Disclaimer: liat chapter 1 aja ya! Males copy-paste.

Pairing: 1827 [main], 6927, 8059, 1869/6918[Mukuro di kick out dari nih chapter...ehehe...]

Note:

"Hell-o!" – biasa [a.k.a Jepang]

"Hell-o!" – Bahasa Itali

[Hell-o] – A/N

2 Chapter yang ini kebanyakan tuh flashback dari memorinya Hibari! Btw ini sebagian besar POVnya Hibari! And POVnya bakal ganti – ganti jadi jangan bingung ya!

Warning: OOC alert! I'm serius about it! Author ga tanggung jawab kalo ada sakit mental gara" baca ini...

So... enjoy~

My Memories: Childhood

Saat kubuka mataku, kulihat sekitarku, aku sedang menyandar ke sebuah ranjang ber seprai putih bersih, dengan sebuah buku yang cukup tebal untuk anak seumuranku saat itu, berada di pangkuanku. Kulihat seisi ruangan hanya terdapat 2 ranjang berwarna putih bersih dengan sebuah korden di antara kedua ranjang itu, dinding ruangan tersebut hanya berwarna putih pucat tanpa ada dekorasi sedikit pun. Sepertinya ini bukan kamarku waktu kecil. Ruangan ini lebih cocok di bilang sebagai ruang pasien di rumah sakit.

Tidak ada sesuatu terjadi saat itu. Hanya ada aku yang sedang membaca buku nan tebal itu. Sampai tiba – tiba pintu kamar itu pun bergeser dengan sendirinya. Seseorang berkaian seperti perawat berwarna putih, masuk sambil mengendong seorang anak kecil berambut coklat dan memiliki mata coklat yang besar nan imut di lengannya. Lengan dan kaki kirinya tebalut dengan pembalut yang tebal dan beberapa plester di pipi dan lengan kanannya.

"Hibari-kun? Kau sudah bangun?" tanya perawat itu sambil meletakan anak kecil yang ada di rangkuhan lengannya di atas ranjang sebelah ranjang dimana aku sedang berbaring. Anak kecil itu masih tetap menggenggam lengan serangam sang perawat itu, sedangkan badanya tidak dapat berhenti bergetar.

"Jangan khwatir, Tsu-kun. Dia tidak akan menggigitmu koq" katanya pada anak kecil tersebut sambil tersenyum hangat.

Aku langsung menyela dengan cetusnya "Kalau dia mengganguku akan kugigit dia sampai mati"

"Hibari-kun!" sang perawat cerewet itu menghela nafas. "Ia baru saja mengalami satu trauma dalam hidupnya! Jangan kau buat dia mendapatkan trauma lagi, ya?"

"Itu bukan urusankanku" jawabku singkat dan mengalihkan pandanganku ke teman kamar baruku.

Kulihat Perawat itu meninggalkan ruanganku dan meninggalkanku berduaan dengan bocah kecil itu. Badan anak itu tidak berhenti bergetar dan mesakin lama kencang. Untuk memecahkan keheninan yang mengganggu, aku bertanya pada anak kecil yang tidak bisa berhenti bergetar.

"Namamu" itulah kata – kata yang keluar dari mulutku.

"H-h-hu-huh?" tanya anak kecil itu bingung dan badannya pun masih gemeteran.

"Aku tanya namamu. Siapa namamu?" tanyaku dingin.

"T-tsu-tsuna-yo-yoshi Sa-a-wa-da-a" jawab anak itu dengan badan yang masih gemeteran.

"Tsunayoshi Sawada? Baiklah," kataku sambil membuka kembali buku yang tadi kututup dan melanjutkan bacaanku.

"Dan nama kakak siapa?" tanya herbivore itu lagi.

"Namaku Kyouya Hibari" jawabku singkat.

"B-bo-boleh aku panggil Kyou-nii?" tanyanya malu – malu.

"Terserah! Asal kau tidak mengganggu tidurku... atau... kugigit kau sampai mati" jawabku dingin.

"Hiiii!" teriaknya dengan sepontan.

Di Kediaman keluaraga Sawada-present time... [Normal POV]

Setelah mereka semua sampai di rumah Tsuna, Gokudera meletakan tubuh Tsuna yang masih tertidur di ranjangnya, sementara Yamamoto "menggendong" Hibari ke kamarnya. Setelah keduanya selesai, mereka langsung menuju ruang tamu dan menemukan Reborn sedang berbicara dengan seseorang di telpon.

"TENTU SAJA! AKU AKAN KESANA DENGAN KECEPATAN EXTREME" terdengar teriakan seseorang – pasti dah pada tau semua – dari hanphone hijau-hitam Reborn.

"Itu senpai ya?" kata Yamamoto sambil tersenyum senang.

"Ya, dia akan tiba di sini sebentar lagi" jawab Reborn dan handphone hijau-hitam itu berubah kembali menjadi chamelion hijau.

"Tch. Orang idiot di sini bakal nambah lagi deh! Sekarang yang berisik lagi" omel Gokudera.

Tak lama setelah itu, terdengar suara keras dari luar rumah Tsuna. Sampai seluruh orang yang di dalam rumah dapat mendengarnya.

Balik ke Memorinya Hibari... [Hibari POV]

Setelah pertemuan pertamaku dengan Tsunayoshi, anak itu masih saja tidak mau berbicara denganku. Walau tubuhnya sudah berhenti bergetar, ia hanya bersandar di tempat tidurnya tanpa mengeluarakan satu suara pun. Kali ini aku mulai terganggu dengan kedatangan perawat berisik yang merawat bocah kecil itu setiap setengah jam sekali.

"Bisakah kau berhenti masuk ke kamarku setiap sejengah jam sekali" akhirnya aku mengatakan sesuatu pada perawat itu. "Apakah Herbivore itu butuh di cek sebanyak itu?"

"Ini bukan hanya kamarmu Hibari-kun. Dan iya, Tsu-kun butuh perawatan sebanyak itu" jawab sang perawat terlihat kesal dengan pertanyaan yang keluar dari mulutku.

"Memang dia kenapa?" tanya diriku kesal.

"Dia jatuh dari pohon setelah ia menyelamatkan burung yang jatuh dari sangkarnya*" jawab perawat itu sambil memasukan obat ke mulut Tsunayoshi. "Kau merasa lebih baik Tsu-kun?" tanya sang perawat sambil tersenyum kearah Herbivore kecil itu. Dia hanya menjawabnya dengan mengagukkan kepala.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan datang lagi setengah jam lagi ya, sayang?" ujar sang perawat sambil keluar dari ruangan Kami. Setelah itu ruangan kami langung hening seketika, sampai aku pun dapat mendengar suara jam dinding berdetak. Lalu tiba – tiba pintu ruangan itu terbuka dan terlihat sesosok wanita muda dengan wajah berseri – seri memasuki ruangan itu dan langsung memeluk si herbivore. Siapa kira – kira wanita ini ya?

"Tsu-kun!" serunya sambil memeluk anak semata wayangnya dengan seerat - eratnya.

"M-m-a, a-a-ku ti-tidak bi-s-sa na-f-fas!" teriaknya dengan nafas tersenggal – senggal.

"Ah, maaf, Tsu-kun!" dengan segerah wanita itu melepaskan pelukanya dan menunjukan wajah hawatirnya. "Aku hanya sangat khawatir, Tsu-kun. Aku takut kehilangan kamu..." lanjutnya sambil terisak.

"Mama, jangan nagis... tar Tsu-kun juga ikut nangis" jawab si herbivore sambil ikut terisak.

"Baiklah, Tsu-kun" isakannya juga berhenti dan dia tersenyum manis. "Ara, Siapa ini? Teman sekamarmu, Tsu-kun?" ia berbalik tersenyum kearahku. Aku hanya besender saja di ranjang itu sambil mengeluarkan tatap kesal, karena wantia riang itu baru saja menggangu tidur siangnya. Mana ada yang tidak kesal kalau baru saja di ganggu dengan seorang yang baru saja pergi beberapa menit yang lalu langsung di ganggu lagi dengan wanita cengar – cengir tiba – tiba masuk mengganggu tidurnya lagi.

"Namaku Nana, mamanya Tsuna. Siapa namamu, nak?" tanyanya dengan senyumannya yang tidak hilang dari wajahnya.

"Kyouya Hibari" jawabku singkat.

"Oh, senang bertemu denganmu, Kyou-kun. Tolong jaga Tsu-kun baik – baik ya?" katanya lagi.

"Hn"

"Temanmu ini sangat baik ya, Tsu-kun?" ujar Nana-san dengan senyumannya yang masih menempel di wajahnya [OMG! Itu di bilang baik! Yang bener aja! Nana-san... polos banget]. Setelah perkenalan selesai, Nana-san mulai mulai bebicara tentang masa kecil si herbivore yang kadang mebuat wajahnya bocah itu memerah dan mencoba menghentikan wanita itu.

Setelah beberapa saat mengobrol, seorang perawat yang tadi datang untuk melakukan rutinitasnya. "Ah, Nyonya Sawada, selamat siang," sapanya. "Maaf sekali, waktu bekunjungnya sudah habis. Mungkin anda bisa mengunjunginya nanti malam lagi. Sekarang waktunya Tsu-kun untuk minum obat," dia mengalihkan perhatiannya ke herbivore itu yang kelihatannya tidak menyukai apa yang barusan perawat itu katakan. Wanita itu pun Bangun dari tempat duduknya dan memeluk anak semata wayangnya.

"Nah, Tsu-kun, sekarang mama pergi dulu ya. Kau di sini jadi anak baik,ya. Dengar apa yang dikatakan suster di sini, ya" katanya sambil tersenyum sedih.

"Ma, jangan tinggalin Tsu-kun"seru Tsunayoshi sambil menggenggam kain baju ibunya. "Tsu-kun, nanti mama kembail lagi koq"

"Janji?"

"Janji"

Dengan itu, Nana-san meninggalkan ruangan kami dan meninggalkan aku dan Tsunayoshi besama dengan perawat pengganggu itu. bagaimana denganku? Dari tadi aku hanya bersandar di ranjangku sendiri dan mencoba untuk berkonsentrasi ke buku yang sedang di bacaku, dengan drama yang berlebih di sekitarku.

Kediaman keluarga Sawada-Present time... [Normal POV]

"RYOHEI SASAGAWA TELAH HADIR DI SINI!" teriak seseorang dari luar rumah Tsuna.

"Wah itu cepat" gerutu Gokudera yang sedang berada di halaman rumah Tsuna bersama dengan yang lainnya.

"Yo, Senpai!" sapa Yamamoto dengan menunjukan seyuman khasnya.

"YO, YAMAMOTO! KEPALA GURITA!" sapa Ryohei sambil berteriak.

"KAU PANGGIL AKU APA, ?" teriak Gokudera kesal.

"KEPALA GURITA" teriak Ryohei membalas.

"Dasar, " balas Gokudera lagi.

"Cukup!" ujar Reborn setengah berteriak. "Boss kalian, sedang beristirahat, kalian semua malah berisik di sini!"

"Maafkan aku, Reborn-san/Sorry, deh/AKU MINTA MAAF SAMPAI KE EXTREM! [maksa baget ya...]" ucap mereka secara bersamaman.

Tiba – tiba mereka mendengar suara dari jendala kamar Tsuna, "Yamamoto? Gokudera? Onii-san?"

Kembali lagi ke memory Hibari... [Hibari POV]

Sudah beberapa hari herbivore itu berada di kamarku dan makin lama, makina banyak orang yang datang mengunjunginya. Walau perawat cerewet itu jarang datang karena dia bilang herbivore itu tidak butuh obat dalam jumlah banyak lagi.

Setelah semua herbivore penggangu itu pergi, aku memanggil herbivore itu. "Herbivore"

"H-hai kyou-nii?" itu respon yang kudapat.

"Bilang pada teman herbivoremu untuk jangan sering – sering datang kemari," ucapku dingin.

"Kenapa, Kyou-nii?" tanyanya dengan kepolosan super di mimik mukanya.

"Mereka menggagu," jawabku singkat.

"Dan satu lagi herbi–"

"Tsuna" potong si herbivore

"Huh?" tanyaku sambil menaikan salah satu alisku.

"Tsuna! itu namaku bukan Her...her...herr–" jawab herbivore kecil itu sambil mencari – cari kata yang tepat.

"Herbivore?"

"Iya itu! namaku bukan hebicor atau apalah! Namaku Tsuna!" jawabnya agak berani sekarang.

"Baiklah Tsuna...yoshi. Diam atau kugigit kau sampai mati"

"Hiiiiii–," sebelum dia melanjutkan mengeluarkan teriakan menyebalkan itu, ia segerah menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya dan masuk kedalam selimutnya untuk berlindung.

Sudah seminggu aku sekamar dengan Herbivore menyebalkan itu. Setidaknya sekarang di sudah lebih sibuk dengan terapi – terapi khususnya, dan berikan waktu tenang di kamarku untuk beberapa jam. Aku baru saja ingin kembali ke kamarku dari toilet. Sial! Kenapa kamar mandi di kamarku harus rusak, jadi aku harus keluar dari kamarku untuk pergi ke toilet saja. Merepotkan saja.

Saat aku sudah berada di depan pintu kamarku, tnpa ragu kubuka pintu itu lebar – lebar dan menemukan herbivore bodoh itu sedang berada di dekat jendela dengan setengah badannnya berada di luar. Kuperhatikan sebentar kelakuan bodohnya. Tiba – tiba herbivore itu kehilangan keseimbangannya. Dengan sergap aku berlari kearahnya, memeluknya dari belakang dan menariknya kedalam sampai tubuh kami berdua bertemu dengan lantai dingin di bawah kami.

"Sakit" bisikku kecil sambil meraba –raba bagian bawahku. Kumerasakan ada sesuatu yang bergetar hebat di atasku. Saat kulihat apa itu, aku menemukan herbivore menyebalkan itu sedang berada di pangkuanku dengan tubuh yang bergetar. Kutunggu sebentar sampai getaran di tubuhnya berhenti. Kupindahkan tubuh kecilnya dari pangguanku ke lantai terdekat.

"Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan! Kau mau bunuh diri ya?" omelku secara sepontan. Mendengar omelaku, herbivore itu langsung menangis kencang dan langsung memelukku dengan erat. Aku mencoba untuk mendorongnya untuk menjauh dari tubuhku, tapi sesuatu di dalam diriku menolaknya. Jadi kubiarkan anak itu mengagis sebentar di dadaku.

"A-a-ku t-ta-kut!" ucap herbivore itu yang masih saja menagis tanpa henti. Tanpa sadar, tangan kananku mulai membelai kepala herbivore itu. aku sendiri kaget, tapi sudah terlanjur dan sepertinya herbivore itu menjadi lebih tenang.

"Sudah-sudah. Jangan nagis lagi. Kau ga kenapa – napa kan?" tanyaku dengan nada lebih lembut. Herbivore itu hanya menganggukan kepalanya dan berhenti menangis. Tunggu. Aku memperlakukan herbivore ini dengan... lembut? Baru pertama kali aku lembut pada seseorang. Aneh.

Kualihkan pikiranku kembali ke herbivore itu. ia mulai menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum seperti semuanya baik – baik saja. "Makasih, Kyou-nii!" ucapnya sambil tersenyum cerah. Dengan itu, ia mencoba berdiri dengan bantuan diding di dekatnya dan mulai melangkah untuk mengambil tongkatnya. Entah kenapa badanku bergerak sendiri menuju herbivore kecil itu dan membantunya kembali ke ranjangnya. Aku merasa kalau herbivore itu sedikit terkejut dengan bantuanku yang datang secara tiba – tiba. Aku sendiri kaget. Aku? Membantu seorang herbivore? Sepertinya aku sakit dan butuh perawatan lanjut.

Sudah sekitar seminggu lebih herbivore itu di rawat di rumah sakit ini dan besok, dia sudah di ijinkan untuk pulang. Tapi dari raut wajahnya terlihat bahwa ia masih ingin tinggal di sini. Herbivore ini memang aneh. Kenapa dia masih mau tinggal di rumah sakit membosankan ini. Aneh – aneh saja.

"Hey, herbivore. Kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanyaku dengan nada ga sabaran.

"Um... aku ga mau pisah ma Kyou-nii!" jawabnya setengah menangis. Aku menghela nafas dan beranjak keluar dari ranjangku. Aku menaruh tangan kananku di atas rambut coklatnya dan mulai mengusap – usap rambutnya yang lembut.

"Bodoh" ucapku kecil. "Kita kan tinggal di kota yang sama. Kita bisa ketemuan kapan aja!" Jujur saja, aku juga tidak mau berpisah dengan herbivore ini. Entah kenapa, aku jadi merasa melekat dengannya.

"Baiklah... besok kau temui aku di taman jam 4. Kau tau yang mana kan, herbivore?" ucapku menyerah. Herbivore itu dengan senangnya mengangukkan kepalanya dengan senang dan langsung memeluk badanku. Aku hanya terenyum kecil memperhatikan tinggkah laku herbivore kecil ini. Dengan imutnya, herbivore itu mengangukan kepalanya tanda setuju dan masuk kedalam selimutnya dan tertidur. Aku pun kembali ke ranjangku sendiri sambil memperhatikan herbivore kecil di ranjang seberang tidur dengan damai.

Sudah lebih dari seminggu aku tinggal di rumah sakit bersama hebivore itu, sekarang aku kembali ke 'pekerjaanku' untuk menlindungi kota ini lagi. Pertama – tama aku harus mencheck keamanan di sekolahku. SD Namimori. Setiap pagi aku menunggu di depan pintu gerbang sekolah itu and 'menghukum' setiap anak yang datang terlambat. Hari ini, hari pertama sekolah setelah libur kenaikan kelas. Banyak juga murid baru yang berdatangan.

Tepat 1 menit sebelum bel sekolah berbunyi, ada seorang herbivore yang berlari – lari ke arah pintu gerbang sambil berteriak kalau dia akan telat. Saat ingin kulihat siapa itu, salah satu anak buahku memanggulku. Dengan perasaan tidak rela, aku membalik badanku dan kembali ke ruanganku.

Seharian suntuk aku terjebak di ruanganku. Banyak sekali tumpukan kertas yang ada di atas meja kayu berwarna coklat tua itu. Walau pun hampir semua bukan pekerjaanku, tapi aku terus memaksa guru – guru untuk menyerahkan semua data tentang murid – murid baru di sekolah. Tak kusangka kalau jadinya akan seberantakan ini. Apakah mereka benar – benar guru? Bagaimana hasil pekerjaan mereka bisa seberantakan ini? Bahkan mereka menyerahkan data – data ini secara tak urut. Setelah semuanya selesai akan kugigit mereka satu – satu sampai mati.

Kulihat jam dinding yang berada tepat di atas pintu keluar. Jarum pendek sudah mau mengarah ke angka 4 sedangkan jamur panjangnya sudah berada di angka 9. '15 menit lagi ya?' pikirku. Aku langsung menghentikan semua pekerjaanku dan membersikan semua pekerjaanku. Kutinggalkan beberapa tumpukan dokumen – dokumen yang belum sempat kucek satu – satu di atas mejaku. Saat aku sudah berada di pintu gerbang sekolah aku langsung melangkahkan kakiku ke arah taman di mana aku berjanji untuk bertemu dengan herbivore itu.

Saat aku sudah sampai di taman yang kumaksud, aku tidak menemukan herbivore itu dimana –mana. Kulihat jam besar yang berada di tengah – tengah taman itu. Waktu masih menunjukan 4 kurang 2 menit. Berati masih 2 menit lagi waktu untuk herbivore itu untuk datang ke sini. Jangan sampai dia telat. Aku paling benci orang yang tidak disiplin.

Tak lama aku mendengar suara langkah kaki yang sedang berlari mendekat ke tempat dimana aku sedang bersandah. Seorang bocah kecil berambut coklat dan bermata karamel sedang berlari dengan tergesah – gesah kearahku. Dia lah orang yang dari 2 menit yang lalu kutunggu – tunggu.

"A-a-ku ti-da-k tel-at k-k-an, Ky-ou-nii?" tanyanya dengan nafas terenggal –enggal. Aku hanya menjawab dengan "hn" supaya singkat.

"Sekarang kau sudah datang... kau mau ngapain sekarang?" tanyaku tanpa basa – basi.

"Uhn..." tiba – tiba terdengar suara mobil es krim lewat. Wajah herbivore yang tadinya bingung berubah menjadi bersemangat. "Aku mau es krim, Kyou-nii!" sambungnya mantap.

"Baiklah, ayo" ajakku. Kami berdua menghampiri mobil es krim itu dan sukses untuk membuat pedagang es krim itu terkejut melihat kedatanganku.

"Se-selamat da-datang, Hibari-san! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pedagang itu takut – takut.

"Kau mau es krim apa, Hebivore?" tanyaku ke herbivore kecil di sampingku tanpa meperdulikan pedagang es krim yang ketakutan.

"Umm... aku mau vanili saja, Kyou-nii!" jawabnya bersemangat.

"Baiklah," aku berbalik kearah pedagang eskrim itu. "1 Vanila dan 1 kopi" ucapku kepada sang pedagang.

"B-baiklah!" jawab pedagang itu masih dengan nada takut – takut dan membalikan tubuhnya ke arah dalam mobilnya. Tak lama, ia membalik badanya sambil memegang 2 cup es krim dangan dua rasa yang berbeda. Aku mengeluarkan beberapa uang receh dan menukarnya dengan es krim yang berada di tangan sang pedagang. Aku memberikan es krim rasa vanila ke Hebivore di sebelahku, sementara aku mulai menyendok es krimku sendiri. Lalu aku menarik tangan herbivore itu ke sebuah bangku kayu dan duduk di sana sambil memandang langit yang mulai berubah warna.

"Kyou-nii!" hebivere itu tiba – tiba memanggilku.

"Hn" jawabku singkat.

"Kyou-nii tau tidak? Aku baru masuk sekolah hari ini, loh!" ceritanya panjang lebar.

"Hn"

"Aku hampir saja telat tadi pagi! Untungnya tidak!" tiba – tiba dia terdiam dan menudukan kepalanya.

"Ada apa?" tanyaku sedikit cemas.

"Tidak... hanya saja... semua teman di kelasku memanggilku dengan sebutan yang aneh!" jawabnya lesu.

"Panggilan seperti apa?" tanyaku penasaran.

"Dame-Tsuna! Padahal namaku bukan itu!" jawabnya sekarang menggunakan nada kesal.

"Acuhkan saja mereka. Mereka hanya herbivore – hebivore pengganggu" ucapku tenang.

"Kau benar, Kyou-nii! Aku acuhkan saja!" ucapnya dengan mata berbinar – binar. "Tapi... Kyou-nii... acuhkan itu apa ya?"

"Kau ini. Belum tau artinya langsung saja setuju"

"Hehe... soalnya itu kan yang di katakan Kyou-nii! Jadi aku percaya saja! Aku kan percaya dengan Kyou-nii!" jawabnya sambil tersenyum manis. Dengan senyuman kecil, aku menjelaskan artinya sampai ia mengerti.

Karena hari makin malam, aku sudahkan dulu pertemuanku dengannya. Kusuruh Herbivore itu pulang dan aku sendiri kempali kerumahku.

Beberapa hari setelah itu, kami berjani untuk bertemu setiap hari di tempat dan waktu yang sama. Dan hari ini saat aku sedang memantau keadaan sekolah, aku mendengan suara tangisan seorang bocah. Semakin medekat aku melangkah kearah asal muasal suara tersebut, semakin terdengar jelas suara tersebut.

"Kumohon...hiks...jangan sakitin Tsu-kun! Tsu-kun ga salah!" tangis sang si pemilik suara tersebut.

Aku melihat 4 murid kelas 6 yang mengepung sesuatu di tengah – tengah mereka. "Dasar Hebivore – herbivore rendahan. Brani – braninya menindas adik kelas. Kugigit kalian sampai mati" ucapku sambil mengeluarkan sepasang tonfa dari balik bajuku. 4 herbivore itu langsung menunjukan wajah takut dan segera lari terbirit – birit meninggalkan buruan mereka yang sedang menangis.

Kupanggil herbivore itu, "Hebivore..." herbivore itu mengdongakan kepalanya dan memandang kearahku dengan mata yang terus mencucurkan air mata. Tak kusangka herbivore yang baru saja di jahili mereka itu Tsunayoshi. Mereka akan benar – benar kugigit sampai mati.

"Kyou-nii?" panggilnya.

"Hn?"

"Kau sekolah disini juga ya?" dia mulai menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum.

"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanyaku langsung.

"Huh?" tanyanya bingung.

"Apa yang hebivore – herbivore lakukan tadi?" tanyaku lagi.

"Me-mereka mau makan siangku... tapi aku lapar jadi aku ga kasih ke mereka. Mereka malah mukulin aku" ceritanya panjang lebar.

"Akan kugigit mereka sampai mati" ucapku sambil membalikan badanku untuk mengejar herbivore – herbivore itu. Tapi sepasang tangan kecil menghentikanku.

"Jangan…" bisik si herbivore itu kecil. "Jangan sakitin mereka..."

"Kenapa? Mereka kan sudah menyakitimu?" tanyaku bingung.

"A-aku ga mau mereka terluka..." jawab si herbivore. Aku hanya menghela nafas dan membiarkan mangsaku pergi begitu saja.

"Dasar herbivore bodoh!" dengan ituaku pergi meninggalkan herbivore itu dan kembali ke ruanganku. Tidakku sangka kalau hebivore itu akan mengikutiku. Kudiamkan saja sampai kami sampai di ruanganku.

Saatku buka pintunya raut wajah si herbivore langsung berubah menjadi kagum.

"Wah.. ada juga ruangan sebagus ini di sekolah! Lebih bagus dari ruangan yang lain..." ucapnya sambil terkagum – kagum. Aku menghiraukan katakanya dan menuju sebuah lemari dimana aku menyimpan kotak P3K. Kukeluarkan kotak berwarna putih itu dan menaruhnya di atas meja.

"Oi, herbivore! Sini," kupanggil si herbivore dan kusuruh dia duduk di sebelahku. Dia mengangukan kepalanya dan menuruti perintahku. Kukeluarkan beberapa kapas, segulung perban and sebotol obat antiseptik. Mulai ku obati lukanya satu persatu. Setelah selesai, kulihat herbivore itu sudah tertidur pulas di sofa. Dengan perlahan – lahan kubuka sepatunya dan menaikan kakinya ke atas sofa dan membetulkan postur tidurnya. Kukembali beranjak ke lempari kayu untuk mengembalikan kotak P3K dan juga untuk mengambil sebehelai selimut. Selimut yang ada di tanganku kugunakan untuk menyelimuti tubuh herbivore yang sedang tertidur nyenyak. Kuperhatikan, wajahnya terlihat damai tanpa beban. Takku sadari bahwa aku mulai tertarik pada herbivore kecil nan imut di hadapanku.

Setelah selasai mengenakan pakaian yang layak, aku langsung menuruni tangga rumahku dann berjalan menuju pintu keluar sebelum sebuah suara menghentikan langkahku.

"Mau kemana kau?"

"Aku ingin bertemu dengan teman" jawabku sopan.

"Dengan bocah Sawada itu lagi?" tanya pemilik suara itu lagi.

"Bagaimana ayah tau?" tanyaku kaget.

"Jangan remehkan aku, nak. Aku bisa dapat informasi sekecil itu dengan mudah" jawab ayahku dengan nada meremehkan. "Kau beritahu bocah itu menjauh darimu dan aku tidak mau berdekatan dengan bocah itu" sambungnya.

"Kenapa?"

"Kau belum cukup umur untuk mengetahuinya. Jadilah anak baik dan turuti kata – kata ayahmu ini!" dengan itu ayahku pergi keruang tamu dan membolak – bolak koran yang sedang ia baca.

Tanpa memperdulikan ucapan ayahku tadi, aku berjalan ke arah taman dimana herbivore itu sedang menugguku. Hari ini aku akan mengajaknya pergi ke taman bermain yang baru saja buka beberapa minggu yang lalu. Karena udara hari ini cukup dingin, si herbivore mengenakan sehelai jaket yang agak titip sementara aku mengenakan sehelai kain [namanya scarf...lupa indonya apa...] yang melilit leherku. Setelah kami saling bercengkraman, kami langsung menuju taman bermain yang baru itu.

Gw males nulis bag ini... jadi pada pake imajinasi masing – masing... bayangin aja Tsuna and Hibari yang masih kecil pergi ke tempat kaya ancol...

Setelah kami puas bermain, kami memutuskan untuk pulang. Hari pun sudah menjadi sore menjelang malam. Aku pun memutuskan untuk mengantar herbivore itu pulang. Di tengah perjalanan aku mulai merasakan bahwa tubuh herbivore itu bergetar hebat dinginya udara luar. Tanpa basa – basi, aku langsung melepas kain yang dari tadi melilit leherku dan meleingkarkannya ke leher kecilnya. Dia langsung kaget dan memberikanku pandangan bingung.

"Pakai saja" perintahku.

"Trima kasih" bisiknya pelan.

Kami pun melanjukan perjalanan kami tanpa mengatakan sepatah kata pun hingga kami sampai ke tempat tujuan kami. Rumah si Hebivore. Herbivore itu memelukku sebentar sambil mengucapkan terima kasih dan lari ke arah pintu rumahnya. Melihat si herbivore itu sudah menghilang di balik pintu, aku pun pulang.

Aku baru saja pulang dari pertemuanku dengan Herbivore. Aku langsung di sambut dengan tatapan kesal ayahku.

"Dari mana saja kau?" tanyanya untuk sekedar berbasa – basi.

"Jalan – jalan dengan teman" jawabku singkat.

"Sudah kubilang untuk menejauhi bocah Sawada itu" aku hanya mengebaikan kata – katanya dan berjalan menaiki anak tangga di depanku. Kudengar ayahku menghela nafas. "Kita besok akan berangkat ke Itali. Kita berangkat pagi – pagi. Pastikan kau sudah siap untuk besok. Untuk barang – barangmu, semuanya sudah di bereskan" kata ayahku.

Mendengar kata – kata ayahku, mataku langsung terbuka lebar. 'Itali? Besok?'

"Berapa lama kita akan pergi?" tanyaku dingin.

"Kita akan tinggal di sana" dengan itu ayahku langsung masuk ke kamarnya sendiri meniggalkan aku sendiri di tangga dengan ekspresi wajah yang tidak jelas.

'Kita akan pindah ke Itali? Bagaimana dengan Herbivore itu?' itulah pikiranku semalaman suntuk hingga aku pun terlelap terbawa mimpi.

Taman - Past [Normal POV]

Seorang anak kecil berumur sekitar 5 -6 tahun dengan ciri – ciri berambut coklat dan bermata karamel, sedang duduk di atas bangku ayunan sambil menuggu sesorang yang tidak akan datang. Sudah 2 jam Tsuna menuggu 'Kyou-nii-nya' yang belum kunjung datang. Sementara pikiranya mengatakan bahwa 'Kyou-nii-nya' akan datang. Dia juga ingin mengembalikan kain milik Hibari yang waktu itu ia pinjam.

Beberapa saat kemudia, beberapa tetesan air jatuh dari langit. Semakin lama semakin deras saja hujan yang mengguyur daerah tersebut. Tsuna pun memutuskan untuk berteduh di bawah plosotan di taman tersebut. Hari yang tadinya siang berubah menjadi sore dan akhirnya malam. Tapi hujan pun tak kunjung berhenti hanya semakin deras turunya.

'Kenapa Kyou-nii ga datang – datang?' gunggamnya dalam hati.

Udara sekitarnya juga semakin dingin. Ia ingin pulang tapi rasa percayanya dan hujan yang turun dengan deras mencegahnya pergi dari tempat tersebut. Tak lama, matanya mulai terasa berat dan tubuhnya merasakan kantuk yang luar biasa. Beberapa detik kemudian, ia pun sudah tertidur lelap si bawah plosotan dengan hujan yang masih belum berhenti.

Sang matahari pun akhirnya mucul setelah semalaman mengghilang. Terlihat sepasang suami istri dengan wajah khwatir, sedang mencari sesuatu. Saat mereka sampai di taman di mana Tsuna tertidur, mereka langsung panik dan berlari menuju bocah itu. Dirasakan kening sang anak dan mendapatkan temperaturnya sangat tinggi. Tanpa pikir panjang, mereka langsung melarikan anak semata wayang mereka ke rumah sakit terdekat untuk di periksa.

Semenjak hari itu, Tsuna kehilangan ingatanya tentang Kyou-nii-nya dan untuk kain pemberian Hibari, di simpan rapi di lemari Tsuna

Dah! Slesai juga! Panjangnya! Ampe 11 hal lagi! Gw ngerjain PR aja ga pernah sepanjang ini! [kecuali Copy-paste dari Wiki] dah brapa lama ga update ya?

Tsuna: nih! *ngasih kalender*

*Nerima kalender* thank kyu! *ngeliat kalender ambil ngitung*

.

.

.

OMFG! Dah 4 bln ya! Lama bener!

Tsuna: omfg? Paan tuh?

Hibari: *Sweat-drop* kamu ga bakal mau tau...

Tsuna:Hmm... *lg mikir*

Sorry deh! Pasti nuggunya lama! Heeheheehe... ada tembok gede beget yang ngalangin bwat ngeluarin mood buat ngetik sih... jadi ya... heheheee...

Mudah"an puas ma chap ini deh! [mikir" kayanya gendernya musti di ganti jd Angst Humor dah ga cocok...]

Jangan lupa Reviewnya loh! Ciao~ ciao~