hahaha.. i'm free to go!

akhirnya, sya bsa lepas dri ulangan pkn sya.. ternyata soalnya dri lks, jdi sya pun tdk apa2.

baiklah ini chap 7nya. hope you enjoy it!


Kingdom Hearts: Losing Memory

.

Escape from Reality

part 2

.

.

Disclaimer: I do not own KH, but i own this one.

.

.


"Bagaimana proses pemasangan memorinya?" tanya seseorang di belakang Namine. Namine menoleh ke belakang.

"...A-Axel?" tanya Namine tidak percaya. "Bagaimana kau bisa-.."

"Haha.. Aku baru saja selesai dari proses pembentukan replika. Replika Demyx dan Saix sepertinya juga baru selesai dari proses pembentukan tubuh replikanya.." jawab Axel, atau Replikanya Axel sambil tersenyum.

Namine menundukkan kepalanya. Ia sungguh lelah melakukan pemasangan memori Roxas tentang Xion. Sepertinya energinya terkuras akan itu. Axel yang melihat Namine berkelakuan seperti itu, langsung menaruh tangannya ke pundak Namine.

"Apa keputusanmu ini sudah bulat? Kau tau, Axel adalah sahabat Roxas, dan aku, sebagai replika Axel, juga merasa begitu. Aku rasa, aku agak bersedih mendengar keputusanmu memasang memorinya tentang Xion ke kopian Roxas dari Larxene.." kata Axel.

Namine mengangguk. "Roxas kehilangan sesuatu yang spesial darinya.. Dan aku merenggutnya begitu saja darinya. Akulah yang harusnya merasa malu, karena sudah teganya mengambil memori berharganya yang begitu saja..." jawabnya.

Axel duduk di sebelahnya dan menaruh kedua tangannya ke belakang kepalanya. "Sekarangpun sama saja. Kau ambil memorinya yang dulu, dan kau ambil memorinya yang sekarang.. Bukankah tidak akan mengubah semuanya?" tanyanya. "Roxas yang lupa Xion saat itu, memulai kehidupannya yang baru dan bertemu denganmu yang pada akhirnya mengembalikan ingatannya tentang Xion. Dan sekarang, Organization XIII akan membuat Xion secara utuh dan sempurna dari memori yang kau pasang itu. Tapi pada akhirnya,... bukankah Xion juga bakal kembali bergabung dengan Roxas? Dan Roxas mulai melupakan Xion lagi, lalu ia bertemu dengan kau lagi. Benar kan? mendengar ceritaku ini saja, kayak mendaur ulang sampah.."

Perkataan Axel memang ada benarnya. Semuanya berputar dan tidak akan berhenti pada pusatnya.

".. Kalaupun ada yang mau mengakhiri cerita daur ulang itu, orang yang mendaur ulang kejadiannya harus berpikir ke depan, dan tinggalkan masa lalu.." lanjut Axel. "Dengan kata lain.. Pada akhirnya, keputusan pengakhiran daur ulang itu ada di tangan Roxas. Roxas harus memutuskan keputusan yang tepat.."

"...Tapi..," Namine angkat bicara. "..Bagaimana kalau Roxas memilih pilihan yang sama dan mengulang kejadian seperti ini lagi?"

Axel menatap Namine sambil tersenyum, lalu mengacak rambutnya. "Tenang saja, kejadian yang sama tidak akan terulang lagi, kok.." jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.

Entah kenapa, Namine langsung lega mendengarnya. Senangnya ada orang yang menghiburnya di saat-saat seperti ini. Tidak seperti Larxene.

Namine mulai meneteskan air matanya, lalu mengusapnya. "Terima kasih, Axel.." katanya sambil tersenyum.

"Dengar ya, yang namanya bos kami itu, orangnya pasti nggak bakal nyerah sebelum dia berhasil mendapatkan Roxas kembali.." lanjut Axel berdiri dari tempat duduknya. "Maksudnya, aku cuma mengingatkan, agar kau berhati-hati dengan permintaan organisasi ini.."

Namine mengangguk. "Ya.."

Sebelum Axel menapakkan kakinya ke luar ruangan, ia menatap Namine sekali lagi.

"Kau tau,.." mulai Axel. "Berbicara padamu sungguh mengingatkanku berbicara padaNYA. Yah, akupun tidak yakin, karena memoriku itu diambil dari Axel yang asli.."


.

.

Axel melangkahkan kakinya menyusuri ruangan Castle Oblivion. Ia mendengarkan panggilan dari Saix, yang katanya ada masalah antara Demyx, Marluxia, dan Larxene.

"Ada masalah apa sih, si trio itu?" tanya Axel masuk ruangan dimana Saix, dan anggota lainnya berkumpul. Ia cukup bingung melihat Demyx yang menangis, Marluxia yang pundung, dan Larxene yang marah-marah nggak jelas.

"Jadi.. ceritanya begini.." mulai Saix dengan wajah dan nada datarnya.

Flashback

JRENG NGEJRENG JRENG JRENG NGEJRENG NGEJRENG

"Diam!" teriak Marluxia ke Demyx yang sedari tadi main sitarnya nggak jelas.

"Percuma, Mar. Anak bodoh itu nggak bakal berhenti main sitarnya. Aku jadi bingung sendiri, kenapa dia tidak dipilih pergi ke Castle Oblivion ya saat itu?" tanya Saix sambil membaca jalannya permainan "Escape from Reality by Marluxia" karena ia baru saja selesai dari proses pembentukan.

Mereka baru saja keluar dari laboratorium milik Vexen, dan sedang dalam perjalanan menuju ruangan mereka berkumpul yang sesuai dengan perintah bos mereka.

"Kok begitu? Aku kan juga baru selesai dari proses pembentukan, tidak apa kan kalau aku bersenang-senang sedikit?" tanya Demyx.

Entah kenapa, kata-kata Demyx malah membuat aura di sekitar Marluxia yang gelap, menjadi lebih gelap lagi.

"Kurasa kau salah menyusun kata dalam berbicara, Dem. Kata-kata yang kau pilih malah bakal merusak suasana hari ini.." kata Zexion, matanya tak lepas dari membaca bukunya.

"Emang si Marluxia kenapa?" tanya Demyx.

"Kudengar, dia dikatai si pemakai keyblade itu. Sora. Sora mengira Marluxia itu perempuan.." jawab Zexion, masih membaca bukunya.

"Oh.. Marluxia masih menyukai bunga mawar toh.." Demyx angkat bicara. "Kukira.. Ia sudah pindah minat.."

Marluxia langsung menarik kerah Demyx. "Jangan menjelekkan reputasi orang! Kita ini organisasi yang direplika sesuai dengan yang aslinya tau! Apa salahnya kalau aku masih menyukai bunga mawar! Apa salahnya, hah?" teriak Marluxia yang sepertinya mulai mengeluarkan air mata kepedihan.

"Bukan begitu! Aku ngerti kok! Nggak ada salahnya!" kata Demyx minta ampun.

"Kemewahan bisa bermain sitar itu hanya dimiliki orang aneh dan bodoh yang ada di posisi terbawah seperti kamu! Dasar, anak-yang-baru-saja-selesai-proses-pembentukan-replika-yang-senang-bermain-sitar!" teriak Marluxia.

"Uwaa! Itu hak khusus yang nggak adil!" teriak Demyx mulai menangis. "Huwaa, Lexaeus! Aku dijahili karena baru selesai proses pembentukan dan senang main sitar layaknya laki-laki.." kata Demyx tersedu-sedu dan menangis di jubah Lexaeus.

"..." Lexaeus hanya diam. Sedangkan Zexion dan Saix? sudah pergi dari situ beberapa menit yang lalu. Sepertinya, mereka berdua pergi hanya sementara.

"Jangan nangis, sial! Yang ingin nangis itu aku, tau!" teriak Marluxia sambil membuka pintu ruangan. Begitu melihat ruangan di dalamnya berantakannya minta ampun, Marluxia terbelalak kaget.

"Ya ampun! Se..Sebenarnya ada apa ini?" tanya Marluxia yang memicu Lexaeus dan Demyx mengintip ruangan itu. Lalu dilihatnya oleh Demyx dan Marluxia, berdiri seseorang berambut pirang dengan poninya yang menjuntai ke atas dengan auranya yang jauh lebih gelap dari Marluxia tadi, di tengah ruangan.

"Larxene?" panggil Demyx, yang mencoba mengecek apa si Larxene itu baik-baik saja.

Dapat dilihat oleh Demyx dan Marluxia, mata Larxene yang penuh dengan aura kemarahan dan gelap saat ia menoleh ke belakang.

'Se..setan..! Ada setan!' teriak Marluxia dan Demyx dalam hati.

"Ada apa nih?" teriak seseorang dari belakang dengan rambut birunya yang ternyata adalah Saix. "Larxene, kau yang melakukannya? Ada apa?" tanya Saix setengah berteriak.

"Aku... kenapa?" tanya Larxene menoleh dan menatap keempat orang yang baru masuk ruangan itu. Terlihat uratnya yang menonjol di wajahnya.

'Se..setan..! Ada setan!' Marluxia, Demyx, dan Saix dalam hati.

"Sudah.. ceritakan saja, Larxene. Kami, bisa mengerti perasaanmu.." kata Zexion, masuk ruangan.

"Kau tau, teman perempuan Sora yang kau suruh agar kukunjungi itu?" tanya Larxene. Semua mengangguk.

"Well.."

Flashback (Larxene story)

"Nih.." kata Larxene memberikan gulungan kertas kepada Kairi.

"Apa ini?" tanya Kairi.

"Itu petunjuk cara penggunaan mesin itu untuk lebih jelasnya.." jawab Larxene singkat, padat, dan jelas.

"Hah.. Kenapa sih mesinnya nggak diperbagusin sedikit?" tanya Donald.

"Itu yang buat bukan gua. Yang buat Vexen. Mau protes, hanya ke Vexen.." jawab Larxene.

"..Kenapa kursi?" tanya Goofy. Miskin banget yah, pake kursi.

"Berisik! Itu pilihan dari atas, jadi bentuknya nggak milih. Aku juga inginnya bentuknya yang seperti kursi pijat!" protes Larxene.

"...Gitu ya.. kamu ingin yang bentuknya kayak kursi pijat..?" tanya Donald dan Goofy.

"A...tidak sopan! Apaan dengan sorot mata kalian bertiga itu? Kau mau menghinaku?" teriak Larxene.

"..Kami nggak gitu ngerti efeknya kalau dengan penjelasan barusan.. Suer, penyusunan katamu kurang efektif.." koreksi Donald. "Tambah lagi, bentuk ponimu aneh... kayak kecoak.."

Kepala Larxene langsung meluap bagai ceret yang kepanasan. Ia hendak menyerang si bebek itu, tapi karena ada perintah dari atas yang mengatakan untuk tidak menyakiti lawan dulu, ia berusaha menahannya.

"Lihat saja nanti, bebek cerewet! Suatu waktu nanti, gua lem mulut lu pakai power glue!" teriak Larxene sebelum pergi lewat portalnya.

End of Flashback (Larxene story)

"Jadi begitu... Alasan keributan dan reruntuhan sofa ini karena itu.." kata Saix, menyelesaikan bersih-bersihnya ruangan.

Lalu masuklah seseorang dari pintu.

"Ada masalah apa sih, si trio itu?" tanya Axel masuk ruangan dimana Saix, dan anggota lainnya berkumpul. Ia cukup bingung melihat Demyx yang menangis, Marluxia yang pundung, dan Larxene yang marah-marah nggak jelas.

End of Flashback

"Yaelah. Cuma gitu doang, kalian bertiga. Daripada itu, seharusnya kita mengawasi si rambut putih itu juga?" tanya Axel.

"...Aku sudah mendatanginya..." jawab Zexion.

"Lalu, bagaimana dengan raja mereka itu?" tanya Axel lagi.

"...Aku sudah mendatanginya..." jawab Marluxia.

"Kopian Roxas.. bagaimana?" tanya Saix sambil memegangi bluetooth yang ada ditelinganya dan sepertinya sinyalnya terhubung dengan Vexen. "Sudah selesai? Ya.. Tidurkan dan masukkan dia ke game itu.." lanjut Saix lalu menyalakan monitor di depan mereka.

"baiklah, semuanya. masuk ke posisi kalian masing-masing! kita akan bertarung dengan mereka lewat game ini.." perintah Saix. "Axel,kau jaga Namine."

Axel mengangguk. Ia cukup senang untuk tidak bertarung hari ini.

"Sekarang kita tinggal melihat mereka berenam memainkan permainan yang mereka mainkan dengan kartu pilihan mereka.."


Sementara itu..

"Eh..dimana nih?" tanya Sora yang bangun di suatu tempat entah dimana..

Tempat yang pitih, luas dan sepi.. Sepertinya Sora tau tempat ini.

"Ini... di The World That Never Was ya? Kenapa ada di sini? Bukannya tadi di Castle Obli-.. Apa cuma mimpi?" Sora melihat sekelilingnya. "Whatever. Sekarang yang penting, aku harus mencari teman-teman dan Roxas!"

Sora dengan giatnya, berjalan memasuki setiap ruangan mencari Roxas dan Namine, dan kawan-kawannya sambil mengalahkan Nobody di sekitarnya. Sudah berjam-jam ia mencari mereka semua, tapi tidak ketemu.

Lalu ia sampai di ruangan dimana ia dan Xaldin terakhir kali bertarung. Dilihatnya seseorang berambut merah muda dan satu lagi berambut abu-abu yang poninya menutupi mata kanannya.

"Kau!" teriak Sora. "Dimana temanku? Apa yang kaulakukan pada Roxas?"

"Langkahi mayatku dulu, baru kuberi tahu, kepala batu!" kata Marluxia lalu menyerangnya. Tapi, sayangnya, ada yang menangkisnya.

"Yang Mulia?" tanya Sora tidak percaya.

"Cepat pergi ke pintu di belakang si poni panjang itu! Di sana ada Roxas!" teriak King Mickey menahan Marluxia.

"Sial! Apa yang terjadi dengan Lexaeus?" tanya Marluxia frustasi, kepengen bunuh Sora gara-gara udah ngatain dia. "Zexion! Serang!"

Zexion lalu berlari dan menyerang Sora. Tapi, serangannya ditangkis oleh-

"Riku!" teriak Sora senang karena udah ketemu sama sahabatnya.

"Masuk pintu itu, Sora! di sana kau melihat Roxas!" teriak Riku.

Sora mengangguk. Ia berlari dan masuk pintu itu. Lalu, dilihatnya seseorang yang sepertinya seumuran dengannya, berkerudung. Ia menoleh ke arah Sora, dan dapat dilihat Sora sebuah kilatan dari balik kerudung itu. Mungkinkah itu...

"...Roxas?" tanya Sora.

.

.


A/N: akhirnya selesei juga chapter ini.

anda tau, ortu sya smpe menyuruh sya tdur... yang benar saja! ini kam baru jam 23:15! aku selalu tidur jam 00:27!

Hah.. sudahlah,,

bagaimana kalau review?