Mikuo segera mengunci kamarnya. Dia mengambil surat yang tadi diterimanya.

'Untuk Mikuo...

Ini sudah merupakan surat yang ke lima kalinya aku kirimkan.. Aku mendapatkan alamat barumu dan ayah dengan diam-diam mengecek ponsel ibu. Apakah ayah menyembunyikannya darimu?

Aku berada di Sapporo.. Untuk alamat jelasnya, aku tidak tau. Tetapi aku ingin mengatakan, kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu Mikuo? Kamu teratur menjalakan pengobatan kan?

Dan seperti yang kamu dengar dua minggu lalu, aku hamil. Dan aku yakin, aku hamil anakmu, Mikuo.. Aku sudah dengar. Dan jika perempuan akan kuberi nama Takumi, sedangkan jika laki-laki akan kuberi nama Takeru.

Seperti yang kamu ketahui, aku mengirimkan pesan ini dengan susah payah dan diam-diam..

Jangan membalas surat ini.. Aku sudah memberimu alamat emailku yang baru dan nomor ponselku dibalik surat ini.

Baiklah, semoga kamu membaca surat ini Mikuo. Aku menyayangimu..

Dari wanita yang paling menyayangimu, Miku..'


Painful Stress

Chap 7

NB : adegan vulgar udah ga ad (balik rate T) dan yang pasti, MAKIN STRESS!

Enjoy reading, smoga ga stress yahh :'D


Mikuo bahagia dan nyaris menangis saat membacanya.

"Syukurlah.. Syukurlah Miku tidak apa-apa..", gumannya lega. Kemudian Mikuo membalik surat itu dan mencatat alamat e-mail serta nomor ponsel Miku. Dan secepatnya dia memberi balasan pada Miku.

"Halo?"

"Miku!"

"Mi.. Mikuo?!", tanya Miku tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Maafkan aku.. Baru tadi aku bisa menerima suratmu.. Sepertinya ayah menyembunyikannya selama ini.. Aku merindukanmu Miku..", kata Mikuo.

Miku menangis.. "Aku.. Aku sangat merindukanmu.. Mikuo..."

"Hei hei.. Jangan menangis.. Kamu berada di Sapporo kan? Aku akan kesana dan mencarimu keliling kota..", kata Mikuo.

"Jangan! Aku tidak ingin hubungan kita dirusak lagi.. Kalau dengan cara ini aku masih bisa berhubungan dengan Mikuo, begini pun tidak apa-apa..", kata Miku.

"Miku.."

Dan mereka berbincang-bincang lama setelah hampir dua bulan tidak bertemu. Tentu saja mereka berbicara dengan suara yang agak kecil, agar orang tua mereka tidak mengetahuinya. Miku banyak bercerita hal-hal yang terjadi sejak dia di Sapporo, juga bercerita tentang kondisinya yang mengandung anak Mikuo. Mikuo tertawa dan menjawab pertanyaan Miku, dia juga menceritakan beberapa hal yang sama.

"Aku merindukan Michi..", kata Miku.

"Aku juga.."

"Sudah berapa lama ya kita tidak mengunjungi makamnya? Apakah rumah kita di Kyoto itu tidak ada penghuninya?"

"Entahlah.. Ngghh!", tiba-tiba Mikuo merasa pusing dan sendi-sendinya sakit.

"Mikuo? Mikuooo?! Kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?", tanya Miku mulai khawatir.

"Ah maaf, kakiku menginjak paku. Hahaha.. Sampai mana kita tadi? Oh ya.. Suatu saat kita pasti pulang kembali, dan mengunjungi makam Michi..", jawab Mikuo seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Benarkah?"

"Tentu.."

Dan mereka melanjutkan obrolan mereka itu. Mikuo tidak memperdulikan rasa sakit yang tiba-tiba datang itu, dia tetap melanjutkan obrolannya dengan Miku.

Mereka tetap melanjutkan berhubungan melalui telepon dan e-mail diam-diam. Selama sembilan bulan itu, Mikuo juga selalu mendukung dan tetap memperhatikan kehamilan Miku. Mikuo memperingatkan Miku untuk banyak istirahat, meminta berbicara dengan perut Miku, hingga menggoda Miku. Berkat semua itu, mereka merasa dekat walau jarak mereka jauh. Hingga Miku akhirnya melahirkan anaknya. Pada saat itu Mikuo panik luar biasa hingga dia nyaris pergi ke Sapporo sebelum dilarang oleh Miku.

"Bagaimana anak kita? Dia lahir selamat kan? Dan keadaanmu? Anak kita sedang berada didalam inkubator? Sekarang kau tidak kurang istirahat?", tanya Mikuo panik.

Miku tertawa mendengar Mikuo panik seperti itu.

"Tenang saja. Semua berjalan dengan sangaaaattt lancar..", kata Miku, dan Mikuo bernafas lega.

"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat mencemaskanmu..", kata Mikuo dan Miku pun tertawa. Saat ini Mikuo benar-benar bersyukur jika kondisi Miku dan anaknya baik-baik saja.

"Takeru...", kata Miku dalam telepon.

"Kirimkan aku fotonya! Kau tau sejak tadi aku mencemaskanmu!", kata Mikuo tidak bisa tenang.

"Baiklah-baiklah.. Tunggu sebentar lagi, akan kukirimkan..", kata Miku dengan nada jahil.

Mikuo bernafas lega. "Sekarang bagaimana keadaanmu? Aku nyaris gila tau tidak bisa disamping wanita yang kucintai sedang melahirkan..", kata Mikuo lagi.

"Hahahhaa.. Maaf.. Kalau kau datang kesini, akan menjadi masalah. Kamu tidak mau kan kita lebih jauh dari ini? Takeru lahir dengan selamat dan kondisi tubuhnya bagus. Kita beruntung.. Biasanya anak hasil dari orangtua yang sedarah, tidak bisa lahir sempurna..", kata Miku.

"Syukurlah kalau begitu... Aku sangat bahagia Miku.. Tapi aku sangat ingin bertemu denganmu.. Takeru juga.. Sudah kurang lebih sepuluh bulan kita tidak bertemu kan?", kata Mikuo lagi.

"Akan ada waktunya Mikuo.. Akan ada.."

"Hhh.. Semoga saja tidak lama.."

"Ngomong-ngomong, Takeru mirip sekali denganmu loh!"

"Oh ya?! Cepat kirimkan aku fotonya, Miku! Aku sudah mencapai batas rasa penasaranku!"

"Hahaha.. Nanti saja, aku senang membuatmu penasaran~"

"Arghhhh.. Miku jelek.."

"Mikuo juga jelek kok~"

"Kalau aku jelek, berarti Takeru juga jelek?"

"Hmmm, entahlah~ tetapi jauh lebih baik daripada ayahnya..", kata Miku menggoda Mikuo lagi. Dan mereka berdua tertawa bersama.

"Hei, Miku.."

"Ya?"

"Ayo suatu saat kita bertemu.. Dan bawa Takeru.. Aku sangat ingin bertemu dengan kalian..", kata Mikuo.

"Hmmm.. Baiklah.. Tetapi kita harus menunggu waktu yang tepat, agar ayah dan ibu tidak curiga juga..", kata Miku.

"Kalau begitu kapan ya enaknya? Aku ingin secepatnya bertemu denganmu~", kata Mikuo.

"Bagaimana pada saat musim gugur saja? Aku tidak bisa meninggalkan Takeru untuk sementara, apalagi membawanya pergi.. Sampai waktunya tepat, aku akan membawanya bertemu denganmu.. Bagaimana?", tanya Miku.

"Lama sekalii hiksss~"

"Kalau kamu mau bertemu dengan kita, kamu harus bersabar..", kata Miku sedikit tertawa.

"Arghhhh.. Baiklah baiklah.. Pastikan wajahmu tidak berubah menjadi tambah jelek ya sampai musim gugur..", kata Mikuo sambil menggoda Miku.

"Hahaha.. Tidak akan.. Aku tidak akan lebih jelek daripada adikku~", kata Mikuo.

"Eh? Aku adikmu? Aku suamimu, Hatsune Miku!"

"Kapan kita menikah? Hahaha baiklah baiklah, sampai jumpa sayangku~ aku mengantuk.. Oyasumi"

"Baiklah.. Oyasumi Hime-sama.."

Mikuo mematikan teleponnya dan kemudian dia merebahkan tubuhnya keatas ranjangnya.

"Syukurlah.. Miku.. Takeru..", guman Mikuo senang.

"Mikuo! Mikuo!", kata ayahnya dari luar pintu. Mikuo langsung sweat drop dan takut jika ayahnya baru saja mendengarnya telepon dengan Miku.

"Se-sebentar..", kata Mikuo menaruh ponselnya di tas seolah-olah dia tidak memakainya.

"Ada apa ayah?"

"Lihat ini.. Ayah perhatikan hampir setahun ini abonemen teleponmu meningkat drastis hingga lima kali lipat. Ayah tidak keberatan membayarnya, tetapi kenapa bisa?", tanya ayahnya curiga sambil menunjukkan tagihan ponsel Mikuo.

Checkmate! Dan hal itu membuat Mikuo bingung harus menjawab apa.

"Aku.. Sering menghubungi Len dan Rin.. Ya walau aku tau sia-sia, aku terus mencari informasi tentang Miku..", jawab Mikuo sambil menunduk.

Ayahnya membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi.

"Sebaiknya kamu cepat lupakan Miku..", dan kemudian ayahnya pergi.

Mikuo menghela nafas. Disamping dia lega karena tidak ketahuan menelpon Miku, dia juga sedih mendengar kata-kata ayahnya yang selalu diulang terus itu.

Melupakan Miku? Mikuo tertawa, hal itu sudah pasti tidak mungkin dilakukannya. Sepertinya dia sudah cinta mati terhadap Miku.

Sejak kecil mereka selalu bersama. Dan tanpa disadari, tumbuh perasaan diantara mereka. Awalnya Mikuo menganggap itu hanya perasaan cinta terhadap saudara. Namun semakin lama Mikuo yakin jika itu bukan sekedar cinta terhadap saudara. Mikuo benar-benar melihat Miku sebagai seorang gadis dimatanya, bukan sebagai kakak kembarnya. Entah apa yang merasuki Mikuo sehingga dia bisa mencintai kakak kembarnya sendiri. Dia juga sadar itu salah, namun dia juga tidak bisa menghentikan perasaannya.

Mikuo benar-benar mencintai Miku. Dan kini dia amat sangat merindukannya. Memikirkan itu, dia menjadi galau dan frustasi sendiri. Kenapa jika saudara tidak boleh saling mencintai, Miku dan Mikuo dibuat untuk saling mencintai?

Mikuo menghela nafas. Dan tubuhnya menjadi lelah sekali, entah karena terlalu memikirkan Miku atau karena hal lain. Mikuo menggaruk-garukkan rambutnya sebal.

"E-eh?", Mikuo heran melihat tangannya yang penuh dengan rambutnya yang rontok tiba-tiba.

.

.

.

"Eehhh?! Bagaimana keadanmu sekarang?!", teriak Miku dari telepon.

"Hehehe.. Tenang saja.. Hanya demam biasa..", jawab Mikuo santai.

"Kenapa kamu tidak memberitahukan aku sih?! Kalau saja aku tidak mendengar percakapan ayah dan ibu di telepon, aku tidak akan pernah tau kalau kau sakit, Mikuo!", kata Miku lagi.

"Maaf.. Aku tidak merasa ini penting untuk diberitahukan.. Hahaha.. Tenang saja, aku akan sembuh dalam beberapa hari ini..", kata Mikuo lagi.

Miku menghela nafas. "Sekecil dan setidak penting apapun sakitmu, aku akan mengkhawatirkanmu bodoh.. Jaga dirimu baik-baik. Minggu depan kita akan bertemu kan?", kata Miku lagi.

Mikuo tersenyum. "Ya.. Tidak terasa.. Jangan lupa bawa Takeru..", kata Mikuo lagi.

"Kau harus sembuh dulu. Kalau tidak, aku dan Takeru tidak mau bertemu denganmu!", kata Miku lagi. Dan Mikuo tertawa mendengarnya.

"Baiklah-baiklah.. Apapun akan kulakukan demi bertemu denganmu minggu depan..", jawab Mikuo.

Dan tiba-tiba Mikuo mendengar isakan tangis Miku.

"Eh? Miku? Ada apa?", tanya Mikuo heran.

"Kamu.. Sedang sakit.. Dan aku tidak ada disampingmu.. Tidak bisa disampingmu untuk merawatmu.. Aku sedih sekali..", kata Miku tetap menangis.

"Tenanglah.. Aku tidak apa-apa.. Kau juga tau kan betapa khawatirnya aku saat kau melahirkan, dan aku tidak disampingmu?", kata Mikuo. Mikuo tetap mendengar isakan tangis Miku.

"Sudahlah Miku.. Kita akan bertemu seminggu lagi.. Dan aku tidak apa-apa..", kata Mikuo lagi.

"Iya.. Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu Mikuo..", jawab Miku yang sudah mulai berhenti menangis.

"Aku juga, Miku.. Sudah setahun lebih kita tidak bertemu.. Dan aku jamin kau pasti bertambah tua..", kata Mikuo menggoda Miku.

"Kalau aku tua kau apalagi? Mungkin kau sudah seperti kakek-kakek..", kata Miku tidak mau kalah.

"Bagaimanapun juga, kamu lebih tua dariku, Miku onee-sama!", kata Mikuo lagi sambil tertawa. Dan mereka bercanda sambil tertawa. Mikuo yang sakit pun melupakan sakitnya untuk sejenak.

"Hei Mikuo.."

"Ya? Apa hime-sama?"

"Apakah.. Kamu.. Tidak ingin mengajakku kabur lagi saat kita bertemu?"

Mikuo diam sebentar, kemudian dia menjawab pertanyaan Miku.

"Kalau ini cara yang terbaik agar kita bisa tetap berhubungan, sepertinya itu tidak usah. Kita sudah mengecewakan ayah dan ibu, Miku.."

Miku terdiam mendengar kata-kata Mikuo. Miku merenungkannya sebentar, dan dia merasa.. Mungkin ini yang terbaik..

"Miku?"

"Ah maaf aku melamun! Kalau ini yang terbaik, aku akan menjalaninya..", jawab Miku sedikit sedih.

"Kau terlalu memikirkanku sampai melamun begitu?", goda Mikuo dan Miku hanya menjawabnya dengan tertawa.

"Iya. Aku memikirkan betapa jeleknya wajahmu sekarang..", jawab Miku. Dan mereka tertawa bersama didalam telepon itu. Miku berusaha menerima semuanya dan menjalaninya. Kalau memang dengan jarak jauh mereka bisa tetap mempertahankan hubungan mereka, maka Miku akan menyanggupinya.

.

.

'Maafkan aku, Miku...'

.

.


'Ya! Sampai jumpa pada pukul 10:00!'

Mikuo membaca pesan itu lagi. Dia melirik jamnya, dan masih menunjukkan waktu 08.45.

Mikuo menghela nafas. "Satu jam lima belas menit lagi..", guman Mikuo. Dia sudah menunggu di stasiun sejak pukul 07.00 pagi.

Mikuo berdiri dan menuju mesin penjual minum. Dia memilih dua buah kopi dan satu jus yang rencananya akan diberikan pada Miku.

Mikuo berjalan lagi untuk kembali ke tempat duduk, dan dia kaget menemukan seseorang yang disana sampai-sampai kopi yang dipegangnya hampir jatuh.

Rambut diurai panjang, memakai gaun diatas lutut, dan menggendong seorang bayi.

"Miku!", Mikuo segera mendekati Miku dan Miku yang menoleh cukup terkejut.

"Mikuo...", dan Mikuo memeluk Miku beserta anak mereka.

"Kenapa tidak bilang jika sudah sampai? Bukannya kau bilang akan sampai pada pukul sepuluh?", kata Mikuo. Miku tertawa, kemudian menjawab, "Rencananya aku ingin memberimu sebuah hadiah. Karena itu aku sengaja memintamu bertemu pada pukul sepuluh. Tetapi gagal ya..", kata Miku. Dan Mikuo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Dasar bodoh.. Aku sudah menunggu disini sejak tadi pagi.."

"Ehhh?! Benarkah?!", muka Miku yang menunjukkan wajah luar biasa kaget itu membuat Mikuo tertawa lagi.

"Hei Miku.. Biarkan aku menggendong Takeru!", kata Mikuo dan kemudian Miku memberikan Takeru pada Mikuo.

"Miku.. Dia benar-benar mirip denganmu..", kata Mikuo.

"Eh!? Bukannya mirip denganmu? Hahaha..", kata Miku.

"Baiklah.. Dia benar-benar mirip dengan kita berdua..", kata Mikuo.

Miku memegang rambut Mikuo.

"Sejak kapan kau mewarnainya jadi hitam? Kenapa?", tanya Miku.

"Sebulan yang lalu.. Agar jika kita berkencan, kita akan menjadi pasangan yang normal..", jawab Mikuo sambil tersenyum kemudian dia menggandeng tangan Miku.

"Ayo kita pergi berjalan-jalan..", kata Mikuo dan Miku mengangguk.

Mereka berjalan-jalan mengelilingi kota. Mulai dari mengajak Miku untuk makan, membelikan Takeru peralatan bayi dan baju, ke taman, dan tempat lainnya.

"Mikuo.."

"Ya?"

"Apakah kamu akan melanjutkan kuliah setelah ini?", tanya Miku.

Mikuo terdiam, tetapi kemudian dia menjawab.

"Sepertinya.. Bagaimana denganmu?", tanya Mikuo.

"Aku... Akan.. Dinikahkan...", kata Miku sambil menunduk. Mikuo terkejut mendengar itu. Dia susah mempercayai apa yang baru saja didengarnya..

"Dengan siapa?!", tanya Mikuo.

"Entahlah.. Dengan anak teman ibu.. Aku juga tidak mau Mikuo.. Aku tidak menginginkan ini.. Makanya, aku bertanya padamu, apakah kamu tidak akan mengajakku kabur? Aku tidak ingin menikah dengannya.. Aku hanya mencintaimu, Mikuo..", kata Miku sambil menangis. Mikuo memeluk Miku sambil mengelus kepalanya.

"Tenanglah..", Mikuo berusaha menenangkan Miku, namun sorot matanya terlihat sedih. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi sekarang Mikuo tidak bisa memberikan jawaban apapun.

Setelah Miku tenang, mereka segera pergi ke hotel untuk menginap malam itu dan pulang besok pagi. Miku menidurkan Takeru diantara mereka.

"Mikuo.."

"Ya?"

"Aku ingin selalu bersamamu seperti ini..", kata Miku..

Mikuo menggenggam tangan Miku.

"Aku bersamamu, Miku..."

Miku tersenyum dan mengangguk, kemudian keduanya tidur sambil memegang tangan satu sama lain.

...

"Kemarin terasa begitu cepat ya.."

"Iya.."

"Miku, ini..", Mikuo menyodorkan sebuah bingkisan kecil pada Miku.

Miku membukanya, dan dia kaget melihat isinya.

"Mu.. Mungkin.. Akan mustahil bagi kita untuk menikah karena status kita sebagai saudara.. Tetapi.. Aku ingin memberimu tanda bahwa kamu adalah milikku..", kata Mikuo mengambil cincin yang diberikannya pada Miku dan memakaikannya di jari manis Miku.

"Mi... Mikuo.."

"Lihatlah, aku juga memakainya.. Mungkin aku tidak bisa memakainya di jari, hal itu akan membuat ayah curiga. Kau tau kan ayah lebih overprotective dibandingkan ibu.. Tetapi aku tetap akan memakainya disini..", kata Mikuo sambil menunjukkan cincin yang serupa dengan Miku dan memasang rantai agar bisa digunakan dilehernya.

Miku menangis, dan dia memeluk Mikuo.

"Aku.. Aku tidak ingin berpisah denganmu..", kata Miku terus menangis. Mikuo membalas pelukan Miku itu, "kita akan bertemu lagi..".

"Kereta menuju Sapporo akan segera berangkat.."

"Hei Miku, keretamu akan berangkat..", kata Mikuo melepaskan Miku.

"Cepat sekali ya.."

Mikuo memandang Miku, kemudian menciumnya.

"Sampai jumpa.."

Mikuo juga mencium kening Takeru, "Sampai jumpa, anakku.."

Miku pun akhirnya naik kereta dengan mata yang masih basah.

"Sampai jumpa Mikuo! Aku mencintaimu!", dan kemudian pintu ditutup.

Mikuo berjalan ke bangku stasiun dan duduk sebentar.

"Maafkan aku Miku, maaf..", dan air mata keluar dari matanya.

.

.

.


"Sudah seminggu Mikuo tidak bisa dihubungi sama sekali, apa yang terjadi?", guman Miku sedih sambil mengelus rambut Takeru.

"Mikuo..", guman Miku sedih.

Mulai dari email, pesan yang tidak dibalas, sampai ponselnya tidak bisa dihubungi. Dan itu terjadi sejak Miku kembali pulang ke Sapporo.

"Miku..", terdengar suara ayahnya yang mengetuk pintunya.

"Eh? Ayah datang?", kemudian Miku segera membuka pintu kamarnya.

"Ini..", ayahnya menyerahkan sebuah amplop pada Miku.

"Apa ini?", tanya Miku.

"Buka saja sendiri..", dan Ayah Miku pergi.

Miku kemudian membuka amplop itu, dan dia sangat terkejut membaca isinya.

'Miku, jangan pernah menghubungi aku. Nomor ponselku sudah kuganti sehingga kamu tidak bisa menghubungiku lagi. Kita sudahi saja semua ini.'

"Mi.. Mikuo.."


To be Continued.

Mind to review and comment again? :3

Thanks for all readers~ :D

Maaf ya, semakin lama semakin aneh, geje, stress, bikin bingung, tambah ruwet :'D tapi makasih bwt yg udah sedia membaca dan bahkan mau review :'D *terharu*

Kira : makasihmakasih :3

Vhi : makasih review lagi :'D terharu sangat #lemparcinta #plakk. Hahaha maaf kan memang sengaja biar ketahuan ayah ibunya :'D okeoke ditunggu saja endingnya.. Yang our pain our love bakal d updte asap x3 thx ya, keep reading and review!

Authorterhina : udah d tulis T semi M kan ._. Kurang ya? Maafkan hamba ya :'D oke smoga ini lebih panjang, thanks reviewnya! Keep reading! :)