Author : Akhirnya, chapter tujuh dari Mortal Body, Immortal Love! Ahhh senengnyaa~
France : Aww… cinta terlarang seperti aku dengannya…
Author : Benar dan saya selalu nangis tentang strip itu
France : Jeanne… #mulaipundukdipojokan
Author : …. *ikutan pundung*
Disclaimer : Hetalia milik Himaruya, oui?
Warning : OOC, sinetron, kata-kata kasar karena ada Tony si alien, gaje, abal, typo(s) (KENAPA NGGAK MAU ILAAAANG! GRRR!) dll
Perjalan kami menjadi hening, terutama saat diperjalanan. Ini semua karena aku tak punya teman mengobrol, Amelia sudah tertidur di bahuku. Aku tak menyangka bisa bertemu personifikasi negara menyebalkan tadi. Oh, tiket ke Vostok yang ia berikan sudah kuinjak dan kubuang ke tempat sampah. Enak saja membelikanku hal seperti itu! Perjalanan kami berakhir di depan sebuah gang. Aku membayar tanpa meminta kembalian (oh, tentu saja seorang negara akan membantu warganya, terkecuali Netherlands karena aku percaya ia sangat pelit) dan menggendong Amelia.
Aku masuk ke gang itu dan mencoba agar Amelia tidak terkena tembok di kanan kiri. Setelah berjalan beberapa menit, akupun sampai di depan pintu rumahku. Kuketuk dan terbuka, terlihat Tony sudah memakai piyama menatapku.
"Fucking" Ia terlihat bingung
"Uh, gadis ini tinggal dirumahku semalam atau mungkin seminggu? Soalnya para agen rahasia pastinya mencarinya"
"Fucking, fucking bitch!"
"Aku tahu, dia manusia… tapi ayolah, kau tidak merasa kasihan apa? Mungkin saja ia korban noppera jadi kau bisa mencari informasi dari dia? Hehehe"
"Fucking!"
Tony mundur sehingga aku bisa masuk. Hmm, apa kamar tamu yang biasa dipakai negara-negara kalau menginap (dan tak mau modal) jika mengadakan meeting di rumahku(wilayah) bisa dipakai? Aku merebahkan Amelia, ia bergerak sedikit dan aku pelan-pelan meninggalkannya. Sekarang aku menuju kamar tamu itu. Damn, rumahku yang ini besar juga. Aku lebih memilih rumahku di New York yang punya dua tingkat tapi tak terlalu luas.
Setelah kutemukan, tubuh Amelia kurebahkan. Dengan selimut kututupi badannya. Aku keluar dan teringat beberapa laporan terbaru yang harus dikerjakan olehku. Aku bahkan harus bicara dengan bosku terkait beberapa masalah. Aku jadi memikirkan tentang negara-negara maju namun bukan adidaya sepertiku. Apa yang mereka lakukan sekarang, ya? Menghela nafas, aku mulai memakai headset dan memutar lagu lewat iPod. Sebuah lagu berputar dan ini menjelaskan keadaanku sekarang.
"Everyone thinks that I have it all
But it's so empty living behind these castle walls
These castle walls
If I should tumble if I should fall
Would any one hear me screaming behind these castle walls
There's no-one here at all, behind these castle walls"
Langsung saja kumatikan lagu itu dan memilih menuju dapur, sepertinya segelas kopi hangat bisa jadi teman yang baik saat malam-malam. Aku berjalan ke dapur, saat dilorong rumah aku mulai memikirkan Amelia. Selama ini, apakah aku salah membiarkannya dekat di hidupku? Lalu, hal apa yang membuatku tetap ingin mempertahankan Amelia?
I…
Aku menggelengkan kepala, pintu dapur di depan mata dan aku masuk. Langsung saja aku mengambil gelas serta kopi dan gula. Aku mulai memanaskan air.
fell
Aku langsung taruh gelas itu dengan tenaga sehingga menimbulkan suara. Untung saja tenaga yang kugunakan bukan penuh, pasti gelas tadi sudah hancur berkeping-keping. Kutuang kopi serta gula, selanjutnya menunggu agar airnya mendidih terlebih dahulu.
In love…
Aku mulai mengingat bagaimana semuanya terjadi. Dari mana mulainya dan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Mataku kututup, potongan ingatan mulai bermunculan.
Semuanya terjadi pada hari normal dan meeting yang seperti biasanya. Kekacauan, saling cekik mencekik, kata-kata kasar bahkan barang-barang dengan mudahnya terbang kesana-kemari. Lalu datang Amelia membawa pesanan makanan milikku. Sejauh ini masih masuk akal.
Kemudian ia ternyata terkena masalah karena melanggar peraturan dan mengganggu ketertiban. Ia ditangkap polisi dan terkena beberapa hal. Aku datang untuk membuatnya bebas karena berterima kasih untuk mengantarkan makanan tidak terlalu terlambat. Saat itu aku menawarinya tumpangan karena sepeda miliknya kurusak. Ini masih diterima dalam pergaulan personifikasi dan manusia biasa.
Aku bertanya beberapa hal dengannya dan berakhir merasa simpati padanya. Terutama atas tragedy yang terjadi pada ayahnya. Lalu terlambat rapat dan berbohong tentang semuanya. Dari sinilah seharusnya personifikasi mulai menjauhi manusia yang dikenalnya, karena biasanya kami akan terus berbohong untuk menutupi semua hal. Bahkan membohongi dirimu sendiri.
With human.
Kopi panas mengepulkan asap, aku duduk di meja makan dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Kuakui, aku kesepian dan butuh teman. Aku kalah, aku payah membiarkan perasaan yang memenangkan pikiranku. Dulu, yah dulu sekali aku pernah mengalaminya dengan Amelia Earhart. Aku berakhir menyesal dalam hati. Sekarang, aku ada di keadaan itu lagi.
"Haruskah berhenti? Tapi nanti Amelia…" Kuteguk kopi itu
"Fucking! Fucking limey" Tony mendekatiku, ia membawa remote Wii
"Main? Game apa?"
"Fucking! FUCKING!"
"Game horror yang diberi Japan? Kau tidak takut, dude?"
"Fucking" Tony mengangguk
"Baiklah! Ayo!"
Kami berdua sudah ada di depan tv LED sebesar 70 inch (oh ayolah, seorang gamer pasti akan senang kalau punya tv sebesar ini) dan remote Wii. Aku memasukkan CD game horror yang diberi oleh Japan (untungnya ia memberikanku yang berbahasa Inggris) dan menarik nafas. Tony disampingku menatap layar televisi dan memilih karakter yang akan dimainkan.
Aku juga sudah memilih karakter dan mulai menelan ludah. Aku sudah tahu kalau game horror dari Japan berciri-ciri hantu atau zombie akan muncul begitu saja. Remote Wii ku kencangkan di pergelangan tangan.
"Here we go!" Karakter kami mulai berjalan dengan senjata ditangan
Muncul zombie dengan tiba-tiba dan membuatku terkejut bukan main, "GYAAAAA!"
Tony menembak zombie itu dan menatapku, "Fucking?"
"Ma…maaf Tony! Aku yah… game ini seraaaaammm!"
"Fucking"
"Kau serius? Berani main sendiri?"
"Fucking, Fucking, Fucking!"
"Baiklah…"
Kami menghentikan permainan agar mode multiplayer terganti jadi single player. Setelah itu aku menuju ruang kerja untuk mengerjakan laporan serta paperwork lainnya. Aku mengetik dan menulis, sesekali kacamata kubenarkan. Oh, aku baru ingat kopi ditinggal di dapur. Sekembalinya dari dapur, kopi kutaruh di meja. Tapi mataku melihat sebuah teropong, oh aku suka melihat bintang-bintang. Aku suka ilmu astronomi dan karena hal inilah saat mendengar rakyatku membuat pesawat ulang-alik, aku senang bukan main.
Sewaktu muda dimana waktu itu aku baru saja merdeka beberapa tahun lamanya, kebiasaanku adalah melihat bintang di langit New York saat itu. Aku masih ingat betapa kecil, tak ada bangunan besar dan tak sesibuk sekarang kota New York kala itu. Aku melihat bintang lewat teropong yang ada di ruang kerja dan mulai menghitung benda langit itu.
Hingga mulai langit berubah menjadi sedikit terang, aku baru sadar tak tidur semalaman. Mau tidur, tapi tanggung terlebih agenda yang menunggu untuk kulakukan. Aku lebih memilih mengerjakan kembali paperwork. Hingga pagi benar-benar menyapa. Mungkin aku harus membuat sarapan pagi untuk Amelia. Tapi, sarapan apa?
Akupun keluar dari ruangan kerja dan mendapati Amelia sedang kebingungan. Ia terlihat seperti anak yang hilang.
"Dudette! Mornin'!" Sapaku
"Ah, Alfred… selamat pagi juga! Umm… aku hilang dirumahmu, hehe. Mungkin aku boleh pinjam dapurmu untuk membuat sarapan?" Ia masih menguap
"Tapi… apa tak apa-apa, kau kan tamuku. Maksudku, aku ingin membuatkannya untukmu"
"Jangan memikirkannya, aku memang sudah biasa membuat sarapan sendiri. Kujamin kau akan menyukainya!" Ia tersenyum dengan semangat
"U…uhh, is that so?" Aku merasakan mukaku memanas
"Yup!"
Aku menunjukkan dimana dapurnya. Saat pertama kali melihat dapurku, ia seperti patung dan tak bergerak sedikitpun.
"Dudette?" kucolek lengannya
"AH! Ma…maaf Alfred! Da…dapurmu benar-benar lengkap! Almarhum ibuku pasti senang dan dia akan membuat banyak kue jika melihat ini!" Ia langsung masuk
"Umm… ba...baiklah dan umm… kita sarapan apa?"
"Ah ya, kau punya sirup maple?"
Aku mengangguk. Aku mengeluarkan pengocok telur, Amelia mengeluarkan beberapa telur dan susu. Kemudian aku mengambil penggorengan serta terigu. Kami mulai bekerja sama membuat pancake. Aku menuangkan susu sedangkan Amelia memisahkan kuning telur dari putihnya, kemudian ia masukkan ke dalam susu. Aku mengocok telur dengan susu sedangkan ia mengocok putih telurnya. Kemudian terigu masuk, saat inilah aku mulai usil. Terigu kuulaskan ke pipi Amelia sehingga seperti kucing.
"AHAHAHA! Look! Mukamu seperti kucing!" sungguh, mukanya terlihat lucu!
"Hmmp!" Ia manyun, tapi kemudian membalasnya dengan mengulaskan terigu diatas mulutku
"Ahahahaha! Kau punya kumis! Ahahaha!"
"Huh! Kubalas!"
"Hei!"
"AHAHAHA"
"Nggak lucuuuu!"
"Tapi lucu!"
"Rasakan ini!"
"Hei!"
"ahahahaha!"
Pagi ini benar-benar indah, aku akhirnya melihat Amelia tertawa lepas. Dan kami akhirnya memasak adonan pancake itu. Aku mengambil piring serta sirup maple (ah, Thanks Canada!) untuk bersiap-siap. Amelia kemudian menaruh pancake yang matang pada piring. Kamipun duduk dan aku menuangkan sirup pemberian saudaraku, Canada.
Kami makan dengan tenang, walaupun aku diam-diam menatap wajah Amelia. Wajahnya masih ada terigunya, aku terkikik geli. Setelah selesai kami mengambil peralatan kotor untuk dicuci, saat mengambil piring tak sengaja tanganku menyentuh tangannya juga.
"Ma…maaf" Amelia menarik tangannya dengan cepat
"Tidak apa-apa, hehe" duh, mukaku memanas lagi
Sekarang yang kami lakukan mencuci peralatan. Amelia bagian mencuci sedangkan aku mengeringkannya. Padahal ada mesin khusus pencuci tapi, tak apalah sesekali aku bekerja. Lagipula tak ada salahnya kan berbeda dari hari biasanya? Oh, peralatan terakhir berupa piring telah kulap. Itu artinya sesi mencuci ini sudah selesai.
"Ah, akhirnya selesai dan selanjutnya mengerjakan paperwork! Oh, nanti kita ke apartemenmu lagi, ya!" Aku menyeka keringat
"Kerumahku untuk apa?" Ia menatapku
"Duh, tentu saja mengambil beberapa baju"
"Tunggu, tunggu, tunggu! Mengambil?"
"Yup! Karena kau akan tinggal disini mulai hari ini!"
"EHHH?"
"Ta…tapi…"
"Shhh! No comment and I didn't take any objection!"
Aku langsung meninggalkan Amelia menuju ruang kerja. Tentu saja untu mengerjakan sisa paperworknya. Aku bisa melihat Amelia menghela nafas panjang dan entah bergumam apa. Tapi yang pasti, ia cukup imut kalau kesal. Amelia berhenti mengomel dan ia malah berlari menghampiriku.
"Alfred, kau punya ruang perpustakaan?" tanyanya
"Hmm… tentu, tapi penuh sama hal-hal menyebalkan seperti cerita membosankan tentang masa lalu… Lalu hitungan rumit dan sejenisnya" lebih tepatnya aku tak mau dia melihat lukisanku dengan Britain. Ayolah, kau pasti aneh melihat lukisan berumur ratusan tahun tentang dirimu masih kecil. Aku adalah personifikasi, ingat?
"Alfred… cerita membosankan tentang masa lalu itu namanya sejarah"
Aku terdiam karena hal itu sama dengan yang dikatakan oleh Britain, "Yah, aku tahu hal itu, tapi kenapa sejarah selalu ada aku tak pernah mengerti. Jika sejarah ada, pasti hanya mengingat tentang masa lalu dan artinya… kita tak maju, kan?" aku berbohong, bukan seperti ini. Aku tak pernah ingin melupakan masa lalu, terutama saat merasakan manisnya kebebasan
Ia memegang kepalaku dan mengarahkan mukaku sehingga kami berdua sangat dekat.
"Dengarkan aku, Mr. Alfred F. Jones the Hero! Kita mengingat masa lalu bukan tak bisa maju, kita mengingat masa lalu agar bisa maju! Apa kau tak ingat bagaimana semua negara melihat masa lalu America yang berhasil merdeka membuat mereka melakukan perubahan! Apa tak ingat revolusi Prancis, Industri dan revolusi negara lainnya? Bukankah Amerika menunjukkan apa arti Justice, Freedom and Liberty sebenarnya?"
"U…uh yah, ahahaha silly me!"
Jadilah aku menunjukkan dimana perpusatakaan. Aku menelan ludah, semoga ia tidak melihat hal-hal lainnya.
(Sementara itu di Birmingham Palace, UK)
Seseorang berambut pirang dengan kesalnya mengeluarkan bermacam-macam kata-kata kasar yang bisa diingatnya. Kedua bola mata hijaunya memancarkan rasa kekesalan yang tinggi. Ia tahu bahwa mantan adiknya (ia tak mau mengatakan mantan jajahan) sedang mengalami masalah pribadi. Apalagi bosnya selalu meneleponnya dan ia bersyukur si bos tak menelepon ratunya.
"Oh hi! Sorry, I'm not here! I'm busy saving people because I'm the hero! Maybe next call, 'kay? Or maybe a message fo' a hero? HAHAHAHA" hanya kotak suara yang terdengar
"THAT BLOODY GIT!" orang itu berteriak dengan kesal, membuat orang-orang yang ada di gedung merinding
Jika sudah benar-benar keterlaluan, mungkin America akan mengalami masalah bukan hanya dengan negara-negara terdekatnya, mungkin ke tingkat UN. Pastinya ada beberapa yang marah, sudah cukup pemerintahnya membuat negara lain marah. Sekarang, ia membuat masalah bagi dirinya sendiri.
"No, UN jangan dilibatkan dulu… Biarkan aku dan Canada yang menanganinya, tapi sepertinya France bisa membantu. Tch, kenapa bloody frog itu harus ada di daftar juga? Ah ya, kudengar ia pernah menyukai manusia juga" Laki-laki tadi langsung bergegas terbang menuju rumah si mantan musuh
Time skip ke rumah France
TOK TOK
"Oi, Bloody frog! Kau ada di rumah kan? Biarkan aku masuk! Ada urusan penting!" England menatap rumah bergaya Eropa pada umumnya terkecuali sepanjang jalan menuju pintu masuk terdapat bermacam-macam tanaman bunga
Terdengar dari dalam seseorang berjalan dengan bergumam memakai bahasa Prancis. England mendengarnya sedikit sebal. Pasti orang ini sedang malas dan lebih menikmati segelas wine merah terbaik miliknya(katanya). Pintu terbuka, terlihat orang yang lebih tua mempunyai rambut pirang sebahu.
"Oh, Hai Angleterre! Senang melihatmu, tea-sucker!" wajahnya berubah menjadi kesal
"Haha, nice greeting, Frog" negara satunya menanggapi dengan sarkasme
"Ah, sedang butuh apa? Kalau kau butuh wine, ada banyak dan jangan sampai mabuk serta hangover dirumahku. Oui?"
"Bukan itu, bodoh!" England melihat kanan-kiri serta atas dan belakang dirinya
"Lalu?"
"Biarkan aku masuk dulu"
"Baik… baik! Tak usah memaksaku"
"Keluar dari mulutmu, kata-kata tadi jadi ambigu"
"Ohonhonhonhonhon~"
"SHUT UP , BLOODY FROG!"
Mereka masuk ke dalam rumah si orang Prancis. England dan France duduk di ruang tamu. Mereka hanya terdiam dan hal yang dilakukan France meminta maid dirumahnya untuk membawakan jamuan. Maid itu kembali dengan teh, wine, scone serta bermacam-macam kue. England menghela nafas, France memegang gelas yang sedang dituangkan wine oleh maid tadi.
Maid tadi kemudian menuangkan teh ke cangkir yang tersedia. Maid itu mengangkat gula, tapi England memberi aba-aba dengan tangannya agar tidak diberikan. Maid tadi mengangkat sebuah wadah berisi susu krimer dan England menolaknya lagi. Setelah dirasa tepat waktunya, England mulai membuat duduknya merasa nyaman.
"Well, ini masalah America…" England meminum tehnya
"Hmm? Kenapa dengan Amerique? Ada hal yang bermasalah? Kalau tentang agen itu, kujamin ia pasti langsung berubah moodnya seperti gadis PMS" France menggoyangkan gelas berisi wine-nya
"Bukan, Frog!"
"Lalu?"
"Umm… Ini, dia terlibat dengan hal pribadi…"
(Rumah Alfred dan Amelia POV)
Sekarang aku sudah sampai didepan perpustakaan milik Alfred. Wah, rumahnya benar-benar luas sekali dan lengkap. Aku harap ia punya buku-buku bagus tentang apaun itu, walaupun tentang arkeologi yang paling kusuka. Aku masuk dan mendapati rak penuh dengan buku. Buku disini terlihat sangat tua tapi aku percaya bahwa masih lengkap.
Aku masuk kedalam mencari beberapa buku yang menurutku cukup menarik. Hingga aku melewati sebuah lukisan tua. Lukisan seseorang memakai baju continental army yang anehnya berwajah mirip dengan Alfred. Ia memang memakai seragam para prajurit biasa, tapi melihat sebuah emblem khusus membuat mataku menyipit. Kuingat-ingat lagi, untuk apa ada benda itu dan mataku melebar karena mengingat sesuatu.
Itu menunjukkan bahwa orang tersebut adalah panglima tertinggi di continental army. Walaupun ia tak memakai seragam panglima tertinggi, tetap saja itu bukti nyata. Aku melihat dengan jelas bahwa laki-laki itu adalah Alfred. Ciri-ciri wajah, warna rambut hingga gaya rambut yang sama membuatku tak salah lagi. Tapi, tak mungkin ia hidup hingga ratusan tahun lamanya, bukan?
Aku menggelengkan kepala, pasti itu adalah anggota keluarganya dan Alfred adalah keturunannya. Dan mataku berhenti pada rambut mencuat melawan semua rambutnya. Itu adalah cowlick yang sama dengan Alfred. Aku mulai mencari kemungkinan yang lain. Apakah ia bukan makhluk bumi? Alien? Tidak mungkin, hal itu tidak masuk akal. Makhluk supranatural? Vampir? Werewolves atau bahkan succubus (mengingat wajahnya yang yah, charming) dan itu lebih tak masuk akal.
Aku sudah memutuskan akan bertanya banyak hal hari ini. Bahkan sampai meminta penjelasan sedetil-detilnya pada Alfred. Atau mungkin dimulai dari sekarang? Oh, aku baru ingat jam saku itu. Aku kembali ke kamar(untung tak tersesat) dan mengambil kotak tersebut. Aku ingin memberikannya hari ini karena aku lupa memberikannya kemarin. Aku mencari Alfred di rumah ini. Aku memutari semua rumah dan hampir tersesat lagi. Hingga aku melewati sebuah ruangan dan suara Alfred terdengar didalamnya.
"Ah, ya bos… masalah agen itu, aku kemarin bertemu Russia tapi ia malah tidak serius menanggapiku"
Aku mulai mendengarkan pembicaraannya lebih dekat
"Aku tahu, tapi melihat dia seperti itu mungkin Cold War bukan hal yang aneh kalau terjadi lagi, bukan?"
Kedua alisku mulai bertautan
"Aku lebih suka kalau ada agenku yang membunuhnya saja secara diam-diam, walaupun aku tahu akan terjadi apa nantinya"
Cold War? Russia? Agen? Kenapa Alfred mengatakan hal itu seolah masalah pribadinya?
"Nah, aku tak peduli kalau kita memang benar-benar tak ikut olimpiade musim dingin nanti di Russia… tapi mengingat rakyatku, pasti mereka kecewa. Aku tak mau memikirkan tentang hal itu"
Hah? Dia bilang "rakyatku"? Memangnya siapa dia? Apa hubungannya terhadap negara Amerika Serikat ini?
"Nah, whatever floats your boat, Prez!"
Aku sibuk berikir, tanpa menyadari kalau Alfred membuka pintu dan seperti pertama kali aku bertemu. Mukaku terkena(?) pintu yang dibuka dan berakhir jatuh dengan posisi duduk. Aku mengusap bagian kau-tahu dan keheningan awkward terjadi diantara kami. Walaupun saat aku melihat muka Alfred, ia menunjukkan wajah terkejut.
"Amelia… kau mendengar semuanya?" suaranya tenang berbeda dari biasanya
Aku menelan ludah dan mengangguk pelan. Walaupun masih merasa sakit, kali ini aku berdiri sendiri tanpa dibantu Alfred. Karena ia lebih sibuk memandang tajam tepat ke arahku. Aku mundur satu langkah dan menunduk.
"Lalu?"
Aku masih tak berani angkat suara. Kotak hadiah kugenggam dengan erat. Perasaanku sekarang bercampur aduk antara penasaran, bingung, ketakutan dan tak percaya. Aku tak mau melihat mata cobalt miliknya. Aku merasa takut.
"Jawab aku, Amelia"
Tidak, ini bukan Alfred yang kukenal. Suaranya serta aura miliknya terasa berbeda dari biasanya. Ini bukan Alfred, tapi siapa? Alfred yang kutahu memiiki suara layaknya anak SMA yang bersemangat. Terdengar cempreng penuh semangat, bukan pelan tapi serius seperti ini.
Aku menutup mata, tapi selanjutnya aku didorong ke dinding terdekat. Kedua tanganku dipegang dengan erat olehnya. Aku benar-benar terpojok. Kemudian dengan cepat kedua tanganku ditaruh dibelakang seperti menahan penjahat. Tangannya yang lain mengangkat daguku. Aku akhirnya bisa melihat wajah Alfred dengan jelas.
"Amelia, apa aku mendengar semua hal tadi didalam ruang kerjaku? Mendengar pembicaraanku dengan Presiden?" Ia justru tersenyum menyeringai, bukan senyuman seperti biasa
"A…aku, aku…" tanganku mulai dingin
"Oho, our little American is scared! Katakan saja…"
"Be…benar, aku mendengar beberapa hal te…tentang Russia, agen, olimpiade musim dingin dan "rakyatku" Aku ha…hanya mendengar hal itu"
Mendengar hal itu Alfred melepas tanganku, tanpa berkata apa-apa ia meninggalkanku entah kemana. Aku masih syok dan takut, Alfred berbeda dari biasanya. Aku tak sadar kalau bibirku mulai bergetar dan air mata benar-benar jatuh. Mungkinkah Alfred marah? Tapi, kenapa marahnya sangat menyeramkan? Aku hanya berlari menuju kamarku. Tapi terhenti karena baru menyadari kalau kotak hadiah itu hilang dari tanganku dan mataku melihat makhluk berwarna keabu-abuan. Makhluk itu mendekatiku, ia lebih pendek dariku.
Saat mataku melihat jelas makhluk itu, terlihat ciri-ciri yang sama dengan alien dalam film.
"A…Alien? Alien asli? Alfred punya alien? WHAAAAATTTTT? !" Aku memegang perutku yang mulai sakit
"Fucking" Alien itu bisa bicara?
"Aku tak mengerti, tapi kenapa kau bicara kasar?"
"Kau membuat Alfred marah" Ternyata dia bisa bicara bahasa manusia dengan fasih
"A…apa? Ta-tapi, ah… aku"
"Kau pernah ditangkap Pict?"
"U…uh apa itu? Aku tak mengerti?"
Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang.
"Tony, mau bagaimanapun… semua manusia tak akan mengingat kejadian itu! Bahkan kami saja tak mengingat semuanya, hanya beberapa saja" hanya suaranya yang kudengar
"Fucking" dan alien itu kembali menggunakan kata-kata kasarnya lagi
"Aku tak mengerti dengan semua ini! alien dan…dan… kenapa Alfred berkata manusia? Bukankah seharusnya "orang" karena kita sama-sama manusia…" Aku meracau sendiri
"Kau tak perlu tahu, ada beberapa hal di dunia ini yang tak perlu diketahui semuanya. Ada beberapa rahasia yang memang diharuskan negara yang tahu, tapi agen itu memang menyebalkan. Bukan manusia biasa seperti kalian yang tak tahu apa-apa dan hanya membuat kami tersiksa sejak dulu"
"Alfred…"
…
Aku sekarang berada di kamar yang tadi kupakai untuk tidur, sedang memikirkan tentang Alfred. Kenapa ia tiba-tiba jadi dingin seperti itu? Lalu alien itu kenapa ada disini? Apa maksudnya ada beberapa rahasia? Kenapa ia berkata manusia biasa membuat "kami" tersiksa? Pertanyaan apa, mengapa dan kenapa memenuhi otakku.
Kutatap kamar yang kupakai, kulihat semua bagian hingga ke sudut. Aku bisa merasakan sedikit sentuhan gaya Eropa di rumah ini. Walaupun gaya Amerika sudah membuat sentuhan itu menjadi sedikit pudar. Aku juga baru sadar ada jendela. Kubuka jendela yang tertutup, sekarang aku bisa melihat taman. Aku tak menyangka rumah ini luas sekali. Aku melihat ada kucing, mungkin itulah binatang peliharaan yang sering Alfred katakan. Aku melihat air mancur juga.
"Indah" pikirku
TOK TOK
Pintu kamarku diketuk dengan keras. Aku langsung menuju pintu tanpa menutup jendela terlebih dahulu. Saat kubuka, kudapati Alfred memasang wajah bersalah. Sekarang ditangannya terdapat jam saku hadiah itu. Aku kebingungan, Alfred tanpa berkomentar memasuki kamar tidur. Ia awalnya ingin duduk di tempat tidur tak jadi dan berjalan menuju jendela.
Ia menutup jendela sambil menghela nafas. Aku melihat ia sedikit menggerutu dengan pelan. Kemudian duduk di tempat tidur, ia menepuk tempat kosong disampingnya menandakan bahwa aku harus duduk disampingnya. Aku mengikuti apa yang diinginkannya.
"Uhh… Ini rumit dan maaf soal tadi, ya" Ia membuka jam saku itu, ternyata masih hidup dan menunjukkan waktu yang sama dengan jam dinding di kamar itu
"T…tidak apa-apa, aku tahu aku yang salah malah menguping seperti itu" Aku tak berani melihat Alfred
"Nama asliku United States of America"
"Hah?"
"Ya, Nama asliku United States of America. Negara yang kau pijak ini, kau dan semua yang berhubungan dengan Amerika itu artinya tentang diriku"
"Al… aku tak mengerti…"
"Kau tahu Uncle Sam?"
Aku mengangguk
"Ia terinspirasi olehku, malah sebenarnya aku tapi lebih dituakan dan aku sebenarnya tak suka desainnya, haha"
"Jadi… kau itu?"
"Well, It's nice to meet you, Amelia. In fron of you is a personification of this country, United States of America" Ia tersenyum
"I…ini terdengar gila, bagaimana bisa negara jalan bahkan makan?"
"aku tak tahu tapi diluar sana ada banyak yang seperti aku"
Aku terdiam, lebih tepatnya seperti ikan mati membuka mulut. Alfred melihat jam sakunya.
"Yah, aku tahu tak masuk akal. Tapi, bolehkah aku bertanya?" Alf-err maksudku personifikasi USA membuka dan menutup jam saku pemberianku
"Iya, Al?" Oh, ini benar-benar terasa canggung
"Darimana kau dapat jam saku ini?"
Mulutku sudah terbuka hendak menjawab. Tapi terpotong oleh knob pintu yang diputar. Perhatian kami langsung tertuju pada pintu itu dan sepertinya personifikasi USA terlihat gelisah. Pintu perlahan-lahan terbuka dan...
Author : Cliffhanger! Biar greget! faktanya : Tony sebenernya bisa bahasa manusia :3
Japan : E…eto, tadi katanya mau pengakuan suatu hal?
Author : Oh ya! Kalau pengen tahu (dan pastinya nggak ada yang mau tau) fic ini terinspirasi oleh strip komik Himaruya yang menceritakan seseorang prajurit Prancis ketemu France dan Lisa yang dipercaya sebagai "reinkarnasi" Jeanne d' Arc oleh France juga!
Japan : ah, ada yang review
Author : Mana? Mana?
Megumi Yoora : Saya suka kalo ada yang ngericuh! Biar nggak sepi XD
Ini udah dikasih :D
*ngebayangin* nggak kuat, STAHP!
Saya nggak tau dan nggak mau tau #ditampar
Nggak apa-apa, saya suka kok :3
PS : suka sama SnK, ya? Saya baru baca beberapa komiknya, masih baru sama SnK :D
OpiAS : ah, makasih duh jadi ngerepotin… nggak apa-apa sih jadi silent reader, saya suka kalau ada yang baca
Nonton film? Ayo kita buat filmnya! XD
Nggak apa-apa, saya ngerasa seneng sama fic ini soalnya dari hati terdalam (cielah bahasanya) dan silahkan baca profil saya "I just write what I want to write. I write what amuses me. It's totally for myself." Kata Mrs. Rowling :D
Ryu3oktober : AKHIRNYA DIKAU MUNCULLL!
HAH? ! kok gitu sih T_T berarti nungguin lulus baru bisa dong? ASEEEMMM!
Jangan begituuuu! Jangan tinggalkan dakuuuuu! #ditusuk
Noir-Alvarez : Hai juga! :3
Hehehe, saya juga suka Sweden dan Germany (f-yeah! Saya suka negara-negara "terkuat" dimasanya! Sweden = Northern Lion, Germany = WW2 dan America = Superpower saat ini)
typo pasti selalu kelewat, padahal udah dibaca berkali-kali dan ini kecepetan ya? Σ(°Д°;
Favorit? UWAAAHHHHH MAKASIH! *Langsung lompat-lompat, muter-muterin monas*
Jangan cape ngingetin saya ya?
Author : Hehe, ada adegan yang ehemnya (?) disini, semoga sadar XD
Japan : Apa nanti America-san akan menyadari kalau dia salah, author-chan?
Author : Mungkin, tapi kita liat aja~ RnR, Bitte~
