Maaf, updatenya sangat lama.. Sekali lagi maaf

Masih adakah yang menunggu cerita ini? hehe.. Misal ada pasti udah lupa ceritanya seperti apa..haha

Untuk yang sudah membaca dan memberikan riview terima kasih sudah menyisihkan waktunya ^^


Chapter 7

Pagi yang saat itu cerah dan sejuk, seharusnya menjadi awal yang baik untuk memulai aktifitas yang akan dilakukan. Tapi tidak untuk seorang Luka Megurine. Pagi itu dikelasnya, dia sudah disungguhi oleh kedatangan seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu muncul di hadapannya.

"Aku minta penjelasan darimu, gadis penggoda?"

Twich

'Apa?!'

Ya, gadis itu Miku Hatsune. Entah ada angin apa tiba-tiba dia datang menghampiri Luka sembari menunjukan sebuah foto yang jelas-jelas tergambar di dalamnya, dirinya dan pemuda berambut biru, Kaito, yang sedang berpelukan.

"Maafkan aku, gadis-yang-tak-tau-sopan. Tapi, apa yang harus ku jelaskan dari foto itu?" ucap Luka tenang mencoba untuk tidak menimbulkan keributan.

Didalam hatinya Luka merasa sangat bingung apa yang harus dia lakukan. Dirinya merutuki kenapa dia harus menerima tawaran Kaito untuk berbicara dengannya. Dan sialnya ternyata ketika mereka berdua sedang berbicara, salah satu teman Miku ada yang melihatnya. Sial.

Beberapa pasang mata menyaksikan tontonan gratis yang sangat jarang dilihat mereka. Sang ketua kelas sedang adu mulut dengan seorang gadis yang notabane nya cukup terkenal. Andai saja Rin dan Gumi sudah datang, mungkin adu mulut ini tidak akan terjadi.

"Heh?! Berani sekali kau. Jelas-jelas di foto ini kau tengah memeluk pacar orang dan kau bukannya meminta maaf!" Bentak Miku kesal sembari megarahkan selembar foto itu ke hadapan Luka.

"Kenapa juga aku harus menjelaskannya kepadamu?" sebuah senyum ah tidak, sebuah seringai terpampang di wajah manis Luka. Oh Luka rupanya kau ingin bermain-main dengan gadis pencinta negi ini.

"Cih, kurang ajar. Dasar gadis penggoda!"

BRAAKK

Hentakan meja yang sangat keras membuat ruangan yang berisi siswa-siswi ini menjadi hening seketika. Luka berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Miku. Seringai yang ada di wajahnya menghilang tergantikan senyuman datar dengan tatapan mata yang tajam.

Cukup lama Luka memandang Miku dengan tatapan seperti itu, yang cukup membuat Miku bergidik ngeri."Asal kau tau, aku sama sekali tidak-berminat-dengan-pacarmu-yang bodoh itu." Tekanan nada disetiap kata, sengaja Luka lontarkan agar gadis di hadapannya ini mengerti dan tidak mengganggunya lagi.

"Ohayou!"

Suara baritone yang cukup Luka kenal dari seorang pemuda, membuat dirinya tersentak kaget. Tidak hanya itu, rupanya seluruh siswa yang sedang terpaku melihat tontonan gratis ini tiba-tiba saja tersadar setelah mendengar sapaan 'selamat pagi' dari seorang pemuda pecinta terong itu.

Berterima kasihlah pada Gakupo yang telah mencairkan suasana yang cukup panas ini.

"Urusan kita belum selesai!" desis Miku sebelum meninggalkan Luka yang masih berdiri.

xxxxxx

"Kenapa kau masih berurusan dengan pecinta es itu Luka? Lihat! kau jadi terkena masalah lagi bukan?" Gumi memijat pelipisnya untuk sekedar meredakan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul. Dirinya heran dengan apa yang dipikirkan oleh Luka, setaunya sahabatnya itu tidak akan bertindak ceroboh jika itu bukanlah hal yang penting.

Gumi menatap sahabatnya itu khawatir. Rin yang sedari tadi memakan bekalnya sembari mendengar ocehan Gumi, mulai angkat bicara.

"Umm, Luka? Aku masih penasaran dengan foto itu. Apakah foto itu benar-benar dirimu?"

Berita tentang foto itu sudah menyebar dengan cepatnya. Salahkan teknologi yang saat ini sangat pesat. Mungkin sebentar lagi, Luka akan dikenal oleh seluruh siswa.

Helaan napas panjang adalah hal pertama yang keluar dari mulut Luka. Kedua sahabatnya kini menatap Luka penasaran, tidak sabar dengan kata apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut sahabatnya itu.

"Iya, itu aku." Ucap Luka datar

Andai saat itu Gumi sedang memakan wortel kesukaanya, mungkin saat itu juga dia akan tersedak dengan tidak elitnya.

Teriakan tidak percaya yang cukup keras dari mulut Gumi dan Rin adalah yang selanjutnya terdengar di indra pendengaran Luka. Untung saja saat ini mereka bertiga sedang berada di atap sekolah, sehingga tidak ada orang yang akan memandang mereka aneh.

"Bisakah kalian tidak berlebihan seperti itu?" gerutu Luka kesal

Gumi dan Rin saling pandang sebelum menatap Luka dengan tatapan 'itu tidak penting, sekarang beritahu kami kelanjutannya.'. Luka yang menyadari tatapan sahabatnya itu, seketika risih dan kesal. Mungkin dengan menceritakan apa yang telah terjadi membuat dirinya menjadi agak tenang, setidaknya itulah yang dipikirkan Luka.

"Kalau aku ceritakan, kalian berjanji tidak akan berteriak atau menjadi kesal sendiri, oke?"

Keduanya mengangguk mantap.

"Huh, jika kalian masih belum percaya itu aku, percayalah. Aku dan Kaito berpelukan itu bukan tanpa alasan. Aku yang saat itu tidak percaya dengan apa yang Kaito jelaskan seketika me..menangis dan saat itu Ka..Kaito me..meluk ku." Seketika nada bicara Luka berubah menjadi gugup.

Dirinya merasa ragu dengan apa yang diceritakannya. Entah kenapa mengingat kejadian itu membuatnya merasa bodoh. Kenapa juga dia harus menangis? Kenapa juga dia harus menerima pelukan Kaito? Dan kenapa juga dia harus merasa nyaman ketika Kaito memeluknya?

Gumi dan Rin memadang Luka khawatir. Keduanya merasa tidak enak, melihat Luka yang tiba-tiba saja terdiam.

"Nee, Luka. Kalau kamu tidak ingin menceritakannya jangan dipaksakan. Kami akan menunggumu menceritakannya. Iyakan Gum?" ucap Rin ramah

Gumi mengangguk menyetujui "Itu benar Luka."

Luka menggeleng pelan. "Tidak apa. Aku ingin menceritakannya kepada kalian kok."

Gumi dan Rin tersenyum melihat Luka yang sepertinya sudah ada kemajuan. Dirinya sudah berani menceritakan masalah pribadinya kepada kedua sahabatnya ini.

"Kalau begitu kami akan mendengarkan." Sahut Gumi dan Rin berbarengan.

Luka memulai ceritanya dari awal pertemuan tidak sengajanya dengan Kaito, sampai Luka menangis di dalam pelukan Kaito. Tentunya dia tidak menceritakan perjalanannya bersama Gakupo ke taman bermain. Apa yang akan kedua sahabatnya itu katakan jika mendengar hal itu.

xxxxxx

Kaito yang saat itu tengah terdiam di kelasnya sembari mendengarkan lagu, tiba-tiba saja di kagetkan dengan kedatang Miku yang langsung menempel di lengannya.

"Wah kau mengagetkan ku." Ucap Kaito sembari mengelus puncak kepala Miku.

Miku menikmati elusan Kaito yang menurutnya sangat nyaman itu. Dirinya langsung menjauh dari Kaito setelah mengingat tujuannya untuk menemui kekasihnya itu.

"Aku minta penjelasan dari mu." Ucap Miku sembari menunjukan sebuah foto.

Kaito mengambil foto tersebut lalu memandangnya dengan seksama, sebelum kembali memandang Miku dengan senyumnya "Menurut mu seperti apa?"

Miku merebut foto itu dengan kasar sebelum duduk kembali dekat dengan kekasihnya itu. "Oh ayolah sayang, jangan bercanda dengan ku. Kau tau kan, aku ini sangat sensitive kalau soal yang seperti ini." gerutu Miku kesal.

Kaito tidak menanggapi gerutuan Miku, dirinya kembali mengelus puncuk kepala kekasihnya dengan lembut. "apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Kaito lembut.

Miku tidak langsung termakan dengan rayuan Kaito. Dirinya terdiam menimang perkataan kekasihnya itu."Tadi pagi aku menanyakan hal yang sama pada gadis yang terdapat di foto itu. Apa kau tau? Dia sangat menyebalkan."

Bola mata Kaito sukses membulat setelah mendengar perkataan dari Miku. Rasa tertarik tiba-tiba muncul dan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.

"Oh ya? Apakah semenyebalkan itu?" tanya Kaito

"Iya. apa kau tau, aku dikatai oleh dia 'gadis tidak tau sopan'"

'itu karna kau mengganggunya Miku.' Batin Kaito tersenyum. "Wah, dia sangat berani ya. Hahaha"

Dengan cepat Miku menjitak kepala Kaito, merasa dirinya dipermainkan. "Kau membelanya?"

"Tidak, tidak, tidak. Tentu saja aku tidak membelanya sayang." Sahut Kaito cepat.

Miku masih terdiam. Sepertinya dia masih merasa kesal.

"Aku lupa! Aku ada urusan dengan Dell. Kalau begitu sampai jumpa lagi yaa."

Kecupan singkat mendarat di dahi Miku. Dirinya langsung merona hebat setelah Kaito melakukan itu. Bagaimana dia bisa merasa kesal kalau tingkah laku Kaito selalu membuat hatinya meleleh. "Kaito no baka."

xxxxxx

Di perjalan menuju taman sekolah, Kaito selalu tersenyum, Dirinya membayangkan wajah Luka ketika berhadapan dengan Miku. Tunggu! Bukannya Kaito ingin pergi menemui Dell? Kenapa dia pergi ke taman sekolah yang tergolong sepi itu.

Ah, jawabannya karna Kaito merasa bosan dan malas di ajukan pertanyaan seperti itu oleh Miku. Dirinya ingin merilekskan pikirannya terlebih dulu sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Bola mata Kaito menangkap sosok yang akhir-akhir ini sering dia lihat. Seorang pemuda dengan rambutnya ungunya yang sangat khas tengah duduk sembari membaca sebuah buku.

Tanpa Kaito sadari, Gakupo juga telah menyadari kedatangannya sebelum Kaito menyadari keberadaanya terlebih dahulu.

"Sepertinya, akhir-akhir ini kita selalu bertemu ya, Gakupo?" sapa Kaito

Pemuda yang disapa Gakupo itu, menatap Kaito datar. "hmm" jawabnya singkat.

"Wah wah, kau pendiam ya ternyata. Aku kira ketua klub kendo sepertimu akan selalu cerewet. Hahahah"

Gakupo menatap pemuda di hadapannya dengan kesal. Kenapa juga dia harus bertemu dengan pemuda yang akhir-akhir ini ingin sekali dia layangkan tinjunya ke wajah bodohnya itu.

"Ada perlu apa?" sahut Gakupo bosan.

"Tidak tidak, aku hanya tidak sengaja bertemu denganmu. Oh ya, kau itu siapanya Luka?"

DEG

Gakupo membulatkan matanya. Apa-apaan pemuda ini. Dia datang dengan tidak jelas dan bertanya hal yang sampai saat ini juga dia belum mengetahui. Jika kau pikir Gakupo itu teman Luka, kalian salah. Gakupo hanya seseorang yang secara tidak sengaja adu mulut dan tau apa yang terjadi di sekitar gadis bersurai pink itu. Luka pun juga tidak pernah mengajak dirinya untuk berteman.

"Hoh, tidak bisa jawab ya." Goda Kaito

"Itu bukan urusanmu!" desis Gakupo kesal.

"Tentu saja itu urusan ku." Jawab Kaito cepat

Suasana diantara mereka berdua kini berubah canggung. Secara terang-terangan Kaito mengungkapkan ketidak sukaannya pada kedekatan Gakupo.

"Apa maksudmu? Bukankah dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mu?!"

Kaito menyeringai mendengar perkataan Gakupo. Tidak ada hubungan? Ya itu benar. Tapi entah perasaan apa yang mebuat Kaito tidak ingin begitu saja lepas dari seorang gadis yang bernama Luka itu.

"Tidak ada hubungan ya? Hmm"

Gakupo memandang pemuda itu kesal. Tangannya sudah terkepal erat, siap untuk dilontarkan kapan pun.

"Bagaimana kalau aku katakan, aku masih menyukai gadis itu?"

Dan perkataan Kaito tadi sukses membuat Gakupo menghujamkan tangannya ke wajah Kaito.


Tu bi kontinyu~

Yo, minna ini dia chapter 7 nya. Entah masih ada yang berminat dengan cerita ini. Oh ya, Leavi siap menerima flame kok.. hehe

Akhir kata. . . . . . .

RnR, Please?