Chapter 7
Levi membantu petra berdiri dan membawa kantong plastik belanjaan petra. Kemudian levi mengandeng tangan kiri petra menuju motornya. Petra sangat terkejut melihat tangannya digandeng oleh levi. Mereka sudah sampai di depan motor. Levi melepaskan tangan petra.
"ini pakailah helmku dan pegang katong belanjamu". kata levi sambil menyerahkan helmnya dan kantong belanja.
"ketua bagaimana? Apa tidak apa-apa kalau aku memakai helm ketua?" tanya petra.
"tidak apa-apa. cepatlah naik nanti orang tuamu khawatir." Jawab levi yang sudah menaiki motornya.
"i-iya". Kata petra sambil naik di jok penumpang belakang levi.
"kau sudah siap?" tanya levi menoleh ke belakang. Petra yang berada di belakang yang sudah memakai helm mengangguk. Levi menghidupkan mesin motornya. sebelum jalan levi berkata "sebaiknya kau pegangan."
'pegangan?' batin petra heran. Levi mulai menjalankan motornya sangat kencang. Petrapun tak sengaja memeluk punggung levi. Sedangkan levi yang sedang menyeringai puas sambil fokus mengendarai.
Setelah 15 menit berlalu akhirnya mereka sampai didepan rumah petra. Di area sekitar rumah petra memang sangat sepi sekali saat malam hari hanya lampu penerangan yang menyinari jalanan sekitar rumahnya yang sepi itu. Petra menyadari melepas pelukannya dari punggung dan cepat-cepat turun dari motor levi.
Petra melepaskan helm dan jaket yang dipinjamkan oleh levi "ini ketua. Terima kasih telah mengantarkanku pulang dan menyelamatku tadi."
Levi yang masih berada diatas motornya akhirnya turun mengambil helm dan jaketnya "kau sudah merasa baikan?" tanya levi memastikan.
"tentu saja aku sudah merasa baikan sekarang. ketua tidak perlu khawatir." Jawab petra.
"sebaiknya kau jangan belanja saat malam hari seperti ini sangat membahayakan. Tidak seharusnya seorang gadis keluar sendirian malam hari dan melewati jalan sepi seperti tadi." Jelas levi yang tampak begitu khawatir terhadap petra.
Petra menundukkan kepalanya menghadap tanah "maafkan aku. Aku akan berhati-hati lagi."
Petra merasakan kepalanya menyenyuh sesuatu. Petra melihat keatas ternyata tangan levi mengelus kepalanya. Petra merasakan hatinya berdebar sangat kencang.
Levi melepaskan tangannya dari kepala petra "syukurlah kalau kau merasa baikan sekarang. kalau begitu aku pamit pulang". Setelah itu levi berbalik menuju motornya "petra seharusnya kau memanggil namaku bukan dengan panggilan ketua. Kau masih ingatkan saat di pantai dulu?" lanjutnya.
"i-iya." Jawab petra merasa malu.
Levi yang sudah berada diatas motornya dan menyalakan mesinnya bersiap untuk pulang.
"ketu...ah bukan maksudku levi terima kasih dan hati-hati dijalan." Kata petra tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya.
"sama-sama. Oyasumi petra." Jawab levi tersenyum dibalik helm dan pergi meninggalkan petra. Petra bisa melihat senyum levi walaupun dia memakai helm. 'aku malu sekali dengan kejadian tadi. Aku sangat terkejut dia memelukku saat aku ketakutan.' Batin petra membuka pintu rumah.
Jam didapur sudah menunjukkan jam 07.10 petra yang sudah memakai seragam segera apron yang dia pakai dan mengambil tasnya. Kemudian ia berpamitan dengan ayahnya yang berada di meja makan. Setelah selesai memakai sepatu dan membuka pintu ternyata tetangga sekaligus sahabatnya sudah menunggunya.
"ohayou petra." Sapa krista dengan ramah.
"ohayou krista." Sapa petra kembali.
Krista sambil berjalan disamping petra "kemarin kamu pulang belanja jam berapa?"
"sekitar jam sembilan lewat. Banyak yang harusku beli." Jawab petra.
"oh...benarkah? tapi kemarin bagaimana kamu bisa pulang dengan ketua?" tanya krista langung to the point.
Petra terkejut pertanyaan krista "a-apa?"
"Kemarin bagaimana kamu bisa pulang dengan ketua?" tanya krista penasaran dengan penuh menyelidik.
"i-itu nanti aku akan cerita di kelas nanti." Jawab petra.
"kenapa tidak sekarang saja? Aku sangat penasaran petra." Kata krista
Petra melihat jam tangan yang berada di tangan kirinya "ah...gawat kita nanti akan terlambat. Kita harus cepat."
Krista mengangguk dua kali"baiklah kau harus menceritakan nanti."
Petra dan krista sudah sampai di depan gerbang sekloah terlihat semua murid SAKURA-GAKUEN menuju pintu masuk utama sekolah. Petra dan krista segera mengganti sepatu mereka dengan uwabaki. Saat membuka loker sepatu ada seseorang yang menyapa mereka berdua dari belakang.
"ohayou kalian berdua." Sapa sasha merangkul pundak petra dan krista dari belakang.
"ohayou sasha." sapa petra.
"ohayou..bisakah kau melepaskan rangkulanmu karena rangkulanmu terlalu kuat." Kata krista.
Sasha melepaskan rangkulannya "hahaha gomen."
Krista melepaskan sepatu luar "sepertinya kau sudah sangat sehat."
"ya seperti yang kau lihat sekarang. Aku sangat sehat sekali." Kata sasha membuka loker sepatunya di samping petra.
Petra yang sudah mengganti sepatunya dengan uwabaki "syukurlah kalau begitu."
Setelah mereka bertiga selesai mengganti sepatu dengan uwabaki. Mereka menuju ke kelas mereka. Terlihat murid kelas 1-2 sudah banyak yang datang. Tapi mata petra melihat sekeliling diruang kelas 'syukurlah dia belum berangkat.'batinnya
Sasha memasuki kelas "ohayou minna-san."
Akane yang sedang menhapus papan tulis "ohayou sasha,krista dan petra."
"ohayou kalian bertiga." Sapa mikasa yang sibuk mengecek jurnal kelas.
"ohayou mikasa,akane." Sapa keista dan petra.
Petra menaghampiri mikasa "aku kira kau belum datang mikasa. Sepertinya kau sibuk sekali."
"aku tidak terlalu sibuk aku hanya mengecek jurnal kelas kita apa ada mata pelajaran belum terisi." Kata mikasa membalikkan kertas dari buku jurnal.
"tapi biasanya kau berangkat dengan erenkan? Aku tidak melihatnya." Kata sasha.
Mikasa menutup buku jurnal "aku menyuruhnya menganti spidol di ruang guru bersama armin. Tapi bagaimana denganmu?"
"Apanya?"tanya sasha.
"bukannya rumahmu dengan jean berdekatan? Seharusnya kau berangkat bersama dengannya." jelas mikasa
"ciih..rumahku dengan rumahnya hanya berbeda beberapa blok saja. Itu tidak dekat. Walaupun bertetangga atau berbeda beberapa blok aku tidak akan berangkat bersamanya. Yah...walaupun juga ibu kami saling kenal." Jawab sasha.
Krista tersenyum mendengar perkataan sasha "walaupun kau tidak ingin berangkat dengannya padahal hatimu berkata aku ingin sekali berangkat bersamanya."
Eren masuk ke kelas "mikasa aku hanya dapat 2 spidol di ruang guru."
"kau sudah menggantinya? Tidak apa-apa cuma 2 spidol. Arigato eren,armin." Kata mikasa mengambil spidol yang dibawa eren.
"douita.." jawab eren dan armin.
Teeet...teeet...
Bel masuk sekolah sudah berbunyi manandakan jam 07.30. Murid kelas 1-2 segera menuju kebangku mereka masing-masing. Petra segera berjalan kebangkunya yang berada dibelakang di dekat jendela. Petra duduk dan memperhatikan bangku di sebelah kanannya. ' dimana ketua? Apa terlambat? tidak mungkin.' Batinya. Tapi pintu kelas yang berada dibelakang terbuka. Semuanya yang di dalam kelas menoleh kebelakang. Dua orang itu segera menuju ke bangku mereka sebelum sensei mereka datang. Dua orang yang terlambat tadi levi dan jean. Tak lama kemudian sensei masuk dan memulai pelajaran sejarah. Sensei yang sibuk menerangkan dan menjelaskan tentang peningalan pada zaman dulu. Melihat keadaan kelas saat ini para murid mulai bosan mendengar apa yang diterangkan sensei mereka di depan.
"oi..jean tumben kau datang terlambat." Bisik eren.
"aku tidak terlambat tapi datang tepat waktu." Balas jean masih menatap buku paket sejarah.
"oh..begitu.."
Sedangkan dibangku belakang petra sepertinya tidak mendengarkan senseinya menjelaskan materi di depan. Diam-diam petra melirik levi yang sibuk memperhatikan buku. Petra jadi teringat tentang kejadian kemarin entah kenapa dia merasa malu sekarang. Petra tersenyum mengingat kejadian itu langsung memperhatikan bukunya kembali. Sedangkan levi tahu bahwa dari tadi petra meliriknya diam-diam. 'kurasa dia mengira aku tidak tahu kalau sedang diperhatikan olehnya.' Batinya yang masih fokus dengan bukunya. Tapi saat petra kembali fokus melihat bukunya. Levi tidak sengaja melirik petra tersenyum sendiri 'dia pasti memikirkan kejadian kemarin.' Batin levi 'tapi dia sungguh manis' lanjutnya.
Setelah selesai pelajaran sejarah yang selama dua jam. Selanjutnya pelajaran seni rupa. Murid kelas 1-2 segera ke ruang seni yang berada di lantai 2. Ternyata Ritsuka sensei yang sekaligus wali kelas 1-2 sudah menunggu di dalam. Mereka semua menuju tempat duduk. Tempat duduk di ruang seni saling berhadapan satu sama lain jadi tidak seperti di kelas.
"Halo murid-muridku yang manis. Tugas hari ini kalian mengambar sketsa buah-buahan yang diatas meja." Kata ritsuka sensei "kalian akan memakai teknik arsiran. Buku sketsa dan peralatan untuk menggambar ada di lemari belakang. Apa ada pertanyaan?"
Eren mengangkat tangan kanannya "apa gambar ini harus diselesaikan sekarang sensei?"
"tentu saja kuarasa waktu 2 jam cukup. Dipertemuan yang akan datang sensei akan mengajarkan melukis dan tekniknya juga. Apa sudah jelas?". Jelas ritsuka sensei dengan ceria.
"ya sensei". Jawab eren
Ritsuka sensei berjalan menuju pintu "kalian boleh mulai menggambar. Sensei akan ke ruang guru sebentar. Kalian boleh menggambar sambil mengobrol tapi jangan terlalu keras. Rivaille jangan biarkan anggotamu ada yang keluar dari ruang ini berkeluyuran."
"ya sensei". Jawab levi. 'semoga saja tidak ada kejadian aneh-aneh lagi' batinnya.
"kalau begitu sensei tinggal sebentar murid-muridku yang manis." Kata ritsuka sensei yang sudah berada diluar kelas dan menutup pintu.
"kukira sifatnya akan berubah setelah musim panas selesai." Kata jean.
"kurasa memang sifatnya memang begitu." Kata eren berada samping kanan jean.
Murid kelas tampak begitu serius dengan buku sketsa menggambar objek yang berada di depan mereka. Satu jam telah berlalu tampaknya tugas mereka sudah hampir selesai. Tersisa satu jam lagi untuk pelajaran seni rupa.
"akhirnya selesai." Seru sasha sambil menghapus bagian-bagian yang kurang rapi.
Krista melihat gambar sasha yang duduk di sampingnya "gambarmu lumayan juga. Arsiranmu bagus sekali."
"Ternyata kau punya bakat menggambar selain makan." Kata mikasa yang tetap menggambar.
"terima kasih itu aku anggap sebagai pujian darimu mikasa. Apa kalian sudah selesai?" tanya sasha menatap ketiga sahabatnya.
Krista menunjukkan gambarnya "aku sudah selesai."
"aku juga sudah selesai." Jawab petra juga menunjukkan gambarnya.
"aku hampir selesai." Jawab mikasa yang masih melanjutkan gambar.
Krista menepuk kedua tangannya "oh..iya bagaimana kau melanjutkan pembicaraan kita tadi petra?"
"pembicaraan apa?" tanya mikasa penasaran.
"sepertinya seru. Aku siap mendengarkan." Kata sasha.
'sepertinya mereka bertiga sangat penasaran.' Batin petra. "kurasa tempat ini kurang tepat untuk membicarakannya."
"kenapa? Apa kau takut ada yang dengar?" tanya sasha.
Krista melihat teman-teman sekelasnya "lagi pula semuanya pada sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing."
Mikasa menutup buku gambarnya "menggambarku sudah selesai. Benar kata krista kurasa tidak ada yang mendengar kecuali kita berempat."
Petra menghela nafas siap menceritakan yang terjadi kemarin. Petra menceritakan setelah pulang dari cafe dia ingin belanja beberapa kebutuhan di rumah. Kemudian dia tidak sengaja bertemu ketua disana. Sampai petra menceritakan kejadian dijalan dia dijegat dua oarang pria yang tidak dikenalnya dan ketua menyelamatkannya. Petra sudah menceritakan semuanya dan sekarang tinggal menuggu reaksi tiga temannya.
"apa?!" teriak sasha sambil berdiri. Teman-teman sekelasnya yang sibuk dengan kegitan mereka berhenti melihat sasha yang berteriak. "oops...sepertinya aku menganggu." Kata sasha entah pada siapa dan duduk kembali. Setelah itu mereka semua melanjutkan kembali kegiatan yang sempat terhenti.
Mikasa menatap tajam ke sasha "sasha reaksimu tadi sangat memalukan."
"hahaha gomen. Aku sangat terkejut degan ceritamu petra. Tapi untung saja ketua datang sudah menjadi pangeran yang sudah meyelamatkanmu." Kata sasha beranjak duduk di samping petra. "ini semuanya karena krista membiarkan kau pergi sendirian. Kau pasti ketakutan sekali" Lanjutnya memeluk petra dari samping kiri.
Krista menatap sasha sebal "hentikan aktingmu sasha. ini bukan drama. Aku sudah menawarkan diriku untuk menemaninya. Kau tidak dengar yang di ceritakan petra?"
Mikasa mentap kedua temannya yang duduk didepannya "kalian berdua ini sudahlah yang penting petra tidak apa-apa. Petra seharusnya kau lebih berhati-hati. Banyak orang jahat yang berkeliaran di malam hari. Tidak seharusnya seorang gadis yang masih diduduk bangku SMA pergi sendirian."
"terima kasih mikasa. Lain kali aku akan berhati-hati." Jawab petra sambil tersenyum.
"oh..iya kalian benar-benar romantis kemarin. Apa yang kau bicarakan dengan ketua petra?" tanya krista.
Sasha sangat penasaran kembali duduk di samping krista "wah..pasti seru memang apa yang kau lihat krista?"
"Apa kau mengintip kami berdua?" tanya petra curiga.
Krista menjawab "tentu saja tidak. Aku tidak sengaja melihat kalian berdua saat menutup pintu balkon kamarku. Aku cuma melihat 10 detik saja kok."
Mikasa menatap krista dan sasha "semua orang pasti punya privasi. Kalian tidak boleh bertanya lebih lanjut." Petra hanya tersenyum mendengar yang dikatakan mikasa. Petra merasa beruntung mempunyai sahabat-sahabat seperti mereka. Mereka semua tertawa bersama-sama
Sedangkan dibangku levi yang berada tidak jauh dibangku petra. Sepertinya levi,eren,jean dan armin sudah selesai dengan tugas menggambar mereka.
"coba lihat dibangku petra sepertinya mereka membicarakan hal yang seru." Suara eren memecah keheningan yang ada.
Jean melihat dibangku petra "kurasa mereka sedang bergosip. Benarkan ketua?"
"hn." Jawab levi singkat.
Armin menatap penasaran ke jean "oh..iya jean kemarin kau kemana pada saat jam pelajaran bahasa inggris? Setelah jam olah raga selesai aku tidak melihatmu?"
Mendengar pertanyaan dari armin sepertinya levi dan eren tertarik mendengar jawaban dari jean langsung mematung mendengar pertanyaan dari armin. Apa yang harus dia jawab. Apa dia harus menjawab dengan jujur? Bahwa kemarin dia melihat sasha di uks? Menjawab dengan jujur dengan situasi sekarang sangat tidak mungkin. 'aku harus menjawab dengan tenang.' Batin jean.
"hmm..aku sedang ke kamar mandi." Jawab jean yang sebenarnya di dalam hatinya sangat panik.
'pembohong.' Batin levi dan eren.
Eren mengangkat alis kanannya "jawaban apa itu? Ke kamar mandi lama sekali? kau yakin tidak mampir kemana-mana?"
"ciih...sial eren mulai curiga.'batin jean. "ya aku memang ke kamar mandi. Aku ada masalah dengan perutku."
"oh..begitu ya. Aku kira kau pergi ke uks melihat sasha." kata eren tersenyum licik.
Armin mengingatkan "iya benar kemarin sasha sakit dan berada di uks."
"kau tidak mungkin di kamar mandi berlama-lama. Memang kau sekalian mandi." Kata levi yang angkat bicara juga.
'sial..kenapa mereka seperti memperlakukanku seperti seorang penjahat yang sedang diintrogasi disini. Aku harus bisa menyakinkan mereka bertiga.' Batin jean yang kesal.
Jean berpura-pura tertawa "hahaha mana mungkin aku ke uks. Kemarin perutku hanya sedikit sakit saja.."
'dia masih tidak berkata jujur. Apa aku harus menunjukkan foto itu kepadanya? Sepertinya jangan dulu. Situasinya kurang tepat dan kurang seru.' Pikir eren melipat kedua tangannya di meja.
Tidak lama kemudian ritsuka sensei muncul dibalik pintu " halo murid-muridku yang manis. Apa kalian sudah selesai menggambar?"
"ya sensei."
"baiklah silahkan kumpulkan didepan meja. Kalian boleh istirahat siang.." kata sensei yang berdiri di depan kelas.
Teet...teeet
Tak lama bunyi bertanda istirahat. Murid kelas 1-2 mengumpulkan buku gambar mereka di depan kelas. Mereka semua berpencar untuk istirahat. Petra,krsita,mikasa dan sasha kembali ke kelas karena mereka membawa bento. Tidak hanya mereka yang membawa bento ada teman sekelas mereka juga ada yang membawa bento juga. setelah sampai di kelas seperti biasa krista,sasha dan mikasa membawa bento mereka kebangku petra. Mereka bertiga meminjam bangku teman mereka dan menggabungkan dibangku petra.
"itadakimasu." Kata mereka berempat.
Krista melihat isi bento petra "wah..petra sepertinya biasa bekalmu selalu menarik."
"sosis dengan bentuk guritamu menarik. Aku boleh minta?" tanya sasha.
Petra mengangguk "tentu."
Sasha mengambil sosis itu dengan sumpitnya "oishii. Kau sudah boleh menikah petra. Masakanmu selalu enak. Seharusnya aku belajar masak denganmu"
"memang kau bisa memasak sasha? kukira kau hanya bisa mencicipi makanan." Sindir mikasa memakan telur dadarnya.
"hei..kau meledekku ya? tentu saja aku bisa memasak." Jawab sasha.
"kalau kau butuh bantuan memasak bisa kuajari." Kata petra.
"benarkah? Kau sungguh baik sekali."kata sasha "kalian tunggu sebentar..." sasha pergi kebangkunya mengambil sesuatu disana.
Krista melihat sesuatu ditangan sasha "kertas apa itu?"
Sasha memperlihatkan sebuah karcis "ini ada 4 karcis pergi ke disneyland. Ibuku mendapatkannya dari temannya."
Krista mengambil satu karcis membacanya "kenapa harus minggu ini? aku tidak bisa pergi."
"minggu ini? sepertinya aku tidak ada acara." Pikir mikasa.
"aku bisa minggu ini. bagaimana denganmu sasha?" tanya petra.
"tidak bisa. aku ada acara keluarga. Kalian pergi berdua saja."
Mikasa memandang 2 tiket yang diatas meja "bagaimana 2 tiket lagi? sasha dan krista tidak bisa pergi."
Krista tersenyum untuk 2 tiket itu "aku tahu. Mikasa kau ajak saja si eren dan petra kau ajak ketua."
Sasha mengagguk setuju "betul juga kata krista. Kalian bisa megajak mereka berdua."
Mikasa dan petra saling memandang satu sama lain untuk memikirkan mengajak eren dan ketua.
Mikasa menghela nafas "baiklah..aku akan coba tanyakan kepadanya."
"aku juga akan bertanya kepada ketua."kata petra.
"baguslah." Kata krista " Aku jadi ingin pergi bersama armin juga. Tapi hari minggu ini aku tidak bisa. menyebalkan sekali aku jadi iri dengan kalian berdua." Dengan suaranya sedih memakan sayur yang ada di bento.
Sasha tersenyum "tenanglah krsita mungkin lain kali kita berempat bisa pergi kesana."
Krista menunjuk petra dan mikasa bergantian dengan sumpitnya "ingat nanti kalian berdua harus menceritakan apa saja yang terjadi di disneyland."
Mikasa menatap datar krsita "seperti biasa kau selalu ingin tahu krista."
-Skip Time-
Bel pulang berbunyi 5 menit yang lalu di sakura-gakuen. Para siswa yang sudah penat dengan segala materi yang diajarkan sensei mereka selama 6 jam mereka terima, merasa lebih lega ketika bel pulang berbunyi. Seolah bel itu penyelamat bagi mereka yang sudah merasa lemas dan capek menerima materi. Tentunya para murid segera bergegas untuk keluar dari sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing. Petra yang masih membereskan buku memikirkan bagaimana cara mengajak ketua di disneyland. Petra takut kalau ketua menolak ajakannya. Dia melirik ke kanan ketua masih membereskan buku. 'apa aku harus mengajaknya sekarang? apa besok saja? Kalau terlalu lama nanti dia ada cara lain.' Petra menatap krista yang sudah berada di depan pintu. Krista tahu apa yang dipikirkan petra. 'aku akan tunggu di depan gerbang. Ganbate.' Kata krista pelan dan berjalan pergi.
Petra melirik ke levi sepertinya dia sudah selesai membereskan buku dan dia segera berdiri dari bangkunya. Petrapun dengan cepat memasukkan buku paket ke dalam tasnya dan mengejar levi dari belakang.
"Levi." Panggil petra di koridor yang sudah sepi.
Merasa namanya dipanggil levi berhenti menoleh ke belakang melihat petra berlari mendekatinya. "ada apa?"
"um..be-begini apa ketua ada acara hari minggu ini?" tanya petra.
"hari minggu? Sepertinya tidak." Pikir levi.
"aku punya 4 tiket pergi ke disneyland dari sasha. Apa ketua mau pergi ke disneyland denganku hari minggu nanti?" tanya petra. 'semoga saja ketua tidak menolak.' Batinnya.
"ya aku akan ikut. Tapi katamu ada 4 tiket kenapa tidak pergi dengan krista,mikasa dan sasha?"
"krista dan sasha tidak bisa pergi. Mereka ada acara di hari minggu nanti. Hanya mikasa yang tidak ada acara."
"yang 1 tiket lagi?" tanya levi.
"1 tiket itu mikasa mengajak eren ikut." Jawab petra.
"oh..begitu baiklah."
"kalau begitu aku pulang duluan. Krista sudah menunggu di depan gerbang. Sampai jumpa besok levi." Pamit petra.
Levi mengangguk melihat petra pergi. 'eren? Kenapa mengajak penganggu itu. Semoga saja dia tidak mengganggu seperti dulu.' Batin levi mengingat kejadian di pantai dan festival kembang api dulu.
Krista melihat petra berjalan kearahnya "bagaimana?"
Petra mengangguk "ketua ikut."
"benarkah?".Tanya krista tidak percaya.
"iya, aku kira dia akan menolak ajakanku."
"mana mungkin ketua menolak ajakan dari seorang gadis yang disukainya."
"aku tidak yakin dia menyukaiku."
"kau tidak melihat cara pandangnya kepadamu? Aku yakin dia menyukaimu petra." Kata krista semangat.
Petra tersenyum "terima kasih krista. Kau sudah memberikanku semangat.
Krista dan petra terus mengobrol disepanjang jalan. Setelah sampai mereka melihat sebuah mobil hitam terpakir di depan rumah petra.
Krista menunjuk mobil itu "uhm..petra itu mobil siapa? Aku tidak pernah melihatnya."
"aku juga tidak tahu. Kurasa ayahku belum pulang kalau jam segini."
"akan kutemani masuk kedalam rumah. Aku takut terjadi sesuatu denganmu lagi."
Petra mengangguk setuju dan membuka pintu rumahnya. Petra mendengar ada suara televisi di ruang tengah. Petra dan krista menuju ruang tengah. Mereka mengintip ada seorang yang mereka kenal yang sedang menonton televisi.
Tanpa sadar petra memanggilnya "farlan-niisan?"
Farlan menoleh kebelakang melihat petra dan krista dengan wajah kaget "hai lama tidak bertemu kalian berdua. Petra kenapa kau masih berdiri disitu?" katanya. lalu, dia merentangkan tangannya lebar-lebar sambil menatap petra, "Kau tidak mau memberi pelukan selamat datang kepada onii-sanmu yang paling keren ini."
Tanpa menunggu lagi,petra langsung menghambur ke pelukan farlan,dan memeluknya. Farlan tersenyum dan mengelus kepala petra "kenapa kau jadi pendek sekali ya?" katanya.
Petra melepas pelukannya "kau saja yang bertambah tinngi. Dasar baka."
Farlan beralih memandang krista "hahaha. Kurasa begitu. Krista kau juga tidak mau memelukku juga? Kau sudah kuanggap adikku sendiri."
"no thanks. Kenapa onii-san ada disini? Sudah 2 tahun tidak bertemu dan muncul seperti hantu yang tak diundang." tanya krista yang sudah duduk di sofa.
"kau menganggapku sebagai hantu? Jahat sekali. Aku kesini karena libur." Jawab farlan.
"kenapa onii-san tidak memberitahuku akan kesini dan bagimana onii-san bisa masuk kerumah?" giliran petra yang betanya.
Farlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal "gomen, sebenarnya ayahmu sudah tahu aku akan datang dan dia menitipkan kunci rumah ke ibunya krista."
"kenapa ayah tidak memberitahuku kalau onii-san akan datang?" gugam petra.
"aku sengaja merahasiakan kedatanganku agar kalian berdua terkejut." Kata farlan dan tak lama petra mencubit lengan farlan "aduh..petra-chan mencubitku?"
Petra menatap farlan gemas "itu salah onii-san pakai rahasian segala."
Krista hanya diam memperhatikan pertengkaran kecil sahabatnya dengan sepupunya. Farlan church dia adalah sepupunya petra. Petra sudah menganggap farlan sebagai kakaknya begitu juga dengan farlan yang menganggap petra dan krista sebagai adiknya sendiri. Dulu farlan sering berkunjung dan bermain dengan mereka berdua walupun umurnya lebih tua 4 tahun. Tapi sekarang mereka jarang bertemu karena farlan kuliah di inggris.
Krista mengulurkan tanganya ke farlan "Apa onii-san tidak membawa oleh-oleh buat kami?"
farlan membuka tasnya "tentu saja ada. Sebentar...ini dia."
Krista dan petra mengambil sebuah kotak kecil dari tangan farlan. Mereka berdua membuka kotak tersebut. Krista mendapatkan gelang yang sangat manis bewarna pink sedangkan petra mendapatkan jepitan berbentuk pita dengan dihasi manik-manik bewarna merah.
Farlan tersenyum melihat petra dan krista "apa kalian berdua suka?"
Mereka berdua mengangguk dan mencoba benda yang mereka dapat.
Krista memandang gelang di tangannya "ini sangat manis sekali. Arigatou farlan-oniisan."
"arigatou onii-san. Ini sangat cocok denganku." Kata petra.
Farlan tersenyum lega "baguslah kalian suka aku sempat kebingunggan memilihnya di toko."
"kalau begitu aku pamit pulang dulu. Ja nee.." kata krista melambaikan tangannya.
Setelah krista pergi hanya petra dan farlan di ruang tamu. Mereka melanjutkan mengobrol.
Farlan menatap petra yang duduk disampingnya " jadi..bagaimana menjadi anak SMA Sakura-Gakuen?"
"menyenagkan sekali. Aku senang sekali bisa masuk kelas 1-2. Walaupun ada diantara mereka membuat masalah tetap saja kelas kami sangat kompak dan peduli satu sama lain." Jelas petra.
Farlan menganguk mengerti "begitu ya.. mendengar ceritamu aku jadi ingat masa SMAku tahu kata orang masa SMAlah yang paling menyenangkan."
"iya. Bagaimana menjadi mahasiswa di inggris?"
"menyenangkan juga. Orang disana sangat ramah juga. Di kampusku banyak orang tidak berasal dari inggris belajar disana. Ada temanku ada dari jepang,jerman dan perancis."
"wah..aku jadi ingin berkenalan dari mereka semua."
"nanti kalau ada dari mereka berkunjung ke jepang aku akan memperkenalkannya kepadamu. Tapi petra.."
"ada apa onii-san?"
Farlan memegang perutnya "perutku sangat kelaparan. Apa kau tidak punya makanan?"
"hahahaha. Karena sudah jam 5 aku akan meyiapkan makan malam. Tapi aku mandi dulu onii-san." Kata petra bernajak pergi menaiki tangga.
"yah..jangan lama-lama ya. Nanti onii-sanmu ini mati kelaparan hanya gara-gara menunggumu mandi saja."
"ya." Teriak petra yang sudah berada di lantai 2.
_SKIP TIME_
Petra memotong sayuran untuk menyiapkan makan malam sedangkan farlan menunggu di ruang tengah sambil menonton tv. Untuk malam ini petra membuat sup miso,tempura dan capcay goreng. Petra melihat jam dinding yang sudah jam 6 malam sebentar lagi ayahnya pasti pulang. Petra sudah selesai memasak tinggal menata makanan di atas meja makan. Petra mendengar bel rumah. Sepertinya ada yang datang. Petra yang inginberjalan menuju pintu ditahan farlan "biar aku saja yang buka. Kau lanjutin saja memasakmu."katanya. farlan segera membuka pintu depan melihat krista.
"halo...onii-san." Sapa krista.
"oh..hai krista. Kau membawa apa?" sapa farlan kembali melihat krista membawa mapan yang ditutup kain.
"aku membawa sedikit makan malam dirumahku. Ibuku yang membuatnya untuk menyambut kedatanganmu yang tak diundang itu." Kata krista.
"wah...ibumu baik sekali ya. Kalau begitu masuklah. Petra ada di dapur." Farlan menggeser tubuhnya untuk membiarkan krista masuk. Krista segera menuju dapur dan melihat petra menata piring di meja.
"hai..petra."
Petra melihat krista datang"ternyata kau yang datang krista. Apa yang kau bawa?"
"aku membawa yakiniku dan agar-agar yang dibuat oleh ibuku."
"arigatou. Apa kau sudah makan? Kalau belum sekalian makan disini saja."
"baiklah. Makanan yang aku bawa akan kuletakkan di meja ya.
Tak lama kemudian pintu depan terbuka "tadaima." Farlan segera mendekati suara yang dikenalnya itu."okaeri paman." Katanya membukuk memeberi hormat.
"farlan lama tak jumpa. Kau sudah terlihat dewasa ya?" kata ayah petra.
Farlan tersemyum ramah "iya. kelihatannya paman sangat sehat sekali."
Petra menghampiri mereka"Ayah makan malamnya sudah siap. Ayah sebaiknya mandi dulu."
Ayah petra mengangguk mengerti."baiklah. Kalau begitu paman tinggal dulu sebentar." Katanya menepuk pundak farlan.
Setelah menunggu ayah petra sekitar 10 menit. Mereka semua sudah berkumpul dimeja makan.
Farlan melihat makanan yang tertata rapi"wah...aku tidak percaya kalau masakan ini petra yang membuatnya."
Petra mengembungkan kedua pipinya "kalau tidak pecaya onii-san tidak usah makan saja masakanku."
krista tertawa yang duduk disamping sahabatnya ini "onii-san jangan meremehkan masakan petra."
Ayah petra memuji petra "masakan putriku sangat enak dan dia sangat pintar sekali memasak."
"benarkah? Kalau begitu akan kucicipi. itadakimasu ."kata farlan.
"itadakimasu."
Farlan mencoba mencicipi capcay goreng yang dibuat petra "ini enak sekali. Paman putri anda sudah boleh menikah. Masakan putri anda enak sekali.
Ayah petra tertawa mendengar yang dikatan farlan, "kurasa begitu. Kalau masakan enak seperti ini suaminya pasti akan senang dan rajin pulang."katanya
"benar paman. Kurasa yang duluan menikah nanti petra." Kata krista yang ikut pembicaraan.
Petra memutar kedua bola matanya 'ya ampun, mereka bertiga ada-ada saja.'batinya.
"hahaha sepertinya aku dan paman punya pemikiran yang sama ya. Oh..ya apa ada orang yang kau sukai petra?" tanya farlan.
"um..kenapa onii-san bertanya seperti itu?" tanya petra kembali.
"hanya betanya saja. Kalian berduakan sudah SMA mana mungkin tidak ada orang yang disukai." Jelas farlan.
Krista tersenyum polos "tentu saja ada. Kami berdua mempunyai orang yang kami suka."
Petra langsung melotot menatap krista mendegar perkataan krista. Krista melirik petra "apa?" katanya pelan.
"ayah tidak tahu kalau putri ayah sudah mulai meyukai seseorang."kata petra menatap petra.
"sudah kuduga. Siapa namanya?" tanya farlan penasaran.
"namanya..rivai..aduh!" belum sempat krista meyebutkan nama. Kaki krista sudah diinjak petra di bawah meja.
petra melanjutkan perkataan krista "ketua. itu nama orang yang kusukai."
Farlan dan ayah petra heran dengan nama yang disebut petra "ketua?"
"iya kami memanggilnya dengan sebutan ketua. dia adalah ketua kelas kami. Benarkan krista?" kata petra dengan senyum palsunya.
krista tertawa dipaksakan "hahahaha iya. dia ketua kelas kami."
Segera petra mengganti topik pembicaraan "sebaiknya kita melanjutkan makan nanti keburu dingin."
"ya benar kata petra nanti makanannya keburu dingin."kata farlan yang sudah mengunyah.
Akhirnya makan di rumah petra sudah selesai. Petra dan krista membereskan meja dan mencuci piring. Sedangkan farlan dan ayah petra mengobrol di ruang tengah. Setelah selesai krista pamit pulang kepada ayah petra. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Farlan melihat hari sudah malam ingin bepamitan pulang.
"paman ini sudah malam aku pamit pulang dulu." Kata farlan.
Ayah petra melihat jam dinding "ini sudah malam pasti kau sangat lelah. Istirahatlah malam ini dirumah paman. Paman ada kamar tamu diatas."
"baiklah kurasa ibu tidak akan memarahiku menginap dirumah paman."
"petra."panggil ayahnya.
Petra meghampiri ayahnya "ada apa,yah?"
"tolong kau bersihkan kamar tamu diatas, farlan akan menginap malam ini disini."
"onii-san menginap? Baiklah akan kubereskan."kata petra yang langung pergi ke lantai atas.
"maaf merepotkan paman dan petra."
"tidak apa-apa. Lagi pula kau kesini saja membutuhkan waktu 2 jam ditambah lagi kau menyetir mobil sendirian. Kalau terjadi sesuatu ibumu nanti cemas."
"terima kasih paman."
Setelah membersihkan kamar tamu petra memanggil farlan yang masih mengobrol dengan ayahnya. Farlan pamit ke ayah petra dan mengikutinya dari belakang. Mereka berdua sampai di depan kamar tamu yang berada di depan kamar petra. Petra membuka pintu kamar tamu "sekarang onii-san bisa istirahat. Aku sudah menyediakan handuk bersih dikamar mandi."
"arigatou petra-chan sudah menyiapkan ini semua. Badanku lelah sekali." Kata farlan merentangkan kedua tangannya.
Petra menunjukkan pintu kamarnya "Kalau onii-san butuh sesuatu kamarku di depan kamar ini."
Farlan duduk dipinggiran kasur "kau tidak tidur sama onii-sanmu ini?"
"tidak. Aku sudah punya kamar sendiri." Jawab petra.
Farlan mentap petra yang masih berdiri diambang pintu "padahal dulu kau sangat menempel seperti benalu kepadaku waktu kecil dulu. Aku ingat saat acara keluarga dan menginap di villa. Kau tidak bisa tidur sendiri dulu dan memintaku tidur denganmu dulu."
Petra mengingat kenangan bersama farlan "ya itu aku sangat cengeng saat masih kecil dulu. Tapi sekarang aku tidak cengeng lagi."
Farlan ketawa mendengar perkataan petra tadi "jadi kau masih ingat ya. Kau yakin tidak mau tidur bersama dengan onii-sanmu ini?"katanya dengan nada menggoda petra..
"tidak dan berhenti menggodaku onii-san. Ini sudah malam aku mau tidur."kata petra kesal mentup kamar tamu dan membuka kamar pintu kamarnya untuk beristirahat. Farlan hanya tertawa melihat sepupunya itu sedang kesal karena dirinya. Farlan memang suka menggoda dan menjahili saat petra kecil dulu. Farlan beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi terletak di kamar ini untuk membersihkan dirinya.
Sinar matahari masuk melalui celah tirai muncul kamar petra. Si pemilik kamarpun terbangun karena ada cahaya silau di matanya. Petra bangun dengan keadaan yang masih mengantuk "sekarang jam berapa ya?" gugamnya. Petra mengucek kedua matanya dan melihat jam yang berada di meja samping tempat tidur. Matanya membulat melihat jam berepa sekarang "apa? Aku pasti bermimpi mana mungkin sekrang jam 7 pagi." petra melihat jam dindingnya dia tidak salah lihat benar sekarang jam 7 pagi "gawat aku akan terlambat. Aku belum menyiapi sarapan buat ayah dan onii-san." Katanya beranjak dari kasurnya berlari ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Setelah 5 menit selesai petra bergegas mengganti piyama tidurnya dengan seragam sekolah. Setelah selesai memakai seragam petra tidak lupa membereskan tempat tidur dan memasukkan buku pelajaran hari ini kedalam tas. Setelah selesai petra membawa tas sekolah dengan buru-buru dia turun dari tangga. Petra segera menuju dapur untuk menyiapi sarapan tapi di dapur sudah ada 3 orang duduk di meja makan. Mereka sibuk memakan sarapan yang sudah disiapkan.
Krista melihat petra "ohayou petra."
Ayah petra yang sedang membaca koran mengalihkan pandangannya ke putrinya"tumben sekali putri ayah bangun terlambat."
"oh..petra kesini aku sudah menyiapkan roti bakar untukmu dan susu hangat."kata farlan.
Petra duduk disamping krista"arigatou onii-san. Maaf membuatmu repot biasanya aku tidak bangun terlambat begini."
Farlan meminum teh buatannya "tidak apa-apa. Nanti aku akan mengantarkan kalian berdua sekolah dari pada kalian terlambat nanti."
"benarkah?onii-san akan mengantarkan kami sampai sekolah dengan mobil?" tanya krista.
Farlan mengangguk "iya sekarang kalian berdua cepat habiskan sarapan kalian."
Petra dan krista sudah menyelesaikan sarapan mereka. Petra melihat jam dinding yang berada didapur menunjukkan jam 07.16. petra segera pamit dan mencium pipi kiri ayahnya untuk berangkat sekolah. Krista juga berpamitan dengan ayahnya petra. Farlan juga berpamitan pulang sekalian mengantar petra dan krista sekolah. Farlan segera masuk ke kursi kemudi. Petra duduk di samping farlan sedangkan krista duduk dibelakang. Farlan menjalankan mobilnya menuju sekolah petra dan krista. Mereka telah sampai di depan gerbang sekolah sakura-gakuen. Petra dan krista keluar dari mobil dan diikuti farlan.
Farlan melihat sekolah petra dan krista"kalian berdua sudah sampai sekarang. Kurasa kalian tidak terlambat."
"iya sih tapi onii-san tidak perlu ngebut juga di jalan raya. Itu sangat membahayakan" protes krista.
Petra menunjuk wajah farlan "kalau onii-san ingin mati jangan mengajak kami berdua seperti tadi."
Farlan ternsenyum tanpa dosa "yah...yang penting kalian tidak terlambat bukan? Lagi pula kalian masih hidup."
"kalau begitu kami berdua pergi dulu." Kata petra untuk beranjak pergi. Tapi lengannya ditarik oleh farlan."ada apa?" tanya petra.
"akukan mau pulang. Kau tidak memberiku pelukan sampai jumpa lagi." Kata farlan.
Petra melihat sekeliling banyak murid yang datang "onii-san tidak lihat ini di depan sekolah. Aku tidak mau memelukmu cukup bersalaman saja.
"kau sangat jahat sekali. Aku sudah datang ke rumahmu jauh-jauh dan membawa oleh-oleh. Masa Cuma berpelukan dengan sepupumu ini tidak mau. Padahal waktu kecil kau senang dipeluk olehku." kata farlan dengan nada pura-pura sedih.
Krista hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupu sahabatnya ini "wah..petra kau jangan membuat onii-sanmu ini menangis disini."
Petra menghela nafas "baiklah onii-san boleh memelukku hanya sebentar saja."
Farlan segera memeluk petra "jaga dirimu baik-baik." Bisiknya
Petra membalas pelukan farlan "iya. onii-san juga. Kalau sudah sampai rumah jangan lupa mengirim email kepadaku. Salam buat bibi dan paman ya" Bisik petra.
"hei..kalian berdua hentikan drama dadakan ini. Kalian berdua dilihat siswa-siswi disini lo."kata krista.
"iya krista tidak memelukku juga?" tanya farlan yang sudah mlepaskan pelukannya dari petra.
Krista mengibaskan tangannya "tidak perlu. Kau sudah memelukku dengan tiba-tiba saat aku datang tadi pagi."
Teeet...teeet. bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai.
"kami berdua harus segera masuk. Onii-san hati-hati di jalan ya." kata petra beranjak pergi tapi lengannya di tahan lagi oleh farlan. "ada apa lagi onii-san?"
Bukannya farlan menjawab perkataan petra dia mencium pipi kanan petra. Petrapun kaget tiba-tiba farlan mencium pipi kanannya. "kalau begitu aku pulang dulu." Kata farlan melambaikan tangannya dan masuk di dalam mobilnya segera menjalankan mobilnya.
"sepupu itu terlalu sayang kepada sepupunya sendiri." Kata krista di samping petra.
"iya aku sudah mengangap farlan sebagai kakakku sendiri. Ayo nanti kita dihukum terlambat masuk kelas." Kata petra berlari menuju pintu masuk utama.
Dari tadi ada seseorang yang melihat mereka bertiga dari jendela kelas dengan mata hitamnya yang tajam. Tapi sesorang itu hanya melihat petra dan seorang pria yang terus berbincang di depan gerbang tadi. Levi terus melihat gerak-gerik petra saat di gerbang sampai adegan pria itu memeluk petra dan petra memeluk kembali pria itu. Levi tidak bisa mengalihkan pandangan yang dilihatnya sampai adegan pria itu mencium pipi kanan petra. Tanpa sadar levi mengepal tangannya kesal 'sebenarnya siapa pria itu? Kenapa pada saat petra di peluk dia tidak menolak? Lihat saja aku tidak akan membiarkan milikku di sentuh oleh orang lain' batinnya kesal.
-TBC-
A/N: huawaa..akhirnya selesai juga chapter 7 ini. Author ngebut bikin chapter 7 selama jadi pengangguran di rumah. Maaf ya bagi readers yang udah nunggu chapter 7 ini.
Balasan Review..
GrYs99 : wah..arigatou GrYs99-san udah dibilang ceritanya manis. untuk alur saya akan memperbaikinya..
Guest: arigatou ini udah update.
AzraAckerman: untuk eremika nanti di chapter selanjutnya. Sabar ya.
Ikkeh ikkeh: iya untuk typo saya akan lebih teliti lagi. Untuk yang di chapter 2 itu bukan senpai melainkan sensei (guru).
Mpin Ackerman Deyana: untuk bagian eremikanya ada di chapter selanjutnya.
Imoto Kaoru :arigatou kaoru-san .setelah baca ulang chapter 1 hanya saya hanya bisa menggelengkan kepala setelah melihat banyak typo. Author jadi malu terlalu banyak typo di chapter 1.
Sekian balasan review dari author. Sampai jumpa di chapter 8 nanti ya...
