjawab? Tidak mungkin dirinya berkata bahwa suaminya yang membelikan apartemen ini padanya kan?

Menggigit main-main bibir bawahnya, "ya—orang tua ku menyisakan sebagian uangnya untukku sebelum mereka meninggal"

Tertawa kecil menanggapi jawaban yang diberikan jungkook, "kita semua tau kau kehilangan seluruh kekayaannmu, dan tak menyisakan sepeserpun untukmu"

Jimin masih menatapnya dengan lembut, nada dari kata yang diucapkannya tidak mengandung racun sedikitpun, mengalun dengan halus.

menatap wajah jimin lama sebelum bibir delima jungkook mengeluarkan kekehan kecil. meski jimin tidak menampilkan emosi atau nada sinis, jungkook tau benar, jimin menemuinya dengan maksud tertentu.

Meskipun dirinya juga bingung darimana jimin mengetahui alamat apartemennya.

Mungkinkah ia mengikuti Min Yoongi?

Jungkook tersenyum miring dengan menampilkan keangkuhan diwajah cantiknya, "kenapa kau disini jim?"

"aku rasa kau tau kenapa aku disini?"

"tidak, aku tidak mengerti maksudmu"

Bohong, dirinya itu mengerti dengan jelas kenapa pemuda park itu ada disini, berdiri tepat didepannya dengan mata yang kini memandangnya nanar.

Sudah ketahuan rupanya

"aku disini karena yoongi hyung"

Jungkook hanya tersenyum lebar saat menatap raut terluka yang ditampilkan sekilas diwajah jimin, sebelum kembali menatapnya dengan raut tenang.

Jimin rasanya ingin berteriak memarahi pemuda jeon yang terlihat sangat santai seolah dia akan membahas sesuatu yang tidak penting. Sangat ingin memukul wajah cantiknya hingga babak belur yang kini menampilkan raut wajah angkuh.

Tapi jimin tidak bisa, bukan ia lemah atau tidak berani. Hanya saja, itu bukan dirinya. Eomma nya selalu mengatakan untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin bukan emosi.

"kenapa kau melakukan ini?"

Jimin ingin tau apa alasan pemuda jeon ini berlaku setega ini padanya.

.

.

.

.

THE PURPLE BAR, NEW YORK

SABTU, 19 MEI 20XX

.

"kim taehyung"

"aku selalu suka saat kau mengucapkan nama lengkapku, itu selalu mendatangkan gairah tersendiri buatku, suaramu seksi kook"

apa yang dikatakan taehyung itu benar adanya, dirinya selalu senang jika jeon jungkooknya memanggil namanya lengkap atau memandangnya tajam dengan mata cantiknya, jungkook itu mampu membuat siapapun bergairah hanya dengan tatapan matanya.

Tertawa geli dengan perkataan taehyung, "apa ini? Kau mengajakku bertemu hanya untuk menggodaku?"

"tidak, Tapi jika kau tergoda itu bonus untukku", jungkook tidak tau bagaimana hati taehyung yang berdenyut rindu saat bisa mendengar tawa indah yang mengalun dari dua belah bibir delimanya. Mampu membuatnya kembali mendatangkan debaran abnormal.

Demi tuhan, taehyung sangat merindukan makhluk yang kini ada didepannya.

"kau menjijikan tae, aku tak mau membuang waktukku, cepat katakan ada apa kau mengajakku bertemu", jungkook berucap dengan nada sinis.

"sudah kukatakan ini mengenai kecelakaan yang menimpa keluargamu 5 tahun lalu, juga mengenai kehancuran perusahaan appa mu"

"apa maksudmu tae, jelaskan yang benar"

Taehyung menjelaskan sesuai yang diminta jungkook.

Tersenyum miring menatap pria yang selalu dicintainya itu, tengah bergetar menahan emosinya agar tidak meledak dimuka umum dengan tangan yang terkepal erat.

.

.

.

.

834 FIFTH AVENUE, NEW YORK

MINGGU, 20 MEI 20XX

.

.

Andrew salah satu recepsionist di apartemen tempat Jeon Jungkook tinggal, kini menatap bingung padanya yang tengah melipat tangannya sambil menatapnya acuh.

Andrew sudah bekerja disana selama tiga tahun dan jeon Jungkook sudah tinggal di apartemen mewah ini selama satu tahun lebih. dimatanya, jungkook itu kekanakan tapi sangat ramah dan baik. andrew menyukai jungkook, tidak dalam konteks romantis.

Keduanya menjalin pertemanan, terkadang jungkook selalu menemaninya di lobi jika ia sedang jenuh. Bercerita banyak hal mengenai kegiatannya, hingga andrew hafal apa-apa saja yang dilakukan jungkook setiap harinya.

Jungkook pribadi yang menyenangkan dan selalu menebar senyum, sebab itu banyak yang menyukainya tidak hanya pegawai disana tapi juga sebagian penghuni lain diapartemen ini.

"tadi kau bilang apa Jeon?"

"bantu aku carikan orang yang mau membeli apartemenku juga beberapa barang lainnya"

"kenapa kau ingin pindah?", jungkook hanya menatapnya malas, tidak berniat menjawab pertanyaannya.

Andrew jelas terkejut, setelah melihat jungkook yang memasuki area lobi dengan raut wajah marah dan langsung menemuinya di meja receptionist dengan mengatakan bahwa ia akan pergi dari sini dan meminta bantuannya untuk mencarikan orang yang mau membeli unit apartemen yang diisinya, cafe nya yang terletak di Manhattan juga mobil langka sport Ferrari 599xx merah yang dipakainya dan beberapa barang mewah lainnya, dalam waktu 5 hari? mana mungkin?.

Dirinya juga sangat penasaran, apa mungkin jungkook tengah bertengkar dengan kekasihnya hingga berniat pergi? Melihat sekelilingnya, Ah, andrew juga baru menyadari jika orang-orang yang biasanya mengawasi jungkook selama ini tidak ada.

Jika jungkook memang mau pergi dari kekasihnya tentu andrew mengerti, kekasih jungkook itu mengerikan baginya. Meski tidak mengenal dekat dan jungkook tidak pernah menceritakannya, andrew dapat menyimpulkan selain angkuh, Kekasih jungkook itu terlalu posesif dan sangat mengekang.

Setiap kali kekasihnya mampir pasti akan menemui bagian receptionist dulu, hanya untuk bertanya mengenai jungkook yang pergi jam berapa dan pulang kapan, atau siapa saja yang menemuinya. Padahal jelas-jelas kekasih jungkook itu sudah menyuruh bawahannya untuk mengawasinya selama 24 jam, ikut menemani sang receptionist bekerja. Pasti kekasih jungkook itu cinta mati padanya.

"carikan saja pembeli yang mau membeli semua barang berhargaku, apartemenku, mobil dan cafe yang aku miliki, oke? Semua surat-surat kepemilikannya atas namaku, dan aku akan memberimu bagian untuk itu", saat andrew ingin bertanya kembali, jungkook sudah lebih dulu menyela menyuruhnya diam, "jangan banyak bertanya, dan jangan mengatakan ini pada siapapun juga, oke?"

Andrew hanya mengangguk, Masih menatap bingung Jungkook yang saat ini tengah tersenyum puas.

.

.

.


.

.

.

lovared : saya senang kaka mampir ke ff ini loh, tentuuu dimana ada jungkook disana ada taehyung /itu kata adik saya/..

untuk yang ninggalin jejak komentar dan tidak sengaja baca ff ini. makasih sekali ya, saya gakkan bosen untuk terus ngucapin makasih...

oh untuk ka swaggxrBang, saya suka loh baca komentar nya kaka :D

ada yang sudah nonton video bts comeback trailer "tear" singularity? kim taehyung tampan banget yaaaa /bikin gak nahan/