Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC. Ficlet.

Words : 1.997


Knot.

By VikaKyura.

- Moonlight -


Ino menopang dagu, sikunya bertumpu pada meja. Sambil tersenyum, ia mulai bercerita.

"Bersama dengannya membuatku merasa aman dan senang. Hanya dengan melihatnya saja bisa membuatku ingin menangis. Rasanya sesak di sebelah sini." Ino menangkup dadanya dengan satu tangan.

Sambil memandang serius sahabatnya, ia melanjutkan, "Terasa kosong dan gelisah saat dia tidak berada di sisiku. Namun langsung merasa tenang setiap kali didekapnya. Dia terkadang menyebalkan, tapi juga selalu bisa diandalkan."

Lawan bicaranya mengerutkan alis. "Omong kosong apa yang sedang kau katakan?" lontar Hinata. "Saudara macam apa yang bisa membuat hatimu sesak? Seharusnya bersama dengannya akan membuat kepalamu pusing, bukannya membuat dadamu jadi sesak!" Gadis bermanik lavender itu mendengus. "Sudah deh lupakan saja."

Hinata mendesah dalam. Niatnya curhat pada Ino agar sahabatnya itu bisa semakin mengompori kekesalannya dan sama-sama setuju untuk mengatai kakak laki-laki mereka. Hinata pernah dengar bahwa Ino juga mempunyai kakak yang overprotektif seperti Neji-niinya. Namun apa yang ia dapat? Saat ditanyai tentang kakaknya, gadis cantik bersurai pirang itu sama-sekali tidak ikut tersulut emosinya. Malah mesem-mesem tidak jelas sambil memuji kakaknya.

Ino memiringkan kepala. "Aku salah? Memangnya kau tidak merasakan itu pada kakakmu?"

Wajah Hinata merengut dalam. "Merasa sesak di dada, huh? Kalau menanggung malu di muka sih iya!" dengusnya lagi, menggebu. "Aku bahkan sudah tidak bisa mengangkat kepalaku karena malu. Bayangkan saja, Neji-nii sampai melaporkan Naruto-kun ke polisi hanya karena aku dibonceng pulang ke rumah olehnya kemarin sore!" Hinata menggebrak meja. "Sesak di dada apanya, eh? Konyol."

Ino berkedip. "Lalu mengapa aku begini? Jadi apa yang kurasakan?" herannya. "Apa karena Nii-chanku terlalu sempurna sampai membuatku selalu terbayang-bayang?"

"Ish," Hinata mencibir.

Gadis bermarga Hyuuga itu menilik wajah ayu sahabatnya lumayan lama. Namun Ino tidak terlihat seperti sedang bercanda. Lalu pelipisnya naik. "Dia membuatmu merasa aman dan senang. Kau menangis, kau bahagia, kau kesepian dan dadamu sering terasa sesak karenanya. Tapi keberadaan kakakmu itu selalu bisa membuatmu nyaman?" Hinata mengulang, mengundang runtutan anggukan dari gadis di sebrangnya. "Menurutmu apa?"

Ino balik menaikkan pelipisnya. "Justru karena aku tidak tahu, makanya bertanya padamu. Baka." Timpalnya.

"Ck." Hinata mendecak. "Itu cinta." ucapnya blak-blakan.

Seketika Ino mematung. "Cinta?" Ulangnya keheranan.

Hinata mengangguk. "Apa ini?" Ia memiringkan kepala. "Kau bertampang seperti seorang playgirl tapi nyatanya kau bahkan tidak tahu apa itu cinta?"

Ino masih syok. "Itu tidak mungkin!" Sangkalnya cepat. "Bagaimana bisa aku mencintai kakakku sendiri?"

Hinata mengedikkan bahu, lalu berfikir. "Hmm. Hubungan semacam itu bukannya tidak mungkin. Meski percintaan antar saudara dianggap ilegal, tapi beberapa kasus sudah sering terjadi di dunia ini." Ia mengibaskan tangan.

"K-kenapa kau malah terlihat santai-santai saja?" Ino kelagapan. "Jangan-jangan kau mengalaminya?"

"Ha? Merasakan yang seperti itu pada Neji-nii?" Sontak Hinata melotot. "Diiihhh!" Ia bergidik sambil menjeduk-jedukan kepalan tangannya ke jidat dan permukaan meja secara bergantian. Seperti gerakan tolak bala saja. "Amit-amit."

Kemudian ametis Hinata menatap serius safir biru Ino. "Kuberi tahu ya, kau akan berfikir dua kali untuk mencintai kakakmu jika dia selalu berusaha mencekikmu gemas di setiap pagi seperti yang dilakukan Neji-nii pada leherku ini."

Ino memandangnya ngeri. "Makanya Hina-chan, kau jangan menakutiku." Ia memeluk bahunya sendiri, ikutan merinding. "Meski Nii-chan tidak pernah mengasariku, sekali pun," Yang ada ia selalu menciumku di setiap pagi. Tambahnya dalam hati. "Tapi aku tidak mungkin jatuh cinta padanya." Gumam Ino.

Hinata mencermati ekspresi gadis yang sedang tampak panik dan gusar itu. "Jujur padaku. Kau benar-benar tidak merasa jantungmu berdebar saat dipeluknya?"

Ino menimbang-nimbang, tampak ragu. Hinata lanjut bertanya. "Kau juga tidak merasa wajahmu memanas saat dikecup olehnya?"

Ino menggigit bibir. Tambah resah.

"Atau sisi kewanitaanmu tidak terangsang saat kau tidur dengannya?" cecar Hinata lagi.

Kali ini Ino melotot. Semua yang dikatakan Hinata tepat sasaran. Wajahnya kini memerah. "M-memang harusnya tidak begitu ya?"

Hinata mengerjap. Sedetik kemudian ia tersentak kaget. "Tunggu. Kakakmu benar-benar melakukannya? Pelukan, ciuman, tidur bareng?" Padahal tadi Hinata hanya bermaksud untuk menggodai saja.

Tapi dengan polosnya Ino mengangguk. "Bukannya interaksi antar saudara seperti itu wajar?"

"Astaga Ino-chan, tentu saja itu tidak wajar!" Hinata terkesiap. "Bagaimana bisa kakakmu melakukan itu, memelukmu-" gadis berambut indigo panjang itu menangkup dadanya, "menciummu-" kali ini ia menangkup bibirnya yang dimonyongkan, "d-dan, mencumbumu . . . ?" Wajahnya seketika memerah. Hinata menyondongkan badan, berbisik. "Kalian melakukan . . itu juga?" Ia mendelik ke bawah, pada area kewanitaan Ino. "Jangan-jangan, kau sudah diperawani kakakmu?"

Ino mengerjap. "Yakh!" Dengan gerakan cepat, ia segera mendorong wajah Hinata secara kasar. "A-apa yang sedang kau fikirkan? Jangan mesum!" Ia merengut. "Dan jangan mengatai Nii-chanku seperti itu! Kakakku hanya menciumku di sini," Ino mengklarifikasi, menunjuk pipinya. "dan hanya tidur bersamaku untuk menemaniku. Itu saja. Bukan seperti yang kau lakukan dengan Naru-mmph!" Hinata membekap mulutnya.

Gadis bermanik violet itu mengangguk-angguk paham. "Oke. Tapi jelas perlakuan kakakmu itu berbeda dari guyonan Neji-nii saat ia sengaja meremas jahil bokongku, atau memelintir tanganku, atau mengapit kepalaku dengan keteknya, atau bergulat dan menindih tubuhku untuk mengunci pergerakanku."

Kali ini Ino yang menganga. "Dusta! Neji-niimu melakukan hal seperti itu? Interaksi kalian bahkan lebih intim dari kami!" protesnya.

"Hush! Dia melakukannya hanya untuk memperbudakku saja." Sanggah Hinata. "Jelas dia tidak melihatku seperti seorang wanita yang rentan dan perlu disayang." Ia mendengus. "Itu hanya untuk kesenangannya semata." Tekannya. "Lain dengan kakakmu yang terdengar sangat penyayang. Kau tidak pernah dikasari sedikit pun? Oh astaga, kalian harmonis sekali. Aku ingin kakak yang seperti itu juga!"

Ino menghela nafas setuju. Meski otoriter, Sasuke-niichannya memang penyayang. "Tapi aku tidak pernah diremas-remas dan ditindih." Komentarnya pelan.

"Setidaknya, kakakmu tidak memperlakukanmu sebagai budak, bahkan tidak sebagai adik! Kau beruntung diperlakukan selayaknya istri." Hinata melanjutkan. Sedetik kemudian ia memekik saat kepalanya ditimpuk buku. "Akh!"

"Istri dari Hongkong!" Sangkal Ino. "Dia tidak pernah terlihat bernafsu padaku. Padahal aku seseksi ini." Keluhnya, sambil sengaja membusungkan badan dan menepuk-nepuk buah dadanya.

"Ishh! Kenapa kau malah terdengar kecewa?" Hinata memutar mata sambil mendesah dalam. "Oke. Bagaimana rupa kakakmu sih? Kau hanya sering membicarakannya saja, tapi aku tak pernah bertemu dengannya sekali pun. Jadi penasaran. Apa dia tampan?" tanyanya, meski sepertinya Hinata sudah dapat menebak kadar ketampanan sang kakak jika ia melihat penampilan adiknya.

"Sangat~" tanpa sadar Ino menangkup kedua belah pipinya yang mulai merona. "Nii-chan itu dingin, cool, stoik, keren, irit bicara, tapi baik dan menggemaskan-"

"Karena itu kau jatuh cinta padanya." Hinata memotong.

Deg.

"Aku tida-"

"Seorang adik yang tidak mempunyai perasaan apa pun tak akan mendeskripsikan kakaknya seperti itu. Ditambah dengan muka tersipu menjijikan begitu." Sindir Hinata.

Ino menelan ludah. "M-memangnya bagaimana Neji-nii menurutmu?"

"Menyebalkan. Menjengkelkan. Setan. Otoriter. Mimpi buruk. Mending buang ke laut saja." Jawab Hinata enteng, membuat Ino mengernyit lagi.

"Lalu Naruto-kun?"

Seketika Hinata merona. "Dia baik, lucu, imut, tampan, lugu, ce-" Ia berkedip. "Ehem, See?" gadis itu menaikkan alis. "Kau memandang kakakmu seperti aku memandang pacarku."

Aquamarine Ino melebar. Ia terpaku untuk beberapa saat, terkejut. Lalu ia menggigit bibirnya. "J-jadi aku harus bagaimana?" gumamnya, agak panik. "Aku benar-benar cin . . cinta?"

Hinata memandangnya iba. Semua laki-laki mengejarnya tapi Ino malah terjebak dalam brocon. "Sebaiknya kau hentikan sebelum terlambat." Sarannya. "Percintaan antar saudara kandung itu adalah tabu. Kau membuatku merinding saja."

Ino meremas kepalanya. "Tapi . . kami bukan saudara kandung." Ungkap si gadis pada akhirnya. "Dia kakak tiriku. Kami bahkan tidak memiliki hubungan darah."

"HA?!" Hinata terkesiap. Sontak ia menangkup mulutnya. "Aku tidak pernah mendengarnya."

"Karena kami tidak pernah mempermasalahkannya." Ucap Ino. "Kandung atau tidak, dia tetaplah kakakku." Ujarnya, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku sudah tahu ada yang salah denganku. Tapi sampai mencintainya-" Ino menghela nafas keras. "Ya ampun. Apa ini boleh, Hina-chan? Apa ini tidak akan mengganggunya?"

Hinata termenung sejenak. "Jika begitu kau bisa lega karena perasaanmu tak melanggar norma. Tapi . . "

Ada kemungkinan suatu saat nanti perasaan itu akan merusak hubungan persaudaraan yang selama ini telah terjalin di antara kalian. Meski sudah tahu begitu, apa kau masih sanggup untuk meneruskan?

Ino menarik nafas dalam-dalam. Ia memejamkan aquanya. Itu adalah percakapan tiga tahun lalu, ketika si gadis pertama kali menemukan arti dari perasaannya pada sang kakak. Semenjak itu, ucapan terakhir Hinata selalu mengiang di benaknya.

Rasa yang dapat merusak hubungan persaudaraan.

Apa itu yang sedang dialaminya sekarang ini?

Ino menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela kamar. Sambil mengangkat segelas cokelat panas di tangannya, ia membuang nafas berat. Safir birunya memandang kosong pada butiran air hujan yang dijatuhkan angkasa gelap di luar sana.

'Kau bisa terus bergantung padaku, karena aku adalah kakakmu. Kau tidak sendirian.'

Itu yang selalu dikatakan Sasuke kepadanya sejak dulu. Karenanya, Ino berubah menjadi adik yang manja . . dan selalu ketergantungan pada kakaknya.

Perasaan cintanya ini bukan sepenuhnya salahnya. Sebagian besar salah Sasuke juga, jika Ino bisa membela diri. Lelaki itu yang telah sangat memanjakannya. Selalu memberi apa pun yang ia inginkan. Secara materi sudah pasti ia tercukupi. Namun lebih dari itu. Penjagaan, sentuhan, pelukan bahkan ciuman. Kakaknya selalu ada untuk menyamankannya, membuat Ino tak pernah merasa kesepian.

Sasuke memberikan apa pun padanya. Kecuali kebebasan.

Sang kakak membatasi waktunya dan pergaulannya, terutama dengan lawan jenis. Hanya Sasuke satu-satunya lelaki yang memiliki interaksi seintim itu dengannya. Bagaimana bisa Ino melihat lelaki lain, coba?

Ino memang senang diproteksi seperti itu oleh sang kakak. Membuatnya merasa dirinya paling berharga bagi kakaknya. Tapi itu malah membuatnya jadi besar kepala.

Padahal, hanya ia yang merona sendiri saat Sasuke mengecup lembut pipinya. Hanya jantungnya yang berdebar sendiri saat Sasuke mendekapnya erat selagi mereka tidur bersama. Hanya dirinya yang uring-uringan sendiri saat Sasuke membisikinya kata sayang. Hanya hatinya yang merasa hangat sendiri saat Sasuke selalu ada untuk menjaganya.

Padahal lelaki itu tak pernah merasakan hal yang sama sepertinya.

Sudah punya pacar tapi selalu meminta Ino untuk menyamankannya. Membuat si gadis menjadi berharap saja. Ck. Dasar lelaki. Tak ada pacar, adik pun jadi. Begitu?

Ino menengok pelan ke arah pintu kamar. Sudah seharian ini ia mengunci diri, tapi sang kakak belum juga mengetuk pintunya seperti biasa. Tangisnya saja sampai kering, sudah tidak bisa mengucur lagi.

Sasuke tak pernah mendiamkannya selama ini. Semenjak pertikaian mereka kemarin malam, hubungan diantara keduanya terasa berubah canggung. Mereka tak saling bicara lagi. Ino pun tidak ingin mengaku salah duluan. Ia memang sengaja menghindari Sasuke.

Ino tidak mau memaafkan kakaknya, karena telah membuatnya merasa semenyedihkan ini.

Untuk kesekian puluh kalinya si gadis mendesah dalam.

Ada kemungkinan suatu saat nanti perasaan itu akan merusak hubungan persaudaraan yang selama ini telah terjalin di antara kalian. Meski sudah tahu begitu, apa kau masih sanggup untuk meneruskan?

Benar.

Seharusnya Ino menyerah saja saat itu. Seharusnya Hinata melarangnya untuk melanjutkan.

Mungkin ia tidak akan merasa sesakit ini.

.

.

.

Bulan bersinar kemerahan, menggantung di cakrawala gelap. Meski cahayanya sedikit pudar akibat teredam barisan awan mendung berwarna kehitaman. Di luar sana, langit malam tengah mencurahkan butiran air hujan.

Sasuke memandang rembulan itu dari balik bingkai jendela kamarnya. Penglihatannya tertutup oleh uap air yang terbentuk di kaca. Lelaki itu sedang duduk di kursi kerjanya. Satu tangan mengangkat secangkir kopi panas.

Tidak biasanya Sasuke mengabaikan pekerjaan. Tidak biasanya pula ia termenung seharian. Memikirkan hal yang sama berulang-ulang.

Ia yang telah memanjakan adiknya, tapi ia pula yang menyuruh sang adik untuk berhenti bersikap manja. Ia juga yang berkata agar gadis itu bergantung padanya, tapi ia malah mengatai adiknya menyusahkan.

Konyol, bukan? Bodohnya lagi, Sasuke telah kehilangan kendali atas emosinya dan tersinggung pada apa yang diucapkan gadis yang sedang uring-uringan itu. Benar ternyata, emosi negatif dapat menular.

Dan Sasuke malah balik melampiaskannya pada Ino. Sekarang gadis itu pasti sedang marah padanya.

Sasuke mendesah pelan.

Setelah orang tuanya meninggal, hidup adiknya memang tergantung padanya. Kenyataan bahwa mereka saling menyayangi saja, apakah belum cukup untuk dijadikan sebagai alasan supaya mereka bisa terus tinggal bersama?

Tapi gadis itu malah mempertanyakan alasannya. Menguji dirinya. Mempersoalkan ketulusan Sasuke untuk menjaganya. Mempermasalahkan status hubungan mereka.

Bukan saudara kandung . . , katanya. Jadi selama ini gadis itu menyadarinya.

Heh.

Sasuke mendengus satu kali, bibirnya melengkung tipis. Lantas, mengapa memang jika mereka bukan saudara?

Justru semakin tidak ada alasan bagi Sasuke untuk meninggalkan gadis yang selama ini selalu dijaganya itu. Terutama ketika Ino sudah sadar, bahwa mereka memang tidak pernah terikat dalam pertalian darah.

-TBC-


Ini masih lanjutan dari kebaperan yang kemarin. I am updating really ASAP, right? XD

Hinatanya OOC apalagi imejnya Neji LOL Percakapan di atas terinspirasi dari drama Hwarang.

Muahaha bener ya, kok sasu berasa kek abang ita o_O Sasu tsundere? Bisa jadi~

Brocon itu brother complex. Sasuke beneran punya pacar? Sebenernya dia suka sama Ino ngga sih? Ino mendingan kabur dari rumah aja, deh?

Tunggu chapter depaaaaaan.

Makanya, review lagi yaaaak~

Thanks for caring, reading, liking, reviewing.

Updated : 14/01/17