My Senior, My Brother, My Love
Rated: T
Cast: Kim Ryeowook (yeoja)
Kim Jongwoon (Yesung)
Kim Kibum
Kim Youngwoon (Kangin)
Kim Heechul
Kim Sungjin (appa)
Kim Heejin (umma)
Lee Hyukjae (yeoja)
Zhoumi
Lee Donghae
Pairing: YeWook
Warning: Typo(s)/miss typo(s), EYD berantakan, alur ga jelas.
Don't like don't read!
Enjoy~
.
Chapter 7
.
"Yesung hyung, kau dipanggil umma dan appa…"
Ucapan Kibum membuat Yesung menghentikan seluruh kegiatannya yang sedang memeriksa berkas-berkas OSIS. "Ada apa?"
Kibum mengedikkan bahunya. "Nggak tahu. Mungkin masalahmu dengan Wookie noona…"
Yesung menghembuskan napas. "Aku bereskan ini dulu. Nanti aku ke bawah…" namja berkepala besar itu merapikan semua file-file yang berserakan di atas meja belajarnya.
Saat ia turun menuju ruang tengah, dilihatnya kedua orang tuanya tengah menatapnya. Yesung duduk di salah satu sofa kosong yang ada di situ. "Umma dan appa mau bicara apa?"
Heejin menghela napas. "Kami akan tetap menjodohkanmu dengan Yoona…"
Yesung membelalakkan matanya mendengar perkataan ummanya. "Sudah ku bilang aku nggak mau, umma!"
"Karena Wookie? Sadarlah, nak… Wookie itu adikmu! Dia juga mendukung kami untuk menjodohkanmu dengan Yoona, kan?" tanya Heejin mengingat tanggapan Ryeowook kemarin mengenai perjodohan itu.
"Lagipula Wookie hanya menganggapmu sebagai kakaknya…" tambah Sungjin.
Yesung berdiri. "Akan ku buat Wookie mencintaiku. Aku tahu kalau aku ini egois, tapi ini caraku untuk mendapatkan dan mempertahankannya…" ia segera kembali ke kamarnya. Heejin dan Sungjin masih mendengar suara bantingan pintu dari arah kamar Yesung. Keduanya menghela napas. "Sepertinya Yesung benar-benar mencintai Wookie…" gumam Sungjin.
"Tapi Wookie tetap anak kita!" seru Heejin. Suaranya terdengar serak. Yeoja itu sama sekali tak menyangka keputusannya mengadopsi Ryeowook akan menjadi seperti ini.
.
.
"Wookie, hari ini jadi main ke rumahku?" Hyukkie menghampiri Ryeowook yang masih berkutat dengan lokernya.
"Mian, Hyukkie… tadi umma memintaku dan yang lain agar cepat pulang. Acara ke rumahmu di tunda dulu, ya?"
Hyukkie mengangguk maklum. "Nggak apa-apa, kok…"
"Bocah mungil!"
Ryeowook menengok ke belakang melihat siapa yang memanggilnya seperti itu. Matanya mendelik melihat sesosok namja yang berjalan kearahnya seraya tersenyum lebar.
"Kau bilang apa tadi, anak ikan?!" Ryeowook menginjak kaki namja yang berdiri di depannya.
"Aw!"
Hyukkie yang melihat kearah namja yang dipanggil anak ikan oleh Ryeowook tadi sontak wajahnya memerah. Ryeowook tersenyum jahil melihatnya. "Hae, kenalkan ini temanku, Hyukkie…"
Donghae tersenyum menatap Hyukkie. Ia langsung menyalami Hyukkie. "Lee Donghae imnida…"
"Lee… Lee Hyukjae imnida…" ucap Hyukkie pelan. Wajahnya semakin memerah. Donghae yang melihatnya meraba kening dan pipi Hyukkie. "Aigoo.. wajahmu merah sekali! Kau sakit?"
Hyukkie menggeleng. "A-aku nggak apa-apa…"
"Ayo ku antar ke UKS!" Donghae menarik tangan Hyukkie yang memang dari tadi belum dilepasnya. Hyukkie gelagapan dan berusaha menahan Donghae yang menariknya. "Aku nggak sakit, kok!"
"Tapi wajahmu merah. Kau pasti demam…"
"Aku nggak sakit!"
"Pasti sakit!"
Ryeowook mati-matian menahan tawa melihat perdebatan dua orang di depannya. Ia berjongkok dan menutup wajahnya dengan buku yang dibawanya. Tubuhnya bergetar hebat karena terus berusaha menahan tawa.
"Sudahlah… Hyukkie itu nggak sakit, kok. Dia cuma kecapekan aja…" Ryeowook menepuk bahu Donghae.
Donghae hanya ber-oh singkat. Lalu menatap Hyukkie lagi. "Ngomong-ngomong marga kita sama. Siapa tahu kita berjodoh, ya?" tanya Donghae blak-blakan. Tahukan ia kalau Hyukkie sedang berusaha agar tak terkena serangan jantung mendadak? Ryeowook nyengir. Temannya yang satu ini memang suka blak-blakan kalau bicara. Jadi ia sudah memakluminya, tapi untuk Hyukkie?
Donghae menepuk dahinya sendiri. "Ah! Kau ini yang biasa menonton latihan dan pertandingan klub basket, kan? Aku juga anak klub basket, lho…" Donghae menepuk dadanya bangga.
'Kami juga sudah tahu. Hyukkie kan sengaja menonton untuk melihatmu, Hae!' batin Ryeowook.
"Hari ini kami ada latihan. Ayo ikut aku ke lapangan!" tanpa persetujuan dari Hyukkie, namja ikan itu langsung menarik Hyukkie menuju lapangan basket. Hyukkie menatap Ryeowook panik. Tapi yang ditatap hanya tertawa sambil melambaikan tangannya. "Yang mesra, yaa~!"
Setelah itu Ryeowook berjalan menuju perpustakaan. Ia masih harus menunggu Kangin yang mengikuti ekskul beladiri. Yeoja itu memilih meja yang ada di pojok ruangan. Di sana ada jendela besar yang terhubung langsung ke lapangan basket. Masih bisa dilihatnya Hyukkie yang digandeng Donghae menuju pinggir lapangan. Biasanya Hyukkie selalu menempati bangku penonton terdepan untuk melihat sang pujaan hati, tapi sekarang dia bisa melihatnya dengan jarak yang lebih dekat lagi.
"Waah! Sekarang Hae sudah punya pacar!" seru salah seorang anak klub basket. Ryeowook terkikik geli melihat Hyukkie yang menundukkan kepalanya malu.
"Hyukkie!"
Hyukkie mendongakkan kepalanya mendengar suara Ryeowook yang memanggilnya dari perpustakaan di lantai dua. Ia menatap sahabat mungilnya dengan tatapan memelas seakan-akan berkata 'tolongin, dong! bisa-bisa aku beneran kena serangan jantung, nih!'
Ryeowook meleletkan lidahnya dan kembali tertawa lepas. Rasanya sudah lama ia tak tertawa seperti ini. Setelah puas tertawa, Ryeowook mengatur napasnya dan tersenyum dengan masih melihat kearah lapangan basket.
"Kau terlihat lebih cantik saat tertawa dan tersenyum seperti itu…"
Ryeowook menoleh ke belakang kaget. Yesusng berdiri tepat di belakangnya sambil tersenyum. Dan tanpa aba-aba ia langsung mencium Ryeowook lembut. Yeoja itu diam. Ia sangat ingin menolaknya tapi entah kenapa tubuhnya serasa membeku dan ia pun merasa nyaman dengan ciuman itu.
Yesung tersenyum di sela-sela ciumannya ketika tahu Ryeowook sama sekali tak memberikan perlawanan seperti kemarin meskipun Ryeowook juga tak membalas ciumannya. Yesung melepas ciumannya saat merasa Ryeowook kekurangan pasokan oksigen. Namja tampan itu memeluk tubuh mungil Ryeowook dan menengelamkan wajahnya di leher Ryeowook. Menghirup wangi yang sangat khas yang menguar dari tubuh yeoja yang dicintainya itu.
Ryeowook yang biasanya tak merasakan apa-apa saat Yesung memeluknya kini merasa jantungnya berdegup kencang. "Lepaskan, oppa…" ia berusaha mendorong Yesung menjauh tapi tak berhasil.
"Apa kau benar-benar hanya menganggapku sebagai kakak?"
Ryeowook mengangguk pelan. "Sampai kapanpun oppa tetap kakakku…" entah kenapa Ryeowook sedikit merasa tak rela saat mengucapkannya. 'Apa mungkin aku juga mencintai Yesung oppa melebihi kakak? Tapi itu nggak mungkin!'
"Apa aku sama sekali tak bisa memilikimu?"
Kali ini Ryeowook diam. Suasana hening beberapa saat sampai akhirnya ponsel Ryeowook berdering. "Kangin oppa sudah selesai. A-ayo pulang…" Ryeowook melepas pelukan Yesung dan berjalan mendahuluinya. Yesung hanya menatapnya sendu.
.
.
.
"Sepertinya ada tamu, ya?" tanya Kibum saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Yesung yang ikut melihatnya tiba-tiba merasakan hal yang tak enak.
Dan benar saja, di ruang tamu sudah ada orang tuanya yang sedang mengobrol dengan tiga orang tamunya dan Heechul yang lebih memilih diam. Si sulung Kim itu menatap Yesung dan Ryeowook bergantian.
"Ah, kalian sudah pulang? Ayo duduk!"
Ryeowook menatap Yoona yang tersenyum kearahnya. Langsung dihampirinya gadis cantik itu.
"Wookie! Aku kangen!" Yoona berdiri dan memeluk Ryeowook.
Ryeowook tersenyum lebar kearah Yoona. "Apa kabar?"
"Baik!"
"Mau ke kamarku?" ajak Ryeowook. Yoona mengangguk semangat. Sejujurnya ia bosan mendengar obrolan orang tuanya dengan keluarga Kim.
"Permisi ahjumma, ahjussi…" Yoona membungkuk hormat kearah nyonya dan tuan Kim. Heejin mengangguk dan tersenyum. Yoona beralih menatap yang lain. Saat menatap Yesung, pipinya sedikit merona.
Setelah kedua remaja itu pergi, Sungjin berdehem sebelum memulai pembicaraan. "Anak-anak, kenalkan ini tuan dan nyonya Im, sahabat sekaligus rekan bisnis appa."
Keempat Kim bersaudara itu mengangguk sopan kearah tamu-tamu appa mereka.
"Yesung…"
Panggilan appa membuat Yesung tegang.
"Nae?"
"Kami dan keluarga Im sepakat untuk menjodohkanmu dengan Yoona."
Bagai tersambar petir di siang bolong ia mendengarnya. 'Jadi umma dan appa tetap ngotot menjodohkanku dengan yeoja itu?!'
Yesung hendak mengeluarkan protes namun Heejin keburu menyela. "Yoona sudah setuju. Pesta pertunangan kalian akan dilaksanakan seminggu dari sekarang…"
"MWO?‼" ketiga namja lainnya berteriak kaget. Yesung berdiri setelah membanting tasnya. Ia menatap orang tuanya marah. "Yoona mungkin sudah setuju. Tapi sampai kapanpun aku nggak akan pernah setuju‼" setelah itu ia berlari ke kamarnya.
"Yesung‼" teriak Heejin.
"Maafkan sifat anak kami…" ucap Sungjin merasa tak enak. Dua orang di depannya tersenyum maklum. "Mungkin dia sudah memiliki kekasih atau gadis yang disukainya…" ucap nyonya Im.
"Tapi dia menyukai gadis yang salah…" gumam Sungjin pelan namun Heechul masih bisa mendengarnya.
"Bukan perasaannya yang salah. Tapi umma dan appa yang egois dan tak mau memahami perasaannya…" ucap Heechul ketus.
BLAM!
Lagi-lagi Yesung membanting pintu kamarnya. Ryeowook yang kaget bergegas menghampiri kakaknya itu.
"Oppa..?"
Dilihatnya Yesung yang berbaring tanpa melepas sepatu dan seragamnya. Ryeowook berjalan menghampiri Yesung dan duduk di tepi ranjangnya. "Gwaenchanayo?"
Yesung membuka matanya dan menatap Ryeowook. Tatapannya dipenuhi kesedihan dan itu membuat Ryeowook ikut merasa sedih. "Ada apa, oppa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Ryeowook, Yesung menarik yeoja mungil itu sampai jatuh berbaring lalu memeluknya erat. "Temani aku tidur…" ujar Yesung pelan dan menenggelamkan wajahnya di leher Ryeowook seperti saat di perpustakaan tadi.
Ryeowook merasa lehernya basah. Satu hal yang ia tahu, Yesung menangis. Ini kedua kalinya Yesung menangis di hadapan Ryeowook. Yeoja itu berbaring miring menghadap Yesung dan ganti memeluknya.
"Apa aku salah kalau mencintaimu? Apa ini termasuk cinta terlarang?" tanya Yesung dalam tangisnya. suaranya terdengar parau. Ryeowook diam.
"Aku tahu aku egois karena mementingkan perasaanku sendiri. Tapi aku nggak bisa menahannya lagi…" Yesung semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Ryeowook.
"Se-sejak kapan oppa… menyukaiku?" tanya Ryeowook gugup.
"Sejak awal kamu jadi murid baru di sekolah kita. Ku kira kamu sama seperti yeoja-yeoja lainnya. Berisik, kecentilan, banyak tingkah, dan lain-lain. Tapi saat aku tahu sifatmu yang sebenarnya, aku langsung jatuh hati. Hampir setahun ini aku menutupi perasaanku sampai akhirnya umma mengadopsimu. Aku benar-benar merasa kehilangan harapan…"
Hening.
Ryeowook masih mengusap rambut Yesung sayang. Air matanya mengalir. Siapa sangka orang yang sangat dikaguminya itu ternyata menyukainya. Ah, bukan menyukai, tapi mencintainya.
Tanpa mereka berdua sadari, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka dan mendengar semua yang Yesung katakan. Salahkan Ryeowook yang tak menutup pintu.
"Kasihan Yesung…" gumam Heechul.
"Kita kembali ke kamar saja… Aku nggak tega melihat mereka…" Kangin mendahului yang lain berjalan menuju kamarnya Heechul dan Kibum pun menyusul. Tinggal seorang yang masih berdiri di sana. Yoona. Setelah yakin tak ada orang lagi, ia mulai menangis. Sejujurnya ia sangat menyukai Yesung dan berharap perjodohan ini dapat terlaksana. Tapi harapannya sampai kapan pun tak akan pernah terkabul.
Besoknya rumah keluarga Kim gempar. Yesung dan Ryeowook menghilang dan mereka hanya menemukan selembar kertas yang berisikan tulisan tangan Yesung.
"Umma, appa… Aku minta maaf kalau sudah membuat kalian semua sedih. Selama ini aku selalu menuruti apapun keinginan kalian termasuk mengangkat Wookie menjadi bagian dari keluarga kita. Tapi sekali ini saja, aku ingin menentukan pasanganku sendiri. Aku tak menyukai yeoja bernama Yoona itu karena aku hanya mencintai Wookie dan sampai kapan pun perasaanku nggak akan berubah. Dan maaf kalau aku juga 'menculik' Wookie untuk ikut pergi bersamaku. Saranghae…"
_Yesung_
"Ini semua salah umma dan appa!"
Heejin terdiam mendengar teriakan anak sulungnya itu. "Seandainya umma dan appa nggak memaksa untuk menjodohkannya dengan Yoona pasti mereka nggak akan pergi! Kalian memang egois!"
Kibum berusaha menenangkan Heechul. Ia menatap Kangin seolah meminta tolong. Yang ditatap menggelengkan kepalanya. "Aku juga sependapat dengan Heechul hyung…" ucapannya sukses menohok kedua orang tuanya.
.
.
.
"Gomawo atas tumpangannya, Hyukkie…"
"Sama-sama. Lagipula aku kan jadi punya teman ngobrol. Tinggal sendiri di rumah besar seperti ini membuatku sangat kesepian. Setiap hari yang kutemui hanya para pelayan saja dan mereka hanya bekerja dari jam delapan pagi sampai jam lima sore…" Hyukkie duduk sambil memeluk boneka monyetnya (#author: monyet meluk monyet?). Ia sudah mendengar semuanya dari Yesung.
.
Flashback
"Lho? Memangnya ada apa oppa dan Wookie mau menginap di rumahku?" tanya Hyukkie heran.
"Nanti saja ku jelaskan. Kami sedang ada masalah besar dan ini berhubungan denganku dan Wookie. Jadi boleh nggak kami menginap?"
"Ya, boleh. Biar ku jemput, deh. Kalian tunggu saja di sepan rumah kalian…" setelah itu Hyukkie memutuskan sambungan telepon.
Yesung segera memasukkan baju-baju seadanya ke dalam tas ransel merah kesayangannya. Lalu ia meminta Ryeowook untuk ikut dengannya. Setelah berpikir panjang dan di desak oleh Yesung, ia setuju dan ikut pergi bersama Yesung. Ia pun hanya membawa pakaian seadanya. Dalam hatinya, Ia sama sekali tak mau jauh dari Yesung makanya ia memutuskan untuk ikut.
"Kita mau tinggal dimana, oppa?"
"Aku sudah menelpon Hyukkie dan ia bersedia memberi kita tumpangan. Sekarang dia akan menjemput kita. Ayo pergi."
Flashback end
.
Saat ini Ryeowook dan Yesung memilih tinggal di rumah Hyukkie dan membantu usaha cafe dan restoran milik keluarga Hyukkie. Lumayan untuk penghasilan kecil-kecilan. Dan ternyata Yesung memilik tabungan pribadi hasil bekerja sambilan di beberapa tempat tanpa sepengetahuan orang tua dan saudara-saudaranya.
"Ngomong-ngomong kemarin bagaimana?" tanya Ryeowook penasaran. Wajah Hyukkie memerah. "Aigoo.. aku jadi malu kalau mengingatnya…" Hyukkie menutup wajahnya dengan bonekanya.
"Waktu teman-temannya bilang aku ini pacarnya Donghae, dia malah senyum-senyum. Terus pas pulang aku di traktir eskrim…"
"So sweet…" gumam Ryeowook seraya tersenyum. "Berarti kau yeoja yang beruntung, Hyukkie…"
"Memangnya kenapa?"
"Dari dulu Hae dikenal selalu bersikap dingan sama yeoja-yeoja di sekolah. Tiap ada yang menembaknya pasti ditolak mentah-mentah. Nah, kau itu satu-satunya yeoja yang mungkin bisa membuatnya nyaman…"
"Tapi dia juga nyaman kalau bersamamu."
"Itu karena kamu sudah berteman dari kecil. Apalagi dia juga sudah kuanggap sebagai kakakku meskipun sifatnya kekanak-kanakan…"
"Berarti perasaan Hyukkie nggak bertepuk sebelah tangan…" Yesung muncul tiba-tiba dan langsung nimbrung.
"Hae menanyakan nomer ponselmu? Alamat rumahmu?" tanya Ryeowook lagi. Hyukkie mengangguk. "Dia tanya nomer ponselku, alamat rumah, hobi, makanan kesukaan. Dan besok dia mengajakku pergi ke taman bermain…"
"Asiik, baru kenal sudah diajak kencan… suit, suiit…" Yesung bersiul-siul bermaksud menggoda Hyukkie. Yeoja itu melempar bonekanya kearah Yesung. "Jangan menggodaku, dooong!" serunya kesal yang dibalas tawa oleh dua orang yang duduk di depannya.
"Ah, aku lupa ke supermarket!" Hyukkie menepuk dahinya dan berlari masuk ke kamarnya untuk mengambil dompet. "Aku pergi dulu, ya!"
"Mau beli apa, sih?"
"Biasa… kebutuhan bulanan wanita…" Hyukkie memakai topinya lalu berjalan keluar rumah.
Yesung berpindah tempat duduk di samping Ryeowook. Namja itu menarik Ryeowook agar duduk bersandar di bahunya. "Oppa…"
"Hm?"
"Apa orang rumah nggak khawatir kalau tahu kita pergi?"
"Biarkan saja dulu… Aku hanya ingin tahu apa umma dan appa tetap bersikeras menjodohkanku atau nggak."
Ryeowook mengangguk paham. "Sebenarnya…"
Yesung menatap Ryeowook menunggu kata-kata yang selanjutnya akan keluar dari bibir Ryeowook.
"Sebenarnya… nggak tahu kenapa aku sedikit merasa senang saat oppa menolak perjodohan itu…"
"Mwo?" Yesung menatap Ryeowook yang menunduk tak percaya.
"Apa kau mulai bisa membalas perasaanku?"
"A-aku nggak tahu…"
Yesung menarik dagu Ryeowook agar menghadap kearahnya. "Boleh aku tanya beberapa hal?"
Ryeowook mengangguk.
"Apa yang kau rasakan saat aku memelukmu?"
"Ng… rasanya dadaku berdebar keras dan wajahku memanas…"
"Lalu saat aku…"
Yesung mencium bibir Ryeowook sekilas. "…saat aku menciummu?"
"Detak jantungku semakin berdegup cepat, wa-wajahku juga semakin memanas dan…"
"Dan?"
"Dan aku… merasa nyaman…" Ryeowook menundukkan kepalanya lagi. Yesung tersenyum.
"Kalau ku tanya apa kau juga mencintaiku?"
Ryeowook terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa karena memang ia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Yeoja itu terdiam cukup lama. Yesung mengubah senyumannya menjadi seringaian. Dia menarik dagu Ryeowook lagi. "Kalau kau diam, maka jawabannya kuanggap 'ya'…" setelah itu ia mencium bibir Ryeowook lagi.
'Apa benar aku juga mencintai Yesung oppa? Bukannya sebatas kagum saja…'
Ryeowook memejamkan matanya. Perasaannya menjadi sangat nyaman dan hangat. Mereka terus bertahan dengan posisinya sampai tak menyadari Hyukkie yang memperhatikan mereka sambil tersenyum. "Selamat, oppa… akhirnya perasaanmu terbalaskan…" gumamnya teramat pelan. Ia melangkah mengendap-endap melewati dua sejoli yang masih sibuk dengan dunia mereka sendiri. Biar saja mereka melakukan apa yang mereka mau.
Setidaknya selagi masih ada kesempatan…
.
Tbc…
Yuhuuu… saya beneran apdet kilat, nih..
Gimana? Masih kurang panjang kah? Idenya juga udah mampet, nih..
Mian, lagi-lagi author ga bisa bales ripiu yang masuk, tangan author udah pegel banget.
Lanjutin di next chap aja, ya…
Ripiu, ripiu… ^^v
