ALL WITH YOU
KAISOO VER
.
.
Orginal story by Me
.
.
CAST : KIM JONGIN
DO KYUNGSO
Other cast
.
.
TYPO
.
.
HAPPY READING
.
.
Sejatinya orang di seluruh penjuru dunia ini adalah orang yang baik dan memiliki hati yang bersih. Akan tetapi seiring berjalannya waktu semua itu berubah, bukan hanya bumi yang berubah akan tetapi hati dan watak manusiapun ikut berubah. Benih-benih dengki, iri, serakah mulai mengotori hati serta pikiran mereka tatkala mata mereka melihat kearah orang-orang yang lebih berhasil ketimbang diri sendiri. Oleh karena itu, tidak jarang kita akan menemui percekcokan antar saudara untuk berebut harta, meskipun mereka sudah mendapat pembagian harta yang sama rata. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, mereka yang tidak puas dengan apa yang dia miliki akan senantiasa melakukkan apapun untuk merebut yang sejatinya bukan miliknya sekalipun itu dengan pertumpahan darah.
Mungkin itu jugalah gambaran yang cocok untuk masalah internal di istana saat ini. Beberapa kelompok yang memiliki sifat serakah berusaha menjatuhkan kelompok yang mendapatkan mandat. Mereka dengan lihai selalu menciptakan intrik terselubung untuk mengadu domba, tidak segan-segan juga menghilangakn nyawa bagi siapa saja yang tidak setuju pada jalan pikiran mereka, seolah-olah mereka adalah malaikat pencabut nyawa yang memiliki kekuasaan mengambil nyawa manusia.
Mingyu, adalah sosok laki-laki yang begitu memiliki ambisius yang sangat tinggi. Setiap apapun yang berkaitan dengannya haruslah memiliki hasil akhir yang sesuai dengan kemauannya. Dan hal itu mutlak tidak bisa dibantah oleh siapapun. Jikalau ada seseorang yang berani menentangnya, maka orang tersebut sudah haruslah siap dengan resiko yang harus dia tanggung. Karena itulah, orang-orang yang berada di bawah tangannya semua tunduk padanya.
Mingyu memiliki wajah tidak kalah rupawan dengan wajah Jongin, postur tubuh mereka juga tidak jauh berbeda. Bahkan jika dilihat dari belakang mereka begitu sama persis hanya yang membedakannya adalah sifat dan sikap mereka. Sudah tertulis diawal jika Jongin memilki sifat yang arif bijaksana dan penyayang, sedangkan Mingyu memiliki sifat yang keras. Mungkin karena sering terjun langsung memimpin peperanganlah lambat laun membuatnya berubah.
Dulu, dulu sekali, Mingyu juga layaknya anak-anak lain yang sangat manis lagi penurut. Ia begitu pintar. Hingga Ia beranjak dewasa otak cerdasnya dalam meramu strategi perang layak diacungi jempol. Awalnya Ia hanya berada dibalik layar, akan tetapi Ia kemudian memutuskan terjun langsung memimpin pasukannya saat terjadi penyerangan dan pasukan kerajaan terancam terdesak mundur. Itulah awal mula dimana sosok Mingyu kenal dan ditakuti oleh musuh. Dan dari sana pulalah detik demi detik semua mulai berubah.
"Tidak baik jika menghabiskan menuman itu sendiri." Laki-laki paruh baya tiba-tiba memasuki bilik rumah bordir yang sudah Mingyu sewa untuk malam ini hingga esok pagi, bahkan tanpa permisi Ia langsung mengambil tempat duduk di depan Mingyu dan menuangkan arak kedalam cangkirnya sendiri, lalu meminumnya dalam sekali teguk.
Mingyu mendegus tidak suka atas kelancangan laki-laki paruh baya tersebut. Ia merasa harga dirinya sebagai anak dari seorang raja telah di injak-injak. "Pergilah, aku tidak membutuhkan teman minum. Apalagi tua bangka sepertimu." Tuturnya, matanya menatap tajam kearah laki-laki tersebut.
Laki-laki paruh baya itu tergelak oleh ucapan Mingyu, bukannya menuruti untuk pergi, Ia malah menuangkan kembali arak ke dalam cangkirnya. Tidak lupa Ia juka menuangkannya ke dalam cangkir Mingyu yang terlihat sudah kosong. "Bersikaplah santai sedikit Doryong-nim, saya hanya ingin memberikan penawaran yang bagus untuk anda." Ia memainkan cangkir yang ada di tanganya.
"Aku tidak butuh penawaran." Suaranya terdengar tegas dan congkak, sedikit menggambarkan kepribadian Mingyu yang sesungguhnya.
"Benarkah? Waah... sayang sekali padahal tawaran saya sangat menguntungkan bagi anda" laki-laki itu tersenyum tipis, "Baiklah kalau begitu, anda sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan penawaran saya," Ia beranjak dari duduknya, mengibaskan jubahnya dengan angkuh. "seperti tahta raja misalnya..." Ia sengaja bergumam lirih akan tetapi, gumaman itu masih bisa di dengar dengan jelas oleh Mingyu.
"Tu-tunggu!" Mingyu meletakkan cangkirnya, lalu memberi kode kepada seorang gisaeng yang sedari tadi bergelayut pada lengannya untuk meninggalkan mereka, dan gisaeng itupun langsung menurutinya meskipun sedikit tidak rela karena kesempatan menyentuh laki-laki tampan idaman semua wanita hilang begitu saja. "Jadi, apakah itu yang kau tawarkan, Park Hojo (Menteri perpajakan)". Mingyu mendongak menatap punggung menteri perpajakan yang tengah menghentikan langkahnya didepan pintu.
Laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Park Hojo itu menampilkan senyuman liciknya, merasa pancinganya telah berhasil menjerat mangsa. "Jadi, apakah anda berubah pikiran Mingyu doryong-nim?" tanyannya sambil berbalik dan memandang Mingyu dengan senyuman yang penuh arti.
.
KAISOO
.
Merajut, menyulam, dan hal-hal serupa adalah salah satu kegiatan yang begitu Kyungsoo benci. Hal itu dikarenakan tangannya akan selalu tertusuk oleh jarum rajut lalu berdarah dan terasa perih. Lehernya akan terasa pegal karena terlalu lama menunduk, dan kakinya akan terasa kesumutan yang amat sangat mengganggu sebab terlalu lama duduk. Sugguh aneh, akan tetapi itulah faktanya Kyungsoo lebih suka memainkan pedang dan busur panahnya ketimbang bermain kain, benang beserta jarumnya.
Namun lebih malangnya lagi, jika Kyungsoo sudah berkutat dengan hal-hal itu Ia tidak akan bisa berkutik sedikitpun, mengingat Ibunya akan senantiasa mengawasinya. Bahkan gadis itu berani bertaruh jika ibunya itu tidak akan bergerak meskipun hanya sekedar untuk menggerakan kelopak matanya untuk berkedip. Okey mungkin ini sedikit berlebihan, tapi demi Tuhan ibunya itu memang sedikit kolot jika sudah menyangkut tentang awas-mengawasi Kyungsoo. Mungkin bagi beliau, berkedip saat mengawasi Kyungsoo adalah hal terlarang, karena bisa saja Kyungsoo kabur dari pengelihatannya selama Ia menggerekan kelopak matanya meskipun mustahil orang beranjak pergi hanya dengan jangka waktu yang begitu amat singkat. Tapi siapa yang tahu? Tidak menampik kemungkinan hal itu bisa terjadi bukan? Mengingat Kyungsoo selama ini begitu jago mengelabuhi pelayan pribadinya bahkan Ibu, ayah dan juga kakaknya sendiri. Dia mungil tapi cerdik dan licik.
"Eomma, tidak bisakah kita sudahi saja?" rengeknya seperti anak kecil yang merasa bosan dengan apa yang sedang dia kerjakan. "Eomma, kakiku rasanya begitu pegal, dan lihatlah," Kyungsoo menyodorkan tangannya yang terdapat titik-titik merah bekas tusukan jarum kearah ibunya sambil berekspresi dengan begitu lucu. Bibirnya bahkan sudah maju beberapa senti hingga bisa di kuncir. "Tanganku berdarah, astaga nanti darahku bisa habis... Eomma!" lanjutnya, memekik lantang diakhir kata.
Tao hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah sang anak. Ia tidak habis pikir dengan anak gadis tersebut, yang sebenarnya sudah cukup umur untuk menikah akan tetapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Bahkan lihatlah, Ooohhhh astaga... apa yang dia lakukan sekarang sudah pasti akan membuat orang-orang tidak akan percaya jika anaknya tersebut tergolong gadis dewasa. "Tidak ada istirahat Kyungsoo, itu hukumanmu karena kau sering sekali kabur bahkan tidak pulang ke rumah." Ucap Tao dengan tegas. Untuk kali ini wanita paruh baya itu benar-benar tidak bisa lagi tinggal diam, Ia juga tidak akan luluh begitu saja oleh wajah memelas sang anak. Karena selama ini Ia sudah terlalu melunak dan membiarkan Kyungsoo bertingkah sesukanya.
"Tapi Eomma, aku kan menginap di rumah Luhan Eonni." Kyungsoo mencoba membela diri dan masih mempertahankan wajah memelasnya yang kini semakin bertambah melas. Ia berjuang keras untuk membuat ibunya luluh, namun sepertinya kali ini sedikit lebih sulit dari biasanya melihat sang ibu yang sampai detik ini belum juga goyah dan membiarkan dirinya pergi meninggalkan pekerjaannya saat ini.
"Tidak ada pembelaan, tidak ada bantahan, dan tidak ada alasan. Cepat kerjakan dan selesaikan, ibu akan mengawasimu." Tutur Tao dengan mutlak yang tidak bisa dibantah lagi oleh Kyungsoo.
Gadis itupun hanya bisa pasrah, lalu melanjutkan kegiatan merajutnya dengan diselingi gerutuan-gerutuan kecil. Bibirnya manyun komat-kamit tidak jelas. Ia merasa jika ibunya benar-benar tega padanya, bahkan pelayan pribadinya yang biasanya akan selalu menemaninya kini tidak ada. Wanita yang lebih tua lima tahun darinya itu —pelayan pribadinya— secara suka rela membiarkan dirinya terjebak dalam ruangan yang membosankan ini, setelah ibunya menyuruh wanita bernama Jihyun itu untuk beristirahat atau menikmati waktunya yang bebas. Sungguh tidak setia sekali, jika sudah seperti ini Kyungsoo merasa jika Jihyun bukanlah pelayan pribadinya melainkan pelayan pribadi ibunya. Karena wanita itu lebih menurut pada titah ibunya dari pada titah darinya.
Tao ingin sekali membebaskan tawanya yang sedari tadi Ia tahan, saat melihat bagaimana lucunya wajah Kyungsoo. Demi Tuhan, Ia benar-benar merasa gemas dengan anaknya sendiri. Ingin rasanya Ia mencubit dan menggigit pipi tembam itu dengan rakus, namun apa daya pipi itu bukanlah makanan. Jika boleh jujur, Tao sebenarnya sungguh tidak tega berlaku tegas pada anak gadisnya tersebut mengingat Ia begitu menyayangi sang anak. Akan tetapi, Ia juga tidak bisa terus-terusan bersikap melunak terlebih anaknya akhir-akhir ini terlihat sedikit liar, terlalu sering keluar rumah dan jarang pulang. Tao khawatir jika itu terus berlanjut akan membawa dampak buruk pada Kyungsoo, terlebih Ia mendengar satu dua orang yang mulai menggunjing tentang kebiasaan Kyungsoo tersebut.
Jadi Tao menekankan pada dirinya sendiri, jika mulai saat ini Ia akan bersikap jauh lebih tegas pada Kyungsoo. Ia tidak akan lengah lagi membiarkan anak gadisnya itu berkeliaran di luar rumah seperti wanita bar-bar. Ia akan lebih tekun lagi mengajari Kyungsoo untuk merajut, menjahit, menyulam atau jika perlu Ia juga akan turun tangan sendiri untuk mengajari sang anak memasak. Walau tidak dapat dipungkiri jika untuk urusan memasak Kyungsoo sudah begitu mahir, Ia bisa sedikit memberi keringanan untuk bidang yang satu itu. Tapi untuk bidang yang lain jangan harap Kyungsoo bisa mendapatkan keringanan. Karena baik merajut, menyulam, menjahit adalah beberapa hal yang wajib dikuasai oleh para wanita dari segala penjuru Joseon.
.
KAISOO
.
Kedua wanita yang di hormati oleh seantero Joseon itu terlihat mengobrol dengan hangat di pavilliun dekat istana utama. Ditemani oleh teh bunga kerisan kualitas terbaik dan beberapa jenis kudapan. Cuaca yang cerah, langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, semilir angin yang menenangkan, kicauan burung yang merdu, bunga teratai yang bermekaran diatas air danau, semuanya begitu mendukung untuk menjadi latar belakang mereka untuk bercengkrama dengan santai.
"Apakah Daebi Mama (Ibu suri), ingin menambah kudapan lagi?" tanya wanita yang lebih muda yang tidak lain adalah Yixing menantu dari wanita yang di panggilnya dengan sebutan Daebi Mama tersebut.
"Tidak perlu Wangbi (Ibu ratu), ini sudah terlalu banyak." Wanita itu tersenyum hangat sambil menatap langit yang mempesona. "Yixing-a..." Kini Ia beralih menatap sang menantu dengan pancaran mata yang sulit diartikan oleh ibu dari dua anak tersebut.
"Ye, Daebi Mama" sahut Yixing dengan begitu sangat sopan sambil menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya.
"Semua ini sangat melelahkan bukan?" Ia memalingkan mukanya dan melihat ke arah danau kembali. "Kau tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pikiranmu akan terbagi, memikirkan tentang hal-hal yang kau takutkan akan terjadi. Hatimu akan selalu gelisah dan was-was," Wanita itu menjeda kembali ucapannya, lalu menyeruput tehnya dengan begitu angun. "Aku dulu juga seperti itu, bahkan sampai sekarang juga seperti itu. Terkadang aku berpikir, kenapa orang-orang begitu tamak dengan kekuasaan. Kenapa mereka saling membunuh hanya untuk bisa menduduki benda mati yang sejatinya akan memberimu banyak sekali beban. Kau tahu Yixing, aku begitu lelah... wanita tua ini ingin sekali cepat beristirahat dengan tenang agar tidak berada lagi di tengah-tengah pertikaian perebutan kekuasaan."
"Daebi Mama" ucap Yixing lirih, wanita itu sangat terkejut dengan penuturan sang ibu mertua. Ia tidak tahu, jika orang yang begitu Ia hormati dan sangat Ia kagumi dalam segala hal itu bisa berucap tentang menginginkan sebuah kematian datang padanya lebih cepat. "Anda tidak boleh berucap seperti itu." Cicit Yixing.
Wanita itu tersenyum tipis. "Cepat atau lambat aku juka akan mati Yixing-a, jika suaraku tidak memihak sesuai keinginan mereka sudah pasti mereka akan menghunuskan pedang padaku."
"Tidak! Tolong jangan berpikiran seperti itu. Saya yakin Yang Mulia Raja akan melindingi Daebi Mama, dan melindungi kita semua. Yang Mulia Raja tidak akan tinggal diam jika sampai terjadi apa-apa terhadap anda." Ia tahu dan sangat tahu, jika Ibu suri memiliki andil yang sangat besar dalam sebuah kinerja kerajaan. Oleh karena itulah, suara dukungan Ibu Suri selalu diperebutkan untuk memperebutkan sebuah tahta.
"Aku tahu, dia memang tidak akan tinggal diam. Tapi Yixing-a, Yang Mulia Raja sudah terlalu banyak beban. Lihatlah dia selalu didesak dari segala arah. Aku tahu dia pasti juga sangat lelah, meskipun Ia tidak pernah bercerita secara terbuka. Akan tetapi aku sebagai seorang ibu yang melahirkannya, aku bisa merasakan keputus asaan itu."
"Maafkan saya Ibu Suri, karena ketidak becusan saya dalam melayani Yang Mulia Raja."
Ibu Suri menggelengkan kepalanya. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik Yixing-a tidak perlu meminta maaf. Oleh karena itulah aku meminta bantuan padamu," tangan keriput itu menggenggam tangan Yixing dengan hangat. "Selalu layani Junmyeon, selalu temani dia, selalu kuatkan dia dan selalu dampingi dia. Aku percaya padamu Yixing." Ibu Suri tersenyum dengan tulus.
Yixingpun menghela nafas pelan sebelum memberikan anggukan kecil sebagai jawabannya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Ibu Suri berbicara seperti itu padanya. kalian tahu, ini rasanya terdengar sebagai sebuah salam perpisahan yang tidak tersirat. Namun Yixing mencoba menepis pikiran-pikiran jeleknya, mungkin ibu Suri hanya merasa sedikit lelah.
.
.
"Jeonha, Putra Mahkota telah tiba" ucap seorang kasim dengan begitu lantang dari balik pintu ruang pribadi sang Raja. Tidak selang berapa lama, pintu ruangan tersebut dibuka oleh dua orang pelayan diiringi oleh masuknya Pangeran Jongin yang berjalan seorang diri. Dan tidak lama pintu itu tertutup kembali dari arah luar, menyisakan Putra Mahkota Jongin serta Raja Junmyeon yang ada di dalam ruangan.
"Terimalah rasa hormat saya Jeonha." Putra Mahkota dengan sopan bersujud di depan Raja Junmyeon, sebagai ritual wajib. Tidak membutuhkan waktu yang lama penghormatan itu Ia lakukan, setelahnya Jongin langsung duduk pada bantal duduk yang sudah disediakan oleh Kasim sebelum lelaki tan itu datang. "Ada gerangan apakah Yang mulia Raja memanggil saya?" tanya Jongin dengan suara berat yang begitu sopan.
Junmyeonpun mengulas senyum atas ketidak sabaran sang putra. Tapi Ia tidak marah, karena itulah Jongin, terkadang dia akan selalu langsung kepada pokok pikirannya tanpa perlu basa-basi. "Aku hanya ingin sedikit mengobrol sambil minum teh bersamamu Jongin-na. Karena rasanya sudah sangat lama sekali kita berdua tidak bercengkrama, bahkan ayah merasa hampir lupa kapan terakhir kali melihat wajah tampan putra ayah ini." Tuturnya dengan jujur. Kesibukan masing-masing dan tempat aktivitas yang berbeda itulah faktor yang mebuat ayah dan anak tersebut jarang sekali bertemu, kecuali jika ada pertemuan penting. Maka dari itu, disela-sela kesibukan Junmyeon yang semakin mencekik Ia meluangkan sedikit waktunya untuk bertemu laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Bukan sebagai, raja dan penerus melainkan sebagai seorang ayah dan anak. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika akhirnya obrolan mereka akan membahas tentang apa yang beberapa tahun ini menjadi konflik di dalam istana.
"Maafkan saya Appa Mama, saya benar-benar bukan anak yang baik." Jongin menunduk. Setitik rasa bersalah muncul di dalam hatinya kala bibir sang ayah mengucapkan kata-kata itu. Jongin pikir, ayahnya begitu sibuk dengan permasalahan istana jadi Ia memilih untuk tidak mengunjungi ayahnya dengan alasan takut menganggu dan akan membuat salah paham semua orang. Mengingat, suasana di dalam istana tengah memanas dengan perebutan tahta. Ia hanya tidak ingin jika Ia sering terlihat mengunjungi kediaman raja orang-orang akan berpikir jika dirinya tengah mempengaruhi pikiran sang raja. Karena itulah Jongin menunggu ayahnya memanggilnya untuk berkunjung seperti saat ini. Namun bukan berati Ia tidak melakukan apa-apa dan menyerahkan semuanya pada ayahnya. Jongin sadar diri, sebagai penerus tahta sang ayah Ia juga harus ikut andil dalam menangani sebuah masalah. Namun bedanya jika sang ayah harus menanganinya dengan terang-terangan dan dalam tekanan dari berbagai pihak, maka Jongin menanganinnya dengan cara diam-diam.
"Tidak Jongin, jangan berbicara seperti itu. Kau adalah anak ayah yang sangat baik. Bahkan Ayah selalu bangga padamu. Ayah harap, kau akan tetap menjadi orang yang baik tidak akan tergiur oleh apapun yang menggiurkan dan menjatuhkanmu secara perlahan."
"Terimakasih Appa Mama, sebuah kehormatan besar bagi saya bisa menjadi kebanggaan anda." Jongin tersenyum, matanya memandang lebut wajah sang ayah yang terlihat sedikit sayu. "Dan saya akan selalu belajar dari anda, agar tidak membuat anda kecewa." Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.
"Aku senang mendengarnya Jongin." Junyeom menyesap tehnya dengan pelan, lalu setelahnya Ia berucap. "Jongin, apa ayah boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Silahkan Appa Mama,."
"Apakah kau sudah memiliki seorang kekasih?" Jongin langsung tersedak air teh yang tengah di minumnya saat mendengat pertanyaan sang ayah yang menurutnya mengejutkan.
"Maafkan saya Appa Mama" Jongin menghela nafas pelan, membersihkan sudut bibirnya sejenak lalu menaruh cangkir teh di atas meja.
"Tidak apa-apa, pasti pertanyaanku mengejutkanmu. Jadi?" manik mata itu fokus pada sang anak, sungguh sangat penasaran dengan jawabannya. Bukan tanpa sebab Ia tiba-tiba bertanya seperti itu pada Jongin, karena Ia sedikit mendengar desas-desus jika anaknya tersebut sudah memiliki seorang kekasih. Maka dari itu, untuk mengobati rasa penasarannya Ia memutuskan untuk bertanya langsung pada sang anak.
Merasa diperhatikan sang ayah, Jongin menjadi salah tingkah sediri. Bahkan degup jantungnya meningkat dan tangannyapun mulai berkeringat dingin. Tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, namun tidak dapat dipungkiri Ia sedikit takut jika jawabannya nanti akan tidak diterima oleh sang ayah. Akan tetapi Ia juga tidak mau menyembunyikan hal itu, karena lambat laun pasti mereka juga akan mengetahuinya. Terlebih usianya sudah memasuki usia menikah, untuk mencegah adanya perjodohan —karena biasanya jika putra mahkota sudah memasuki usia menikah maka pihak kerajaan akan mencarikan sang putra mahkota pendamping, hal itu dilakukan akan agar dari pihak putra mahkota segera mendapatkan keturuanan—Jongin harus segera memberi tahu sang ayah agar ayahnya tidak mengambil jalur perjodohan untuk pendamping hidupnya. "Ya, saya sudah memiliki seorang kekasih Appa Mama." Jongin menundukkan kepalanya sedikit dalam "Mohon maafkan saya, jika saya lancang menjalin hubungan tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan anda." Lanjutnya, Ia masih menundukan kepalanya tidak berani melihat reaksi sang ayah dengan ungkapannya barusan.
Junmyeon terkekeh kecil. "Kenapa kau meminta maaf, itu adalah hakmu Jongin untuk memilih pasangan yang menurutmu baik untuk kau jadikan pendampingmu. Ayah akan selalu mendukungmu. Ayah malah senang jika kau memiliki pilihanmu sendiri Jongin, karena jujur saja ayah tidak mau kau sampai memiliki pendamping dari jalur perjodohan. Kau pasti paham dengan alasan ayah." Jongin mengangguk kecil, Ia sangat paham dengan maksud sang ayah. Karena sudah bukan rahasia umum lagi jika perjodohan akan selalu memberatkan sebelah pihak. Mereka yang ikut andil dalam pemilihan pendamping akan melakukan apa saja agar ajuannya terpilih. Alasan dibalik itu semua sudah jelas, mereka mengincar kekuasaan dengan cara halus. Mengesampingkan itu, Jongin merasa bahagia jika ayahnya bukanlah orang kolot yang mengharuskannya untuk mematuhi jalur perjodohan. Ia juga sangat bersyukur jika ayahnya tersebut begitu terbuka dengan pilihannya. "Jadi siapa gadis yang beruntung itu? Apakah ayah boleh tahu?" lanjut Junmyeon, kini wajahnya tersirat rasa penasaran yang bertambah menumpuk.
Jongin menggaruk tengkuknya kikuk. "Dia putri dari menteri pertahanan DO, Appa Mama" semburat merah jambu terlihat tercipta di kedua pipi Jongin.
"Gadis bermata bulat itu?" tanya Junmyeon cepat.
"Benar, Appa Mama. Dialah gadis saya." Balas Jongin dengan bangat, bayangan senyum Kyungsoo yang menawan membuat laki-laki tan itu semakin melebarkan senyumnya. Benar-benar terlihat jika dia tengah jatuh cinta dan hal itupun tidak luput dari manik Junmyeon yang sedari memperhatikannya.
Dalam hati, Junmyeon bersorak gembira mendapati fakta tentang pilihan sang anak. Sejujurnya, secara diam-diam beberapa hari yang lalu Ia berdiskusi dengan Menteri DO atau lebih tepatnya Ia meminta secara pribadi kepada menteri DO untuk berkenan menjodohkan putrinya dengan Jongin, akan tetapi laki-laki yang sudah mengabdi lama padanya itu belum memberikan jawaban pasti. Namun siapa sangka jika sang anak malah sudah menjalin hubungan dengan gadis pilihannya. Dan Junmyeon sangat bersyukur akan hal itu, mengingat Ia sendiri mengenal baik latar belakang keluarga DO dan juga gadis yang kini tengah menjadi kekasih anaknya tersebut.
Jika sudah mengetahui kebenarannya seperti ini, Junmyeon tanpa ragu lagi merestui hubungan mereka. Bahkan jika perlu perhelatan pernihakan segera diselenggarkan mengingat beberapa orang sudah mulai menyinggung-nyinggung tentang perjodohan. Dan Junmyeon tidak mau hal itu sampai terjadi. Ia juga tidak mau Jongin mendapatkan pendamping hidup yang mengedepankan kekuasaan ketimbang kebahagiaan penerusnya. Karena hal sekecil apapun itu bisa mempengaruhi kemakmuran negeri ini. Oleh karena itu, Junmyeon selalu bertekad untuk segera membereskan konflik perebutan kekuasaan di dalam istana, memberantas para pembelot hingga sampai akar-akarnya agar tidak terjadi hal yang sama lagi dikemudian hari.
.
KAISOO
.
Di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman dan hiruk pikuk —atau bisa dikatakan rumah tersebut berada jauh di dalam hutan— seorang pandai besi tengah sibuk mengolah batangan besi menjadi sebuah pedang. Keringat mengucur akibat suhu bara api tidak membuatnya berhenti untuk bekerja, karena itu sudah menjadi profesinya sejak lama hingga membuat dia sudah terbiasa akan hal itu.
Percikan api bertebaran seiring dengan sang pandai besi memukul-mukul bakal pedang yang baru saja dia angkat dari dalam bara api. Raut wajahnya terlihat terfokus penuh pada pekerjaanya hingga tidak menyadari jika seseorang sedari tadi memperhtikannya.
"Ayah, ada seseorang yang sedang mencarimu." Ucap seorang gadis remaja setengah berteriak agar sang ayah mendengarkan ucapnnya.
Laki-laki itupun mengurungkan ayunan palunya, manik matanya mengedar dan berhenti pada sosok laki-laki yang jauh lebih muda darinya. Yang kini tengah berdiri tegap dengan pakaian serba gelap. Tanpa laki-laki muda itu memperkenalkan diripun Ia sudah tahu siapa dia.
"Wonwoo-ya, bukankah kau akan pergi mencari jamur?" tanya laki-laki paruh baya tersebut pada sang anak yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Gadis itu mengeryit tidak paham oleh ucapan sang ayah, karena Ia memang sama sekali tidak memiliki rencana untuk mencari jamur seperti yang dimaksudkan sang ayah.
"Ayah ak — "
"Pergilah, nanti keburu sore" potong sang ayah, semakin membuat Wonwoo heran dengan tingkah ayahnya tersebut yang tiba-tiba saja berubah setelah melihat sosok laki-laki yang mencarinya. Bahkan ayahnya sampai berbohong, itu artinya memang ada sesuatu serius yang ingin ayahnya dan laki-laki tersebut bicarakan tanpa ingin terusik oleh orang lain termasuk dirinya. Meskipun pada kenyataannya tidak akan ada yang mengusik pembicaraan mereka berdua, mengingat di dalam hutan yang menjadi tempat tinggal Ia dan ayahnya hanya ada satu rumah yang tidak lain rumah yang mereka tinggali saat ini. Karena sejatinya mereka tidak memiliki tetangga sejak menempati bangunan sederhana tersebut.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Aku tidak akan lama dan akan segera kembali ayah." Wonwoo membawa langkah kakinya menjauh yang entah kenapa terasa begitu berat. Dan hatinya merasakan perasaan tidak menentu.
Baru saja Wonwoo melangkahkan kakinya beberapa langkah, Ia kemudian berhenti saat suara ayahnya kembali mengintruksi.
"Jangan sampai terluka, dan selalulah baik-baik saja. Ayah mencintaimu." Kedua tangan Wonwoo mengepal erat dan tubuhnya mematung, kata-kata ayahnya terdengar seperti sebuah ucapan perpisahan di telinganya.
Wonwoo berbali melihat kembali wajah ayahnya yang terlihat begitu sangat lelah dan tirus. "Aku akan baik-baik saja ayah, dan aku juga sangat mencintaimu." Balasnya kemudian diiringi oleh senyum menawan dari bibir tipisnya.
Mereka mengucapkan hal seperti itu terdengar seperti ungkapan wajib yang selalu mereka ucapkan ketika salah satu dari mereka ingin meninggalkan rumah. Akan tetapi, kenyataannya baru pertama kali sepasang ayah dan anak itu mengucapkan kata-kata seperti itu. "Aku pergi dulu ayah" ucap Wonwoo kembali dan dibalas dengan sebuah anggukan kecil serta senyum tulus dari sang ayah.
Setelah Wonwoo pergi kini atensi ayah Wonwoo beralih pada sosok laki-laki muda yang berdiri tanpa ekspresi apapun. "Jadi, ada keperluan apa anda jauh-jauh datang kemari?"tanyanya sambil menaruh palu besi, lalu mengelap keringatnya menggunakan kain kecil, sedikit berbasa-basi walau sebenarnya Ia tahu hari seperti ini akan datang.
"Dia menyuruhku untuk memastikan jika semua barang bukti sudah tidak ada disini." Jawabnya dengan nada sinis. Ia kemudian menggerakkan kepalanya seperti memberi kode. Beberapa orang dengan pakaian gelap langsung berdatangan dan bergegas mengikuti intruksi laki-laki tersebut. Hal itu sontak saja membuat ayah Wonwoo terkejut karena tidak menyadari entah sejak kapan beberapa laki-laki itu berada disekitaran rumahnya. Ia mulai panik, karena orang-orang itu berbuat rusuh di rumahnya. Setiap sudut rumah mereka geledah, barang-barang perabot berserakan dimana-mana. Bahkan tempat ayah Wonwoo yang selalu digunakan untuk membuat karya pedangpun tidak luput dengan ulah brutal mereka. Hal itu memaksa Ayah Wonwoo berpindah tempat, keluar dari bangunan pembuatan pedang.
Laki-laki paruh baya itu memejamkan matanya sambil menghela nafas pelan. "Disini sudah tidak ada lagi barang-barang yang anda maksud, semua sudah anak buah anda bawa waktu itu. Jadi bisakah anda memerintahkan mereka untuk berhenti? Nanti anak saya akan marah jika melihat semuanya berantakan." Tuturnya panjang lebar. Namun laki-laki yang lebih muda tidak menanggapinya. Dia tetap menyuruh anak buahnya menyisir tempat itu sampai semua dipastikan sudah tidak ada lagi barang yang mereka cari tertinggal disana.
"Kami tidak menemukan apapun Tuan." Salah satu dari mereka melapor.
Laki-laki muda yang tidak lain adalah pemimpin mereka itu mengangguk mengerti atas laporan yang Ia terima.
Srek...
Ia melepaskan pedang dari sarungnya, matanya menatap tajam pada ayah Wonwoo. Dan dengan sekali ayun, pedang tersebut kini sudah mendarat beberapa inchi dari leher ayah Wonwoo, hal itu membuat laki-laki paruh baya tersebut bergetar ketakutan.
"Tuan, kenapa anda melakukan ini kepada saya?" dengan suara parau dan terbata ayah Wonwoo bertanya. Matanya semakin terlihat memancarkan kegelisahan tat kala kulit lehernya terasa dingin oleh sentuhan pedang.
"Karena kaulah bukti itu sendiri." balas sang laki-laki muda, dengan aura dingin yang semakin menguar, membuat siapa saja akan menggigil ketakutan seperti yang saat ini ayah Wonwoo rasakan. Terlebih ayah Wonwoo tahu jika laki-laki yang saat ini ada di depannya adalah seseorang yang kejam dan bisa melukai siapa saja tanpa belas kasih sedikitpun.
"Tapi saya sudah bersumpah tidak akan membocorkannya kepada siapapun. Jadi tolong jangan bunuh saya Tuan." Ayah Wonwoo segera bersimpuh, dan meminta pengampunan pada laki-laki itu meskipun Ia tahu mungkin permintaannya sia-sia.
"Sumpahmu tidak akan menjamin semua rahasia tidak bocor, jadi bawalah sumpahmu itu ke neraka." Tangan itu dengan cepat mengayun dan pedangnyapun dalam sekedip mata langsung mengenai leher ayah Wonwoo. Hingga membuat laki-laki paruh baya itu tersungkur tidak bernyawa.
"Ayo kita pergi." ucapnya dengan tegas pada orang-orangnya yang sejak tadi berbaris menonton dirinya menghabisi nyawa sang pandai besi.
Merekapun langsung bergegas pergi dari rumah tersebut dan meninggalkan mayat ayah Wonwoo begitu saja. Dan tanpa mereka sadari, serentetan kejadian itu terekam jelas dalam memory kepala gadis remaja cantik yang tidak lain adalah Wonwoo, yang sejak tadi bersembunyi dibalik semak-semak. Niat hati, Ia kembali ingin mengambil ampli yang tertinggal, namun malah melihat hal mengerikan terjadi pada sang ayah.
Wonwoopun segera menghampiri jasad sang ayah saat orang-orang itu sudah dipastikan pergi dan tidak kembali lagi. Dengan tangan yang bergetar hebat, Ia meraih kepala ayahnya yang sudah berlumuran darah dengan mata terpejam kedalam dekapannya. "Ayah, kenapa mereka tega membuatmu seperti ini?" tangisan pilu memenuhi kesunyian di dalam hutan, air matanya berderai menganak sungai membasahi kedua pipinya yang mulai memerah. Hatinya begitu sakit ketika satu-satunya orang terkasihnya dibunuh dengan cara biadab seperti ini.
Wonwoo tidak tahu pasti ada keterlibatan apa antara ayahnya dengan orang-orang itu, karena Wonwoo tahu ayahnya adalah orang yang begitu sangat baik. Beliau merawatnya sejak kecil setelah ibunya meninggal akibat sakit parah. Karena itulah Ia sedikit heran saat orang-orang itu datang menemui ayahnya dengan raut wajah sama sekali tidak bersahabat.
"Wonwoo akan mencari mereka dan membalasnya Ayah.." Ia berucap terbata, "Wonwoo akan melakukan hal yang sama seperti mereka memperlakukan ayah. Wonwoo janji, dengan tangan Wonwoo sendiri, Wonwoo akan menghabisi mereka."
.
.
"Apa kalian dengar desas-desus tentang pangeran Mingyu?" salah seorang dayang wanita bertanya kepada dayang lainnya sambil mengangkat kain-kain yang tadi pagi mereka jemur.
Beberapa dayang langsung menghentikan aktivitasnya, lalu mendekat pada dayang yang bertanya tadi dengan wajah penasaran. Layaknya para wanita yang berada diluaran sana, para dayang tersebut juga senang sekali bergosip. Apalagi jika menggosipkan hal menarik dari para anggota keluarga kerajaan, mereka adalah jagonya, asalkan tidak sampai diketahui oleh kepala dayang yang siap menghukum mereka dengan sedikit kejam. Mungkin.
"Desas-desus apa? Aku terlalu sibuk beberapa hari ini jadi tidak tahu." Keluh dayang yang lain dengan muka yang terlihat sedih, karena biasanya dialah yang selalu tahu gosip terbaru tentang anggota kerajaan.
"Kalian lebih mendekatlah," intruksi dayang pertama sambil melambaikan tangannya. "Aku akan mulai, jadi dengarkan baik-baik." Para dayang lainnya mengangguk patuh. Sedangkan sebelum berbicara dayang pertama melihat keadaan sekaliling memastikan jika tidak akan ada yang mendengarkan ucapannya. "Jadi begini, kalian tahu kan kalau beberapa minggu yang lalu kediaman putra mahkota Jongin diserang oleh orang yang tidak dikenal?" mereka mengangguk serampak.
"Lalu?" tanya dayang yang lain.
"Ada yang bilang jika orang-orang itu adalah suruhan pangeran Mingyu." Jawab dayang pertama.
"Hey, mana mungkin pangeran Mingyu melakukan hal itu." sergah dayang yang berdiri tepat disebelah dayang pertama.
"Tapi menurut informasi yang akau dapat memang seperti itu, soalnya dia melihat ada orang yang keluar dari kediaman pangeran Mingyu lewat jendela"
"Pasti penyusup itu baru saja melukai pangeran Mingyu." Mereka masih menolak untuk percaya begitu saja tentang apa yang dikatakan oleh dayang pertama.
Dayang pertama menggelang cepat. "Kalian salah, karena pangeran Mingyu baik-baik saja. Ia tahu, karena pangeran Mingyu berdiri di dekat jendela dengan senyum yang jauh dari kata menawan. Dan perlu kalian tahu, dia melihat itu sebelum penyerangan itu terjadi." Ujarnya lebih berapi-api. "Jadi, apakalian masih tidak percaya?"
Para dayang yang lain saling bertukar pandang, sebelum menganggukkan kepala secara serempak.
.
.
"Hyung-nim.." Jongin menyapa Mingyu dengan sopan saat melihat kakak sedarahnya itu berjalan kearahnya.
"Kebetulan sekali kita bertemu disini, tadinya aku ingin ke tempatmu dan membahas sesuatu" balas Mingyu dengan tatapan tidak bersabahat.
Jongin yang melihat itu hanya bisa memakluminya, sudah tidak mengherankan lagi baginya. Sejak dulu hubungan mereka tidak terlalu baik. Walaupun sebenarnya Jongin selalu berusaha untuk memperbaikinya, namun apalah daya kakak sedarahnya tersebut selalu menuduhnya yang tidak-tidak ketika Ia bersikap baik padanya. Oleh karena itulah Jongin hanya bisa diam dan mengikuti alur Mingyu walau sebenarnya Ia tidak ingin.
"Kalau begitu mari kita bicara di ruanganku Hyung." Ajak Jongin, karena memang kebetulan posisi mereka saat ini tengah berada tidak jauh dari kediaan Jongin. Dan dengan begitu sopan, Ia menyuruh Mingyu untuk berjalan lebih dahulu, lalu diikuti oleh Jongin beserta rombongannya.
.
"Jadi hal apa yang ingin Hyung-nim bicarakan denganku." Tanya Jongin, langsung pada tujuan awal setelah mereka sampai dan duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Aku ingin kau mundur dari pengesahan tahta Jongin." Jawab Mingyu, matanya menatap tajam Jongin sarat akan intimidasi.
Jujur Jongin sangat terkejut dengan ucapan Mingyu, namun dengan pintar Ia berhasil menyembunyikannya. Ia juga tidak menyangka jika kakak sedarahnya tersebut bisa blak-blakan seperti ini menginginkan tahta ayah mereka. "Hyung, kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"
"Kau salah Jongin, aku sudah sedari dulu menginginkannya. Tapi si tua bangka itu memberikan segalanya padamu."
"Hyung, tidak seharusnya kau menyebut Raja seperti itu. Beliau ayah kita." Tegur Jongin, tangannya mengepal keras berusaha menahan emosinya.
Mingyu tertawa sinis. "Dia bukan ayah kita Jongin, Aaaaahhhh... atau lebih tepatnya dia hanya ayahku bukan ayahmu."
"Apa maksudmu Hyung-nim? Beliau juga ayahku."
Mingyu beranjak dari duduknya menghampiri Jongin. Lalu ia berbisik. "Dia bukan ayahmu Jongin, karena ayahmu adalah seorang pengkhianat. AYAHMU SEORANG PENGKHIANAT JONGIN, PENGKHIANAT!"
.
.
.
. T . B . C .
Seperti biasa tolong tinggalkan kritik dan sarannya. Terimakasih...
See you next chapter chu~
