CHAINS
Ketika seks pagi itu berakhir, Chanyeol menjadi orang pertama yang keluar dari kamar mandi Baekhyun dan membersihkan diri di kamar mandi yang lain. Dia berbenah cepat dan ketika merasa penampilannya sudah selesai, Chanyeol pergi turun dan bertemu Sowon disana.
Perempuan itu tengah menyiapkan sarapan dan menyapa Chanyeol dengan ramah. Dia tak bertanya apapun, hanya menawarkan kopi selagi menunggu Baekhyun keluar dari kamar.
Presdir itu keluar setengah jam kemudian. Dia telah rapi dengan tataan rambut abu dan setelan hitam formalnya seperti biasa. Dia tak mengatakan apapun bahkan sekedar melirik Chanyeol, segera menempatkan diri pada kursi dan memulai sarapannya.
Chanyeol mencibir dalam hati, 'apa jiwa presdirnya yang menyebalkan sudah kembali?' Chanyeol membatin. 'Cih, padahal kurang dari satu jam tadi aku baru mencium pantatnya,' decihnya kemudian.
Sowon melirik dalam kerutan namun tak bertanya akan tingkah pria tinggi itu. Apalagi ketika Baekhyun telah menyelesaikan sarapannya dan dia lagi tanpa kata segera meninggalkan meja makan diikuti Chanyeol yang tergopoh dibelakangnya.
Chanyeol membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Baekhyun masuk. Setelah itu menuju pintu kemudi dan mulai menjalankan mobil menuju gedung BH.
Mobil itu senyap selama dalam perjalanan. Chanyeol beberapa kali melirik pada jok belakang dan mendapati lelaki mungil itu membuang pandangan pada luar jendela. Chanyeol menjadi ragu untuk memulai pembicaraan—tak ingin mengganggu Baekhyun dan sepanjang perjalanan itu tetap diisi dengan keterdiaman yang sama.
…
Jejaran karyawan berbaris rapi menyambut kedatangan Baekhyun. Sehun datang bergabung dan berjalan pada sebelah lelaki itu dengan Chanyeol pada sisian yang lain. Gedung BH telah ramai oleh karyawan dengan kesibukan mereka masing-masing. Disela pekerjaan menyempatkan diri melirik Baekhyun, bertanya dalam hati apa yang terjadi sehingga Presdir itu tak datang kemarin.
Namun kemudian mereka memilih untuk diam dan menyimpan semua pertanyaan itu seorang diri.
Pintu ruangan kebesaran Presdir telah tertutup, menyisakan Baekhyun yang duduk dibelakang meja, Chanyeol pada sisi pintu masuk sedang Sehun mulai menjelaskan setiap jadwal yang harus di lakukan oleh pemilik perusahaan itu.
"Pertemuan dengan Anggota Direksi akan berlangsung jam 10 sampai 11.30 nanti. Jam 11.30 dilanjutkan dengan Derivisi pada proyek Sundal, juga Anggota Parlemen Yoon—"
"Tidak, batalkan yang itu," Baekhyun memotong secepat ketika nama anggota pemerintah itu Sehun sebut.
Sehun tak mengatakan apapun, segera menuruti apa yang Baekhyun pinta dan melanjutkan kembali penjelasannya.
"Juga CEO Byun Seunghyun meminta Anda untuk menghadap beliau hari ini," Sehun melirik Baekhyun sekali, "Beliau mengatakan ada hal penting yang harus dibahas."
"Atur jadwalnya sebelum sore ini dan pastikan semua jadwalku selesai sebelum jam 6."
"Ya, saya mengerti." Sehun mengakhiri penjelasannya. Tablet di tangan dia matikan sebelum beralih pada 3 map yang di pegangnya sedari tadi, "Ini adalah laporan penjualan bulan ini, saya sudah memeriksanya dan Anda bisa menanda-tanganinya."
Baekhyun menerimanya dan memeriksa sekali lagi isi map itu. Beberapa yang tidak sesuai dengan persepsinya, dia coret dan itu berarti Sehun harus segera menyiapkan dokumen revisi yang baru.
Setelah semua dokumen itu selesai Baekhyun tanda-tangani, dia kembali bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang pertemuan dengan anggota direksi.
Chanyeol membuka pintu sigap dan tak sengaja pandangan mereka bertemu disana. Hanya sekilas sampai Sehun berjalan melewati pria itu pun dengan tatapan dingin menukik Chanyeol sebelum meninggalkannya seorang diri disana.
"Setelah kuingat-ingat lagi, Sekretaris Oh sepertinya tidak menyukaiku." Chanyeol berujar kepada dirinya sendiri. "Hah, siapa yang peduli memangnya." Pundaknya di gidikkan sekali sebelum ikut keluar dari ruangan itu.
…
Baekhyun merasakan betul bagaimana berubahnya sikap Sehun padanya sejak pagi tadi. Pria itu bahkan tak berbicara dengan melihat matanya, suasana berubah kikuk dan rasanya tak menyenangkan namun entah mengapa Baekhyun menyukai hal itu.
Dia pun memilih diam namun di antara pekerjaannya yang menggunung, Baekhyun menyempatkan diri untuk melihat Chanyeol. Pria itu selalu berada di dekatnya, berdiri siap dan mengikuti kemana langkahnya pergi.
Baekhyun tak bisa berbohong bagaimana kepalanya tanpa mampu di cegah terus saja mengembalikan ingatan tentang malam kemarin. Seks mereka dan tentu apa yang mereka bicarakan selama sesi itu berjalan.
Baekhyun masih cukup terkejut, tentang Chanyeol yang nyatanya gay sedang pernikahannya dengan Woori tak lebih karena kecelakaan semata.
Baekhyun masih ingat betul bagaimana mereka di sekolah dulu. Mereka dekat, sangat dekat dan yang Baekhyun percayai mereka memang berkencan. Mereka selalu bersama kemana-mana tidakkah itu cukup memberikan alasan jika nyatanya mereka benar berkencan?
Sial sekali, Baekhyun merutuk tiba-tiba. Pantas saja Chanyeol bahkan tak menolak ketika dia mengajaknya melakukan seks, sebagai seorang pria yang memiliki istri seorang wanita jelas itu menjadi hal yang rumit namun situasi yang Chanyeol miliki adalah kebalikan dari semua itu.
Baekhyun merogoh kantung jasnya dimana sebotol pil miliknya selalu siap sedia disana. Baekhyun tak sempat meminumnya tadi pagi dan baru mengingatnya sekarang. Dia membuka tutupnya cepat dan mengambil satu. Pil hijau itu dia tatapi lama. Ada ragu yang menyisip ketika Baekhyun membiarkan obat itu melewati tenggorokannya.
Dia mendesah pelan sembari menatap botol itu ketika ketukan terdengar di pintu. Baekhyun sedikit banyak merasa terkejut, tak sengaja ujung jasnya mengenai botol itu dan membuatnya jatuh tepat ke dalam keranjang sampah.
"Baekhyun?" suara Sehun terdengar berikutnya. "Kau baik-baik saja?" pria itu bertanya.
Baekhyun membuka pintu segera dan menemukan Sehun yang menatapnya dengan khawatir.
"Ya, aku baik." lelaki mungil menjawab tanpa berminat. "Kau tetaplah berada disini sampai aku kembali menemui Ayah." Baekhyun berkata sembari mendahului Sehun begitu saja, "Aku akan pergi bersama Chanyeol."
Hanya sepenggal nama itu yang Baekhyun sebut, nyatanya berhasil membuat mood Sehun memburuk. Nafasnya terbuang berat sembari mendekati Baekhyun pada mejanya.
"Aku bisa menemanimu kesana." Sehun merunduk di depan Baekhyun.
"Kau harus berada disini untuk mengurus semuanya Sehun," Baekhyun mengangkat kepalanya dan sipitnya segera bersinggungan dengan milik Sehun di udara, "Kupikir kau baru saja menuruti untuk melakukan apa yang kita sepakati kemarin,"
Sehun memutar mata, "Baekhyun aku sedang membicarakan keselamatanmu—"
"Itulah mengapa aku datang bersama Chanyeol." Baekhyun memotong. "Sudah aku tak ingin mendebatkan hal yang sama terus-terusan denganmu." Baekhyun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Sehun begitu saja.
Pria itu menatap kepergian Baekhyun kesal, benar-benar kesal dan benar tak dapat menahan diri lebih lama lagi Ponsel di tangan dia ambil lalu mencari satu kontak untuk di hubungi.
"Cari tau apapun mengenai Park Chanyeol dan apa hubungannya dengan Presdir."
…
"Aku akan masuk sendiri, kau tunggulah disini," Baekhyun berujar pelan sebelum membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Chanyeol mengangguk paham dan tak mengatakan apapun ketika Presdir itu melangkah masuk ke dalam kediaman orangtuanya.
Rumah besar itu terlihat sepi dengan beberapa maid yang tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Mereka lekas menyambut kedatangan Baekhyun dan menuntunnya masuk ke dalam ruang kerja pemilik rumah itu.
Byun Seunghyun, menoleh pada pintu dengan senyum cerah menyambut kedatangan Baekhyun. Dia bangkit dari balik meja dan ikut menempatkan diri duduk pada sofa berhadapan dengannya. Anak bungsunya itu dia tatapi lama dengan sarat kerinduan menguar dari matanya yang menua.
Baekhyun memberikan sapaan dengan basa-basi tentang kesehatan orangtuanya itu.
"Bagaimana denganmu? Rasanya sudah lama sekali sejak hari terakhir kau berkunjung." Seunghyun tersenyum lembut. "Semuanya berjalan dengan baik bukan?"
Baekhyun mengangguk pelan, "Semuanya baik-baik saja." Jawabnya. "Lantas hal penting apa yang ingin Ayah bicarakan?" Baekhyun menembak langsung pada tujuannya datang ke kediaman itu.
Seunghyun tertawa pelan, menertawai betapa kakunya Baekhyun yang bahkan tak mengerti maksud siratannya, "Aku hanya rindu padamu." Pria tua itu menjawab ringan, tak peduli bagaimana dengusan kesal Baekhyun terdengar setelahnya.
Mengerti tentang ketidaksukaan Baekhyun karena tingkahnya, Seunghyun menghentikan tawa diikuti raut serius terpantri pada wajah berkerutnya kini.
"Kau tau, bekerja terlalu keras tidaklah selalu baik. Di umurmu yang sekarang, kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan. Lalu mengapa kau tidak coba mulai memikirkan prioritas yang lain?"
Satu alis Baekhyun naik pada kening.
"Sudah saatnya kau menikah Baekhyun." Seunghyun menyambung untuk penjelasan.
"Bukankah kita sudah pernah membahas hal ini?" ada nada tak sudah kentara terdengar.
Seunghyun menghela nafas pelan, "Aku sudah tua, Nak. Aku tak bisa selamanya bisa menjadi tembok untuk melindungimu dari saudara-saudaramu. Kau harus memiliki anak, dengan begitu kau memiliki seseorang yang kau percayai untuk menjadi ahli warismu."
Rahang Baekhyun jatuh oleh penjelasan itu. Konyol sekali, pikirnya.
"Aku tidak akan mengurusi siapapun pria yang kau ingin untuk menjadi pendampingmu, apa itu Sehun—"
"Aku dan Sehun tidak memiliki hubungan apapun," Baekhyun menyergah cepat. "Dan selamanya tidak akan pernah."
Seunghyun menatap Baekhyun seribu arti pun denga mata tua itu berubah sendu tiba-tiba. "Mengapa?" dia bertanya. "Apa ini ada hubungannya dengan Kris?" suaranya mencicit terdengar.
Sipit Baekhyun kontan melebar, lehernya menegak dan menatap orangtuanya itu dengan tak suka.
"Mengapa Ayah selalu mengaitkannya dengan dia? Dia tidak—"
"Dia ada," Seunghyun memotong, "Nak, akan sampai kapan kau seperti ini?"
"Ayah—"
"Sekarang kau sudah dewasa, kau sudah bisa menentukan jalan hidup yang kau ingin. Setelah apa yang terjadi padamu dulu, itu cukup memberiku tamparan jika mengukung dan mengatur hidupmu bukanlah jalan keluar karena itu—"
"Bisakah kita menghentikan pembicaraan ini?" Baekhyun menyergah untuk kesekian kalinya.
Seunghyun menatap anak bungsunya itu terluka, sama seperti ketika Baekhyun masih berumur belasan tahun dulu—saat dimana semua kesalahan itu berasal darinya. Perasaan bersalah yang nyatanya sampai hari ini masih tak mampu pria tua itu enyahkan dalam pikirannya.
"Aku seharusnya tak pernah menghadirkan Kris dalam hidupmu."
"Seharusnya Ayah memang jangan pernah membawanya dalam kehidupanku," Baekhyun menyahut sedang sipitnya kian tajam menukik orangtuanya itu.
"Aku selalu menyesal pernah melakukannya Baekhyun. Karena dia… kau jadi seperti ini."
Baekhyun mendengus sinis, rasanya ingin tertawa akan penuturan itu.
"Ayah memang tidak pernah berubah," keluhnya. "Mengapa Ayah hanya peduli dengan sikapku yang sekarang? Apakah menurut Ayah semuanya masih baik-baik saja jika aku seperti dulu? Menjadi bodoh dan di rendahkan oleh siapapun?"
"Baekhyun—"
"Kesalahan itu berawal dari dia yang memiliki kelainan seksual sedang kesalahan besar ini terletak pada Ayah yang mengirim seorang anak di bawah umur untuk tinggal bersamanya dan membiarkannya melecehkan anak itu. Lantas, kesalahan siapa ini semua?"
Rahang Seunghyun terkatup tanpa kata apapun yang dia miliki untuk menyahuti semua itu. Semua hal yang menjadi benar adanya.
"Dan sekarang dia sudah mati, apa Ayah akan menyalahi aku yang telah membunuhnya?"
"Baek—" pria tua itu menggeleng cepat dalam penyangkalan.
"Aku hanya berusaha menyelamatkan diriku sendiri, lalu mengapa aku juga harus menanggung beban dengan menampung adiknya!?" suara Baekhyun meninggi dalam bentakkan. Dadanya kembang kempis oleh emosi yang menggulung. Wajahnya yang putih telah semerah api, tersulut oleh amarah oleh luka masa lalu yang nyatanya Baekhyun sendiri paksa buka kembali.
"Karena Sehun adalah satu-satunya saksi pada kejadian itu, karena Sehun juga merupakan korban dari perbuatan pria itu, karena dia juga terlibat jadi Ayah bilang kita bisa memanfaatkan situasi itu untuk menyelamatkanku!" Baekhyun menggemu dalam amarah. Sipitnya tiba-tiba saja panas dan Baekhyun benci mengakui jika sisi lemahnya lebih mendominasi dirinya. "Tapi kenyataannya yang Ayah lakukan hanyalah membuka lukaku lagi."
Pundaknya bergetar dan Baekhyun memaksa lengannya untuk memeluk tubuhnya sendiri. Rasa kalut memenuhinya menggantikan amarah yang kini menjadi tangis.
"Mengapa kita harus selalu membahas ini?" Baekhyun merintih, "Mengapa Ayah selalu memaksaku untuk mengingat semua ini?"
Seunghyun terburu meraih Baekhyun dalam pelukan dan mendekap anak kesayangannya itu dengan erat. "Maafkan aku Baekhyun…" pria tua itu berulang mengujarkan maaf walau dia tau semuanya takkan mampu menutup perih luka yang dirasakan oleh anaknya itu.
"Maafkan aku…"
…
Satu dari sekian banyak alasan mengapa Baekhyun enggan datang berkunjung kerumah Ayahnya adalah pembicaraan mereka yang selalu hanya akan berbalik pada pembahasan serupa. Baekhyun tak pernah ingin membahasnya, sedang kian hari yang dia lakukan adalah mencoba menjahit lukanya yang terlalu lama terbuka.
Baekhyun benci mengakui kenyataan hidupnya yang menyedihkan, hidupnya yang berantakan dan semua diperparah dengan keadaan psikologisnya yang ikut terguncang.
Kepalanya berubah pening dengan lintasan-lintasan ingatan itu lagi dia menusuk otaknya. Tangannya mencengkram pilar rumah itu kuat—berusaha menopang tubuhnya agar tak limbung menuju dimana mobilnya terparkir.
Kendaraan roda empat itu berjalan mendekat dan berhenti tepat di depannya. Baekhyun segera masuk dan meringkuk pada jok ketika mobil itu berjalan kembali.
"Aku mau pulang," Baekhyun berkata dengan suara terpatah.
Tak ada sahutan.
Baekhyun mengangkat kepalanya dan seketika sipitnya melebar menyadari jika pria yang berada di balik kemudi itu bukanlah Chanyeol. Baekhyun berubah panik menyadari jika mobil yang tengah di tumpanginya itu juga bukanlah miliknya, pun dengan laju yang tiba-tiba dipercepat—berjalan melewati mobilnya begitu saja.
"SIAPA KAU!?" Baekhyun berseru dalam panik. Pria pengemudi itu tak menjawab dan Baekhyun terburu membuka pintu namun tak bisa. Jendela mobil itu dia gedor-gedor keras dan berteriak, "CHANYEOL! CHANYEOL!"
"DIAM!" pria itu membentak sedang pedal gas kian kuat diinjak.
Baekhyun tak mengindahi sedang suara kian keras menggema kala sosok Chanyeol tertangkap inderanya.
"PARK CHANYEOL TOLONGG!"
…
Chanyeol mengetuk setir mobil dengan bosan. Sesekali pandangannya dia bawa pada pintu utama rumah di depannya itu, menunggu sosok Baekhyun terlihat keluar dari sana. Namun menit kian menit berlalu, sosok mungil itu masih tak keluar dari sana.
Alih-alih, sebuah minivan hitam memasuki perkarangan berjalan mendahului dimana mobilnya terparkir. Chanyeol memperhatikan dan menemukan mobil itu berhenti pada pintu masuk. Hanya sesaat sebelum kembali melaju meninggalkan perkarangan.
"Siapa itu?" diam-diam Chanyeol bertanya. Keningnya berkerut, memikirkan betapa terburu-burunya pemilik mobil itu dan berpikir apa sesuatu telah terjadi di dalam sana.
Chanyeol mencemaskan Baekhyun, tiba-tiba teringat bagaimana tidak harmonisnya Baekhyun dengan seluruh anggota keluarga. Mungkin—
Dengan cepat Chanyeol keluar dari mobil bersamaan dengan minivan itu berjalan melewatinya dan sosok Baekhyun terlihat di dalam sana. Raut panik lelaki itu terpampang jelas dari kaca jendala dengan tangan terkepal menggedor bagian transparan itu.
"CHANYEOL! CHANYEOL!" Sayup-sayup Chanyeol mendengar namanya di teriaki oleh Baekhyun.
"BAEKHYUN!" Chanyeol membelalak terkejut luar biasa.
"PARK CHANYEOL TOLONGG~!"
"BAEKHYUN!" Chanyeol dengan cepat menyalakan mobil dan menginjak gas dengan keras. Decitan ban yang menggesek tanah terdengar keras dengan asap tebal berkabut ketika mobil Baekhyun melesat cepat meninggalkan perkarangan.
Chanyeol berkendera seperti orang gila. Setir berulang kali dia banting, menghindari tiap mobil yang menghalangi jalannya mengejar minivan hitam yang membawa Baekhyun.
"SIAL SIAL!" Chanyeol memaki. Seharusnya dia tak mendengarkan Baekhyun untuk menunggu di dalam mobil, seharusnya Chanyeol ingat mengapa dia diperkerjakan sedang musuh yang mengincar keselamatan Baekhyun adalah mereka si busuk yang merupakan saudaranya sendiri.
Chanyeol menginjak gas lebih kuat ketika minivan itu semakin dekat dengannya. Dia mengejar—melewatinya pada persimpangan, membanting setir dan berhenti tepat di depan mobil itu.
Tabrakan tak dapat dihindari. Guncangan keras Chanyeol rasakan pada badan mobil, menghentak dirinya di dalam sana. Pening mendera namun Chanyeol terlalu sibuk untuk peduli dan bergegas turun dari mobil.
Asap keluar dari kap depan yang penyot. Chanyeol berlari menuju pintu penumpang dan segera membuka pintu. Baekhyun berada disana, bergetar dan terjatuh ketika pintu terbuka dan Chanyeol serta merta menangkap tubuhnya sebelum benar-benar jatuh pada aspal.
"Baekhyun Baekhyun!" Chanyeol memanggil panik lelaki itu. Baekhyun meringis dengan dengan kepala pusing oleh benturan sedang tangan kian mencengkram keras jas Chanyeol.
"Ja-jangan biarkan dia lolos." suara Baekhyun bergetar seperti tangannya menunjuk pria yang berada di balik kemudi.
Chanyeol tak menyahut alih-alih segera membopong Baekhyun menjauh dari mobil itu, setengah berlari menuju mobil Baekhyun dan menempatkannya pada kursi di samping kemudi. Jok sedikit Chanyeol turunkan sebelum mengikat tubuh Baekhyun dengan sabuk pengaman dan memeriksa kiranya luka lelaki itu miliki.
"Apa kau baik-baik saja? Katakan dimana yang sakit?" dengan panik Chanyeol memboronginya dengan tanya.
Baekhyun tak menjawab sedang ringisan terdengar dari celah bibirnya.
"Baekhyun tolong jawab aku!"
"Ja-jangan biarkan dia lolos," Baekhyun lagi mengujarkan kalimat yang sama. "Kumohon..."
Chanyeol mendesah dalam frustasi sedang hati membimbang atas pintaan itu.
"Aku akan melihatnya, kumohon tetaplah sadar, hm?" Chanyeol mengusap kalut lengan lelaki itu sebelum mencium keningnya tanpa sadar dia lakukan. Baekhyun masih tak bereaksi ketika pintu telah Chanyeol tutup. Penglihatannya yang buram masih mampu menangkapi sosok Chanyeol yang berlari menuju minivan itu.
Chanyeol membuka pintu kemudi dengan kasae dan mendapati pria itu masih berada di dalam sana. Pada keningnya terdapat luka dengan sisa kesadaran oleh benturan keras yang dia terima. Chanyeol menariknya keluar segera dan membanting tubuhnya pada badan mobil.
"Katakan siapa yang menyuruhmu!" Chanyeol berseru keras dengan amarah yang terkumpul. Pria itu tak mampu menjawab pun ketika kepalan keras Chanyeol melayang pada wajahnya yang telah berdarah. "Katakan!" sentak Chanyeol.
"Tn. Byun—" pria itu menjawab terpatah. "Byun Yunho."
Rahang Chanyeol terbuka-mencolos tak percaya akan nama yang pria itu sebut. "Apa?"
…
Pria yang merupakan suruhan Yunho itu segera digiring pergi oleh staf divisi keamanan BH setelah Chanyeol menghubungi mereka. Beberapa bertanya tentang apa yang terjadi, namun Chanyeol enggan untuk menjawab dengan kondisi Baekhyun yang tidaklah baik-baik saja di dalam mobil sana.
Chanyeol lekas meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam mobil.
"Si-siapa dia?" Baekhyun bertanya dengan bibir pucat bergetar. Matanya menyayu, menatap Chanyeol untuk jawaban.
Chanyeol tak benar ingin menjawab namun tatapan Baekhyun tak memberinya pilihan.
"Byun Yunho." Chanyeol menjawab tanpa minat.
Tak ada raut terkejut di antara pucat ekspresi wajahnya, seolah Baekhyun telah menebak dan tak memiliki respon khusus setelah mendengar hal itu.
Baekhyun memeluk tubuhnya sendiri dan membiarkan kepalanya bersandar pada jendela.
"Aku tidak mau ke rumah sakit," Dia berkata nyaris tak terdengar ketika mobil itu telah melesat pada jalanan kembali.
"Tapi kau harus, kau membutuhkan—"
"Hanya panggil Yuna." Baekhyun menjawab dengan pening yang kian parah mendera. Keningnya menyergit menahan sakit dan memeluk tubuhnya sendiri semakin erat.
Chanyeol tak bisa melakukan apapun kecuali menuruti Baekhyun dan berbelok pada rute kediaman presdir itu.
…
Sowon baru saja akan pergi ketika dia melihat Chanyeol membopong Baekhyun dalam gendongan. Perempuan itu melebar terkejut luar biasa menatap Baekhyun dengan panik mendera.
"Apa yang terjadi!?" dia bertanya sedang tangan terburu membuka pintu kembali.
"Hubungi dr. Choi." Chanyeol menyahut sembari masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Baekhyun di lantai 2. Lelaki mungil itu masih sadar dan tau betul keadaannya. Matanya terpejam dan tak menolak ketika Chanyeol membantu melepaskan jas dan dua kancing teratas kemejanya.
Selimut di naikkan sampai dada, ketika Chanyeol beranjak Baekhyun dengan lemah menarik tangan pria itu.
Chanyeol urung beranjak dan menatap Baekhyun menyeluruh, "dr. Choi akan datang sebentar lagi, apa kau kesakitan?" dia bertanya.
"Tidur disini," Baekhyun menepuk tak bertenaga sisian tempat tidur yang kosong, "peluk aku."
Chanyeol tertegun selama beberapa saat namun tak bertanya segera melepas sandal dan naik pada tempat tidur. Satu lengan Chanyeol Baekhyun jadikan sebagai bantalan lalu meringkuk pada dada lebar itu.
"Terima kasih Chanyeol…"
Hanya itu hal terakhir yang Baekhyun katakan sebelum matanya dia biarkan terpejam sepenuhnya. Tanpa tau bagaimana ketertengunan mendera Chanyeol pun dengan susupan hangat menyusupi sekujur tubuh pria Park itu.
"Sudah kukatakan… aku akan selalu disini untuk melindungimu."
bersambung
Baekhyun cantik banget di Spectrum Festival hari ini T.T
Anyway makasih udah baca dan happy weekend semua :D
