EXO

Sulay; Chanbaek; Kaisoo; Hunhan; Chenmin

With,

NCT

Jaeyong; Yuten; Ilyoung; Markhyuck; Winkun

Disc : Author hanya meminjam nama para cast.

NCT as EXO brother!

Warning! : Typo(s), BxB, OOC...

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

.

Sudah cukup pagi untuk bangun. Dan seharusnya yang terlihat adalah langit biru dipadukan dengan awan putih bersih. Seharusnya. Tapi, yang dilihat mereka malah awan mendung menutupi langit biru, tapi tidak ada tanda tanda akan hujan.

Suho menopang dagunya, menatap keluar jendela. Diluar sana sudah terlihat banyak perumahan dan gedung yang hancur, juga batu batu dari kecil sampai besar entah kenapa bisa berada dijalan. Para zombie dan monster lainnya juga terlihat meskipun hanya satu satu.

Suho menghela nafas. Suho menatap tangannya, lalu menggerakan jemarinya. Lalu muncul air diatas telapak tangannya dengan bentuk bundar. Suho tersenyum tipis. Suho menyipitkan matanya, air itu mulai membeku perlahan lahan dan menjadi es batu. Suho menggenggam air yang sudah beku, lalu air beku itu menjadi abu bening.

"Myeonie-ah.."

Suho bisa merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Orang itu, Lay, mengecup cepat pipi Suho lalu menumpukan dagunya dibahu Suho.

"Memikirkan apa?" Tanya Lay sedikit bergunam.

Suho sedikit menunduk, lalu menyentuh tangan Lay yang berada diatas dadanya. Kemudian matanya beralih ketangannya.

"Tentang kenapa kita bisa ada disini dengan kekuatan aneh."

Suho menurunkan tangannya yang menyentuh tangan Lay, kemudian menatap keluar. Lay tersenyum tipis. Lay melepas pelukannya di leher Suho, lalu mendudukan diri didepan Suho. Lay sedikit menggerakan kursi yang didudukinya kedepan, supaya lebih dekat dengan Suho. Tangan kanan Lay terangkat, mengelus pipi Suho lembut.

Suho tersentak pelan, lalu menatap dalam mata bening Lay. Lay tersenyum manis, menampilkan dimplenya.

"Kita bisa mencari tahu bersama sama, Suho-ah. Jangan menyimpannya sendiri." Ucap Lay lembut.

Suho mengangguk, lalu membalas senyum Lay. Suho menggenggam tangan Lay yang berada dipipinya lembut. Suho mulai mendekatkan wajahnya, Lay juga ikut mendekatkan wajahnya. Sampai bibir mereka menempel. 5 detik, setelah itu Suho menjauhkan wajahnya.

"Omong omong, kekuatanmu apa, Xingie?" Tanya Suho, penasaran.

Lay memiringkan kepalanya.

"Aku.. belum tahu, ge." Jawab Lay polos.

Suho menyerit.

"Ah! Mungkin kekuatan Healer? Penyembuh!" Ucap Lay, Suho mengangkat alisnya.

"Penyembuh.. jika aku terluka, kau akan menyembuhkanku?"

Lay mengangguk semangat. "Ne! Bukan hanya kau saja, tetapi juga sahabat sahabat kita!"

Suho tersenyum ketika melihat wajah Lay yang terlihat cerah, meskipun mereka berada didunia aneh ini. Suho terdiam, dia kembali teringat dengan perkiraannya, kalau mereka masuk ke game yang mereka mainkan.

Terdengar tidak masuk akal. Karena itu, Suho berusaha untuk tidak memikirkan itu, dan mencari tahu penyebab mereka ada disini. Didunia yang penuh dengan monster.

Karna, jika memang mereka berada didunia game, dimana mereka harus memenangkan level pertamanya? Mereka harus melawan monster apa saja? Dan banyak pertanyaan lain tentang mereka yang jika saja memang berada didunia game.

Suho lupa sesuatu. Tidak semua game harus melewati level pertama.

Lay mengerjap saat melihat Suho tengah melamun. Lay melambaikan tangannya didepan wajah Suho. Sorot matanya terlihat khawatir.

"Suho-ah? Kau baik baik saja?"

Suho mengerjap, kemudian mengangguk. Suho tersenyum, berusaha membuat Lay tidak khawatir. Lay menghela nafas lega.

"Joonmyeon hyung! Aku menemukan makanan dikulkas! Sepertinya masih bisa dimakan."

Terdengar teriakan yang tidak terlalu keras dari dapur. Dyo terlihat melihat lihat isi kulkas dari rumah yang untuk sementara mereka tinggali. Terdapat bungkusan makanan didalam kulkas itu. Snack dan makanan kaleng. Entah kenapa Dyo tiba tiba merasa miskin mendadak, padahal sebenarnya dia adalah anak orang kaya, sama seperti yang lain.

Dyo mengeluarkan 3 snack dan 5 makanan kaleng. Lalu meletakan semuanya dimeja. Beruntung snacknya berukuran besar, cukup untuk mereka. Juga makanan kaleng berukuran sedang.

"Coba kau lihat tanggalnya, Dyo."

Dyo menoleh keasal suara, Luhan tengah berjalan mendekat kearahnya sambil merengangkan badannya. Luhan berdiri disamping Dyo. Dyo menatap kemasan snack dan makanan kaleng itu.

"Makanan awet?" Gunam Dyo dan Luhan.

"Tahan lama dan tidak akan rusak jika tidak terkena sinar matahari?"

Dahi Luhan mengerut dalam. Luhan mendengus keras keras.

"Apa apaan ini?! Mana ada makanan yang tetap awet didunia ini? Tidak boleh terkena sinar matahari? Omong kosong!"

Dyo menatap Luhan datar. "Ada kok, hyung. Dunia ini." Ucap Dyo.

Luhan berdecak. "Ya sudah, coba buka satu. Yang kaleng dulu!"

Mata Dyo terputar malas.

"Bagaimana aku membuka kaleng ini sedangkan alatnya tidak ada?"

Luhan menghela nafas. "Kau kan kuat, Dyo-ah. Kekuatanmu itu pengendali tanah, pengendali tanah itu kan kuat sekali."

"Hyung tahu darimana?"

"Ck! Sudahlah, cepat buka!"

Luhan mulai kesal, Dyo menghela nafas malas. "Hyung, yang ada malah kaleng ini yang hancur kalau aku membukanya."

Luhan berdecak. Tangannya merampas kaleng yang berada ditangan Dyo. Penutup kaleng itu mulai terbuka perlahan lahan, memperlihatkan isi dari kaleng tersebut. Dyo mengambil baskom berukuran sedang yang masih utuh dan bersih, lalu meletakannya dimeja.

Luhan mulai menuangkan makanan yang ada didalam kaleng itu ke baskom. Dyo dan Luhan mengerjap. Ini sayur atau buah? Dyo mencelupkan jarinya, setelah itu menghisap jarinya.

"Eumm!"

Dyo tersenyum lebar. "Ini enak!" Ucap Dyo.

"Benarkah?!"

Dyo mengangguk semangat, lalu berlari keruang tengah. Luhan pun mulai membuka satu kaleng lagi. Beruntung baskomnya muat. Luhan mengalihkan perhatiannya kearah tempat piring yang sedikit berabu. Masih ada 5 sendok disana. Luhan menggerakan jemarinya. 5 sendok itu terangkat lalu melayang kearahnya. Luhan tersenyum puas, ternyata kekuatannya berguna juga.

"MAKANAN?!"

Terdengar derap kaki sedang menuju kearah dapur. Lalu muncul Kai, Chanyeol, Sehun, Baekhyun dan Chen dengan wajah antusias mereka. Kai yang selalu makan banyak mendekat pada Luhan. Kai mengambil sendok yang Luhan letakan dimeja, dan sudah siap mencicipi makanan kaleng yang ada dibaskom.

Luhan langsung histeris.

"Eh! Eh! JANGAN DIMAKAN DULU!"

Luhan memilih berteriak, beruntung Kai belum mengambil satu sendokpun dengan sendok kotor ditangannya. Sedangkan Kai mendengus.

"Aihh hyung! Aku lapar tahu!"

Kai sudah bersiap lagi. Luhan yang geram pun merampas sendok dengan kekuatannya. Kai merengut.

"Sendok ini kotor, bodoh!"

Baekhyun, Chanyeol dan Chen mulai mengompori.

"Duh, kau ini bagaimana sih Kai?"

"Seharusnya kau dengarkan Luhan hyung!"

"Kau sih!"

"Kontrol nafsu dong!"

Kai mendengus kasar. Kenapa dia jadi terbully disini? Dyo datang dengan nafas sedikit terengah karena habis berlari. Dibelakangnya muncul Xiumin, Lay dan Suho. Kai langsung memeluk lengan Dyo dengan wajah merajuk. Sehun tidak terima.

"Hyungie, mereka bertiga membullyku." Aduh Kai, Dyo menyerit.

"Heh! Kau tidak asik, Kai-ah!" Ucap Sehun kesal. Kai menjulurkan lidahnya pada Sehun.

"Dyo, kau mau menegurku?"

Mata Baekhyun memicing, Dyo menggeleng dengan wajah datar. Baekhyun tersenyum lebar lalu tos dengan Chanyeol. Hehe, Dyo tidak mungkin menegur mereka, soalnya kan Dyo itu lebih muda dari mereka.

Chen menatap Chanyeol dan Baekhyun masam, seketika dia dilupakan. Luhan menarik tangan Suho, Lay cemberut karena tangan Suho terlepas dari tangannya. Suho menatap Luhan bingung.

"Ada apa, Lu ge?"

"Karena kekuatanmu air, bisakah kau bersihkan sendok sendok ini?"

Suho menghela nafas panjang. Luhan hanya tersenyum lebar. Pangkatnya sebagai tertua kedua membuatnya selalu dituruti oleh yang lebih mudah. Terkadang kita harus memanfaatkan pangkat kita.

Suho mulai membersihkan sendok sendok itu dengan kekuatannya. Setelah bersih, Suho menatap Luhan, Luhan mengangguk puas.

"Ayo makan!"

Dan mereka berbagi satu sendok dengan kekasih masing masing.

.h

.h

.h

.h

"Woaahh apa ini?"

Terlihat seorang pemuda sedang menatap intens kuburan batu didepannya. Kuburan batu itu setinggi 8 meter, dan diatas kuburan batu itu ada batu besar yang sudah terbelah. Bisa ditebak siapa yang melakukan itu.

"Mark hyung! Kun hyung! Lihat ini!"

Dua pemuda yang bernama Mark dan Kun mendekat kearahnya. Mereka menatap pemuda itu bingung.

"Ada apa, Haechan? Kita harus cepat cepat mencari para manusia itu."

Pemuda bernama Haechan mengangguk cepat, tangannya kemudian menunjuk kuburan batu disebelahnya.

"Aku tahu, Markeu. Tapi, lihat ini, ini terlalu mencurigakan." Ucap Haechan.

Kun menyerit. Batu itu tidak mungkin bergerak sendiri jadi seperti ini. Kecuali jika memang ada yang menggerakan batu batu itu, dan mengubur sesuatu didalamnya. Kun menghela nafas.

"Kita tinggalkan saja. Ini tidak penting." Ucap Kun, Haechan merengut.

"Tapi-"

"Taeyong hyung sedang menunggu informasi dari kita. Aku ingin cepat cepat mencari mereka, setelah itu pulang dan tidur. Winwin sedang menungguku."

Kun berjalan mendahului Mark dan Haechan. Haechan sedikit menghentakan kakinya, dan mulai berjalan menyusul Kun. Mark tersenyum geli melihat Haechan, setelah itu berjalan disamping Haechan.

.h

.h

.h

"Ya ya ya ya! YAA!"

"AKU DULUAN!"

"JAEHYUN!! AKU DULUAN!"

"DOYOUNG! Jae, kau akan memilihku kan?"

"Yongie hyung-"

"HEH! Hyung! Kau curang!"

Mereka, pada dongsaeng line sedang berkumpul dirumah Jaehyun. Mereka ingin bertemu dengan hyung masing masing, sekaligus menghabiskan waktu bersama. Tapi itu semua hancur hanya karena Bibimbap buatan chef dirumah Jaehyun.

Jaehyun hanya menyuruh chefnya membuat sedikit karena itu hanya untuknya. Dia takut membawakan makanan keruang komputer, dimana ada para hyung line disana. Jaehyun baru saja ingin menyuapkan satu sendok Bibimbap ke mulutnya, jika saja bell rumahnya tidak berbunyi.

Taeyong, Doyoung dan Ten yang menyukai Bibimbap tentu saja ingin mencobanya. Tapi, yang ada malah terjadi adu cekcok, karena Jaehyun menyuruh mereka bertiga main batu, gunting, kertas. Doyoung yang menang, tapi Taeyong dan Ten tidak terima.

"Untukku saja!"

Haechan malah ikut ikutan. Haechan merampas piring Jaehyun dan membawa piring itu dan berlari. Jaehyun menghela nafas pasrah, padahal dia sudah sangat lapar sekarang.

Jaehyun pun akhirnya hanya memakan buah yang ada dikulkas dengan wajah masam.

Yuta dan Mark tidak memperdulikan kekasih mereka yang membuat kekacauan. Mereka berdua malah memainkan PS milik Jaehyun yang berada diruang tengah. Beda dengan Kun dan Winwin, mereka sibuk bermesraan.

Beda lagi dengan Taeil, dia memijit pelipisnya, merasa pusing sekaligus sakit telinga karena teriakan Doyoung, Taeyong, Ten dan Haechan. Taeil mengalihkan pandangannya pada Jaehyun.

"Jaehyun, hyungdeul dimana?"

Jaehyun menunjuk ruang komputer. Taeil beranjak dan berjalan kearah lantai dua, dimana ruang komputer itu berada. Kun yang melihat itu mengikuti Taeil, sedangkan Winwin sudah ikut makan buah bersama Jaehyun.

TOK TOK

"Hyung!"

Taeil menyerit, tidak ada yang merespon. Taeil kembali mengetuk pintu, tapi masih tidak ada yang merespon. Bahkan untuk suara langkah kakipun tidak ada. Kun memilih mengedor pintu.

"Hyung! Kalian didalam?!"

Taeil menyentuh bahu Kun, menyuruhnya tenang. Taeil berjalan ketangga, menuruni satu anak tangga lalu menatap semua yang berada dibawah.

"Jae! Kau yakin mereka didalam?" Ucap Kun, Jaehyun mengangguk.

Jaehyun pun teringat sesuatu.

"Ah! Jangan ganggu mereka hyung! Saat ini mereka sedang dalam mode menakutkan."

Jaehyun bergidik ngeri setelahnya. Winwin menatap Jaehyun bingung. "Kenapa?" Tanya Winwin.

"Aku tidak tahu."

Taeil dan Kun turun kelantai satu. Taeil menarik tangan Doyoung yang tidak sengaja berlari didepannya karena mengejar Haechan. Taeil menarik Doyoung duduk, kemudian mengunci pergerakan Doyoung. Doyoung memasang raut wajah merengek.

"Hyung~ lepaskan aku."

Taeil hanya diam, semakin mempererat pelukannya pada Doyoung. Doyoung cemberut, menatap masam pada Ten, Taeyong dan Haechan yang mulai memakan Bibimbap Jaehyun bersama sama.

"Eeuumm! Enak!" Ucap Ten, mulai memanas manasi Doyoung.

"Ini sangat renyah! Aku bahkan bisa merasakan semuanya!" Taeyong mulai ikut ikutan.

"Uwaa! Kapan lagi aku bisa makan Bibimbap?" Haechan tersenyum mengejek beberapa detik pada Doyoung, setelah itu mulai menikmati Bibimbap dengan Ten dan Taeyong.

Mata Doyoung berkaca kaca. Doyoung menatap Taeil yang tengah memejamkan matanya, sambil menyandar dibahunya. Kemudian Doyoung menatap Mark yang sibuk bermain. Kun merasa simpati.

"Sabar ya, Doyoungie. Nanti aku traktir Bibimbap besok." Ucap Kun sambil tersenyum, mata Doyoung langsung berbinar binar.

"Ahh terima kasih, Kun! Aku sayang padamu."

Kun tertawa geli, lalu sibuk dengan ponselnya. Doyoung merasa pelukan Taeil mengerat sesaat setelah Doyoung mengatakan sayang pada Kun.

"Doyoung."

Suara datar Taeil menerpa indra pendengarannya. Doyoung menggedik bahu acuh. Jaehyun melempar satu apel pada Doyoung, yang diterima dengan senang oleh Doyoung.

Taeyong membawa piring kosong kedapur. Setelah itu kembali keruang tengah dan duduk disamping Kun. Mata Taeyong terarah pada pintu yang masih tertutup rapat. Berpikir apa game yang dimainkan para hyung mereka sebegitu asiknya sampai tidak keluar dari pintu itu, bahkan untuk sekedar mengambil makanan.

Dia ingat, Chanyeol pergi sambil membawa sebuah kaset game. Taeyong sedikit merasa ada yang aneh dengan game itu. Tapi Taeyong menghiraukan pemikirannya, karena mungkin game itu hanya game biasa. Dan Taeyong juga sempat membaca nama game itu.

The Games.

Cukup aneh. Taeyong menatap Yuta yang masih asik dengan PS.

"Yuta." Panggil Taeyong.

"Hm?"

"Apa kau pernah mendengar The Games?"

Yuta meletakan stiknya, lalu berbalik menatap Taeyong dengan wajah bingung. Mark langsung mengerang kesal karena Game Over. Mark menatap Yuta tajam.

"The apa?"

"The Games. Kau pernah dengar?" Tanya Taeyong sekali lagi.

Yuta menyerit, lalu menggeleng. "Memangnya kenapa?" Mark bertanya.

"Ahh, aku sempat melihat nama game yang dibawa Chanyeol hyung. Aku pikir kau tahu." Jelas Taeyong, Yuta mangut mangut.

"Aku hanya merasa aneh saja, Mark." Tambah Taeyong, menjawab Mark.

"Halah, palingan sebentar malam mereka akan selesai." Ucap Haechan.

"Mungkin.."

Jika saja Jaehyun masih berani, dia akan membuka pintu itu dan memarahi para hyungnya. Tapi, mengingat Chanyeol yang jadi sangat dingin dan Chen jadi pemarah padahal aslinya baik, membuat Jaehyun ragu.

Jaehyun merasa aneh saja. Mungkin mereka sedang memainkan sebuah game yang tantangannya susah, dan mereka menjadi stres. Pemikiranmu hampir tepat Jaehyun.

Jaehyun tidak sadar kalau Kun dan Winwin menatap Jaehyun sedari tadi.

.h

.h

.h

"Aaissshhh! Tidak bisakah aku menginap sampai Jongin hyung pulang?"

"Tidak, Haechan-ah. Kau mau rumahmu dirampok?"

"Tapi.. aku tidak mau sendirian dirumah~"

Mata Haechan berkaca kaca. Meskipun dia dijuluki setan, tetap saja dia masih kecil. Masih perlu dijaga dan tidak bisa ditinggal sendiri. Haechan sudah terbiasa dengan kebiasaan Kai yang tidak pernah membiarkannya sendirian dirumah.

Dirumah Haechan, para maid hanya bekerja jam sembilan pagi sampai jam enam sore. Chef yang bekerja maksimal pulang jam 8 malam. Satpam rumahnya juga tidak bisa berjaga 24 jam. Setelah itu, tidak ada lagi yang menjaga rumah Haechan. Karena itu Kai selalu menjaga Haechan, meskipun mereka sering adu mulut.

Haechan bisa saja menginap dirumah Mark dan Doyoung. Tapi dia tidak boleh meninggalkan rumahnya.

Sebenarnya, mereka semua berencana menginap dirumah Jaehyun, mumpung rumahnya 2x lebih besar dari rumah mereka dan punya banyak kamar tamu. Tapi, meninggalkan rumah dengan keadaan kosong. Diantara mereka, banyak yang akan tinggal sendiri karena para hyung mereka sekarang sedang bertapa(?) di ruang komputer. Apalagi orang tua mereka sibuk bekerja.

Bagi mereka itu tidak masalah, tapi pengecualian untuk Haechan. Mark masih ada Doyoung, kakak keduanya. Sedangkan Haechan, dia masih berumur 16 tahun. Masih terlalu dini untuk tinggal sendiri. Apalagi Kai dan yang lainnya juga sedang mode senggol bacok.

Mark menatap Haechan dengan perasaan menyesal. Dia menatap Doyoung.

"Hyungie, apa Haechan tidak bisa menginap dirumah kita?"

"Boleh, tentu saja. Tapi, rumahnya.."

Mark mendesah kecewa. Haechan terlihat ingin menangis. Dia tidak mau sendirian dirumah besarnya. Haechan menatap Jaehyun, memohon.

"Hyung, please~"

Jaehyun tersenyum menyesal, lalu mengelus kepala Haechan.

"Nanti aku kirim bodyguard untuk menjagamu malam ini, Haechan."

Haechan menggeleng. Bahunya mulai bergetar. Ten mulai tidak tega memeluk tubuh Haechan. Haechan senggukan kecil.

"Ayo aku antar."

Dan Haechan tidak bisa melakukan apapun, selain menuruti hyungnya.

.h

.h

.h

.h

"Aku khawatir dengan Haechan.."

Dyo menepuk pelan bahu Kai. Wajar saja Kai sangat mengkhawatirkan Haechan. Kai sangat menyayangi Haechan, walaupun sikap jahilnya sangat menyebalkan.

"Haechan baik baik saja, mungkin.."

Kai memejamkan matanya, lalu menghela nafas panjang. Dyo mengelus belakang kepala Kai dengan lembut. Dyo juga mengkhawatirkan Yuta, tapi dia mencoba meyakinkan diri sendiri kalau adik adik mereka baik baik saja.

"Hyung, bagaimana kalau kita keluar?"

"Kau mau melawan monster monster itu? Aku tidak mau." Ucap Dyo, menekan setiap kata katanya.

"Yahh siapa tahu aku bisa jadi lebih kuat, hyung. Kekuatanku hanya berpindah tempat, dan itu tidak asik. Tidak seperti kau hyung, kau bisa melawan mereka dengan kekuatanmu. Tapi aku malah seperti pengecut yang hanya berpindah pindah tempat."

Dyo terkekeh, "Dengan kekuatan itu, kau bisa menyerang monster itu tanpa sepengahuan mereka, Kai-ah," Tangan Dyo mengepal, lalu menggerakan tangannya seakan ingin meninju Kai, "Saat mereka ingin memukulmu, kau bisa berpindah tempat."

Kai tertawa gemas, lalu mencibit pelan pipi Dyo.

"Hehe, kau yang terbaik, hyungie," Kai melepas cubitannya lalu memeluk Dyo. Dyo tersenyum kecil, tangannya mengelus punggung Kai.

Luhan yang kebetulan lewat didepan mereka, berdecih pelan. "Ya ya ya!"

"Apa?"

Luhan mendengus pelan, "Aku bosan! Apa kita hanya akan tinggal disini?" Luhan mengerucut bibirnya.

"Lalu hyung ingin bertemu dengan para monster diluar sana?" Ujar Dyo datar. Kai menahan tawanya.

"Kalau boleh sih," Luhan memiringkan kepalanya, lalu menjentikan jarinya. Raut mukanya terlihat semangat, "Kan aku bisa melatih kemampuanku!"

"Tuh kan! Luhan hyung juga ingin keluar.."

Dyo berdecak, kemudian menepuk keras tangan Kai yang berada dipinggangnya. Kai merengut, lalu melepas pelukannya. Luhan memutar bola matanya malas, melihat kelakuan Kai.

"Hyung, kita berdua saja." Ucap Kai, Luhan mengangguk.

"Sudah sana!" Usir Dyo.

Kai menggidik bahu lalu menggandeng Luhan, dan berjalan keluar. Dyo mendengus pelan. Setidaknya ada Luhan yang menjaga Kai. Dyo tidak meremehkan kekuatan baru Luhan yang termasuk kuat. Sedangkan Kai, masih menjadi misteri, sama seperti Lay.

Disisi lain, terlihat Chanyeol dan Baekhyun tengah bermain api. Seperti anak kecil. Mereka membakar daun daun kering yang masuk kedalam rumah. Baekhyun terkikik senang saat daun itu hangus dan menjadi abu ditangan Chanyeol.

Shssshh

"Lagi lagi!"

Chanyeol mengambil lima daun kering, lalu membakarnya. Baekhyun terkikik senang lagi. Chanyeol tersenyum lebar, senang melihat Baekhyun tertawa.

"Sekarang aku!"

Baekhyun menaruh satu daun kering diatas telapak tangannya. Tangannya yang satu berada diatas telapak tangannya, tangan Baekhyun mulai mengeluarkan cahayanya seperti laser. Dan daun kering itu mulai hangus karena cahaya Baekhyun.

"Yaaaa hebatnya, Baekkie-ku."

Chanyeol mencubit gemas pipi Baekhyun setelah itu melepasnya. Baekhyun hanya tertawa renyah. Dyo yang lewat didepan mereka mendecih.

"Kau kenapa?" Tanya Baekhyun, Dyo menggeleng.

Dyo berjalan meninggalkan mereka. Baekhyun menggidik bahunya, lalu beralih menatap Chanyeol. Dilihatnya Chanyeol sedang menatap punggung Dyo khawatir. Baekhyun tersenyum kecil.

"Chanyeol-ah?"

"Hm?"

Chanyeol bergunam tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Dyo.

"Menurutmu,"

Baekhyun menggaruk pipinya, sedikit ragu. Chanyeol pun menatap Baekhyun, tangannya terangkat mengelus kepala Baekhyun.

"Kita ada dimana?"

Baekhyun memutuskan untuk bertanya, Chanyeol terdiam. Chanyeol menatap kearah belakang Baekhyun. Chanyeol menghela nafas, matanya menatap dalam mata sipit Baekhyun.

"Aku tidak tahu,"

Baekhyun mendesah kecewa. Terlintas suatu di pikirannya, kalau mereka terjebak didunia lain karena sesuatu yang tidak sengaja mereka lakukan.

"Aku yang paling terakhir tertidur. Melihat kalian semua tiba tiba mengantuk membuat aku khawatir. Sampai aku pun ikut tertidur disampingmu. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan kita semua berakhir disini."

Penjelasan Chanyeol cukup membuat Baekhyun mengerti. Karena, nyatanya, mereka semua tidak tahu dunia apa ini, dan bagaimana bisa mereka tiba tiba terjebak dan memiliki kekuatan yang menakjubkan.

Baekhyun memang menyukai kekuatannya. Tapi, memikirkan adik sepupu yang sudah seperti saudara kandungnya tentu membuat dia khawatir. Meskipun masih ada adik adik mereka yang lainnya, tetap saja Ten itu tinggal sendiri.

Apalagi Taeyong, calon adik iparnya yang selalu takut kalau sedang sendiri dirumah.

Memikirkan semua adik adik mereka membuat Baekhyun sedikit frustasi.

"Memikirkan apa?"

Suara Chanyeol membuat Baekhyun tersadar. Baekhyun tersenyum manis lalu menggeleng. Tanda dia tidak memikirkan sesuatu.

.h

.h

.h

.h

Terlihat seorang pemuda yang sedikit mirip dengan Lay, tengah berjongkok didepan sebuah makhluk yang memiliki badan kecil, dan bertelinga kelinci. Pemuda itu memegang daun dan menggoda hidung makhluk itu dengan daun yang yang dipegangnya. Refleks makhluk itu melompat, dan tangan pemuda itu terangkat.

Kemudian dia terkekeh geli.

Pemuda itu membiarkan daun itu jatuh ketanah. Tangan yang terbuat dari besi, terlihat seperti tangan robot itu, mengelus lembut pucuk kepala makhluk itu.

Dia kemudian memasang kalung dileher makhluk itu, lalu berdiri. Tangan kirinya memegang tali yang terhubung dengan kalung yang dipakaikannya.

"Winwin!"

Pemuda bernama Winwin itu tersenyum. Menyiratkan wajah seperti anak yang masih polos.

"Iya, Doyoung hyung! Ayo, Zi."

Winwin berjalan sambil menarik makhluk bernama Zi. Melangkah dengan tenang kearah ruangan kumpul mereka.

BLAM!

.h

.h

.h

.h

"Astaga! Aku lelah!"

"Kita bahkan hanya berjalan pelan pelan, Kai-ah! Kita juga baru berjalan 20 menit!"

Luhan berdecak. Matanya menatap kesal pada Kai yang kini duduk aspal. Luhan berpikir, sejak kapan Kai bisa selembek ini?

Luhan menggerakan jemarinya, membuat Kai terangkat. Kai langsung melotot horror karena tubuhnya melayang.

"Luhan hyung! Berhenti!"

Luhan berkacak pinggang. Tatapannya menyiratkan perasaan puas, saat melihat Kai masih merontah rontah diudara. Luhan lalu terkekeh senang. Kai mendengus, lalu menghilang meninggalkan asap samar samar.

Kai muncul disebelah Luhan dengan wajah ditekuk. Sedangkan Luhan sedikit menggerutu, terlihat belum puas.

"Kau tega sekali sih hyung!"

'Dasar rusa liar!'

Luhan melotot karena tidak sengaja mendengr suara pikiran Kai. Tangannya terangkat, memukul kuat kepala Kai.

"Sialan! Kau sebut hyungmu yang imut manis ini rusa liar!"

Luhan mulai menarik rambut Kai. Menggoyangkan kekiri kekanan dengan brutal. Sedangkan Kai refleks memegang kedua tangan Luhan yang tengah mencengkram rambutnya.

"Aaa! AH! MAAF HYUNG! AAAHH!"

Kai bisa merasakan beberapa helaian rambutnya rontok. Gerakan Luhan mulai memelan, sedikit tidak tega juga melihat raut wajah Kai.

Tangan Luhan berganti mengelus kepala Kai lembut. Sedangkan Kai cemberut.

"Ganas sekali kau hyung, sshhh" Ujar Kai sambil meringis.

"Ck.."

Luhan mendengus, tangannya masih mengelus kepala Kai dengan lembut.

Tak jauh dari mereka, ada Kun, Mark dan Haechan yang tengah melihat kearah punggung Luhan dan Kai dengan mulut terngangah. Tidak menyangka ternyata benar ada manusia lain didunia hancur ini. Tanpa sadar tangan Haechan mengepal.

"Kurang ajar! Bagaimana mereka bisa lolos?!" Umpat Haechan.

"Padahal aku yakin sudah menyebar luaskan virus buatan Doyoung hyung bersama Taeyong hyung diseluruh daerah ini." Gunam Mark.

Wajah Kun terlihat dingin. Mereka semua memang sudah menyebarkan virus yang dibuat Doyoung keseluruh dunia ini. Mereka tidak menyangka ada yang bisa lolos dari virus itu.

Tangannya mulai mengeluarkan cahaya berwarna hitam keunguan. Mark yang melihat itu mengerjap.

"Kita apakan mereka hyung?" Tanya Mark.

Kun mengerjap pelan.

"Pilih yang mana? Dibawa hidup hidup atau sekarat, Mark?"

Mark terlihat berpikir. Haechan mendengus pelan. "Yang penting kita membawa mereka, hyung! Lama ah!"

Haechan menggulung lengan sweater merah maron miliknya sampai kesiku sikunya. Memperlihatkan kaos tangan merah dengan bis hitam. Kaos tangan itu hanya memperlihatkan jari jari Haechan saja. Diujung kaos tangan itu terdapat besi yang ujungnya tajam. Dan juga tersisip pisau pisau kecil.

"Aku terlihat keren, kan?" goda Haechan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Mark hanya menyeringai. Kun memberi kode pada Haechan. Haechan memasang kuda kuda. Kemudian kakinya terangkat, lalu dihempaskan kakinya kuat kuat ketanah. Tanah itu retak, dan muncul tanah tanah berujung tajam, menuju dengan cepat kearah Luhan dan Kai.

KRETAK KRETAK!

Gerakan Luhan terhenti. Dahinya mengerut tajam, berusaha untuk fokus. Sedangkan Kai terdiam, menajamkan indra pendengarannya.

Luhan secara tiba tiba menoleh kesamping. Mata rusanya melotot saat melihat tanah berujung tajam berjarak beberapa meter dari arah mereka.

"KAI!"

POOF

BBUUMMM!

Tepat saat Kai dan Luhan menghilang, tanah berujung tajam itu muncul dengan cukup tinggi. Kai dan Luhan muncul tak jauh dari tanah tanah itu. Nafas Luhan dan Kai memburu. Jantung mereka berdetak dengan kuat. Berpikir siapa yang barusaja melakukan itu.

"Apa..."

Luhan melepas genggaman Kai, kemudian maju beberapa langkah.

HAP

Luhan sedikit mendongak, lalu membeku. Kai yang berada dibelakangnya ikut membeku.

Terlihat Haechan sedang berdiri di atas tanah yang tinggi, yang ujungnya sudah tidak tajam lagi. Haechan terlihat melipat tangannya didepan dada, sambil menatap dingin kearah Luhan dan Kai. Sedangkan dibawahnya ada Mark yang tengah berjongkok, tangannya berada diatas lututnya. Rautnya terlihat dingin dan tenang. Dan Kun, berdiri disebelah Mark. Tangannya berada didalam saku celananya.

Luhan mundur selangkah. Matanya menyiratkan rasa tidak percaya sangat. Melihat ketiga adik mereka berada didepannya. Apalagi adik kandungnya, Kun.

"Kun.." Luhan bergunam lirih.

Tak jauh berbeda dengan Kai. Dia terlihat sangat syok. Entah Kai harus merasa senang atau sedih. Senang karena Haechan masih hidup dan tidak menjadi monster. Dan sedih karena Haechan menyerang mereka.

Apalagi ditambah dua orang yang sudah seperti keluarganya sendiri. Mark dan Kun. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Haechan.."

.h

.h

.h

To Be Continue

a/n: Gimana chap ini? ngehehe. Dan, yup, NCT udah ketebakkan. Kalian bakal tau lebih lanjut lagi di chap depan. Mungkin aku bakal fast update lagi? Lol.

Review pless

Xoxo,

Xydexonn