I Want To Kill Them
Naruto by: Masashi Kishimoto
-Chapter 7-
Apa? Perhitungan? Perhitungan apa maksudnya? Mom mau membuat perhitungan dengan Minato-sama? Yang benar saja? Memangnya kenapa ia membuat perhitungan dengan Minato-sama? Apa ada yang salah? Perasaan hubungan mereka juga baik-baik saja, toh mereka juga jarang bertemu. Tapi kenapa tiba-tiba saja Mom malah mau membuat perhitungan dengan kepala sekolah itu? Jangan-jangan benar kalau dia itu bukan Mom. Mom bukanlah orang yang seperti itu. Aku yakin dia itu bukan Mom. Hah? Kalau bukan Mom lalu siapa? Saku…. ra?
Minato-sama mengerutkan alis matanya. Ia tampak kebingungan setelah mendengar kalimat Mom yang barusan, yaitu tentang pengajuan perhitungannya. Minato-sama merasa sangat yakin kalau pendengarannya pasti salah. Ia yakin kalau Mrs. Anne, ibuku tercinta, bukanlah seperti orang yang saat ini sedang dilihatnya, sama seperti aku yang sangat yakin kalau ibuku sendiri tidak mungkin seperti itu.
Aku melirik Mom-ku yang tidak meyakinkan yang berdiri di sampingku. Tatapannya masih sama tajamnya seperti tadi. Seringaiannya juga. Aku yang hanya melirik saja sudah bergidik ngeri. Bulu kudukku berdiri semua. Rasanya sama seperti ketika aku berada di rumah angker dan di sampingku ada 'penunggu' rumah angker itu. Yeah kurang lebih begitulah.
"Maaf," kata Minato-sama, "apa yang saya dengar itu tidak salah, bukan?"
Tentu saja kau salah, tuan. Memangnya ibuku itu orang macam apa?
"Eh…" Mom mulai bersuara, dan kemudian ia berkata lagi, "Astaga!" Mom memekik dengan sangat keras. Aku dan Minato-sama tersentak kaget karena keadaan sebelum Mom memekik tadi masih tenang-tenang saja. Namun untung saja jantungku tidak copot. Huft.
Mom menepuk dahinya dengan sangat keras, dan hal itu membuat dahi Mom menjadi merah. Aku dan Minato-sama saling berpandangan dalam kebingungan. Kenapa Mom? Aneh sekali. Tadi kelihatan begitu mengerikan, sekarang berubah menjadi Mom yang seperti biasanya. Sebenarnya Mom yang aneh atau aku yang salah lihat, sih?
"Ke… Kenapa, Mom?" tanyaku dengan terbata-bata.
"Ino!" panggil Mom sambil menepuk bahuku dengan keras. Wajahnya terlihat seperti ketakutan, terkejut, dan semacamnya. "Ternyata Mom salah biacara!"
GUBBRRAAKKK…!
APA…? Apa maksudnya? Apa maksudnya salah bicara? Apa yang dilakukannya tadi? Apa-apaan kau ini, Mom?
"Hei, Ino. Kenapa diam saja? Jawab Mom. Seharusnya kau menyahut apalah begitu. Bukannya diam saja," kata Mom dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
Mom, kau gila! Kau sudah membuat jantungku hampir copot, sudah membuatku bergidik ngeri, dan bahkan hampir mengakui bahwa kau bukan ibuku! Ternyata, perhitungan tadi itu hanya karena ia salah biacara? Oh, hebat. Ia memang Mom yang ajaib dan bahkan hampir membuat anaknya jantungan. Beruntung kalian tidak mempunyai ibu yang seperti dia. Lebih baik jangan pernah.
"Astaga, maafkan aku," gumam Mom. Dapat kulihat kalau saat ini Minato-sama juga sama bingungnya sepertiku ketika melihat Mom yang ternyata hanya salah bicara. Ah, Mom ini benar-benar merepotkan! Kupikir dia Sakura, ternyata bukan.
"Ah, Minato-sama, sorry. Aku tadi tidak bermaksud berkata begitu. Tadi itu hanya secuil dialog dari film kesukaanku yang kebetulan juga terdapat kalimat yang seperti itu. Karena tadi sewaktu aku berjalan kemari, tiba-tiba aku jadi ingat film itu. Sekolah ini gothic sekali. Latar film kesukaanku itu juga sangat gothic, tepatnya di sebuah gedung. Dan ke-gothic-annya persis seperti sekolah ini. Makanya, aku jadi terbawa suasana di film itu ketika memasuki gedung ini yang suasananya hampir mirip dengan latar film kesukaanku itu," jelas Mom dengan semburat merah tipis di wajahnya. Ihi~ Malu, ya? Rasakan!
"Oh? Jadi begitu? Hah, untung saja hanya salah bicara. Saya pikir betulan. Ya sudah kalau begitu silakan Anda duduk," kata Minato-sama lega, yang kemudian mempersilakan Mom untuk duduk. Akupun juga ikut-ikutan duduk di sana.
"Begini, Minato-sama," kata Mom.
"Panggilnya pakai 'san' saja. Jangan pakai 'sama'," sela Minato-sama.
"Baiklah. Begini, Minato-san, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada Anda. Ini mengenai anak saya, Ino, yang belakangan hari ini mendapatkan banyak sekali musibah yang menimpanya, bahkan sampai membuatnya terluka parah dan koma di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mom.
Oh, tidak. Kenapa Mom malah bertanya begitu? Apa penjelasan dariku beberapa waktu lalu tidak cukup untuknya?
Minato-sama terlihat ragu-ragu untuk memberikan jawabannya pada Mom. Ia tidak yakin kalau Mom mau mendengar apa yang akan dijelaskannya nanti. Yeah, aku juga. Mendengra ceritaku saja Mom sempat tidak percaya, apalagi pada Minato-sama yang sudah lebih berpengalaman dariku.
"Maaf, tapi saya tidak berani cerita pada Anda," jawab Minato-sama. Tuh, kan! Apa aku bilang? Minato-sama saja sampai tidak berani bicara pada Mom.
"Kenapa tidak? Anda harus menceritakannya pada saya, Minato-san. Ini menyangkut keselamatan anak saya. Sudah dua kali anak saya mengalami musibah mengerikan yang membuat tubuhnya sampai terluka semua. Lengan, perut, dan leher Ino sudah penuh dengan luka. Saya tidak mau ada luka lagi di tubuhnya. Saya ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi di sekolah ini. Ino tidak mungkin melakukan hal bodoh apapun yang membuat ia sampai terluka. Pasti ada sesuatu di sekolah ini," kata Mom ngotot. Ia tetap memaksa Minato-sama agar ia mau bercerita.
"Mom, sudahlah. Aku kan sudah menceritakan semua hal tentang sekolah ini pada Mom. Kenapa sekarang Mom malah bertanya lagi pada Minato-sama? Apa yang aku ceritakan belum cukup?" selaku, agar Mom tidak terus memaksa Minato-sama.
"Tentu saja belum. Ceritamu itu belum akurat. Mom harus tanya langsung pada Minato-san karena Mom yakin ceritanya lebih akurat ketimbang kau," jawabnya tegas.
Heh? Ceritaku belum akurat? Bahkan semuanya aku ceritakan padamu sedetail-detailnya sampai tenggorokanku kering. Kaunya saja yang kurang percaya pada anaknya sendiri.
"Pokoknya aku harus tetap tahu apa yang sebenarnya ada di sekolah ini sampai kau terluka separah itu. Aku yang sebagai ibu yang baik tidak mungkin membiarkanmu kenapa-kenapa, Sayang. Mom tidak akan mengizinkan hal itu terjadi," kata Mom masih ngotot. Aku hanya diam dan mendesah pelan.
"Baiklah," Minato-sama menyahut, atau lebih tepatnya menyerah, "akan saya ceritakan semuanya."
What? Kepala sekolah itu mau meceritakannya? Oh, tidak. Aku harap dia hanya bercanda. Jangan, Minato-sama!
Minato-sama membuka mulutnya dan mulai berbicara. Ia menceritakan semua keanehan yang ada di sekolah ini, urut dari awal sampai akhir. Dari adanya kehadiran murid bernama Sakura di sini, kebencian semua orang terhadap Sakura, sampai pembunuhan Sakura yang sampai saat ini belum diketahui siapa pembunuhnya. Bahkan, Minato-sama juga menceritakan pada Mom kalau rohnya Sakura masih berkeliaran di sini. Minato-sama menceritakan semuanya secara detail. Tidak ada satupun rentetan kejadian yang tertinggal. Ia benar-benar menceritakannya pada Mom. Secara rinci. Dan asal kalian tahu saja, aku juga menceritakan hal itu pada Mom secara terperinci dan sangat-sangat detail! Apa yang sudah aku katakan pada Mom, dikatakan ulang lagi pada Minato-sama. Berarti, ceritaku sudah akurat, bukan?
"Apa?" sahut Mom ketika Minato-sama selesai bercerita. "Jadi benar kalau di sini memang ada sesuatu yang aneh. Jadi ternyata di sini memang ada 'penghuni'nya?"
Mom terus saja bergumam. Aku dan Minato-sama hanya bisa diam mendengarkan Mom bergumam. Ia pasti syok sekali, kaget bukan main. Aku bisa memakluminya. Nah, sekarang Mom sudah mulai percaya, bukan?
"Tapi aku bisa jaga diri, Mom," kataku cepat untuk menenangkannya. Aku tidak mau kalau dia terus kepikiran hal itu.
"Tidak, Ino. Kau tidak mungkin bisa jaga diri. Kau tidak akan bisa," jawab Mom ngeyel.
"Tentu saja aku bisa. Aku bukanlah gadis yang lemah. Aku sudah dewasa dan aku bisa mengatasi hal ini. Nyatanya saja, setiap aku mendapat masalah dengan 'penghuni' itu di sini, aku selalu baik-baik saja dan aku tidak mati. Aku hanya terluka parah, kok." Yak, itu benar sekali. Aku baik-baik saja. Aku tidak mati setelah Sakura menusukku dengan kukunya dan sampai sekarang aku masih hidup. Aku sehat. Kalian dapat mengetahuinya sendiri, bukan? Aku memang tidak mati, tapi aku HANYA terluka parah. Ulangi, tidak mati, tapi HANYA TERLUKA PARAH. Oke, cukup.
"Kau tidak akan bisa! Pokoknya, mau atau tidak, kau harus pindah sekolah, Ino."
Apa? Pindah sekolah? Oh, tidak bisa. Aku tidak mau pindah. Jangan pindahkan aku, Mom. Memang, awalnya aku merengek minta pindah, tapi itu dulu. Tidak untuk sekarang. Aku tidak mau. Kalau aku pindah, berarti sama saja aku membunuh semua orang di sini. Mengapa? Akan kujelaskan nanti.
"Aku tidak mau!" seruku.
"Harus, Ino. Kau harus pindah. Kau tidak bisa berada di sekolah angker ini lebih lama. Kau bisa mati terbunuh!" Mom tetap memaksaku.
"Terbunuh? Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan mati di sini!"
"Lebih baik sekarang kita pulang dan kita bicarakan hal ini di rumah."
"Tidak, Mom! Aku tidak mau pulang. Aku mau bersekolah di sini. Untuk apa aku pulang hanya untuk membicarakan hal itu? Pokoknya, aku tidak mau."
Mom menarik tanganku dengan kuat dan dengan paksa. Wajahnya terlihat marah dan kesal. Iapun menarikku untuk keluar dari ruangan Minato-sama, tapi aku tidak mau. Aku mempertahankan posisiku di sana dan dengan sekuat tenaga menahan tarikan Mom.
"Aku tidak mau pulang," kataku, menolak perintah Mom untuk pulang.
"Cukup!" Minato-sama pun akhirnya berkata juga. Dan dengan langsung, Mom melepaskan tanganku. Oh, arigatou, Minato-sama. Anda baik sekali. "Ino, pulanglah. Selesaikan dulu masalah ini dengan ibumu."
Owh, yeah! Ide bagus! Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau pulang. Aku akan tetap bersekolah di sini. Oh, jadi Minato-sama membela Mom? Baiklah, itu kerja sama yang bagus. Lalu siapa yang berpihak padaku? Siapa yang akan membantuku sekarang? Satu banding dua, aku kalah. Aku pasti akan benar-benar pulang sekarang.
"Tentu saja aku."
Tiba-tiba saja, muncul sebuah suara aneh di ruangan ini. Suara itu menjawab suara hatiku. Apakah ada yang mau membantuku? Diakah yang akan membantuku? Apakah sekarang benar-benar ada yang akan membelaku? Aku tidak akan pulang, bukan?
"Aku yang akan membantumu, Ino."
Suara itu terdengar lagi. Tapi kalau didengarkan baik-baik, itu bukan suara yang asing untukku. Suara itu terdengar menyakitkan di telingaku. Oh, jadi dia yang menjawabku? Jadi dia bisa mendengarkan apa yang aku bicarakan?
Samar-samar, di dekat Minato-sama duduk, terlihat sebuah bayangan tubuh seseorang. Bayangan itu lama-kelamaan berubah menjadi jelas sekali, dan setelah itu berubah menjadi wujud sesosok mirip manusia (haduh, bahasanya sulit sekali). Sosok itu berdiri tepat di sebelah Minato-sama, menyeringai dengan sinisnya padaku. Sosok itu… Sakura!
Aku memebalalak lebar ketika melihat sosok makhluk brengsek itu lagi di hadapanku. Ah, sepertinya sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Tapi itu lebih baik daripada bertemu dengannya setiap hari. Sudah bagus aku dirawat di rumah sakit tanpa kehadirannya selama lima hari, eh sekarang dia malah muncul lagi. Kurang ajar! Dia itu benar-benar menyebalkan!
"Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan membantumu dan akan selalu berada di pihakmu. Aku tidak akan membiarkanmu pindah dari sekolah ini. Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. Kau akan tetap di sini selamanya bersama denganku. Kau akan tetap membantuku membalaskan dendamku. Dan kau akan merasakan bagaimana menyenangkannya membuat orang menderita. Kau akan melihat penderitaan bersamaku. Bersama kita akan menyiksa orang-orang itu satu per satu."
Cih! Aku tidak akan melakukan apapun untukmu!
"Ino, apa yang kau perhatikan?" tanya Mom tiba-tiba yang membuatku tersentak kaget. Ah, iya, aku lupa. Tidak ada orang yang bisa melihat Sakura, selain orang yang tidak waras seperti aku. Hah, sepertinya aku memang benar-benar harus pulang.
"Eh… Tidak. Aku tidak memperhatikan apa-apa. Hanya saja, ada sesuatu hal yang menjijikkan di sana yang sangat menarik perhatianku. Ya sudah, kalau begitu ayo kita pulang," jawabku, dan memutuskan untuk pulang. Karena di sini ada pemandangan yang membuat mataku sakit.
Aku dan Mom berjalan keluar ruangan Minato-sama. Kami berdua kembali berjalan di lorong yang panjang dan terlihat mengerikan ini. Lorong ini sudah sepi karena pelajaran sudah dimulai. Suara langkah sepatuku dan Mom terdengar menggema. Selama berjalan tidak ada satupun dari antara aku dan Mom yang berbicara. Kami berdua sama-sama diam dalam keheningan. Kami berdua sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Mom, namun yang jelas di otakku masih terpikirkan perkataan Mom tentang pindah sekolah itu. Jujur, aku tidak mau pindah. Pindah sekolah akan sangat merugikan diriku dan juga orang lain. Selain itu, aku juga belum mau berpisah dengan Sasame dan Hinata. Mereka berdua adalah teman terbaikku. Baru beberapa minggu berteman dengan mereka, eh malah sudah mau pindah sekolah. Aku tidak mau.
Kedua bola mataku menatap lurus ke depan, sampai akhirnya aku melihat sebuah bayangan. Bayang-bayang yang sama dengan yang kulihat di ruangan Minato-sama. Perlahan-lahan, bayangan itu berubah wujud menjadi sebuah tubuh seperti manusia yang utuh. Itu dia, Sakura. Roh gentayangan yang aneh. Cih! Lagi-lagi aku melihatnya. Membosankan. Apakah di sekolah ini tidak disediakan pemandangan lain yang lebih indah daripada Sakura?
Aku menghentikan langkahku ketika Sakura berdiri tepat beberapa meter di depanku sambil menyeringai (Apakah dia itu tidak pernah bosan menyeringai?). Melihatku berhenti, Mom juga ikut berhenti melangkah dan bertanya, "Ada apa?"
"Mom, kau pergi duluan saja. Aku mau ke toilet sebentar. Nanti aku menyusul," kataku berbohong. Mom hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkanku sendirian bersama makhluk aneh itu. Setelah aku yakin bahwa Mom sudah berjalan menuruni tangga, akupun mengalihkan pandanganku pada Sakura. Aku tidak mau Mom mengetahui hal ini.
"Halo, Ino?" sapanya, sok ramah. "Coba hitung sudah berapa hari kita tidak berbincang-bincang seperti ini lagi."
Aku membetulkan posisi tasku yang terasa tidak nyaman kurasakan. Kutatap mata emeraldnya yang terlihat cantik nan cerah dan indah. Oh, sayang sekali, bukan? Padahal ia terlihat begitu manis dan cantik dengan rambut merah muda dan mata emeraldnya. Kulitnya putih dan senyumnya menawan sekali. Tapi karena sifatnya yang seperti nenek lampir begitu, ia bukannya tampak cantik dan manis melainkan ia sangat menjijikkan. Ia bahkan tampak lebih rendah dibandingkan dengan Mollie, anjing peliharanku yang sangat kusayangi.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah meninggalkan luka yang cukup parah di tubuhmu dan membuatmu masuk rumah sakit hingga koma. Aku menyesal sekali, Ino. Sungguh. Aku harap kau mau memaafkanku."
Aku tersenyum sinis dan menjawab, "Lenyaplah dulu dari kehidupanku dan kehidupan semua orang, baru aku akan memaafkanmu dengan tulus hati."
"Hahaha… Untuk apa aku harus lenyap dari sini? Konoha High School ini adalah duniaku. Tempat ini adalah surgaku. Aku akan berada di sini untuk selamanya," katanya.
"Oh? Apakah surga dan neraka sudah tidak menyediakan tempat lagi bagimu, hingga kau masih senang berdiam di sini? Malang sekali nasibmu setelah kau mati? Bahkan dirimu yang sekarang lebih malang daripada dirimu yang masih hidup. Kau memang benar-benar makhluk yang menjijikkan, sampai surga dan neraka saja tidak mau menerimamu."
"Benarkah? Tapi kurasa tidak. Asal kau tahu saja, aku tidak akan pergi dari sini kalau aku belum membunuh orang yang telah membunuhku. Dia harus merasakan akibatnya karena sudah seenaknya saja memperlakukanku seperti hewan. Dan karena dia sudah memperlakukanku seperti hewan, aku akan memperlakukannya lebih dari sekadar hewan. Dia akan menderita."
"Kalau begitu, kenapa tidak langsung kau bunuh saja orang yang telah membunuhmu? Setelah itu, pergilah untuk selamanya," sahutku.
"Untuk apa? Tidak seru rasanya kalau aku langsung membunuh orang itu. Dia harus kubuat menderita, sama seperti dia membuatku menderita. Biar dia bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan apa itu sebuah penderitaan. Aku akan membalaskan semua yang telah ia lakukan padaku. Ia akan lebih menderita daripada aku."
"Terserah kau, tapi aku mau pulang sekarang. Selamat tinggal."
Aku berjalan lagi di lorong itu, meninggalkan Sakura yang masih asyik berdiri di sana. Aku melangkah melewatinya ketika ia berkata, "Kau tidak akan kubiarkan pergi, Ino." Dan saat itulah langkahku terhenti lagi.
Sakura terkikik. Aku meliriknya dengan lirikan yang tajam. Wow, hebatnya diriku bisa meliriknya dengan tajam. Padahal, aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Tapi biarlah, memang itu yang ingin aku lakukan. Hah, andai saja aku bisa melakukan hal yang lebih dari sebuah lirikan, seperti melenyapkannya atau apalah begitu. Pokoknya, aku tidak mau melihatnya lagi.
"Kau tidak akan pergi dari sini. Kau akan tetap di sini bersamaku. Kita akan merasakan bagaimana rasanya membuat seseorang menderita. Kau akan tahu bagaimana rasanya menyiksa seseorang sampai ia menderita. Kau akan melihat darah-darah itu. Kau akan melihat semuanya, Ino. Kita akan berpesta untuk itu. Kita akan menyiksa semua orang bersama-sama."
"Pergi dan tinggalkan aku!"
Lorong mendadak menjadi sepi setelah aku berteriak. Sakura yang tadinya ada di dekatku juga telah pergi. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Yang jelas, ia sudah menghilang dari hadapanku. Hah, untunglah dia sudah lenyap. Jadi, aku bisa segera pergi dari sini sekarang.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar lorong. Di samping kananku terdapat beberapa ruang kelas yang berisi anak-anak pandai dan cerdas yang sedang memperhatikan penjelasan gurunya. Tidak ada yang memperhatikanku selama aku di sini. Mereka justru sibuk dengan pelajaran mereka. Benarkah? Apakah mereka melihat aku dan Sakura di sini? Kuharap tidak. Ya, semoga saja tidak.
Ketika aku akan kembali melangkah, aku mendengar sebuah suara. Suara langkah kaki seseorang yang ada di belakangku. Penasaran dengan orang itu, aku membalikkan tubuhku ke belakang dan mendapati seorang wanita cantik berjalan mendekatiku. Wanita itu bertubuh cukup tinggi, berambut violet pendek, mengenakan kemeja putih dan jas berwarna hitam, rok hitam pendek dan mengenakan stoking berwarna hitam seperti yang dipakai Mom. Wanita itu tersenyum padaku dengan ramah.
"Kenapa ribut-ribut?" tanya wanita itu, Konan, guru kesenianku.
"Tidak ada apa-apa, sensei. Semuanya baik-baik saja," jawabku bohong. Padahal baru saja aku selesai berteriak mengusir Sakura. Tapi ternyata bohongku tidak berhasil karena Konan-sensei sepertinya mengetahui ada hal yang aku sembunyikan.
"Sakura itu memang suka mengganggu," katanya, "dia saja bahkan hampir membunuhku." Ah, ternyata ia memang tahu. Tapi apa yang baru saja aku dengar?
"Benarkah?" tanyaku histeris dan berlebihan.
"Guru tidak pernah mengajar kebohongan, dan kau juga seharusnya tidak berbohong pada gurumu," jawabnya tenang. Ia terlihat santai sekali, tapi juga berwibawa dan bijaksana.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" tanyaku ingin tahu.
"Semua yang terjadi di sini tidak ada yang tidak mungkin. Waktu itu aku berada di toilet. Tiba-tiba saja aku melihat pantulan bayangan Sakura di cermin. Dan dengan cepat, ia mencekikku dari belakang. Tapi semua itu segera berakhir ketika aku menyalakan sebuah korek api yang kubawa yang kusimpan di dalam saku kemejaku," jelasnya, lalu tersenyum.
"Korek api?" tanyaku lagi, tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan korek api.
"Iya. Aku menyalakan korek api, dan setelah itu ia langsung melepas cengkeramannya di leherku dan pergi," jawab Konan-sensei.
"Memangnya, apa hubungannya antara dicekik Sakura dengan korek api?"
"Kau akan mengetahuinya suatu hari nanti. Sampai jumpa."
Konan-sensei lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Ia berjalan dengan begitu tenang, meninggalkan misteri tentang korek api yang digunakannya ketika dicekik Sakura. Aku tidak begitu paham apa maksudnya, tapi sepertinya ia menyembunyikan sesuatu. Yeah, kurasa begitu. Tapi sudahlah, daripada memikirkan korek api itu, lebih baik aku segera menyusul Mom.
"Dan lagi," Konan-sensei menambahkan, "aku berani jamin kau tidak akan pindah dari sekolah ini." Dan setelah itu, ia berjalan lagi.
Jujur saja, sebenarnya aku agak aneh dengan guru itu. Dia itu terlihat berwibawa dan bijkasana, tapi juga aneh dan misterius. Terkadang ia juga bisa mengetahui apa yang dipikirkan muridnya. Dia itu seperti paranormal, begitu menurutku. Jelas saja. Kapan aku pernah bercerita padanya tentang aku yang akan dipindahkan sekolah oleh Mom? Tidak pernah. Dan anehnya, ia juga berani jamin bahwa aku tidak akan pindah. Benar-benar wanita yang membinungkan. Pokoknya, guru yang satu itu benar-benar aneh. Tahu-tahu, ia datang padaku, menceritakan hal konyol, lalu pergi. Hah…
Aku kembali berjalan di lorong ini. Kemudian menuruni tangga dan pergi ke halaman sekolah untuk bertemu dengan Mom yang sudah menunggu. Aku tidak tahu aku benar-benar akan dipindahkan atau tidak. Tapi kalau boleh aku memohon, aku tidak mau. Sungguh! Aku tidak mau pindah sekolah. Aku tidak akan pernah may pergi dari sekolah ini kalau belum melenyapkan Sakura. Titik!
Ketika sampai di lantai dasar, aku segera menuju ke depan sekolah dan menemui Mom yang sudah menunggu kedatanganku untuk beberapa saat di sana. Ia bersandar di dekat pintu mobil sambil mengotak-atik hand phone kesayangannya.
"Oh, sudah puas ke tioletnya?" kata Mom ketika melihatku datang.
"Yeah. Memangnya Mom mau sampai kapan aku ada di toilet?"
"Mom kan hanya bertanya. Ya sudah, sekarang cepat kau masuk," perintahnya.
"Tapi, aku tidak mau masuk kalau kau tetap memindahkanku ke sekolah yang baru."
"Sudahlah. Pokoknya kau masuk dulu, Sayang," paksanya. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menuruti kemauannya. Dan akhirnya akupun masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
"Jadi," kata Mom, "perempuan berambut merah muda itu yang bernama Sakura?"
Hah? Apa dia bilang? Sakura? Tadi Mom bilang gadis berambut merah muda? Oh, tidak. Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa tahu Sakura? Dari mana dia tahu? Siapa yang memberit tahunya?
Dan dengan keraguanpun aku menjawab, "D… Dari mana Mom tahu?"
"Jadi benar gadis berambut merah muda itu Sakura?"
Eh? Jadi tadi dia hanya menjebakku? Tipuan yang sangat bagus sekali.
"I- iya. Tentu saja. Aku kan pernah meceritakan pada Mom siapa itu Sakura," jelasku.
"Kau bohong pada Mom, bukan? Kau bilang kau inign ke toilet, nyatanya kau malah rapat empat mata dengan Sakura di lantai empat," sahut Mom.
"Ap-Apa? Bagaiaman Mom bisa tahu? Ja- jadi, Mom mendengarkan apa yang aku bicarakan dengan Sakura? Mom belum turun ke lantai dasar?" tanya bertubi-tubi dengan histeris. Aduh, kenapa aku ini berlebihan sekali, sih? Kalau bahasa gaulnya itu lebay.
"Pokoknya, Ino, kau harus tetap pindah dari sekolah ini. Sekolah ini bukanlah sekolah yang tepat untukmu. Sekolah ini sangat mengerikan dan tidak pantas disebut sekolahan. Besok Mom akan mendaftarkanmu ke sekolah baru. Sekolah yang benar-benar pantas untukmu," jawab Mom tanpa mempedulikan pertanyaanku yang berubi-tubi tadi dan ia malah membahas tentang sekolah baruku lagi.
"Awalnya aku juga berpikir begitu, Mom," ujarku disela-sela perkataan Mom. "Waktu pertama kali aku berada di sini, aku juga merasa tidak nyaman dan tidak betah. Aku ingin sekali pindah dari sini karena Sakura selalu menggangguku. Ia selalu membuntutiku ke manapun aku pergi. Dirinya selalu saja terbayang-bayang di otakku. Tapi setelah beberapa waktu lamanya aku berada di sini, aku mulai menyadari bahwa diriku diincar Sakura. Sakura memaksaku untuk membantunya balas dendam, dengan cara membunuh orang-orang yang telah membuat hancur hidupnya dan yang telah memperlakukan dirinya dengan semena-mena. Entah itu guru ataupun murid. Dan kalau aku menolak hal itu, maka Sakura akan membunuh semuanya, bukan hanya orang-orang yang membuat dirinya hancur. Kau tahu, Mom? Semuanya! Semua orang akan dibunuh Sakura. Bukankah itu sangat mengerikan? Lalu mau jadi sekolah itu?" jelasku panjang lebar.
"Lalu apa hubungannya denganmu?"
"Pokoknya, aku tidak akan membantu Sakura melakukan hal itu. Aku tidak mau disebut-disebut sebagai seorang pembunuh. Kalaupun Sakura memang mau membunuh semuanya yang ada di sini, lakukan saja. Aku yang akan melindungi mereka. Aku akan melindungi teman-teman dan juga guru-guruku. Selama ada aku di sini, semuanya akan baik-baik saja. Jadi intinya, nyawa semua warga sekolah ini ada di tanganku. Hanya aku yang bisa melakukan hal ini, Mom."
"Dasar bodoh!" seru Mom. "Itu sama saja kau bunuh diri, Ino. Kau pikir melakukan hal itu tidak beresiko? Kau sama saja mengorbankan nyawamu demi mereka. Lebih baik kau pindah sekolah saja daripada kau mati sengsara seperti itu. Biarkan saja temanmu mati, kau kan tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua itu. Memangnya kau bertanggung jawab atas nyawa mereka? Itu juga salah mereka kenapa mereka membuat Sakura seperti itu."
Mungkin apa yang dikatakan Mom benar. Aku memang tidak bertanggung jawab atas nyawa mereka. Aku memang tidak ada hubungannya dengan ini. Tapi aku tidak bisa meninggalkan teman-temanku. Aku tidak tega melihat mereka disiksa oleh Sakura seperti itu. Padahal dari antara mereka ada orang-orang yang tidak bersalah padanya, terutama untuk murid kelas X dan XI. Argh, Sakura! Kenapa sih kau itu tidak segera pergi saja ke 'duniamu'? Keberadaanmu di sini sangat merugikan.
"Aaaaa….!"
Tiba-tiba saja, aku mendengar suara seseorang berteriak dari dalam gedung sekolah. Walaupun di dalam mobil, aku bisa mendengarnya. Aku segera memalingkan perhatianku pada gedung sekolah dan berniat mencari tahu apa yang telah terjadi. Apakah itu korbannya Sakura lagi? Apakah yang tadi itu suara korban pembunuhan Gadis Lampir itu? Sekarang mau apa lagi dia? Apakah itu salah satu caranya untuk menarik perhatianku agar aku menerima tawarannya? Licik sekali dia.
"Mom, aku harus kembali ke dalam," kataku dengan segera.
"Mau apa lagi? Ke toilet?" tanya Mom basa-basi.
"Aku mendengar suara teriakan dari dalam. Aku khawatir kalau itu adalah suara korbannya Sakura. Aku harus cari tahu apa yang terjadi. Mom tunggu saja di sini. Aku segera kembali. Aku harus segera membereskan makhluk itu." Dan tanpa ba-bi-bu lagi, aku segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam gedung sekolah. Aku harus mengetahui apa yang terjadi. Jangan bilang kalau itu memang korbannya Sakura.
Aku masuk ke dalam gedung sekolah, dan segera berlari menaiki tangga dan menuju lantai empat. Aku tidak tahu kenapa aku ke sana. Tapi hatiku meminta agar aku menuju lantai empat dengan segera. Sewaktu aku dalam perjalanan ke lantai empat, perasaanku begitu takut dan gelisah. Jantungku berpacu dengan sangat cepat. Aku benar-benar khawatir akan apa yang terjadi. Huft, semoga saja semuanya baik-baik saja.
Sampai. Aku meningjakkan kakiku di lantai empat. Keadaan di seluruh lorong sekolah masih sepi karena masih pada jam pelajaran. Aku berjalan di sekitar lorong lantai empat dan mencari tahu apa yang terjadi. Hatiku bilang kalau suara teriakan itu berasal dari sini. Tapi sewaktu aku sampai di lantai empat, tidak ada apa-apa. Di sini sepi dan tidak terdapat satu orangpun. Apa yang kudengarkan tadi itu salah? Apa pendengaranku salah? Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin salah. Aku benar-benar merasakan kalau di lantai empat inilah telah terjadi sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa.
Aku mendegar suara langkah seseorang. Suara langkah itu tidak terdengar terlalu jelas, tapi terdengar semakin jelas saja ketika kurasakan langkah itu mendekatiku. Penasaran dengan siapa yang melangkah, aku membalikkan badanku dan mendapati sesuatu yang mengejutkan di depan mata kepalaku sendiri. Mataku terbelalak lebar melihat sebuah pemandangan tragis yang disuguhkan khusus untukku.
"I… Ino… T… Tolong aku…"
Mulutku perlahan-lahan menganga lebar. Dia, orang yang kulihat itu, berdiri di hadapanku dengan berlumuran banyak darah. Dia berjalan mendekatiku dengan langkah tertatih-tatih. Di sekitar mulutnya mengalir banyak sekali darah yang masih segar. Di lengan kanannya juga menganga sebuah luka yang sangat parah, membuat lengan baju seragam yang digunakannya sobek, dan darahnya menetes sampai ke lantai lorong. Di perutnya juga menancap sebuah gunting yang terlihat begitu tajam. Mengerikan. Ada apa dengan dia?
"Tolong aku, Ino… A… Aku… Aku minta… tolong... padamu..."
"K… Koyuki?" gumamku. "K… Kau kenapa?"
Dia, Koyuki adalah teman sekelasku, sekaligus korban Sakura. Korban Sakura entah yang keberapa. Keadaannya begitu tragis. Koyuki… Ada apa dengan Koyuki? Apa yang sudah dilakukan Sakura padanya? Makhluk itu… Sebenarnya kenapa dengan makhluk itu?
-To Be Continued-
Review, please?
