Haloha~ Saya kembali~ hohoho #plak
Ohiya, makasih buat Jerza Loverz yang masih setia baca fic saya ^^ ini lanjutannya :)
Yang lain saya balas lewat pm yaa ^^
Maaf kalau chapter kali ini pendek, happy reading
DON'T LIKE, DON'T READ
ERZA'S TALE
Disclamer : Hiro Mashima
Pairing : ErzaJellal dan lain-lain
Warning : Gaje, OOC (Kayaknya), typo (banyak), dan banyak keanehan lainnya
Story by : Bii Akari (Bii-chan)
.
.
"Iya, aku memang mengkhawatirkanmu, aku juga merasa bersalah padamu, dan ya, aku mungkin memang menyukaimu, lalu kenapa?" dia membentakku dengan wajah merah padam, entah marah atau malu, baru kali ini aku melihatnya begini.
Khawatir?
Bersalah?
Suka?
Tiga kata yang membuatku benar-benar shock.
BOOOOOOOOOOOOOMMM
.
.
ERZA'S POV
Kenapa harus sekarang?
Astaga, Jellal.
Fuh, untung aku masih sempat memindahkannya.
Dalam hitungan detik, seorang pria berbalut kain hitam tiba-tiba muncul di hadapanku. Wajahnya yang tertutupi oleh kerudung hitam dengan simbol berwarna merah membuatku yakin bahwa dia memang adalah pelayan kerajaan.
Tapi, kenapa dia mengutus orang ini ke sini, ada apa?
Tanpa diperintah oleh siapapun, pria itu berlutut di hadapanku, "Maaf mengganggu, Hime."
"Hn, ada apa?"
Dia mengangkat kembali kepalanya lalu mengeluarkan sebuah kotak dari jubahnya secara perlahan, "Kami-sama punya pesan untuk anda."
Pesan? Dari dia? Apa?
Aku berjalan mendekatinya dan segera menarik kotak hitam itu dari tangannya. Meski ragu, akhirnya aku pun memutuskan untuk membukanya, setelah pelayan itu pergi tentunya.
Kenapa harus dengan kotak penghubung? Kenapa repot-repot seperti itu? Biasanya dia hanya menggunakan telepati atau menyuru salah satu dari pelayannya untuk menyampaikan pesannya padaku, apa yang berbeda kali ini?
Oke, lebih baik segera kubuka.
Kotak penghubung pun terbuka, dan tak butuh waktu lama bagiku untuk dapat melihat wajah bodohnya itu.
"Hahaha~ putriku yang cantik bagaimana kabarmu?" pria bodoh itu tampak jahat seperti biasanya.
"Seperti biasa Tou-san."
Baiklah, aku harus bersikap dingin seperti biasa juga.
"Bagus, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, kembalilah segera," ujarnya pelan. Ekspresinya berubah menjadi serius, tak biasanya dia begini.
"Hn," aku hanya mengangguk lemah, lebih baik langsung kutanyakan saja nanti.
Aku pun menutup kotak kecil itu, namun hal penting apa yang membuat dia memintaku pulang ke sana dengan segera?
Apa yang ingin dia bicarakan?
Ada apa sebenarnya?
Oke, aku akan tahu semua itu sebentar lagi, sebab tak butuh waktu lama bagiku untuk ke sana. Tapi, sebelum ke sana, setidaknya aku harus membereskan yang disini dulu, fuuh.
.
.
JELLAL'S POV
"Kau sudah sadar?"
Suara itu, aku mencari kesekeliling. Dan akhirnya kutemukan, gadis berambut scarlet yang sedang duduk di depan laptop. Entah sedang apa, dia hanya melirik sekilas kearahku.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling lagi dan memberanikan diri untuk bertanya, "Ini di mana?"
"Di tempatku," jawabnya datar, sambil menutup laptop VAIO putihnya dan memfokuskan pandangannya ke arahku.
"Istirahatlah lagi, kau pasti lelah."
Sesaat kemudian, dia bangkit lalu mendekat kearahku.
DEG
Tenanglah, Jellal.
Tunggu, ini seperti de javu. Aku sepertinya pernah mengalami hal ini sebelumnya, ataukah hanya perasaanku saja? Kalau tidak salah, setelah ini dia akan mengusap dahiku dan bilang syukurlah.
DEG
Salah.
Dia melemparkan selembar kain, bukan, itu jas. Jasku yang sebelumnya aku pakai untuk menutupi tubuhnya, "Kalau kau sudah bisa berjalan, segeralah kembali," gadis itu kembali menatapku dengan dingin, entah apa yang dipikirkannya tentangku.
Jadi, tadi hanya mimpi? Hn, pasti hanya mimpi saja. Aku cukup, kecewa.
"Ternyata kau memang tidak bisa khawatir padaku," desahku pelan, sangat pelan. Tapi, tak luput dari pendengarannya.
"Kau bilang sesuatu?" wajahnya berubah, menjadi lebih dingin lagi.
Sudahlah, kenapa aku menjadi konyol seperti ini. Itu hanya mimpi Jellal. Dan ini kenyataannya, kembalilah ke dunia nyata dan berhenti berpikir tentang mimpi konyol itu.
"Kenapa tadi aku pinsan?" tanyaku segera sebelum tatapan dingin itu membekukanku.
Aku juga berusaha menghindari kontak mata dengannya, aku tidak bisa ditatap seperti itu, rasanya janggal. Dan yang lebih penting lagi, aku tidak ingin cari masalah dengannya, setidaknya tidak saat aku diselamatkan olehnya.
"Kau kehabisan tenaga saat melawan pria itu," dia menunjuk seorang pria yang sedang terbaring di pojok ruangan. Pria itu tampak tak berdaya, kedua tangannya diikat ke belakang, kepalanya tertunduk lemah, dan tubuhnya terlihat kaku.
Pria itu,
Ah, pria itu adalah pria yang mencoba membunuh Erza, namun berhasil aku taklukkan. Dan, aku rasa dia belum mati, meskipun saat itu aku memukulnya habis-habisan. Tapi, dia adalah klan atas juga, dan aku pikir dia pasti tidak akan mati dengan mudah, seperti Erza dulu.
Tunggu, apa mungkin? Tidak. Itu pasti hanya khayalanku. Dia tidak mungkin berkata 'Aku menyukaimu' tadi. Tidak mungkin, kan?
"Bukan karena kau menyerap kekuatanku?"
Oke, harus kuakui, aku memang masih sulit percaya bahwa kejadian tadi hanya mimpi.
"Apa aku begitu lemah hingga mau menyerap kekuatan makhluk rendahan sepertimu?" ucapan itu keluar begitu saja dari bibirnya, dan tak ada keraguan sedikitpun dalam ucapannya tadi.
Aku menatapnya aneh, bingung dengannya. Tidak seharusnya dia berkata sekasar itu padaku kan? Bagaimana pun, aku tak pernah menyakitinya, memangnya aku salah apa? Aku menatapnya agak lama, berharap bisa melihat apa yang ada di pikirannya itu. Tapi, bodoh, percuma saja. Tak ada yang dapat kubaca dari wajah pokernya itu.
"Gomen," ucapku pasrah, tak ada yang bisa aku mengerti dari dia.
Dia menoleh kearahku, melihatku sejenak dengan tatapan kosongnya, namun tak berniat berkomentar sedikitpun.
"Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu, tapi, aku hanya ingin, aku-" aku segera memakai kembali jasku yang masih berlumuran darah, lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Mungkin aku memang tidak pantas," ucapku pelan, sambil tersenyum pahit, tepat kearahnya.
Dan, masih sama. Tak ada sedikit ekspresi terkejut yang terukir di wajahnya, seolah dia sudah bisa menebak aksiku saat ini.
"Bodoh," gumamku kesal saat melangkah menjauhinya, sangat kecil, aku hanya ingin menyadarkan diriku sendiri yang begitu bodoh, aku benar-benar bodoh.
Dia terdiam, tak bergeming dari tempatnya, bahkan tak mengucapkan sepatah katapun saat aku pergi, ah, memangnya apa yang kuharap?
Erza.
.
.
ERZA'S POV
Maaf Jellal, inilah yang harus aku lakukan, demi menjauhkanmu dari masalah.
"Kenapa aku tadi pinsan?"
Pertanyaan yang sama seperti tadi, apa kau mengingatnya? Itu hanya mimpi Jellal, lupakan saja.
"Kau kehabisan tenaga saat melawan pria itu."
Itu kebohongan yang cukup bagus, kan? Jadi jangan mengingat terlalu jauh lagi Jellal.
"Bukan karena kau menyerap kekuatanku?"
Lupakan, cukup sampai di sini Jellal.
"Apa aku begitu lemah hingga mau menyerap kekuatan makhluk rendahan sepertimu?" ucapku, sedingin mungkin.
Aku tahu, kau tak akan bisa bersabar menghadapiku kali ini, dan aku tahu, hatimu pasti terasa sakit mendengarnya, kan? Karena itu, lupakan kejadian tadi. Itu akan membuatnya menjadi lebih mudah, cukup lupakan saja. Jellal menatapku, mencari tahu arti dari ucapanku tadi, berusaha melihat kesungguhan dan keseriusan di dalam mataku. Ini kesempatanku, kutatap matanya dengan dingin dan keji, seolah ucapanku tadi memang benar-benar serius, akhirnya dia pun menunduk.
"Gomen,"
Kenapa dia minta maaf? Bukankah aku yang telah berkata kasar padanya?
Aku melihatnya, masih dengan tatapan kosongku.
"Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu, tapi, aku hanya ingin, aku-" dia berdiri menghampiriku, nampak jelas kekesalan dari raut wajahnya. Ini sudah batasnya.
"Mungkin aku memang tidak pantas."
Dia tersenyum, rasanya sakit melihatnya tersenyum seperti itu.
Senyum pahit yang penuh dengan emosi, sungguh tidak enak dipandang, apalagi, jika senyum itu ditujukan padaku.
"Bodoh," dia melangkah pergi meninggalkanku, masih dengan wajah yang berantakan seperti itu.
Aku tahu, dia berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tapi kau salah Jellal, kau tak bodoh, akulah yang pembohong. Maaf, aku tidak bisa menahanmu pergi, karena memang itulah yang aku mau.
Pintu tertutup, aku masih tak bergeming, entah mengapa, kakiku terasa kaku untuk bergerak, bahkan sekujur tubuhku tak merespon apa yang ingin kulakukan.
Lama.
Semakin lama, dadaku semakin sesak, dan sakit. Ini aneh, aku merasa sakit, tapi tak ada luka sedikit pun. Aku tak suka perasaan seperti ini, rasa yang lebih menyakitkan daripada luka luar.
Tapi, kenapa?
Mataku terasa panas, padahal sebelumnya aku baik-baik saja. Dadaku, bukan, hatiku, aku rasa hatikulah yang sakit. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini,
Air mata?
Aku dapat menangis? Bagaimana mungkin? Ini air mata pertamaku, entah aku harus senang atau sedih sekarang? Tapi, apa ini artinya perasaanku sudah kembali? Kapan? Dan, bagaimana? Aku tak menyadarinya.
Apa karena aku menyerap energi kehidupan Jellal tadi?
Itu memang pertama kalinya aku menyembuhkan diri dengan cara begitu, tapi, apa mungkin karena itu aku bisa mendapatkan perasaanku kembali?
Jellal.
Air mata terus mengalir dari pelupuk mataku, aku sendiri tak mengerti mengapa aku menangis.
Aku hanya ingin menangis, hanya itu.
Tanpa suara, itulah tangisan yang paling menyedihkan. Bahkan, tembok pun tak boleh tahu aku sedang menangis.
Setelah merasa cukup puas, aku segera menuju ke kerajaan, mencari tahu hal kejam macam apa lagi yang raja jahat itu rencanakan.
.
.
NORMAL POV
"Lapor Kami-sama, Hime sudah datang," ucap seorang pelayan sambil membungkuk di hadapan seorang pria yang sedang sibuk berbincang dengan seorang pria lain.
"Suruh dia masuh," perintah pria berambut hitam pekat itu dengan mata yang licik.
Pelayan itu pun kembali bangkit, lalu beranjak meninggalkan ruangan yang megah itu sendirian. Dan tak lama kemudian, pintu kayu yang kokoh itu kembali terbuka, menampilkan seorang gadis cantik berambut scarlet yang tengah berjalan melewati pintu itu.
"Aku pulang Tou-san, apa kabar?" gadis itu membungkuk sejenak lalu kembali berdiri, dia menatap ayahnya dengan tajam.
"Baik, jangan menatap ayahmu seperti itu. Aku tahu kau tak suka diganggu saat sedang melakukan sesuatu, tapi ada hal penting yang harus kita bicarakan," ucap pria tua itu dengan tegas, membuat pria di sampingnya tersenyum kecil.
"Jadi ini yang namanya Erza? Dia benar-benar cantik, pasti pangeran akan menyukainya," ucap pria yang duduk di samping raja itu.
"Tou-san?" Erza melirik sekilas kearah pria tadi, lalu memandang ayahnya dengan aneh.
Sebenarnya, tanpa dijelaskan pun Erza sudah mengerti maksudnya. Tapi, pria itu, raja dari klan bawah, dia tak percaya bahwa dia dijodohkan dengan, klan bawah?
'Dunia pasti sudah mau kiamat', pikir Erza.
"Dengar Erza, kau sudah cukup matang untuk menikah, karena itu ayah sudah menyiapkan calon mempelaimu. Dia adalah pangeran dari klan bawah, ini semua ayah lakukan agar hubungan kita dengan klan bawah berjalan baik, kau mau kan membantu kerajaan kita?"
Erza tak menjawab, tatapannya seolah telah menjelaskan semuanya.
"Perjodohanmu sudah diatur sejak lama, kau tak bisa menolak," raja klan atas menegaskannya sekali lagi, membuat tatapan dingin Erza semakin menjadi-jadi.
"Aku tidak akan menolak, tapi aku punya syarat," ujar Erza. Gadis itu berhasil menyembunyikan perasaannya dengan sempurna, dia mengucapkan kalimat itu dengan tenang dan santai, membuat lawan bicaranya tersenyum puas.
"Apa?" tanya raja klan bawah, yang tampak begitu antusias.
"Pernikahannya harus ditunda hingga aku menyelesaikan misi yang Tou-san berikan padaku," jawab Erza, dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri.
"Maksudmu misi mengumpulkan klan atas? Tentu saja sayang, kau boleh menikah setelah misi itu selesai," raja klan atas tampak begitu puas dengan keputusan putrinya.
"Baiklah, jika hanya itu yang ingin Tou-san bicarakan, aku pamit kembali," ucap Erza masih dengan ketenangannya, dan bersiap untuk berbalik.
"Tunggu, pangeran ada di taman, temuilah dia sebentar, lalu kau boleh kembali ke bumi," sergah raja klan atas sebelum Erza melangkah lebih jauh lagi.
Gadis itu pun menghela napas berat lalu berjalan kearah taman.
"Rambut ini, kau pasti Erza," ucap seorang pria berambut azure, sambil menggenggam lembut rambut Erza dari belakang.
Erza berbalik, matanya terbelalak, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu.
"K-kau?"
'Tidak mungkin,' itulah yang terpikirkan olehnya saat ini.
Gomen. Terjadi ke-OOC-an disini, banyak juga rupanya *nunduk-nunduk* Maafkan author yang nggak bisa menahan diri ini yaa. Yang mau maafin saya tolong RIVIEW. Tapi, yang nggak mau juga nggak papa, yang penting ikutan REVIEW juga *loh* Hiks. Bantulah saya para readers yang terhormat *Nyembah readers*
RIVIEEEEW yaaaaaaaa ^^
Kemana Jellal pergi? Apa dia akan bunuh diri karena sakit hati oleh Erza?
Apa merek shampoo Erza? (Maaf, chapter depan baru terungkap)
Siapa pangeran yang dijodohkan dengan Erza itu?
Mengapa dia membuat Erza terkejut?
Tunggu kelanjutannya di chapter selanjutnya yaaaaaaaa ^^
Arigatou :)
