mingyu kenapa gak jujur aja sih?! kenapa mereka gak saling jujur?! kenapa wonu malah ngasih tau sohyun?! kenapa juga harus sohyun?! Karena authornya pengen gitu. Hahaha. Agak maksa, sorry ya ;)
waooww UN makanan apa ituh..? UN adalah makanan anak2 tingkat terakhir di jenjang sekolah tiap tahunnya XD ciee hati2 yang tahun depan UN~/sombongkrnUNdahslese
Kencan nya yang romantis ya? aku gak yakin..
yaahh kok pendek? Aha… gitu
INI BENERAN WONWOO MAU MUTUSIN MINGYU DULUAN? Emangnya Wonwoo mampu? Dia juga mulai cintakan sama Mingyu? Aku gak tauuu…
duh degdegan.. apa yg akan terjadi nanti yah? Apa yah… aku juga degdegan/terusminumdegan
Seohyun-ini seohyun SNSD ato siapa? Bukan dari girlband manapun, asal nulis aja Seohyun gitu
Jadi di hari ke tujuh di mingyu bakla putusin wonwoo atau kaga? Coba tebak
taman bermain? lotte world? dufan? Mana saja boleh lah, aku gak mau nyebut merk wkwkwk
hua kenapa aku nyesek ya baca percakapan wonu sama seohyun? Mungkin kamu terlalu baper wkwkw
Jangan di sisipin hal hal gak masuk akal kaya wonu yang ngumpet di loker ! Kirain karena FF ini level penulisan kamu udah naik kelas pffttthh.. tapi masih aja ada nyelenehnya. Salahkan Jin BTS pas di MV Boy In Luv. Gara2 dia aku dapet ide gitu hahahaha. Mas ku yg ganteng itu emang… nah. Terserah aku mau masukin yg super nyeleneh. Ff ku. Kalau gak seneng yaudah. Dibawa nyante ae
udah ngaku ajh lo gyu klo udah terlanjur cinta sma wonu jdi gk inget sma taruhannya yakan ? iya Gyu. Ngaku sama Wonu sana. (GYU : LU YANG BUAT CERITANYA/mad) :D
Kak, kamu paling muda di kelas ya? Atau bahkan dari semua angkatan kelas 12 di sekolah mu? Iya aku maknae dari semua kelas 12/kedip2aegyo/ jangan muntah haha
ini sampe day 7nya doang ? atau lebih thor ? sampe day 7. Ch depan final
Thanks yang udah nungguin saya update. Enjoy!
.
Seven Days and Fall in Love
Meanie Couple—Seventeen
Coffey Milk
.
.
.
Day 6
Hati-hati dengan typo ya :3
Mingyu menyeringai lebar, di hadapannya kini terdapat Wonwoo yang masih tertidur pulas dengan posenya yang luar biasa.
"Maaf, dia belum bangun. Padahal, alarmnya sudah berbunyi sejak tadi." itu yang dikatakan ibunya Wonwoo padanya.
Mingyu tersenyum tipis, apa tadi malam mereka pulang terlalu larut? Mingyu rasa tidak.
Tapi, pemuda itu tidur layaknya belum tidur selama satu minggu.
Mingyu duduk di kasur Wonwoo, menghadap kearah kekasihnya itu. Ia mendekat, wajahnya hampir menempel pada wajah Wonwoo.
"Wonwoo—" panggilnya pelan.
"Tidurmu lelap sekali, kau tidur jam berapa tadi malam hmm?" tanyanya, ia mengelus pipi Wonwoo dan mengecupnya, lalu mengelus bibir Wonwoo dan menciumnya.
"Wonwoo—ayo bangun—" ucapnya di sela ciumannya.
Wonwoo bergerak tidak nyaman dan berbalik memunggungi Mingyu. Mingyu terkekeh.
.
Wonwoo merasakan seorang mengecup pipinya, ia mengernyit samar, siapa?
Ia berpura-pura belum terbangun, orang itu mengelus bibirnya dan menciumnya. Wonwoo merasakan dadanya berdentum keras.
"Wonwoo—ayo bangun—" itu Mingyu.
Ia berpura-pura bergerak tidak nyaman dan memunggungi Mingyu untuk menutupi wajahnya yang memerah hebat.
Apa yang Mingyu lakukan disini?
Wonwoo mencoba mengingat. Dia mencoba mengingat. Dan ia ingat. Mingyu mengajaknya kencan hari ini dan—
Dia bahkan belum bangun.
Wonwoo tidak tahu harus bagaimana, apa dia harus segera terbangun? Atau pura-pura tidur lagi?
Namun, sebelum sempat ia memilih dari kedua pilihan itu, Mingyu menariknya dalam pelukan, membawanya mendekat, mencium bibirnya cepat.
"Aku tahu kau terbangun." Ucap Mingyu dan memeluknya lebih kuat.
Wonwoo menyerah dan membuka mata, wajahnya memerah dan Mingyu tertawa melihat hal itu.
"Le—lepaskan aku.." ucap Wonwoo dengan suara khas orang bangun tidur, suaranya yang dalam semakin dalam.
"Kau bilang kau akan bangun cepat," Ucap Mingyu, "lihat sekarang."
Wonwoo memberontak dalam pelukan itu, "Iya—maaf—sekarang lepaskan aku biar aku bersiap—"
Mingyu tersenyum, ia membawa Wonwoo turun dari kasur dan masuk kedalam kamar mandi. Wonwoo panik.
"He—hey! Apa yang kau lakukan!" pekiknya.
"Aku bantu kau bersiap, sayang." Ucap Mingyu.
"Ti—tidak perlu! Aku bisa sendiri!" seru Wonwoo makin panik saat melihat Mingyu mengunci pintu kamar mandi.
"Kau sudah mandi sebelum tidur tadi malam bukan?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengangguk cepat, tentu saja sudah.
"Baguslah kalau begitu." Ia lalu menurunkan Wonwoo di depan wastafel dan menyalakan keran air lalu membasuh wajah Wonwoo.
"Aku bisa sendiri—" ucap Wonwoo, Mingyu mengangguk dan membiarkan Wonwoo membasuh wajahnya sementara ia mengambil sikat gigi pemuda itu dan mengoleskannya dengan pasta gigi.
"Nah,"
"Thanks." Ucap Wonwoo lalu segera menyikat giginya.
Mingyu tertawa lalu keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju lemari, membukanya dan memilih-milih baju Wonwoo disana.
Wonwoo keluar dari kamar mandi dan Mingyu segera menyodorkannya pakaian yang harus di pakai Wonwoo yang ia pilih.
Celana jeans dan kaos hitam lengan panjang.
Wonwoo menatap Mingyu dan menggesernya menjauhi lemari lalu mengaduk isi lemarinya dan mengambil sweater berwarna abu-abu.
Ia lalu menatap Mingyu dan mendesis, "Keluar. Aku mau ganti baju."
Mingyu mengangguk dan segera keluar dari kamar Wonwoo. Setelah beberapa menit, Wonwoo keluar dengan memakai sweater berwarna abu-abu, celana jeans dan tas kecil dipunggungnya.
Mingyu melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengernyit heran saat melihat sweater yang dipakai Wonwoo terlihat kebesaran dan Wonwoo menarik ujung lengan sweaternya hingga menutup telapak tangannya.
"Kenapa kau tidak memakai baju yang aku pilih?" tanya Mingyu.
"Aku lebih suka ini." Jawab Wonwoo.
"Maksudmu baju yang lebih besar dari ukuran aslimu?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengangguk.
Mingyu terdiam, di perhatikannya lagi penampilan Wonwoo. Ia akui—Wonwoo cukup menggemaskan.
"Apakah aneh?" tanya Wonwoo.
Mingyu menggeleng dan tersenyum, "Aku pikir, kapan-kapan aku akan menyuruhmu memakai baju milikku."
Wonwoo tertawa, lalu turun ke bawah.
"Kau sudah sarapan?" tanya Wonwoo.
"Sudah, sejam yang lalu." Jawab Mingyu.
"Mau sarapan lagi?" tanya Wonwoo.
"Tidak masalah." Jawab Mingyu. Keduanya lalu berjalan ke dapur, ibu Wonwoo sudah menyiapkan pancake untu mereka dan mereka segera menyantapnya. Setelah selesai, keduanya pun pamit pergi.
"Maaf ya, aku masih tidur tadi." ucap Wonwoo sambil menerima helm yang diberikan Mingyu dan memakainya.
"No problem, senang melihatmu terlihat imut waktu tidur." Mingyu terkekeh.
Wonwoo memukulnya pelan lalu naik keatas motor Mingyu dan lalu Mingyu pun menyalakan motornya dan pergi dari wilayah rumah Wonwoo.
Mereka tiba di taman bermain dengan bermacam wahana permainan didalamnya. Mingyu menatap Wonwoo yang tampak terlihat antusias di hadapannya. Mingyu tersenyum tipis.
"Kau terlihat senang sekali." Ucap Mingyu.
"Aku suka taman bermain." Balas Wonwoo.
Mingyu tersenyum, "Oh, kau pernah kesini?" guraunya.
Wonwoo mengangguk, "Ya, bersama keluargaku."
Mingyu mengangguk mengerti, Wonwoo melihat sekitarnya dengan mata berbinar.
"Mau naik yang mana dulu?" tanya Mingyu.
Wonwoo menoleh, mengerjap dua kali lalu menjawab, "Tidak apa jika kita naik yang cukup ekstrem?" jawabannya dengan tanda tanya.
Mingyu mengangguk, "Tak masalah, apa? Roller coaster? Gyro drop?"
"Roller coaster?"
Mingyu mengangguk, ia lalu menggenggam tangan Wonwoo dan keduanya berjalan menuju wahana itu.
"Hei—hei. Lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri." Ucap Wonwoo, pipinya menghangat saat merasakan tangan itu mengenggamnya erat.
"Tidak apa, dari pada kau menjadi anak hilang." Ucapnya lalu tertawa.
Wonwoo meremas tangan Mingyu kesal, "Aku tidak akan menjadi anak hilang."
"Awww~" Mingyu mengaduh, "kekuatan tanganmu tidak buruk juga." Keluhnya.
"Thanks. Jadi, bisa lepaskan?" tanya Wonwoo.
"Tidak." Jawab Mingyu, semakin mengeratkan genggaman tangannya saat mereka mengantri giliran.
Wonwoo terdiam, hingga mereka mendapatkan tempat duduk dan memasang pengaman barulah dia membuka mulut dan berbicara sambil menyeringai lebar.
"Jangan bilang kau menggenggam tanganku karena kau takut." Ucap Wonwoo.
Mingyu melongo, lalu tergelak, "Tidak kok."
Wonwoo baru saja ingin membalas jika saja wahana itu tidak mulai bergerak, ia memilih diam dan tersenyum getir. Antara takut tapi juga sangat gembira.
Awalnya bergerak pelan, lalu bergerak cepat dan cukup cepat. Wonwoo berteriak histeris seperti penumpang lainnya, sedangkan Mingyu malah memajamkan matanya rapat-rapat dan tanpa sadar menggenggam tangan Wonwoo erat-erat.
Wonwoo tersentak. Ia menghentikan teriakannya, menatap tangan mereka yang bertautan. Ia lalu menatap Mingyu yang masih memajamkan mata dan tertawa kecil.
Mendengar suara tawa, Mingyu membuka mata, Wonwoo tersenyum geli kearahnya. Mingyu salah tingkah.
"Mingyu," panggilnya, saat ini mereka berada di jalur cukup aman, ia tersenyum dan balas menggenggam tangan Mingyu erat-erat bahkan dengan kedua tangannya.
Mingyu menatapnya, ketakutan masih terpancar dari wajahnya.
"Tidak apa, aku disini," lirih Wonwoo, tersenyum, "jangan pejamkan matamu, keluarkan suaramu, teriakkan ketakutanmu, itu… akan membuatmu lebih baik, kau tahu? Percayalah. Dari pada berdiam di—WAAAAHHH!" ucapnya lalu berteriak histeris lagi saat wahana itu bergerak naik dengan cepat, memutar, dan turun di jalur berbentuk melingkar.
Mingyu terpaku, ia menatap Wonwoo. Wonwoo meliriknya dan wajahnya memerah. Mingyu tersenyum. Rasa cemas dan takut yang ia rasakan hilang, walau belum semuanya.
Lalu, kemudian ia ikut berteriak sesuai saran kekasihnya.
^^0^^
Mereka melanjutkan dengan menaiki wahana yang lain secara acak dengan menyisakan feriswheel sebagai wahana yang akan terakhir kali mereka naiki. Tawa dan senyum menghiasi wajah mereka, tak lupa pula dengan tangan mereka yang saling bertaut dengan erat seolah tak terpisahkan.
Hari sudah semakin siang dan mereka menghentikan mencoba permainan untuk mengisi perut di sebuah café disana. Memesan dua porsi pasta dengan saus bolognaisse juga segelas strawberry milkshake untuk Wonwoo dan segelas americano untuk Mingyu. Keduanya mengobrol di sela santapan mereka, sambil mengistirahatkan tubuh mereka yang cukup lelah.
"Setelah ini, apa lagi?" tanya Wonwoo, lalu menyeruput strawberry milkshakenya.
Mingyu menelan pasta yang sudah ia kunyah di mulutnya dan menjawab, "Apapun boleh."
Wonwoo tertawa kecil, "Tidak takut lagi kan?"
Mingyu tersenyum malu, keduanya melanjutkan makan dan Mingyu diam-diam memperhatikan sosok Wonwoo dihadapannya. Sweater kebesaran dengan lengan panjang yang menutupi tangan, rambut hitam yang sedikit berantakan karena mereka menaiki wahana yang membuat mereka jungkir balik, bibir merah basah karena ia baru saja menjilatnya untuk menghilangkan saus yang menempel di bibir, juga mata yang kini terlihat jelas bentuk tajamnya karena pemuda itu tidak memakai kacamata bulatnya.
"Kau bilang, kau tidak ingin orang lain melihatmu tanpa kacamata, lalu kenapa sekarang kau tidak memakai kacamatamu?" tanya Mingyu setelah pasta mereka habis.
Wonwoo meletakkan sumpit diatas piring dengan rapi, lalu mengambil tisu dan mengusap mulutnya sambil melirik kearah Mingyu. Mingyu hampir terbatuk di sela minumnya saat melihat hal itu. Wonwoo terlihat seolah menggodanya dengan posisi itu, walaupun mungkin tidak begitu.
"Kalau aku menaiki wahana dengan memakai kacamata, kacamataku bisa terlepas begitu saja. Jadi aku berniat tidak memakainya. Lagipula itu kacamata itu cuma untuk fashion merangkap kacamata baca." Terang Wonwoo.
Mingyu mengangguk mengerti, "Begitu."
"Ada lagi." ucap Wonwoo.
Mingyu menaikkan alisnya, "Apa?"
"Aku hanya denganmu, jadi hanya kau yang benar-benar akan melihatku, sedangkan yang lain hanya melihat sekilas. Lagipula, mataku tidak terlalu menarik untuk diperha—"
Mulutnya ditahan oleh tangan Mingyu. Mingyu tersenyum, baru kali ini ia mendengar Wonwoo menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sangat panjang. Wonwoo merona sedikit.
"Kau bisa gombal ternyata," Mingyu tertawa kecil, Wonwoo menahan senyum, "dan kau salah," lanjutnya lalu menggeser tempat duduknya hingga berada di samping Wonwoo.
Wonwoo menatap Mingyu dengan bingung, sedangkan pemuda tinggi itu malah menatapnya lekat-lekat sambil menyunggingkan senyum setelah itu mengecup bibir Wonwoo tanpa memejamkan mata. Kedua mata mereka beradu.
"Matamu sungguh menarik," Ucap Mingyu kemudian, ia lalu terdiam sejenak, "aku jadi kepikiran bagaimana jika nanti kita punya anak dengan mata yang sama denganmu dan tubuh sepertiku, kedengarannya awesome. Atau campuran dari kita."
Wonwoo menjitaknya, "Ngawur, mana mungkin."
"Tidak bolehkah jika aku membayangkannya?" tanya Mingyu, raut wajahnya terlihat serius.
Rona merah menjalar di pipi Wonwoo, ia menatap Mingyu tanpa berkedip dan terdiam dengan wajah terlihat bersalah.
"Min-gyu… aku.." Wonwoo merasakan tenggorokannya tercekat.
Mingyu tertawa keras, sebuah kesenangan melihat wajah Wonwoo memelas seperti itu. Tawanya menyebabkan beberapa pengunjung café menatap mereka dengan padangan bertanya sekaligus terganggu dan Wonwoo dengan segera memukul pelan Mingyu, membuat pemuda itu menghentikan tawanya.
"Berisik!" seru Wonwoo dalam bisikan.
Mingyu terkekeh, "Maaf."
Wonwoo merengut, "Menyebalkan." Sungutnya.
"Maaf," ia tertawa lagi, "tapi—kau benar. Mana mungkin itu terjadi. Diantara kita tidak ada yang bisa hamil dan memiliki anak."
Wonwoo diam, menatap Mingyu dengan pandangan kesal. Mingyu menyadari hal itu, akhirnya memilih untuk diam dan selanjutnya hening juga kecanggunggan menyelimuti keduanya.
Wonwoo menghabiskan strawberry milkshakenya sambil membuang muka, tak ingin menatap wajah Mingyu. Mingyu mengetuk-ngetuk meja tak sabar, ia tidak tahan dengan suasana ini.
"Ayo pergi." Ucap Mingyu akhirnya, memaksa Wonwoo untuk berdiri dengan menarik tangannya, lalu menaruh uang tip di meja dan pergi dari café.
Keduanya terdiam, berjalan tak tentu arah. Wonwoo masih saja tidak mengeluarkan suaranya, bahkan saat Mingyu memanggilnya lembut dan bertanya akan kemana mereka berikutnya.
"Wonwoo.." panggil Mingyu.
"….."
Mingyu menghela napas lelah, ia melepaskan pegangan tangan mereka dan keduanya berdiri terdiam diantara banyaknya orang yang lalu lalang. Wonwoo menunduk, sedangkan Mingyu menatapnya.
"Hey…"
Wonwoo berbalik, berjalan cepat meninggalkan Mingyu. Mingyu tersentak, bingung sekaligus tidak tahu harus melakukan apa selain akhirnya ia mengikuti langkah Wonwoo.
"Won! Wait….! Hey..! Wonwoo…" Mingyu mulai menyamakan langkah mereka, Wonwoo hanya meliriknya tajam sambil berjalan lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Kau marah? Ah, aku tak perlu bertanya. Tapi… ugh. Okay, aku minta maaf." Ucap Mingyu menggenggam lengan Wonwoo, berusaha menghentikan langkah Wonwoo, tapi Wonwoo tetap berjalan cepat.
"Wonwoo… aku minta maaf, okay? Aku tadi bercanda—err.." Mingyu memikirkan apa yang harus ia ucapkan, tanpa menyadari Wonwoo memberikan dua lembar tiket pintu masuk Haunted House pada seorang penjaga, ia membelinya beberapa menit yang lalu sebelum ke café dengan alasan mencari toilet.
"Wonwoo—" keduanya memasuki bangunan Haunted House, terdengar bunyi derikan dari pintu yang digeser Wonwoo dan itu membuat Mingyu mulai mennyadari dimana mereka berada.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kita masuk ke sini?" tanya Mingyu panik.
Wonwoo tak menjawab.
"Won… ayo keluar…" lirih Mingyu, mengeratkan genggamannya.
Wonwoo menoleh, tersenyum lebar kearah Mingyu, nyaris seperti seringai dan penerangan jalan yang remang-remang membuat Mingyu meneguk ludah secara kasar. Dia dikerjai, Wonwoo menertawainya.
"Kau bilang kemanapun boleh," Ucap Wonwoo di sela tawanya, "jadi kau tidak bisa menolak." Lanjutnya dan menarik tangan Mingyu untuk terus berjalan melewati lorong remang-remang.
Tak jarang keduanya berteriak ketakutan saat sosok hantu muncul ataupun mengejar mereka, juga saat mereka menemukan sebuah ruangan penuh dengan wanita berambut panjang mengerikan. Atapun tangan-tangan yang siap menjebak kaki dan menariknya masuk untuk di terkam, juga boneka-boneka imut yang penuh dengan darah.
Keduanya keluar dari bangunan itu dengan nafas tersenggal. Wajah Mingyu pucat, sebaliknya Wonwoo sangat puas.
"Asyik bukan?" tanya Wonwoo.
Mingyu diam, berusaha untuk menghilangkan hal-hal mengerikan yang baru saja ia lihat. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Wonwoo. Semakin erat dan semakin kencang. Wonwoo meringis kesakitan.
"Mi-Mingyu… tanganmu…" ringis Wonwoo.
Mingyu tidak mendengar, ia malah memejamkan mata, dan membiarkan Wonwoo mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman tangan Mingyu tanpa Mingyu berniat untuk melepaskannya.
"Mingyu.. lenganku sakit.." lirih Wonwoo menahan derai air mata yang ditahannya, genggaman yang menjadi sebuah cengkraman itu benar-benar kuat, seolah memelintirnya.
Wonwoo berhenti memberontak, kala merasakan hal itu sia-sia. Mingyu membuka mata, menatap Wonwoo yang kini memnunduk dalam, ketakutan. Pandangan Mingyu yang semula kesal kini melunak, ia mengendurkan cengkraman, tapi tetap tidak melepaskan genggaman.
Ia mengelus lengan itu perlahan, membawanya mendekati bibir dan mengecup tangan itu perlahan. Wonwoo mendongak, tertegun menatap apa yang Mingyu lakukan. Matanya yang sudah berkaca-kaca tadi kini air matanya menetes.
"Ma-maafkan aku.." lirih Wonwoo, "aku sudah mengajakmu ke tempat ini padahal aku tahu bahkan dengan film horror kau takut untuk menontonnya.."
"Ssshh.." Mingyu menarik Wonwoo dalam dekapannya, melepaskan genggaman pada lengan agar dia bisa melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Wonwoo untuk semakin mendekat, kemudian mengelus punggung Wonwoo perlahan.
"Tidak apa, lagipula aku sudah mengatakan 'apapun boleh'." Ucap Mingyu.
Wonwoo tersenyum tipis, mengusap air matanya dengan baju Mingyu dibagian bahu, lalu tertawa kecil.
"Maafkan aku juga." Ucap Mingyu.
Wonwoo mengangguk. Keduanya tertawa, "Drama konyol apa ini?" tanyanya.
"Kamu sih, pakai acara nangis segala." Jawab Mingyu enteng, keduanya melepas pelukan.
"Aku tidak menangis, hanya mengeluarkan air mata." Bela Wonwoo.
Mingyu tertawa kecil, "Haha. Nggak usah ngeles."
"Ayo naik gyro drop." Ucap Wonwoo.
"Itu yang terakhir ya?" tanya Mingyu, "aku capek."
Wonwoo terkekeh, "Masih ada feriswheel, Min. Kau yang mengajakku, kau sendiri yang capek."
Mingyu mengeluh, apalagi setelah Wonwoo mengatakan, "Lagipula ada tiga wahana yang belum aku naiki dan aku ingin sekali menaikinya, setelah itu, kita naik feriswheel."
Dan setelah itu mereka melanjutkan rencana Wonwoo untuk menaiki wahana lagi.
.
.
Tiba akhirnya wahana terakhir, feriswheel. Hari sudah semakin sore, bahkan langit menampilkan lembar oranye disana. Feriswheel yang mereka naiki bergerak perlahan-lahan. Keduanya duduk berhadapan dan menatap keindahan daratan dari tempat mereka berada, walaupun hanya berada tidak lebih dari tiga puluh kaki dari tanah.
"Kau tahu? Jika pasangan berciuman saat feriswheel berada di paling puncak, mereka akan bersama selamanya?" tanya Wonwoo dengan gembira.
Mingyu menggeleng, mengernyit heran, "Tidak, itu terdengar konyol." Jawabnya.
Wonwoo mengangguk, "Memang konyol, tapi…"
"Tahu darimana?" tanya Mingyu memotong.
"Novel, novel romantis yang pernah kubaca dulu juga beberapa manga milik sepupuku." Jawab Wonwoo.
"Mau mencobanya?" tanya Mingyu.
"…!" mata Wonwoo melebar, "A-apa?"
"Mau mencobanya? Kalau itu benar-benar terjadi, bukankah bagus?" tanya Mingyu.
"Ka-kau gila." ucap Wonwoo.
"Mungkin begitu." Jawab Mingyu lalu menarik Wonwoo untuk duduk diatas pangkuannya dengan sebelah tangan melingkar di pinggang dan satu tangannya lagi mengelus wajah Wonwoo dengan lembut.
Wonwoo bisa merasakan wajahnya memerah. Degup jantungnya menggila. Ia tidak berani menatap mata Mingyu. Dan Mingyu dengan segera mengarahkan wajah Wonwoo hingga mata mereka saling menatap. Senyuman tersungging di wajah Mingyu.
Dan setelah itu, bibir mereka saling menempel, tepat ketika feriswheel di puncak.
.
.
.
I'M BACK! Day 6, done!
Thanks to : BSion, svtvisual, 17MissCarat, NaMeanie, bananona, jeonghanie, sint12, , Firdha858, Yeri960, NichanJung, lunch27, monwii, Baby Yoongi, kookies, Guest, firdazzy, Anna-Love 17Carats, XiayuweLiu, hamipark76, okwonn17, Ihfaherdiati395, nhy17Boonon, exoinmylove, korokurakwayun, jihokr, Nam627, Byun924, lulu-shi, hoshilhouette, minigyu, MeanieMouse, Julia306, tinkuerbxlle, Iceu Doger, kimxjeon, adorewonwoo, Herdikichan17, meanxx, alwaysmeanie, inisapaseh, fairykpop, Honeylili, csupernova, dadaus06, Khasabat04, Mbee, Nope. Rvbyn, Rizki920, ilywonwoo, wonwoo's wife, BLUEFIRE0805, alwaysmeanie, aming
Thanks for review, follow and favorite. I love you.
A/N : thanks buat yg udah memberiku ucapan hbd buat aku fufufu~
Btw, ch ini rada aneh. Aku sebetulnya ragu buat update. Tapi kalau aku ganti, feel ku udah ilang/bilangajamales/habisharusnyarirefrensi/ yaudah gitu ajalah gausah di ubah wkwkwk
Oh ya, aku mau promosi. Aku punya ff baru (padahal yg lain belum selese, buat lagi) judulnya "You Idiot" pairnya masih tetap Meanie coz aku terlalu jatuh cinta sama mereka hwhwhwhw, silakan baca. Thanks kalau mau baca. Thanks juga buat yang uda baca.
Don't forget to clik the review button and insert your comment~ I'm waiting! ;) ;) :3
:* (sfx : smoooooccch)
See you!
