Hallo kamu! Iyaa, kamuuu~

Langsung upadte :')

Enjoy!


Malam itu hujan mengguyur Tokyo dengan hebatnya. Suara percikkan air yang membentur aspal terdengar begitu keras, menciptakan efek menegangkan karena seperti ada di tengah opera musik yang hebat. Jalanan begitu sepi dengan lampu-lampu yang ada di sepanjang jalan berdiri kesepian, memancarkan cahaya temaram yang terbiaskan oleh air hujan. Jalan pinggiran ini sungguh sepi, beberapa mobil terparkir di pinggir jalan dan rumah-rumah di kanan-kiri sudah tertutup rapat dengan lampu berpendar hangat terpancar dari dalamnya. Samar suara gelak tawa satu keluarga bisa terdengar sampai keluar.

Ini adalah jalan setapak favoritnya. Gang kecil namun sangat panjang yang merupakan jalan pintas dari sekolah ke kawasan perumahan elit di kota itu. Penduduk di sini didominasi oleh pedagang. Hal favoritnya adalah keramahan orang-orang penghuni gang ini. Secuek apapun Sasuke pada mereka, mereka tetap tersenyum padanya sembari menawarkan segala macam makanan yang mereka jual.

Namun sepertinya hari ini sudah terlalu larut, dan hujan mengguyur tanpa berhenti dari siang tadi membuat sebagian orang malas melakukan aktivitasnya dan lebih memilih untuk menutup toko. Meringkuk di dalam selimut dan menonton televisi dengan keluarga sangatlah normal dilakukan belakangan ini.

Sasuke pun akan dengan senang hati melakukan aktivitas malasnya selama musim hujan jika hari ini dia tidak kena sial. Hukuman untuk mengangkut kursi-kursi bobrok dari gudang sekolah untuk di pindahkan sementara ke rooftop ia terima karena tak sengaja pagi ini tinjunya mematahkan hidung seseorang. Well, ia berkelahi bukan tanpa alasan. Anak kelas satu ingusan itu berani berbicara ngawur tentang keluarga Uchiha. Sasuke langsung merasakan darahnya mendidih ketika mendengar pembicaran anak kelas satu tentang Itachi Uchiha yang tak kunjung menikah di usianya yang sudah cukup.

Meski itu omogan mereka adalah fakta, namun ia tetap tidak suka hal itu keluar dari mulut seseorang yang lebih rendah darinya. Ia seorang Uchiha, dan derajat Uchiha tidak akan pernah sama rendah dengan orang-orang awam lainnya. Darah nya memiliki warna yang berbeda dengan orang lain.

Hujan sudah berubah menjadi titik-titik air yang tidak begitu berarti, tapi cukup membuat basah rambut dan bahu Sasuke. Almamater SMP miliknya dibiarkan menggantung di selempangan tas hitam yang ada di bahunya. Lengannya terasa agak pegal setelah mengangkut berpuluh-puluh kursi sialan itu. Ditambah perutnya yang mulai bergemuruh keras membuatnya malah ingin muntah. Ia mulai lapar.

Sasuke mangangkat wajahnya, lalu matanya bisa melihat lampu satu-satunya toko yang masih buka menyala mengundang ia datang. Langkahnya berubah semakin cepat demi mencapai tempat itu dan ia harus membeli roti kukus di sana. Ia membuat sepatunya basah dengan menginjak genangan air, percikannya terdengar keras karena jalanan yang sangat sepi. Bertolak belakang dengan suara samar-samar kesibukan pusat kota tak jauh dari sini.

Sasuke memperlambat jalannya ketika sudah berada beberapa meter dari toko kecil itu, cahaya lampu berwarna orange memberikan kehangatan yang luar biasa disana. Tapi bukan itu yang membuat Sasuke menghentikan langkahnya, melainkan matanya melihat seseorang yang berdiri di depan toko dengan wajah tertunduk.

Sasuke menghela napas pelan, ia mendekati orang itu dan sepertinya dia sama sekali tak menyadari kedatangannya. Mendadak pikiran iseng datang, ia mendekatkan wajahnya di samping telinga orang itu.

"Hinata!"

Reaksinya sangat original dan bisa ditebak. Gadis itu tersentak kaget sampai nyaris terjungkal kebelakang. Dengan sigap Sasuke meraih pergelangan tangan gadis itu dan menariknya agar mendapatkan kembali keseimbangan. Hinata membulatkan mata ungu pucatnya, ia menatap Sasuke dengan wajah kagetnya yang bego.

"Astaga! Sasuke-kun sialan," protesnya sambil mengelus dadanya menenangkan.

Alis Sasuke terangkat mendengar selip lidah itu. Itu memang hal normal bagi seseorang untuk mengumpat setelah dikagetkan seperti itu, namun jika hal itu keluar dari mulut seorang Hinata Hyuuga menjadikannya terdengar konyol.

"Siapa yang mengajarimu mengumpat seperti itu?" tanya Sasuke.

Hinata tersenyum, jari-jarinya mengambil helaian ujung rambutnya yang basah kemudian memerasnya pelan. Dia menyisir rambut yang sebatas bahu miliknya kemudian matanya melihat Sasuke. "Ini dinamakan adaptasi," jawabnya sembari tersenyum percaya diri.

Sasuke mendengus tidak percaya, lalu tangannya terangkat untuk ikut menyisir rambut Hinata yang sedikit basah itu. "Apa buku-buku tebalmu itu juga mengajarkan cara mengumpat?" tanyanya asal karena ia sendiri fokus untuk membelai rambut halus teman sejak kecil miliknya itu.

Hinata mendongakkan wajahnya, "Jika iya apa kau mau membaca buku-buku itu?"

"Agar aku kelihatan menjadi kutu buku sepertimu? Tidak terimakasih, aku tidak suka teori. Lebih mudah mengucapkan 'bajingan' dan 'jalang' secara lantang bukan."

"Tentu saja," balas Hinata mengangguk. Dia hafal betul betapa keras kepalanya Sasuke muda itu.

Sasuke terkekeh pelan, tangannya terjulur untuk meraih tangan Hinata. Ia menyeret tubuh kecil gadis itu agar berjalan keluar toko dan memaksa Hinata untuk berjalan di sampingnya. Gadis itu dengan sigap membuka payung berwarna kuning miliknya dan membuat mereka tidak semakin basah oleh air hujan. Refleksi lampu penerang jalan terpantul jelas pada genangan air hujan, dan bayangan itu menjadi pecah ketika kaki mereka berdua menginjaknya. Mereka berjalan dalam diam, suara riuh kota metropolitan memenuhi udara tak jauh dari tempat mereka berjalan. Samar suara sirine ambulan dan klakson kendaraan terdengar sangat menganggu, ditambah suara kucing yang sedang berkelahi membuat Hinata terlonjak kecil. Terkadang suara kilat dan silau dari langit terjadi dalam sekali kedipan mata.

Sasuke mendongak melewati payung diatasnya untuk mengamati langit yang hitam kelam dengan beberapa petir di atas sana. "Sepertinya masih akan hujan," komentarnya. Ia menoleh pada gadis di sampingnya. "Aku beruntung bertemu denganmu, dan kau cukup pintar dengan membawa payung."

Hinata menatapnya kesal, "Kau pikir adalah suatu kebetulan aku ada di toko roti kukus itu?"

Sasuke mengangkat alisnya, "Jaangan bilang kau menungguku dari sepulang sekolah tadi?"

Hinata memutar bola matanya. "Sasuke-kun memang tidak pernah menghargai usaha seseorang."

Sasuke tak menjawab protes itu karena ia sibuk berpikir untuk menemukan alasan yang logis kenapa Hinata mau menunggunya sampai larut begini. Otaknya berpikir keras dan itu menyebabkan dirinya serasa ditarik ke masa-masa sebelumnya untuk menemukan alasan itu. Dan segala kenangan akan dirinya yang sedang susah maupun mendapat masalah, Hinata ada di sana. Bahkan ketika Sasuke menemui titik terendah dalam hidupnya setahun yang lalu, ketika Mikoto Uchiha meninggal, semua yang dia ingat hanyalah gadis itu menemaninya sepanjang hari. Dia selalu ada di sana. Gadis itu tak pernah meninggalkannya atau lupa padanya. Gadis itu telah menjaganya selama ini.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Hinata heran.

Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali sampai ia sadar penuh bahwa waktu sudah berlalu, tapi gadis itu tetap berdiri di tempat yang sama. Gadis itu selalu berdiri tepat di sampingnya.

Sasuke tersenyum tipis, "Apa jadinya aku tanpamu, huh."

"Kau pasti akan basah kuyup sekarang tanpa diriku," sahut Hinata dengan senyum.

Sasuke tertawa. "Juga kelaparan," imbuhnya santai. "Kau membuatku lupa untuk membeli roti kukus tadi," katanya kemudian menatap lurus ke depan.

"Aku tahu akan seperti ini jadinya." Hinata merogoh dalam tas selempangnya, kemudian menarik keluar sebuah bungkusan dari kertas. Asapnya masih mengepul ketika Hinata membuka bungkusan cokelat itu.

Mata Sasuke membesar melihatnya. "Astaga, kau memang teman terbaik yang ku miliki Hinata."

Masing-masing dari mereka memakan roti itu dengan tenang. Derai hujan kini benar-benar telah berganti menjadi titik-titik air yang tak berarti. Mereka mungkin sudah berjalan dua blok tanpa mereka sadari, sibuk untuk mengisi perut masing-masing.

"Sebenarnya kenapa kau berkelahi?" tanya Hinata membuka topik.

Sasuke mengangkat bahu, "Bukan urusanmu."

Hinata menyipitkan mata mendengar jawaban dingin dari Sasuke. Gadis itu memasukkan potongan terakhir kue kukusnya ke dalam mulutnya. Sembari mengunyah dia berkata. "Biar kutebak, masalah ini terjadi karena Itachi-kun bukan?"

Sasuke merengut mendengar tebakan Hinata yang selalu tepat itu. "Masih bukan urusanmu, sebenarnya." Kilah Sasuke semakin jauh. Ia sama sekali tak menginginkan Hinata tahu masalahnya karena Sasuke tahu kalau gadis itu akan menenangkannya dan menceramahinya sampai gadis itu merasa haus.

Hinata membuka mulutnya untuk berkata, tapi kemudian dia mengatupkannya lagi. Sasuke meliriknya penasaran, sepertinya gadis ini sedang tidak mood untuk menceramahi Sasuke. Atau ada yang salah?

Hinata menghela napas terdengar pasrah. Dia mulai menundukkan kepalanya dan seketika Sasuke langsung mengerti kalau gadis itu sedang marah. Sasuke sama sekali tidak suka jika Hinata sudah memasuki tahap tidak-peduli-apapun jika kepala gadis itu sudah tertunduk dalam, satu tahap lebih mengerikan dari pada hanya sekedar marah dan satu tahap lebih ringan daripada saat gadis itu menangis.

"Oke, oke," Sasuke bernada mengalah. "Kau benar, hm? Ini tentang Itachi. Semuanya tentang Itachi."

Hinata mengangkat wajahnya untuk melihat Sasuke yang membuang muka. Hinata menghentikan langkahnya, kemudian ia merasakan sebuah tangan halus menyentuh pipinya dan menuntun agar Sasuke ikut menatap mata Hinata. Kini mereka berdiri berhadapan, dan Sasuke tidak bisa melepas matanya dari mata Hinata. Di satu sisi ia membutuhkan kehangatan dan dukungan dari mata itu, dan di sisi lain ia malu karena tak ingin Hinata melihatnya ketika sedang lemah.

"Mereka mengoceh tentang perusahaan Uchiha yang akan jatuh karena Itachi tak kunjung menikah," Sasuke berkata pelan. "Properti Uchiha sedang tidak stabil dan sudah susah karena tak memiliki banyak relasi, ayahku memang konservatif, ditambah jika Itachi tidak menikahi putri dari perusahaan lain maka Uchiha bisa habis." Sasuke menahan napas untuk mencegah dirinya bernada marah, dia menghela napas. "Itachi keras kepala sekali dan itu membuat keadaan rumah kacau sekarang. Dan orang-orang dungu yang tidak tahu apa-apa itu dengan senang hati terus membual tentang kejatuhan Uchiha."

Jeda agak lama, suara tetesan hujan terdengar begitu keras karena tak ada diantara mereka yang membuka mulut. Sasuke yang memberanikan diri untuk menatap mata Hinata lagi menemukan gadis itu tersenyum sekarang. Tangan halus yang dari tadi ada di pipinya mulai lepas. Hinata mengepalkan tangannya di depan hidung Sasuke. "Kau tahu bagaimana seorang pesulap mendapatkan uang?" tanyanya tiba-tiba.

Sasuke tak menjawab. Hinata kemudian tersenyum, "Dengan membohongi penonton mereka dengan hal yang tidak logis dan bahkan mungkin mustahil. Mereka membuat semua orang percaya bahwa di dalam genggaman tangan mereka ada suatu rahasia yang besar, meski tentu saja," Hinata membuka telapak tangannya yang kosong perlahan. "Tidak ada apapun di dalam sana."

Hinata tersenyum lagi, "Persepsi mengendalikan segalanya. Tentu saja pesulap memiliki asisten yang siap menerbangkan merpati dari dalam genggaman tangan pesulap tanpa dilihat oleh penonton. Sama halnya denganmu, Uchiha hanya perlu membuat orang-orang percaya bahwa Itachi sudah memiliki tunangan atau siap menikah besok. Semuanya bisa diatur karena kalian Uchiha yang memiliki akal yang agak picik," Hinata mengangkat bahu.

Senyum Sasuke mengembang mendengarnya. Ia menaikkan sebelah alisnya, "Agak picik?"

Hinata melirikkan bola matanya ke arah samping gelisah. "Hm, well, memang itu sifat alami kalian bukan?"

Sasuke mendengus sembari tertawa. "Sebenarnya itu adalah sifat dasar umat manusia, Hinata. Kau harus memperluas pengetahuanmu, kau tahu."

"Memperluas pengetahuan?"

Sasuke tertawa sebentar. "Tentu matematika dan biologi favoritmu tidak termasuk pengetahuan yang ada di dalam konteks kita kali ini. Yang kumaksudkan adalah pengetahuan umum?"

"Aku tidak perlu menjadi jenius untuk memahami peredaran matahari—"

"Kumohon jangan bicarakan hal-hal seperti itu," potong Sasuke mendecak sebentar. "Astaga kau harus memperbaiki pola pikir kunomu tentang semua manusia sesuci dirimu Hinata. Semua orang memiliki sifat picik, kau hanya tinggal memilih untuk melakukan sifat itu atau tidak."

Hinata tak merespon perkataan Sasuke, tapi gadis itu menatapnya tajam. "Kenapa topiknya menjadi berubah? Tentang apa ini sebenarnya?"

Sasuke menyeringai canggung, berpikir sesaat apakah topik ini tepat dibicarakan saat ini. Ia berdehem pelan. "Well kudengar tadi pagi kau menolak cintanya Toneri Otsutsuki dari kelas sebelah—jangan melotot! Beritanya heboh sekali karena dia memberimu buket bunga yang sangat mahal. Dan kau menolaknya dengan alasan dia orang yang 'katanya' kasar?"

Hinata menggelengkan kepalanya samar. "Sejak kapan kau percaya gosip?"

"Jadi itu tidak benar?"

Wajah Hinata merona sekilas. "Mm, itu benar."

Sasuke menaikkan alisnya, jika itu benar kenapa Hinata harus merona segala? Ah, sepertinya itu sudah menjadi bawaannya. Tangan Sasuke terjulur kedepan dan meraih pipi gadis itu, kemudian menariknya gemas menjadikan wajah Hinata terlihat konyol bekali lipat.

"Sebagai temanmu aku kuatir akan masa depanmu dan bagaimana kau bisa bertahan jika pikiran kolotmu itu tidak hilang. Jaman sekarang para gadis lebih menyukai tipe bad boy, Hinata. Belajarlah dari Sakura," kata Sasuke melipat satu tangannya di depan dada. Alasan mengapa ia menyeret nama gadis yang naksir akut padanya sejak masuk SMP itu sungguh sulit ditemukan.

"Maaf, belajar apa?" tanya Hinata kedengaran kesal.

Sasuke mengangkat bahu. "Dia gadis yang agresif, lihat bagaimana cara dia mengejarku selama ini. Dia punya selera yang tinggi," kata Sasuk angkuh.

Hinata berwajah ngeri mendengarnya. "Maksudmu selera tinggi itu adalah Sasuke-kun?"

"Tentu saja," jawabnya enteng.

Hinata memutar bola matanya lelah, "Aku keluar dari pembicaraan ini." Gadis itu merebut payung dari genggaman tangan Sasuke dan membawanya berjalan menjauh dari tempat mereka berdiri tadi.

Sasuke merasa tubuhnya kembali basah meski hanya terkena air hujan yang tidak begitu deras. Ia segera berlari menyusul Hinata yang berjalan cuek, kemudian masuk ke dalam lindungan payung.

"Poinku adalah, gadis sekarang ini semuanya memiliki inisiatif duluan. Kau juga harus punya pola pikir modern seperti mereka jika tak ingin menjadi... ehm," Sasuke berdehem dengan mengangkat sebelah alisnya hati-hati. "Perawan tua?"

Hinata membeku mendengarnya, dia kembali berhenti melangkah. Atmosfir menjadi canggung setelah ia mengucapkan kata itu, dan sedetik kemudian Sasuke merasa penyesalan melandanya. Mungkin kata-kata itu terlalu kasar bagi Hinata. Hinata masih tidak berkutik dari tempatnya berdiri. Membuat rasa bersalah Sasuke menjadi berkali lipat lebih besar.

Sasuke menyentuh bahu Hinata pelan. "Hei, aku cuma asal bicara."

Hinata mulai membuka mulutnya tanpa menoleh kepada Sasuke, kepala gadis itu tertunduk. "Kau benar," katanya pelan kemudian mengangkat wajahnya serta menatap Sasuke dengan tatapan marah. "Inisiatif, katamu?" tanyanya sekali lagi. "Itu adalah hal yang sangat mudah," lanjutnya kemudian terdiam sebentar.

Sasuke masih mencerna untuk menentukan bahwa Hinata benar-benar marah atau tidak. Tapi tak sampai sedetik berlalu, Sasuke merasakan sesuatu pada pipi kirinya. Jantungnya serasa jatuh turun dari tempatnya ketika merasakan bibir gadis itu menekan pada pipinya.

Hinata mengecupnya sesaat. Hanya sesaat tapi Sasuke merasa momen itu berlangsung begitu lama, mungkin karena otaknya tidak bekerja dengan benar saat ini.

Hinata menarik wajahnya menjauh, sedangkan Sasuke masih menatap lurus ke arah tembok pagar di belakang tubuh Hinata dengan wajah bego. Setelah mengatur kembali pikirannya yang melayang sesaat, Sasuke menatap Hinata heran.

"Apa-apaan itu tadi?" tanya Sasuke seakan marah. Ia marah karena dibuat terlihat bego oleh Hinata. Astaga, yang tadi itu benar-benar diluar dugaan. Tidak pernah terlintas sedikitpun kemungkinan tadi untuk terjadi. Hell, Sasuke dibuat terperanjat hanya karena Hinata mencium pipinya. Ia bisa meminta semua cewek yang mengantre padanya untuk dicumbui kapanpun ia mau. Tapi membuat Hinata melihatnya sebagai lelaki saja susah sekali, justru sekarang gdis itu tiba-tiba membuat kontak fisik dengannya. Hinata Hyuuga. Karena ini adalah Hinata maka jangan salahkan Sasuke jika ia terlihat bego di sini. Hinata. Hinata. Teman baiknya.

Hinata tampak berusaha mempertahankan wajah ketusnya. "Nah," katanya.

Sasuke mengangkat alisnya heran. "Nah? Nah apa?" tanyanya mendekati Hinata.

Hinata menelan ludah. "K-kubuktikan aku juga memiliki inisiatif," ucapnya pelan sambil memalingkan wajahnya seiring dengan Sasuke yang bergerak semakin mendekatinya.

Sasuke tak berhenti melangkah dan itu membuat Hinata mengambil beberapa langkah mundur. "Inisiatif yang aneh," kata Sasuke. "Kau tidak berencana mencium semua laki-laki yang menyatakan perasaannya padamu 'kan? Apa kau akan mencium pipi Otsutsuki untuk membuktikan keinisiatifanmu itu?"

Hinata bergerak semakin mundur. "T-tentu saja tidak! Aku melakukan itu hanya kepada Sasuke-kun karena itu tidak akan menjadi masalah," kilahnya.

Sasuke berhenti melangkahkan kakinya. Ia menatap Hinata secara intens, gadis ini terlalu meremehkannya. Dia mencium pipi Sasuke begitu saja karena dia tidak memikirkan Sasuke sebagai laki-laki. Sasuke tahu ia tidak masuk hitungan, begitu pula Hinata. Gadis itu sama sekali tidak masuk hitungan Sasuke menjadi gadis-gadis lain yang dengan mudah bisa ia permainkan dan nikmati. Hinata terlalu spesial. Mereka hanya menganggap satu sama lain sebagai teman baik. Sejak dahulu memang seperti itu.

"Hm," gumam Sasuke setelah pertimbangan yang begitu lama. "Kalau begitu ini juga tidak akan menjadi masalah bukan?"

"Apa maksud—hmh!"

Mulut Sasuke meredam pertanyaan Hinata hingga membuatnya terpotong. Tubuhnya mendorong kuat Hinata sampai gadis itu mundur dan menabrak tembok di belakang mereka. Payung yang tadi ada di genggaman gadis itu terlempar ke bawah saat Sasuke mendesak Hinata ke tembok dan menciumnya. Ya.

Sasuke mencium gadis itu.

Hanya sesaat, mungkin hanya beberapa detik kemudian Sasuke melepas bibirnya dari bibir Hinata. Sasuke membuka matanya, "Kita impas—" tapi ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya, Sasuke terpaku akan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah sekalipun ia lihat dalam sejarah hubungan pertemanannya dengan Hinata. Bahwa wajah gadis itu memerah sempurna. Bukan merona gagap seperti biasanya, tapi kali ini... memerah sempurna sampai kebelakang telinga gadis itupun ikut memerah.

Sasuke menelan ludahnya canggung.

"H-hei, kau baik-baik saja?" tanya Sasuke konyol.

Hinata mencoba mengangkat wajahnya dengan hati-hati, dia menyentuh bibirnya sendiri dengan jari-jarinya yang bergetar hebat. Matanya tampak masih belum kembali fokus karena tindakan Sasuke tadi. Lalu Hinata mencoba untuk menatap Sasuke, tentu saja, dengan wajah yang masih merah.

"A-a-a-apa-apaan..." dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Hinata masih menyentuh bibirnya sendiri dengan wajah terkejut. "K-kita adalah teman. K-kau harus melakukannya dengan o-orang yang kau sukai," timpalnya dengan wajah makin merah.

Sasuke nyaris bergetar melihatnya, ia menahan kuat gejolak untuk tidak menerjang Hinata lagi dengan mengedepankan logika yang baru saja Hinata lontarkan. Hei, dia benar. Teman tidak seharusnya melakukan ini bukan? Hinata hanyalah teman masa kecilnya. Teman gadisnya yang kutu buku dan tidak bisa menjaga penampilan. Teman cengeng dan ceroboh. Teman yang selalu ada dan membantunya.

Dia masihlah seorang gadis. Ditambah dengan wajah yang dibuatnya saat ini, astaga, malam itu Sasuke benar-benar baru menyadari fakta yang selama ini ia abaikan. Betapa Hinata adalah seorang gadis yang cantik.

Menelan ludah, "Persetan dengan 'teman' itu."

Ia mendesak Hinata lebih keras, punggung Hinata membentur tembok di belakang mereka dengan suara yang agak menyakitkan. Kedua pergelangan tangan Hinata kini berada di bawah kontrol tangan Sasuke. Begitu juga bibir gadis itu. Sasuke menekan bibir Hinata keras, ia melumat bibir itu berkali-kali. Suara pekikikan Hinata teredam di dalam mulutnya, dan Sasuke menggunakan kesempatan itu untuk mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hinata. Ia tak tahan untuk tidak mengecup bibir itu, kemudian melumatnya pelan, lalu mengeksplor apapun yang bisa ia temukan di dalam mulut Hinata dengan menggunakan lidahnya.

"Mmmh..." Hinata mencoba berakta-kata namun malah berubah menjadi erangan.

Sasuke bisa merasakan panas menjalari tubuhnya dan ia dengan senang hati berbagai rasa itu kepada Hinata lewat kaitan bibir mereka. Manis. Juga menggairahkan. Sasuke menekan bibirnya lebih keras dan mencoba mengajak lidah Hinata untuk mengikuti gerakannya. Gadis itu begitu kepayahan dengan semua gerakan dan alur yang diciptakan oleh Sasuke. Sasuke sekali lagi menyesap bibir Hinata kuat-kuat, sebelum akhirnya ia mengakhiri ciuman yang cukup lama itu.

Saliva mereka menetes melewati dagu Hinata ketika Sasuke menarik bibirnya menjauh. Napas mereka berdua saling berbenturan dengan panas dan Sasuke menyandarkan keningnya sebentar pada kening Hinata. Gadis itu masih memejamkan matanya, begitu juga Sasuke yang masih menikmati sensasi itu. Sensasi yang tak pernah ia temukan sebelumnya pada gadis-gadis lain yang pernah dicumbunya.

Manis.

Ia hanyalah seorang anak berusia 14 tahun kala itu dan ia sudah bisa merasakan betapa manis bibir seorang gadis. Sasuke membuka matanya perlahan, namun kemudian menyesalinya karena melihat sosok Hinata saat ini membuatnya ingin melakukannya lagi. Tapi ia menahan diri, akal pikirannya kembali bekerja.

Ia menarik wajahnya menjauh. "Sori," hanya itu kata yang bisa ia lontarkan saat ini.

Bahkan Hinata tak mendengarnya sama sekali karena gadis itu buru-buru berlari pergi menerobos hujan dan meninggalkan Sasuke yang meruntuki tindakannya.


Awan mendung bergerak pelan di atasnya ditambah matahari yang hampir tenggelam membuat suasana di atap gedung sekolah ini terasa begitu suram. Tapi hal itu tak membuat Sasuke beranjak dari tempatnya berbaring selepas jam makan siang tadi. Mungkin ia sudah menghabiskan berjam-jam untuk melamun menatap langit yang bertambah gelap dan kilat yang menyambar di atas sana. Rasanya masih saja kurang, masalah yang ia sebabkan beberapa hari yang lalu tidak akan selesai hanya dengan melamun selama berjam-jam.

Sasuke memejamkan matanya frustasi, membayangkan wajah Hinata yang tampak pucat dan jelas menghindari Sasuke terang-terangan sepanjang hari ini dan mereka sudah tidak salaing menegur selama tiga hari. Ciuman sialan itu benar-benar sebuah kesalahan. Kesalahan yang manis. Sasuke masih bisa mengingat ciuman pertamanya dengan Hinata begitu... basah.

"Brengsek," umpat Sasuke pelan.

"Ada masalah?"

Sasuke bangkit dari tidurnya kemudian menoleh dan menemukan Neji Hyuuga berjalan ke arahnya dengan baju karate yang lusuh.

Sasuke tak menjawab dan Neji sepertinya mengerti sikap Sasuke yang tidak ingin membicarakan masalahnya. Neji berdiri di sampingnya. "Kau tidak latihan sore tadi. Kenapa?"

Sasuke menghela napas. "Malas," jawabnya singkat.

"Kau seharian tidur di sini?"

"Hn," sahutnya singkat.

Neji mengangguk tampak mengerti. "Baiklah kalau begitu. Kupikir Hinata membolos latihan bersamamu," katanya kemudian akan beranjak pergi.

Sasuke memutar kepalanya dengan cepat. "Dia tidak latihan karate tadi?"

Neji mengangkat bahu. "Tidak, anak-anak bilang Hinata sempat latihan sebentar kemudian ada Uchiha yang membawanya. Ternyata bukan kau."

Sasuke menggerakkan bola matanya berpikir. "Lalu siapa?"

Neji menggaruk pelipisnya. "Mungkin kakakmu, aku lihat mobilnya siang tadi. Akhir-akhir ini Hinata sering dijemput Itachi-san."

Tak ada respon dari Sasuke dan Neji menganggap itu sebagai akhir dari topik pembicaraan mereka petang ini. Orang itu berlalu pergi namun Sasuke masih terdiam berkutat dengan segala spekulasi-spekulasi yang ada di kepalanya saat ini.

Sejak kapan hubungan Itachi dan Hinata sudah masuk ke tahap saling memberi tumpangan seperti itu? Aneh dan tidak logis. Karena Itachi sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan segera setelah ia lulus kuliah dan Hinata bukan gadis yang gampang diantar jemput oleh orang lain. Well, Itachi memang bukan orang lain di kehidupan Hyuuga.

Memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang Hinata malah membuatnya pusing dan lupa waktu. Ia hampir saja harus melompati pagar ketika gerbang sekolah nyaris ditutup, untunglah dia bisa lewat setelah berdebat dengan penjaga gerbang sialan itu sebentar. Sasuke berjalan lambat menerobos hujan yang semakin lama ternyata menjadi lebih lebat. Ia mulai berlari sepanjang gang sempit favoritnya kemudian berpikir sejenak untuk membeli roti kukus, tapi adegan antara dan Hinata di dekat sana membuatnya merinding dan kemudian memutuskan untuk terus berlari sampai ke rumah.

Sasuke melepas sepatunya yang basah dan menendangnya asal di depan pintu kemudian melempar tas nya di atas sofa tua yang ada di ruang tamu. Saat itu ia menyadari keadaan rumah begitu gelap, tapi ia sendiri tak puya niatan untuk menyalakan lampu. Sasuke memandang sekeliling dengan heran, tak ada satu lampu pun yang menyala. Acuh, ia memutuskan untuk cepat-cepat mandi dan segera tidur agar tak memikirkan hal-hal brengsek yang membuatnya pusing. Ia bahkan tak mencari tahu keberadaan keluarganya karena well, mereka memang tidak saling menunjukkan kepedulian.

Ia membuka pintu kulkas dan menyambar sebuah apel untuk mengisi perutnya sementara. Sambil mengacak-acak rambutnya yang basah, Sasuke berjalan melewati lorong panjang penghubung antara dapur dan bagian kamar-kamar. Tapi kemudian langkahnya terhenti melihat cahaya terang memancar dari salah satu ruang tamu khusus di lorong itu. Sasuke hanya bisa melihat siluet beberapa orang di dalam yang terefleksi di pintu geser tradisonl itu.

Awalnya ruangan itu tidak membuatnya tertarik, paling client super penting ayahnya yang akan menghasilkan banyak uang untuk perusahaan dan tentu saja Sasuke tidak mau mengganggu hal itu. Tapi kemudian jantungnya seakan melompat keluar saat mendengar seseorang menggebrak meja dengan emosi.

"Kubilang diam!" suara Fugaku menggelegar sampai terdengar ke luar ruangan.

Well, sepertinya perjanjian tidak berjalan lancar. Tapi seperti biasa, siapa peduli.

Sasuke baru akan melanjutkan langkahnya saat suara baru muncul dan kali ini ia benar-benar dibuat berhenti.

"T-tenanglah Fugaku-san," kata sebuah suara lembut yang sangat di hafalnya.

Sasuke menggeser pintu dengan sangat hati-hati untuk mengintip, sampai ia merasa cukup mendapatkan visual yang diinginkannya. Matanya terbelalak melihat tiga orang yang sangat dikenalnya duduk di dalam satu ruangan yang memiliki tekanan yang sangat berat. Suasana di ruangan itu bahkan membuat Sasuke merinding. Tapi bagian yang tak dimengerti olehnya adalah mengapa ada Hinata Hyuuga di antara Fugaku dan Itachi Uchiha.

Hinata duduk di samping Itachi dengan gugup dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, sedangkan Itachi masih terbalut setelan hitam miliknya meski ia tampak sering mengendurkan dasinya frustasi. Mereka duduk di seberang Fugaku yang masih melotot sampai bola matanya tampak bisa keluar. Wajahnya luar biasa marah.

"Bajingan gila," desis Fugaku kepada Itachi.

Itachi menyipitkan matanya sakit hati karena panggilan Fugaku. "Ayah, kau tak mengerti—"

"Tutup mulutmu! Berani-beraninya kau mencoba menjelaskan hal tak masuk akal seperti itu?" potong Fugaku kemudian melempar gelas ke arah Itachi dan hancur berkeping-keping setelah menghantam kursi yang didudukinya. Pecahan gelas itu menyayat pipi Itachi hingga berdarah.

Itachi tampak tidak bergeming. "Pernahkah sekali saja kau mendengarkanku?!" Itachi balas membentak sampai dia berdiri.

Fugaku menggebrak meja ikut berdiri menantang anaknya. "Kau memintaku untuk mendengarkan hal gila yang barusaja kau katakan? Kau mau membunuh ayahmu sendiri, huh?!"

Itachi mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia menelan ludah ragu. "Setidaknya dengarkan penjelasanku dulu!"

"KAU...!"

"Kumohon hentikan," Hinata nyaris memekik. Hinata ikut berdiri dengan mata berair. Gadis itu mengambil tisu di meja dan menggunaknnya untuk menyeka darah di pipi Itachi dengan penuh perhatian. Itachi tak berani menatap mata Hinata, ia hanya menundukkan kepalanya pada Hinata.

Hinata menghadap Fugaku lagi dengan tatapan penuh keyakinan. "Aku lah yang tidak mencintai Itachi-kun," kata Hinata tegas. "Kau harus pastikan berkata kepada semua orang, bahwa aku yang pergi meninggalkan Itachi-kun meskipun sekeras apapun Itachi mencintaiku dan mengejarku untuk menjadi istrinya selama ini karena aku tidak mencintainya. Aku menolak pertunangan ini."

Suara benda membentur lantai kayu bergema keras saking sepinya rumah ini. Detik berikutnya baru Sasuke sadar apel di tangannya sudah terjatuh dan menggelinding sampai di ujung koridor yang gelap.

Untung tak ada ada yang menyadari hal itu karena hujan diluar sana begitu deras. Tangannya menjadi kaku karena syok.

"Hinata," ucap Itachi pelan. Hinata menoleh padanya, "Aku tidak bisa menikah deganmu, Itachi-kun. Maafkan aku."

Kemudian gadis itu berlalu pergi dan dengan sigap Sasuke bersembunyi di balik jam kayu besar, membiarkan gadis itu berjalan cepat melewatinya. Tatapan Sasuke yang kosong membuntuti gadis itu hingga dia keluar dari rumah.

Ia tidak tahu megapa ia malah melangkahkan kakinya untuk pergi menjauh dari tempat debat terkutuk itu. Bahkan ia ternyata sudah berlari keluar dari rumah tanpa alas kaki sama sekali. Ia menerobos hujan yang turun dengan masih lebatnya. Yang ia tahu hanyalah berlari dan berlari. Meski ia tahu sejauh apapun ia berlari menjauhi fakta mengejutkan tadi, itu tidak akan berpengaruh apa-apa.

Mereka akan menikah.

Itachi dan Hinata. Mereka akan menikah.

Ia memperlambat langkahnya, lecet-lecet di telapak kakinya sama sekali tidak terasa perih meski tersiram air hujan. Suara klakson mobil dan hiruk pikuk pusat kota bisa di dengarnya dan Sasuke baru sadar bahwa ia sudah sampai ke dekat pusat kota. Ia berjalan pelan melewati trotoar yang licin karena air hujan. Ia berhenti dan menyandarkan bahunya pada salah satu tiang lampu penerang jalan.

Jelas ada sesuatu yang hilang saat Sasuke mendengar berita itu. Tapi saat memikirkan semua pertimbangan yang ada. Bagaimana hubungan Itachi dan Hinata selama ini, bagaimana mereka memang saling perhatian satu sama lain, bagaimana tampang mereka memang cocok. Jika dipikir lagi Itachi memang selalu menjaga Hinata. Sasuke tak pernah sekalipun melihat Itachi memberikan perhatian yang sebesar itu kepada seorang gadis selain Hinata.

Benar sekali. Itachi adalah tipe orang yang sangat dingin dan pendiam. Tapi dia hanya melirikkan matanya pada satu orang gadis selama hidupnya yaitu Hinata.

Lalu kenapa Sasuke sampai kehilangan akalnya saat mendengar hal itu? Seharusnya itu bukan masalah sama sekali.

Cahaya lampu berpendar temaram di atasnya. Mendadak suara derasnya hujan membuatnya sadar kembali ke dunia nyata. Matanya langsung fokus begitu melihat sebuah mobil hitam milik yang sangat familiar. Ia bergerak cepat menyelinap di antara arus manusia yang bergerak lambat. Ia tetutupi oleh ratusan orang yang memakai payung dengan segala macam warna. Dari ekor matanya, ia bisa melihat Itachi dan Shisui duduk di kursi depan kemudi, mungkin mereka mencari keberadaan Hinata. Pasti.

Peduli setan tentang mereka.

Sasuke memutuskan untuk mengikuti entah kemana arus orang-orang membawanya. Ia baru akan menyebrang jalan ketika semua orang berhenti mendadak karena beberapa mobil yang nekat menerobos lampu merah dengan kecepatan yang diluar batas.

Kemudian mimpi buruk yang sebenarnya dimulai.

Suara benturan yang luar biasa terdengar begitu keras mengalahkan derasnya hujan menarik perhatian khalayak umum, juga Sasuke. Sempat mengira ada pertunjukkn dari teroris yang tentu saja tidak akan mendapat perhatian darinya, ternyata ia salah besar ketika melihat orang-orang berlari dan meneriakkan ada pemuda yang sekarat.

Mendadak perasaannya tidak enak dan perutnya semakin mual seiring langkah kakinya yang mendekati pusat kerumunan orang-orang. Pemandangan itu membuatnya ngeri. Asap tebal keluar menembus air hujan dari kap mobil hitam yang hancur total. Di depan mobil itu ada sebuah truk yang hanya bagian depannya yang rusak lumayan parah.

Kengerian itu bertambah besar saat Sasuke melihat isi mobil yang sampai keluar karena tekanan dari depan. Satu orang berhasil merangkak keluar dengan kepala bocor dan kaki pincang, orang itu segera menghampiri pemuda satunya yang tersungkur di dekat pintu mobil. Setengah badan dari pemuda itu terjepit antara pintu mobil dan aspal yang dingin.

"Itachi!" teriak Shisui keras, mencoba menyadarkan pemuda yang bersimbah dari itu.

Sasuke tersentak sadar dan dengan tubuh gemetar ia berlari ke arah mereka. Kemudian serangan panik itu terjadi.

"A-apa yang terjadi?" tanyanya pelan pada Shisui yang sama sekali tak menggubrisnya karena sibuk mencoba menarik keluar tubuh Itachi.

Sasuke mencoba melihat keadaan kakaknya dan itu benar-benar sebuah kesalahan. Patahan besi tajam merobek dari dada sampai perut kakaknya, mengeluarkan literan darah mengalir bersama air hujan. Tangannya bergetar hebat saat mencoba meraih wajah kakaknya yang pucat.

"Itachi!" panggilnya dengan suara serak. "BAGUN! ITACHI!" ia berteriak sampai merasa urat-uratnya akan putus semua. Tapi tak ada respon dari kakaknya.

Air mata Sasuke sudah bercampur dengan air hujan. Tangannya bergetar hebat mencoba membangunkan kakaknya. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai dadanya terasa sangat sakit, aliran darahnya mengalir terlalu cepat sampai membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Ketakutan benar-benar menyergapnya saat itu.

Kemudian Itachi membuka matanya sedikit, yang langsung disadari oleh Sasuke.

"Itachi!" seru Sasuke menggenggam pipi kakaknya.

Mata Itachi tidak benar-benar fokus, tapi mulutnya bergerak mengucapkan sebuah nama dengan sangat pelan. "Hinata..."

Sasuke terguncang hebat medengarnya. "Bodoh! Ini bukan saatnya memikirkan orang lain!"

Tapi kemudian Itachi kehilangan kesadarannya. Sasuke menjadi lebih panik. Lalu terdengar sirine ambulan yang datang membuat tubuhnya langsung terduduk lemas.

.

Tangannya tida bisa berhenti bergetar selama lampu ruang operasi menyala, seakan lampu itu adalah satu-satunya harapan ia hidup sekarang. Ia bahkan tidak penasaran kemana Shisui pergi. Beberapa pengawal ayahnya datang dan Sasuke bisa melihat Fugaku berjalan kaku ke arahnya. Sasuke mendongak untuk melihat wajah ayahnya, tapi tak ada satu patah katapun yang keluar. Fugaku juga tak tampak berniat untuk memberikan kata-kata penghiburan sama sekali. Karena saat ini mereka diliputi ketegangan.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menuju ke arah mereka. Hinata datang dengan seragam basah seperti Sasuke. Napasnya putus-putus ketika menanyakan bagaimana situasinya. Karena tak ada satupun dari mereka yang menjawab, gadis itu akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Sasuke.

Satu detik terasa seperti satu musim penuh penyiksaan. Tangan Sasuke yang berwarna merah karena darah Itachi masih tidak bisa berhenti bergetar. Kepalanya tertunduk dalam dan hanya mengamati air yang menetes dari wajahnya dan terjatuh di lantai. Lalu sebuah tangan menggenggam tangannya.

Sasuke menoleh dan menemukan Hinata yang mencoba tersenyum. "Dia akan baik-baik saja," ucapnya.

Kata-kata itu benar-benar mengangkat setengah dari beban yang ada di pundaknya saat ini. Mungkin karena itu adalah satu-satunya kalimat yang menghibur malam ini dan diucapkan oleh gadis yang disayanginya. Kehangatan mulai terasa.

Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa saat, ketika pintu ruang operasi dibuka dan mendorong keluar ranjang yang berisikan tubuh kakaknya yang kaku.

Tak ada yang lebih membuatnya ingin pingsan seperti saat mendengar dokter mengumumkan waktu kematian Uchiha Itachi.

Perlahan, tangannya lepas dari genggaman Hinata. Sejak saat itu ia bersumpah untuk tidak mempercayai tangan lain selain tangannya sendiri.

TBC

Review lahh ya hehe

Fyi sebut saja ini flashback PART 1, ingat ya presepsi mengendalikan segalanya

hayoo kalo PART II nya kapan? Kapan2 deh kalau saya dah ga jomblo lagi haha just kidding