Mukanya memerah melihat aksi Soul, dadanya berdegup kencang

.
.
.

"Hahaha itu konyol sekali, Kid. Apa benar Liz dan Patty sampai seperti itu? Pfftthahaha.." Maka memegangi perutnya dan tidak bisa berhenti tertawa di perjalanan pulang mereka dari supermarket.

"Aku tidak bohong, Maka. Mereka berdua terlalu malas belajar dan malah berdandan dan bermain-main." Kid tertawa kikuk. Ia menceritakan banyak hal pada Maka tentang ulah partner kembarnya ketika mereka di rumah.

"Begitu.. mereka jarang belajar dengan betul, dan nilai akademis mereka rendah. Tapi mereka keren sekali dalam pertarungan. Fisik mereka lebih hebat dariku, terutama Patty."

"Yah sebenarnya, kau tau... nilai Liz dan Patty memang lebih jauh di bawah Hiro ketika ujian pertama mereka, dan kurasa mereka belum banyak berkembang di nilai akademis semenjak aku jadi shinigami yang baru. Tapi bukan itu yang kucemaskan." Kid berjalan menenteng beberapa kantung belanjaan Maka yang penuh. "Masalahnya adalah Hiro yang sampai sekarang kesulitan menemukan partner yang cocok dengannya, jadi aku ingin kau memberinya nasihat."

"...Kid.. kau... Kau jadi lebih bijak. Keren sekali hehehe." Maka tersenyum lebar memuji sahabatnya yang peduli itu. Kid hanya bisa membulatkan matanya dan agak bingung. Tapi ia jadi rileks dan mereka terus berjalan ke arah Shibusen.

"Begitukah.. hmm.. makasih, Maka." Kid ikut tersenyum lebar dan mendongak ke arah langit. Awan gelap terlihat dari arah yang berlawanan dari posisi matahari. Ia jadi sadar dan mengajak Maka supaya cepat bergegas. Akhirnya, mereka melangkah ke arah bangku di taman dekat Shibushen.

"Aku akan mengambil jaketku, tunggu sebentar ya, Kid." Maka berlari menuju Shibusen dan meninggalkan Kid dengan barang bawaannya. Kid duduk dan menunggu dengan sabar sambil melihat sekeliling. Awan gelap sudah mulai mendekati Shibusen. Mereka harus segera pulang. Ia menengok arlojinya. Pukul dua lebih tigapuluh. Semoga para murid Shibusen tidak kehujanan ketika mereka pulang.

Tak lama, Kid melihat Maka kembali namun kini ia lengkap dengan ransel, jaket dan syalnya. "Baik, aku siap Kid. Mari pulang." Maka mendongak. "Sepertinya malam ini bakal hujan, aku akan bilang Soul dulu agar pulang duluan." Maka membuka ponselnya dan mulai mengetik pesan.

"Kurasa juga begitu. Lebih baik kita naik Beelzebub saja ya, Maka. Supaya tak kehujanan nanti." Maka menekan tombol kirim, dan menutup ponselnya.

"Ngh, jangan deh. Pasti bakal berat sebab bawaanku ini banyak sekali, Kid." Maka mengambil beberapa kantung belanjaannya.

"Sudahlah tak apa. Aku lebih mencemaskan kita nanti kalau kehujanan. Lihat, sebentar lagi hujan tuh." Kid mengeluarkan Beelzebubnya dan mengambil sebagian kantung belanja Maka. "Apa kau mau pulang bareng Soul saja? Kau harus menunggunya selama satu jam hingga dia keluar sih."

"Ah. Bisa saja sih..tapi aku barusan mengiriminya pesan kalau aku sudah dalam perjalanan denganmu... dan menyuruhnya langsung pulang." Kid menarik Maka supaya naik Beelzebub.

"Hngh baiklah, pegangan yang erat yah. Kecepatannya akan kulambatkan." Akhirnya Maka mengiyakan sahabatnya itu. Ia memeluk Kid sambil menenteng beberapa kantung belanja di tangan kirinya. Mereka berdua terbang rendah lewat jalanan menuju apartemen Maka dan Soul.

Geez.

Berarti sekarang kira-kira sudah di rumah ya. Hngh. Dengan..Kid..

Soul keluar dari kelas Crescent Moon dan berjalan sendirian lewat lorong. Black Star dan Tsubaki tidak pulang karena ada jadwal piket. Sedangkan Liz dan Patty langsung pulang ke rumah Kid di Gallows Manor. Ia menenteng tas kecilnya yang berisi buku dan barang bawaan lainnya. Mukanya masam sepanjang perjalanan ke area parkir.

Begitu sampai, ia menengadah ke langit dan melihat awan gelap sudah hampir menutupi langit sekolah. Ia mengambil kunci dan menuntun motornya ke luar parkiran.

Sudah jam empat lebih sepuluh. Hujan sudah mau turun. Maka bilang pukul tiga kurang tadi, ia sudah dalam perjalanan. Sekarang ia kemungkinan sudah bersantai di depan teve bersama Blair.

Ia menaiki motor oranye kesayangannya, dan mulai memakai helm. Lalu ia sadar ada yang datang menghampirinya.

"Selamat sore, Soul-Senpai."

Gadis yang tadi. Soul melepas kembali helm nya dan membalas singkat. "Ada apa lagi?"

Gadis itu menunduk malu. "Ma-maafkan aku menggangggu perjalanan pulang mu. Aku hanya ingin..bertanya.. tentang kukis yang ku beri tadi. apakah.. tidak enak?" Soul sedikit terkejut. Ia belum merasakan pemberian itu. Sebenarnya ia lebih berniat mencicipkannya pada Blair. Sekejab ia merasa bersalah.

"Ah. Kue ini ya." Soul menghela napas pelan dan mengambil bungkusan itu dari tas nya. "Maaf aku belum sempat mencobanya. Akan kumakan sekarang." Gadis itu terkejut ketika melihat Soul membuka pemberiannya. Mengambil satu buah kukis dan memakannya tepat di depannya. Mukanya memerah melihat aksi Soul, dadanya berdegup kencang.

"Hm. Enak kok. Kau pandai." Ujar Soul setelah menelan kukis coklat. Ia mengambil dan memakan lagi.

"Be-benarkah?!" Gadis itu mendekat dan mulai kegirangan. "Syu-syukurlah... kupikir kau tak suka.." Gadis itu tersenyum penuh haru dan Soul mengamati kalau ia telah menggenggam erat tali ranselnya ketika melihat Soul mencicipi. "A-apa kau.. Uhm. Apakah senpai mau... kubuatkan rasa lain?" Wajahnya menatap Soul dengan merona.

Wah gadis yang berani. Soul menghabiskan semua kukis yang ada dalam bungkusan itu dan memasang helmnya.

"Maaf, tapi aku tak mau lagi. Bukan karena tak enak, tapi aku tak bisa membalas perasaanmu." Soul mengklik pengaman helm nya dan mulai menyalakan motor.

"Be-begitu.. Maafkan aku.. Aku hanya..ingin membuatmu senang dengan kue yang kubuat.. Selain itu..aku juga senang ketika kau memakannya.." Gadis itu menunduk lesu dan mulai mundur. "Aku benar-benar minta maaf kalau yang kulakukan sudah merepotkanmu, Soul-senpai. Aku mengagumimu." Ia membungkuk dan menunduk dalam. Membuat Soul menghela napas panjang dan merasa bersalah.

Ugh. Merepotkan sekali. Soul menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengambil helm yang biasa dipakai Maka dan menyodorkannya pada gadis itu. "Nih. Pakailah. Aku akan mengantarmu pulang. Anggap saja imbalan karena sudah memberiku kukis."

"E-eh.. Ti-tidak perlu, kok. Aku ikhlas memberimu. Lagipula, rumahku tak jauh dari sini.. Aku biasa berjalan." Gadis itu merona saat ia mulai panik. Kemudian ia tersenyum kecil. "Lagipula.. sebentar lagi hujan.. Aku tak ingin Senpai kebasahan di jalan."

"Sudahlah. Cepat naik. Aku juga ingin segera pulang nih." Soul menjawab agak sebal sambil menyalakan mesinnya, menunggu gadis itu naik.

"U-uhm.. baiklah.. maaf merepotkanmu... senpai.." Akhirnya gadis itu naik dan memasang helm. "Rumahku..ada di persimpangan di tiga blok ke kiri setelah jalan utama." Gadis itu berkata namun Soul hanya menjawab singkat dan tidak berkata apapun setelahnya. Sepanjang perjalanan, ia agak ketakutan karena Soul selalu berkendara dengan kecepatan lumayan tinggi. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak memeluk Soul.