6 – Crossroad Blues
Past
Jake berjalan cepat menembus kegelapan, menuju sosok yang bersandar santai di tiang ujung jalan. Dari jauh, Jake bisa melihat sosok itu tersenyum memuakkan. Kalau dia tidak punya urusan yang begitu penting dengan makhluk laknat ini, tentu sudah jauh-jauh hari ia menghabisinya.
"Halo, Nak," sapa Azazel ketika Jake berjarak beberapa meter darinya. Ia mendorong diri ke posisi tegak. "Tampaknya kau berhasil menjadi juara. Anakku memang hebat."
"Aku bukan anakmu," geram Jake dengan gigi menggeretak.
"Tsk… Tsk… Kasihan, Si Kecil Jake yang malang tidak mau mengakui keluarganya." Azazel tertawa mengejek. "Bagaimanapun kau berkeras kau bukan anakku, takdirmu tak akan berubah. Kau adalah anak demon, dan selamanya akan tetap begitu."
Jake mengepalkan tinju dengan marah. Tetapi logikanya masih bekerja untuk mengacuhkan Azazel. Demon bermata kuning itu hanya ingin memancing amarahnya, mencari alasan untuk membatalkan perjanjian.
"Aku sudah membunuh mereka," kata Jake, suaranya bergetar sedikit. "Syaratmu terpenuhi. Sekarang, seperti yang kau janjikan, kembalikan Edith."
"Oh, tidak. Tidak semudah itu," jawab Azazel licin. "Masih ada tugas yang harus kau kerjakan."
"Tapi tidak begitu perjanjiannya!"
"Jake… Jake…. Jake…. kau belum banyak belajar tentang jenismu sendiri? Tidak tahukah bahwa kita, para demon, paling suka berbohong?"
Jake mengacungkan tangan pada si demon, berniat menyakitinya. Namun belum sempat kekuatannya beraksi, Jake sudah terpental menghempas aspal. Seketika seluruh tubuhnya berdenyut nyeri, bintang-bintang merah bertebaran di depan mata. Darah merembes keluar dari kulit kepalanya yang mengelupas. Jake mengigit bibir menahan erang, tidak ingin memberi demon itu kepuasan.
Azazel menghampiri dan berjongkok di sampingnya. "Terlalu cepat seratus tahun bagimu untuk mencoba melawanku, Nak," dengkurnya.
Jake meludahi wajah si demon. "Kembalikan Edith!" sentaknya.
Azazel mengelap wajahnya dengan tenang, seolah diludahi anak sendiri merupakan hal biasa baginya. "Sudah kubilang, kan? Tugasmu belum selesai. Kalau kau mau si cantik berambut merah kembali dengan selamat, sebaiknya turuti perintahku." Matanya berkilau, seringai makin lebar di wajahnya yang keriput. "Itu, atau Edith tak akan pernah pulang. Pilihanmu."
"Son of a bitch!"
"Whoops, tidakkah julukan itu lebih pantas buatmu?" tawa Azazel, terdengar sangat terhibur. "Bagaimana Jake? Satu tugas lagi dan kau akan mendapatkan Edith dan posisi sebagai Pangeran Kelam. Kau akan memimpin pasukan demon terhebat yang bisa kau bayangkan, dan aku menjamin keselamatan Edith. Tawaran bagus bukan?"
Mata Jake menggelap. Makin lama tawaran demon ini makin menjebaknya. Tapi ia tak bisa menolak, tidak jika nyawa Edith menjadi taruhannya. Lagipula, ia telah membunuh banyak orang, cukup untuk mengirimnya ke neraka, demon atau bukan demon. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan.
"Apa yang harus kulakukan?"
Azazel mendekatkan wajah ke telinga Jake, membisikkan sesuatu. Kemudian dalam satu kejapan mata ia menghilang, meninggalkan Jake berbaring tergugu di aspal yang dingin. Namun kata-kata Azazel masih berdering keras di telinganya, seperti kaset yang diputar berulang-ulang.
"Bunuh Dean Winchester."
* * *
Ketika Dean akhirnya berhasil melacak keberadaan Sam, segalanya sudah terlambat. Tidak ada Sam yang berlari menyongsong sambil meneriakkan namanya. Tidak ada keluhan kenapa ia datang begitu lama. Yang menyapanya hanyalah sesosok tubuh dingin tak bergerak, terbaring bersama tubuh-tubuh orang lain di tengah gelapnya malam.
Jantung Sam tidak berdetak. Wajahnya putih-kelabu. Dadanya tidak naik turun dengan ritme nafas. Bagaimanapun Dean mengguncangnya, menepuk-nepuk pipinya, Sam tidak terbangun. Mata cokelatnya tetap terpejam, mulutnya tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Sam telah pergi.
Dean telah gagal.
Bobby membawa semua jenazah dalam truk, akan membakar mereka sebagai antisipasi kalau-kalau mereka jadi arwah penasaran. Tapi Dean membawa tubuh Sam di Impala, mendudukannya di pasenger seat. Berpura-pura Sam hanya tertidur. Dean tidak rela jika adiknya harus berakhir sebagai abu. Meletakkan tubuh Dad di atas kayu dan menyulut api sangat berat baginya, tapi masih bisa ia lakukan karena, bagaimanapun juga, sewajarnya orangtua meninggal lebih dulu daripada anak. Tapi seorang adik tidak selayaknya mendahului para kakak. Bagaimana mungkin Dean diharapkan sanggup menyaksikan Sam tertelan bara api? Bagaimana mungkin ia mampu menjalani sisa hidup tanpa Sam?
Maka Dean pun melakukan hal yang sangat bertentangan dengan prinsipnya selama ini. Sementara Bobby menyiapkan kayu di lapangan belakang sebuah kabin, Dean pergi menjalankan idenya. Hanya ada satu cara mengembalikan Sam. Membuat perjanjian dengan Crossroad Demon. Lebih baik hidup sepuluh tahun bersama Sam daripada lima puluh tahun dalam kesendirian.
"Ayo… ayo… keluarlah," gumam Dean, menatap ke keempat penjuru jalan, mencari sosok wanita seksi yang dirasuki si demon. Suara deham dari belakang mengejutkan cowok itu. Ia berputar, mengacungkan pistol pada orang yang berani-berani mengganggu misinya.
Seorang pemuda seumuran Sam berdiri canggung di ujung jalan. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. "Dean Winchester?" tanyanya ragu.
Dean mendengus. "Apa sekarang, kau sudah bosan pakai tubuh cewek?" ia memutar bola mata. "Semoga cara perjanjianmu juga berubah. Jangan harap aku mau berciuman dengan cowok."
Pemuda itu mendekat sampai mereka berhadap-hadapan di tengah persimpangan jalan. "Aku bukan Crossroad Demon. Namaku Jake."
"Terserah kau mau Jake atau Josh. Dengar, aku tidak ada urusan denganmu…."
"Aku di sini untuk mengadakan perjanjian denganmu," sela Jake.
Dean tertawa kasar. "Mengadakan perjanjian denganku, eh? Memangnya siapa kau, adik magangnya Crossroad Demon?"
"Bukan," kata Jake apa adanya. "Aku orang yang membunuh adikmu."
Pengakuan itu begitu mengejutkan sampai-sampai Dean hanya terpaku. "A… Apa?!"
"Maaf," kata Jake, matanya menyayu sedih. "Aku tidak punya pilihan. Demon bermata kuning itu memaksa kami saling membunuh. Tapi aku bisa menghidupkan Sam kembali – tidak hanya Sam, tapi yang lainnya juga!" ia menambahkan buru-buru ketika Dean mengacungkan pistol ke kepalanya.
"Omong kosong," desis Dean, "bagaimana mungkin manusia sepertimu bisa menghidupkan orang mati?"
"Aku bukan manusia. Aku demon – anak Azazel," kata Jake getir. Tanpa pikir panjang lagi Dean menarik pelatuk, tapi Jake terlanjur menghilang.
Pistol Dean terlempar jauh – begitu pula semua senjata yang tersembunyi di balik jaketnya, dilucuti oleh kekuatan tak terlihat. Dean tiba-tiba tak bisa bergerak, seolah dia adalah demon yang terjebak dalam Devil's Trap. Jake muncul kembali entah darimana, dengan mata segelap malam.
"Son of a bitch!" maki Dean. "Apa maumu?"
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu. Aku akan menghidupkan kembali Sam, dan kau –"
"Oh, tidak. Dasar ular licik! Jadi kau membunuh mereka semua agar bisa melakukan perjanjian denganku dan memotong waktu hidupku, hah?"
"Tidak. Aku tidak akan memberimu waktu sepuluh tahun. Yang kuinginkan hanyalah agar kau membantuku."
"Membantu apa?"
"Mencari dan membunuh Azazel."
Mendengar ini, Dean meledak murka. "KAU PIKIR AKU SETOLOL ITU?!" Teriaknya. Suaranya bergaung di jalanan sunyi. "Koreksi jika aku salah, tapi bukankah kau mengaku sebagai anak Azazel? ANAK AZAZEL! Dan kau berniat membunuhnya? Maaf, tapi kalau kau ingin menjebakku, gunakan alasan yang lebih masuk akal!"
Jake menghela nafas berat, sikapnya bagai seorang guru menghadapi muridnya yang bandel. "Kalau tidak percaya, bagaimana jika kuberi bukti awal?"
Cowok itu lalu memegangi keningnya sambil memejamkan mata, wajahnya berkerut penuh konsentrasi. Dean menyaksikan dengan mata bulat antara terkesima dan ngeri ketika tubuh Jake berpendar, makin lama makin terang. Dengan diiringi teriakan memekakkan, cowok itu menghilang ditelan cahaya.
Dean membuka mata perlahan, tak yakin kapan dia menutupnya. Ia terbaring terlentang di tanah, Jake si cowok misterius telah lenyap. Ponsel bergetar di saku Dean, yang diangkatnya dengan sedikit linglung.
"Halo?"
"Dean?!" suara Bobby campuran antara panik, bingung dan – mungkinkah ini? – bahagia. "Dean, cepat kemari! Ku – kurasa mereka bernafas lagi!"
* * *
Duduk bersandar di kursi plastik, Dean masih merasa lemas dengan pemandangan di hadapannya. Sam terhubung pada banyak mesin, layaknya sebuah robot dalam masa pembuatan. Kulitnya masih pucat, tetapi tidak mati seperti beberapa jam lalu. Ia membutuhkan respirator untuk bernafas, tapi yang penting bagi Dean paru-parunya bekerja. Tubuhnya kembali hangat, irama jantungnya terdengar melalui heart monitor. Bagaimanapun kondisinya, Sam kembali hidup. Tidak ada yang membuat Dean lebih bahagia lagi.
Bobby memasuki ruangan, ekspresinya tak bisa ditebak. Ia baru saja mengisi folmulir keterangan untuk empat pasien koma yang dibawanya ke Rumah Sakit. Bukan sesuatu yang menyenangkan. Ia harus memikirkan baik-baik bagaimana empat orang bisa jatuh koma dalam waktu yang bersamaan, di tempat yang sama pula. Bobby memberitahu para dokter bahwa mereka 'keracunan gas'. Persetan mau percaya atau tidak.
"Dean, apa yang sudah kau lakukan?" adalah kalimat pertama yang diucapkannya ketika melihat anak tertua Winchester.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku sedang tidak minat bermain-main," gerutu Bobby. "Dean, kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh, kan?"
"Tidak."
"Jawab aku dengan jujur."
"Aku jujur, Bobby. Demi Tuhan! Memangnya kau kira keajaiban tidak bisa terjadi apa?!" sentak Dean.
Bobby mengangkat alis skeptis. "Apa kau baru saja mendapat pencerahan? Sungguh suatu kebetulan, kau akhirnya mempercayai 'keajaiban' bersamaan dengan kembalinya Sam dan yang lain."
"Aku tidak melakukan apa-apa, Bobby. Percayalah." Setidaknya, aku belum melakukan apa-apa.
"Aku percaya padamu, Dean. Tapi bisakah kau mempercayaiku sedikit saja?"
Nada Bobby terdengar sangat sedih. Dean yang semenjak awal berusaha tidak melakukan kontak mata dengan pria itu, otomatis mendongak. Bobby tengah menatapnya sendu, ekspresinya begitu terluka sampai Dean merasa malu telah merahasiakan sesuatu darinya.
"Aku bertemu seseorang," gumam Dean akhirnya. Ia menceritakan tentang Jake – tentu saja sedemikian rupa menyensor niat awalnya untuk mengadakan perjanjian dengan Crossroad Demon – menyebutkan siapa itu Jake, apa yang ditawarkan dan apa yang dilakukannya. Usai mendengar cerita Dean, Bobby tampak seolah seseorang baru saja memberitahunya di Rumah Sakit terpasang bom yang siap meledak.
"Dean, kau tidak akan menerima tawaran itu, kan?" tuntut Bobby.
"Aku tidak tahu, Bobby."
"Apa maksudmu tidak tahu?! Dean, dia anak demon! Pembunuh Sam! Jangan percaya padanya hanya karena dia telah…. Telah melakukan ini!" Bobby menunjuk Sam dengan marah. "Kemungkinan besar ini hanya tipu muslihat demon, Dean. Kau jangan terpengaruh."
Dean menatap Sam hampa. Benar, tidak ada alasan mempercayai Jake hanya karena ia menghidupkan Sam kembali – tapi tidak sepenuhnya – seperti ini. Tetapi ia juga telah melambungkan harapan Dean. Kesempatan untuk menyembuhkan kembali Sam ada di depan mata, dan ia tidak perlu berhadapan dengan hellhound sepuluh tahun mendatang. Tawaran ini tidak datang dua kali.
"Maaf," bisik Dean. "Aku harus menerimanya."
* * *
Dean bertanya-tanya bagaimana caranya memanggil Jake kembali. Apa dia harus ke persimpangan jalan lagi? Namun seolah mengetahui kebingungan Dean, Jake telah berdiri di samping Impala ketika Dean ke luar dari Rumah Sakit.
"Jadi bagaimana?" tanya Jake tanpa basa-basi.
"Apa persisnya yang harus kulakukan?" Dean balik bertanya.
"Seperti yang kukatakan, kau harus membantuku. Sebagai gantinya, aku akan menyembuhkan Sam sedikit demi sedikit. Jika Azazel telah mati, aku akan menyembuhkan dia sepenuhnya."
Dean memikirkan kata-kata Jake baik-baik. Demon penuh tipu daya, ia harus memahami betul apa yang mereka maksudkan sebelum terlambat. "Dan seandainya aku membatalkan perjanjian?"
Mata Jake berkilau sedikit, ia tersenyum ramah. Senyumnya sangat manusiawi sehingga sejenak Dean lupa kalau dia demon. "Aku tidak akan mengambil apa yang sudah kuberikan. Jika kau membatalkan perjanjian, Sam tidak akan mati lagi. Tapi dia juga tidak akan kembali sepenuhnya."
"Tapi kalau kau berani melukai Sam sedikit saja, aku tidak akan segan membunuhmu," ancam Dean.
"Aku tidak akan."
"Oke," jawab Dean, "deal."
Senyum Jake semakin lebar, wajahnya berseri-seri layaknya anak kecil yang permintaannya terkabul. Ia mengulurkan tangan untuk menjabat Dean. "Kurasa sekarang kita partner?"
Dean membalas dengan anggukan singkat dan melewati Jake menuju driver seat Impala. "Kita harus segera bergerak, kalau begitu."
Jake menurunkan tangan, senyum memudar dari wajahnya. Ia segera menegakkan diri, mengubah sikap. Tahu Dean tidak akan pernah menganggapnya sebagai partner.
"Yes Sir."
TBC
