Disclamer: Vocaloid belongs to Yamaha and Crypton Future Media

Warning: AU, OOC


My Butler Is My Lover


Musim panas sudah berakhir, banyak kenangan manis yang dihabiskan Rin dan Len bersama. Mulai dari pergi ke festival, jalan-jalan dan masih banyak kegiatan lainnya. Seiring dengan kedekatan mereka itu, rasanya sulit untuk memisahkan mereka.

Sekarang sudah memasuki musim gugur. Hawa dingin dan daun-daun yang mulai berubah warna menjadi kecoklatan sudah terlihat. Inilah musim yang Rin suka, entah kenapa musim gugur memiliki nuansa yang tenang baginya.

"Hah... Musim gugur sudah tiba." ujar Rin sambil memandang ke luar jendela.

Pintu kamar Rin diketuk, Rin sudah bisa menebak siapa itu dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Benar saja, orang itu adalah Len. Ia membawa segelas orange juice dan cookies, cemilan favorit Rin.

"Ini cemilan Anda, Ojou-sama." ujar Len dan menaruh barang yang ia bawa di meja belajar Rin.

"Terima kasih," ujar Rin sambil tersenyum. "Besok sudah mulai masuk sekolah."

"Berarti Anda bisa bertemu dengan teman-teman Anda?"

"Iya. Mungkin aku harus siap-siap untuk besok." Rin mendekati meja belajarnya dan mengambil beberapa cookies yang ada.

Len hanya tersenyum dan meninggalkan sang Nona untuk menikmati cemilannya. Saat Len turun ke lantai dasar untuk membereskan vas bunga di ruangan bawah seperti biasa, tiba-tiba terdengar dering telepon.

Len bergegas mengangkat telepon itu. Wajahnya terlihat datar, sedetik kemudian terlihat murung. Sepertinya apa yang dibicarakan oleh orang yang menelpon Len itu sangat penting.

"Baik, saya mengerti." gumam Len dan mengakhiri pembicaraan di telepon.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktunya makan siang. Rin yang tadi sedang membaca buku dengan santai di kamar langsung keluar kamar untuk mencari Len. Entah kenapa rasanya Rin ingin menceritakan kepada Len tentang buku yang ia baca.

'Dimana Len?' batin Rin.

Rin terus mencari Len dan ia menuju ruang makan. Disana ia melihat sosok Len dengan kedua orang yang tidak asing baginya, seorang wanita berambut pirang panjang dan pria berambut pink.

"Okaa-sama dan Otou-sama..." ujar Rin senang.

"Kami pulang, Rin." ujar Mama Rin.

Rin berjalan mendekati kedua orangtuanya dan tersenyum ke arah mereka. Sudah lama ia tidak bertemu dengan kedua orangtuanya, terakhir kali saat musim semi. Tumben sekali kedua orangtuanya pulang di musim gugur, biasanya ketika menjelang tahun baru baru pulang.

"Kenapa Okaa-sama tidak bilang kalau mau pulang?" tanya Rin.

"Lho? Kami memberitahu kepada Len." ujar Mama Rin.

Rin hanya terdiam, dia heran kenapa Len tidak memberitahunya. Mungkin Len lupa, namanya juga manusia. Rin hanya tersenyum ke arah Mamanya, Lily. Sedangkan sang Papa, Luki hanya menatapnya sambil tersenyum.

"Bagaimana harimu?" tanya Luki.

"Baik, Otou-sama." jawab Rin.

Rin merasa senang bisa bertemu dengan orangtuanya lagi. Tapi, mungkin saja orangtuanya hanya berada di rumah sebentar. Orangtua Rin adalah pemilik perusahaan yang cukup terkenal dan setiap hari selalu sibuk.

Tidak lama sosok Len yang dari tadi tidak terlihat muncul juga. Dia membawa tiga cangkir Darjeeling tea dan beberapa cookies sebagai cemilan di siang hari. Dia menaruhnya di meja dan menatap ketiga orang yang ada di hadapannya.

"Silahkan, cemilannya." ujar Len.

"Len, kenapa kau tidak cerita kalau Okaa-sama dan Otou-sama akan pulang? Curang deh~" keluh Rin.

"Maaf, Ojou-sama." gumam Len.

"Len, terima kasih sudah menjaga Rin selama ini." ujar Lily.

"Suatu kehormatan bagi saya untuk menjaga Ojou-sama, Lily-sama."

Luki memandang Len sekilas dan memberi isyarat kepada Len untuk menghampirinya. Len tahu, dia segera mendekati Luki dan mereka berdua sama-sama pergi.

"Lho? Otou-sama dan Len mau kemana?" tanya Rin.

"Hanya ada pembicaraan kecil, sayang." ujar Lily sambil tersenyum manis.


"Ada apa, Luki-sama?" tanya Len.

Sekarang mereka berdua berada di ruang yang terpisah dari ruang makan, ruang santai lebih tepatnya. Luki hanya terdiam saja, dia mendekati jendela dan memperhatikan cuaca di luar. Tidak lama ia menoleh ke arah Len.

"Apa kau suka bekerja disini?" tanya Luki.

"Saya senang bekerja disini dan melayani Ojou-sama." jawab Len langsung.

"Begitu ya? Tapi, apakah kau ingat awal dari perjanjian kita."

Len langsung terdiam, ia menundukkan kepalanya dan memegang ujung bajunya dengan erat. Tentu saja dia ingat janji ketika dia setuju untuk menjaga Rin. Dia sudah berjanji pada Luki untuk menjaga Rin selama beberapa bulan saja.

"Berarti..." gumam Len.

"Tugasmu sudah selesai, Len. Kau bisa kembali ke rumahmu." ujar Luki.

"Iya..."

"Pastikan Rin tidak mengetahuinya."

Len hanya menundukkan kepalanya dan segera meninggalkan Luki sendiri. Sedangkan Luki, dia hanya menatap ke arah kepergian Len itu. Dia memandang pintu yang telah ditutup dengan pandangan datar.

"Aku takut apa yang adikku bilang itu benar. Bahwa kau mulai mencintai Rin." gumam Luki.

.

.

.

Rin masih asyik berbicara dengan Lily. Dia merasa senang Mama-nya sedikit meluangkan waktu untuknya, sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini. Biasanya hanya Luka dan Gakupo yang selalu datang untuk menemaninya.

"Oh ya, beberapa bulan lalu Luka dan Gakupo kemari ya?" tanya Lily.

"Iya. Mereka juga memberiku hadiah." ujar Rin.

"Baguslah..."

Rin kembali menceritakan hari-hari yang dilaluinya kepada Lily. Lily dengan seksama mendengarnya, meski dia tahu kalau cepat atau lambat Rin akan segera menangis.

'Rin, maafkan kami.' batin Lily.


Keesokan paginya Rin sudah bangun dari tidurnya, sekarang adalah waktunya sekolah. Rin melihat jam wekernya, sudah menunjukkan pukul 06.30. Dia sedikit panik karena bangun agak siang dari biasanya.

"Huwaaa... Len tidak membangunkanku sih!" keluh Rin dan dia mulai bersiap-siap.

Setelah selesai mandi dan memakai seragam, buru-buru dia menuju ruang makan. Mungkin Len sedang menyiapkan sarapan, tapi tidak ada sosok Len. Di ruang makan hanya ada kedua orangtuanya dan maid-nya.

"Selamat pagi, Otou-sama dan Okaa-sama." ujar Rin.

"Pagi." jawab Luki dan Lily bersamaan.

"Kamu makan dulu." ujar Lily.

"Iya..."

Rin mengambil satu buah roti dan segelas susu dan langsung menyantapnya. Dia memperhatikan sarapan yang ada di meja, ketika melihat kotak bekalnya dia langsung mengambilnya dan memasukkannya di dalam tasnya.

"Nanti aku akan melanjutkannya dengan bekalku. Sudah jam segini," ujar Rin. "Tumben Len tidak membangunkanku seperti biasa. Ah, aku berangkat dulu."

"Hati-hati..."

Rin langsung saja menuju pintu depan dan keluar dari rumah. Ia bergegas menuju sekolahnya, takut terlambat. Iya, tanpa Rin sadari ada sesuatu yang perlahan-lahan menghilang dari hidupnya.

Lily hanya memperhatikan suaminya, Luki yang berwajah datar. Lily merasa sedih kepada Rin. Tindakan Luki sama saja seperti mengusir Len pelan-pelan.

"Luki, apa tidak apa-apa kau melakukan hal itu?" tanya Lily.

"Aku hanya mencegah sebelum semuanya terlambat." jawab Luki.

"Tapi..."

"Kalau Rin terlanjur menyukai Len seperti yang ditakuti oleh Luka... Aku tidak sanggup membayangkannya."

"..."


Sesampainya di sekolah Rin bisa bernafas lega, hampir saja dia akan terlambat lagi. Untungnya dia bisa datang tepat waktu ke sekolah. Rin langsung saja duduk di kursinya dan hanya terdiam, Gumi langsung menghampirinya.

"Pagi, Rin-chan." sapa Gumi.

"Ah, Gumi-chan..." gumam Rin.

"Kau kenapa? Apa jangan-jangan bertengkar dengan butler-mu itu?"

"Aku saja tidak melihatnya tadi."

"Tumben?"

"Iya..."

Tidak lama Kiyoteru telah masuk, pelajaran pun dimulai. Rin hanya berusaha fokus dengan pelajarannya walau sebenarnya dia bingung kenapa Len tidak membangunkannya seperti biasa. Apa ada sesuatu sehingga Len menghindari Rin?


Waktu pulang sekolah tiba, Rin langsung saja pulang. Dia berharap bisa menemui Len di rumah, mungkin saja dari tadi Len sedang sibuk. Kalau ia cari di rumah pasti akan ketemu, tidak mungkin Len tidak ada di rumahnya. Begitu sampai di rumah yang menyambut kedatangan Rin hanyalah maid-nya, bukan Len. Rin merasa curiga, dia menatap sang maid dan bertanya padanya.

"Dimana Len?" tanya Rin langsung.

"Anu, Ojou-sama..." gumam sang maid.

"Kenapa?"

"Maaf, sebaiknya Anda tanya saja kepada Luki-sama."

"Eh?"

Rin langsung saja masuk ke rumahnya, dia segera mencari Papa-nya. Dia yakin Papa-nya berada di ruang kerja, karena jika kedua orangtuanya berada di rumah mereka selalu berada disana.

"Otou-sama!" seru Rin sambil membuka pintu.

Luki yang sedang mengetik sesuatu di laptop-nya langsung terkejut melihat kedatangan Rin itu, begitu juga dengan Lily yang kebetulan sedang memeriksa sesuatu. Luki langsung melirik ke arah Rin.

"Ada apa, Rin? Tiba-tiba datang seperti itu." ujar Luki.

"Dimana Len?" tanya Rin langsung.

"Eh? Kenapa kau bertanya padaku?"

"Rika-san maid yang tadi bilang kalau aku harus bertanya pada Otou-sama. Apakah ada sesuatu diantara kalian? Kemarin Otou-sama dan Len hanya bicara berdua. Ada apa?"

Lily hanya terdiam dan memperhatikan Luki, sedangkan Luki bersikap acuh dengan Rin. Rin merasa kesal, dia langsung saja mendekati Papa-nya dan sedikit menggebrak meja yang ada.

"Otou-sama, tolong jawab aku! Dimana Len?" tanya Rin.

"Kenapa aku harus memberitahumu?" tanya Luki balik.

"Karena..."

"Karena?"

"Aku perlu tahu..."

"Tugasnya sudah selesai."

"Eh?"

Rin sama sekali tidak mengerti apa yang Luki bicarakan. Lily tidak ikut dalam percakapan ini, masalah ini dimulai dari Luki. Dia ingin Luki bisa menjelaskan semuanya pada Rin. Tapi Lily tahu, mungkin Rin sedikit tidak menerima keputusan itu.

"Seperti yang aku bilang, tugas Len sudah selesai. Jadi dia tidak akan menjadi butler-mu lagi." jawab Luki.

"Eh? Kenapa?" tanya Rin.

"Sebelum dia bekerja disini, aku memang menitipkan dirimu padanya hanya sebentar. Aku juga yang menyuruhnya untuk tidak membicarakannya denganmu."

Rin langsung terdiam, pikirannya terasa kosong. Seolah-olah apa yang Papa-nya katakan itu bohong. Dia lebih suka jika ini adalah mimpi dan dia bisa melihat sosok Len yang sedang tersenyum padanya.

"Otou-sama bohong..." gumam Rin pelan.

"Untuk apa aku bohong padamu."

Rin langsung terdiam, ternyata Len pergi. Makanya ketika kedua orangtua Rin datang, Len tidak memberitahu Rin. Mungkin dia tahu bahwa ketika orangtua Rin datang sudah saatnya baginya untuk pergi.

Entah kenapa air mata mulai turun perlahan dari mata Rin, Rin langsung saja pergi meninggalkan ruang kerja orangtuanya itu. Lily memperhatikan Luki, Luki tetap berwajah datar.

"Ya ampun, kau membuatnya menangis lagi? Beginikah sikapmu sebagai orangtua?" tanya Lily geram.

"Tapi, aku berusaha mencegah mereka saling jatuh cinta." jawab Luki.

"Kalau mereka jatuh cinta kenapa? Kau tidak terima?"

"Entah kenapa aku tidak bisa membiarkannya."

.

.

.

Sedangkan Rin, dari tadi dia hanya bisa menangis di kamarnya. Dia tidak menyangka bahwa Len akan pergi meninggalkannya. Len tidak pernah cerita tentang hal ini. Jika dipikir-pikir lagi, Rin sama sekali tidak mengetahui hal tentang Len.

"Len, kenapa?" gumam Rin. "Aku sudah terlanjur suka padamu, tapi kamu malah pergi."

Rin masih saja menangis. Dia sama sekali tidak tahu kenapa Papa-nya menyuruh Len pergi. Dia tidak tahu kenapa Len pergi tanpa mengatakan apa-apa. Semuanya misteri baginya, kenapa semua orang bersikap seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

Tiba-tiba pintu kamar Rin diketuk seseorang, Rin tidak menyahutnya. Dia masih saja terdiam di dalam ranjangnya, masih menangisi kepergian Len secara diam-diam itu.

"Rin..." panggil seseorang.

Rin menoleh dan melihat sosok Mama-nya, Lily yang berdiri di dekat ranjangnya. Lily langsung duduk di dekat Rin, dia mengelus rambut Rin lembut.

"Maaf ya, aku tidak memberitahumu." ujar Lily.

"..."

"Okaa-sama tahu kalau kau suka sama Len."

"Eh?"

"Kelihatan, sayang. Hehe..."

Wajah Rin langsung memerah, dia menutup wajahnya dengan bantal. Lily hanya tersenyum. Dia menaruh secarik kertas di dekat Rin. Rin yang melirik ke arah Lily melihat kertas itu.

"Apa itu?" tanya Rin.

"Alamat rumah Len. Kau ingin menemuinya kan?" ujar Lily.

"Iya," seru Rin. "Makasih, Okaa-sama."

"Sama-sama..."

Lily langsung pergi meninggalkan Rin sendiri di kamarnya. Bagaimana pun juga dia tidak tahan jika melihat anaknya menangis. Dia juga meyakinin pilihan Rin, mencintai seseorang bukan hal yang salah.

"Aku akan segera menemuimu, Len." gumam Rin.

TBC

A/N: Akhirnya bisa update fic lagi...

Karena banya halangan, seperti WB juga ujian membuatku terhambat melanjutkan fic ini.
Semoga aku bisa menyelesaikan dengan cepat.

Ditunggu review-nya...^^