A/N : Yo! Yo! Saya datang lagi. Parah banget ini fic, makin ke depan makin lama apdetnya. Haha. Bukan karna saya malas, pemirsa, tapi… agak mager. He-he-he. Nggak deng, saya kerja. Jaga toko dari pagi ampe jam 6 sore. Hore! Jadinya nggak ada waktu buat ngelanjutin fic satu ini. Ah, anyway, saya punya berita bahagia, pemirsa! Kasih tau gak, ya? Kasih tau gak, ya? Kasih tau gak, ya? #dzing #mati
Ah, nanti dulu, deh. Saya mau ngejelasin kalo Katyusha itu Ukraine. Makanya, entah insting saudara yang datangnya dari mana, si Natalia mendadak jadi baik banget kalo ketemu Katyusha. Mungkin karena di canonnya mereka sodaraan kali, ye?
Dan, buat yang nanya 'lah, cowok gede yang tiba-tiba nyuci tangan demi menjaga kehigienisan tangannya di sebelah APB itu si Ivan?' Yep. Anda benar. Itu Ivan. Dan bila ada yang bertanya-tanya akankah si pria gede yang doyan menjaga kehigienisan ini dimunculkan dalam pengejaran The NEWS, kita lihat saja nanti. Hehehe
Warn : Male!Indonesia. Minor chara.
Listening to : 'Emergency – Paramore'. Nostalgia lagi :') Dan Icona-I Love It. Itu tuh iklan Galaxy S* yang baru.
Summary : Segalanya harus segera diselesaikan. Tak ada waktu lagi. Dua hari batas maksimal. Seseorang terpaksa harus menyerahkan diri.
"The NEWS"
By:
RapuTopu
.
Hetalia: Axis Powers
Disclaimer : Himaruya Hidekaz
Airlangga baru saja hendak pergi ketika pria di sebelahnya juga ikut beranjak, meninggalkan kran air yang masih mengalir dengan derasnya.
Bukannya Airlangga jadi sok peduli dengan biaya air yang harus dikeluarkan restoran ini, tetapi bunyi deru air yang merembes begitu cepat menerjang wastafel membuat telinganya terganggu.
Tangannya tergoda untuk terulur, mematikan kran, kemudian memerhatikan ketidakpedulian pria di depannya yang sedang meraih pipa ledeng air di dekatnya.
Pipa? Untuk apa membawa pipa? Apa dia tukang ledeng?
Tapi, suara-suara di pikirannya menguap ketika pria itu berjalan keluar, masih dengan seulas senyuman. Semua pertanyaan berganti dengan kerutan di kening.
Airlangga kemudian berjalan keluar. Menoleh ke kanan-kiri dan mendapati sosok pria besar itu sudah tidak ada. Aneh, padahal barusan orang itu melewati pintu. Bagaimana mungkin badan sebesar itu hilang dari pandangan?
Di seberang sana terlihat kepulan asap dari cerutu Ned yang mengepul ke langit-langit. Dari tempatnya duduk, seorang pelayan terlihat menegur asap darinya yang mengganggu pengunjung lain.
Tapi, seperti biasa. Wajah pria Belanda itu tetap tak peduli, acuh tak acuh. Seolah-olah berkata 'apa peduliku? Aku membelinya dengan uangku. Kau pergi cuci piring saja sana.', tetapi dikatakan dengan nada halus dari sorotan mata yang tak bisa ditebak.
Pelayan itu akhirnya mengangkat kedua tangan menyerah, tak mau ambil pusing dengan pengunjung keras kepala dengan tipe begini.
Airlangga menghampiri Ned kemudian menarik kursi di depannya.
Sepasang mata hitam itu seakan-akan hendak menyayat leher Ned dengan tatapannya. Ned balas memandang.
"Matikan sekarang."
Kalimat itu diucapkan dengan rahang mengeras. Penuh peringatan dan ancaman.
Wajah Ned tetap datar, bahkan ketika Airlangga terang-terangan menegurnya. Wajah tegas itu awalnya terlihat tidak peduli, namun berangsur terlihat menikmati teguran pemuda ini.
Ned menyeringai, ditariknya perlahan cerutu dari kedua belah bibirnya, yang kemudian mengepulkan asap-asap samar ke udara. Awalnya dia ingin menghembuskan asap ini ke wajah Airlangga. Tetapi sorot wajah pemuda di depannya yang nampaknya sebentar lagi akan meledak ini kemudian mengurungkan niatnya.
"Kau peduli pada kesehatanku?"
Bang! Bagai tertembak timah panas dari moncong shotgun yang diarahkan tepat ke jantungnya, pemuda Indonesia ini menganga, menggamit kalimat Ned yang diucapkan penuh cibiran dan sindiran. Pria Belanda yang lebih tua lima tahun darinya ini menyeringai, terlihat senang akan ucapannya yang berhasil membuat Airlangga melongo.
"A—"
Ned mati-matian berusaha menahan tawa. Pemuda Indonesia ini terlihat begitu tak terima dengan testimoni yang meluncur dari mulut sang Pria Belanda. Dari sepasang lautan kelam yang membelalak tak percaya dan mulut yang menganga sempurna.
Sedetik kemudian, benar saja perkiraan Ned. Pemuda itu meledak, lebih tepatnya mengamuk.
"Peduli pada kesehatannmu kau bilang?!"
Suara Airlangga meninggi.
"Buat apa aku peduli pada kesehatanmu, brengsek?! Mati saja kau, sana! Kalau perlu hisap cerobong asap pabrik sekalian!"
Tawa Ned pecah. Kedua tangan Airlangga menggebrak meja. Wajahnya terlihat sangat murka. Punggungnya memundurkan kursi dengan kasar. Ditatapnya sesaat wajah Ned dengan kesal.
Airlangga berjalan, meninggalkan Ned yang masih memandangi dirinya terpana.
Merasa bersalah, Ned kemudian mematikan cerutunya. Lalu mengejar Airlangga yang mulai membuka pintu keluar.
"Hei!"
Airlangga tidak peduli, dirinya terus berjalan.
Dirinya memandangi keadaan Monte Carlo pada malam hari yang berada di sekitarnya. Lalu-lalang dari penduduk lokal hilir-mudik di dekatnya. Airlangga dapat mendengar bunyi-bunyi klakson mobil mewah yang saling beradu di jalan raya nan padat di Monte Carlo. Juga lampu-lampu gemerlapan yang glamor, berpadu dengan cahaya lampu LCD di beberapa gedung bintang lima yang berdiri megah di sekelilingnya. Beberapa penduduk memandangi Airlangga yang terlihat bingung memerhatikan sekitarnya.
"Sebentar lagi hujan. Masuk saja, lah. Tubuhmu terlalu kurus dan posturmu terlalu kecil. Kau tak akan sanggup menerima terpaan hujan."
Airlangga berbalik dan seketika menatap Ned sinis.
"Aku berada disini juga gara-gara ulahmu! Seharusnya aku sudah berada di Brussel sekarang, bukan malah di negera orang."
Ned menaikkan alisnya, berpura-pura terkejut dengan argumen Airlangga yang seolah-olah menuntut bahwa dirinyalah yang paling bersalah dari semua kejadian ini.
"Lalu, sekarang kau mau kabur? Kabur kemana?"
Tepat sasaran.
Airlangga hanya bisa terdiam. Perkataan Ned memang terdengar angkuh dan terkesan menyerang balik, tetapi ada benarnya juga. Pemuda Indonesia itu hanya menunduk. Ini di Monte Carlo. Perancis. Jauh dari Brussel, jauh dari Jerman. Dirinya seumur-umur sama sekali belum pernah ke negara hebat ini. Hanya bisa mendengar namanya yang mewah dari situs-situs casino terkenal dunia. Melihat tempatnya di peta saja belum pernah.
Dan tahu-tahu dirinya diculik ke tempat ini. Hanya bermodalkan tubuh sendiri dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tanpa tahu dimana posisi sebenarnya. Diculik seseorang yang ternyata kakak dari bosnya yang anggun dan lembut. Terlebih tanpa paspor dan kartu identitas di tempat yang sangat jauh.
…dan tanpa uang.
Tapi dia belum menyerah.
"Aku akan meminjam ponsel seseorang." ujarnya mantap kemudian.
Airlangga baru saja hendak menyebrang jalanan. Tidak sempat ketika sebuah mobil Ford hitam melesat dari tikungan, meluncur cepat dengan speedometer mendekati 165 km/jam. Nyaris menabrak Airlangga, jika saja tangan Ned tidak dengan gesit menarik lengan pemuda itu kemudian membiarkannya terjatuh di dekapannya.
Mobil Ford itu berhenti tepat dimana Airlangga tadi berdiri. Seolah sang pemilik mobil hendak memamerkan kendaraannya pada kedua orang itu.
Napas Airlangga tersengal mengingat dirinya nyaris saja terlempar jika Ned tidak dengan segera menolongnya.
Dipandanginya sesaat mobil Ford itu. Pintu dengan kaca rayban gelap terbuka perlahan, memperlihatkan sebagian tubuh yang samar-samar terlihat di dalam sana.
Airlangga tak bisa mendengar jelas, tetapi dapat dipastikan mulut pemuda Belanda yang kini menjadi sandarannya tengah mengumpat pelan.
Dari dalam sana keluarlah seorang pemuda bertubuh tegap. Menapakkan kakinya di permukaan aspal dingin, tepat di depan wajah Airlangga.
Menghentakkan tongkat khas bangsawan kelas tinggi di samping kanannya. Menatap kedua orang yang masih berada dalam posisi berlutut. Membiarkan kedua pasang mata itu memandangi dirinya.
Airlangga tak bisa menerka siapa orang di depannya ini. Tak bisa memastikan mengapa seketika kegiatan hilir-mudik di sekitarnya seketika terhenti. Tak bisa memastikan mengapa suasana menjadi sehening ini tepat ketika orang ini turun dari mobil.
Barulah ketika Ned bergumam pelan, Airlangga seketika bagaikan tersengat listrik ribuan volt.
"…Connor Kirkland."
Diucapkan tanpa nada ancaman, namun terkesan begitu dingin.
.
"The NEWS"
Chapter VII
Natalia Arlovskaya : Reporter of 'The NEWS'
Gilbert Beilschmidt : Leader of 'The NEWS'
Antonio Fernandez Carriedo : Camera-man of 'The NEWS'
Francis Bonnefoy : Driver of 'The NEWS'
Airlangga Putra Brawijaya : Observator of 'The NEWS'
.
"A-apa?!"
Francis menjerit bagai mendapat berita bahwa dirinya ditolak wanita. Tetapi berita kali ini jauh lebih kejam.
Natalia ikut-ikutan menyergap ketiga pria itu, duduk berdempet-dempetan ketika mendengar ucapan Antonio dan jeritan Francis. Yang pasti jeritan itu bukan karena stok vodka Katyusha habis atau Gilbert baru saja menduduki kucing. Tapi, yang jelas lebih parah dari dua hal itu.
Sepasang iris ungu itu mencermati sederet kalimat formal Ludwig di layar LCD. Matanya membelalak tidak percaya.
"TIDAK MUNGKIN!" jeritnya histeris.
"KITA DIPECAT?!" Francis kembali menjerit. Kali ini terdengar lebih mengerikan karena nadanya jauh lebih tinggi dari yang tadi.
"INI PASTI SALAH KIRIM!" pekik Gilbert.
"INI PASTI BOHONG!" kini giliran sang pemuda Spanyol yang memerotes keras.
"INI TIDAK MUNGKIN, KAN?!"
"KITA DIPECAT?!"
"AKU YAKIN INI SALAH KIRIM!"
"INI SEMUA BOHONG, KAN?!"
Keempat orang itu terus-terusan berteriak histeris, saling memaki bergantian kearah laptop tak bersalah milik Airlangga yang sayangnya justru membawa berita buruk. Terburuk dalam sejarah The NEWS.
Natalia meraung frustasi.
Gilbert mengacak rambutnya.
Francis masih berteriak. "KITA DIPECAT?!"
Dan Antonio mulai meremukkan isi sofa.
"Bagaimana ini, Gil? Kita dipecat! Sedangkan Airlangga masih diculik!" Natalia menoleh putus asa pada Gilbert, berharap sang leader memberikan pencerahan dan hiburan. Namun, sialnya wajah Gilbert juga sama syoknya dengan wajah-wajah lain The NEWS.
Gilbert menutupi wajahnya putus asa. Mengerang.
Tiba-tiba Francis bangkit berdiri, kemudian berjalan mondar-mandir, terlihat panik.
"Oke. Bagaimana jika kita kembali ke Jerman saja?" usulnya.
"TIDAK!" Gilbert menolak mentah-mentah.
"Itu sebenarnya ide yang bagus. Kita pulang dan meminta maaf pada Ludwig, kemudian mengulang semua liputan dari awal." kata Antonio.
"TIDAK!"
"Ada apa, Gil?"
"Kita sudah berjalan sejauh ini. Apa kalian lupa misi kita? SELAMATKAN AIRLANGGA. Hanya itu!"
"Dan kita berkali-kali nyaris mati! Dan jika kita meneruskan pencarían ini, kata 'nyaris' dari kalimatku sebelumnya akan dihapus." Francis mengangkat kedua tangannya protes.
"Tapi kita belum mati, kan?" Natalia bersuara. Memberi satu suara yang mendukung Gilbert.
"Nat benar! Kita belum mati. Airlangga diculik. Ada kejahatan di kota ini. Dan kamera Antonio masih menyala. Apa kalian tidak merasa tertarik?"
"Tertarik tidak. Takut mati, iya."
Gilbert mencibir teman-temannya yang mendadak terlihat begitu penakut dari sebelumnya. "Tidak awesome sekali kalian…"
Dug dug dug!
Pintu kayu ulin di belakang mereka digedor begitu keras, mengindikasikan seseorang tengah berdiri disana dan meminta ijin untuk masuk.
Keempat reporter itu menghentikan adu mulut mereka, bergantian menatap bersamaan ke arah pintu.
"Katyusha! Buka pintunya! Ini aku!"
Katyusha yang saat itu tengah memasak di dapur seketika terkejut mendengar suara majikannya—sang pemilik hotel tengah berdiri di depan rumahnya. "Nona Hedervary?"
"Elizaveta?" Gilbert berjengit panik.
Buru-buru keempat reporter itu bergerak tak beraturan berusaha beranjak dari kursi ruang tamu. Panik luar biasa. Elizaveta, sang pimpinan 'Men in Black' yang berusaha membunuh mereka sejak tadi kini berdiri tak kurang delapan langkah dari tempat duduk mereka. Dan terburuknya, berusaha masuk.
"Oh tidak, oh tidak," Antonio memungut kameranya panik.
Francis memungut semua minuman soda yang berserakan di meja.
Natalia berkali-kali bertabrakan dengan Gilbert karena berlari menuju arah yang berlawanan.
Katyusha berjalan keluar dari dapur, berjalan panik sambil merapikan celemeknya.
"Cepat sembunyi!" desisnya tertahan.
Tanpa perlu disuruh, keempat reporter itu kini berpencar ke arah berbeda. Francis bersembunyi di bawah meja makan di dapur. Natalia tersembunyi aman di balik gantungan pakaian. Gilbert agak bodoh karena bersembunyi di balik pot besar di ruang tamu; tak sempat mencari tempat. Dan Antonio lebih bodoh lagi karena mengikuti jejak Gilbert dengan bersembunyi di pot lain yang terletak berseberangan dengan Gilbert.
Katyusha membuka pintu dan langsung menyambut Elizaveta dengan senyuman hangat.
"Selamat malam, nona Hedervary. Ada apa, nona datang kemari malam-malam begini?"
Elizaveta mengerang, memutuskan sapaan Katyusha. Dirinya terlihat sedang tak ingin menjawab pertanyaan untuk saat ini.
"Buatkan aku minuman, secepatnya, tanpa gula."
Elizaveta memerintahkan bagai berada di hotel. Tanpa permisi, gadis itu melepaskan high-heelsnya ke tumpukan sepatu di sudut ruangan kemudian berjalan menuju sofa ruang tamu. Bagitu santainya sehingga orang-orang salah menduga bahwa gadis ini tinggal disini. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, kemudian mengganti channel TV yang semula menampilkan serial pembunuhan. Matanya tak sengaja melihat keadaan ruang tamu Katyusha yang terasa lain dari biasanya.
"Tumben rumahmu berantakan sekali, Katyusha. Biasanya kau sangat telaten." Elizaveta berkata dengan nada suara agak tinggi mengingat pelayannya itu tengah berada di dapur sekarang. "Dan sejak kapan tempat ini jadi bau keringat lelaki?" Elizaveta meraih sebuah potongan kentang goreng yang digigit dalam satu gigitan besar. Sangat aneh mengingat pelayannya satu ini terkenal hemat dalam mengunyah makanan. "Ternyata kau punya fetish yang sangat mengerikan, ya?"
Tak lama kemudian Katyusha keluar dengan sebuah nampan dan dua cangkir kopi, dengan uap panas yang mengepul ke udara.
"Hari yang berat ya, nona?" tanya Katyusha, sementara tangannya sibuk meletakkan cangkir di meja.
Elizaveta mendesah berat. Menampilkan wajah kusut penuh tekanan lewat sorot matanya. Matanya menerawang kosong."Kita gagal lagi, Katyusha."
Gilbert yang saat itu mengintip dari sela-sela daun; tempatnya bersembunyi, memanggil-manggil Antonio dengan isyarat tangan.
Antonio menoleh dan mengangkat alisnya. 'Ada apa?' tanyanya tanpa suara.
Gilbert menggerakan mulutnya lebar-lebar, menyembutkan kata 'Rekam.'
'OK!' Antonio memberi simbol tangan berupa jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf 'O' dengan tiga jari lainnya yang teracung ke atas.
Lampu merah di kamera menyala; tanda merekam. Kamera diarahkan diam-diam, lewat sela-sela daun, kearah pemilik organisasi penjualan senjata illegal seantero Eropa tersebut. Merekam segala tingkahnya dan perkataannya. Tanpa terlewat sedetikpun.
"Begini, Katyusha. Mungkin berita ini akan berpengaruh pada gajimu, mengingat kita sedang berada di dalam kesulitan besar sekarang. Yah, kau tahu, kan? Si Kirkland itu meminta perang. Semua karena kematian Arthur. Padahal menurut penjelasan beberapa anggota yang tersisa disana, Arthur diserang sekelompok reporter. Dan itu bukan salah kita."
"HEI!" jerit Natalia tertahan, protes luar biasa.
Elizaveta menangkap suara-suara asing dari dalam kamar.
"Bunyi apa itu?"
"Mungkin rusa terbang."
Elizaveta tak menanggapi perkataan ambigu Katyusha karena ponselnya berdering. Elizaveta memungut ponsel itu dari sakunya kemudian menempelkan benda tersebut ke telinga.
"Halo?" Kening Elizaveta tiba-tiba mengerut sangat dalam. Terlihat keterkejutan dan ekspresi syok yang terburai dari sepasang matanya. "APA? Baik! Aku segera kesana!"
Elizaveta mematikan ponselnya kemudian buru-buru menegak minuman panas itu dalam sekali teguk. Tingkah laku Elizaveta yang panik membuat Katyusha penasaran.
"Ada apa, nona?"
Elizaveta bangkit berdiri kemudian berjalan cepat menuju pintu keluar. Wanita itu berbalik sesaat dengan ekspresi panik luar biasa.
"Hotel de Paris dibom seseorang!"
Pria bernama Connor Kirkland itu memicingkan matanya ke arah pemuda berdarah melayu di depannya. Dirinya terlihat tengah mengingat-ingat sesuatu yang begitu familiar, namun tercecer di pikirannya.
"Van der Decken?" Hanya kalimat itu yang meluncur darinya. Karena disaat pikirannya sibuk dengan menerka-nerka siapa si pemuda melayu, figur seorang pria Belanda yang berada di belakang Airlangga mengusik lautan hijau itu. Seseorang yang begitu ia kenal.
Ned menarik tangan Airlangga, membantu pemuda itu untuk berdiri.
Sosok yang semula samar-samar, perlahan keluar dari dalam mobil. Airlangga menganga tak percaya Sosok itu begitu mirip. Begitu serupa. Bagai duplikat sebuah kunci.
Saudara kembar Connor.
"Oh, Ardan, rupanya kau ikut juga?" Ned berkata dengan nada menyindir. Seolah menyiratkan bahwa sejak tadi Ardan Kirkland hanya bersembunyi di dalam sana.
"Ini bukan kebetulan yang baik untuk bertemu, Decken." ucapnya halus. Lebih terdengar tengah menjaga statusnya sebagai bangsawan ternama dari gaya bicaranya.
"Ya. Aku juga malas bertemu kalian." desis Ned jijik.
Mata Ardan juga menoleh pada Airlangga, tertarik. Seolah pemuda manis itu adalah magnet berdaya kuat untuk menarik mata para anak-anak Kirkland. Dan hal itu disadari Ned yang segera menarik pinggang Airlangga agar berdiri tak terlalu dekat dengan mereka.
"Kita pergi saja." ucap Ned datar, lebih terkesan menahan emosi, seraya mengulurkan tangannya untuk menggamit lengan Airlangga, hendak membawanya pergi dari tempat ini.
"Tunggu!"
Airlangga tiba-tiba menggerakan tangannya frustasi, menepis tangan Ned kasar. "Aku mau berbicara dengan mereka."
Airlangga berkata dengan nada begitu dingin. Ned bahkan merasa begitu asing dengan ucapan Airlangga.
Diluar dugaan Connor Kirkland tersenyum. Senyum menyiratkan kemenangan yang tersamar.
"Baik." Ia mengangguk-angguk mengerti. "Bagaimana jika di dalam saja?"
Sesaat setelah Elizaveta melesat keluar, empat kru The NEWS segera keluar dari tempat persembunyian mereka, merasa lega luar biasa.
Wajah Gilbert terlihat teramat tercengang begitu keluar dari pot. Hotel de Paris dibom? Pertanyaan itu terus-terusan mengusik pikirannya.
"Bagaimana, Antonio? Sudah kau rekam?" tanya Francis antusias.
"Si." Antonio mengacungkan jempolnya.
Natalia berkacak pinggang dengan wajah tengah berpikir keras. "Oke. Sekarang semuanya mulai di luar dugaan. Airlangga menghilang lagi dan Hotel de Paris dibom." Natalia menghela napas, lelah. "Ini benar-benar di luar dugaan."
"Lalu, sekarang bagaimana? Kita tidak tahu dimana Airlangga dan bagaimana nasibnya. Sedangkan kita dipecat, lalu—"
"Francis! Bisakah kau berhenti mengucapkan kata 'pecat' dan 'pecat'? Itu malah memperburuk keadaan!" jerit Gilbert frustasi. Ia bahkan mengacak-acak rambut kelabunya. Sudah cukup Airlangga diculik ditambah diserangnya hotel Elizaveta. Sekarang Francis mulai berulah dengan mengingatkan mereka pada pemecatan ini. Bukannya tenang, Gilbert malah semakin stres.
Gilbert mengerang keras. Marah-marah juga tidak ada gunanya sekarang. Tindakan konkret adalah solusinya.
"Baiklah! Begini saja, bagaimana jika pergi ke hotel yang dibom itu lalu bertanya pada siapapun yang berada disana, mengenai Airlangga atau siapa yang menculiknya.
Dan, jika kita beruntung, mungkin mereka akan memberitahu, tapi jika tidak, kalian siap, kan, menjadi stuntman dadakan lagi?"
Ajakan Gilbert terdengar begitu menggiurkan sekaligus berbahaya disaat yang bersamaan. Bertanya pada para Men in Black itu adalah hal yang mudah. Mudah jika disaku mereka tak terselip handgun sialan yang siap ditembakkan sembarang arah dan tak ada aura membunuh yang menyeruak dari wajah-wajah mereka. Dan untuk aksi kejar-kejaran dengan segala peluru berseliweran itu tidak masalah. Semua kejadian yang terjadi lima hari terakhir membuat tindak pembunuhan bukanlah masalah lagi bagi The NEWS.
"…Gil, jangan gila lagi."
Gelas wine berdenting.
Pertemuan tak resmi dua kubu dibuka.
Connor Kirkland membuka pembicaraan dengan deheman singkat. "Jadi..." katanya berusaha memecahkan keheningan. "apa yang ingin kau bicarakan?"
Hebat. Dari empat orang yang duduk mengelilingi meja bundar restoran, hanya wajah Ned yang terlihat paling suntuk. Terlihat jelas dari sorot mata dan gerak-geriknya bahwa pemuda Eropa Barat itu merasa tak nyaman dengan keadaan begini.
Airlangga membuka suara—
"Kau kenal Rayan?"
Sepasang mata hijau itu bereaksi cepat.
Tak terduga tiga kata sederhana itu dapat menyusun satu kalimat yang cukup membunuh. Pertanyaan itu meluncur mulus begitu saja.
Begitu dalam. Begitu mengena.
Diucapkan tanpa ragu dengan sorot mata yakin dan haus penjelasann. Airlangga memandangi dua orang di depannya dengan tatapan harap-harap cemas. Berharap berita buruk bukanlah yang justru didapatinya nanti.
Connor dan Ardan, sepasang kembar terkenal seantero Inggris Raya saling berpandangan. Mengadu dua pasang lautan hijau itu dalam argumen singkat. Sesaat mereka terlihat seolah tengah bercakap-cakap melalui pandangan mata.
Konverensi tatap-menatap selesai.
Connor kemudian menarik napas.
"Begini…" Keterdiaman Connor membuat jeda yang cukup panjang. "Anak itu sudah kami urus."
Iris Airlangga melebar. "Apa maksudmu?"
Ardan, yang sejak tadi terlihat tak mengeluarkan suara semenjak menapakkan kaki ke restoran ini, mulai bertindak.
"Dylan sudah membawanya kembali ke Inggris."
"APA?"
Keterkejutan nampak jelas dari sorot mata Airlangga. Si Kirkland itu sudah menangkap Rayan? Airlangga tak bisa memercayai omongan si kembar Kirkland ini. Keterkejutan seketika menjalar di wajahnya yang pucat. Tangan Airlangga terkepal kuat.
Ini tidak mungkin.
Mereka pasti berbohong.
"Avenue Reine Astrid 92 B-1310 No.4." Connor membuka suara. "… Alamat kalian berdua…"
Bagai tersambar petir, tubuh Airlangga menegang. Panik terumbar jelas lewat sepasang iris kelam itu.
Avenue Reine Astrid 92 B-1310 No.4—
Alamat tempat tinggalnya di Brussel...
…bersama Rayan.
Ini benar-benar tidak mungkin.
Airlangga tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi. Semuanya terekspos jelas.
Berkebalikan dengan Airlangga yang terlihat jelas begitu terpukul, duo Kirkland ini malah tersenyum tipis. Lalu kembali menyatukan pandangan mereka dalam satu tatapan berupa konverensi singkat yang menyenangkan; untuk mereka tentunya. Seakan saling memberitahu sesuatu yang penting bagi kemajuan misi mereka yang nyaris berhasil.
"Dimana Rayan sekarang? Katakan padaku!" salak Airlangga. Kekhawatiran kini tersorot dari sepasang iris hitam itu. Meminta permohonan dan penjelasann. Selengkap-lengkapnya!
"Tanyakan saja pada Scottie, dia—"
"Bawa aku padanya!" seru Airlangga murka.
Kalimat itu lagi-lagi meluncur begitu mulusnya. Tanpa hambatan dan keraguan. Begitu yakin dari setiap tekanan dan intonasinya. Bersanding kuat bersama sorot matanya yang tak terbantah.
"Bawa aku padanya! Bawa aku pada siapapun yang terlibat dengan masalah ini!" Airlangga mulai berteriak di luar kendali.
Perkataan Airlangga yang sejak tadi begitu gamblang dan nekat; bisa dibilang kelewat bodoh, akhirnya mengusik Ned. Tangan pria Belanda itu menarik lengan Airlangga untuk tenang.
"Hei! Sudahlah. Tinggalkan saja mereka. Kita—"
"DIAM! SEMUA INI SALAHMU!"
Bentakan itu membuat Ned terdiam. Bahkan kegiatan di seluruh restoran terhenti seketika. Semuanya memandangi sumber suara penuh emosi dari bibir Airlangga.
Beberapa detik yang canggung membawa keempat pria itu dalam keheningan pekat. Ketiganya masih membiarkan Airlangga bernapas tenang. Sementara Ardan dan Connor kembali bertatapan, mendiskusikan sesuatu yang tergolong penting; karena kening mereka mengerut berkali-kali.
Akhirnya satu keputusan ditentukan. Mereka sudah begitu mantap dengan keputusan ini.
"Hei, anak muda." panggil Connor. "Aku bisa membawamu pada kakak sulung kami untuk membicarakan masalah ini.
Tapi,"
Kalimat Connor terhenti. Ardan menyambungnya otomatis.
"Ikutlah dengan kami menuju kediaman Kirkland di Inggris."
Airlangga terdiam. Sejajar dengan ekspresi Ned yang tertohok akibat tawaran itu. Airlangga hendak mengatakan sesuatu, tetapi segalanya terasa begitu sulit untuk diucapkan. Tawaran yang begitu sulit namun tepat. Fakta bahwa Rayan benar-benar tertangkap pun masih belum jelas. Airlangga jelas masih ragu. Tetapi, kenyataan bahwa anak-anak Kirkland ini mengetahui tempat tinggal Airlangga membuat segalanya kian runyam.
Airlangga menarik napas dalam-dalam.
"Jangan lakukan, APB."
Ned memperingatkan keras.
"Aku—"
"Jangan."
Airlangga menarik napas. Melepaskan segala kegundahan dan risau yang mengusik dadanya. Mengabaikan Ned yang sejak tadi mengancamnya. Mengabaikan segala resiko dan bahaya yang akan menerjangnya nanti.
Airlangga siap.
Apapun demi adiknya.
"Baiklah. Bawa aku ke tempat kalian."
Truk karatan dengan bunyi decitan tiap kali berguncang, membelah ladang luas Katyusha. Dipacu begitu cepat sampai-sampai menghancurkan rerumputan, menimbulkan jejak ban yang sangat dalam disana, dan menyipratkan rerumputan ke kanan-kirinya. Terdengar bunyi mesin mobil yang dipaksakan. Namun kecepatan ini masih dirasa kurang bagi si pengemudi.
Di dalam sana, Francis, sang driver The NEWS, yang terkenal dengan manuvernya yang liar dan beringas kala berada dalam medan macet maupun lengang, memacu truk tua ini begitu brutal menuju perkotaan.
Di bagian belakang truk, tepatnya di sebuah wadah luas yang terbuka dan terisi timbunan jerami tua, seorang gadis dengan rambut platinum berkibar terlihat tengah marah-marah pada sebuah kamera yang merekamnya dari samping.
"Oke! Hentikan itu, Antonio! Kita sudah dipecat! Buang saja benda bodoh itu!"
"Tapi aku masih mau merekam kegiatan kita. Boleh, kan?"
Abaikan pertengkaran satu arah di belakang sana. Di kursi panjang jok kemudi, sejajar dengan tempat duduk Francis, Gilbert tengah sibuk menekan tombol-tombol nomor di ponsel tua milik seseorang.
Seseorang yang dimaksud itu adalah Katyusha Braginski. Wanita baik berdada besar yang rela memberikan mereka tumpangan, makanan, vodka, air shower dan tempat persembunyian yang keren.
Semuanya terasa semakin lengkap ketika Gilbert yang nekat hendak menghubungi Ludwig untuk protes, malah didukung kuat oleh Katyusha dengan meminjamkan ponselnya.
Bonus, truk tua karatan pengangkut jerami yang akan mengantar mereka kemanapun.
Nomor kantor The NEWS tertera jelas di layar ponsel. Gilbert segera mengontaknya.
Bunyi nada dering pertama—
Telepon diangkat!
"Halo! Luddy! Ini aku! Lud, begini, aku ingin menjelaskan—Ayolah. Dengarkan aku dulu."
"Bagaimana?" tanya Francis.
Gilbert masih berkutat dengan ponsel Katyusha.
"Bukannya kami malas atau tidak becus mencari berita, tapi sungguh, kami sedang berada dalam masalah besar sekarang! Berikan kami waktu seminggu lagi!—Baik, baik! Lima hari! Oke, empat hari. Ini sudah paling maksimal."
Gilbert mengerang. "Baiklah! Dua hari! Ini tawaran terakhir! Kami akan pulang dalam waktu dua hari! Jika dua hari kami tidak muncul di Kantor The NEWS, kau boleh memecat kami dan mengambil stok beer-ku selama sebulan! Halo? Halo!—Sial, teleponnya mati."
"Jadi... bagaimana ini, Gil?" tanya Francis takut-takut.
Gilbert mengerang, menahan frustasi. "Sudahlah! Kita ke hotel Elizaveta sekarang!"
Truk tua itu seketika melaju pergi. Meninggalkan ladang menuju jalan raya. Nyaris menabrak beberapa mobil mewah yang parkir di tiap sisinya.
Menuju sebuah hotel yang baru saja di bom.
Atau mungkin jika mereka beruntung, berhenti di depan sebuah restoran Perancis dimana seorang anggota kru lainnya berada disana, tengah mengadakan sebuah perundingan besar yang nantinya akan kian memperpanjang rentang jarak diantara mereka.
.
.
.
… Semoga mereka belum terlambat.
To Be Continued
A/N : Hyaah! Pendek banget! Ini juga ditulis disempet-sempetin diantara waktu luang yang –bujubuneng- sempit sekali! Ini nggak ada eksyen-nya loh. Beda sama chapter kemarin yang full action; sukses bikin jari keriting, otak mampet, dan sesak napas karena ngeliat word-nya yang menggila. Pokoknya kalo ada action, deskripsinya minim karena mengingat kapasitas otak dalam menampung ribuan word, sebaliknnya kalo lagi 'tenang-tenang' begini deskripisnya malah… tetap aja dikit #dibunuh
Dan, yeah! Akhirnya saya memunculkan tokoh Republic of Ireland alias Connor Kirkland dan North Ireland alias Ardan Kirkland. Sumpah, saya nggak tau bedanya antara republik sama utara #sigh
Anggap saja ini chapter intermezzo, karena si Airlangga lagi-lagi bikin ulah.
Dan buat yang nyari-nyari action (syukur kalo ada yang nyari), tenang, sodara-sodara! Action bakal ditampilin di chapter depan! #joget Karena sistemnya ya emang gini. Hari ini chapter action, besoknya chapter tenang, besoknya lagi action. Begitu seterusnya.
Lalu untuk berita baiknya, The NEWS bakalan tamat kira-kira 3 chapter lagi :) Mungkin lebih…
Sign, Rapuh.
Luciano Fyro :
Halo! OwO, makasih. Naik helikopter di tengah jalan besar dan terbang rendah itu serem, broh! QAQ Eh? Seriusan?! Oke, berarti fic ane membawa kutukan #plak Katyusha itu Ukraine :) Hyaah! Kamu, kamu! Ternyata kamu! Hahaha. Situ cewek? Asoy, bisa curcol bareng deh XD Makasih, ya, reviewnya! :D
someone :
Asoy, broh #plak Rayan diculik sama Dylan buat diajakin *PIIPPP* dan *PIIIPPP* trus *PIIIPPP* dilanjutin lagi *PIIPPPP* #PLAK #dibom Becanda. Yep. Tu dua orang yang doyan KDRT masih diincer sama Men in Black. Pokoknya nggak ada lagi, deh, yang namanya hidup tenang. HUAHAHAHA mampus lu, Ned #ketawaiblis Airlangga mau diapain juga udah manis dari sononya XD Sayangnya fanart saya malah mendeskripsikan dia lagi marah gitu, jadinya yah… Hei! Saya nggak bisa bayangin Ned jadi ondel-ondel, gitu! XD Ngakak abis, broh. Ah, makasih ya reviewnya! Bakal saya lanjutin kok :)
WhiteRain :
Halo! :D Wah, makasih, ya. Sering-sering review dong biar saya makin semangat buat ngelanjutinnya :') Nah, saya juga bingung mereka ini sebenarnya reporter atau hewan jadi-jadian. Hahaha! Ini nggak live, kok. Masih dalam bentuk rekaman di kamera—luar biasa—Antonio. Jadi kalo diputer lagi untuk pengantar tidur masih bisa. Hehehe. Hei hei! Tapi mereka berusaha mati-matian supaya nggak jadi dipecat, kok. Hahaha. Mereka masih tetap keren, kan? #maksa Nasib APB, mah, naik-turun dari kemaren. Rayannya juga nggak jauh beda sama kakaknya. Hahaha. Yep. Itu Russia. Kemungkinan… nggak lagi, deh. Ini udah cukup banyak. Haha. Makasih loh reviewnya!
"Bawa aku pada kakakmu. Dan biarkan aku yang menyelesaikan masalah Rayan…" lirih suara itu.
Connor Kirkland dan saudara kembarnya tersenyum antusias.
"Tawaran diterima."
To be Continued
