Disclaimer : Seal Online Is Belong to Grigon Entertainment and YNK

Selamat berfantasi ^_^


Episode 7 : Aku dan Jalan yang Kupilih.

Sebuah ruangan yang penuh dengan pernak pernik terbuat dari kaca, membuat seluruh ruangan terlihat membiaskan cahaya. Untuk sesaat, ruangan ini begitu tentram dan damai. Sebuah kaca berukuran besar berbentuk dewi Elim terpampang begitu jelas di bagian depan ruangan ini, dekat dengan sebuah mimbar. Paduan warna dari kaca ini membuat cahaya yang masuk dalam ruangan ini bak pelangi yang tengah bersinar di gelapnya malam, berkilauan penuh warna.

Seorang lelaki uskup tua, mengenakan baju pendeta berwarna biru bergaris putih lengkap dengan topi berlambang salib di depannya, berdiri di atas mimbar memandangi seorang anak yang baru saja datang menuju gereja Elim, Luthio.

"ada apa gerangan yang membawamu kesini, nak?" tanya uskup tua itu dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.

"eh?" Luthio tergagu sambil menatap wajah uskup itu. "apakah disini benar tempat untuk belajar penyembuhan?" lanjut Luthio bertanya.

"agama adalah penyembuh jiwa yang paling manjur, anak muda" Uskup tua itu menjawab dengan senyum lebar di raut wajahnya.

Luthio memandang kagum sosok tua ini yang berdiri di tengah mimbar, bermandikan cahaya yang berwarna warni di sekujur tubuhnya, membayangi sebagian tubuh Luthio.

Uskup tua itu berjalan perlahan, ia turun dari mimbar tempat ia berdiri menuju ke arah Luthio sambil memegangi bajunya yang terkesan kedodoran agar tak tersandung. Uskup tua itu mendekati Luthio dengan wajah senyum yang masih terukir di wajahnya, melihat Luthio dengan damai dari ujung kaki hingga rambutnya.

Hal itu membuat Luthio begitu heran dan mulai melihat sosok dirinya sendiri. Ia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya lusuh akibat pertarungannya dengan Golem beberapa saat yang lalu.

"Apa yang membuatmu ingin mempelajari ilmu penyembuhan?" tanya Uskup Tua itu terlihat sabar.

"a. . . aku hanya ingin mempelajarinya saja" jawab Luthio tampak salah tingkah.

"jangan kau jadikan ilmu penyembuhan hanya sebagai ilmu sampingan saja, anak muda" jawabnya tenang sambil menepuk bahu Luthio.

"penyembuhan itu harus dengan hati yang tulus, dan memiliki kesabaran yang disertai dengan doa" jelas uskup tua itu sambil menatap wajah Luthio dengan damai. "katakanlah, pasti ada sesuatu hingga kau datang kemari"

"apakah aku harus mengatakannya?" tanya Luthio membujuk Uskup Tua itu.

Uskup tersebut diam sejenak, menatap wajah Luthio dengan senyumannya yang tenang.

"itu adalah bagian dari melatih kejujuranmu, anak muda" jawab Uskup itu sambil melirik Luthio, seolah membujuk balik padanya untuk mengatakan kejujuran.

"umm" Luthio berpikir untuk sejenak, memikirkan sebuah kata yang tepat sambil menunduk. "temanku. . ."

"apa kau tahu tentang Dewi Elim?" potong Uskup tua itu

Luthio terdiam sejenak, "sang. . . dewa pemberi kehidupan dan kekuatan?" jawab Luthio ragu.

Uskup itu perlahan berjalan menuju sebuah kaca yang penuh dengan cahaya itu, yang bergambar seperti seorang wanita berbaju putih yang besar. Uskup itu mendongak dan memandangi kaca itu.

"untuk apa dia beri kekuatan itu pada kita?"

"melawan para Bale. . . . mungkin" Luthio menjawab asal.

"untuk saling melindungi, sehingga kau dapat memilih jalanmu yang benar, anak muda" jawab Uskup itu. Ia memutar badannya kembali melihat Luthio, dan masih terukir wajah senyum damainya.

Luthio mengerutkan dahinya, tampak bingung dengan apa yang dikatakan Uskup tua itu. "jadi. . . aku harus bertanya pada Elim untuk mendapatkan ilmu itu?"

Uskup tua itu menghampiri Luthio, lalu ia mengetuk dahi Luthio dengan perlahan "kau ini, cobalah untuk berpikir sejenak, anak muda" jelasnya tersenyum sambil berjalan ke sebuah pintu tak jauh di kanan mimbar.

Untuk sesaat Luthio mencoba berpikir mengenai kata2 uskup itu sambil mmgangi dahinya yang baru saja diketuknya.

"kemarilah anak muda" ajak Uskup tua itu sembari membuka pintu.

"ta. . tapi aku belum menjelaskan alasanku datang kemari" sahut Luthio bingung.

Uskup tua itu membalasnya dengan senyuman, seolah ia membaca isi pikiran Luthio "bukankah kau mengatakan itu tak perlu?" balasnya

Walau saat itu Luthio merasa heran, ia juga merasakan ada rasa damai di samping Uskup tua itu. Ia pun kemudian menghampiri uksup itu yang telah menunggunya di ambang pintu.

-=OOOOO=-

"Apa yang membuatmu datang kemari?" sentak seorang knight pada Dio.

Seorang pria bertubuh kekar berdiri di depan sebuah bangunan yang berdiri megah di pojok Elim. Bangunan ini berdiri dengan terdapat sebuah pintu besar di depannya, meruncing di bagian atasnya, dan banyak pahatan yang terukir dari emas menghiasi setiap tepi bangunan ini, tempat resmi perkumpulan knight sekaligus markas guild Saint Guardian.

"jelas aku ingin menjadi seorang knight" jawab Dio tak kalah lantangnya.

Knight tersebut menatap tajam pada Dio. Berdiri dengan gagahnya di atas kakinya yang tak bertekuk sedikitpun walau ia tengah mengenakan armor yang berat sekalipun. Lalu ia menghunuskan pedangnya dan menuding Dio dengan pedangnya.

Dio berdiri tak bergeming menatap pedang yang terarah di wajahnya. "aku tetap ingin menjadi knight..!" Dio bersikeras.

"lumayan juga, sejauh apa kau mengetahui tentang pertahanan?" tanya knight tersebut masih mengarahkan pedangnya pada wajah Dio.

Dio menatap tajam mata knight tersebut. "sejauh aku ingin melindungi hal yang paling berharga yang kumiliki" jawab Dio Tegas.

Knight tersebut terdiam sejenak. Menatap Dio dengan seksama, lalu ia menyarungkan kembali pedangnya di pinggang kirinya.

"kau mengingatkanku pada seseorang" ujar knight tersebut disertai dengan dengusan ringan setelahnya.

Dio tak berhenti menatap tajam knight tersebut, ia terlihat sangat bersungguh-sungguh dan tekad yang kuat.

"Hentikan tatapanmu itu" ketus knight tersebut. "kau boleh ikut test khusus dari temanku jika kau ingin menjadi seorang knight"

"Yes" sorak Dio senang.

"jangan senang dulu, itu masih berupa test" potong knight tersebut melihat Dio yang senang saat itu. "berharaplah pada pertahananmu dan pengetahuanmu itu"

-=OOOOO=-

"dasar seorang cleric adalah kesabaran dan ketulusan" terang Uskup pada Luthio.

Mereka berada di sebuah ruangan kecil di dalam geraja Elim. Berbeda dengan ruangan sebelumnya yang penuh dengan kaca dan biasan cahaya, ruangan ini justru sedikit lebih gelap dan dibantu oleh lilin-lilin kecil untuk penerangannya. Lilin-lilin itu diletakkan di sebuah tiang setinggi dada orang dewasa, yang memutari seluruh tepian ruangan persegi ini. Tepat di tengah ruangan terdapat sebuah karpet berbentuk lingkaran yang besar, lebih mirip seperti sebuah lingkaran mantra yang cukup besar.

"mari kita coba melihat seberapa besar kekuatan sihirmu" ucap Uskup itu.

Uskup itu berjalan ke pojok ruangan, mengambil sebuah mace panjang yang berada di tempat yang terbuat dari kayu terpahat rapi. Lalu kembali menuju tengah ruangan.

"senado. . . ofuru . . . tiaoza. . . hazel. . .!" Ucap Uskup tua itu membaca mantra. Lalu ia pun memukulkan kaki tongkatnya pada karpet yang berbentuk lingkaran tersebut.

Kerpet itu menyela kebiruan, ruangan itu kemudian diterangi oleh cahaya kebiruan yang membentuk lingkaran di bawah kaki. Tak lama setelahnya, sebuah benda muncul dari cahaya-cahaya yang membetuk siluetnya. Benda itu berupa seperti meja tinggi dengan sebuah bola kristal bundar di atasnya.

"apa itu?" tanya Luthio keheranan setelah cahaya mulai meredup.

"itu adalah Crystal Mana, itu akan membantuku melihat kemampuanmu mengalirkan Mana dari tubuhmu" jelasnya sambil berjalan mendekati Crystal itu.

"ulurkan tanganmu pada Crystal ini, anak muda" pinta Uskup pada Luthio.

Luthio pun bergerak sedikit ragu menuju crystal itu. Perlahan ia mulai mengulurkan tangannya dekat ke crystal itu.

"ucapkan mantra Ainia Shiva Hau pada crystal itu" pinta Uksup itu kembali. "ingat, hatimu harus tulus untuk menyembuhkan"

"ehm" Luthio mengangguk. "Ainia Sifa Haw..!" Luthio merapal mantra yang terdengar sedikit berbeda.

Uskup itu mengetuk dahi Luthio dengan ringan kembali. "cobalah untuk memperhatikan, anak muda."

"Ainia Shiva Hau" ucapnya kembali memberi penjelasan pada Luthio.

Uskup tua itu kemudian berdiri dengan cara yang sama seperti Luthio, tangannya ia ulurkan mendekati crystal tersebut. "Ainia. . Shiva. . Hau" ucapnya merapal mantra.

Tangan Uskup tua ini kemudian menyala berwarna putih yang lembut, disusul oleh crystal tersebut yang mulai berpendar kebiruan. Lalu perlahan cahaya itu meredup seiring diselesaikannya mantra itu oleh uksup tua.

"sekarang cobalah"

Luthio pun mencobanya kembali "Ainia. . . Shiva. . Hau" ucap Luthio mencoba merapal mantra. Tangan Luthio mulai menampakkan cahaya yang berwarna putih, hampir sama seperti uskup tadi, hanya saja lebih redup, lalu menghilang.

"tulus, kau harus tulus, dan cobalah untuk merasakan setiap aliran mana yang mengalir di seluruh tubuhmu pada tanganmu ini" jelal Uskup tua memberikan arahan

Luthio memejamkan matanya, untuk sesaat tersbesit di benaknya saat Dio terhantam Steel Golem yang dilawannya. Bersimbah darah tak berdaya. Jantung Luthio berdegup cukup cepat, dadanya serasa sesak, lalu ia mencoba merapal mantranya.

"Ainia. . Shiva. . Hau..!" Luthio merapal mantranya sembari berteriak.

Tiba2 saja sinar yang sangat terang menyeruak dari tangannya. Disusul crystal yang menyala tak kalah terang dari tangannya. Crystal tersebut bergetar cukup kuat seiring bertambah terangnya cahaya dari crystal dan tangan Luthio. Uskup tua itu begitu terkejut sambil mencoba menepis terangnya cahaya dengan tangannya.

Tak lama setelah itu, Crystal tersebut pecah dengan bunyi letupan yang cukup keras. Bersamaan dengan itu Luthio terpental cukup jauh dari lingkaran tersebut dan menghantam beberapa tiang lilin di tepi ruangan. Beberapa lilin pun jatuh lalu padam di atas lantai ubin. Luthio tersungkur di lantai dan tak sadarkan diri.

Uskup tersebut terkejut dengan kejadian ini. Beberapa pendeta diluar ruangan ini yang mendengar suara letupan ini pun masuk untuk melihat keadaannya.

"Ada apa, Bapa?" tanya seorang pendeta yang baru saja masuk.

"bawa anak itu keluar, beri ia udara segar" pinta Uskup tua itu.

-=OOOOO=-

"hai" sebuah suara terdengar menggema.

"Hai, Luthio" suara yang menggema itu terdengar kembali.

Luthio tersadar dari tidurnya. Perlahan ia mulai membuka matanya, perlahan pula ia sadar ia berada di sebuah ruangan yang sangat luas tak berujung. Seluruh tempat itu berwarna putih terang. Luthio berdiri di sebuah tempat yang sama sekali tidak ia ketahui.

"si. . . siapa?" tanya Luthio mencoba menoleh kesana kemari, mencari asal suara.

"7 lambang yang terukir di 9 bintang langit" suara gema yang terdengar kembali.

"a. . apa? Siapa disana?" tanya Luthio mencari suara tersebut di ruangan putih itu.

"7 lambang yang terukir di 9 bintang langit" suara gema itu lagi

Sesaat setelahnya sinar yang cukup terang bersinar. Menyilaukan pandangan Luthio.

"a. . apa ini?" tanya Luthio sembari menepis cahaya yang menyilaukan itu.

Cahaya itu semakin terang dan terang hingga seluruhnya tertutupi oleh cahaya putih. Lalu seketika saja Luthio bangkit dari pingsannya.

Ia tersadar dari pingsannya, sedikit linglung ketika ia melihat dirinya kini berada di sebuah lantai di dekat mimbar bermandikan cahaya yang berwarna-warni itu. Hal itu ditambah dengan beberapa pendeta yang duduk mengelilinginya.

"apa yang terjadi?" tanya Luthio heran sambil memegangi kepalanya yang ia rasa sakit.

"walau postur tubuhmu lebih mirip seorang warrior, kau memiliki kekuatan sihir yang tersembunyi dalam dirimu, anak muda" ucap Uskup tua itu saat mendekati Luthio sambil mmegang bahu kirinya.

-=OOOOO=-

Dio tengah bersiaga memasang kuda-kudanya di sebuah lapangan khusus di pojok Elim. Sambil membawa sebuah perisa di tangan kirinya, dan pedang kecil di tangan kanannya.

Tak jauh di hadapannya berdiri seorang knight yang sebelumnya ia jumpai di depan markas perkumpulan knight itu.

"kau lulus ujian pertama tentang pengetahuanmu, belum tentu lulus dalam ujian pertarungan ini, bocah" ucapnya sinis

"tidak ada alasan bagiku untuk gagal." Sahut Dio berani.

"jika dalam 10 menit kau mampu bertahan, kau dinyatakan lulus" jelas knight tersebut sambil bergerak maju hendak melancarkan serangannya pada Dio.

Dio melihat gerakan knight tersebut melewati tamengnya yang melindungi separuh wajahnya. Ia melangkah mundur sedikit saat knight tersebut mencoba melancarkan serangannya pada Dio dari atas kepalanya. Dio menahan serangan itu dengan tamengnya dan membelokkan serangan knight itu ke sisinya. Knight itu untuk sesaat kehilangan keseimbangannya.

Kesempatan itu digunakan oleh Dio untuk melancarkan serangannya, Dio mencoba menusukkan pedangnya ke arah tubuh lawan, namun serangan itu berhasil ditepis oleh knight itu dengan pedangnya. Dio mencoba berputar searah tepisan lawan lalu mencoba melakukan serangan kembali di akhir putarannya. Knight tersebut terkejut, dan dengan reflek ia menangkis serangan Dio dan terpukul mundur.

"rupanya kau hebat juga, bocah" ucapnya memuji.

"aku dulunya adalah calon warrior tau, jadi akan aku gunakan bertahan dan menyerang di saat yang tepat." Balas Dio bersemangat.

Knight tersebut memandangi Dio dengan penuh kekaguman. Melihat betapa berpotensinya bocah itu.

"jangan sombong dulu, aku akan sedikit serius kali ini" ucap knight tersebut sembari mulai bersiaga dengan tatapan yang mulai serius.

Dio pun mulai bersiaga, mencoba untuk semakin berhati-hati. Knight tersebut kemudia bergerak dengan cukup cepat, bunyi debam lemah terdengar di tanah ketika knight itu menghentakkan kakinya. Itu menandakan betapa berat armor yang ia kenakan.

Ketika berada cukup dekat dengan Dio, knight tersebut menghentakkan tanah kuat-kuat dengan kakinya, ia melompat ke atas sambil mmgangi pedangnya dengan kedua tangannya. Dio terkejut dengan serangan yang akan dilancarkan oleh knight tersebut.

"i. . itu" ucap Dio sedikit panik.

Knight tersebut menghujam pedangnya ke tanah ketika mendarat, pedangnya menyala berwarna kemerahan, lalu seketika saja tanah terbelah dan mengeluarkan percikan api yang terbuat dari energi mana dari dalam tanah. "Holy Cross..!" teriak knight tersebut.

Dio yang tak sanggup menahannya terpental oleh hempasannya, cukup beruntung baginya tidak terkena percikan api itu. Dio tersungkur di tanah. Namun dengan gigih ia mencoba untuk bangkit kembali.

"bagaimana dengan itu?" tanya knight tersebut menguji Dio.

"aku tidak boleh kalah" sahut Dio bersikeras. Semangatnya tampak masih membara di dalam dirinya.

Dio pun kini mencoba untuk melancarkan serangannya. Ia berlari menghampiri knight tersebut. Dengan semangatnya, ia menggenggam pedangnya begitu erat, tanpa sadar ia mengalirkan kekuatan dari tubuhnya pada pedangnya. Pedangnya berpendar kemerahan, lalu Dio menghantamkan pedangnya pada knight yang berada tepat di depannya.

Knight tersebut terkejut dengan cahaya yang menyala pada pedang Dio, dan dengan cepat ia menangkis serangan Dio dengan tamengnya. [i]BAAAM[/i] suara yang terdengar begitu keras. Hempasan angin yang cukup kuat berhembus di sekitar knight tersebut yang dengan gagah menahan serangan Dio, bebarengan dengan itu, tubuh knight tersebut sedikit tertekan ke tanah sehingga sebagian kecil bagian kakinya masuk ke dalam tanah.

"Impact Crash?" tanya knight tersebut pada dirinya sendiri sambil melihat Dio.

Masih dalam posisi pedangnya tertahan di tameng knight tersebut, Dio terengah-terengah dengan keringat yang mengucur deras di keningnya. Ia merasakan tangannya mulai melemas, pedangnya sedikit bergemeletuk ketika tangannya mulai bergetar di atas tameng knight tersebut

"hahahaha" knigth tersebut tertawa puas sembari menarik kembali tamengnya.

Dio begitu heran melihat knight itu tertawa lepas. Badannya sudah tak sanggup lagi bergerak.

"kau lulus, bocah" ucapnya senang pada Dio.

Dio masih terengah-engah untuk merayakan kelulusannya. Ia hanya tersenyum ketika matanya mulai sayu keletihan. Tak lama setelahnya Dio jatuh pingsan tersungkur di tanah.

Hari itu, Dio dan Luthio telah melewati jalan yang mereka pilih masing-masing. Dan keesokannya mereka telah resmi mendapatkan licensi di kelas mereka masing2. Luthio sebagai cleric, dan Dio sebagai seorang Knight.

-=OOOOO=-

Di sebuah tempat yang jauh dari kota Elim. Di pedalaman pegunungan yang gersang, terdapat sebuah goa yang cukup dalam dan gelap. Obor-obor yang dipasang di tiang-tiang2 goa menjadi penerangan utama di dalamnya. Sebuah kondisi yang cukup lembab yang membuat goa itu tak begitu menyeramkan.

Tak lama setelahnya, 2 orang lelaki masuk menuju goa tersebut. Satu lelaki mengenakan mantel cokelat panjang dengan tudung yang ia sarungkan di kepalanya, dan satu lagi dengan mantel hitam dengan gambar seperti salib di punggungnya yang berwarna keemasan.

Mereka berjalan menyusuri goa menuju sebuah bilik yang tertutupi oleh sebuah tirai kain yang berlambangkan tanda menyerupai salib berwarna keemasan, lambang perkumpulang Black Cross. Di dalam bilik tersebut terdapat sebuah kursi yang cukup besar, yang diduduki oleh seseorang yang tertutupi oleh bayangan.

Terlihat dari siluetnya ia sedangn duduk malas bersandar di kursi singgasananya. Sambil menyandarkan pipinya pada tangan kirinya yang menempel di gagang kursi, ia menyilakan kakinya.

2 lelaki yang baru saja datang kemudian menunduk dan memberi hormat pada seseorang yang berada di kursi tersebut.

"Kami sudah mendapatkan element yang lainnya, Master" ucap lelaki bermantep hitam tegas.

"Bagus, tersisa 4 elemen lagi" ucap seseorang yang berada di kursi tersebut begitu berat.

"akan tetapi, guild Saint Guardian sepertinya mulai bergerak kembali" sahut lelaki bermantel cokelat.

"serahkan saja urusan Saint Guardian itu padaku, kalian tetaplah fokus dalam mencari kekuatan murni elemen lainnya." Jawabnya begitu santai. Lalu ia terkekeh jahat setelahnya "mereka akan menebus kematian ayahku"

Episode 7 : End