THE DYING GAME

novel by BEVERLY BARTON

remake by Kiyoko Yamada

Kyuhyun X Sungmin

Chapter 6


Jessica pikir ia sulit menerima apa-apa yang telah terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Baginya tak ada yang nyata. Dan yang paling nyata bahwa ia telah kehilangan Krystal, adik perempuannya satu-satunya. Ia telah dekat dengan Krystal sejak kecil. Sejak ia pindah ke Seoul semenjak usianya yang ke sepuluh. Krystal mengikutinya dua tahun kemudian, mengikuti jejak kakaknya menjadi trainee sebuah agensi hiburan. Setelah kecelakaan naas membuat Jessica lebih memilih untuk berhenti dan akhirnya membuka butik, Blanc & Clare. Dan sejak itu Krystal yang merawat dirinya ditengah kesibukannya sebagai publik figur.

"Selamat pagi, Jessica-ssi." Yesung menyapa seraya masuk ke dapur.

"Selamat pagi, Yesung. Akan lebih adil jika kau memanggilku Jess." Ia berusaha tersenyum pada lelaki itu. Namun sepertinya usahanya gagal.

Mengabaikannya, Yesung menanyakan sarapan apa yang diinginkan Jessica pagi ini.

"Apa kali ini kau yang jadi kokinya, Yesung? Tapi terima kasih, beri aku izin untuk membuat sarapan sendiri kali ini."

"Siwon sarapan pancake pagi ini dan kami masih mempunyai adonannya." Yesung mengatakannya seolah-olah tidak mendengar yang Jessica katakan. "Ingin pancake? Kita bisa menambahkan separuh cokelat bubuk jika ingin varian lain."

"Aku tidak ingin menyusahkan."

"Tidak menyusahkan."

"Tapi serius, aku ingin membuat sarapan sendiri."

"Baiklah. Disini saya hanya membantu sebisa saya. Jessica-ssi hanya perlu mengatakannya." Yesung menunjuk tempat dimana semua bahan makanan dan peralatan disimpan, juga kulkas.

"Sebenarnya saat ini saya tidak terlalu lapar." Dirinya mengikuti Yesung. Jess menggerakkan kursi rodanya, membuka kulkas dan mengeluarkan sebungkus biskuit. Membuka segelnya, tanpa berminat sedikit pun untuk memasukannya kedalam mulut. Ia bisa saja membuat setangkup sandwich tuna untuk dirinya sendiri tapi serius, Jess hanya makan tak lebih dari satu gigit makanan sejak ia menemukan tubuh Krystal yang sudah tidak utuh. "Dimana Siwon? Apakah memungkinkan bagi saya untuk menemuinya? Ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengannya."

"Di kantornya. Saya yakin ia ingin bicara dengan anda nanti. Tapi ia sedikit sibuk."

Jess mengangguk paham mendengar penjelasan Yesung. "Aku mengerti."


Kyuhyun tidak pernah lagi mengunjungi Choi's rest selama masa pernikahannya dengan Min Young. Ini yang kelima kalinya. Empat kali, dan kesemuanya saat ia masih lajang. Ia seperti tidak bisa lagi mengingat waktu. Dan anehnya, sudah lama ia tidak dapat mengingat istrinya itu secara jelas dipikirannya. Berbulan-bulan mengasingkan diri di pondok, sampai ketika dirinya tidak mampu lagi membangkitkan kenangan mengenai wanita yang pernah dicintainya, Kyuhyun mengobrak-abrik seluruh penjuru pondoknya dan tidak dapat menemukan foto Min Young selembar pun. Istrinya itu memang menolak berada di pondok itu. Itu bukan dunia Min Young sama sekali.

Dulu ia berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Mereka saling jatuh cinta. Di mabuk asmara. Tapi mengingat betapa kontrasnya hobi masing-masing, mereka kerap kali bertentangan dan terlibat pertengkaran-pertengkaran sepele.

"Sudah lama bukan?"

Suara Sungmin secara tiba-tiba menyadarkan Kyuhyun. Ia membiarkan dirinya sejenak berandai kalau istrinya masih hidup, tapi jika demikian, keduanya harus bekerja keras mempertahankan pernikahan. Terkadang cinta saja tidak cukup.

"Ya. Tidak banyak yang berubah."

Sungmin memilih mengabaikan lalu memberi instruksi. "Sebaiknya kau turun disini dan pergilah ke dalam. Aku akan memarkir mobil di garasi."

"Jadi kau sudah mendapat tempat khusus." Kyuhyun bertanya. Tidak. Membuat pernyataan.

"Jangan berpikir yang macam-macam." Kata Sungmin memberi peringatan. "Garasi itu untuk sepuluh mobil, untuk agen Choi's agency yang kadang-kadang menginap."

"Tapi kau satu-satunya yang tinggal disini. Yesung tidak masuk hitungan karena dia asisten Siwon."

Sungmin tidak mematikan mesin mobilnya, keduanya masih bertahan didalam mobil. Tepat di depan beranda. Lelaki manis ini memilih untuk mengabaikan perkataan Kyuhyun. "Tapi yang terpenting, Siwon ingin bertemu denganmu."

"Jadi Siwon ingin menjelaskan peraturannya padaku, ya?" ia memilih gesture mengangkat alis. Ketika mendapat feedback dengan kalimat begitulah kira-kira, Kyuhyun membuka pintu mobil yang kaca jendelanya terbuka, dan keluar. Sebelum berlalu ia mencondongkan tubuh, melihat ke dalam mobil Sungmin. "Sejauh mana Siwon mengetahui apa yang terjadi diantara kita waktu itu?"

"Sejauh yang dia perlu tahu."

Ia mendengus. Menatap Sungmin sanksi. "Kau tidak mengatakan semuanya, kan?" ketika Sungmin memandangnya dengan tatapan tajam dan pandangan sedih di mata foxynya, Kyuhyun ingin mengatakan bahwa ia menyesal. Tapi mulutnya berkhianat dan berkata, "Jadi jika kau mengatakan semuanya pada Siwon, dia pasti akan menghajarku."

"Bukankah itu yang kau inginkan? Supaya Siwon menghajarmu? Supaya Siwon membencimu? Bukankah itu alasan kau melakukannya, Kyuhyun?"

"Tidak. Itu semua hanyalah pikiran yang melintas di kepalaku. Jika ada alasan sebelumnya, alasannya hanya untuk menakutimu sekali, dan selamanya." Lalu ia membanting pintu. Sungmin tidak menjawab apapun, bahkan sebelum dirinya membalik badan, lelaki yang pernah ia takut-takuti itu sudah melajukan mobil.

Ia telah membuat Sungmin takut. Tapi mungkin tidak untuk selamanya. Mereka butuh waktu untuk berdamai satu sama lain. Dengan diri mereka sendiri.

Kyuhyun membawa kakinya melintasi beranda lalu memencet bel, tidak membutuhkan detik yang lama ketika Yesung membukakan pintu untuknya. "Selamat pagi, Kyuhyun-ssi. Saya akan segera menyampaikan kedatangan anda pada Siwon."

"Terima kasih." Katanya. Lalu ia menambahkan. "Bisa kau katakan apa yang akan Siwon lakukan padaku?"

Yesung tidak memperlihatkan senyumnya saat ia menutup pintu dan berbalik memandang Kyuhyun. "Saya tidak tahu. Karena…"

"Karena?"

"Karena itu bukan urusan saya."

Kali ini Kyuhyun balik memandang Yesung. Tangannya bersedekap dengan kedua alis yang diangkat. "Aku pikir apapun urusan Siwon menjadi urusanmu juga. Khususnya mengenai Sungmin."

Sambil menghindari kontak mata dengan Kyuhyun, Yesung berlalu dan mengatakan sesuatu, menunjukan kalau ia memberi batasan, mengenai bahasan apapun tentang Sungmin. Apalagi jika itu dengan Kyuhyun. "Saya akan mengatakan pada Siwon kalau anda disini."

Kyuhyun bergegas berjalan ke lantai atas tepat dibelakang Yesung. "Belakangan ini kau tidak terlalu menyukaiku, ya?"

"Ya." Jawaban jujur dan singkat. Kyuhyun tekekeh. "Karena masalah Sungmin?"

"Ya."

Kembali menormalkan ekspresinya, Kyuhyun tetap berkata kepada Yesung yang tetap berjalan lurus didepannya. "Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia mau memberikan waktunya untukku, terutama karena dia mempunyai kau dan Siwon yang melindunginya."

Didepan sana Yesung tersenyum singkat satu kali. Jelas ia paham mengenai dia yang Kyuhyun maksud.


Pintu didepannya ini, yang sedikit terbuka, merupakan ruang kerja Siwon. Yesung membukakan lebih lebar, mempersilakan Kyuhyun masuk kemudian pergi. Kyuhyun mendorong pintu yang terbuat dari kayu berat itu dengan tangannya untuk menutupnya. Lalu melangkah memasuki ruang kerja dua lantai tersebut. Matanya mendapat pemandangan awal berupa sebongkah kayu yang terbakar, meletup hancur diperapian besar yang terbuat dari batu. Jam antik diatasnya berdentang sebelas kali, menandakan waktu.

"Kau perlu mencukur rambutmu."

Kyuhyun menoleh ke figure kawan lamanya yang bersua.

Siwon tahu kalau Kyuhyun tengah melihatnya dengan seksama. Jadi ia kembali berbicara, mengamati Kyuhyun secara keseluruhan kemudian mengomentari penampilan kawannya itu. "Kau sama sekali tidak peduli dengan penampilanmu. Tidak peduli dengan rambut panjangmu dan baju usangmu."

"Hei. Setidaknya aku bersih. Aku sudah mandi."

"Haruskah aku bersyukur untuk itu? Dengar. Jika kau mau tinggal disini, ada beberapa aturan yang harus kau patuhi. Apa kau mau melakukannya?"

"Jika aturan-aturan itu ada hubungannya dengan Sungmin…"

Siwon menatap tajam pada Kyuhyun. Ekspresi sengitnya terlihat jelas di wajahnya. "Bagaimana bisa kau menyakitinya seperti itu? Kau tahu jelas bagaimana perasaan Sungmin padamu."

"Aku kan tidak menyuruhnya untuk mempedulikanku, bukan salahku jika dia…" jawaban enteng Kyuhyun terpotong. Ekspresi Siwon makin keras mendengarnya.

"Omong kosong! Kau bergantung pada perhatian-perhatian yang diberikan Sungmin padamu. Kau menginginkannya, kau mengharapkannya."

Kyuhyun berhadapan dengan Siwon dan balik menatapnya tajam. Mendapati kawannya sendiri menatap semarah itu pada dirinya, Kyuhyun tercenung. Apakah ia mengharapkan cinta sejati yang telah Sungmin curahkan kepadanya?

"Aku tidak tahu kalau jauh didalam sini aku membutuhkan perhatian Sungmin." Kyuhyun mengakui sambil menepuk dadanya satu kali, kemudian ia membuat alasan. "Tapi setidaknya aku tidak akan menyakitinya disini."

Kemarahan terlihat jelas di mata Siwon yang tajam. Mengisyaratkan peringatan pada seseorang dihadapannya. "Kau seharusnya belajar dari kejadian yang menimpamu."

Mata Kyuhyun sedikit terbelalak. Menangkap arti lain dari perkataan Siwon barusan. "Sungmin bilang dia tidak mengatakan semuanya padamu."

"Memang tidak."

"Lalu bagaimana…"

"Aku mengenal Sungmin." Kata Siwon. "Dan aku tahu betapa bajingannya kau. Tidak perlu menjadi jenius untuk mengetahui bahwa kau hampir memerkosa Sungmin."

"Memerkosa bukan kata yang tepat. Aku tidak…" Kyuhyun berdehem. Ia tidak ingat bagaimana ia menakuti Sungmin. Betapa jahatnya ia terhadap lelaki manis itu. "Aku berhenti sebelum terlalu jauh."

"Kau melecehkannya. Kau menyakiti hatinya." Siwon membelalakan mata dengan tajam ke arah Kyuhyun. "Menjadi duda yang merana karena ditinggal mati istri yang dibunuh bukanlah alasan untuk bisa seenaknya menjadi seseorang seperti kau saat ini, Kyuhyun! Apakah kau pikir, kau satu-satunya lelaki yang ditinggal mati orang yang kau cintai? Jika kau ingin mengambil bagian dalam penyelidikan ini, kau harus membuktikan padaku kalau kau memang patut menerima ini." Siwon melirik ke arah Kyuhyun. "Apa kau mengerti?"

"Aku mengerti."

"Putuskan hubungan emosionalmu dengan Sungmin. Dan beberapa hal lain…"

"Kau ini begitu menuntut, ya?" Kyuhyun berhasil memaksakan sebuah senyum.

"Yang terakhir." Kata Siwon tenang. "Jessica tinggal disini. Kau tidak boleh menghubungi apalagi mengganggunya. Wanita itu berada dalam lindunganku. Aku sendiri yang akan menghabisimu jika kau melakukannya."

"Apa Jessica sudah memberimu deskripsi lelaki itu?"

"Tidak. Belum. Aku tidak akan memaksanya. Jika tidak dalam keadaan yang tertekan, mungkin dia bisa mengingat lebih banyak."

"Baiklah. Aku akan menjaga sikapku pada Jessica." Putus Kyuhyun. "Apa ada syarat lain untukku?"

"Apa aku harus memaksamu untuk memakai pakaian yang layak dan mencukur rambut?"

Ketika melihat sedikit senyuman dibibir Siwon, Kyuhyun menyadari, persahabatan mereka mungkin masih bisa diselamatkan. Masih ada harapan bagi kelangsungan persahabatan keduanya. Ia telah merusaknya. Ia telah menguji kesabaran Siwon. Semua karena penderitaan pribadinya semata. Yakni kehilangan Min Young.

"Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?" Kyuhyun memberi penawaran. "Aku akan mencukur rambutku."

Siwon mendesah pelan. "Ada satu hal lagi. Aku ingin kau meminta maaf pada Jessica."

Kyuhyun menatap Siwon tidak percaya. Tapi akhirnya ia tetap menyetujuinya. "Baiklah."

"Kau pasti heran mengapa aku tidak menyuruhmu meminta maaf pada Sungmin, bukan?"

Kyuhyun mengangguk.

"Sepertinya hal itu sudah agak terlambat."

Pintu ruang kerja Siwon berderik pelan, menginterupsi pembicaraan pribadi mereka.

"Jessica ingin bertemu denganmu."

Kyuhyun dan Siwon berbalik menghadap Yesung dan wanita berkursi roda yang berada didepannya. Walaupun Kyuhyun sudah melihat wajah wanita itu tadi malam, tapi ia tidak benar-benar memperhatikannya. Namun kali ini ia melihat kesedihan dimata wanita itu. Kesedihan yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

Siwon mempersilakan masuk. Yesung tetap mengikuti dibelakang Jessica ketika tiba-tiba wanita itu berhenti setelah melihat Kyuhyun.

"Jessica-ssi, saya Cho Kyuhyun." Kyuhyun memperkenalkan diri, tidak berusaha untuk mendekat. "Saya meminta maaf untuk kelakuan saya dirumah sakit semalam. Saya menyesal telah membuat anda takut."

Jessica menatap Kyuhyun tajam. Tatapan meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala Kyuhyun. Mengamati ekspresi wajahnya. "Anda berpikir pembunuh yang membunuh adik saya adalah orang sama dengan orang yang telah membunuh istri anda. Saya bisa mengerti betapa inginnya anda untuk menemukan orang itu."

"Terima kasih." Kyuhyun melempar senyum dan dibalas oleh Jessica.

"Silahkan masuk." Siwon mengulang, lalu menoleh ke arah Kyuhyun. "Bagaimana kalau kau pergi dengan Yesung? Dia akan menunjukkan kamarmu. Kamar yang bisa kau tempati. Makan siang nanti pukul satu. Aku ingin kau bergabung."

Menyadari bahwa ia tidak diabaikan, Kyuhyun mengangguk. Lalu berjalan keluar ruangan Siwon bersama Yesung yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.

"Dimana Sungmin?" tanya Kyuhyun pada Yesung akhirnya.

"Dia sedang rapat dengan beberapa anggota agen Choi lainnya. Saya kira anda akan ikut rapat itu nanti bersama Siwon."

"Hanya kalau aku menjadi 'anak baik-baik' yang bermain sesuai aturan."

"Memang begitu seharusnya." Yesung berjalan di depan Kyuhyun. Kemudian mempersilahkan. Menunjuk dengan satu tangan. "Ke arah sini."

"Katakan saja kamar yang mana." Kyuhyun berhenti. "Kau tidak perlu repot mengantarku."

Tapi Yesung tetap berjalan, mau tidak mau Kyuhyun kembali mengikutinya. Sampai keduanya berhenti di satu pintu. Yang kemudian di buka oleh Yesung. "Dimana barang bawaan anda?"

"Aku tidak membawa apapun. Aku telah meminta dikirimi pakaian."

"Baiklah. Saya undur diri. Panggil saja kalau anda membutuhkan sesuatu…"

"Aku berjanji pada Siwon untuk mencukur rambut." Kyuhyun memotong ucapan Yesung. Membuat Yesung terdiam sesaat kemudian mengangguk. "Saya bisa mencukur rambut untuk anda."


Nyatanya Kyuhyun memilih untuk berjalan-jalan di hutan sekitar Choi's rest untuk melewatkan tengah hari. Ia masih mempunyai satu jam hingga pukul satu bergabung dengan Siwon sehabis makan siang. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa indah saat ia dan Siwon, juga Hangeng menghadiri pesta kalangan atas. Mereka seringkali mengejar wanita yang sama, kadang hanya untuk melihat siapa yang berhasil mengajak kencan wanita tersebut untuk yang pertama kali. Han Min Young adalah salah satunya. Kyuhyun tidak tahu mengapa Min Young lebih dahulu menerima ajakan dari Siwon. Ia tidak pernah merasa cemburu dengan kedua sahabatnya itu, sampai Min Young masuk kekehidupan mereka. Yang anehnya, Min Young lalu berkencan dengan Hangeng. Hal itu justru membuat Kyuhyun semakin menginginkan wanita itu. Min Young sangat cantik. Dan wanita itu tahu bagaimana menggunakan kecantikannya dan memperoleh keuntungan. Wanita yang sudah menjadi istrinya itu pernah berkencan dengan kedua sahabatnya tetapi yuhyun tidak tahu apakah Min Young pernah berhubungan seks dengan kedua sahabatnya. Ia juga tidak mau tahu.

"Semuanya masuklah, dan silahkan duduk." Instruksi dari Siwon membawa Kyuhyun kembali ke masa kini. Kakinya sudah berjalan-jalan hingga ia sudah berada di sebuah ruangan yang ditengahnya terdapat sebuah meja persegi panjang. Sungmin dan Kangin duduk berhadapan. Sedangkan Siwon duduk di kursi yang terletak di kepala meja.

Kyuhyun berjalan menuju kursi disebelah Sungmin, namun dirinya berhenti saat melihat isyarat tak setuju dalam ekspresi wajah Siwon. Lalu ia mundur beberapa langkah dan menarik kursi yang berada disisi lain meja. Siwon mengangguk setuju lalu Kyuhyun pun duduk.

Siwon mengangkat setumpuk berkas dan meletakkan kembali berkas-berkas itu kembali ke atas meja kemudian membukanya. Ia mengatakan kalau berkas tadi berisi fakta-fakta yang berhasil dikumpulkan mengenai kasus pembunuhan wanita cantik berbakat dalam satu tahun belakangan. Beberapa foto diambil dan membagikannya satu per satu ke orang-orang yang berada disampingnya. Sungmin melirik ke seberang meja, ke arah Kyuhyun yang sedang mendapat giliran melihat foto-foto itu. Ketika tiba gilirannya, lalu Kyuhyun cepat-cepat mengalihkannya kepada Kangin sambil sedikit menoleh ke lelaki besar disampingnya.

Masing-masing foto memperlihatkan secara detail dari kedua korban. Foto pertama menunjukkan korban dengan kedua pergelangan tangan yang terpotong. Foto kedua memperlihatkan korban dengan kaki yang terpotong hingga dengkul. Masing-masing telah dimutilasi dengan niatan supaya mati kehabisan darah. Seperti korban pertama, Han Min Young. Lain cerita dengan korban Jung Krystal.

Siwon memandang semua orang yang duduk mengelilingi meja. Ia telah memberi kesimpulan sementara bahwa si pembunuh menggunakan sistem poin. Wanita berambut pirang bernilai dua puluh poin bagi pembunuh wanita cantik berbakat, berarti korban berambut hitam juga memiliki nilai tertentu. Sungmin menggelengkan kepala sambil berujar ketika ia mendapat giliran melihat foto-foto itu. "Orang ini sedang memainkan permainan sinting."

Lalu ketika Kyuhyun bertanya bagaimana informasi ini dapat membantu mereka menangkap si pembunuh, Siwon menatap tajam mata Kyuhyun. Berkata mereka juga belum mengetahuinya. Tapi setidaknya, semakin banyak yang mereka ketahui mengenai orang ini, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk mengetahui siapa dirinya.

"Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Siwon memandang kosong kearah Kyuhyun,

"Tak ada yang baru. Selama setengah tahun terakhir baik Choi Agency maupun polisi tidak bisa menemukan petunjuk yang berarti untuk menemukan pelakunya. Semuanya masih sama seperti saat psikopat ini membunuh Min Youngie."

"Itu tidak sepenuhnya benar." Kangin melirik kearah foto-foto yang kini tergeletak rapi diatas meja. Dirinya telah menyusunnya kembali dan berniat menyerahkannya kembali ke arah Siwon. "Apa kita tahu nama orang itu? Tidak, kita tidak tahu. Apa kita tahu tempat dimana kita bisa menemukannya? Tidak, kita juga tidak tahu. Tapi setidaknya kita tahu alasan orang ini membunuh."

"Hanya itu saja yang bisa kita lakukan." Kyuhyun berkata tanpa berpikir panjang. Namun ia berpikir bahwa seharusnya dirinya berlaku lebih baik lagi daripada bertingkah seperti ini. "Maaf." Ia lalu memandang Siwon, lalu Sungmin yang sama sekali tidak melihat kepadanya. "Ini hanya karena kau…" Kyuhyun memusatkan pandangannya pada Siwon. "…menampung wanita disini yang mungkin bisa mengidentifikasi orang ini."

"Yang perlu kita tegaskan disini adalah, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa lelaki itu adalah pembunuhnya. Jessica tidak mampu mengatakan pada kita lebih dari yang diketahuinya. Seorang lelaki memakai topi, jaket, dan kacamata hitam, meninggalkan apartemen…"

"Oke." Kata Kyuhyun memotong. "Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf dan akan menjaga sikap. Namun jangan harap aku tidak akan mempertanyakan keputusan-keputusanmu. Kau pikir berapa lama kita harus menunggu wanita itu untuk mengingat?"

"Selama yang ia perlukan."

"Dan selama itu, selama kau memanjakan dia, kau juga memanjakan pembunuh itu untuk bisa memilih target pembunuhan selanjutnya."

"Sayangnya begitu."

Kyuhyun sedikit mengerang mendengar hal itu. Siwon sendiri juga menyayangkan keadaan tersebut harus terjadi.

"Satu pertanyaan dibenakku mengenai permainan orang ini." Siwon mengamati setiap orang yang berada diruangan itu satu persatu. Karena tidak ada yang memberi tanggapan, dirinya lalu bertanya, "Apakah dia satu-satunya orang yang bermain dalam permainan mematikan ini?"

Hening.

Untuk pertama kalinya, dari awal mereka masuk ke ruangan tersebut, Sungmin menatap Kyuhyun. "Ya Tuhan, jadi kau pikir… selama ini tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa pembunuhnya lebih dari satu orang." Sungmin yang sedikit terkejut memperingatkan mereka.

"Mungkin orang ini punya kepribadian ganda dan ia sedang bertanding melawan kepribadiannya yang lain." ujar Kangin memberi pendapat.

Kyuhyun ikut terpancing memberikan pendapat. "Atau bisa jadi, dia sedang memainkan permainan aneh untuk menguji kemampuannya mengelabui kepolisian." Katanya. "Setahuku, ada permainan yang tidak harus dimainkan oleh dua orang atau lebih. Seperti permainan Solitare, Russian Roulette, dan beberapa permainan lain dalam video game."

"Pengamatan yang bagus." Siwon membuka map yang lain, membukanya, kemudian membacakan isinya. Mereka terus meneruskan asumsi mereka, bahwa pembunuhnya hanya satu. Orang yang sedang memainkan 'permainan kematian' untuk mendapat poin tertentu dalam setiap pembunuhan yang dilakukannya. "Jadi, apakah ada poin maksimal? Maksudku, jumlah tertentu yang harus dicapainya untuk berhenti membunuh?" Siwon bertanya. Mengedarkan pandangan dan memandang orang-orang satu-satu.

"Aku tidak yakin kalau pembunuh berantai bisa berhenti. Aku pikir dorongan untuk terus membunuh tidak akan pernah lenyap karena keinginan untuk membunuh akan muncul dan muncul lagi." Sungmin mencoba memberi pandangan.

"Tidak ada yang bisa memastikan apakah ini permainan pertama atau terakhir orang itu." Siwon menunggu reaksi dari yang lain.

"Apa kita sedang mencoba untuk mengetahui nilai sempurnanya?" tanya Kyuhyun ogah-ogahan. "Jika kita dapat memperkirakan nilai itu, sebut saja seratus poin, apa yang kita dapat dari angka ini? Apa itu bisa membantu kita untuk menemukannya?" Kyuhyun mendorong kursinya kebelakang, berdiri, dan memasukkan tangannya ke saku celana jeansnya yang sobek-sobek. Ripped jeans belel berwarna biru yang sudah luntur. "Apa ada kopi disini? Sebenarnya aku ingin sesuatu yang kental, tapi tetap berkafein."

"Yesung selalu menyiapkan seteko kopi setiap dia tahu kalau ruangan ini akan dipakai." Kata Siwon sambil menunjuk ke arah gelas-gelas dan mesin pembuat kopi. Kali ini pilihan Yesung jatuh kepada Black Java.

Sambil berjalan ke arah yang ditunjuk Siwon, Kyuhyun meninggalkan yang lainnya. Alasannya membuat kopi adalah untuk menghindari diskusi itu. Ia telah terlibat langsung dalam investigasi ini sejak awal ia membayar Choi's Agency untuk menyelidiki pembunuhan Min Young. Hampir selama setahun ia selalu bergumul dengan agensi itu, mempercayai bahwa setiap informasi-informasi kecil dapat membawa mereka satu langkah lebih dekat dengan sang pembunuh. Ia meminta Siwon untuk mengurus semuanya. Mereka setengah mati melakukannya, setelah ia dibawa ke kantor polisi untuk diwawancarai. Dan, tidak lama setelah itu, Kyuhyun menyerah. Kyuhyun tak ingat apapun. Yang dia ingat bahwa ia terus mabuk-mabukan, dan mabuk. Lalu setelah itu, Kyuhyun menyerang seseorang yang tidak pernah menyerah untuk membantu dirinya.

Sungmin percaya kalau Kyuhyun tidak bersalah. Bahwa Kyuhyun adalah pria jujur yang telah kehilangan istri tercintanya dan ingin segera menemukan pembunuh istrinya untuk dibawa ke pengadilan. Namun pengamatan dan intuisi Siwon mengatakan kalau Sungmin telah jatuh cinta pada Kyuhyun. Kyuhyun teringat satu hari saat Siwon mengatakan kepadanya tentang motivasi Sungmin untuk terlibat dalam kasus ini sebagai bagian dari pekerjaannya di Choi's Agency.

"Dia jatuh hati kepadamu."

"Apa? Tidak. Dia hanya ingin membawa pembunuh itu ke pengadilan. Aku mengerti karena ini adalah kasus pertamanya setelah ia bergabung di agensi milikmu."

Siwon menggelengkan kepala. "Itu hanya sebagiannya saja. Lalu memang kau pikir kalau hal itu sangat penting untuknya? Dia melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal karena dia mencintai lelaki yang masih mencintai istrinya yang telah meninggal."

"Kau gila. Sungmin tidak…"

"Dia mencintaimu. Cepat atau lambat kalian berdua akan menghadapi kenyataan ini dan mengakuinya."

"Tidak ada yang perlu diakui." Kata Kyuhyun setelah kalimatnya dipotong oleh Siwon. "Aku memang menyukai Sungmin. Selama ini dia berada dipihakku, dan aku menghargai untuk itu. Tapi untuk yang lain… tidak sekarang. Kapanpun tidak akan pernah. Yang kuinginkan hanyalah menemukan pembunuh Min Youngie dan membuat orang itu membayar apa yang telah dilakukannya. Tidak ada yang lain."

"Kita berdua sama-sama tahu tentang itu. Mungkin kau tidak menyadarinya, Kyu. Tapi beberapa bulan lalu kau sangat bergantung pada Sungmin, mengharapkannya membantumu saat kau benar-benar terpuruk. Sungmin mungkin berpikir kalau pembunuh Min Young tertangkap dan diadili, kau akan kembali normal, dan mungkin saja akan bersamanya."

"Aku pikir Sungmin tidak sebodoh itu." Kata Kyuhyun. "Dia telah tahu kalau kehidupanku juga telah berakhir saat Min Youngie meninggal."

Siwon mendengus. Menatap sahabatnya jengah. "Kaulah yang bodoh. Kau tidak mati saat Min Young meninggal. Hidupmu belum berakhir, hanya saja berubah. Aku mengerti betapa dendamnya kau pada pembunuh sialan ini dan betapa menderitanya kau karena kematian Min Young. Namun cepat atau lambat kau harus beranjak maju, membangun hidup baru dan…"

"Jangan menceramahiku!" Kyuhyun menarik kerah baju Siwon dan memandang tajam mata sahabatnya itu. "Apa kau tak mengerti… selain kemarahan, tidak ada lagi yang tersisa didalam tubuh ini."

"Aku sangat prihatin, Kyuhyun. Tapi semua itu hanya akan membuatmu terus-terusan tersiksa. Kau harus hidup normal…"

Kyuhyun melepaskan kembali kerah baju Siwon dari cengkramannya dan merapikannya kembali. "Bicaralah pada Sungmin supaya ia mengerti untuk tidak lagi membuang waktu dan berharap aku akan memperhatikannya."

Sentuhan halus tangan Sungmin dipundaknya membawa Kyuhyun kembali dari masa lalu ke masa kini. Menjauh dari obrolan masa lalu untuk menghadapi keadaan sekarang. Sungmin memegang bahu Kyuhyun lembut, namun erat. Lelaki manis ini kemudian bertanya, mengkhawatirkan Kyuhyun, "Kau baik-baik saja, Kyu?"

Kyuhyun tetap memunggungi Sungmin walaupun sempat tersentak karena tepukan dibahunya. Ia meraih teko yang berada didepannya. "Mau kopi?"

"Tidak, terima kasih."

Kyuhyun menuangkan Black Java tadi ke cangkir keramik berwarna putih yang terletak di atas meja, mengangkat cangkir itu didepan bibirnya, dan menghirup kopi kental tersebut.

"Jika kau tidak mau ikut dalam sesi ini, aku bisa menceritakannya padamu nanti." Sungmin berkata kepada Kyuhyun. "Kita akan membahas informasi-informasi lama dan baru yang telah kita temukan. Mungkin dari situ kita bisa menemukan ide-ide cemerlang."

Mendengar demikian, Kyuhyun mengarahkan pandangannya dari Sungmin ke arah meja persegi panjang, tempat Siwon dan Kangin duduk. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius. "Dimana sebenarnya benang merahnya? Aku bahkan tidak tahu mengapa aku disini. Seharusnya aku tetap berada dipondokku."

"Jangan kembali kesana." Sungmin terlihat sangat memohon kepada Kyuhyun. "Tinggallah disini."

Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya menuju meja rapat. Lalu melihat keluar jendela yang terbuka. "Aku akan mengambil mentelku dan berjalan-jalan. Mau ikut denganku?"

Sungmin memperhatikan Kyuhyun dengan seksama, seakan mencoba mengerti apa yang barusan dikatakan oleh lelaki didepannya.

"Lupakan ucapanku tadi. Sepertinya ide yang buruk." kata Kyuhyun yang tak kunjung mendapat respons dari Sungmin dan melihat bagaimana cara lelaki manis ini melihat dirinya.

"Tidak, hanya saja itu mengejutkan." Aku Sungmin jujur. "Pergilah duluan. Aku akan menyusulmu setelah mengambil mantelku."

Kyuhyun membuka pintu, lalu berhenti seraya berkata pada Siwon sebagai ucapan pamit. Lalu menutup pintu itu dan berjalan kearah dapur, dan menyusuri tangga. Kyuhyun benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya mengajak Sungmin berjalan-jalan dengannya. Kata-kata tadi begitu saja meluncur dari mulutnya, sebelum ia sadar apakah ia memang membutuhkan teman untuk sekedar berjalan-jalan.

to be Continued...


A/N : Duh, moga masih ada yang inget yak. Terakhir update sekitar bulan Juni, dan, there is, masalah di masa lalu KYUMIN terungkap sudah.

Ayo, berikan komen kalian mengenai chapter kali ini!