YOU PLAY ME, BUT I WAS IN LOVE WITH YOU
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
Genre : romance & friendship
Rated : T
Warning : OOC, Tdk ssuai EYD, ide pasaran DLL
Holaaa minna-san wid kembali lagi dengan kelanjutan fic ini, dengan keringat yang bercucuran akhirnya jadilah hasil ini.
sebelumnya wid mau minta maaf klo ada yg berpendapat permainan basket di fic ini Norak, sebenernya wid gak begitu ngerti dengan peraturan basket itu juga boleh nanya ke temen, permainan dengan menggunakan bola yang paling wid ngerti yah bola bekel, masa wid harus bkin Naruhina tanding bola bekel, kan lucu jadinya ntar,,, hehehe
gomenne, harap maklum ya minna-san...
happy reading
...
...
...
Pagi ini sebenarnya Naruto benar-benar malas dan tidak berminat untuk pergi kesekolah, tapi kalau ia membolos bisa-bisa dihujani kecoa oleh Ibunya dan dihujani air mata oleh ayahnya, meski langkah terasa berat dan jiwa terasa melayang entah kemana, ia harus tetap sekolah hari ini. Apapun situasinya nanti ia harus mempersiapkan mental sebaik mungkin, kalau tidak, bisa-bisa ia hilang kewarasan. Ini semua harus ia tanggung karna Hyuuga Hinata, yah si pendek itu yang sudah menyebabkan pagi ini menjadi pagi yang tersulit baginya.
Naruto mengendarai dengan pelan motor sport merahnya, ia berhenti sesaat ketika sampai di dua cabang jalan yang ada didepannya, jalan kekiri maka ia akan sampai disekolah kalau jalan ke kanan maka ia sampai di pertokoan juga game station,
Naruto mengalami kegalauan batin, haruskan ia ambil jalan kiri dimana sekolah berada, atau jalan kanan dimana game station berada?
Dibelakang Naruto ada Gaara yang juga mengendarai motor sport hitamnya, Gaara menghentikan laju motornya disamping motor Naruto, Gaara melihat Naruto yang hanya diam sambil melihat kedepan. dan sepertinya Naruto sama sekali tidak menyadari kehadiran Gaara disampingnya "hoiii Naruto, apa yang kau lakukan?"
Naruto tersentak dari lamunannya tatkala mendengar suara seseorang hampir berteriak disampingnya, ia menoleh dan mendapati Gaara yang sudah membuka helm dikepalanya,
"etto,,, aku sedang memberi jalan bagi semut untuk lewat" ucap Naruto sambil melepas helm dikepalanya
Gaara melihat kearah depan juga samping kanan dan kiri "aku tidak melihat ada semut" ucapnya
"tentu saja sudah lewat bodoh" Naruto salah tingkah juga menyadari ucapan konyol yang ia lontarkan sebelumnya
Gaara menyeringai melihat Naruto yang salah tingkah "kalau kau memang laki-laki maka kau harus menghadapinya Naruto" Gaara memakai kembali helmnya dan melajukan motornya ke arah kiri meninggalkan Naruto yang masih menatapnya dengan mulut mengaga
"cih, sudahlah" Naruto pun kembali memakai helmnya dan melajukan motornya mengikuti arah Gaara kesekolah
Naruto pun sampai disekolah, ia segera memarkirkan motornya,
Seperti biasa Naruto selalu menjadi pusat perhatian saat tiba disekolah, tapi kali ini perhatian yang mereka tunjukan agak berbeda, tidak biasanya gadis yang biasanya berteriak-teriak kini hanya bisik-bisik sambil memandangnya, ada juga yang menatapnya aneh, bahkan ada beberapa siswi yang menjauh dan merapatkan tubuhnya ke dinding saat Naruto melewatinya. Sedangkan para siswa memandangnya sambil terkekeh. Tapi masih ada juga para siswi yang memandangnya penuh binar sambil malu-malu Dan entah mengapa hari ini banyak siswi yang mengepang rambutnya seperti Hinata sambil bergumam "kyaa senpai, aku mengepang rambutku, aku rela kau bawa, kyaaa"
"hahhh" Naruto menghela nafas lelah,
Naruto melirik kedalam kelas Hinata saat melewatinya, Hinata melihat keluar kelas dan mendapati Naruto yang menatapnya, Hinata mengukir senyum manis ke arah Naruto dan Naruto pun balas tersenyum kepada Hinata "yah setidaknya, dia masih mau tersenyum kepadaku" gumam Naruto sambil melanjutkan perjalanannya menuju kelas "tapi ini juga kan gara-gara dia"
Naruto menghentikan langkahnya dan berdiri tepat didepan pintu kelasnya yang tertutup, suara ribut yang terdengar dari dalam menandakan bahwa sudah banyak penghuni kelas didalamnya.
'sreekk' Naruto menggeser pintu kelasnya, sontak semua yang ada didalam kelas mengalihkan pandangannya pada Naruto
Suasana kelas menjadi Hening seketika, dan
"hahahahahahhahaha" seisi kelas tertawa bersamaan melihat kedatangan Naruto,
Kiba dan Sasuke mendekati Naruto, Kiba merangkul pundak Naruto "haha Naruto bagaimana kabarmu? Roh jahatnya sudah hilangkan haha?"
Sasuke menyeringai ke arah Naruto "Dobe, aku membawa banyak bawang putih kau bisa menggunakannya" ucap Sasuke sambil terkekeh
"ck, sialan kaliaaaaaann"
'Hilang sudah image keren dari diriku' Naruto membatin (T-T)
Semua ini terjadi karna kejadian kemarin,,,
...
Flashback
Naruto dan Hinata berbaring bersebelahan di atas atap sekolah, mereka berdua saling merentangkan tangan menikmati angin sejuk yang mengudara disekitar mereka. Naruto menengok ke arah samping kanannya ia melihat Hinata yang memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya 'manis' batinnya
Hinata membuka matanya dan menengok kesamping, Hinata agak terkejut mendapati Naruto yang tengah memandanginya, Naruto yang melihat tatapan mata Hinata langsung mengalihkan wajahnya melihat langit juga awan diatasnya. "Nee, senpai kemeja putihku jadi berwarna merah, bagaimana ini?" ucap Hinata yang masih memandang Naruto
"oh, kau benar juga, apa kau bawa baju olahraga?" Hinata mengangguk menanggapi pertanyaan Naruto
"sebaiknya kau ganti dengan seragam olahraga saja, aku juga akan ganti seragam olahraga" Naruto bangkit dari tidurnya, ia berdiri sambil merenggangkan pundaknya yang terasa pegal, Hinata juga mengikuti Naruto bangkit dari tidurnya
"sebaiknya kita segera kembali, waktu istirahat akan segera berakhir"ucap Naruto sambil beranjak meninggalkan atap sekolah,
Langkahnya terhenti merasakan tarikan pada lengan bajunya, Naruto membalikkan badan ia melihat Hinata yang memegang kemeja lengan kanannya "a anoo" Hinata menunduk sambil memainkan jarinya didepan dada. Naruto menaikkan sebelah alisnya heran melihat tingkah lucu Hinata "ada apa?"
"etto, tadi senpai menggendongku secara paksa kesini, dan tadi banyak yang memperhatikan kita, a-aku tidak mau ada salah paham, jadii..." Hinata menghentikan sejenak ucapannya
Naruto semakin heran dibuatnya "jadi...?"
" senpai harus menjelaskannya!"
Naruto mengerti apa yang dimaksud Hinata. Benar juga tadi dia membawa Hinata seenaknya, apa yang harus dia jelaskan pada semua orang? Naruto jadi bingung ia menggaruk belakang kepalanya "apa yang harus aku jelaskan?"
Hinata mendongkak menatap wajah Naruto, "ini rencana yang sudah aku fikirkan dari tadi senpai, dan ini adalah keinginanku jadi senpai harus menurutinya" Naruto mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan Hinata
"jadi begini senpai, kau harus mengatakan pada semua orang, kalau...etto... tadi senpai kerasukan roh jahat, dan... senpai menculikku karna aku satu-satunya siswi yang mengepangkan rambutku, nah kalau begitu semua orang tidak akan berfikir kita memiliki hubungan yang spesial kan? " ucap Hinata sambil tersenyum kepada Naruto
"apaaaaa? Alasan bodoh macam apa itu? Kerasukan roh jahat? Yang benar saja Hinata, mana ada yang percaya" Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya,
Hinata mengerucutkan bibirnya kesal "pokoknya senpai harus melakukannya, ini perintah!"
'yang benar saja' Naruto membatin
Mau tidak mau Naruto harus melakukan rencana Hinata, Naruto tidak perlu mendatangi siswa atau siswi yang penasaran dengan hubungannya dengan Hinata, buktinya saat ia menuju kelasnya banyak siswa dan siswi dari berbagai kelas yang bergerumbul mendatanginya, dengan kikuk Naruto mengatakan bahwa ia kerasukan roh jahat sampai harus menculik Hinata,
Semua orang melongo dengan mulut menganga, mendengar alasan konyol dari Naruto, Naruto pikir tidak akan ada yang percaya dengannya tapi dugaannya salah,
Sebagian murid sangat percaya kepadanya, sebagian lagi memaksa untuk percaya karna takut dengan kenyataan bahwa Naruto yang mereka kagumi benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Hinata, dan sebagian lagi yang memiliki otak cerdas jelas tidak mempercayai alasan konyolnya itu, termasuk Gaara, Sasuke, dan Shikamaru yang malah tertawa mendengar alasan konyol Naruto.
mana mungkin mereka percaya, dan Kiba ia malah menitikan air mata sambil memanjatkan do'a agar Naruto terhindar dari Roh jahat lagi. dan Kiba termasuk orang bodoh yang mempercayai alasan Naruto, tentu saja sampai Kiba di beri pencerahan oleh Shikamaru, Gaara dan Sasuke, setelah itu Kiba tertawa paling keras.
Dan Naruto hanya menangisi Nasibnya dalam Hati...
Flashback end
...
Naruto mendudukan dirinya di bangku tempat duduknya, Sakura tersenyum kepada Naruto "tenanglah Naruto-kun, nanti juga mereka melupakan kejadian itu" ucap Sakura menyemangati
"arigatou Sakura-chan, hanya kau yang paling mengerti diriku" Naruto mendramatisir ia memegang kedua tangan Sakura
Sakura merona, mendapat perlakuan itu "eh, gomen" Naruto melepas tangannya dari Sakura
Handphone Naruto bergetar, ia tersenyum saat membaca pesan dari Hinata
Name : Hinata
Email : Senpai, istirahat nanti temani aku diperpustakaan
Sesuai permintaan Hinata, saat istirahat Naruto pergi ke perpustakaan untuk menemui Hinata, Naruto menoleh ke kiri dan ke kanan, ia tidak mendapati Hinata dimana pun
"pssstt senpai, disini" ucap Hinata dengan setengah badan yang disembunyikan diantara rak buku
Hinata menuntun Naruto menuju rak buku paling pojok, ada mitos yang mengatakan kalau dibagian pojok perpustakaan ada arwah penasaran, jadi para murid jarang mencari buku sampai pojokan, dan ini adalah tempat yang pas bagi Hinata,
"kenapa kita kesini?" Naruto yang bingung menggaruk kepala belakangnya
"jarang ada murid yang kesini, jadi disini aman, tidak akan ada yang memergoki atau mengganggu kita" ucap Hinata sambil menyeringai ke arah Naruto
Mendengar penuturan Hinata, sinyal mesum Naruto menyala, efek karena terlalu sering bergaul dengan Kiba yang sangat mesum 'aman? Aman untuk apa? Apa dia mau memperkosaku disini? Oh kami-sama kalau dia memintaku melakukan 'itu' mungkin aku tidak bisa menolak, tapi ini pengalaman pertamaku...' batin Naruto
" senpai?" Hinata melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Naruto, membuat Naruto tersadar dari lamunannya
"eh, i iya, kita bisa memulainya Hinata, aku pasrah saja" ucap Naruto spontan
"hah?" Hinata menaikkan sebelah alisnya heran, "apa maksudmu senpai? ...Ini" Hinata menyodorkan sebuah buku dengan sampul bergambar angsa putih "eh? Apa ini?" ucap Naruto sambil menerima buku bergambar itu
Hinata tersenyum "aku suka sekali cerita dongeng, tapi aku malas membacanya, jadi senpai tolong bacakan bukunya untukku"
"ohh, begitu, kupikir apa,," Naruto menggaruk tengkuknya, ia jadi malu sendiri mengingat fikiran mesumnya
"memang apa yang senpai fikirkan?" Hinata menatap Naruto dengan wajah polos penuh tanda tanya
Naruto mengalihkan pandangannya dari Hinata "sudah jangan dibahas, duduklah aku akan bercerita"
"uhm" Hinata tersenyum antusias
Mereka pun duduk sambil meluruskan kaki bersampingan sambil bersandar pada tembok
"baiklah aku mulai, pada suatu hari ...bla...bla...bla..." Naruto pun mulai membaca lembar per lembar buku bergambar itu, barukali ini ia membaca cerita dongeng menarik juga fikirnya
Hinata mendengarkan dengan seksama cerita Naruto, kadang Hinata tidak fokus pada cerita dan malah memandang wajah Naruto yang tengah serius membaca ceritanya, Hinata merasa jantungnya berpacu lebih cepat, wajahnya pun serasa panas, Hinata segera mengalihkan pandangannya dari Naruto 'tenanglah, jangan kencang-kencang berdetaknya' ucap Hinata dalam batin sambil mengelus-elus dadanya
Rasa kantuk menghinggapi Hinata, matanya kini terasa berat untuk terbuka, hingga Hinata sudah tidak mampu menjaga dirinya untuk tetap terjaga
Naruto menghentikan kegiatannya membaca buku bergambar itu, ia merasakan sesuatu yang berat menimpa pundaknya, ia menoleh mendapati Hinata tengah tertidur sambil bersandar dipundaknya. Ia terkekeh geli melihat wajah polos Hinata yang mendengkur sangaaat pelan
Naruto merapatkan tubuhnya pada Hinata, ia melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Hinata dan memperbaiki sandaran Hinata di pundaknya, berharap Hinata merasa nyaman dengan tidurnya.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Naruto memperlakukan Hinata seperti seorang pacar saja.
Melihat Hinata yang tertidur sangat nyaman, membuat Naruto ikutan mengantuk, ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Hinata, dan Naruto pun tertidur. mereka pun tertidur dengan saling bersandar satu sama lain.
Mereka tidak menyadari kalau dari tadi ada yang memperhatikan tingkah mereka, ia seorang siswi berambut merah dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya. Ia menatap sinis ke arah Hinata yang tertidur pulas di pundak Naruto
"sudah kuduga, alasan kemarin hanya bualan Naruto senpai saja, awas kau Hinata, berani sekali kau mendekati Naruto senpai milikku, akan kuberi kau pelajaran" ucapnya sambil meninggalkan Naruto dan Hinata.
Bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi, Naruto yang bangun terlebih dahulu membangunkan Hinata yang masih terlelap, tentu saja Naruto sudah melepas lingkaran tangannya dipinggang Hinata
"Hinata bangunlah" Naruto menepuk-nepuk pipi tembem Hinata. Hinata yang merasakan getaran dipipinya pun membuka kelopak matanya, menampilkan iris bulan yang menyejukkan. "ya ampun senpai aku ketiduran, kalau begitu ayo kita kembali ke kelas" dengan cekatan Hinata langsung berdiri dan berlari kecil meninggalkan Naruto yang masih mematung diperpustakaan. "haahh" Naruto hanya menghela nafas sambil berjalan dengan gontai meninggalkan perpustakaan
...
Saat ini adalah jam pelajaran olahraga, Hinata dan teman sekelasnya menuju lapangan basket karna saat ini adalah pelajaran basket. Hinata merasa sedikit sedih karna hari ini Ino tidak masuk sekolah, ia izin selama tiga hari karna urusan keluarga. Hinata sudah tahu pasti Ino menjalani pemotretan di Amerika untuk majalah Fashion milik Ibunya.
Hinata merasa kesepian tanpa Ino, karna Hinata tidak terlalu dekat dengan teman sekelasnya yang lain. Ia berdiri sambil memegangi ujung baju olahraganya, ia melihat yang lain sudah berkelompok dan bercengkrama satu sama lain, biasanya Ino yang selalu mengajak Hinata untuk satu kelompok bersamanya. Tanpa Ino Hinata hanya seorang diri dikelas
Tak jauh dari Hinata empat orang siswi berkumpul, diantara mereka ada Seorang siswi berambut merah dengan kacamata di wajahnya "hei, aku melihatnya, si Hyuuga itu menggoda Naruto senpai" ucapnya
"jangan berbohong Karin?" kali Ini siswi dengan rambut coklat panjang yang angkat bicara "untuk apa aku berbohong Maki, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri"
"menyebalkan sekali si culun itu" seorang siswi berambut hitam bicara sambil menyilangkan tangannya di dada "kau benar Haku" ucap Karin lagi
"kalau begitu kita harus memberi pelajaran padanya," kali ini siswi berambut coklat pendek menimpali
"itu yang aku harapkan, Rin" Karin menyeringai senang, ia berhasil memanas-manasi teman-temannya yang lain
Mereka ber empat pun mendekati Hinata
"Hinata sepertinya kau belum punya kelompok, apa kau mau satu kelompok bersama kami?" Karin bertanya dengan senyum manis yang dibuat-buat olehnya
"a-apa boleh, ka-karin-san" ucap Hinata terbata
"tentu saja, ia kan minna" Karin menengok ke arah temannya yang lain, mereka menggangguk sambil tersenyum semanis mungkin
"arigatou" ucap Hinata sambil tersenyum senang sampai menyipitkan mata bulannya
...
Mereka berlima berdiri melingkar dengan jarak berjauhan, hari ini adalah latihan melakukan over head pass, mengoper bola dengan cara melempar bola dari atas kepala juga chest pass melempar bola dari dada depan,
Mereka saling melempar dan saling menerima bola, Hinata dengan perasaan yang senang untuk pertama kalinya ada teman sekelas yang mengajaknya satu kelompok meski Ino sedang tidak bersamanya, ia melempar bola dengan pelan, ia sama sekali tidak menunjukkan kemahirannya dalam bola basket
menyadari guru yang meninggalkan mereka, Karin melirik Haku, Maki, juga Rin, mereka menyeringai mendapatkan kode dari Karin untuk memulai aksi mereka,
Karin melempar bola kepada Hinata, Hinata berusaha menangkapnya tanpa menyadari Rin sudah melempar bola dengan keras dari arah lain, bola itu mengenai bahu kanan Hinata "gomen, aku tidak sengaja Hinata" ucap Rin dengan wajah memelasnya
" i-iya tidak apa-apa" Hinata meringis menahan sakit di pundaknya,
Mereka melanjutkan permainan, saat Haku melempar bola ke arah Hinata, kembali disaat bersamaan Maki melempar bola dengan keras dari arah lain, bola itu mengenai bahu Kiri Hinata "aduuhhh maaf maaf Hinata, aku tidak sengaja" ucap Maki
"i-iya" Hinata tidak bicara banyak, kini ia menahan sakit di kedua pundaknya,
Karin menyeringai senang melihat Hinata yang meringis menahan sakit, Karin melemparkan gelang tangannya ke tengah lingkaran mereka berdiri "Hinata, gelangku terjatuh, bisa tolong ambilkan"
"ya ampun, ia akan aku ambilkan" tanpa ragu atau curiga Hinata berjalan ketengah lingkaran dan mengambil gelang itu,
Tak mau kehilangan kesempatan Karin melempar dengan keras bola basket di tangannya ke arah Hinata, dan itu mengenai punggung Hinata, membuat Hinata merasa mual karnanya
Haku juga melemparkan bola ke arah Hinata, Maki dan Rin pun melemparkan bola ke arah Hinata,
Hinata jatuh terduduk sambil memegang gelang juga berusaha melindungi kepalanya, Hinata sama sekali tidak melawan, ketika bertubi-tubi Karin, Maki, Rin, dan Haku melemparinya dengan bola basket,
Hinata hanya meringis menahan sakit, merasakan tubuhnya yang ngilu juga kepalanya yang terasa pening,
Tidak ada yang membantu Hinata, teman sekelasnya yang lain hanya melihat iba Hinata yang menjadi sasaran pembulian dari Karin dan teman-temannya, mereka tidak ada yang berani menentang Karin, karna keluarga Karin termasuk salah satu orang yang menyumbang dana terbesar di sekolah
Hinata merasa darah segar mengalir keluar dari lubang Hidungnya, beberapa kali lemparan bola itu mengenai kepalanya, kepalanya sakit dan terasa berputar, pandangan matanya mulai mengabur
...
Sementara itu, Naruto, Gaara, Sasuke, Kiba dan Shikamaru merencanakan untuk bermain basket karna saat ini jam pelajaran kosong, mereka berjalan sambil saling bercengkrama, sesampainya di lapangan basket mata Sasuke memicing ke arah lapangan dimana ada empat orang siswi yang meligkar dan melempari bola bertubi-tubi ke arah siswi yang teduduk di tengah mereka, "hoi Naruto, bukankah itu si pendek"
Naruto menghentikan aksi bercandanya dengan Kiba dan Gaara, mereka mengikuti arah pandang Sasuke,
Mata Naruto membulat seketika, melihat Hinata yang terduduk memegangi kepalanya sambil dilempari bola bertubi-tubi dari empat siswi yang melingkarinya. Kondisi Gaara tak jauh berbeda dengan Naruto ia merasakan emosi di dadanya melihat Hinata yang meringis menahan sakit
"HINATAAAA" teriak Naruto dan Gaara bersamaan dan langsung berlari menuju tempat Hinata
...
Karin dan teman-temannya tertawa senang melihat penderitaan Hinata kini, mereka tidak peduli dengan kondisi Hinata yang bahkan sampai mengeluarkan darah dari hidungnya, Karin melempar bola dengan sangat kuat tepat ke arah depan Hinata
'greb'
Naruto menangkap bola tersebut dengan tangan kananya, ia menatap penuh emosi kepada semua orang disana
"APA-APAAN KALIAN INI HAH?"
"se-senpaii" cicit Karin yang langsung menundukkkan kepalanya,
Gaara langsung mendekati Hinata ia berjongkok memeriksa keadaan Hinata, Gaara begitu kaget melihat hidung Hinata yang mengeluarkan banyak darah sampai menetes pada baju olahraganya
"ya ampun, kau terluka cukup parah" Hinata merasakan pandangannya yang mulai memudar, ia samar-samar melihat punggung tegap Naruto yang membelakanginya ia mendengar suara Naruto yang berteriak, tubuh Hinata limbung hampir saja mencium lapangan kalau saja Gaara tidak dengan sigap menahan tubuhnya dengan merengkuhnya,
Naruto membalikan tubuhnya kebelakang, ia merasa sesak dan tidak suka melihat Gaara yang merengkuh Hinata, "aku harus membawamu ke UKS" ucap Gaara sambil melingkarkan tangannya dipundak Hinata, Naruto dengan sigap melepas dengan kasar tangan Gaara yang melingkar di pundak Hinata
"Biar aku saja" Naruto merebut paksa tubuh Hinata dari rengkuhan Gaara, Naruto menggendong Hinata ala bridal style, Hinata yang merasa lemas juga sakit dikepalanya tidak bisa menolak, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto.
Naruto memandang Karin dan teman-temannya dengan kilat emosi
"Sasuke, Shikamaru aku serahkan urusan mereka pada kalian, beri mereka hukuman yang setimpal atas tindakan tidak manusiawinya ini"
"hn" Sasuke mengangguk mengerti
"serahkan pada kami" ucap Shikamaru
Sasuke, Shikamaru, dan Naruto memang masuk kedalam komite kedisiplinan, mereka sering membantu guru untuk menghadapi murid yang membuat masalah
Naruto segera berjalan dengan cepat menuju UKS, sesekali ia melirik khawatir wajah Hinata yang mengeram sakit dengan darah yang masih mengalir dihidungnya
...
"sreekkk" Naruto membuka dengan kasar pintu UKS dengan kakinya
"SENSEI CEPAT TOLONG HINATA" teriak Naruto memanggil Shizune Sensei yang juga terkejut akan teriakannya
"ya ampun, apa yang terjadi cepat baringkan tubuhnya diranjang"
Naruto membaringkan tubuh Hinata dengan perlahan di atas kasur putih UKS,
Ia benar-benar khawatir melihat tubuh Hinata yang memiliki memar di pelipis kiri, juga di pergelangan tangannya. Dengan sigap dokter berambut hitam pendek itu memeriksa dan menghentikan pendarahan di hidung Hinata,
Sudah satu jam berlalu, Hinata masih tertidur setelah mendapat perawatan dari Shizune sensei, Naruto juga masih setia menunggu Hinata, ia duduk disamping ranjang Hinata,
Naruto meraih tangan kanan Hinata, ia menggenggamnya "Hinata, apa yang sebenarnya terjadi" gumam Naruto sambil mengelus lembut puncak kepala Hinata
Perlahan Hinata membuka kelopak matanya, ia melihat sekelilingnya yang berwarna putih, ia menebak pasti sekarang ia ada di UKS
"Hinata kau sudah sadar" Naruto begitu lega melihat Hinata yang sudah sadar
"senpaiiii" Hinata berucap dengan lirih ia berusaha mengangkat tubuhnya "jangan bangun dulu, berbaringlah" ucap Naruto yang menahan pergerakan Hinata. Hinata pun kembali membaringkan tubuhnya "arigatou" ucap Hinata kemudian
Naruto sama sekali tak melepas genggamannya pada tangan Hinata "dasar bodoh, kenapa kau tidak melawan? Kau sangat mahir dalam permainan basket bahkan kau pernah menang melawanku, kenapa? Kau hanya diam saja ketika mereka memperlakukanmu seperti itu?"
Hinata tersenyum miris melihat Naruto yang kini memandang sangat khawatir terhadap dirinya
"gomenne, senpai, aku tidak bisa melawan, mungkin mereka tidak sengaja" ucap Hinata sambil tertawa pelan
"dasar bodoh, tentu saja mereka sengaja, komite kedisiplinan akan menghukum mereka dengan berat, atas perlakuan mereka terhadapmu"
"jangan senpai, jangan...kasiiihan mereka.. pasti mereka punya alasan, kalau memang aku salah ,, aku akan minta maaf pada mereka"
Naruto benar-benar tidak habis fikir, dengan begitu mudahnya Hinata memaafkan Karin dan teman-temannya, padahal mereka sudah sangat menyatiki fisik Hinata. Yah yang Naruto ketahui kini, Hinata memiliki hati yang baik.
Naruto tersenyum sambil mengelus pelan puncak kepala Hinata "tidak apa, mereka akan tetap mendapatkan hukuman, dan itu tidak akan terlalu berat" Hinata tersenyum senang mendengarnya
"nee,,, senpai kepanganku berantakan, bisakah kau membantuku"
"a-apa?"
"tolong sisirkan rambutku"
"apa? kenapa tidak sisir sendiri"
"aku tidak bisa menyisir sendiri rambutku"
"haahh, baiklah"
Dan disinilah ia, Naruto duduk diatas ranjang bersama Hinata, Hinata memposisikan diri membelakangi Naruto. Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah, ia begitu gugup untuk pertama kali dalam Hidupnya ia harus menyisir rambut seorang perempuan, dan itu adalah Hinata perempuan yang selama ini bisa membuat proses kerja jantungnya menjadi tidak normal
Dengan tangan gemetar ia melepas satu persatu ikat rambut Hinata, rambut Hinata yang panjang dan bergelombang pun tergerai, dengan kikuk ia menyisir perlahan rambut Hinata menggunakan sisir yang dipinjamnya dari Shizune sensei. Menyisir rambut pendeknya sendiri saja jarang, sekarang ia harus menyisir rambut panjang, halus, nan wangi milik Hinata
Hinata merasakan debaran jantungnya yang menggila tatkala merasakan Naruto yang perlahan mulai menyisir dengan lembut rambutnya, untung saja posisinya membelakangi Naruto jadi Naruto tidak akan melihat wajahnya yang sudah merah padam. Hinata merutuk dalam hati kalau saja ia bisa menyisir sendiri, pasti ia tidak perlu meminta hal se-aneh ini pada Naruto
keduanya terdiam mendalami pemikiran masing-masing, Naruto masih dengan perlahan menyisir rambut Hinata, Hinata akui rasanya nyaman disisir oleh Naruto senpai, biasanya ibu atau pun Ino menyisir rambutnya dengan cepat tidak selembut ini.
'sreek'
pintu UKS terbuka, menampakkan Sakura yang memasuki UKS "Shizune sensei aku membawa daftar- ...obatnya" Suara Sakura tercekat matanya membulat, tubuhnya menegang, melihat pemandangan didepannya, Naruto dan Hinata duduk berdua di atas ranjang dan Naruto menyisir lembut rambut Hinata
Sakura mendekati Naruto dan Hinata, ia menatap keduanya dengan emosi "apa yang kalian lakukan? bersama di atas satu ranjang?"
Hinata dan Naruto menoleh bersamaan melihat kedatangan Sakura, keduanya hanya saling pandang mendengar pertanyaan Sakura yang sepertinya terlihat emosi
Naruto menyadari posisinya yang berdua di atas satu ranjang dengan Hinata, tentu saja sinyal mesumnya langsung menyala 'sepertinya Sakura salah paham'
TBC
Hufftt akhirnya selesai juga, penasaran lanjutannya?
review dulu donk... makasih yah yang udh favorit & Follow fic ini...
balas review ah...
ana : iya aku juga udah mikirin gitu, disini udh ada interaksinya dikit sih, tapi nanti mungkin wid tambah lagi. makasih ana selalu review cerita wid
Azarya senju : iya,,, hhmmm segini kurang panjang ya? kirain kepanjangan hehe yah nanti wid usahain
yamanaka-san : makasih juga ini udh lanjut
Byakugan no Hime : ia juga ya, nanti ada kok saatnya Hinata merubah penampilannya, hehe tapi wid fokus ke perasaan Naruhina dulu
Guest : haha iya ya, bisa pake latar lagu kuch-kuch hota hai
Salsabilla12 : makasih ini udh lanjut
Cuka-san : haha iya koplak banget, makasih udh selalu menyemangati wid
Alinda504 : makasih, syukur deh klo makin seru ,, ini lanjut
