Tittle: The Journey

(7th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. typo. Adult Story.


Start story!


Lampu-lampu jalan menyala menerangi jalanan di kota. Hingar bingar perkotaan, kumpulan dari semua hal - hal yang membuat meriah. Mobil-mobil berlalu lalang menyoroti jalan, di kedai-kedai malam dan bar tenda terhibur dengan percakapan para pekerja malam. Gambaran dari sebuah kemajuan, simbol kehidupan. Kota yang tak pernah merasa mati, dimana penampakan siang dan malam hampir tak bisa dibedakan. Hanya langit gelap penanda sekarang adalah malam hari.

Do Kyungsoo...

Dia salah satu bagian dari gemerlapnya ibu kota. Sudah langkah keberapa hingga ia kini baru selesai membawa Luhan kembali. Gadis itu menggeleng menatap teman sekaligus tetangga apartemennya ini. Sedikit tersenyum miris melihat Luhan dalam keadaan mabuk. Kyungsoo pikir disini dirinyalah yang seharusnya butuh banyak alkohol dan juga penenang. Nyatanya dia mengurus teman-temannya.

Yah, perpisahan dengan teman-teman kerjanya. Kyungsoo benar-benar meninggalkan pekerjaannya. Pekerjaan yang telah memberinya nafkah sejauh ini. Entah apa yang akan dikatakan pada sang Ayah nanti. Dia belum siap mengatakan putri tersayang mereka sekarang menjadi pengangguran. Tapi senyum tertarik di bibir hati Kyungsoo. Ia merapikan bentuk tidur Luhan lalu bergumam terima kasih karena membantunya mendapat pekerjaan baru. Jauh dari kamera, jauh dari penipuan, jauh dari gosip, terlebih jauh dari pria bernama Park Chanyeol.

Lusa dia akan bekerja di Kantor Sehun, kekasih Luhan. Menjadi editor di perusahan penerbit milik Sehun, rasanya perlu penyesuaian.

Hembusan nafas yang cukup berat menandakan kepergian Kyungsoo. Gadis itu mengunci apartemen Luhan, ia terlalu lelah untuk hari ini. Seharian dia telah membereskan semua barang-barang. Sisa hari dihabiskan dengan mengobrol dan bergosip di kedai.

Kyungsoo menekan lockscreen ponselnya. Ternyata sudah pukul tiga dini hari. Pantas saja tubuhnya merasa lelah yang teramat. Gadis itu masuk dengan keadaan apartemen yang gelap gulita karena ditinggal sejak pagi. Setidaknya Kyungsoo menghapal dimana letak barang-barang berat di rumahnya. Terlalu lelah untuk menuju kamar apalagi untuk mandi. Kakinya menyentuh sofa di ruang tamu. Segera saja Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Memeluk sandaran sofa dan mulai terlelap. Alam bawah sadar dengan cepat menuntunnya menikmati mimpi disisa malam. Dengan tubuh yang lelah, Kyungsoo berharap dia tak bermimpi buruk. Jika tidak, dia benar-benar akan pergi ke peramal untuk membuang kesialannya atau menata ulang apartemen menurut fengshui.


~ RoséBear~


Beberapa jam sebelum itu. Tepat pukul sembilan malam ketika seorang pemuda tiba di bandara. Matanya setengah tertutup, ia memanggil taxi, menyerahkan secarik kertas berisikan sebuah alamat.

Kim Jongin

Masih tercetak dengan jelas percakapan dengan ibunya beberapa waktu yang lalu. Mengakhiri liburan memang niat awal Jongin, tapi sebelum masalah dengan Kyungsoo terungkap. Kemarin ia meninggalkan penginapan ibunya, menyusul sang ayah yang baru saja kembali ke negeri ini.

Dia pemuda yang kharismatik, berwawasan tinggi, lulusan universitas terkemuka... namun kesepian.

'Bicarakan dengan ayahmu. Bicarakan masa depanmu. Ibu tidak akan memohon untuk mempengaruhi keputusan ayahmu nanti.'

Tidak bisa langsung bertemu Ayahnya, Jongin harus berkeliling negeri ini karena keberadaan sang ayah yang bagai burung liar. Terbang kemana-mana. Dia harus pergi ke Jeju untuk menemui Ayahnya, padahal rumah mereka ada di Busan. Sungguh amat sangat menggelikan memiliki lelaki yang bekerja bagai orang idiot seperti Ayahnya. Setelah bertemu sang Ayah, Jongin hanya duduk di depan sofa. Pria itu yang telah membuatnya seperti ini. Tapi tak ada yang bisa Jongin sesali. Hanya sedikit saja, ketika Ayahnya tertawa setelah ia menyampaikan pesan ibunya.

'Kalau begitu pindahlah ke Seoul. Ayah tahu kau bisa berkembang sangat baik disana. Bekerja membuatmu tidak kesepian, begitulah yang ayah lakukan. Tapi jangan seperti ayah, Jongin. Ahh anak teman ayah telah lama menetap di ibu Kota. Ayah akan memintanya membantumu mencari tempat tinggal jika kau tidak mau merepotkan saudaramu yang lain.'

Dalam waktu kurang dua jam Jongin tiba di depan sebuah gedung bertingkat. Tadinya Jongin berharap ia akan berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman besar, swimming pool, dan pagar tinggi. Tapi sepertinya jika ikut tinggal disini beberapa hari bisa mengubah prilaku Jongin. Yang pasti dia tidak akan merasa seorang diri seperti di rumahnya. Gedung apartemen ini sudah tentu dihuni banyak orang. Dia hanya perlu menyalakan alarm jika mendapat bahaya.

Sedikit terkikik kecil membayangkan kehidupannya akan seperti apa. Ini pertama kalinya dia jauh dari rumah. Tepatnya tidak akan ada yang melayani Jongin kecuali dia membayar orang untuk itu.

Jongin melewati resepsionis. Dia sudah tahu apartemen mana yang akan menjadi tujuan. Lantai tujuh. No 7014.

Bibirnya mengerucut tak mendapat respon dari pemilik apartemen. Jongin menghubungi ayahnya, ia mendapatkan kode akses untuk masuk. Yeah, dia hampir saja mengumpat. Ternyata penghuni tidak ada di dalam. Apartemen dalam keadaan gelap gulita. Dalam keadaan perut yang lapar, ekor mata pria Tan itu menemukan lemari pendingin. Hanya ada beberapa fastfood. Itu saja yang bisa mengisi perutnya sekarang.

Televisi menyala. Ini seperti di ruang pribadinya sendiri, hanya sedikit lebih sempit. Sudah larut malam. Jongin pikir pemilik apartemen tidak akan kembali, jadi dia memutuskan untuk tidur di sofa. Jongin bukan orang yang akan memasuki area utama privasi seseorang. Dia butuh izin untuk itu.


~ RoséBear~


Ada kalanya cinta membutuhkan kerja keras seperti saat bunga matahari bertahan di bawah terik matahari musim panas. Namun ada pula saat cinta menjadi begitu mudah. Bukankah jatuh cinta itu menyenangkan? Mempunyai banyak rasa.

Musim panas tahun ini, dimana rumput dan ilalang perlu di cabut hingga ke akar-akarnya. Tanaman perlu disiram agar bertahan.

Begitu juga dengan cinta, ia butuh setidaknya sedikit perhatian agar bisa bertahan.

Kyungsoo terusik dalam tidurnya. Uap panas yang ia rasakan seperti hembusan nafas. Perlahan mata bulatnya bergerak gelisah, mengerjap beberapa kali untuk mendapatkan kesadaran. Sinar matahari masuk melewati ventilasi udara. Matahari terlalu cepat bersinar dalam beberapa jam sejak dia hilang kesadaran.

Tidak sadar sepenuhnya, Kyungsoo seperti melihat bayangan Jongin. "Yak. Kenapa kau selalu hadir dalam mimpiku. Jongin~" Guman Kyungsoo kesal. Suara parau itu terdengar begitu merdu. Mengusik ketenangan orang lain.

,,,orang lain.

Kyungsoo menarik tangannya dari sebuah dekapan hangat, menoel pipi wajah yang tampak seperti Jongin. Menekan beberapa kali dan dia terkikik kecil. "Bahkan terasa begitu nyata. Hahhh," nafasnya tergelincir beradu dengan uap panas lainnya.

"Aku merindukanmu~"

Sebegitu rindukah Kyungsoo dengan Jongin hingga dia berniat mencium pemuda itu melalui mimpinya. Kyungsoo menarik tubuh untuk sedikit merangkak naik. Bibirnya menempel pada bibir tebal yang terasa lembab.

Lama bibir itu menempel, Kyungsoo menginginkan lebih. Dia menjilati bibir itu hingga basah. Sedikit, sedikit lagi hingga membuat ujung lidahnya masuk. Merasakan sebuah kehangatan. Entahlah, Kyungsoo semakin menjadi dan dia memejamkan kepalanya menginginkan bibir itu membalas lumatannya.

Sudah beberapa menit Kyungsoo mencium benda itu dengan begitu agresif. Di detik terakhir ia merasa bibir bawahnya seperti di tarik.

"Kau menikmatiku?"

Degh

Mata bulatnya yang setengah sadar terbuka sempurna. Sosok Jongin di hadapan Kyungsoo tersenyum. Kyungsoo hampir lupa bagaimana cara ia bernafas. Kenapa Jongin terasa begitu nyata? Sebegitu dalamkah dia merindukan pria itu?

Keduanya saling bertatap untuk waktu yang cukup lama. Mengenali lawan masing-masing. Memaksa otak untuk berfikir lebih cepat.

"ARRRRGGHHHHHHH."

BUGH

Kyungsoo terjatuh dari sofa. Pantatnya menghantam lantai beralaskan karpet berbulu. "Aww~" Gadis itu meringis merasakan sakit yang teramat. Rasa sakit itu menyadarkannya, Kyungsoo mendongak mendapati Jongin yang juga memandangnya kaget. Pemuda itu langsung mengambil posisi duduk.

"Kyu-Kyungsoo?"

Suara Jongin terdengar begitu nyata. Sejujurnya Kyungsoo tidak tahu harus bagaimana. Mimpi? Tidak mungkin ia belum terbangun setelah merasakan sakit di pantatnya.

"Jo-jongin?" Akhirnya bibirnya mengucapkan nama itu.

Detik itu ponsel Kyungsoo berbunyi. Ponsel di atas meja itu menampilkan nama Ayahnya.

" Da-Daddy?" Sapa Kyungsoo pada orang di seberang. Dia mencoba mengacuhkan sosok Jongin yang masih meneliti setiap inchi tubuhnya.

'Kau sudah bertemu dengan anak teman Daddy? Katanya dia sampai tadi malam.'

"Anak teman?" Kyungsoo mengulang ucapan Ayahnya matanya melirik pada Jongin.

"Yeah. Anak paman Kim. Kemarin Daddy sudah mengirim pesan padamu. Jangan lupa bantu dia mencari tempat tinggal di dekatmu atau biarkan dia tinggal beberapa minggu denganmu. Ahh Daddy ada rapat pagi ini. Kau jaga diri disana sayang "

Panggilan terputus dan Kyungsoo menatap horor pada Jongin. Dia telah menjadi idiot dengan mengabaikan pesan penting Ayahnya dan menjadi orang idiot sesungguhnya karena begitu seduktif menciumi Jongin.

Kyungsoo menundukkan kepala, mengigiti bibir bawahnya menahan malu yang teramat. Perpisahan mereka sama sekali tidak ada kesan baik. Sekarang bagaimana Kyungsoo bisa berhadapan dengan Jongin secara langsung.

Pria itu turun dari sofa, bersender di kaki sofa menghadap Kyungsoo. Jemarinya bergerak mengangkat dagu Kyungsoo.

Dari mata Jongin terpancar kerinduan yang amat dalam. Pandangan tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya, "Kyungsoo?"

Gadis itu seolah terhipnotis oleh suara Jongin. Dia ingin berteriak pada dunia betapa bodoh dirinya yang melakukan pelecehan pada anak teman Ayahnya sendiri.

"Maafkan aku~" Lirihnya pelan. Kyungsoo menyingkirkan tangan Jongin pelan. Bergegas meninggalkan pria itu hingga tubuhnya terhuyung menabrak tembok ketika membuka pintu kamar. Ia mengurung diri di dalam kamar. Mengabaikan teriakan Jongin yang trus saja memanggilnya.

Di lain sisi, Jongin terkikik kecil. Dunia benar-benar sempit atau mereka saja yang membuatnya terlalu sempit. Dalam seminggu dia bertemu Kyungsoo 'nya, lagi.

Hatinya menghangat, pria itu menyentuh bibirnya yang masih basah.

"Ini kenyataan," bisik Jongin pelan.


~ RoséBear~


Pagi itu. Kyungsoo benar-benar menjadi tidak tenang. Sosok Jongin selalu mengekor di belakangnya. Tentang apapun yang sedang Kyungsoo kerjakan maka pria itu seperti ekor yang menempel. Bahkan ia bersender di tembok jika Kyungsoo masuk ke kamar mandi. Apartemen ini hanya punya satu kamar mandi dan itu ada di kamar pribadi Kyungsoo.

Kini Kyungsoo sedang disibukkan dengan beberapa sayuran yang sempat dibelinya tadi. Sementara Jongin membersihkan diri.

Gadis itu telah siap melindungi pakaian dengan apron biru bermotif polkadot.

"Kau bisa masak?" Jongin berdiri tepat di samping Kyungsoo. Pria itu baru saja selesai mandi ketika Kyungsoo memaksanya membersihkan diri ketimbang trus mengekor. Aroma sabun vanilla milik Kyungsoo bersatu dengan Jongin. Pria itu menggunakan semua barang Kyungsoo, terkecuali pakaian. Bahkan sikat gigi pun dia gunakan milik Kyungsoo.

"Hng? Jangan menganggu. Duduk diamlah di sana!" Tunjuk Kyungsoo pada kursi kayu diluar area kitchen set mini miliknya.

Jongin cemberut. Bibirnya maju menampilkan betapa tidak setujunya dia dengan perkataan Kyungsoo. "Jangan mengacau Jongin," tangan mungilnya mencoba mendorong tubuh Jongin.

"Aku tidak akan mengganggu. Percayalah~" Kyungsoo menatap tajam Jongin. "Percayalah~" ucap Jongin meyakinkan.

Kyungsoo mengangkat kedua tangannya pasrah. Ia tak bisa menolak keberadaan Jongin. Bukankah sejak dulu memang sudah begitu. Sejak bertemu, mereka menghilangkan topik di penginapan itu. Jongin hanya sekali mengatakan permintaan maaf. Selebihnya mereka bertingkah seperti anak teman Ayahnya masing-masing. Hanya saja, sedikit lebih akrab.

Jongin terlalu takut menyinggung Kyungsoo. Dia sempat melihat surat undangan pernikahan Chanyeol ketika menunggu Kyungsoo di kamar mandi, dan dia benar-benar membacanya saat Kyungsoo pergi berbelanja. Sementara ia membersihkan diri.

Lain lagi dengan Kyungsoo. Ia benar-benar malu, sedikit berterima kasih karena Jongin tak menyinggung masalahnya. Entah sampai kapan keduanya harus seperti ini.

Kyungsoo selesai dengan masalahnya. Gadis itu menatap beberapa masakan berkuah dan juga potongan buah yang telah di kupas. Sementara Jongin bersorak gembira menyambut sarapan yang Kyungsoo sajikan. Tidak mewah memang, tampak tak selezat makanan Ryeowook atau pelayanan di rumahnya. Tapi ini menjadi begitu istimewa karena Kyungsoo yang membuat.

Gadis itu duduk di hadapan Jongin. Baru saja tangannya hendak melepas tali apron di bagian leher tapi karena kecerobohannya tali itu mengikat mati. Jongin terkekeh melihat wajah kesal Kyungsoo. Ia beranjak dan mendekat, sedikit membungkuk untuk meraih bagian leher Kyungsoo. Matanya menyaksikan dengan teliti bagian yang terikat.

Jemari Jongin memang berusaha di bagian tali, tapi matanya memandang kilauan di leher Kyungsoo. Ia tersenyum senang. Kyungsoo masih menggunakan kalung berliontin bunga anggrek itu.

"Terima kasih," ucap Kyungsoo setelah apronnya bisa di lepas.

Tapi Jongin tak melepaskan tangannya dari pundak Kyungsoo. Membuat gadis itu merinding menunggu apa yang ingin Jongin lakukan. Ia merasakan kehangatan mengelilingi lehernya. Jongin tengah mengambil posisi berbisik, "Terima kasih banyak Kyungsoo."

Ia beranjak segera. Kembali ke posisi duduk untuk menikmati sarapan. Kyungsoo selesai lebih dulu, membawa piring kotor menuju wastafel. Mengenakan sarung tangan karet, "Bawa kemari kalau sudah selesai." Titah Kyungsoo dituruti Jongin. Pria itu menghampiri dengan membawa piring kotor.

"Apa yang kau lakukan Jongin?"

Kyungsoo berkerut mendapati tubuh Jongin di belakangnya. Kedua tangannya memang meletakkan piring kotor di wastafel. Namun melingkar melewati tubuh Kyungsoo. Jongin sedikit condong ke depan menghimpit tubuh Kyungsoo. Gadis itu meletakkan sponge dan piring kotor. Menahan tubuhnya agar tidak terjungkal ke depan. "Jo-Jongin?" Panggil Kyungsoo parau. Ia hanya sedikit merinding mengingat ciuman mereka tadi pagi. Tak bisa dipungkiri, mereka pernah melakukan hal yang lebih intim dari sekedar ciuman.

"Terima kasih banyak telah menjaganya."

Muka Kyungsoo mengernyit tidak mengerti ucapan Jongin. Pria itu mencium lehernya. Tepatnya kalung yang ia kenakan. Barulah Kyungsoo berani menebak.

"K-kau? Kau yang memberiku kalung ini?" Ini berjingkat kaget, membalik tubuhnya berhadapan dengan Jongin. Sarung tangan karet yang basah menahan dada bidang Jongin membuat kemeja hitam yang dikenakan pria itu basah.

Jongin menahan kedua tangannya di pinggiran wastafel. Tubuhnya semakin maju membuat Kyungsoo berjinjit untuk mundur.

"Ucapan maafku karena mengabaikanmu. Maaf aku membuatmu tidak nyaman."

Jongin menunduk tak berani menatap Kyungsoo. Jaraknya bahkan memang dekat tapi tak berani, takut tidak bisa menahan diri.

Suara kekehan Kyungsoo menarik perhatian Jongin. Ia mendongak dan mendapati bibir hati itu tersenyum.

"Saat tiba di Seoul aku bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan kalung ini. Tapi Luhan maupun Sehun juga tidak tahu. Sempat terfikir tentangmu karena sweater itu, tapi Luhan bilang Ibumu yang mengganti pakaianku. Dan lagi bukankah kau sangat marah padaku waktu itu?"

"Maafkan aku."

Kepala Jongin tertunduk. Menjatuhkannya di pundak sempit Kyungsoo. "Maafkan aku~" Berulang kali dia mengatakan kata yang sama.

"Aku yang seharusnya meminta maaf," Kyungsoo menarik nafas dalam. Posisi ini membuatnya tidak nyaman. "Jongin." Panggil Kyungsoo pelan. "Kapan kau akan mencari tempat tinggal?"

Jongin mengangkat kepalanya. Menatap Kyungsoo yang trus menjauhkan wajahnya. Pria itu akhirnya berguling ke sebelah. Bersender di wastafel menemukan pose berfikirnya sendiri. "Apa kau masih memendam perasaan pada mantan kekasihmu?"

"Uhuk."

Kyungsoo tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Jongin.

Ia bergegas mengambil air minum dan meminumnya. Mengacuhkan perhatian Jongin yang tak melepaskan tatapannya dari pergerakan Kyungsoo.

Tatapan pria itu, sangat sulit dideskripsikan. Dia seperti telah memendam banyak penderitaan namun sedikit ada harapan.

"Aku mau menolongmu."

Pelan. Kyungsoo memberanikan diri menatap Jongin.

Grep

Satu tarikan ia sudah berada dalam pelukan Jongin. Begitu erat hingga Kyungsoo kesulitan bernafas. Panggilan terputus-putus meminta sedikit space agar bisa menghirup udara. "Jo-jongin," Panggil Kyungsoo pelan.

"Kau mau melupakannya?" Pria itu melonggarkan pelukannya namun tetap posesif.

Ragu. Kyungsoo mengangguk. "Aku memang berencana begitu." Cicitnya.

Jongin tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo. Ia menarik kepala Kyungsoo untuk saling menatap. "Aku mencintaimu. Sungguh. Ssshhhh." Jongin menghentikan Kyungsoo dengan bibirnya. Menempelkan cukup lama untuk memberitahu Kyungsoo dia harus mendengarkan Jongin hingga selesai. "Aku sendiri tidak tahu sejak kapan. Ta-tapi aku tidak akan memaksamu menjawab sekarang. Beritahu aku jika kau sudah melupakan dia. Dan... Bisakah aku tinggal bersamamu? Aku janji tidak akan merepotkan. Aku akan membayar biaya sewa apartemen," Kini dia menunggu Kyungsoo menjawab.

"Enggggg..." Gadis itu berfikir sejenak. "Aku tidak yakin Jongin." Kyungsoo berpaling, ia enggan untuk menatap Jongin. Kyungsoo telah memupuk harapan di diri Jongin. Dari awal tidak seharusnya dia menjadikan Jongin sebagai pelarian. Hatinya menjadi bimbang, benarkah dia boleh mencintai Jongin ketika masih berada dalam masalah yang rumit.

"Jika aku bisa membuatmu melupakan pria itu. Soo..." Kini terdengar suara putus asa Jongin.

"Kau sungguh mencintaiku? Tapi Jongin.. Aku tidak mau membuatmu menjadi pelarianku."

"Aku tidak masalah," jawab Jongin cepat.

Hari ini mungkin Jongin tidak mempermasalahkannya. Tapi bagaimana dengan besok? Lusa? Hari berikutnya? Kyungsoo takut, dia bisa saja melupakan Chanyeol, hampir benar-benar melupakan pria itu. Namun bagaimana saat dia mulai mencintai Jongin dan pria itu meninggalkannya, juga.

"Aku tidak akan meninggalkanmu," seolah mengerti keraguan Kyungsoo, Jongin mengambil suara. "Selama kau percaya padaku."

Seketika hati Kyungsoo menghangat. Pria ini seperti musim panas yang berkilauan. Pantaskah dia bersama Kyungsoo yang merupakan puncak dari musim dingin?

Jongin cocok menjadi bunga matahari di musim panas. Tapi kyungsoo?

Tahukah kau Do Kyungsoo? Bahwa di musim dingin 'pun ada bunga mungil nan cantik yang bisa mekar. Snow drop, melambangkan harapan. Ia bertahan ditengah - tengah musim dingin.

Ia memohon kepastian dari Jongin. Gadis itu berjinjit, bibirnya menempel pada bibir Jongin. Mengecupnya hingga tiga kali sampai Jongin membalas kecupannya.

Kyungsoo semakin menekan bibir Jongin. Seperti pagi ini dimana Kyungsoo ingin ciumannya semakin dalam, tangannya yang masih terselubungi sarung tangan karet melingkar di leher Jongin. Menarik pria itu agar semakin menunduk. Kaki Kyungsoo menapak di lantai setelah Jongin menuruti kemauannya. Sementara tangan Jongin bertengger di pinggang Kyungsoo. Naik lalu turun kembali membelai tubuh Kyungsoo dari balik gaun selutut khas musim panas dengan sedikit renda di bagian dada. Pria itu tersenyum karena Kyungsoo tak melepaskan ciumannya. Saat bibir itu terbuka ia segera melesakkan lidahnya. Menjelajahi gua kelam nan hangat milik Kyungsoo.

Keduanya sadar seharusnya ini tidak boleh terjadi. Tapi hasrat dan gairah telah menguasai pikiran. Ini karena kebutuhan primer mereka masing-masing. Ciuman Kyungsoo tak kunjung berakhir, Jongin pikir libidonya bisa saja meletus jika Kyungsoo tak menghentikan semua ini. Jika pandangan manusia lain begitu luas, maka berbeda dengan Jongin. Saat ini dia hanya bisa melihat bagaimana menuntutnya Kyungsoo untuk disentuh.

Perut Kyungsoo menarik tiap inhalasi, nafasnya pendek. Dari jarak yang begitu dekat Jongin merasakan belaian halus bulu mata Kyungsoo di wajahnya.

Merasakan itu Jongin menarik tali gaun Kyungsoo. Melepasnya satu persatu. Bagian atas gaun itu mulai mengendur memperlihatkan pundak mulusnya. Kyungsoo melepas ciumannya. Tapi tangannya memegang erat pinggang Jongin. Gadis itu menunggu Jongin menyentuhnya. Entahlah, dia hanya ingin bibir Jongin mengecup tiap inchi tubuhnya, dan disinilah Jongin. Ia memberikan apa yang Kyungsoo inginkan. Mengecup, menjilati serta menggigiti leher Kyungsoo. Dada gadis itu menjadi sedikit merah muda selama sentuhan Jongin berlangsung. Gaunnya turun hingga ke bagian bawah buah dadanya yang tampak sedikit menegang. Meninggalkan lapisan bra berenda berwarna hitam. Gejolak seks wanita itu meningkat ketika kaki Jongin menekan area selangkangannya. Kyungsoo mendongak, sedikit memeluk menimbulkan desahan ringan.

Tidak. Jongin tidak boleh melanjutkan ini. Dia sudah berjanji pada ibunya. Dia juga sudah katakan betapa Ia mencintai Kyungsoo. Ia tidak mau menodai Kyungsoo lebih buruk lagi.

Dihentikannya ciuman secara sepihak membuat wajah Kyungsoo bertanya-tanya. Jongin hanya tersenyum dan menggeleng pelan. Ia naikkan gaun Kyungsoo. Mengikat satu persatu tali yang tadi sempat di tariknya.

Gadis itu menunduk. Sarung tangan karet yang tadi dipakainya telah lepas dan jatuh ke lantai entah sejak kapan. Kyungsoo setengah bersender di wastafel. Menggigiti ujung kukunya secara berulang. Jongin tahu, Kyungsoo pasti merasa sakit dan juga malu. Pelan ia tarik kedua tangan Kyungsoo membuat gadis itu mendongak kaget. Jongin meletakkan tangan Kyungsoo tepat di kejantanannya yang sedikit menegang.

"Aku juga menginginkannya. Tapi..." Jongin menjauhkan tangan Kyungsoo dari kejantanannya. Membelai halus pipinya menggunakan tangan Kyungsoo hingga wajah mereka berdekatan. "Aku tidak ingin menodaimu lagi. Biarkan aku menyentuhmu jika kita sudah menikah. Aku percaya hari itu akan datang," Terakhir Jongin tersenyum. Mencium Kyungsoo mencoba menenangkan gadisnya. "Lagian, aku tidak punya pengaman dan aku sudah berjanji pada seseorang."

"Se-seorang?" Suara Kyungsoo terdengar parau. Dadanya naik turun menanti jawaban Jongin.

"Ibuku. Dia tahu aku telah menyetubuhimu. Dia mau aku tidak melakukannya lagi. Ibu ingin agar aku menjaga orang yang kucintai dan gadis itu kini di hadapanku."

Kyungsoo meremas kemeja yang Jongin kenakan. Menenggelamkan kepalanya pada dada bidang pria ini. Kenapa sekarang dia seperti penjahat di hadapan Jongin.

"Ssshhhh aku tidak akan memaksa kau mencintaiku sekarang. Aku akan menunggumu Kyungsoo."

Pipi Jongin merasakan belaian rambut Kyungsoo. Berulang kali dia mengusap punggung sempit Kyungsoo.


~ RoséBear~


Sekarang. Masa dimana sebuah tempat sedang berada diposisi tidak menghadap matahari.

Sang raja telah tenggelam di horizon sebelah barat sejak beberapa jam yang lalu.

Jongin menghabiskan popcorn yang dibelikan Kyungsoo. Ia menikmati acara televisi sembari menunggu kepulangan Kyungsoo menemani Luhan berbelanja. Entahlah, para gadis punya agenda tersendiri tentang apa yang ingin mereka kerjakan.

Sedikit,,, tidak banyak hal yang Jongin tahu mengenai Luhan. Gadis bermata rusa itu tampil cantik, dia pekerja mandiri dan kekasihnya cukup mapan. Luhan tak bisa menolak kehadiran Jongin di apartemen Kyungsoo. Walau dia bisa saja melayangkan protes karena tidak mengenal Jongin. Tapi Kyungsoo memperkenalkan Jongin sebagai anak dari teman Ayahnya. Pertemuan mereka di penginapan itu adalah sebuah kebetulan.

Atau awal dari takdir baru.

"Jongin."

"Heoh? Kau sudah kembali?"

Jongin merasakan sofa di sebelahnya sedikit bergerak kebawah efek dari Kyungsoo yang ikut duduk di sebelahnya. Pemuda itu melamun hingga tak sadar jika Kyungsoo telah masuk.

"Besok aku mulai bekerja."

Jongin hanya berdehem sejenak. Dia tidak memperhatikan jika sekarang Kyungsoo menatapnya kesal. Gadis itu memukul pundaknya pelan. "Sementara kau tidak perlu mencari tempat tinggal. Kau bisa tinggal di sini bersamaku. Tapi apa kau tidak akan mencari pekerjaan?"

"Aku punya pekerjaan."

Kyungsoo mendengus menerima jawaban Jongin. Pria itu sadar Kyungsoo tak terlalu suka jawabannya ia memutar posisi duduk menghadap kyungsoo. "Apa yang kau khawatirkan?"

"Tadinya takut kau kesepian jika aku bekerja."

Jongin terkesiap dengan jawaban Kyungsoo. Gadis ini menghawatirkan dirinya. Dia patut berbangga diri sekarang.


~ RoséBear~


Hampir satu minggu Jongin tinggal bersama Kyungsoo. Pria itu melakukan hal terbaik yang ia bisa. Walau sedikit menderita, hampir setiap malam Kyungsoo meminta Jongin menemaninya sebelum tidur, walau sekedar berbaring di ranjang yang sama. Prilaku gadis itu tak banyak berubah. Tapi bukankah ini yang Jongin inginkan. Ia ingin Kyungsoo melupakan mantan kekasih dan menatap dirinya.

Bicara tentang mantan kekasih Kyungsoo. Besok adalah hari pernikahan mereka. Kyungsoo tak menyinggung masalah itu pada Jongin. Dia akan datang atau tidak. Nampaknya Luhan masih mencoba membujuk Kyungsoo agar datang bersama Jongin, tapi gadis itu menolak.

Dan Jongin tak bisa memaksanya. Memang ada hal yang bisa dibanggakan Jongin jika pergi bersama Kyungsoo. Tapi di dalam lubuk hatinya, ia takut akan sesuatu.

Sore hari ini ia kembali menghabiskan waktu di sofa ruang tamu. Membersihkan diri dan menikmati cemilan sore sembari menunggu Kyungsoo pulang. Setiap hari Jongin memang pulang lebih cepat, tentu saja begitu. Pekerjaannya tidak seperti Kyungsoo. Gadis itu sering pulang menjelang malam hari. Terkadang Jongin kasihan melihat Kyungsoo yang pulang dalam keadaan begitu lelah. Tapi dia tak terlalu khawatir, sebab Luhan juga sering pulang bersama Kyungsoo. Gadis itu menenangkannya dengan kata-kata 'ini karena aku bekerja dari awal lagi. Jika sudah lama pasti bisa lebih santai.' Namun kadang Kyungsoo melontarkan kecemburuan pada Jongin karena pemuda itu terlihat tak bekerja.

Pintu berbunyi. Tidak biasanya gadis itu menekan bell. Biasanya juga dia langsung masuk saja. Tapi Jongin tidak peduli. Ia segera bangkit untuk membuka pintu. Mulutnya trus saja mengomel saat membuka pintu.

"Kau sudah pulang? Aku membeli banyak cemilan... Oh... Apa yang kau lakukan di sini?" Wajah Jongin berubah. Ia menunjukkan rasa ketidaksukaan pada kehadiran tamu yang tidak di undang.

Jongin tentu ingat wajah pria tinggi nan tampan itu. Baru saja beberapa menit yang lalu dia memikirkan pria ini.

Park Chanyeol.

Namanya sering muncul di layar televisi tiap pagi dan sore hari. Tapi Kyungsoo melarang Jongin menontonnya.

Pria Tan bersender di daun pintu menghadang Chanyeol untuk masuk.

"Kyungsoo belum pulang?"

Jongin tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Pria itu tampak tenang, jadi wajar saja dia di cintai wanita yang setia. Penampilannya rapi, sedikit berbeda dengan Jongin yang telah berpakaian kasual.

"Kau mantan kekasihnya. Untuk apa kemari? Bukankah besok kau akan menikah?"

Chanyeol tersenyum meremehkan Jongin. Lelaki itu tampak menyimpan rahasia yang ingin dia sampaikan.

"Kupikir kami tidak pernah mengakhiri hubungan. Dan kau.." Chanyeol menjeda ucapannya membuat kening Jongin berkerut. "Kau anak pemilik penginapan di desa itu? Luar biasa kau mengikutinya kemari. Tenanglah anak muda." Chanyeol dengan suara yang berat bicara perlahan. Ia menepuk dada Jongin berharap nafas pria ini kembali teratur setelah mendengar ucapannya. "Aku sudah tahu kau mengejar Kyungsoo. Maaf, aku mendengar percakapan Luhan dengan Sehun beberapa hari yang lalu tentang seorang pemuda yang kini tinggal di apartemen kekasihku."

Tak ada keramahan yang Jongin tunjukkan. Ia tersulut emosi. Mulut pria ini benar-benar brengsek bagaimana dia bisa menyebut Kyungsoo kekasihnya sementara besok adalah hari pernikahannya dengan wanita lain.

"Aku akan menunggu Kyungsoo di dalam."

Jongin memang berdiri di bagian dalam rumah. Pria di hadapannya mengetukkan sepatu ketika dia hendak melangkah masuk. Pria ini sedang berusaha mengabaikan Jongin.

"Apa kau mengharapkan dua wanita dalam pernikahanmu Tuan Park?"

"Tak ada salahnya dengan dua wanita. Aku bisa mendapatkan kedua-duanya."

Bughh

Brakk!

Tubuh Chanyeol terpental. Pria itu melayang keluar melewati pintu apartemen hanya karena hantaman Jongin. Pria yang tersulut emosi ketika wanitanya diinginkan orang lain itu, mengerikan.

"Haha," Chanyeol tertawa seperti seorang aktor. Menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya.

"Kau mau aku menghajarmu untuk merusak penampilanmu di upacara pernikahan kalian besok?"

"Hah~ sudah kukatakan aku akan memiliki keduanya. Kyungsoo begitu mencintaiku. Harusnya kau tahu..."

Bugh

Jongin menghentikan ucapan Chanyeol dengan satu pukulan. Ia menendang perut pria itu sekuat tenaga membuat darah keluar dari mulut Chanyeol.

Pria yang lebih tinggi bangkit. "Yakk!" Memukul Balas Jongin. Telak mengenai wajah tampan pria itu. "Apa yang kau harapkan dari Kyungsoo? Tubuhnya? Yeahh hanya itu yang menarik pada dirinya."

Jongin semakin tersulut emosi ketika mendengar ucapan Chanyeol. Tapi belum sempat ia meluangkan satu pukulan. Pria itu telah lebih dulu memukul perutnya membuat jongin kehilangan keseimbangan, tersungkur menghantam tempat sampah milik Kyungsoo.

Arghhh

Darah mengalir dari tangan Jongin.

Tidak. Chanyeol sama sekali tidak melukai tangannya. Hanya saja Jongin membuat tempat sampah itu tumpah. Dan dia ingat, tadi pagi dia memecahkan vas bunga Kyungsoo dan membuang pecahannya. Pecahan kaca itu telah melukai telapak tangan Jongin. Telapak tangannya tak berhenti mengeluarkan darah. Tapi Jongin masih punya tenaga untuk bangkit .

Bugh

Satu pukulan balasan untuk Chanyeol. Terlalu kuat hingga pria tinggi itu kembali tersungkur ke lantai. "Jangan samakan aku denganmu. Aku hanya akan menjadikan Kyungsoo satu-satunya."

Jongin berbalik badan hendak meninggalkan Chanyeol sebelum pihak keamanan apartemen menyadari perkelahian mereka. "Kau tidak akan mendapatkan Kyungsoo. Hatinya hanya akan memilihku. Tidak peduli apa yang kau lakukan. Dia..."

"Dia sudah menyerahkan tubuhnya padaku, Kyungsoo sepenuhnya akan menjadi milikku."

Chanyeol terdiam mencoba mencerna kata-kata Jongin. Lain lagi dengan pria tan, senyumnya tersungging menandakan kemenangan.

"YAKKKKKK!"

Satu teriakan itu disusul dengan sebuah hantaman kuat pada tubuh Jongin. Tubuhnya tersungkur cukup jauh, menghantam tembok dengan kuat.

"A-apa yang terjadi?"

Suara itu. Jongin tahu siapa pemilik suara itu. "Jongin~"

Pria itu menyesal mendengar kekhawatiran keluar dari mulut Kyungsoo. Gadis itu baru muncul dari ujung koridor. Berlari menghampirinya. Ia merasakan sentuhan hangat jemari Kyungsoo pada wajahnya.

"Kyung~" Chanyeol berusaha meraih Kyungsoo. Namun gadis itu menepis tangannya.

"Pergilah Chan."

"Ta-tapi... Ada hal yang mau kubicarakan denganmu."

"Kubilang pergi Park Chanyeol!" Teriakan Kyungsoo melengking membuat Jongin memejamkan matanya kuat. Itu menyakiti telinganya, tapi menghangatkan hatinya. Kyungsoo membantu Jongin untuk berdiri.

Pria itu sebenarnya tidak apa. Hantaman terakhir Chanyeol hanya membuat kepalanya pening. Dia juga sudah sering menerima pukulan jika berkelahi di bar. Tapi sekali saja Jongin ingin membuktikan pada pria di belakang mereka ia berhasil mendapatkan perhatian Kyungsoo.

Mereka masuk meninggalkan Chanyeol sendirian. Gadis itu membantu Jongin untuk duduk di sofa setelah menyingkirkan cemilan yang menggunung di sana.

"Kyung~" Panggilnya Jongin menahan langkah Kyungsoo yang hendak beranjak ia menarik gadis itu agar duduk dipangkuannya. Menggeleng pelan. "Jangan khawatir."

"Lepaskan aku..."

Degh

Jongin terdiam sesaat mendengar nada bicara Kyungsoo. "Aku akan membersihkan lukamu," Dia bahkan bicara tanpa menatap Jongin. Kini Jongin benar-benar menyesal membuat Kyungsoo diliputi perasaan bersalah.


To be Continue...


Sudah ada sedikit moment KaiSoo seperti yang diharapkan.

Terima kasih banyak atas partisipasi dalam cerita ini. Kalian luar biasa membacanya sampai akhir. Sekarang aku masih berusaha menyelesaikan Lady Rose yang entahlah sampai kapan aku bisa menyelesaikannya sembari merangkai kata pada cerita lain. Aku mengalami sedikit kesulitan. Mohon jangan terlalu menunggu. Haha

Ketika ada waktu senggang, aku bersenang-senang. Jadi kalian bisa memberi review atau PM langsung jika ada pertanyaan yang perlu di jawab dan tidak akan menemukan jawaban selama jalan cerita.

Lalu apa yang akan terjadi di chapter selanjutnya?


Preview Ch 08

"Kyungsoo~ aku tidak bisa makan. Kau memasang perban di kedua tanganku." –Jongin

.

"Sebenarnya bagaimana kau mendapatkan semua ini?"-Kyungsoo

.

"Ada perlu apa pria beristri mencari mantan kekasihnya?" –Jongin

.

"Kyungsoo! Aku perlu bicara denganmu." –Chanyeol

Salam hangat,

.

~ RoséBear

(2017, 20 May)

"Kau menemaniku dalam permainan blackjack. Namun jika aku menang kau juga menemaniku di ranjang malam ini?" -Unlucky Girl (Cosmopolitan)