Unperfect Princess
Kai hanya duduk menalikan tali sepatunya kuat-kuat. Ketika ia kembali melirik kearah gadis yang akan dilatihnya, ia hanya bisa mengulum tawanya sendiri dan memperhatikannya lekat-lekat. Gadis itu—Kyungsoo—sudah hampir setengah jam mondar-mandir dihadapannya dengan jari-jari yang terus ia gigiti.
Oh, ini sudah dua tahun dan gadis itu masih sama lucunya ketika ia tengah kebingungan. Ia pikir gadis ini telah kembali menjadi gadis yang lebih anggun dan pendiam seperti sikapnya saat di Juilliard dulu. Tapi bila melihat kelakuannya saat ini, ia masih tetap sama. Kyungsoo yang mudah panik.
"Oke kau membuatku pusing. Apa menurutmu menari hanya dengan mondar-mandir saja?" Tanya Kai.
Gadis itu langsung terdiam dan menatap Kai tajam. "Shut up! Apa kau tidak dengar tadi aku telah mengumpat di hadapan produser? Semua ini karenamu!" Bentaknya membuat Kai mengerutkan kening.
Gadis itu kembali melakukan hal yang sama. Kai kini duduk menyila dan memperhatikan gadis itu lebih lekat sekarang. Ia masih ingat beberapa menit yang lalu kejadian lucu yang telah gadis itu lakukan. Bagaimana gadis itu bisa mengumpat secara tak sadar dihadapannya. Dan itu semua karenanya? Hei.. apa maksudnya? Apa ia melakukan kesalahan kepada gadis ini sehingga berpikir ia akan mati? Oh God, gadis ini masih sama saja ternyata.
"Okay.. so, are you miss me?"
Kyungsoo langsung terdiam dan menatap Kai yang tersenyum padanya. Kai sengaja menggodanya, ia berpikir mungkin gadis itu butuh sedikit candaan daripada harus berpikiran bodoh tentang kejadian tadi. Lagipula produser Choi hanya memberinya sebuah gurauan tawa, meskipun berbeda dengan tatapan managernya yang sangat mencekam menatap Kyungsoo.
Kyungsoo langsung melangkahkan kakinya lebar dan duduk dihadapan Kai.
"Kau berhutang penjelasan padaku! Pertama kenapa kau ada di acara pesta makan malam Tuan Jung dengan pakaian pelayan seperti itu?" Tanya Kyungsoo tajam.
"Hmm.. aku bekerja." Balasnya kecil
Kyungsoo menyipitkan matanya. "Bekerja sebagai pelayan sedangkan kau sudah memiliki pekerjaan sebagai pelatih dancer di studio Produser Choi?"
"Kau tidak ingat ya kalau aku membutuhkan banyak pekerjaan, apapun itu agar bisa membuatku bisa makan?" Jawabnya pelan. "Lagipula aku baru bekerja tiga bulan bersama produser Choi dan tentu saja semua gajihku belum bisa kudapatkan. Mendengar Tuan Jung menerima lowongan pekerjaan lepas dengan bayaran tinggi, lumayan juga untuk bisa mengisi perutku dan menyewa apartemen yang lebih layak untukku tinggali di sini, kau bahkan tidak pernah berpikir harga sebuah apartemen sederhana di Seoul 'kan? Harganya sangat mahal."
Kyungsoo tertegun mendengar hal itu. Pria itu masih tidak berubah, di New York ataupun di Seoul. Pria ini masih belajar hidup mandiri dengan mencari pekerjaan sampingan lain untuk bisa hidup. Dan oh, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini. Jika ia mau bahkan pria ini bisa tampil diatas panggung dengan kemampuan dancenya yang luar biasa hebat. Kenapa ia memilih jadi pelatih biasa?
"Apa jawabanku sudah cukup?" Tanya Kai memastikan karena Kyungsoo terus diam.
Kyungsoo menggeleng. "Lalu kenapa kau pergi begitu saja setelah memberiku jus. Kau menghindariku ya?"
Kai langsung tertawa membuat Kyungsoo langsung mengernyit tak mengerti. "Ya Tuhan Kyung, disana aku bukan untuk bersenang-senang tapi untuk bekerja. Apa yang akan dikatakan managerku ketika dia melihatku mengobrol dengan tamu undangan yang tentunya.. euhm tidak sederajat denganku."
Kyungsoo menatapnya dalam. Entah apalagi yang harus dikatakan Kyungsoo saat ini. Penjelasannya bahkan cukup, lebih dari apa yang ingin ia tahu saat ini. Meskipun sebenarnya bukan ini yang ingin ia tanyakan. Masih ada pertanyaan lain yang ingin ia sampaikan namun sepertinya ia lebih baik tidak menanyakannya.
Kai yang memperhatikan Kyungsoo saat ini langsung tersenyum dan kembali mengajaknya untuk bicara karena ini terlihat sangat canggung.
"Jadi, pertunjukkan opera lagi ya?" Tanya Kai membuat gadis itu kembali menatapnya. "Saat aku menerima naskah yang diberikan Producer Choi, kupikir aku akan menolak ikut terlibat dalam project ini. Bagiku balet membutuhkan sebuah ketekunan dari si penari yang ingin mempelajarinya. Apalagi jika ia tidak memiliki pengalaman sedikitpun. Mungkin aku akan memarahinya habis-habisan."
"Apa kau ingin melakukannya kepadaku huh?" Entah kenapa Kyungsoo kini merasa ia tengah diejek saat ini.
Kai langsung tertawa. "Saat aku tahu bahwa pemerannya adalah kau, aku langsung menerimanya. Kurasa akan sangat menyenangkan jika aku bisa memarahimu." Candanya membuat Kyungsoo menggeram dan tangannya yang sedari tadi telah gatal ingin memukulnya kini memberikan beberapa pukulan kecil membuat pria itu semakin tertawa terbahak.
"Menyebalkan! Sialan kau! Setelah mengejekku, memarahiku, apalagi yang akan kau lakukan huh?" Tanya Kyungsoo. Bahkan ia telah berkacak pinggang dengan tubuh sedikit berdiri betumpu pada kedua lututnya.
"Hmm.. mungkin aku akan mencuri hatimu."
Mendengar hal itu sontak Kyungsoo langsung memukul Kai kembali, tentunya dengan pukulan pelan. Diam-diam Kyungsoo mengulum senyumya ketika mendengar apa yang dikatakan Kai barusan. Entahlah tiba-tiba saja perasaannya menghangat. Rasa kegundahanya selama tiga hari ini tiba-tiba saja menghilang ketika ia kembali bisa bertemu dengan Kai bahkan dengan jarak sedekat ini. Kyungsoo tak bisa membohongi perasaanya bahwa ia merindukan pria yang telah mengambil alih perhatiannya selama kurang lebih dua tahun ini.
Ia menghentikan pukulannya dan kembali duduk menyila dihadapan Kai.
"Aku tidak ingin berlatih sekarang, ayo kita pergi makan siang saja." Ajaknya membuat Jongin saling menautkan alisnya tidak percaya dengan ajakan Kyungsoo saat ini.
Kai menatap kagum melihat porsi makan gadis ini. Oke mungkin ini biasa tapi melihat banyaknya porsi ramyun yang ia pesan tentu membuatnya menggeleng kepala tak percaya. Apa gadis ini menyimpan sebuah kantung cadangan diperutnya atau bagaimana? Bahkan ia tidak percaya bahwa Kyungsoo yang pemilih soal makanan saat mereka di New York kini bisa makan apa saja—meski tetap tanpa Kimchi.
"Kau tidak ingin memakan makananmu?" Kyungsoo bertanya dan Jongin hanya mendesis melihat tatapan Kyungsoo yang menajam.
"Kau makan dengan baik ternyata." Jongin meraih sumpitnya dan mulai mengaduk Ramyun yang telah tersaji dihadapannya.
"Kau memujiku lagi."
"Hanya aku yang akan memujimu tentang porsi makanan yang kau pesan."
Kyungsoo sedikit tersenyum lalu mulai menyuapi mie-nya lagi. Diam-diam ia memperhatikan wajah pria itu dari balik bulu matanya. Entah kenapa perasaanya menjadi setenang ini. Kai selalu memberikan efek aneh di dalam tubuhnya yang bahkan tak bisa Kyungsoo artikan. Yang jelas ia terlalu senang bisa melihatnya lagi sedekat ini.
"Aku senang bisa sedekat ini denganmu." Ujar Kai tiba-tiba membuat Kyungsoo tersentak.
"Ya—ya?" Sial, kenapa ia menjadi gugup? Kai tidak membaca pikirannya 'kan?
"Takdir benar-benar membawaku untuk kembali kepadamu. Bagaimana kita bisa bertemu kurasa ini bukan hanya sebuah kebetulan saja." Jawab Jongin.
Kyungsoo mengangguk kecil tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Jujur saja ia ingin tersenyum saat ini tetapi ia mencoba untuk menyembunyikannya.
"Ya. Kurasa." Hanya itu yang bisa Kyungsoo jawab kali ini. Bahkan secara tak sadar ia menggigit bibir bawahnya ketika melihat Jongin menatapnya lekat.
"Dan, berapa lama kau telah berada di Seoul?" Tanya Kyungsoo kembali mencoba mengalihkan percakapan yang tidak bisa Kyungsoo lanjutkan.
"Euhmm.. sekitar 4 bulan yang lalu."
"Kau mengatakan akan kembali setahun kemudian setelah kepergianku."
Bukannya jawaban, Kyungsoo malah mendapati tawa dapat ia dengar dengan sangat jelas. Kyungsoo kembali menatap Kai dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau tertawa?" Sinis Kyungsoo.
"Kau menungguku ya?" Goda Kai membuat Kyungsoo menelan ludahnya dan cepat-cepat mengalihkan tatapannya dari wajah pria itu. Sial, Kai benar-benar membaca pikirannya.
Kyungsoo hanya terdiam tak menanggapi ketika Kai terus tertawa. Lama-lama tawanya cukup menyebalkan untuk ia dengar. Ya Tuhan, bagaimana ini? Ia hanya bisa merutuki kegugupannya saat ini.
"Aku tidak semudah itu untuk lulus dan kembali pulang ke Korea Selatan Kyung," jawab Jongin kini mulai membuka suaranya. "Sebelum aku pergi aku harus mencari uang untuk kembali kesini, maksudku, bekerja."
"Menjadi penari jalanan dan tetap bekerja di bar?" Tanya Kyungsoo menatapnya singkat.
Kai menggeleng. "Aku menjadi koreografer pada sebuah studio."
Kyungsoo mendesis menyimpan sumpitnya sebelum menyila kedua tangannya di atas meja. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Kai. Oh Tuhan, kau lulusan Juilliard! Bagaimana bisa penari hebat sepertimu hanya bekerja menjadi seorang Koreografer dan bahkan menjadi pelatih biasa disini? Kau bisa terkenal dengan tarianmu di atas panggung, Juilliard adalah tempat orang-orang yang sukses dengan karirnya di atas panggung." Jelas Kyungsoo panjang lebar.
Kai menyipitkan matanya. "Apa aku terlihat seperti orang tidak sukses karena berdiri dibelakang panggung?"
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Melihat tatapannya entah kenapa membuatnya sedikit merasa bersalah. Dan sialnya Kyungsoo baru menyadari dengan apa yang dikatakannya. Secara tak langsung ucapannya telah menyindir Kai dan merendahkannya. Ia benar-benar ingin meminta maaf namun ketika ia melihat senyuman Kai tersungging diwajahnya. Ia mengurungkan niat itu dan berbalik menatapnya bingung.
"Apa lulusan Juilliard harus berdiri di atas panggung?" Kekehnya membuat Kyungsoo semakin diam tak mengerti dengan tawa Kai saat ini, apa yang lucu?
Kyungsoo memperhatikannya dan melihat Jongin yang kini mengeluarkan ponselnya. Untuk beberapa menit Kyungsoo hanya memperhatikan Kai yang seolah tengah mencari sesuatu didalam ponselnya sebelum akhirnya ia tersenyum dan menunjukkan kepada Kyungsoo.
Kyungsoo menerimanya dengan kedua tangan lalu menatap lekat-lekat apa yang Kai tunjukkan di dalam ponselnya.
Sebuah artikel dan nama Kai tertulis jelas didalam artikel tersebut.
Kyungsoo langsung menatap Kai untuk beberapa saat sebelum mulai membaca kembali artikelnya.
"Bukannya ingin sombong, tapi namaku cukup dikenal di New York bahkan beberapa sekolah seni di Amerika sekarang, atau mungkin sampai mahasiswa seni Eropa?" Jawab Kai dengan percaya diri.
Kyungsoo hanya bisa tertegun dengan mata yang membelalak. Ya Tuhan, kemana saja dia selama ini? Sebanyak inikah prestasi yang telah Kai buat selama setahun ini? Bahkan ia menjadi salah satu koreografer pertunjukkan tahunan yang sering diadakan di Juilliard. Ia mendelik. Ini tidak mungkin, tidak. Namun ketika ia melihat foto Kai yang berada diatas panggung dengan cahaya lampu yang hanya menyorot padanya dengan sebuah piagam yang ia pegang. Saat itulah mulutnya terbuka menganga lebar menatap tak percaya.
"Ya Tuhan, ini kau?"
Kai langsung menarik ponselnya dari tangan Kyungsoo hingga terlepas.
"Tentu saja ini aku, menurutmu siapa lagi? Aku lulus dengan nilai, dan prestasi cukup baik."
"Oh, kau luar biasa!" Kini Kyungsoo mulai bisa berkomentar dan tersenyum dengan apa yang telah Kai dapatkan.
Kai membalasnya dengan sebuah senyuman dan menatap gadis itu lekat-lekat. Senyuman itu yang telah membuatnya semakin merindukan sosok Kyungsoo disisinya.
"Bila kau sudah seterkenal itu di New York, untuk apa kau tinggal disini? Sayang, kau meninggalkan kunci utama kesuksesanmu."
"Terkenal di Negara orang lain tidak lebih baik dibandingkan terkenal di Negara sendiri. Aku ingin orang-orang disini mengenalku bahwa aku berbakat dan memiliki kemampuan."
"Itulah kenapa kau memilih menjadi pelatih di studio milik Produser Choi?"
Kai mengangguk, "Sebenarnya banyak yang menawariku namun pilihanku jatuh kepada Producer Choi."
"Kenapa?"
"Karena aku sengaja mengejarmu."
Mendengar jawaban itu Kyungsoo langsung terdiam dan menatap lekat-lekat Kai untuk beberapa saat. Entah kenapa kini pipinya mulai memanas dan jantungnya juga mulai berdebar dengan cepat. Ia langsung menangkup kedua pipinya dan mengalihkan tatapannya dari Kai. Oh, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?
"Berikan ponselmu, aku akan menuliskan nomorku agar kau mudah menghubungiku nantinya. Aku orang sibuk sekarang." Pinta Kai diselingi candaan, Kyungsoo hanya mendesisi sebelum ia tersenyum dan menyerahkan ponselnya.
Kyungsoo terus menyunggingkan senyumnya sedari tadi. Entah kenapa pembicaraannya dengan Kai siang tadi membuat hatinya menghangat. Dari candaan, pujian bahkan sampai tentang pekerjaan mereka obrolkan dalam sekali pertemuan. Sejujurnya pertemuan pertama mereka bukan menjadi hari pertama ia berlatih, melainkan jadi hari pertama mereka untuk saling melepas rindu—itu yang dipikirkan Kyungsoo.
Entah kenapa ia kembali tertawa ketika mengingat kembali candaan-candaan konyol yang Kai sampaikan kepadanya. Bahkan Kyungsoo tidak pernah tertawa sekeras itu selama ini. Hanya Kai yang bisa membuatnya tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal.
Melihat Kyungsoo yang hanya memotong-motong steak tanpa ia makan. Chanyeol langsung melirik Kyungsoo dan menatapnya curiga.
"Kau terlihat bahagia? Ada yang terjadi hari ini?" Tanya Chanyeol datar tanpa menatap Kyungsoo yang kini meliriknya.
"Ah.. tidak. Aku baik-baik saja." Ucapnya pelan.
Chanyeol bahkan tidak menanyakan keadaannya. Chanyeol memicingkan mata menatap Kyungsoo. Ada yang aneh dengan Kyungsoo saat ini. Namun ia mencoba mengesampingkan perasaan curiganya dan memilih membiarkan Kyungsoo tetap di zona ternyamannya sebelum ia memberontak lagi.
"Jadi, bagaimana latihan pertamamu?" Tanya Chanyeol membuka kembali percakapan setelah keheningan yang ia ciptakan.
"Ya.. cukup menyenangkan. Aku suka dengan pelatihnya, dia baik, berbakat, sering bercanda ya.. meski agak pemarah." Jawab Kyungsoo dengan lancar. Bahkan senyumannya masih menyungging di bibirnya yang terpoles lipstick pink berkilau.
Chanyeol menghentikan makannya dan kembali menatap Kyungsoo lekat, "Kau mengenalnya?"
"Hmm.. ya?" Kyungsoo mengangkat wajahnya dan menemukan tatapan Chanyeol yang tajam. Bukan hanya tajam tapi sangat intens, lebih tepatnya membunuh. Ia menggigit bibir bawahnya. Untuk pertama kali ia tidak bisa menjawab apa yang Chanyeol tanyakan.
"Suho mengatakan kau terlihat sangat akrab dengan pelatihmu itu." Bisik Chanyeol sebelum ia menenggak air putih meski matanya tetap intens menatap Kyungsoo.
"Dia temanku." Jawab Kyungsoo tak kalah pelan.
"Temanmu?"
"Temanku dari Juilliard, dia juniorku."
Chanyeol menguyah potongan daging di dalam mulutnya dengan pelan. Memperhatikan sikap Kyungsoo saat ini, sangat jauh berbeda dari Kyungsoo biasanya yang selalu terlihat tenang dan bersikap dingin. Tapi kali ini dia lebih banyak tersenyum. Apapun itu alasannya Chanyeol menyukai perubahan yang cukup mencolok selama beberapa bulan terakhir ini.
"Aku akan pergi ke Jepang besok bersama Ayahmu," lanjut Chanyeol membuat gadis itu mengangkat wajah menatapnya. "Kau pasti senang, ya 'kan?"
"Kau tidak perlu bertanya apa aku senang atau tidak saat kau pergi, karena kau pasti tahu jawabannya." Balas Kyungsoo menyimpan garpu dan pisaunya, tentu saja ia akan senang jika tunangannya ini pergi jauh-jauh dari sisinya. "Berapa lama?"
"Sekitar lima hari atau seminggu, aku tidak yakin jika hari Chuseok nanti aku akan pulang."
"Kau tidak akan pulang?" Kyungsoo mengernyit mendengar penuturan Chanyeol. Sesibuk inikah dia saat ini?
"Banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum pernikahan kita," Chanyeol terkekeh menatap Kyungsoo menampakkan wajah kusamnya kali ini. "Sesuai keinginanmu bukan, aku sibuk bekerja dan kini melarikan diri ke luar negeri."
Kyungsoo berdesis, "Dasar maniak pekerjaan, hal bodoh yang kau lakukan masih tetap bekerja dihari libur Chuseok."
"Kenapa? Kau kesepian?" Goda Chanyeol menunjukkan seringaiannya. Kini ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menyila kedua lengannya di depan dadanya.
Kyungsoo hanya bisa meringis melihat kepercayaan diri Chanyeol saat ini. "Lupakan, aku selalu lebih nyaman jika sendirian." Ingat Kyungsoo.
Mendengar ucapan Kyungsoo, Chanyeol berdesis mengejek. Menarik serbet yang ada di pangkuannya sebelum mengusap bibirnya halus menggunakan serbet itu. Memperhatikan bagaimana sikap Kyungsoo yang mencoba menghindari tatapannya saat ini.
"Ya.. setidaknya selama aku pergi janganlah membuat masalah hingga hari pernikahan kita."
"Oh.. kenapa aku melupakan satu hal ini, kau selalu menguntitku?" Bisik Kyungsoo.
"Apa aku terlihat seperti penguntit untukmu?" Tanyanya intens. "Selama kau tidak berhubungan dengan pria lain aku tidak akan pernah mengganggu privasimu, kita bertunangan, ingat?"
Kyungsoo mengalihkan tatapannya untuk memperhatikan Chanyeol saat ini. Satu alisnya terangkat naik menunggu jawaban Kyungsoo. Gadis itu menghela napas kecil, ia tidak bisa menjawabnya—bahkan ia tidak mengerti kenapa Chanyeol malah mengatakan hal semacam itu padanya. Ia meneggakkan tubuhnya seraya menarik tas untuk segera pergi.
"Bisa antarkan aku pulang sekarang, aku sudah cukup kenyang." Ucap Kyungsoo.
Chanyeol berdesis ketika melihat kepergian Kyungsoo, terlihat sekali ia menghindari pertanyaannya dan jujur saja, itu semakin membuatnya curiga. Dan haruskah ia benar-benar menjadi penguntit bagi tunangannya saat ini?
Sesuai jadwal, hari ini adalah pertemuan kedua Kyungsoo dengan Kai bertemu di studio produser Choi. Mungkin menjadi latihan pertama baginya. Sesuai dengan apa yang diperintahkan Kai. Ia telah membawa sepasang sepatu balet dan memakai pakaian yang cukup nyaman dipakainya. Bagaimanapun ia akan belajar untuk melenturkan diri. Ia tidak ingin mengambil resiko jika pakaiannya robek begitu saja, apa lagi dihadapan Kai. Memalukan.
Ia melangkah dengan ditemani Suho di depannya. Pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Kyungsoo mendelik, kalau bukan agenda kegiatan pasti ia tengah asyik dengan sosial medianya. Bagaimanapun jadwal Kyungsoo tak sepadat dulu dan Suho tak mungkin membuang-buang waktunya untuk mengurus jadwal yang kosong.
Samar-samar suara musik dengan tempo cepat terdengar melalui indra pendengaranya. Cukup menyenangkan untuk didengarkan dalam konser-konser besar atau pesta besar-besaran di club malam. Setidaknya mampu membuat kepala Kyungsoo sedikit manggut-manggut kecil.
"Kurasa Kai masih sedang melatih dancer lain saat ini." Ucap Suho membuat Kyungsoo mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong. Suho meringis, "Kemana pikiranmu?"
Kyungsoo mendengus. "Pikiranku masih tertanam baik di otakku." Ejek Kyungsoo dengan jari telunjuknya yang ia ketukan di pelipis.
Suho mendesis ketika gadis itu berjalan mendahuiluinya. "Kau ingin menunggu disini?"
Ia berbalik dan menatap Suho. "Tidak ada pilihan lain, lagipula aku tak mengenal banyak orang disini. Kenapa? Oppa tidak mau menemaniku?"
"Bukan, aku belum makan sejak tadi siang. Boleh aku pergi?"
"Ya tentu saja." Ucap Kyungsoo yang langsung melarikan tatapannya pada sebuah pintu yang sedikit terbuka.
"Baiklah, jika ada masalah hubungi aku."
Kyungsoo hanya berdehem tanpa membalas tatapan Suho. Hingga beberapa detik kemudian ia bisa mendengar langkah kaki Suho mulai menjauh meninggalkannya.
Kini tatapannya telah sepenuhnya tertuju pada pintu ruangan tempat latihan yang akan ia gunakan. Dentuman cepat tempo musik semakin menariknya untuk mendekat. Dan itu berhasil membuat Kyungsoo melangkahkan kakinya dan memberanikan diri secara diam-diam meraih kenop pintu. Membukanya tanpa suara sedikit pun.
Kyungsoo melongok kecil dari balik pintu tanpa melepaskan kenop pintu yang ia pegang. Memperhatikan sekitar tujuh orang tengah menari pop dance di dalamnya. Empat orang wanita dan tiga orang laki-laki termasuk Kai di dalamnya. Ketika ia menemukan sosok Kai. Kyungsoo kembali mematung memperhatikannya.
Perasannya masih tetap sama seperti dua tahun yang lalu ketika pertama kali ia melihat Kai menari. Ia masih tetap terlihat seksi dan menggairahkan. Bahkan lebih seksi dari sebelumnya. Dan Lihatlah bagaimana bentuk tubuhnya sekarang jauh lebih sempurna dan dengan kulitnya yang semakin kecoklatan membuat kesan mengklilap yang seksi dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Bahkan Kyungsoo baru menyadari tatanan rambut pria itu jauh lebih pendek tanpa poni yang terjatuh di keningnya seperti dulu. Poni itu sengaja dinaikkan keatas lebih menampilkan sisi dewasanya. Meski kadang setiap gerakan anak rambutnya akan tetap terjatuh menutupi sebagian matanya. Tapi Kyungsoo berani bersumpah. Kai benar-benar sangat menawan.
Tatapannya kini mulai turun semakin kebawah dan ia merasa malu sendiri mengingat hari terakhir yang telah mereka lakukan sebelum ia pergi. Hell, menurut Kyungsoo itu hanya sebuah ketertarikan alam. Betapa bodohnya Kyungsoo saat ini bukan? Tapi jujur saja, Kyungsoo tidak dapat menyangkal bahwa ia merindukan tubuh itu. Bagaimana ia bergerak dan mengerang dalam kekuasaan atas dirinya. Dia sangat, yak.. Kyungsoo! Apa yang kau pikirkan saat ini?!
"Kau sudah tiba sejak tadi?"
Suara itu terdengar serak namun terkesan seksi. Hingga beberapa detik ia baru menyadari bahwa sosok yang tengah diperhatikannya tadi telah berdiri dihadapannya dengan senyuman yang menawan. Oh Tuhan.
Tangannya tergelincir dari kenop pintu saking terkejutnya membuat Kai refleks mendekatkan tangannya menjangkau tubuh Kyungsoo agar tak jatuh. Namun itu tak terjadi ketika Kyungsoo bisa mengendalikan tubuhnya untuk tetap berdiri seimbang.
Kai terkekeh melihat sikap Kyungsoo saat ini yang sangat lucu sebelum akhirnya ia menuntun Kyungsoo untuk masuk.
Beberapa dancer yang sebelumnya telah berlatih menari membungkukkan tubuhnya, memberi salam kepada Kyungsoo sebelum gadis itu membalasnya kikuk. Kai terkekeh dan melirik murid-murid di depannya yang masih berusia awal dua puluhan.
"Dia sangat lucu bukan, percayalah. Kyungsoo aslinya sangat menyebalkan jika ia berada dibelakang panggung." Ejek Kai membuatnya dihadiahi sebuah sikutan yang cukup keras diperutnya. "Tapi ia sangat baik." Lanjutnya pelan membuat orang-orang itu terkikik kecil melihat kelakuan Kyungsoo dan Kai saat ini.
"Dan dia sangat menyebalkan." Balas Kyungsoo menatap penuh senyuman. Kini tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka. Senyuman keramahan mulai ditunjukkan Kyungsoo maupun anak-anak yang dilatih Kai saat ini. Kyungsoo tak pernah sedekat ini dengan orang baru, tidak karena ia tak bersama Kai.
"Baiklah, pelatihan selesai sampai disini. Aku harus melatih angsa buruk rupa ini." Ucap Kai sebelum ia tertawa melihat ekspresi Kyungsoo yang memberenggut menyebalkan kepadanya.
Mereka saling memberi salam sebelum berpamitan kepada Kai maupun Kyungsoo. Mereka meninggalkan ruangan dengan tenang hingga akhirnya hanya menyisakan Kyungsoo dan Kai yang bersiap-siap di dalam ruangan itu.
"Apa kau selalu bersikap seperti itu kepada murid-muridmu?"
"Sesekali, dibandingkan murid, aku lebih senang menyebut mereka teman."
Kyungsoo tak bisa lagi menyembunyikan senyumnya. Ia mulai berdiri dengan sepatu balet yang telah ia gunakan. Ketika ia melihat pantulan dirinya dari cermin. Kyungsoo langsung memeluk tubuhnya dengan wajah menyelidik.
"Tubuhku tak sebagus penari balet biasanya bukan? Kurasa aku terlalu pendek."
Kai melirik setelah ia melepaskan sepatunya dan membiarkannya bertelanjang kaki. "Apa menurutmu penari baret harus memiliki tubuh propossional?"
"Kurasa? Penonton memiliki ekspetasi jauh lebih tinggi dari apa yang mereka bayangkan."
Kai tersenyum lalu mulai berdiri disamping Kyungsoo. Menatap pantulan tubuh mereka masing-masing dengan tatapan sendu.
"Jangan pikirkan itu dan berlatihlah dengan sungguh-sungguh."
Kai mulai melakukan pemanasan kecil dengan merentangkan kedua tangannya dan merenggangkan tubuhnya untuk miring kekiri dan kekanan berulang kali.
Kyungsoo merasa siap tak siap dengan pelatihan ini. Namun megingat bahwa Kai adalah pelatih yang di percaya untuk melatihnya membuat rasa kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit mulai naik. Ia percaya dengan kemampuan Kai. Meski ia baru menyadari tenang satu hal.
"Kau benar-benar penari ballet ya?"
Kyungsoo meyilangkan kedua tangannya dan berbalik menyamping untuk menatap Kai yang masih melakukan pemanasan.
"Kenapa?" Kai bertanya dengan tatapan yang tertuju pada bayangan Kyungsoo di cermin.
"Aku hanya bertanya. Balet 'kan dilakukan oleh wanita."
Kai sedikit mendengus dan mengangkat tubuhnya untuk menatap Kyungsoo lebih jelas secara langsung. "Kau selalu meragukanku Kyung. Kau tidak percaya kepadaku?" Tanya Kai lekat.
Kyungsoo mematung, Ia terdiam ketika Kai mulai mendekatkan tubuhnya dan mulai berdiri dibalik punggungnya.
"Tidak ada batasan seseorang untuk belajar menari." Bisik Kai ketika kedua lengannya mencengkram halus bahu Kyungsoo. "Mau kuceritakan tentang impian masa kecilku?" Tanyanya tepat di samping telinganya. Bahkan Kyungsoo bergidik kecil merasakan hembusan nafas yang hangat menerpa kulit lehernya yang dingin.
"Suatu hari aku menonton sebuah film, Billy Eliot. Aku sangat mengaguminya." Tangannya turun dengan halus menyusuri lengan Kyungsoo hingga jatuh pada pegelangan tangannya. Kai menariknya untuk ia rentangkan membuat tubuh Kyungso bergetar dengan kedekatan yang dihasilkan saat ini. "Sejak saat itu impianku bukan hanya menjadi penari tapi menari balet seperti pria itu. Sangat mengagumkan menjadi seseorang yang spesial berjuang untuk meraih impiannya." Ia menggenggam telapak tangan Kyungsoo dan mendorong tubuhnya secara halus kesisi kanan. Menarik tangannya untuk melakukan peregangan hingga mencapai ujung jari kakinya.
Kyungsoo bergetar, jantungnya tak behenti berdebar. Nafasnya terasa tercekat di ujung tenggorokannya. Bahkan ia tak sadar dengan rasa sakit yang ia rasakan karena peregangan ini. Kai sangat dekat dengan tubuhnya dan ia merasa mati rasa diperlakukan sehalus ini oleh pria ini.
"Aku mulai memikirkan bahwa aku harus masuk sekolah hebat suatu hari nanti hingga pada akhirnya aku menemukan Juilliard." Ia menarik tubuh Kyungsoo untuk kembali tegap sebelum mendorongnya kembali melakukan hal yang sama ditubuh bagian kiri. "Aku berjuang mati-matian untuk bisa masuk kesana. Aku tidak memikirkan berapa banyak uang yang aku miliki. Bagaimana aku bisa masuk kesana, itu sudah sangat menakjubkan bagiku." Lanjut Kai terus menceritakan tentang dirinya. Ia menarik tubuh Kyungsoo untuk berdiri tegap.
Kai menarik kedua lengan Kyungsoo untuk merentang lurus kedepan. Menautkan jari jemari mereka satu sama lain. Apa yang dilakukan Kai saat ini kepada Kyungsoo mampu membuat sebuah bom yang tertanam di dalam tubuh Kyungsoo seolah menghitung waktu mundur untuk meledak kapan saja.
"Hingga akhirnya aku bertemu denganmu, saat itulah aku percaya bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan." Lirihnya dengan bibir yang menyentuh tepat di telinganya.
Kyungsoo sedikit bergidik sebelum akhirnya ia melirik kebelakang dan menemukan wajah Kai yang begitu sangat dekat dengan wajahnya. Ia tak mengerti dengan kalimat terakhir yang dikatakan Kai kepadanya. Mimpinya? Apa Kai memiliki sebuah mimpi yang berhubungan dengannya?
Dibandingkan untuk bertanya. Kyungsoo malah mematung dengan matanya yang hanya fokus menatap bibir itu. Ia merindukan bagaimana rasa bibir yang sempat menjadi candunya untuk semalam. Dan demi Tuhan, bibir itu seolah menggodanya untuk melahapnya habis.
Kai maupun Kyungsoo saling terdiam dengan posisi mereka saat ini. Saling memberi tatapan intens dengan wajah yang kini mulai mendekat secara perlahan. Hambusan napas hangat itu saling menerpa di antara wajah mereka. Bahkan Kyungsoo hampir saja menutup matanya dan merasakan bibir itu kembali jika saja seseorang di balik pintu itu tak mengacaukan aura romantis yang mereka berdua ciptakan saat ini.
"Kyungsoo—uh? Apa yang kalian lakukan?!"
Kyungsoo melepaskan tautan tangan Kai, langsung menjauhkan tubuhnya begitupun juga dengan Kai. Mendadak mereka berubah menjadi kikuk. Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan Kyungsoo yang mendesis melihat tatapan menyelidik pria yang cukup membuat kepalanya kepanasan saat ini—Suho.
"Ma… maaf Kyung, Park Chanyeol menunggumu di luar." Lanjut Suho terbata.
Mendengar nama Chanyeol disebut, Kyungsoo langsung menatap bingung dengan kerutan di keningnya. "Chanyeol, sedang apa dia disini?"
Suho mengangkat bahunya menjawab bahwa ia tidak tahu, "Ia hanya mengatakan ingin menemuimu saja."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa kini perasaannya sedikit tak nyaman mengingat ada Kai disini. Ia melirik pria itu yang menatapnya lalu mengangguk; menyuruhnya untuk langsung menemui Chanyeol. Benarkah? Semudah itu? Apa tidak apa-apa? Sial, kenapa ia yang menjadi tidak enak seperti ini.
Tidak ingin berlama-lama bergelut dengan pikirannya saat ini, tanpa kata Kyungsoo langsung melangkah menuju pintu keluar dengan wajah menekuk. Namun ia dikejutkan dengan tubuh tunangannya itu yang telah berdiri di ambang pintu menghalangi jalannya.
Kyungsoo terperangah, ia menggigit bibirnya kesal dengan kedatangan chanyeol yang tiba-tiba. Ia mendongakan wajahnya siap memarahi Chanyeol namun ia memutuskan untuk diam. Tiba-tiba lidahnya terasa kelu untuk berucap ketika pandangan Chanyeol malah menatap lekat sosok pria yang ada di belakang tubuh Kyungsoo saat ini, bukan dirinya.
Tahu kemana arah tatapan Chanyeol, dengan perasaan gugup Kyungsoo langsung berbalik dan menemukan mata Kai yang sama menatap lekat pada Chanyeol. Entah kenapa suasana di dalam studio latihan ini menjadi lebih mencekam. Dan Kyungsoo tak mengerti apa yang membuatnya bisa merasakan hal sebodoh ini.
"Chan, dia pelatihku." Jawab Kyungsoo berniat memecah keheningan di antara mereka untuk mengenalkan Kai secara resmi kepada Chanyeol. Namun sial, kenapa suaranya terdengar gugup.
Kyungsoo bisa merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh telapak tangan Chanyeol sebelum saling bertautan satu sama lain. Kyungsoo terkejut dengan apa yang dilakukan Chanyeol, ia ingin melepaskannya namun semuanya sia-sia saja, bahkan ia semakin melemas ketika Kai mengalihkan tatapannya dimana pergelangan tangannya saling bertautan saat ini.
Chanyeol menarik tubuhnya untuk berjalan dan berdiri semakin dekat dengan Kai yang kini beralih menatap dengan intens mata Kyungsoo sebelum beralih pada Chanyeol. Pria yang berstatus tunangan Kyungsoo itu langsung mengulurkan tangannya di hadapan Kai saat ini.
"Ah, senang bertemu denganmu, Tuan—?"
Kai menyambut baik genggaman tangan Chanyeol dan entah efek apa yang diberikan kedua pria ini kepadanya, membuat Kyungsoo merasa ingin melarikan diri saat itu juga dihadapan mereka, kalau ia bisa.
"Kai, Kim Kai." Jawab Kai.
Chanyeol menyunggingkan senyumnya tipis, "Kai, oh, aku Park Chanyeol, tunangan Kyungsoo." Ia sengaja menekankan kata 'tunangan' dalam perkenalannya saat ini membuat Kyungsoo cepat-cepat menarik Chanyeol untuk melepaskan genggamannya lalu membawanya pergi dari ruangan studio. Jujur saja, ia tidak bisa mentoleransi tatapan mencekam Chanyeol pada Kai.
"Sebaiknya kita bicara di luar." Bisik Kyungsoo sebelum menarik tubuh Chanyeol untuk keluar. Meninggalkan Kai yang ada didalamnya, dan oh ya.. Kyungsoo masih lupa bahwa Suho berada di tempat yang sama. Apa pria itu merasakan kondisi mencekam tadi? Ia harus menanyakannnya nanti.
Kyungsoo langsung melepaskan genggamannya ketika mereka kini berada di luar gedung. Menghela napas dalam sebelum membuangnya kasar. Ia bahkan tidak ingin melirik Chanyeol yang kini terdiam di belakangnya. Rasa-rasanya ia ingin sekali langsung memasukkan tubuh Chanyeol kedalam mobil yang terparkir di samping tubuh mereka saat ini.
"Kau tampak panik."
Kyungsoo langsung menolehkan wajahnya dan menatap penuh tajam Chanyeol yang kini melemparkan tatapan penuh arti kepadanya. Kyungsoo kini membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Chanyeol, kedua tangannya ia lipat di atas dada.
"Kupikir kau sudah berangkat tadi pagi." Ujar Kyungsoo.
"Aku mana mungkin pergi begitu saja tampa pamit padamu, iya 'kan?"
Saat itu juga Kyungsoo bungkam. Benar apa yang di katakan Chanyeol. Seburuk apapun hubungan mereka, Chanyeol akan menyempatkan waktunya untuk datang menemui Kyungsoo hanya sekedar untuk berpamitan sebelum ia pergi. Entah itu penting atau tidak, Chanyeol sering mengatakan bahwa mereka harus belajar untuk menyesuaikan diri satu sama lain dengan kehidupan mereka masing-masing.
"Entah kenapa aku merasa takut untuk pergi."
Kyungsoo mendongak dan mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Selama dua tahun belakangan ini aku tengah mencoba menarik perhatianmu, dan jujur saja meski ya.. kau berubah tapi tidak semencolok sekarang." Ujar Chanyeol. Kyungsoo tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chanyeol saat ini namun ia sama sekali tak bisa berkomentar seperti biasanya. Mulutnya masih mengatup seolah melarangnya untuk bersuara saat ini.
Ketika ia mencoba mengalihkan tatapannya. Ia merasakan telapak tangan Chanyeol menangkup halus kedua pipinya. Mau tak mau ia menoleh dan mempertahankan tatapannya untuk menatap Chanyeol saat ini.
"Jadilah gadis yang baik dan manis, kau tahu sendiri 'kan bahwa bagiku hubungan ini bukan hanya sekedar ikatan saja. Aku benar-benar mencintaimu. Selama ini aku tak pernah melarangmu untuk melakukan apapun yang kau sukai, tapi aku tidak ingin dibodohi. Jaga kepercayaanku dan aku akan percaya padamu."
Kyungsoo benar-benar tak mengerti dengan arah pembicaraan Chanyeol saat ini. Oke, garis bawahi kata Aku benar-benar mencintaimu yang disampaikan Chanyeol kepadanya. Ini sudah tiga kali ia mendengarkan Chanyeol mengungkapkan perasaan cintanya. Pertama di hari pertunangannya, kedua saat ia kembali ke Seoul, ketiga adalah hari ini. Ada yang aneh. Ia merasa ada sesuatu yang kini tengah disembunyikan Chanyeol. Entah apa maksudnya Chanyeol mengatakan hal semacam itu kepada Kyungsoo saat ini. Tapi Kyungsoo yakin, di balik kalimat itu terdapat sebuah ancaman yang tidak dapat Kyungsoo artikan. Bahkan tatapannya yang seolah melembut bagi Kyungsoo tetap saja terlihat menakutkan.
Ketika wajah Chanyeol mendekat, Kyungsoo tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia hanya bisa terdiam dengan mata tertutup ketika bibir itu menyapu lembut bibirnya. Hanya sebuah ciuman singkat sebelum Chanyeol menarik wajahnya kembali dan mengusap bibir Kyungsoo perlahan dengan tatapan intens.
"Ingat kataku, jadilah gadis yang baik dan manis." Bisiknya, "Jaga dirimu baik-baik, penerbanganku satu jam lagi."
Chanyeol melepaskan kedua telapak tangannya dari pipi Kyungsoo sebelum meangkah mundur, dan membuka pintu mobilnya lalu masuk. Kyungsoo hanya terdiam menatap Chanyeol saat ini. Otaknya terasa beku untuk bisa mencerna semua yang dikatakan Chanyeol kepadanya. Bahkan sebelum mobil itu melesat pergi, sekilas Kyungsoo bisa melihat seringaian yang tergambar di wajah Chanyeol. Seharusnya ia senang Chanyeol pergi, tetapi kenapa perasaanya malah sebaliknya? Bukan sedih melainkan takut.
Ia mematung seorang diri di luar gedung menatap kepergian mobil yang dikendarai Chanyeol telah menghilang di belokan jalan lain. Tak menyadari sepasang mata yang kini menatapnya dari kejauhan. Tangannya mengepal menyentuh dinding kaca dengan tatapan yang datar—Kai. Ia hanya bisa berdiri di salah satu sudut studio, tiga lantai di atas Kyungsoo yang masih mematung seorang diri di bawah sana.
To Be Continued
Hello~ gak punya banyak waktu selama dulu lagi buat nulis. Tapi sampai saat ini masih mempertahanin buat update seminggu sekali (meski ngaret dikit). Semoga readers masih menikmati cerita ini meski kadang suka telat.. hihi
Thanks yang masih setia baca ff ini, dari yang udah follow, fav, sampai review. Pembaca baru juga, semoga suka^^
Thanks : In Cherry, Rahmah736, choidebwookyung1214, Chanbaekhunlove, Kim YeHyun, raryberry, winda fitria07, arvita kim, daebaektaeluv, kyung1225, Lovesoo, unniechan1, InSoo-nim, KaisooShip, veronicayosiputri9, 12154kaisoo, aizahputri, joonwu, hnana, zharaayumediaanggraeni, chankaiya, overdokai, SNAmalia, Kyungri.
Tunggu next chap ya.
Salam blossom~
