Appa, Saranghae!
Daddy 07
Minhyung berjalan seperti mummy karena ia dipanggil oleh Johnny. Ia tidak tahu mengapa, moga-moga bukan hal buruk. "Masuk," panggil Johnny saat Minhyung mengetuk pintu kamar ayahnya.
"Appa tidak akan berbasa-basi lagi, Minhyung. Apa keputusanmu? Biarkan dia pergi atau kamu ke luar negri?" tanya Johnny. Minhyung hanya menatap ayahnya dengan kesedihan. Nasibnya terlalu sedih, sudah Jaemin diambil Jeno, Haechan juga tidak dapat.
Yah... walaupun ia juga tidak yakin ia memiliki perasaan yang sama dengan Haechan.
"Appa... jika aku tetap memilih Haechan, apakah semuanya bisa kembali?"
"Appa tahu kalau aku menyukai Jaemin kan? Tapi, Jeno duluan menyatakannya dan Jaemin menerima dirinya. Tapi, appa... Aku bukannya tidak percaya diri, Jaemin lebih menyukaiku. Kenapa ia menerima Jeno?"
Johnny diam membisu. Ia tahu semua itu, Minhyung sendiri yang memberitahunya.
"Appa tidak tahu Jaemin lebih memilih siapa. Appa juga tidak mengerti kenapa Jaemin lebih memilih Jeno jika ia seperti yang Minhyung katakan."
"Tapi,... semua telah terjadi. Minhyung memiliki Haechan, dan appa tidak setuju untuk hubungan itu. Jadi, sekarang pilih, Minhyung sekolah ke Vancouver atau melepaskan Haechan." Putus Johnny setelah dia diam sekian lama.
"Apakah..." kata Minhyung namun, seketika suasana hening. Anak lelaki itu menatap Johnny dengan tajam untuk pertama kalinya.
"Apakah jika aku ke Vancouver, aku dapat memiliki hubungan dengan Haechan?"
Appa, Saranghae!
Jeno termenung, memang telah berganti hari dan tepatnya hari ini adalah ulang tahunnya, tentu saja dengan Minhyung. Kelas masih kosong, beberapa siswa sudah datang, namun, mereka pergi menghilang entah kemana, meninggalkan tas mereka.
'Saengil chukhae, Minhyung-ah, Jeno-ah.''Saengil chukhae, Jeno-ah.''Saengil chukhae, Minhyung hyung.'Percakapan pagi tadi tidak lewat dari pembicaraan tersebut. Johnny dengan telatennya memasak nasi goreng untuk kedua putranya yang berbahagia.
'Appa... nanti malam, Jaemin akan datang. Tidak apa-apa kan?'
Jeno mengusap wajahnya, kenapa dengan mudahnya ia bertanya seperti tidak ada masalah. Minhyung masih disana, duduk diruang makan dan menyantap makanannya dengan tenang.
Ia bukannya tidak tahu tentang Minhyung sama sekali. Ia juga tidak tahu mau mengatakan pada hyung-nya itu bagaimana.
'Should I just give up?'
Jeno menghela nafas, ia bingung. Ia harus berbuat apa, disatu sisi ia ingin Jaemin, disatu sisi ia tidak ingin Minhyung begini.
"Hey!"
Jeno terkejut, mata sipitnya teralih kepada sosok lelaki yang menyukai moomin itu.
"Kenapa? Tidak biasanya kamu begitu." celetuk Renjun, lelaki moomin itu dengan penasaran, tubuhnya mengambil tempat disebelah Jeno.
Jeno tersenyum lemah.
"Kau tahu bukan? Aku menyukai Jaemin dan kami telah pacaran semalam."
"Begitukah? Selamat ya... Ah! Happy birthday, Jeno-ah." balas Renjun dengan senyum manis diwajahnya.
"Tapi,... hyung menyukai Jaemin. Aku baru tahu hal itu setelah aku dan Jaemin pacaran. Aku merasa bersalah, bahkan, Minhyung hyung sendiri yang memintaku untuk menyatakan perasaan pada Jaemin." sambung Jeno.
Renjun mengangguk tanda ia paham akan cerita Jeno. 'Jadi ceritanya, dia sedang galau.' batin Renjun.
"Apa keputusanku tepat jika aku memberikan Jaemin kepada hyung?"
"Tapi, kau yang akan terluka."
"Tidak apa-apa. Selama hyung bahagia aku tidak apa-apa."
"Kita juga tidak tahu Jaemin memilih siapa. Kita tidak tahu Jaemin menyukai siapa. Jika Jaemin mencintaimu dan kau memberikannya kepada Minhyung, bukankah kalian berdua yang akan terluka?"
"Tapi,... jika ternyata Jaemin lebih mencintai hyung. Bagaimana? bukankah mereka berdua yang terluka?"
Jeno membalas perkataan Renjun layaknya membalik telapak tangan. Renjun seketika bungkam. Ia tak bis bersuara apapun.
"Kenapa kau tidak mengajak Jaemin keluar dulu jalan-jalan selepas pulang sekolah nanti?"
"Buat apa?"
"Untuk sekedar refreshing. Kurasa otakmu itu perlu dicuci supaya dapat bekerja dengan normal kembali."
"Sial. Kau kira otakku itu apaan?"
Jeno memukul lengan Renjun, lalu mereka berdua tertawa tanpa alasan.
Appa, Saranghae!
Minhyung teropoh-opoh mengitari koridor sekolah. Pagi ini emang hampir tidak ada orang, entah kemana mereka perginya.
"Jaemin-ah!" teriak Minhyung dengan nafas tersengal-sengal menyelimuti kelas kosong itu. Kelas yang berisi dengan jenis alat musik.
"Minhyung-ah, ada apa?" tanya Jaemin dengan wajah penasaran. Minhyung tidak menjawab, ia masuk kedalam ruangan yang sama dengan Jaemin dan dengan mudahnya, ia menutup pintu tersebut.
"Apa kamu benar-benar menyukai Jeno?" tanya Minhyung setelah nafasnya kembali stabil dan menatap lelaki manis itu dengan tatapan intimidasi.
Jaemin merinding, tatapan Minhyung tidak macam-macam, seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kutanya padamu, Jaemin. Apa kamu benar-benar menyukai Jeno, adikku?"
Jaemin menggigit bibir bawah, ia bingung harus menjawab apa. Semua pilihan yang berada ditangannya tidak ada yang benar.
"Ya. Aku menyukai Jeno." jawab Jaemin dengan lantang dan tegas.
'You are stupid, Na Jaemin.' batin Jaemin yang merutuki dirinya sendiri.
Minhyung sendiri langsung terdiam, ia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Namun, otaknya mengatakan yang benar untuk dilakukan.
Minhyung mendekati Jaemin yang masih terduduk diatas kursi yang berhadapan dengan grand piano. "Kalau begitu, jaga dia baik-baik, Jaemin-ah." kata Minhyung sambil menepuk pundak lelaki itu dengan senyuman.
"Pasti, Minhyung-ah." jawab Jaemin dengan mantap. Tapi,... tiada satupun yang tahu, kalau hati lelaki itu bertanya,
Apakah aku memang bisa menjaga Jeno selayaknya Jeno menjagaku nanti?
To Be Continue
# I'm back, semuanyaaaa... udah di-up, entah kenapa dapat feel untuk nulis ini lagi.
# Bagi yang menunggu, gamsahamnida... kalian benar-benar jjang!
# Kalau ada waktu, mampirlah ke work Hyuna di wattpad. ID? Di profile ffn ada kok, jika membaca, vote and comment juseyooooo
# Happy new year all... Moga-moga semua resolusi kalian tercapai
# Review pleaseeeee
