Cast :
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Park Chanyeol
Oh Sehun, Wu Yifan, Xi Luhan
other cast;
Warning : GS for Kyungsoo and Baekhyun!
..
..
..
AUTHOR POV
Waktu menunjukkan pukul empat sore dan mini bus milik ke enam orang sahabat itu masih melaju tak tentu arah. Sehun masih fokus menyetir ditemani lagu Overdose milik boygroup EXOyang mengalun indah pada Music Player, sedangkan kelima orang lainnya tengah sibuk dengan dunia mereka sendiri. Kyungsoo yang tertidur diatas bed sejak satu jam lalu, kemudian disusul Jongin setengah jam berikutnya. Sedang Luhan nampak fokus pada buku yang ada ditangannya, membaca. Chanyeol mendengarkan musik di ponselnya dengan sepasang earphone di kedua telinga. Sedang Yifan hanya duduk tenang sambil memandangi wajah tidur Kyungsoo. Manis sekali, batinnya.
"Apa kita masih belum menemukan tempat tujuan?" Luhan bertanya sambil membalik lembar berikutnya pada buku yang tengah ia baca.
Beberapa menit, dan Luhan sama sekali tak mendengar jawaban apapun dari teman-temannya. Ia menoleh pada Kyungsoo dan Jongin yang masih pulas, kemudian Chanyeol yang asyik dengan musiknya dan sudah pasti tak mendengar pertanyaan Luhan tadi, lalu Yifan?
"Kau sudah seperti akan mengulitinya hidup-hidup dengan tatapan matamu itu." Luhan mendaratkan kakinya pada pinggang Yifan yang duduk tepat didepannya.
"Auw!" Yifan meringis dan menatap Luhan tajam. "Apa masalahmu?" tanyanya tak senang.
Luhan mengedikkan bahu. "Berhenti memandangnya seperti itu." jawab Luhan santai, mencoba kembali fokus dengan buku ditangannya.
"Kau juga bisa memandangnya jika kau mau." Yifan memandang Luhan malas.
"Aku bukan tipe seperti itu." Luhan beralih pada halaman berikutnya dari buku.
Yifan mendengus. "Ya. Terserah padamu." kemudian ia memilih kembali memandang Kyungsoo.
"Kita semua menyukainya." Luhan kembali berucap.
"Lalu?" meski malas, Yifan tetap mencoba menanggapi Luhan.
"Dia tidak mungkin menikah dengan lima orang pemuda, bukan?" Luhan menutup bukunya dan memilih untuk menatap Yifan dengan serius. "Hanya ada satu orang, Yifan." lanjutnya.
Yifan diam dan memandang Luhan miris. "Ya. Aku mengerti."
..
..
Sehun menghentikan mini bus mereka pada jalanan kecil bersemak yang dekat dengan tebing tinggi berbatu. Langit senja memberitahu mereka bahwa sore telah menjelang. Sehun yang keluar pertama kali dan menunduk untuk melihat kedalaman tebing. Ia sedikit bergidik menyaksikan bebatuan besar dibawah sana dan betapa jauh jaraknya dari tempat ia berdiri sekarang. Diikuti kelima orang lainnya. Kyungsoo dan Jongin nampak menguap bersamaan dan mengucek mata dengan imut. Tapi tentu saja Sehun, Chanyeol, Luhan, dan Yifan hanya menumpukan pandangan pada Kyungsoo yang menggemaskan dari pada Jongin.
"Bagaimana kau tahu tempat semengerikan ini?" Chanyeol bertanya pada Sehun setelah ia melihat kebawah tebing.
Sehun mengedikkan bahunya. "Aku hanya mengkuti arah matahari akan tenggelam agar kita bisa menyaksikannya bersama-sama." jawabnya.
"Tempat ini lumayan untuk bermalam." Yifan berkomentar setelah memandang sekitar.
"Dan bagus untuk seseorang memberitahu Jongin agar tidak berdiri dengan jarak yang semakin dekat dengan tebing." Luhan tak begitu mengerti apa yang dia katakan sebelum Sehun melompat untuk mencegah Jongin berjalan menuju tepian tebing.
"Hei, buka matamu dan bangunlah." Sehun mengguncang bahu Jongin untuk menyadarkan pemuda itu. "Kau hampir mati." ucapnya.
Jongin kembali mengucek matanya dan ia bergidik ngeri begitu melihat pada tebing yang tadi hampir dilaluinya. "Oh astaga, aku tak tahu jalannya putus disana." ucapnya.
Luhan memutar kedua bola matanya malas, sementara Kyungsoo terkikik geli melihat ekspresi terkejut sekaligus polos milik Jongin.
"Baik untukmu untuk memiliki mata sebesar milik Kyungsoo agar bisa melihat dengan baik." celetuk Chanyeol.
"Mataku baik." bela Jongin. Ia mendelik menatap Chanyeol yang tertawa keras padanya.
"Mataharinya!" pekikkan Kyungsoo menyadarkan semua pemuda disana dan langsung menatap pada arah yang ditunjuk Kyungsoo. Didepan sana, matahari tenggelam perlahan dengan warna oranye yang indah.
Keenam sahabat itu menatap takjub pemandangan didepan mereka sampai lupa berkedip. Sepertinya mereka perlu berterimakasih pada Sehun yang sudah menemukan tempat ini. Meskipun sedikit mengerikan karena disini ada tebing tinggi, namun keenamnya yakin bahwa mereka telah melihat sunset sempurna sepanjang hidup mereka dari tempat ini.
Seiring kembalinya matahari keperaduan, belahan bumi yang mereka pijakpun mulai kehilangan cahayanya. Menandakan malam datang dan tugas matahari diigantikan oleh bulan.
"Dalam beberapa detik tadi, sudahkah laut menyampaikan pesan matahari kepada bulan?" Kyungsoo terlonjak ketika Yifan berdiri disebelahnya dan membisikkan kalimat itu.
Gadis itu tersenyum dan menoleh pada Yifan. "Aku juga selalu penasaran dengan hal itu." Kyungsoo memandang keujung sana dan meringis.
Yifan menatap Kyungsoo lembut. "Apakah kau sudah memikirkan permintaanmu?" tanya Yifan.
Kyungsoo tersenyum dan menggeleng. "Aku memikirkannya begitu keras dan tak ingin kesempatan meminta ini menjadi sia-sia. Aku ingin menggunakannya diwaktu yang tepat." Kyungsoo memandang Yifan serius. "Oppa, apapun yang kau pikirkan saat ini, tetap percaya padaku ya." ucapnya. Membuat kening Yifan berkerut bingung.
"Aku mendengarnya. Pembicaraan kau dan Luhan oppa." Kyungsoo menggenggam kedua tangan Yifan dan mereka saling berhadapan. "Untuk saat ini, hanya tetap seperti ini dan berjalan bersama-sama denganku. Itu—permintaanku."
Keduanya saling bertatapan dalam. Angin petang berhembus menerpa tubuh mereka, memberi rasa dingin, namun perasaan hangat didalam hati Yifan. Kyungsoo tersenyum bahagia ketika Yifan mengangguk, menyanggupi.
Mengabaikan tatapan setengah terluka keempat orang pemuda lainnya yang menyaksikan kemesraan –menurut mereka– itu.
..
..
Malam itu suasana canggung menyelimuti keenam sahabat. Bahkan lelucon yang dilontarkan Chanyeolpun sudah tak menarik lagi untuk ditertawakan dan mencairkan suasana malam yang kelam. Tak ada yang tahu pasti mengapa malam ini menjadi begitu dingin. Bintang-bintang juga tak menampakkan diri karena langit mendung.
Usai makan malam, mereka hanya langsung mencari kesibukan masing-masing, kecuali Yifan dan Kyungsoo yang seperti baru menyadari keadaan. Keduanya kemudian juga memilih ikut saling menjauh dan berpikir. Bahwa sejak malam ini, semuanya tak akan sama lagi.
Kyungsoo berada sendirian didalam mobil dan ia memutuskan untuk mengintip keluar. Tak seorangpun berada diluar dengan cuaca sedingin ini, kecuali seseorang dengan sebuah gitar yang duduk didekat tebing sana. Kyungsoo memandang lima buah tenda yang terpasang diluar dan membuat kesimpulan bahwa pemuda lainnya kecuali Chanyeol telah memutuskan untuk menuju alam mimpi lebih dulu. Tentu saja, ini sudah pukul sebelas.
Kyungsoo keluar dan menuntun kakinya menuju Chanyeol yang tengah memetik gitar dan bersenandung lemah. Ia duduk disana, disamping Chanyeol dan pemuda itu segera menyadarinya.
"Kau belum tidur?" tanya Chanyeol. "Apa suara gitarku mengganggumu?"
Kyungsoo menggeleng. "Kau lupa? Aku selalu menyukai permainanmu. Dan selalu mengaharapkanmu memainkan sebuah lagu sebelum aku tidur."
Chanyeol tersenyum. "Haruskah kali ini aku melakukannya?" tanya Chanyeol.
"Kalau kau tak keberatan." ucap Kyungsoo.
Chanyeol kemudian langsung menarikan jemarinya, memetik senar hingga menciptakan musik yang mengalun indah ditelinga Kyungsoo.
"Kau tahu? Ini pertama kalinya kau memainkan lagu ballad." ucap Kyungsoo tepat setelah Chanyeol mengakhiri permainannya.
"Kau tak suka?" tanya Chanyeol.
"Hanya saja ini sangat bukan kau sekali." ucap Kyungsoo. Sekarang ia sadar. Bahkan suasana canggung seperti ini juga bisa terjadi dengannya dan Chanyeol. Chanyeol, sahabat yang selalu membawa kegembiraan dan membuatnya tertawa.
"Kyungsoo." Chanyeol memanggil namanya. "Maukah kau menerima ini." Chanyeol membuka genggaman tangannya didepan Kyungsoo dan terdapat dua buah cincin disana.
Kyungsoo menatap Chanyeol dengan kening berkerut. "Apakah yang lain juga akan mendapatkannya?" tanya Kyungsoo.
Chanyeol menggeleng. "Maafkan aku. Tapi cincin ini hanya milikku dan milikmu." Chanyeol menatap Kyungsoo cemas. Ia mungkin tak akan siap untuk sebuah penolakan. Tapi senyum yang Kyungsoo berikan membuatnya dapat bernafas lega.
Chanyeol segera memasangkan cincin itu pada jari milik Kyungsoo dan jarinya sendiri. Pemuda itu tersenyum sangat bahagia. Kyungsoo memandangnya dan mau tak mau ikut tersenyum. Kalau bisa melihat senyum Chanyeol yang seperti itu, bagaimana mungkin Kyungsoo mampu mengatakan tidak.
"Apa kau ingat jika cincin ini adalah pilihanmu?" Chanyeol bertanya padanya. "Satu tahun yang lalu ketika kita berjalan-jalan melewati toko perhiasan, kau bilang kau menyukai cincin ini dan akan membelinya." Chanyeol tertawa ringan. "Aku tak dapat menahan tawaku ketika minggu berikutnya kau datang dan cincin itu sudah tak ada di tempatnya."
Sementara Chanyeol menikmati kebahagiaannya bercerita, Kyungsoo menatap pemuda itu sendu. Ia menatap lagi cincin yang kini melingkar manis pada jemarinya, dan hampir menangis. "Kau—sudah membelinya selama itu?" tanya Kyungsoo bergetar.
Chanyeol mengangguk mantap. "Aku bahkan memesan cincin yang sama dengan ukuran berbeda agar bisa memakainya bersama denganmu." ia menunjukkan cincin dijarinya dengan cengiran yang seperti biasa.
Kyungsoo tersenyum miris. Detik berikutnya ia menghambur memeluk Chanyeol. Membuat tawa dan cengiran pemuda itu terhenti. Kyungsoo memeluknya sekuat tenaga, dan pemuda itu membalasnya. Ia baru bisa melihatnya sekarang. Yifan, Luhan, Chanyeol, Sehun, dan Jongin, perasaan mereka semua.
..
..
Kyungsoo tak bisa tidur. Sepanjang malam ia memikirkan kelima sahabatnya. Percakapan singkat Luhan dan Yifan kemarin terus terngiang dalam pikirannya. Belum lagi kejadian dengan Chanyeol beberapa jam lalu.
Apakah benar kelima sahabatnya menyukai dirinya?
Kyungsoo bingung. Sesungguhnya ia tak pernah benar-benar memikirkan hal sejauh ini akan terjadi didalam persahabatannya. Atau tidak mau memikirkannya secepat ini. Beberapa kali pemikiran tentang masa depan persahabatan mereka memang pernah terlintas. Tapi tidak pernah yang serumit ini. Yang pernah ia bayangkan adalah hidup bersama dengan kelima sahabatnya dan istri-istri juga anak-anak mereka untuk waktu yang lama dan dapat menjadi sahabat dan keluarga selamanya. Tapi ia juga menyadari bahwa impiannya bukanlah impian sederhana. Memikirkannya membuat Kyungsoo pening.
Tapi fakta bahwa kelima sahabatnya menyukainya seperti yang diucapkan Luhan, mau tak mau membuat Kyungsoo memerah juga. Ia mencintai salah satu dari mereka, dan itu berarti cintanya terbalas bukan?
Namun dengan kerumitan perasaan ini, bisakah Kyungsoo dengan mudah memilih?
..
..
Pagi datang sangat cepat menurut Kyungsoo. Ia belum sempat memikirkan hal apa yang harus dilakukannya pagi ini ketika ia harus menatap kelima sahabatnya. Tapi mau tak mau ia harus tetap keluar dan menghadapinya.
Kelima orang itu tengah mengemasi tenda masing-masing dalam keheningan.
"Apa aku boleh membantu?" Kyungsoo bertanya pada kelimanya. Namun jawaban yang ia dapat hanyalah keheningan.
Kelima pemuda itu hanya diam dan saling memandang seolah tengah berdebat dalam batin tentang tawaran Kyungsoo. Kyungsoo terkekeh melihat pemandangan itu.
"Hei! Tak perlu terlalu keras memikirkannya." ucap Kyungsoo lembut. "Aku akan membuatkan sarapan saja kalau begitu." kemudian gadis itu berjalan kembali menuju mini bus dan mengambil beberapa perlengkapan untuk memasak.
Kyungsoo tahu bagaimana untuk menghadapinya sekarang. Bersikap biasa dan jangan membuat mereka memilih. Kyungsoo memilih untuk bersikap adil dan tak memihak. Dengan begitu, ia berharap tak akan menyakiti siapapun.
Sementara Kyungsoo mulai sibuk dengan masakannya, para pemuda itu duduk bersama dan merenung. Lima pasang mata itu menatap intens Kyungsoo.
"Kita tak seharusnya bersikap begini." Luhan yang pertama bersuara. Dan ucapannya diangguki oleh keempat pemuda lain.
"Aku pikir juga begitu." Jongin menatap keempat orang itu dengan tatapan menyesal. "Kalian tahu? Rasanya aneh sekali dengan suasana canggung seperti ini."
"Kyungsoo sudah tahu semuanya, dan kupikir ia akan mengatakan jika dia sudah punya jawabannya." Yifan menghela nafas. "Kita hanya perlu terus bersama selama rentang waktu keputusan Kyungsoo."
"Aku sebenarnya tak suka jika dia harus berada dalam situasi sulit seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Segalanya memang telah menjadi rumit." Chanyeol menimpali.
"Ternyata kitalah yang sudah memberikan masalah terbesar padanya." Sehun mendesah kecewa.
Keadaan kemudian menjadi hening kembali diantara mereka. Sehun adalah orang terakhir yang berucap, sampai suara Kyungsoo menyapa pendengaran mereka. Wangi khas spagetti tercium oleh indera kelima pemuda yang berbalut keheningan itu. Dengan langkah pasti kelimanya berjalan menuju meja kecil yang sudah Kyungsoo siapkan dan mulai menikmati kimchi spagetti terbaik hari ini sebagai sarapan.
"Rasa kimchi spagetti ini tak pernah mengecewakan indera pengecapku." gumam Sehun yang kembali memasukkan gulungan spagetti kedalam mulutnya.
"Aku tak pernah mendengarmu mengeluh tak lezat pada makanan manapun." celetuk Jongin yang kemudian membuahkan tawa yang lain. Tawa pertama mereka hari ini.
"Ya, ya. Terserah padamu saja." Sehun memilih acuh dan kembali memakan spagettinya.
"Apa yang lain juga menyukainya?" Kyungsoo bertanya sambil menunjuk spagetti di piring masing-masing sahabatnya.
"Tentu saja!" jawab kelimanya serempak.
Kyungsoo tertawa mendengar respon itu. Ah, ia senang karena suasana canggung itu kini menjauh dari mereka. "Syukurlah." ucapnya dan tersenyum. Membuat kelima pemuda didepannya ikut tersenyum.
..
..
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sebelas menit, dan sekarang waktunya meninggalkan tempat itu. Yifan yang kali ini menyetir dan ia sudah menentukan tempat dimana mereka akan menghabiskan malam di hari ketiga ini.
Jika sebelumnya, Jongin dan Kyungsoo yang tertidur selama perjalanan, maka sekarang adalah Jongin dan Sehun. Sehun mengatakan kalau dia butuh istirahat lebih karena kemarin menyetir seharian. Sedangkan Jongin, semua orang tahu jika tidur adalah hal yang paling disukainya. Chanyeol memilih berbaring dipangkuan Kyungsoo dengan ponsel yang berada dikedua tangannya. Pemuda itu tengah memainkan permainan di ponselnya. Sedang Kyungsoo bersandar dibahu Luhan yang duduk tegak disampingnya sambil membaca buku yang kemarin hampir ia selesaikan.
"Apa kau mengatuk?" tanya Luhan pada Kyungsoo. Gadis itu menggeleng dan memilih untuk memandang buku yang tengah Luhan baca.
Luhan mengusap pipi sebelah kiri Kyungsoo dan tersenyum. Matanya kemudian menatap pada Chanyeol yang tengah heboh memainkan game di ponselnya. Dan ia menemukan sesuatu yang baru, melingkar pada jari manis Chanyeol. Ia tak yakin sejak kapan benda itu melingkari jari Chanyeol dan ia mengerutkan kening ketika benda yang sama juga melingkar di jari manis Kyungsoo.
"Sepertinya aku baru melihat itu." Luhan tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia menunjuk pada cincin yang dipakai oleh Chanyeol dan Kyungsoo.
"Oh, Chanyeol oppa memberikannya untukku semalam." jawab Kyungsoo santai.
"Benarkah?" Luhan tersenyum masam. "Itu terlihat sangat indah dan pas dijarimu." tanggapnya.
"Kalau begitu aku akan sangat senang untuk mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Chanyeol oppa yang sudah memberikannya." ucap Kyungsoo pada Chanyeol yang nampak tak enak dan salah tingkah.
"Y-ya. Tak masalah." ucap pemuda tinggi itu tanpa menatap Luhan.
Kyungsoo dan Luhan nampak tersenyum menanggapi.
..
..
Luhan meminta Yifan untuk berhenti di pasar tradisional yang kebetulan mereka lewati. Dan bisa ditebak jika semua orang menyetujuinya, apalagi Kyungsoo yang nampak paling bersemangat ketika mereka sudah menginjakkan kaki disana dan berjalan-jalan mencari sesuatu yang menarik. Mata bulat besar milik gadis itu menatap liar kesana kemari demi menemukan hal yang menarik perhatiannya.
"Ah, aku akan pergi ketoko bubble tea disebelah sana." Sehun tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Oh, baiklah. Kita bertemu di mobil setengah jam lagi." ucap Yifan.
"Aku ingin ikut." Kyungsoo mengangkat sebelah tangannya dengan semangat dan wajah memohon yang begitu menggemaskan.
"Kau mau ikut dengan Sehun?" tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk.
"Baiklah." putus Chanyeol.
"Kita bertemu di mobil setengah jam lagi. Ingat untuk menjaganya, Sehun." Luhan memberikan peringatan.
"Tentu, tuan Lu."
Kemudian mereka berpisah. Sehun dan Kyungsoo berjalan menuju kedai bubble tea, sementara empat orang lainnya tetap berjalan bersama.
"Kau ingin rasa apa?" tanya Sehun pada Kyungsoo setelah mereka sampai didepan kedai bubble tea.
"Aku mau taro." jawab Kyungsoo.
"Baiklah. Satu taro dan satu cokelat." ucap Sehun pada si penjual.
Keduanya hanya perlu menunggu selama lima menit untuk pesanan mereka.
"Lalu kemana kita akan pergi sekarang?" tanya Sehun pada Kyungsoo.
"Sana!" Kyungsoo menunjuk tempat penjual aksesoris.
"Ayo!" Sehun langsung menggandeng tangan Kyungsoo dan keduanya berjalan bersama menuju tempat yang Kyungsoo inginkan.
"Silahkan. Ada banyak sekali barang pasangan yang bisa kalian pilih." ucap si penjual ramah.
Sehun tersenyum maklum pada si penjual, sementara Kyungsoo memilih mengacuhkannya dan mulai melihat-lihat dagangan yang ada. Matanya berbinar begitu berhasil menemukan yang ia cari.
"Ketemu!" katanya setengah berteriak.
Sehun mengerutkan keningnya melihat sesuatu yang Kyungsoo genggam. Stiker ponsel? Untuk apa Kyungsoo membeli barang seperti itu? Diantara banyak barang yang ada. Kenapa harus stiker ponsel bergambar—Crong? Dinosaurus atau apalah itu makhluk yang berwarwa hijau.
"Aku ambil yang ini." Kyungsoo langsung mengambil dompetnya.
"20 Won." ucap si penjual.
"Oh, Soo. Biar aku yang bayar." Sehun menahan gerakan Kyungsoo yang akan membuka dompetnya.
"Tidak. Tidak. Aku akan membelinya dengan uangku sendiri." tolak Kyungsoo.
Sehun nampak kecewa, namun ia hanya menurut saja dan memasukkan kembali dompetnya kedalam saku celana.
"Terima kasih. Apa kalian tak berminat untuk membeli barang pasangan?" sekali lagi si penjual menawarkan.
"Tidak. Terima kasih." ucap Kyungsoo sembari membungkuk sekilas pada si penjual dan menarik tangan Sehun untuk menjauhi tempat itu.
"Lalu? Sekarang kemana?" tanya Sehun.
Kyungsoo menggeleng. "Sebaiknya kita hanya berjalan-jalan dan melihat saja." jawab Kyungsoo.
Sehun mengangguk dan merangkul pinggang Kyungsoo erat. Mereka menuju tempat penjual ikan hias.
"Kau mau satu?" tanya Sehun. "Sebagai kenang-kenangan kita pernah ketempat ini." tambahnya.
Kyungsoo mengangguk senang dan mulai memilih ikannya. Sehun tersenyum dan mengusak rambut gadis itu gemas. Kyungsoo yang seperti ini akan selalu terlihat manis dan menggetarkan hati Sehun.
"Aku sarankan untuk memilih ikan koi saja. Legendanya, ini adalah ikan yang melambangkan cinta." ucap si penjual. "Dan sangat baik untuk membelinya berpasangan." tambahnya.
Sehun terkekeh dan memandang Kyungsoo, meminta persetujuan. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. Kami pilih yang itu." tunjuk Sehun pada sepasang ikan koi yang berada pada toples kaca.
Setelah membayar, Kyungsoo dengan semangat membawa toples ikan koi itu dalam pelukannya.
"Mereka sungguh manis. Sehun oppa, apa kau tahu?" Kyungsoo menatap Sehun lekat. Sehun membalasnya dengan raut ingin tahu yang kentara. Kyungsoo terkekeh. "Katanya ikan koi itu jika sudah besar akan menjadi cinta." ucap Kyungsoo.
Sehun terkekeh dan mengusak rambut Kyungsoo gemas. "Mulai sekarang berhentilah membaca komik-komik jepang."
"Tidak bisa. Aku menyukai itu." bibir Kyungsoo mengerucut. "Kisah cinta didalam komik itu adalah kisah cinta impian setiap gadis. Manis dan polos." ucap Kyungsoo dengan wajah berbinar.
"Tapi itu tidak nyata." balas Sehun dan ia tertawa puas melihat raut tak terima dari Kyungsoo.
..
..
Mereka kembali berkumpul di mobil dengan Sehun dan Kyungsoo yang sedikit terlambat. Jongin menunjukkan raut tak senang, karena ia ingin secepatnya meninggalkan tempat ini dan pergi mencari makan siang. Ini sudah pukul dua siang lebih tujuh menit dan perut mereka perlu diisi lagi setelah sarapan tadi pagi.
"Oh apa itu?" Chanyeol menunjuk toples yang berada dalam dekapan Kyungsoo.
"Ini adalah ikan koi yang aku dan Sehun oppa beli di pasar tadi." jawab Kyungsoo sambil menunjukkan toples berisi ikannya kehadapan Chanyeol.
"Apa kalian akan merawatnya bersama?" tanya Yifan.
"Tentu saja." jawab Kyungsoo antuasias. "Ikan ini akan tumbuh besar nanti, dan memiliki banyak anak. Ini adalah ikan pasangan."
Semua pemuda kecuali Sehun mengerutkan keningnya mendengar kata 'pasangan' yang terlontar lari bibir hati milik Kyungsoo. Sehun tersenyum bangga dan menyeringai.
"Ikan itu adalah jantan dan betina." Sehun terkekeh.
Keempat pemuda lainnya langsung menghembuskan nafas lega begitu menangkap arti dari kata 'pasangan' yang Kyungsoo ucapkan. Sebenarnya itu memang ikan 'pasangan' yang benar-benar berarti untuk pasangan yang sesungguhnya. Namun Sehun memilih untuk tak mengatakan hal itu karena kepolosan Kyungsoo dan agar tak harus mengecewakan para sahabatnya. Sehun ikut tersenyum menatap binar indah mata Kyungsoo pada ikan-ikan itu.
..
..
Mini bus itu berhenti didepan sebuah kedai. Keenam sahabat itu sepakat memilih ayam ginseng sebagai menu makan siang mereka.
Keenamnya tampak khidmat melahap makanan yang tersaji diatas meja dan menghabiskannya dalam waktu singkat. Berjalan-jalan di pasar tradisional sebelumnya membuat mereka benar-benar kelaparan. Jongin bahkan menambah satu porsi lagi karena ia yang memang mengeluh sangat lapar.
"Yifan, kau bilang sudah punya tempat yang bagus untuk kita bermalam hari ini?" Luhan bertanya.
"Ya. Kita akan sampai sebelum hari gelap." jawab Yifan.
"Memangnya tempat seperti apa itu?" tanya Chanyeol.
"Kalian akan tahu nanti." Yifan mengedipkan sebelah matanya.
"Kuharap itu benar-benar tempat yang menyenangkan." tanggap Jongin yang baru selasai dengan makanannya.
"Oh, tentu saja." sahut Yifan mantap.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Kita berangkat sekarang." ucapan Sehun itu segera mendapatkan persetujuan yang lain dan mereka segera meninggalkan kedai itu setelah membayar tagihannya.
Mini bus tosca itu kembali melaju dengan kecepatan sedang. Yifan sebagai pengemudi nampak berkonsentrasi dengan jalanan didepannya. Masih lumayan jauh perjalanan mereka sampai ketempat yang Yifan maksudkan. Pemuda itupun tampak menyetir dengan tenang. Sayup-sayup ia mendengar senandung dari Kyungsoo. Pemuda itu tersenyum lembut. Yifan selalu menyukai suara itu.
Langit sudah gelap ketika mini bus berhenti didepan sebuah dermaga tua yang masih tampak kuat. Awan berwarna abu-abu membentang luas didepan mereka. Angin berhembus kencang bersama deru ombak lautan. Sepertinya keadaan kurang bersahabat hari ini.
Kyungsoo nampak mengerucutkan bibirnya kecewa karena tak bisa menyaksikan matahari tenggelam yang sangat disukainya.
"Maaf, aku tak tahu jika cuaca disini kurang bersahabat." bisik Yifan lirih di telinga Kyungsoo.
Kyungsoo mengehembuskan nafas pasrah. "Tak apa. Aku masih menikmati tempatnya." ucap Kyungsoo lembut.
Yifan tersenyum dan mengusak lembut helaian rambut hitam Kyungsoo. Gadis itu memejamkan mata, menikmati terpaan angin pada wajah cantiknya. Mereka tengah berdiri berdua diatas dermaga yang menghadap langsung pada lautan luas membentang tanpa ujung. Selimutan awan kelabu sama sekali tak mengurangi keindahan tempat ini dan pemandangan laut didepannya. Angin yang berhembus kencang seperti mengantarkan bisikan lirih ditelinga Kyungsoo.
Kyungsoo membuka matanya ketika menyadari wangi tubuh yang bukan milik Yifan, berada didekatnya. Ia menoleh kesamping kiri dan menemukan Jongin yang menempati posisi Yifan sebelumnya. Jongin tersenyum dan menyampirkan mantel berwarna merah pada kedua bahu Kyungsoo. Kyungsoo membalas senyum itu dan menggumamkan terima kasih. Karena terlalu menikmati suasana dermaga, ia sampai menghiraukan suara langkah yang menjauh milik Yifan dan suara langkah mendekat didetik berikutnya milik Jongin.
"Jongin, sepertinya matahari telah salah menitipkan pesan." Kyungsoo membuka percakapan.
"Maksudmu?" Jongin mengerutkan keningnya.
"Seharusnya, ia menyampaikan pesan untuk bulan kepada angin, bukan laut." jawab Kyungsoo. Ia mengeratkan mantel pemberian Jongin ditubuhnya dan tersenyum lembut. Ia teringat suara angin yang serupa bisikan di telinganya ketika Jongin datang dan membuat Kyungsoo menyadari jika anginlah yang seharusnya menjadi si pembawa pesan.
Jongin tersenyum ketika berhasil menangkap maksud Kyungsoo. "Mereka tetap tak akan bisa bersatu, Soo." tanggapnya.
"Tapi aku ingin setidaknya bulan mengetahui kasih matahari untuknya." protes Kyungsoo.
"Lalu apa yang akan terjadi ketika bulan mengetahuinya?"
"Ia akan bahagia."
"Dan terluka."
Kyungsoo terdiam mendengar kalimat terakhir Jongin. Ia memandang lekat pemuda yang masih berdiri tenang disampingnya, menatap lautan. Kemudian Kyungsoo kembali mengalihkan tatapannya dan bergumam lirih, "Kau benar."
Kini giliran Jongin yang menatap Kyungsoo lekat. Rambut panjang Kyungsoo melambai-lambai indah di terpa angin dan bibir itu tampak sedikit memucat karena udara dingin. Jongin perlahan mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo dan mencium pipi kiri gadis itu. Kyungsoo membeku.
"Aku mengasihimu." bisik Jongin di telinga Kyungsoo.
Jongin hendak pergi setelahnya, namun dengan cepat Kyungsoo menahan lengannya. Jongin berbalik dan memandang Kyungsoo penuh antisipasi. Mungkin saja gadis itu akan marah karena ia menciumnya. Namun Jongin benar-benar terkejut ketika bibir lembut si gadis menempel dengan bibir miliknya.
Kyungsoo. Menciumnya. Mencium. Kim. Jongin.
Singkat. Tanpa lumatan. Ciuman polos yang terkesan ragu-ragu. Hanya beberapa detik dan Kyungsoo sudah melepaskannya.
"Jong—"
Kyungsoo belum sempat mengatur detak jantungnya ketika Kim Jongin meraih tengkuknya dan menyatukan bibir mereka sekali lagi. Lembut. Kyungsoo bisa merasakan kelembutan ciuman dan bibir Kim Jongin atas bibirnya ketika pemuda itu memberi lumatan. Kyungsoo mengangkat kedua lengannya dan memeluk leher pemuda itu. Membuat mantel yang tersampir dikedua bahunya merosot menyentuh lantai dermaga. Kepala keduanya bergerak kekiri dan kekanan secara berlawanan ketika ciuman itu semakin dalam dan penuh—perasaan?
Langit semakin gelap, disertai rintik hujan yang turun menyentuh bumi. Kim Jongin dan Do Kyungsoo masih menikmati penyatuan bibir mereka. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Tak akan ada yang melihat ini, karena keempat pemuda lainnya tengah sibuk menyiapkan tenda diujung sana dan kegelapan telah menyamarkan semuanya. Ciuman itu hanya akan menjadi milik mereka berdua.
Suara tawa menggema setelah keduanya melepaskan tautan kedua bibir. Jongin meraih kembali mantel yang terjatuh dan menyampirkannya pada kepala Kyungsoo. Bermaksud melindungi gadis itu dari air hujan.
"Tak apa. Aku selalu menyukai hujan." ucap Kyungsoo.
Jongin tersenyum lembut, kemudian menuntun Kyungsoo meninggalkan tepian dermaga untuk menuju perkemahan mereka. Keempat pemuda lainnya pasti tak akan senang melihat Kyungsoo basah kuyup seperti ini.
..
..
Kyungsoo sedang berada didalam mini bus dan sudah mengganti bajunya juga mengeringkan rambut dengan handuk.
"Soo, boleh aku masuk?" suara Luhan terdengar dari luar dan Kyungsoo menjawabnya dengan ya.
Pintu mini bus itu terbuka dan menampakkan Luhan dengan senyumannya. Pemuda itu kemudian masuk dan duduk disamping Kyungsoo. Ada sesuatu berwarna merah didalam genggamannya. Kyungsoo sudah akan bertanya sebelum Luhan mengeluarkan suara terlebih dahulu.
"Ini untukmu." Luhan menyodorkan sesuatu yang dibawanya kehadapan Kyungsoo. "Malam ini sangat dingin dan aku ingin kau memakainya." ucap Luhan, kemudian memakaikan syal rajut itu ke leher Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum. "Hangat." ujarnya. "Terima kasih, Luhan oppa."
"Aku juga punya satu." Luhan menunjuk syal yang telah terpasang di lehernya dan berwarna sama.
"Apakah ini jenis yang sama?" tanya Kyungsoo.
"Benar. Aku membelinya untuk kita berdua." jawab Luhan. "Apa kau menyukainya?" pemuda itu balas bertanya.
"Tentu saja." jawab Kyungsoo disertai anggukan semangat.
Luhan tersenyum, kemudian meraih handuk diatas kepala Kyungsoo dan membantu gadis itu mengeringkan rambutnya. Kyungsoo mengerjap polos. Aneh sekali ketika seseorang memperlakukannya seperti ini.
Kyungsoo mendongak dan Luhan menunduk, keduanya saling bertatapan. Sementara tangan Luhan masih terus bergerak diatas kepala gadis itu. Kyungsoo tersenyum. Luhan selalu memperlakukannya selembut dan sehati-hati ini.
"Luhan oppa, kau pemuda yang baik." ucap Kyungsoo.
"Apakah cukup baik untukmu?" tanya Luhan tiba-tiba. Pemuda itu bahkan tak sempat menahan mulutnya untuk melontarkan kalimat tanya itu.
"Terbaik." jawab Kyungsoo mantap.
Luhan tersenyum. Entahlah. Ia senang mendengar jawaban Kyungsoo, namun ia tak merasa puas dengan jawaban itu. Masih belum cukup untuk meninggikan hatinya.
..
..
Makan malam telah siap ketika Luhan dan Kyungsoo keluar dari dalam mobil. Hujan sudah reda, namun udara dinginnya masih setia menusuk ke tulang. Mau tak mau Kyungsoo harus mengenakan pakaian tebal dan syal pemberian Luhan untuk mengurangi rasa dinginnya. Sup jagung dengan jahe adalah menu terbaik pada temperatur seperti ini. Chanyeol yang memasaknya dan Kyungsoo yakin jika rasanya tak akan mengecewakan karena Chanyeol lumayan bisa melakukannya.
Semua orang makan dengan lahap tanpa suara.
"Tak banyak yang bisa dilakukan dalam cuaca dingin seperti ini." kalimat pertama dari Yifan setelah mereka selesai dengan makan malam dan mencuci piring. Keenamnya duduk dengan tenang diatas karpet dan ada api unggun tak jauh dari sana.
"Benar, dan kurasa aku mulai mengantuk." Sehun menguap lebar.
"Aku juga ingin segera beristirahat. Besok adalah giliranku untuk menyetir, jadi aku butuh cukup banyak tenaga untuk hal itu." ucap Luhan.
"Karena udara sangat dingin, jadi aku sudah tak sabar untuk masuk ke dalam kantung tidurku yang hangat." Chanyeol mengusap-usap kedua lengannya.
"Kalau begitu biar aku yang mematikan apinya." ujar Jongin.
"Kyungsoo?" Yifan bertanya karena melihat Kyungsoo sama sekali tak ada niat untuk beranjak dari sana dan masuk kedalam mini bus dimana ia akan beristirahat.
"Ah aku akan menunggu Jongin mematikan apinya, kemudian juga pergi tidur." ucap Kyungsoo dengan senyuman.
"Baiklah. Kami tidur duluan, Soo." Chanyeol melambai dan kemudian menghilang dibalik tendanya.
"Segeralah tidur, Soo." Yifan mengusak lembur surai hitam Kyungsoo dan gadis itu mengangguk. Yifan adalah orang terakhir yang memasuki tenda setelah Chanyeol, Sehun, dan Luhan.
Sekarang hanya tersisa Jongin dan Kyungsoo. Si pemuda bergerak menuju tumpukan kayu yang menghasilkan api, sementara si gadis hanya duduk manis tepat di belakangnya.
"Bisa aku meminjam ponselmu?" tanya Kyungsoo pada Jongin.
Jongin mengerutkan keningnya, namun tak mau bertanya lebih jauh dan memilih untuk menyerahkan ponselnya ke tangan Kyungsoo. Pemuda itu berbalik dan kembali pada aktifitas awalnya, mematikan api.
Kyungsoopun mengembalikan ponsel itu tepat setelah Jongin selesai dengan pekerjaannya. Jongin menerima ponselnya dan memandang benda persegi panjang itu sekilas.
"Dua minggu lalu kau mengeluh ponselmua jatuh dan bagian belakangnya tergores, jadi aku memasang stiker itu disana untuk menutupi bekas goresannya." wajah Kyungsoo memerah dan tanpa menunggu tanggapan dari Jongin, ia segera berlari menuju mini bus mereka dan masuk kedalamnya.
Jongin terkekeh dan memandang stiker Crong yang menempel di bagian belakang ponselnya. Seharusnya Jongin akan jijik melihat benda seperti itu menempel pada ponselnya karena Jongin sangat tak menyukai hal-hal seperti ini. Namun entah mengapa ia tersenyum dan hatinya menghangat ketika melihat stiker itu melekat disana. Manis sekali, batinnya.
"Terima kasih, Kyungsoo." bisik Jongin sambil memandang pintu mini bus yang mana terdapat Kyungsoo didalamnya.
..
..
..
TBC
..
..
..
Rin's Note :
Hai.. hai.. saya kembali. Chapter ini—ah entahlah. Saya berharap kalian menyukainya. Saya menyelesaikan ini sebelum UTS hari senin nanti. Mohon doanya yaa..
Saya mencoba lebih kuat dan berpikir positif. Semuanya tentu sangat tidak mudah bagi kita dan mereka. Segalanya yang terjadi adalah bagian dari takdir mereka dan saya berharap kita semua bisa lebih bijaksana dalam menyikapinya. Bertahan dengan yang masih bersedia berdiri diatas panggung untuk menghibur kita semua dan tetap dukung mereka. Tak ada seorangpun yang tak bersedih ketika ditinggal pergi, namun semuanya adalah pilihan. Waktu berjalan terus dan kita tak boleh terpuruk kemudian berhenti. Waktu tak menunggu, kitalah yang harus berjalan dan menyertainya.
Selamat menikmati chapter ini dan sampai bertemu di chapter selanjutnya. Lets Love!
Terima kasih :)
