JK Daily Life
Cast : Kim Taehyung. Jeon Jungkook. Others
Genre : Drama and Romance
.
.
A LIL BIT SAD
Dua hari kemudian seluruh keluarga korban diminta untuk berkumpul di kantor pusat Korean Air. Didepan sana sudah ada layar cukup besar yang akan menampilkan live report oleh tim penyelamat yang sudah sampai di tempat hilangnya burung baja itu.
Jungkook tentu datang, dia duduk di tengah-tengah orang tua Taehyung. Kedua tangannya di genggam erat oleh ayah dan ibu Taehyung. Kemudian layar itu menyala menampilkan lautan luas yang membentang.
Menteri itu berbicara "setelah tim kami sampai disana, mereka menemukan barang-barang yang mengambang—"
Terlihat di layar itu sebuah sepatu yang telah diikat, lalu sebuah pelampung dan semua barang yang mengambang itu terlihat seperti menunjukan sebuah jalan.
"Kami berpikir apakah ini sebuah kebetulan? Tapi setelah di lihat lebih jauh ternyata ini semua adalah barang yang bisa mengambang dan diikat sedemikian rupa agar membentuk seperti sebuah petunjuk" kemudian di layar itu tampak sebuah barang yang telah diikat lalu membentuk garis lurus yang panjang.
"Setelahnya tim kami mengikuti barang mengambang itu dan barang itu terhenti disebuah pulau tidak berpenghuni. Jadi saat ini tim kami tengah mengitari pulau tersebut" Jungkook menggengam erat tangan ibu Taehyung, apakah Taehyung berada di pulau itu?
.
Jungkook berlari dengan tergesa, ternyata saat dia tengah tidur di mobilnya ibu Taehyung menelfon dengan menangis. Ia ingat apa yang menyebabkan dirinya berlari seperti orang kesetanan sekarang saat dia tengah beristirahat di parkiran bandara, dering telfon mengusiknya. Baru saja ingin menjawab tiba-tiba suara perempuan disana terdengar terlebih dahulu "Jungkook-ie kesini sekarang hikssss mereka bilang mereka menemukan para penumpang itu"
Maka disinilah dia sekarang, dengan para keluarga korban yang menangis tersedu. Di layar itu telah tampil orang-orang dengan kondisi mengenaskan tengah menangis haru. Ada yang memeluk sang petugas medis, ada yang berteriak memanggil nama seseorang disana.
Mata Jungkook kemudian mulai memanas, dia tidak melihat Taehyung disana. Harusnya ada Taehyung kan?
"Setelah mereka selesai diobati dengan pertolongan pertama semua korban akan kami bawa ke Korea Selatan. Besok pagi mereka sampai—" "—kami akan mendata satu persatu korban yang selamat"
Lutut Jungkook semakin melemas kala dia hanya melihat pramugara dan pramugari itu. Mereka semua dalam keadaan yang tidak bisa dibilang baik. Baju compang-camping, tangan yang berlumuran darah kering, bahkan ada satu pramugari yang kritis.
"Tae hyung jangan bilang kalau—kalau kau hiks tetap berada didalam pesawat itu" Jungkook jatuh terduduk dengan menangis tersedu. Dunia sangat tidak adil. Disaat semua orang bahagia anggota keluarganya telah di temukan kenapa dia tidak?
.
Keesokan harinya seluruh korban sampai di bandara Incheon, ini termasuk berita paling menghebohkan diseluruh dunia, dimana hampir semua penumpang selamat walau ada yang kritis. Jungkook hanya duduk diam di kursi itu sejak semalam. Jiwanya seakan pergi bersama Taehyung.
Menteri itu kemudian memberikan statement lagi "kami saat ini tengah menunggu Lee Hyorin sadar, karena dia adalah pramugari senior yang mendapat akses untuk memasuki cockpit. Jadi besar kemungkinan Hyorin-ssi tau apa yang terjadi di atas sana"
Kemudian semuanya bergegas pulang, menengok anggota keluarganya yang saat ini tengah di rawat intensive.
Jungkook pulang ke apartemennya, di dalam sana sudah ada Jin dan Namjoon. Seokjin langsung memeluk Jungkook erat sambil mengelus-elus tangannya di pundak Jungkook. "Taehyung pasti ditemukan, dia kuat arra?" Jungkook hanya tersenyum dan mengangguk.
Dia tidak tau akan jadi seperti apa dirinya jika tidak ada hyung-hyung yang menjaganya. Mungkin dia akan ikut hancur perlahan dan bertemu Taehyung di surga. Tunggu, Jungkook menggeleng pelan. Dia berharap Taehyung mati? Tidak, kemudian dia mulai menangis kembali dalam diam.
.
Sudah seminggu Jungkook terus menunggu Hyorin sadar. Dia penasaran, semakin hari dirinya semakin kacau. Matanya juga perlahan mulai sedikit mengeluarkan air mata. Dia kini duduk di salah satu bangku press conference, pemerintah bilang Hyorin sudah sadar dan bersedia menceritakan apa yang terjadi.
Di samping Jungkook, ada Luhan. Pria imut itu sama kacaunya dengan dia. Setelah dia berkenalan ternyata Luhan adalah tunangan Sehun—Co pilot yang bertugas bersama dengan Taehyung. Jungkook tersenyum dengan tegar, dia tau Luhan sama hancurnya dengan dia.
Kemudian blitz kamera para wartawan menyadarkan Jungkook. Didepan sana seseorang dengan kursi roda dan gips di lehernya tengah menatap kedepan. Pandangan matanya sedikit kosong, Jungkook tau pasti dia masih trauma. Disebelahnya Jungkook melihat pramugari yang tidak terlalu mengalami luka serius hanya kepalanya saja yang di perban.
Kemudian Hyorin mulai berbicara "sebetulnya aku tidak tau harus berbicara dari mana. Kejadian itu sangat cepat." Suaranya serak. "saat itu aku dan teman-teman baru saja membereskan sisa makan siang.." Jungkook terus menanti perkataan Hyorin selanjutnya.
"Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dari sayap kiri. Aku pun menyuruh semua penumpang tetap tenang dan memakai sabuk pengaman. Kemudian Capt Kim menghubungiku, menyuruhku untuk datang ke cockpit. Aku pun bergegas menuju kesana" air mata itu perlahan jatuh dari wajah Hyorin.
Jungkook menegang tak kala Hyorin menyebut Taehyung dalam kalimat itu, "—kemudian saat aku sampai, aku melihat wajah mereka yang sedikit panik. Tapi Taehyung—maksudku Capt Kim menyuruhku untuk tenang" Hyorin mengelap air matanya.
"Dia berkata hiks..dia berkata padaku untuk membuka semua pintu pesawat" "—aku masih ingat saat dia selesai berbicara seperti itu, tiba-tiba ledakan kedua kembali terdengar. Dia bilang harus menuruti perintahnya karena jika tidak seluruh penumpang akan mati" Jungkook tidak bisa membayangkan bagaimana situasi saat itu.
"Lalu aku berkata dengan cepat bagaimana dengan kalian berdua? Co-pilot lalu menjawab bahwa hiks mereka akan tetap memegang kendali sampai semuanya turun" Jungkook menangis lagi, berarti mereka tetap disana.
"Kemudian Capt Kim berteriak padaku untuk segera keluar dan membuka pintu lalu aku menyuruh semua penumpang memakai pelampung dan menunggu perintah darinya untuk melompat" "—kemudian pesawat perlahan turun dan kami satu persatu melompat ke bawah"
Hyorin menatap kosong kedepan "ini merupakan pertarungan antara hidup dan mati. Tubuhku sangat sakit karena harus jatuh dari ketinggian seribu meter lalu menghantam laut. Namun aku berpikir aku tidak terlalu berjuang jika di bandingkan dengan Taehyung dan Sehun. Aku pun mulai mencoba berenang dan mengumpulkan semua orang"
Hyorin berkata sambil terus menangis "tapi saat aku dan crew yang lain tengah mengumpulkan para penumpang dan menyuruh mereka tetap bersama setelah cukup lama di kejauhan aku mendengar sebuah suara ledakan" "—aku yakin itu berasal dari pesawat kami, lalu semua orang yang berada disana menangis"
Tuhan, kenapa aku diberikan cobaan yang begitu berat?—Jungkook.
Suara berderit dari kursi yang digeser membuat semuanya terdiam. Termasuk Hyorin. Jungkook berlari keluar dia sudah muak dengan semuanya. Jadi ini adalah takdir dia bersama Taehyung? Apakah harus berakhir seperti ini?
"Harusnya aku saja yang mati, bukan kau Tae hyung" Jungkook pergi meninggalkan ruangan itu.
.
Seminggu setelah Hyorin membeberkan semuanya, tim penyelamat masih berusaha mencari kedua orang pilot tersebut, mereka juga mencari blackbox guna membantu penyebab kenapa pesawat itu bisa meledak.
Jungkook mengurung diri dikamar, dia tidak keluar sama sekali. Dia pikir untuk apa? Toh Taehyung sudah sangat jelas berada dipesawat itu di detik-detik terakhir. Dia menatap langi-langit kamarnya dengan mata menutup. "Tae hyung maaf aku tidak pernah bisa melepasmu…" "kenapa mimpi buruk ini tidak pernah berakhir?" "—masih adakah harapan untuk kau tetap hidup?" Jungkook terus saja berbicara.
Bagaimana bisa Jungkook melupakan Taehyung? Bahkan dulu dia masih selalu mengenang pemuda berperawakan kurus itu ditambah kenangan yang Taehyung berikan sebelum dia harus terbang ke Afrika Selatan. Dimana mereka jogging bersama, Taehyung yang memasak untuknya, Taehyung yang menciumnya. Semua begitu manis.
"Aku hanya punya satu permintaan tuhan, bukankah gampang bagimu untuk mengabulkan permintaanku? Aku mohon, aku mohon hiks. Kembalikan Taehyung."
.
Sudah memasuki minggu ke empat sejak peristiwa itu, namun belum ada tanda-tanda Taehyung ditemukan. Jungkook sekarang sudah seperti mayat hidup. Kulit tambah pucat, kantung mata yang sangat menghitam tapi sekarang dia mulai menyamarkannya dengan conclear, dan tubuh yang kurus.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Kali ini ayah Taehyung yang menelfon. Jungkook mengangkatnya di dering pertama "Jungkookie, bisakah ke bandara sekarang? Mereka bilang..mereka menemukan blackbox itu dan Sehun…." Segera Jungkook memasuki mobil dan bergegas ke bandara.
Disana, sudah ada Luhan yang tengah menanti. Tapi matanya malah terus mengeluarkan air mata. Apakah sesuatu yang buruk?—pikir Jungkook. Lalu dia mendekat kearah Luhan. Luhan menengok dan langsung memeluk Jungkook. "Kook-ah hiks Sehun hiks hiks" pundah Jungkook basah. Kemudian dia melihat layar disana di lautan itu dia melihat sesuatu yang mengambang.
Semuanya laut, namun satu objek tengah mencuri perhatiannya. Disana ada seorang pria dengan posisi mengambang di puing pesawat dan kondisinya yang sangat mengenaskan. Bajunya pun sobek, luka di kaki kanannya sangat parah. Dan orang itu sudah menjadi mayat.
Luhan kembali menangis, Jungkook semakin menatap layar itu dengan tatapan tidak percaya. Sehun sudah menjadi mayat, lalu bagaimana dengan Taehyung? Tidak. Ini tidak adil. Jungkook menangis bersama Luhan.
Menteri perhubungan itu berdehem, lalu bersuara "tim kami menemukan seorang mayat lelaki. Di ketahui lelaki itu Oh Sehun. Co pilot dari Korean Air. Kami bisa melihatnya dari nametag yang masih melekat di seragam korban. Beberapa meter dari jasad Sehun, kami menemukan blackbox dan beberapa puing yang sudah berada di dasar laut"
"Kami masih akan terus mencari Captain dari penerbangan ini, Kim Taehyung. Dan butuh dua minggu untuk tau apa isi dalam blackbox itu. Apabila kami sudah bisa membukanya, kami akan memberitahu kepada media terutama keluarga korban" kemudian sang menteri menunduk hormat, lalu pergi.
.
Jungkook kemudian di larikan kerumah sakit karena pingsan. Dia segera mendapatkan perawatan karena dokter bilang dia kekurangan cairan dan gizi. "Jungkook-ah kenapa kau jadi seperti ini, Taehyung pasti sedih melihat keadaanmu sekarang." Jin tengah mengusap pelan kening Jungkook.
Hari itu pun tiba. Hari dimana pemerintah akan memberitau apa isi dari benda paling penting dalam pesawat. Blackbox akan di perdengarkan. Semua orang sudah siap. Para wartawan sudah standby dengan kamera dan mikrofon, mereka sedang melakukan siaran langsung. Jungkook, Luhan, Ibu dan Ayah Taehyung serta seluruh korban yang selamat datang.
Para penumpang itu berduka tentu saja. karena jika tidak ada mereka berdua, Captain dan Co pilot itu mungkin kini mereka tidak dapat bertemu orang yang mereka kasihi seperti sekarang. Kemudian pria yang berada didepan, yang diketahui sebagai ahli pembaca blackbox menekan tombol dan setelahnya terdengar suara dari speaker.
Jungkook berkeringat dingin, menunggu suara itu. Kemudian sebuah suara terdengar, dia tau itu suara mesin pesawat lalu suara Taehyung terdengar meminta izin untuk takeoff. Semuanya tampak normal.
"KR777, confirm maintaining heading 050 or tracking to DIOLA?"
"Affirm, match 74 maintaining 050" Taehyung menjawab panggilan dari petugas ATC.
"Bearing 050" suara Taehyung kembali terdengar.
"Kim Taehyung confirm? Selamat bertugas ya" petugas ATC itu kembali bersuara
"Ya, Kim Taehyung. Selamat bertugas juga bos!"kembali hanya suara mesin terdengar. Jungkook bersedih lagi kala mendengar suara yang amat dia rindukan tersebut.
Di menit-menit awal semuanya normal, Taehyung dan Sehun sesekali mengobrol biasa.
"Eh Hun, kau sudah melamar Luhan?" itu suara Taehyung. Jungkook menggigit bibirnya. "sudah, kenapa?" Sehun bertanya balik "—tidak, hanya penasaran saja bagaimana caramu melamarnya?"lalu terdengar suara Sehun yang tertawa.
"Aku membeli jet pribadi, lalu mengajak Luhan ke Maldives. Disana aku menyewa sebuah private villa dan melamarnya" suara husky seorang Oh Sehun terdengar oleh telinga Jungkook, disebalah Luhan kembali menangis karena teringat akan moment itu.
"Wow daebak, kau membeli jet pribadi?" tanya Taehyung lagi "well, iya. Hei bukankah itu hal biasa?" jawab Sehun, "iya sih, tapi tetap saja mahal. Boleh aku pinjam?" kata Taehyung "dasar Kim pelit Taehyung" ejek Sehun, "ayolah bung! Kita teman kan?"
"Baiklah-baiklah, memangnya untuk apa?" kemudian Taehyung menjawab "untuk melamar Jungkook hahaha"
"Memangnya kalian sudah balikan?" dengan cepat Taehyung menjawab "engg belum sih, tapi aku yakin saat aku kembali dari tugas, Jungkook akan menerimaku" jawab Taehyung. Kemudian hanya terdengar suara mesin lagi.
"Aku gak mau tunangan, maunya langsung menikahi Jungkook. Karena aku gak mau nunda lagi, sama seperti sekarang… "
DUUUUUUUT,
"Sialan Kim! Kau nahan kentut?!" "—fuck bau sekali" kemudian terdengar suara Taehyung tertawa "maaf man, gak tahan" mereka berdua tertawa kembali. Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan "kentut ku dahsyat juga ya Hun" Taehyung terkekeh. "oke we need to make it serious Kim" Sehun menjawab.
Alarm kemudian terdengar, bunyi itu sangat keras. "mesin satu dan dua terbakar" ujar Sehun, "matikan apinya" perintah Taehyung "roger Capt" kemudian terdengar suara bangku yang digeser, Jungkook tidak pernah tau apa yang ada di dalam tempat kerja Taehyung, dia tidak mengerti karena disana hanya ada banyak tombol.
"KR777, pesawat kami mengalami kebakaran di bagian mesin sumber percikan belum diketahui" Taehyung melapor kepada ATC, tidak lama kemudian ATC menjawab "confirm that, apakah parah?" "—kuharap tidak" itu Sehun yang menjawab.
Kemudian suara ledakan kembali terdengar "oh fuck, mesin ketiga juga meledak" Sehun mengumpat kasar, "chill man, masih ada satu mesin lagi" Taehyung menjawab kalem.
"Kita tidak bisa mendarat darurat di ketinggian ini" kemudian Taehyung mencoba menghubungi ATC namun tiba-tiba sambungan itu terputus sepihak.
"Mayday, mayday" teriak Sehun. "Hyorin-ssi, bisa ke cockpit sekarang?" Jantung Jungkook berdetak semakin cepat, karena situasi saat ini adalah yang paling mengerikan. Tidak lama terdengar suara perempuan "Capt terjadi sesuatu?"
"Iya, ketiga mesin pesawat kita meledak. Kita tidak bisa memutar arah kembali ke Incheon maupun ke Or Tambo. Jadi dengarkan aku baik-baik, kau harus menyuruh semua penumpang memakai pelampung, bawa semua barang yang bisa mengapung lalu aku akan menurunkan ketinggian, kalian semua harus loncat dari pesawat ini" perintah mutlak dari Taehyung.
"—Kau harus menuruti perintahku, kalau tidak semua akan mati. Jadi saat aku menyuruh membuka pintu pesawat ini, kalian harus melompat arra?" "lalu bagaimana dengan kalian berdua?" "kami akan berada disini sampai kalian semua turun" kata Taehyung.
"Cepatlah Hyorin kita sudah tidak punya banyak waktu" kemudian terdengar suara langkah kaki pergi. Tiba-tiba suara lain terdengar makin keras. Ada orang lain yang menuju cockpit. "KAU SUDAH GILA YA?! HAMPIR TIDAK ADA PELUANG UNTUK SELAMAT!"
"It's our fucking job, Kim Jongin. Ada dua ratus sekian nyawa yang bergantung pada kami berdua" jawab Taehyung. "Kim, aku pilot juga! Kau lupa?!" Jongin menjawab, "tapi yang sekarang sedang bertugas adalah kita berdua, aku dan Sehun. Tugasmu cuman lima jam dari Korea sisanya aku", Jongin menjawab "kalau begitu biar aku yang menggantikan Sehun. Kau akan menikah kan dengan Luhan?"
Lalu, suara sehun kembali terdengar "aku yakin Luhan itu kuat, tapi kau Kim. Anakmu masih membutuhkan figure seorang ayah. Sedangkan Luhan, aku yakin dia bisa hidup tanpa adanya aku disamping dirinya…" "istrimu juga masih membutuhkanmu" Sehun kembali melanjutkan.
Tiba-tiba terdengar suara seperti hantaman, yang disusul oleh teriakan Kim Jongin. Sepertinya Sehun menonjoknya. "SEHUN, SEHUNNNN!" "—tell them my stories, hyung!" Sehun sedikit berteriak. "apakah mereka semua sudah melompat?" tanya Taehyung, "sudah Capt! Apa perintah selanjutnya?"
Kemudian Taehyung menjawab "naikan ketinggian menjadi lima ribu kaki" "roger that". Lalu hening, tiba-tiba Taehyung kembali bersuara "sepertinya api semakin menyebar", "masih ada waktu sebelum meledak, Sehun kamu mau bilang sesuatu untuk yang terakhir kalinya?" Taehyung kembali berbicara.
"Rasanya aku ingin menangis sekarang khee—" "—aku hanya ingin bilang, aku senang bertugas denganmu Capt. Baru kali ini mendapatkan seorang captain yang tidak kaku sepertimu" Taehyung tertawa "aku terharu mendengarnya, senang bisa menjadi temanmu Hun" bunyi alarm peringatan kembali terdengar.
"Waktu kita tinggal sedikit" gumam Taehyung, "sudahlah Hun jangan menangis. We die as a hero" terdengar suara Sehun yang menangis sambil menyebut nama Luhan "Luhan….Luhan…Luhan"
"Jadi teringat Kookie" Jungkook meremang dibuatnya. Seluruh tubuhnya gemetar mendengar Taehyung menyebut namanya.
"Cookies, maaf mungkin kakiku tidak akan pernah menapak Korea lagi. Tapi aku berharap kamu mau menerimaku kembali, berpacaran beda alam terdengar menarik? Hehe. Mungkin, di kehidupan lain kita bisa bersama. Satu hal yang perlu kamu tau, aku akan selalu mencintaimu. Tolong ingat aku ya? ..Kookie walaupun semuanya terasa berat aku mohon untuk tetap hidup dengan bahagia,terlebih tidak ada aku disampingmu—"
Jungkook menangis mendengarnya, bahkan disaat terakhirnya Taehyung masih sempat memikirkannya, dan malah meminta maaf."—Eomma, Appa jangan bersedih jika mendengar aku masuk berita. Akhirnya aku terkenal kan? hehe. Tolong jaga Jungkook untukku ya? Aku sayang kalian"
"Luhan sepertinya aku akan bertemu duluan dengan ayah dan ibu, ingat satu hal hiks aku akan selalu ada di atas sana. Melihat semua aktivitasmu, jadi aku mohon jangan menangis ya? Karena aku tidak suka itu membuat mata indahmu menjadi bengkak..dan berteman baiklah dengan Jungkook, aku rasa nanti kalian akan bertemu"
Alarm itu terdengar semakin keras, "mesin pesawat kita mati semua Capt" ujar Sehun. "baiklah, kencangkan sabuk pengamanmu, kita sebentar lagi akan sampai ke surga" jawab Taehyung cepat. Sehun tertawa "apakah aku keren dengan kacamata ini?" Taehyung kembali berbicara, "kau memang keren Capt!" jawab Sehun.
"Hahaha, lihat! Itu kuburan kita" ujar Taehyung, "indah ya, lautan biru membentang" Sehun menjawab. "—aku sudah bosan melihat kuburan di dalam tanah, akhirnya kita meninggal di tempat yang anti mainstream" "ironis sekali hidup kita bung! Bahkan diriku masih perjaka" Taehyung tertawa.
"Sialan padahal aku sudah membayangkan malam pertama dengan Kookie"
"Yup, sebentar lagi impact. Laporan terakhir dari Captain Kim Taehyung Korean Air dengan nomor penerbangan KR777 pesawat mengalami kerusakan di bagian mesin, penyebab belum diketahui. Penumpang beserta tujuh crew dan satu pilot berhasil melopat, korban tewas belum diketahui—satu menit sebelum menabrak laut" Taehyung berbicara cepat.
"Bersiap untuk impact!" Sehun berteriak, terdengar bunyi berisik diluar "Mayday, mayday, mayday!" suara keras memasuki perairan, setelah itu komunikasi terputus dan hening.
.
.
TBC
Maaf telat update ya.
Review?
