Readers...
Wah beberapa review ternyata sangat menohok sekali ya.. Padahal Author sudah berusaha sebaik mungkin. Terimakasih untuk kritikan dan saran yang sudah diberikan. Bukan bermaksud diplomatis, tapi fic ini adalah karya keisengan saya, jika ada yang suka saya rasanya bersyukur sekali.

Ita : Story ini memang menggabungkan 2 storyline secara langsung. Kalau baca mulai dari awal pasti tau ritmenya. Coba login agar reviewnya bisa muncul yaa.. :)

Byakugan No Hime : Wah saya juga penasaran klo lihat itu. Boruto emang imut banget kek adeknya ;)

Koshiro Seijuro : Ditunggu yaa,, ;)

Zarina Yuki : Wah, review kamu sama dengan beberapa reviewer yang lain. Dalam Story ini Sasuke terpaksa OOC. Tetap dinikmati dulu ya..

.

Shinki mencoba mengikuti Himawari tanpa gadis itu sadari. Ia menjaga jarak aman tetapi tidak berusaha terlalu jauh. Hatinya tidak terima melihat Himawari begitu murung. Pancaran auranya yang terang terlihat meredup dan menyayat hatinya.

Himawari berjalan menuju salah satu kafe. Ia duduk dihadapan seorang pemuda bersurai biru muda.

Shinki memicing berkali-kali mencoba menangkap bayangan laki-laki itu dengan jelas.

Ah, tetap saja Shinki tidak mengenalinya. Dia kan bukan warga Konoha, bagaimana mungkin Shinki mengenal setiap orang. Bahkan yang ia kenal hanya keluarga Bibinya dan Himawari saja.

Pertemuannya dengan Himawari diawali beberapa tahun lalu ketika Shinki dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Bibinya. Saat itu ayah Himawari sedang berkunjung pula kerumah keluarga Nara untuk membicarakan masalah bisnis dengan Sang Kepala keluarga, Paman Shikamaru.

Saat itulah Shinki bertemu Himawari yang ceria layaknya bunga Matahari. Tangannya bergelayut riang di lengan ayahnya. Wajahnya yang imut memesonanya dalam sekali pandangan. Ah. Shinki juga bisa melihat rona merah menjalari wajah Shikadai. Sepupunya itu sudah pasti menjadi pengagum gadis itu pula.

Terlalu asyik dengan lamunannya tiba-tiba ia dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya mengepalkan tangan. Himawari kini duduk sendirian. Entah kemana anak laki-laki yang tadi menemaninya. Tapi bisa Shinki lihat kalau gadis itu sedang menangis.

Tanpa pikir panjang Shinki segera menghampiri Himawari.

"Himawari-chan", panggil Shinki mengejutkan Himawari yang sedang menunduk.

Shinki langsung duduk dihadapan Himawari, ditempat lelaki yang tadi membuat Himawari menangis duduk.

"Shinki-kun? Bukannya kau sudah pergi tadi?", tanya Himawari sambil menghapus kilat jejak-jejak tangisnya.

"Maaf, aku terlanjur penasaran dengan kekasihmu", jawab Shinki kikuk. "Tak kusangka ia membuatmu menangis", geram Shinki. "Tau gitu tadi biar kuhajar saja cowok itu".

"Sudahlah, Shinki kun", kata Himawari lagi. "Mitsuki kun tidak salah kok. Dia hanya Bodoh. Siapa bilang aku akan menyerah. Aku menyukainya, dulu, sekarang dan mungkin hanya dia seorang yang akan kusukai", jelas Himawari membuat Shinki merasa kecewa.

"Begitukah?", tanya Shinki dengan suara tercekat.

"Ya", jawab Himawari mantap. "Aku tadi menangisi ketololannya. Tapi kini aku sudah putuskan, seperti apapun keputusan Mitsuki, aku akan tetap menyukainya. Dan, mungkin dia harus bersiap-siap menghadapiku. Aku tidak akan sembunyi-sembunyi lagi menyukainya".

Shinki sweatdrop. Wanita benar-benar sedikit menakutkan kalau sudah memantapkan hati seperti itu. Bahkan sikap Himawari membuatnya malu. Kenapa Shinki tak bisa seperti itu?

"Himawari", panggil Shinki membuat Himawari menoleh.
"Ya?", sahut gadis itu kembali ceria.
"Kalau begitu kita berjuang bersama ya? Aku juga sudah memantapkan hati untuk serius mengejar gadis yang kusukai meskipun saat ini dia sedang mengejar laki-laki lain", tutur Shikadai sambil menyunggingkan senyum.
EHH,, Himawari terbelalak.
"Eto, maksudmu...", Himawari menggantung kata-katanya.
"Yup, aku juga akan mengejarmu Hima. Bersiaplah".

.

Sarada mencoba menenangkan degupan jantungnya yang mulai heboh. Perlahan ia masuk kedalam kafe. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Pandangannya menatap sosok yang mati-matian ingin ia hindari selama beberapa minggu ini. Boruto sedang duduk di sudut ruangan menghadap ke arahnya. Tangan berwarna tannya melambai ke arah Sarada sambil memamerkan senyum khasnya yang manis.

Sarada perlahan menghampiri tempat duduk Boruto.

"Duduklah", pinta Boruto mempersilahkan Sarada duduk di hadapannya. "Aku sudah memesan jus tomat kesukaanmu".

"Hn", sahut Sarada singkat.

"Apa kau ingin memesan makanan lagi? Aku sudah menunggumu satu jam. Aku sudang menghabiskan beberapa mangkok ramen, hehe", ujar Boruto tersenyum kikuk. Ia benar-benar bingung bagaimana cara berinteraksi dengan Sarada yang tidak mudah ditebak.

"Satu Jam?", selidik Sarada. "Apa telingamu tuli? Aku kan bilang jam 3. Dan aku hanya terlambat 10 menit".

Boruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Hehe, entahlah. Aku hanya ingin cepat-cepat bertemu denganmu", ucap Boruto polos yang membuat Sarada merona malu.

Jadi cowok bodoh ini benar-benar berniat menemuinya?

"Sekarang, katakan alasanmu kenapa ingin menemuiku?", Sarada bertanya sambil memalingkan muka. Ia malu jika Boruto tau pipinya kini memanas menahan malu.

"Aku merindukanmu, Sarada", ucap Boruto lagi. Kipas, Sarada butuh kipas. Entah kenapa ucapan polos Boruto membuatnya benar-benar memanas. Ah, Bukan. Bahkan Sarada kini merasa panas dingin.

"Itu saja? Kau sudah bertemu denganku kan?", Sarada mempertahankan emosinya yang terancam luluh menghadapi bocah dihadapannya.

"Euhm,, iya sih. Tapi aku benar-benar merindukanmu Sarada-chan. Apa kau tidak merindukanku?".

Boruto, Baka. Sarada bahkan sudah lama merindukannya. Kemana saja bocah kuning itu selama ini? Tidak taukah Boruto, Sarada hampir mencak-mencak mendengar pernyataan rindumu itu. Andai Sarada tak bertahan dengan gengsinya, hal itu mungkin saja terjadi.

"Kau merindukanku? Bukankah kau sibuk dengan kekasihmu?", entah kenapa pertanyaan Sarada membuat hati Sarada sendiri merasa ngilu.

Bodoh, Bodoh, Bodoh, umpatnya dalam hati. Kenapa justru pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya sih?

"Uhm, eto, kurasa kau harus tau tentang ini semua. Aku dan Hikari senpai tidak seperti yang kau pikirkan", tutur Boruto memulai ceritanya.

.

"Jadi, kau itu bodoh atau apa?", hardik Sarada sambil memberengut kesal pada makhluk kuning di hadapannya. Setelah dia tau alasan Boruto mau menjadi kekasih Hikari, Sarada malah merasa kasihan pada senpainya itu. Dasar Boruto Baka, gumamnya dalam hati.

"Kau memang benar-benar keterlaluan. Kalau alasanmu hanya kasihan, itu malah akan melukainya Bodoh", hardik Sarada lagi. "Kau itu.. Ahh,, sudahlah".

"Sara-chaaaann", rengek Boruto mencari perhatian karena Sarada kini memalingkan wajahnya. Boruto tidak tau saja kalau saat ini Sarada sedang mencoba menenangkan degupan jantungnya yang membuat pipinya semakin memanas.

"Diamlah, Bodoh", bisik Sarada sambil menyentil dahi Boruto. Yang di sentil hanya mengeryit tak paham.

.

.

Hahaha.. Gaje ya? Sorry. Kuharap bisa menyelesaikan story ini dalam beberapa hari ke depan supaya tidak kembali terbengkalai karena kesibukkan dan writer's block jika kelamaan diabaikan seperti story yang lain. Hehe... Saran, Kritik, Makian (Hiks) sangat Author hargai. Terimakasih, minna...

TBC