Title : Black Flower

Author : Sulis Kim

Main : Jung Yunho

Kim Jaejoong

Hyuna ( JJ nephew )

Other

Rate : M

Genre : Romace, Action, Sad, Family.

WARNING

GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

Langkah panjang Yunho dengan cepat melintasi ruang tamu luas Mansion. Pria itu berlari menaiki tangga dengan melompati tiga anak tangga sekaligus.

Yunho begitu menghawatirkan Jaejoong dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia berdoa sepanjang perjalanan pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri secepat mobilnya mampu melaju. Apapun asalkan Jaejoong sadar, ia akan membebaskan wanita itu jika memang itu yang Jaejoong inginkan.

Memikirkan ia akan Jauh dari Jaejoong membuat dadanya nyeri seakan di tindih beban berton ton. Ini bukan akhir dari segalanya, ia masih bisa menjaga Jaejoong meskipun wanita itu tidak tinggal di mansion miliknya. Ya itu benar, ia akan melepaskan Jaejoong jika wanita itu menginginkannya, ia masih bisa mendekati Jaejoong ketika wanita itu bebas, membuat wanita itu bertekuk lutut di kaki Yunho. Tidak ada wanita yang pernah menolaknya selama ini, tidak juga Kim Jaejoong. Yunho mengatakan itu di dalam hati untuk menghibur diri.

Brengsek. Yunho mengumpat, ia merasa mansion ini begitu lebar luas sampai butuh berapa mennit untuk sampai di lantai dua kamar Jaejoong. Ya Tuhan, semoga wanita itu tidak kembali koma.

Pintu kamar wanita itu berada di depan mata. Tidak sabar, Yunho menghempaskan pintu sampai pintu tersebut membentur tembok terdengar suara logam terjatuh bergemerincing di lantai.

Jaejoong disana, duduk di atas ranjang di dampingi Changmin dan Hyuna. "Terima kasih Tuhan." Ia melangkah mengikis jarak di antara mereka kemudian memeluk Jaejoong begitu erat sampai ia ingin melebur bersama wanita itu detik itu juga.

Perasaan lega membanjiri Yunho. Syukurlah wanita itu tidak kembali koma. "Syukurlah, maaf aku telah membuatmu merasa tertekan pagi ini, maaf...maaf." Yunho berkata tepat di samping telinga Jaejoong.

Jaejoong mengerjap merasakan kekuatan lengan pria itu melingkupi tubuhnya. Ia hanya pingsan tidak lama dan ketika sadar dirinya sudah di atas tempat tidur dengan Changmin dan Hyuna disana. Mereka sedang mengobrol dan bercanda sampai ketika Yunho menerjang masuk seperti pria kesetanan dan memeluknya begitu erat.

"Jung Yunho, sesak." Mencoba melepaskan pelukan Yunho, Jaejoong menggeliat. Sampai pria itu melepaskan rengkuhanya, kemudian ia terbelalak saat Yunho mendaratkan kecupan singkat di keningnya.

Suara pria itu bergetar ketika berkata. "Apa kau tahu aku sangat menghawatirkanmu sampai ingin mati rasanya." Pria itu kembali memeluknya namun tidak seerat pelukan sebelumnya.

Gerakan dari ujung ranjang membuat Yunho menyadari gadis kecil yang sedang menatapnya dengan mata terbelalak. "Maaf Hyuna, apa aku mengagetkanmu?"

Gadia kecil itu mengangguk. "Kenapa Paman memeluk Mommy Hyuna,?" pertanyaan polos gadis itu membuat Yunho tertawa.

Changmin duduk santai di kursinya menatap penuh minat kearah luar jendela yang terbuka. Yunho duduk di tepi ranjang meraih Hyuna dan mendudukan hadis kecil itu di pangkuanya. "Karena Paman menghawatirkan Mommy,,," Pandangan Yunho menatap Jaejoong dengan sorot mata yang begitu lembut. "Apa kata dokter, kau tidak akan pingsan lagi bukan?"

"Ms. Kim hanya merasa tertekan Mr. Jung, saya minta maaf sebelumnya, kslau bisa jangan biarkan masalah apapun membuat pikiran Ms. Kim terganggu." Salah seorang dokter dengan takut takut berbicara di sisi lain ranjang.

Yunho tidak melihat ketiga dokter itu saat ia masuk. "Saya sudah memeriksa keadaan Ms. Kim, tekanan darahnya sedikit rendah kami sudah memberikan vitamin dan obat. Dia hanya butuh istirahat sebentar." Salah satu dokter lain meneruskan.

Tertekan. Apa karena kejadian pagi tadi membuat pikiran Jaejoong tertekan? Yunho bertanya dalam hati.

"Keluarlah kalian semua, aku berbicara berdua dengan Jaejoong."

"Tidak bisakah Hyuna tinggal?" tanya Hyuna penuh harap. Ia belum lama bersama ibunya dan pamanya itu sudah akan mengusirnya.

"Tidak, sayang, setelah urusan paman dengan Mommy selesai, Hyuna boleh bersama Mommy selama Hyuna inginkan." Tangan besar pria itu mengusap rambut Hyuna. Kemudian mencium pipi gembal gadis itu sebelum menyerahkan Hyuna kepada Changmin.

Yunho dapat membaca kekhawatiran pemuda itu secara gamplang. "Tidak usah khawatir, aku tidak akan melakukan apapun yang dapat menyakiti kakakmu."

"Kau ingin aku mempercayainya." sahut Changmin dingin.

Yunho menyerigai senang. "Tidak fisik mental atau apapun, aku tidak akan menyentuhnya jika itu yang membuatmu khawatir, aku berjanji" jeda sejenak ketika Yunho menambahkan. "Tidak tanpa seijin kakakmu."

"Aku yakin Jongie tidak akan mengizinkanya." Hyuna sudah mengulurkan kedua tangan menunggu Changmin sampai pemuda itu menggendongnya keluar kamar. Diikuti ketiga dokter di belakang mereka.

Pintu tertutup di belakang Yunho. Pria itu masih duduk di tepi ranjang mengamati wajah Jaejoong yang pucat. Yunho dapat melihat lingkaran hitam di bawah mata wanita itu tampak lebih jelas. Benarkah ia membuat Jaejoong tertekan.

Bangkit dari tepi ranjang Yunho menduduki sofa yang tadinya menjadi tempat duduk Changmin, dan duduk disana dengan satu kaki menompang kaki lainya. Duduk santai, setidaknya ia berusaha terlihat santai mekipun ia gelisah.

Jaejoong menunggu apa yang akan di katakan pria itu. Tidak, ia tidak takut, entah kemana perginya rasa takut dan kehawatiran yang selama ini ia rasakan ketika pria itu berada di dekatnya. Pelukan pria itu, hanya dengan pelukan sederhana dan kecupan singkat mampu membuat perasaan Jaejoong berbeda dalam memandang pemimpin itu.

Jaejoong tidak buta dengan segala perhatian yang Yunho tunjukan untuk dirinya, namun yang ia rasakan terhadap pria itu hanya benci yang perlahan memudar tidak lebih.

"Aku akan membebaskanmu, jika itu yang kau inginkan." tiba tiba Yunho berkata.

.

.

.

Bulu mata lentik Jaejoong mengerjap ngerjap, apa yang pria itu katakan. Benarkah? Yunho akan membebaskan dirinya semudah itu.

"Kau akan membebaskanku?" Jaejoong merutuki bibirnya yang mengajukkan pertanyaan itu kembali. Bagaimana seandainya Yunho berubah pikiran dan menarik kembali kata kata pria itu.

"Ya."

Masih tidak percaya dengan apa yang di dengar oleh kedua telinganya, Jaejoong menatap langsung kedalam mata musang Yunho. Kemudian ia tersesat disana, bola mata itu menatapnya dengan mata teduh yang anehnya membuat Jaejoong tidak nyaman. Tidak, bukan tidak nyaman akan tetapi sesuatu yang Jaejoong sendiri tidak begitu pahami. Kehilangan, kepasrahan.

"Mengapa kau berubah pikiran?"

Karena aku ingin melihatmu bahagia. Akan tetapi bibirnya berucap. "Aku tidak ingin kau tertekan, dan aku lebih tidak ingin melihatmu kembali kedalam kegelapan dan koma" tubuh Yunho merosot di kursi yang didudukinya. "Lebih baik melihatmu bahagia di luar sana, dari pada melihatmu berbaring tak berdaya di atas ranjang." Bohong jika Yunho menginginkan Jaejoong bahagia jauh dari sisinya, ia pernah mencoba dan ia hidup dalam kehampaan selama lima tahun lamanya.

Bangkit dari kursi Yunho berjalan ke sisi ranjang. Berdiri Diam menatap langsung kedalam mata Jaejoong yang begitu tenang. " Kapanpun kau ingin kembali kesini, tidak peduli dengan alasan apapun pintu rumahku selalu terbuka untukmu."

"Tidak akan." Suara Jaejoong terdengar begitu gamang.

Yunho menyerigai. "Perkataanku tadi pagi masih berlaku sampai kapanpun untukmu."

Jaejoong mendongak, kedua alisnya terangkat resah." Perkataan... Apa?"

"Bolehkah aku menyentuhmu, Jae."Tanpa sadar Jaejoong mengangguk.

Tangan Yunho terangkat, jari lentik pria itu menyentuh pangkal hidung wanita itu begitu ringan. "Menikah denganku." Sentuhan itu meninggalkan jejak panas di sepanjang jari pria itu melintas. Jaejoong menutup mata ketika tangan besar Yunho menangkup salah satu sisi wajah. Gerakan memutar ibu jari pria itu mengirim gelenjar hangat merasuk kepembuluh darah Jaejoong. Ia ingin menjauh, harus menjauh dari sentuhan pria itu, Yunho memiliki pengaruh yang tak dapat di tolak.

Jaejoong yakin pasti banyak wanita yang rela membunuh satu sama lain hanya untuk dapat mendapat tawaran yang ditunjukan pria itu untuknya. Tapi ia tidak bisa menerima tawaran tersebut.

Sentuhan pria itu begitu memabukkan seperti anggur mahal yang tidak bisa Jaejoong tolak. Entah sadar atau tidak ia mengusap ngusapkan sisi wajahnya kearah tangan pria itu. Gerakan itu membuat tubuh Yunho membeku.

Ya Tuhan, Yunho tidak bisa untuk mengabaikan wanita yang meringkuk di depan mata layaknya kucing tersesat. Jaejoong membuka mata dan pertahanan Yunho runtuh detik itu juga.

Ia menundukkan tubuh dan menangkup wajah Jaejoong dengan kedua tanganya yang besar, mendaratkan bibirnya di atas bibir wanita itu. Bibir Jaejoong terasa kering di atas bibirnya sendiri. Yunho berdiam diri di sana menunggu,,, menunggu penolakan wanita itu atau pukulan yang di layangkan tangan Jaejoong untuknya.

Nafas Yunho berhembus lembut di atas wajah Jaejoong. Ia terkejut dengan gerakan pria itu yang tiba tiba. Jantungnya berdetak begitu kencang ia ingin mendorong pria itu menjauh sebisa mungkin. Kemudian bibir pria itu terbuka mengoda, membelai dan merajuk meminta ijin untuk mendapatkan akses untuk mendapatkan respon.

Jaejoong tidak memungkiri ia mengagumi sosok Yunho, entah sejak kapan ketakutan akan sosok pria itu yang begitu besar telah terkikis oleh perasaan lain yang ingin ia jauhi. Ia menginginkan ciuman pria itu, bukankah besok mereka tidak akan bertemu lagi.

Menuruti naluri, tangan Jaejoong terangkat menyelusuri kancing kancing kemeja pria itu dan berdiam diri di kerah kemeja Yunho yang terbuka. Bibir Yunho semakin menuntut, jari jari pria itu menekan kedua sisi wajahnya sampai ia membuka suara untuk protes.

Yunho menggunakan kesempatan itu untuk menyelipkan lidahnya di sela sela bibir Jaejoong yang terbuka. Suara geraman teredam di tenggorokan membuat libido Yunho tak terkendali.

Ya Tuhan, ini lebih dari yang pernah Yunho bayangkan. Melebihi sensasi yang hadir dalam mimpi ketika Jaejoong nyata di dahadapanya mengulurkan kedua tangan seakan mengundang Yunho bergabung di atas ranjang. Ini nyata Jaejoong berada dalam dekapanya.

Kedua bibir itu saling menuntut, menyesap menikmati rasa satu sama lain seakan tidak akan ada hari esok untuk mereka. Kenyataan itu menyengat hati Yunho seperti sengatan lebah beracun, lidahnya mencari menjelajah di setiap inci bibir Jaejoong sampai wanita itu kehabisan nafas.

Jaejoong bernafas dengan rakus ketika bibir Yunho melepaskan pagutan bibirnya. Dia menginginkan pria ini, bagaimana bisa. Kesetiaanya benar benar di uji. "Yun, ini tidak benar." mencoba mendorong tubuh pria itu namun gagal. Sampai akhirnya Jaejoong menyerah.

Kedua tangan Yunho telah berpindah menuruni tulang belakang tubuh Jaejoong, mendorong wanita itu agar lebih dekat. Bibirnya turun menjelajah sepanjang rahang leher dan menemukan detak nadi wanita itu. Jaejoong menggerang ketika gigi pria itu bekerja menandai tubuhnya. Entah berapa lama mereka berciuman dan semakin lama detik berlalu hawa panas semakin menyelimuti kamar besar tersebut.

Bibir Yunho menyusuri kerah baju Jaejoong dan berakhir di atas payudara Jaejoong yang tersibak. Lidah Yunho bermain main disana, membujuk menggelitik.

Sengatan nikmat yang tak tertahankan membuat tubuh Jaejoong menggeliat resah. Oh Tuhan, Jaejoong belum pernah merasakan ini sebelumnya. Gairah yang begitu besar, tidak bahkan dengan Seunghyun sekalipun.

Ketika lidah Yunho menemukan puting Jaejoong yang mengeras di balik baju pria itu bermain dengan giginya. "Oh, Yun ...tidak."

Ya Tuhan, ia harus menghentikan ini sebelum terlambat.

Dengan segenap kesadaran yang tersisa dari akal sehat Yunho, pria itu berhenti. Yunho membenamkan kepalanya di antara payudara Jaejoong dengan tidak rela, ia dapat merasakan betapa lembut payudara wanita itu di balik kain tipis penghalang yang dikenakan Jaejoong . Yunho ingin merobek benda tipis penghalang itu dan menikmati payudara Jaejoong dengan mulutnya, memabawa wanita itu dalam kenikmatan panjang yang tak terkira.

Ini salah, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Jaejoong akan sangat murka ketika wanita itu sadar di kemudian hari dan akan kembali membencinya melebihi kebencian wanita itu sebelumnya.

Setelah beberapa menit berlalu dalam kesunyian, Yunho mengangkat wajah untuk melihat wajah wanita itu. Jaejoong merona, Ya Tuhan, wanita itu terlihat begitu cantik, hilang sudah wajah pucat Jaejoong di ganti rona merah yang membuat hati Yunho bersorak senang. "Anggap ini ucapan perpisahan kita, merpati." ucapnya dengan suara serak dan dalam.

Jaejoong bergerak gerak gelisah di bawah tubuh Yunho, demi Tuhan, sejak kapan Yunho sudah berbaring melingkupi Jaejoong di atas ranjang, bersamanya. "Bisakah kau minggir."

Gerakan pria itu seperti lompatan kelinci, begitu gesit, Yunho tidak sadar ia telah membebani wanita itu dengan tubuhnya yang besar. "Aku tidak akan minta maaf," Yunho merebahkan tubuhnya di sisi kiri Jaejoong. Ia masih bisa merasakan kehangatan jejak jejak tubuh mereka yang berhimpitan beberapa waktu lalu.

Jarinya membelai bukti gairah Yunho yang begitu besar di pangkal lehet Jaejoong dan tersenyum memperhatikan bibir wanita itu membengkak akibat ciuman mereka yang panjang. Tubuh Jaejoong beringsut menjauh, Yunho menahan pinggang wanita itu agar tetap disana. "Menikahlah denganku,"

Pertanyaan yang sama dan Jaejoong mengataka. jawaban yang sama. "Tidak. Aku tidak bisa menikah denganmu."

"Mengapa?"

Mengapa? Apakah ia harus menjawab mengapa. "Aku hanya akan menikah sekali, dan aku tidak akan menghianati pernikahanku dengan Seunghyun Oppa."

Tenang, ia harus tenang. Kau tidak boleh membuat Jaejoong takut setelah apa yang terjadi di antara mereka beberapa menit lalu. "Kau menginginkanku, kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri Jae, tidak juga diriku"

"Aku tidak akan mengingkarinya, sudah sangat lama sejak seorang pria menciumku seperti apa yang kau lakukan kepadaku beberapa menit lalu." Jaejoong harap pernyataannya terdengar menyakinkan. "Aku juga akan melakukan hal yang sama jika pria lain yang menciumku."

Membayangkan Jaejoong berciuman dengan pria lain membuat amarah Yunho kembali tersulut. Yunho bertunpu pada lenganya. "Sialan kau, aku tidak akan membiarkan ada pria lain yang menciummu, atau menyentuhmu dimanapun dari bagian tubuhmu." Mata Yunho menatap Jaejoong dengan api yang membara. "Jika hal itu terjadi aku akan membunuh siapapun yang berani menciummu, ingat itu Kim Jaejoong."

Pria itu bangkit menatap tajam kearah Jaejoong kemudian tatapan itu berubah meredup. Brengsek, Jaejoong berbaring disana dengan rambut berantakan seakan menunggu untuk bercinta dengan Yunho. Pakaian kusut dan terbuka memperlihatkan sebagian payudara wanita itu.

Dengan susah payah Yunho berkata namun suara itu begitu tidak meyakinkan ketika keluar dari mulutnya. "Seorang keturunan Jung tidak pernah ragu untuk membunuh seseorang, yakinlah dengan kata kata yang ku ucapkan barusan." kemudian Yunho beranjak menjauh.

Pria itu pergi membanting pintu di belakangnya meninggalkan Jaejoong dengan perasaan yang campur aduk. Bagaimana bisa ia merasa sedikit kehilangan ketika pria itu mengakhiri ciuman ciuman yang memabukkan setelah berhasil membuat Jaejoong kehilangan akal dan membalas apa yang di lakukan pria itu. Demi Tuhan, bahkan Jaejoong mendamba ciuman pria itu lagi.

"Oh, Seunghyun oppa, maafkan aku."

.

.

.

Hari menjelang siang ketika Changmin datang menjemput Jaejoong. Tadi malam Yunho sudah menjelaskan keinginan Jaejoong, wanita itu ingin kebebasan jauh dari Jung Yunho. Changmin yang pada saat itu sedang menikmati anggur di ruang baca bersama Yoochun hanya bisa berkata 'Baiklah' meskipun ia sendiri masih meragukan hal tersebut.

Untuk terakhir kalinya Jaejoong menengok kebelakang, memperhatikan setia sudut mansion besar yang selama dua minggu ini menjadi rumah untuk dirinya.

Yunho tidak berbohong ketika mengatakan akan membebaskan Jaejoong tanpa syarat apapun. Pria itu juga sudah tidak tertarik untuk membeli pulau miliknya atau lainya.

Seharusnya ia merasa bahagia, Bukan? Pria itu sudah tidak akan mengganggu mengapa ada sesikit bongkahan ketidak relaan menghambat di dada. Jaejoong mengharapkan kebebasan untuk dirinya, begitu juga kebebasan untuk putrinya,Hyuna. Sekarang ia telah mendapatkan kebebasan tersebut dan ia harus bahagia.

Changmin menaruh koper ke dalam bagasi mobil, Hyuna sudah duduk manis di pangkuan Jaejoong dan mengoceh senang karena ia akan bertemu dengan kakeknya.

"Mommy, pasti senang tinggal dirumah Grandad. Disana ada kamar Hyuna juga banyak sekali boneka."

Jaejoong tersenyum kepada putrinya. Jemarinya menata poni gadis kecil itu meskipun tidak berantakan. "Tapi kita akan tinggal di rumah Harabeoji Kim, rumah itu memang tidak sebesar rumah Grandad Choi tetapi disanalah Mommy tumbuh besar juga paman Changmin sebelum Mommy pergi ke prancis dan menikah."

Pintu mobil sisi lain tertutup begitu keras. Changmin sudah berada di balik kemudi dengan dirinya di sisi kanan pemuda itu. "Kau sudah menyuruh pelayan untuk membersihkan rumah itu, bukan?"

Changmin tersenyum kearah Hyuna. Kemudian mencubit gemas pipi gadis itu. "Tentu saja, jauh hari sebelum kita meninginjakkan kaki di Korea, karena aku tahu Kau tidak akan mau merepotkan dengan tinggal di rumah Paman Sangwoo."

Jaejoong hanya tersenyum lemah. Matanya kembali melirik keluar kaca mobil dimana Siwon dan Yoochun masih berdiri disana.

Mobil melaju perlahan. Jaejoong menutup mata, inilah kehidupan yang ia harapkan bebas dari belenggu siapapun. Mungkin, ia akan merindukan pria itu. Pria yang dengan lancang merebut segala apa yang ia punya. Seharusnya dirinya masih membenci Yunho, bukan malah berpikir akan merindukan bajingan tampan yang saat ini mulai menumbuhkan kerinduan di dadanya.

Demi Tuhan, bahkan mobil mereka belum meninggalkan pintu gerbang Mansion Jung, namun ia telah merindukan pria itu. Jung Yunho.

Setelah kejadian tadi malam yang berakhir dirinya ditinggal seorang diri di dalam kamar yang tiba tiba berubah dingin. Yunho tidak menemuinya, bahkan pria itu tidak hadir ketika sarapan. Yoochun mengatakan Yunho telah keluar pagi pagi sekali.

Pria itu bahkan tidak ingin melihat wajahnya untuk terakhir kali. Apakah permintaan Yunho untuk menikah denganya masih berlaku.

Astaga, Jaejongie apa yang merasuki otakmu sampai kau berpikir untuk menikah dengan bajingan tampan pemimpin mafia kejam itu.

Pintu gerbang telah di lewati mereka beberapa detik lalu. Ya. Inilah pilihan hidupnya, bahagia hanya dengan putri tercinta juga adiknya. Kebebasan telah menyambutmu Kim Jaejoong.

~TBC~

Terimakasih untuk RCL dan masukanya. Termasuk yang sudah ngasih tahu typo dan kesalahan Author ini. masih perlu banyak belajar. dan kayaknya bahasa indonesiaku makin parah. T,T hiks.

Perlu belajar lagi dah. Lupaaaaaa. kamus mana kamus. Jujur aku sering lupa murit atau murid T,T Antara T dan D juga banyak kata yg indonesia sama ingris di gabungin. padahl ingrisku sama buruknya.

Aduuuuh anak emak jangan sampai bahasa sendiri di lupakan.

Maaf sebelumnya buat kalian gak nyaman dengan typo. No edit dri Wattpat pindah kesini *Alesan.

Dan semoga kedepanya typo semakin berkurang untuk memperbaiki karya Author sendiri. Kamsahamnida untuk vote kalian.

PENGUMUMAN kami para Author kece(?) membawa Yunjae kedalam negeri dongeng. Dan di rangkum dalam sebuah buku oleh sepuluh Author kece lainya.

Judul : Yunjae Fairy Tales (Hard Cover)

Author : Nara Yuuki, Jaeho Love, Gothic Lolita, Misscelyunjae, Sherry Kim, My Beauty Jeje, Snow Queen BabyBoo, Yoori Michiyo, KimRyan 2124, dan Puan Hujan.

Harga : 109.000

Bonus : Tas lucu, Pin/ Ganci

Halaman : -/+ 450

Sinopsis : Menyusul

Paket souvenir : 135000 -edisi terbatas-

Harga belum termasuk ongkir.

minat hubungi Author.

Fb : Sherry kim

Line :Ziyakim

Batas PO 10 November

Membeli buku sudah termasuk donasi berbagi sebesar 5000 untuk mereka yang kurang mampu dan sekolah yang membutuhkan.