Huft update oh update.. *geplaked*

Ini Fire nggak tau kalo ada penyiksaan gini masuk Rated M atau semi-M.. trs crime atau angst apa bukan.. gatau dah..

Ayo bales review!

Sora Hinase : Sasu tega nyiksa Gaara soalnya dia tahu Gaara tuh deket sama Hinata dan Sasu nggak trima, gitu.. secara si Teme kan jatuh cintrong sama si Hinata..

Frustated Beadle : iya Sasu cemburu.. cemburu buta.. haha.. oh brarti ini ada genre crime nya yah senpai?

Nerazzuri : makasih Nerazzuri-senpai.. review lagi ya! Harus! *buakkkk*

Aiko Kurosaki Uchiha : gomen Aiko-san.. cara tulis Fire tuh dah kebiasaan.. tapi Fire usahain deh bakalan berusaha memperbaikinya.. semangat masa muda! *gaya katrok Lee mode : ON*.. Fire kaget deh wkt Aiko-san nge review 4 chapter dengan cara terpisah.. tapi gepepe dehhh.. makasih banyak yah Aiko-san..

OraRi : nantinya dia, maksudnya si Shukaku, ikut nimbrung..di chap depan mungkin

SabakuNoGaara : waduh gawat nih si Gaara ikut nge review *kaploked*.. Gaara beneran ato nggak ya? *diinjek2* kalo beneran mati dah Fire di-'Sabaku Kyuu'.. ampuni saya Gaara-chan! eh salah! Kazekage-sama! *ditunjekin rame2 karena ngomong hal2 yg gak jelas*. Becanda kok.. ah gapapa kan pake model siksaan kea ginian..yang request juga sapa *nunjuk2 senpai -digampar sampai tepar-*

Baiklah!

Kita mulai chapter ini!

Di sini perasaan Hinata akan mulai muncul dan penderitaan Gaara selama Hinata ga ada akan makin jelas!

Silahkan membaca!


CHAPTER 7 : INCREASING FEELINGS, INCREASING PAIN

Sedikit dari chapter sebelumnya..

Sasuke menyeringai keji. Diambilnya botol berisi cairan cuka yang ada di atas meja yang ada di sebelahnya dan menyiramkan isinya ke punggung Gaara yang notabene penuh dengan luka-luka bekas cambukan yang menganga lebar.

Tepat saat air cuka yang disiramkan Sasuke mengenai luka-luka di punggung Gaara, rasanya seperti terbakar. Gaara akhirnya tak mampu menahannya lagi. "Uaaaaaagggh!" Gaara berteriak keras dengan kesakitan. Sasuke tertawa jahat. Matanya berkilat sadis.

"Uggh.. Uaaahh.. Aaakh.." erangan Gaara makin membuat kesadisan Sasuke membuncah. Keinginannya untuk menyiksa Gaara jadi makin kuat. Gaara berusaha bernapas. Paru-parunya serasa tercekat dan terasa panas. Kepalanya tertunduk lemas.

Sasuke berjongkok, membuat dirinya sejajar dengan Gaara. Dengan jarinya, dia mengangkat dagu sang Jinchuuriki lalu berkata dengan nada sadis di wajah Gaara,

"Aku akan membuatmu menderita!"


Ancaman Sasuke, sang Uchiha bungsu, yang baru saja dilontarkan pada Gaara ternyata BUKANLAH satu gertakan yang tidak mempunyai arti yang sungguh-sungguh bermakna. Tidak hanya di mulut namun juga tampak jelas pada tindakan-tindakan Sasuke yang terus mencambuki ataupun melakukan hal-hal penyiksaan yang sangat kejam terhadap sang Jinchuuriki Shukaku.

Setelah beberapa jam penuh penderitaan dan cambukan-cambukan Sasuke yang terus menerus menghantam punggung telanjangnya tanpa ampun ataupun belas kasihan, akhirnya Gaara bisa sedikit menikmati arti kebebasan walaupun hanya satu sampai tiga tarikan napas saja. Sasuke berhenti mencambukinya. Untuk sesaat.

Gaara hanya bisa menundukkan kepalanya sambil tersengal-sengal karena kesulitan bernapas. Keringat mengucur deras dari punggung, kening, dan seluruh tubuhnya, bercampur dengan darah yang membasahi punggungnya. Tubuhnya gemetar dengan sangat hebat. Selain rasa dingin yang semakin menusuk tulang, rasa sakit yang menyelimuti tubuhnya sangat tak tertahankan. Bahunya kram, begitu pula lutut dan pinggangnya. Efek air cuka yang disiramkan Sasuke ke punggungnya masih sangat terasa. Setiap cambukan yang mendarat di punggungnya sakitnya semakin terasa tiga kali lipat lebih sakit akibat air cuka yang masih belum hilang di punggungnya.

Gigi-gigi Gaara merapat dan mengeluarkan bunyi gemeletuk. Tangannya terkepal dengan sangat erat, gemetaran sambil menggenggam erat rantai panjang yang menghubungkan rantai yang mengikat pergelangan tangannya dengan langit-langit sel sampai tangannya memerah.

Sasuke terus menyeringai keji. Keinginannya untuk menyiksa Gaara makin besar seiring dengan telinganya yang menangkap suara napas Gaara yang pendek-pendek dan berat, tanda penderitaan Gaara yang makin membuncah.

Hati Sasuke sangat puas saat melihat penderitaan sang Jinchuuriki berambut merah wadah Shukaku yang sangat tak disukainya itu. Jinchuuriki yang beruntung bisa berhubungan dengan Hinata, gadis yang sangat dicintai Sasuke.

"Sabaku-san. Aku salut padamu. Bisa bertahan sampai sini. Apa itu karena Shukaku yang ada di dalam tubuhmu?" tanya Sasuke dengan nada mengejek.

DUAK

"Ohok! Ohok!" darah merah segar menyembur dari mulut Gaara untuk kesekian kalinya. Perutnya terasa tergigit saat ujung sepatu Sasuke menendang perutnya dengan sangat keras.

"Uhuk! A-a-apa.. y-ya-yang.. Uhuk! Uhuk!.. k-k-kau.. Ugh!.. i-i-ingin-k-k-kan.. Uagh! Uhuk!.. d-d-d-dari-dariku..?" suara Gaara terdengar sangat serak. Kalimatnya terputus-putus disertai batuk darah. Gemetarannya makin parah. Kesakitannya makin terasa saat dia berbicara. Tenggorokannya kering kerontang. Paru-parunya terasa sangat tercekat.

BUGH

Satu tonjokan mentah mendarat dengan sangat keras di wajah sebelah kiri Gaara, meninggalkan lebam di sudut bibir kirinya, diikuti darah merah yang mengalir dari mulutnya. "Huk!", Gaara terbatuk disertai darah.

Sasuke tersenyum sadis. Tangannya terkepal. "Apa, Monster? Aku tak bisa mendengarmu." kata Sasuke mengejek. Hati Gaara mencelos saat didengarnya kata yang digunakan Sasuke untuk memanggilnya. Kata yang selalu menjadi momok bagi kehidupannya yang sengsara.

Monster.

Wajah Gaara menoleh ke samping kanan. Rambut merahnya menutupi matanya. Napasnya makin cepat. Mulutnya terbuka sedikit. Dadanya naik turun dengan cepat seirama dengan napasnya yang makin memburu-buru.

"Hei, Monster. Apa kau tuli? Apa kata-kataku tak mencapai telingamu?" Sasuke makin mengejek. Tangan kirinya mengangkat dagu Gaara dengan sangat kasar, memaksa sang Jinchuuriki untuk menatapnya.

"Kasihan." Sasuke tersenyum sadis. Tangan kanan Sasuke menyibakkan setiap helai rambut merah yang menutupi mata Gaara, menampakkan mata turquoise bening Gaara yang kini penuh dengan perasaan sengsara. Sasuke memiringkan kepalanya dan menutup jarak yang ada di antara wajahnya dengan wajah Gaara.

"Kau terlalu malang, Monster. Aku sebenarnya kasihan sekali padamu. Kau rela menderita seperti ini hanya demi satu jawaban yang kau sembunyikan rapat dariku." kata Sasuke, memasang raut wajah pura-pura kasihan. Gaara hanya diam. Mulutnya masih sedikit terbuka. Bibirnya bengkak dan pecah-pecah serta berdarah.

"Lihat dirimu, Monster. Harus kuakui, kau itu tampan. Malah bisa dibilang sangat tampan. Dalam keadaanmu yang sekarang, bahkan orang masih bisa menyebutmu tampan. Postur tubuhmu bisa disamakan denganku dan semua pria kuat di Konohagakure. Kau bisa dengan mudah menjawab pertanyaanku dan kau tak perlu menderita seperti ini. Merusak penampilanmu saja. Sayangnya, kau malah lebih memilih begini. Ck ck ck. Malang benar nasibmu. Monster." seringai Sasuke melebar saat mengatakan kata terakhirnya.

Gaara hanya bisa pasrah saat hatinya serasa ditusuk begitu kata terakhir Sasuke mencapai telinganya. Bola matanya yang kini tengah memandangi mata onyx Sasuke nyaris terlalu lemah untuk digerakkan, padahal dia ingin menghindari tatapan Sasuke. Dia sudah kehilangan banyak darah dan tentunya tubuhnya menjadi sangat lemah.

Sasuke menegakkan tubuhnya. Dia menghempaskan kepala Gaara dengan keras, hingga kepala Gaara tertunduk lemas. Sasuke melangkah ke belakang Gaara dan dengan sikunya dia memukul bagian belakang kepala sang Jinchuuriki berambut merah.

DUAK

Gaara menegang sesaat. Kepalanya pening. Kelopak matanya semakin berat. Sebelum matanya terpejam, satu hal terlintas di benaknya.

Satu nama.

Satu permohonan.

Satu harapan.

Satu orang.

Cintanya.

"Hinata-sama.. aku ingin melihat senyummu sekali lagi.. sebelum aku mati.."


Di tempat lain, di Negara Mizu..

Suara gu qin memenuhi udara malam yang dingin dan penuh kesunyian total. Asalnya dari sebuah patung raksasa yang ada di pinggiran kota. Patung raksasa berbentuk air terjun. Di atasnya duduk seorang gadis secantik dewi dengan rambut Indigo gelap yang melambai-lambai di tengah angin malam yang dingin. Kimono hitamnya juga berkibar-kibar pelan. Bola matanya yang berwarna merah seperti warna darah tampak void dari segala emosi, namun hatinya sangat bertolak belakang. Begitu pula pikirannya.

Lagu yang dia mainkan adalah lagu indah yang sumber inspirasinya merupakan sang Jinchuuriki berambut merah yang malam ini tengah memenuhi benaknya.

"Gaara-san." terdengar suara dingin keluar dari mulut gadis berambut Indigo tersebut, yang ternyata adalah Hyuuga Hinata.

Matanya terus menatap gu qin yang ada di pangkuannya sementara jari-jarinya yang lentik tengah memetik senar-senar alat musik kesayangannya itu.

TRING

"Gaara-san, bagaimana keadaanmu sekarang?" lagi-lagi terdengar suara Hinata yang dingin melebihi es namun di saat yang sama emosi asing memenuhi suaranya.

TRING

Kerinduan.

TRING

"Kau sedang apa sekarang?"

TRING

"Apa kau sedang memikirkanku seperti aku memikirkanmu?"

TRING

"Aku sangat rindu padamu, Gaara-san."

TRING

"Apa kau juga merindukanku?"

Di sini suara petikan senar gu qin berhenti berbunyi, digantikan oleh kesunyian yang langsung datang menyergap.

Mata darah Hinata yang awalnya emotionless kini berubah. Matanya tampak sendu. Jari-jari putihnya yang lentik tampak sedikit bergetar. Dengan gemetar dia kembali memainkan gu qin nya.

TRING

TRING

"Gaara-san, apa kau merasa kesepian?"

TRING

"Aku merasa sangat kesepian sekali di sini. Tanpa dirimu."

TRING

"Andai saja aku bisa bertemu denganmu lebih cepat."

TRING

"Aku ingin bertemu kembali denganmu."

Hening.

Sunyi.

Senyap.

Suara gu qin berhenti.

Beberapa saat kemudian, Hinata kembali memainkan gu qin nya. Kali ini dari bibirnya melantun sebuah puisi yang mengalir dari lubuk hatinya. Hatinya yang kini sedang diliputi kerinduan mendalam kepada Gaara.

Oh kehidupan!

Lihatlah!

TRING

Lihatlah melalui mataku yang telah tercampur dengan darah!

TRING

Pemuda berambut merah yang duduk di antara bunga-bunga mawar

TRING

Matanya menusuk ke dalam sukma sang dewi

TRING

Senyumnya seperti panah beracun bagi jantung sang bulan

TRING

Wajahnya serupa malaikat bagi pemandangan sang burung elang

TRING

Suaranya lebih merdu dari bunyi harpa sang putri

TRING

Senyum diajarkannya

TRING

Kehangatan dibagikannya

TRING

Emosi dan perasaan diberikannya

TRING

Kepada sang dewi dari Klan Hyuuga

TRING

Puisi Hinata dan suara permainan gu qin Hinata berhenti di sini. Matanya terus menunduk memandangi gu qin nya. Jarinya terhenti tepat di atas senar yang terakhir dipetiknya.

"Gaara-san, apa tanggapanmu jika kau mendengar puisi ini?" bisik Hinata pelan kepada angin yang membawa pergi suaranya.

"Apa kau.. akan suka?" dia bertanya lagi kepada angin malam yang berhembus pelan di sekelilingnya.

"Apa kau.. akan tersenyum?"


BYURR

Guyuran air es yang menyiram tubuhnya membuat mata Gaara langsung terbuka lebar, tersadar dari pingsannya. Rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya ditambah dinginnya udara pagi di mana matahari bahkan belum menampakkan diri membuat tubuhnya gemetar sangat hebat dan giginya langsung bergemeretak.

"Ugh.. Ugh.. Uuuh.." Gaara mengerang kedinginan. Posisinya belum berubah. Masih dirantai. Seluruh tubuh dan rambutnya basah kuyup. Rasa sakit yang kemarin dirasakannya akibat cambukan-cambukan yang diberikan Sasuke secara gratis padanya kini kembali beraksi. Gaara langsung menegangkan tubuhnya dan menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mengepal kuat.

"Selamat pagi, Monster. Pagi yang dingin, ya?" terdengar suara familiar yang amat sangat memuakkan bagi telinga Gaara. Bahkan di kondisinya yang mengenaskan sekarang, wajahnya masih menunjukkan raut benci yang amat sangat begitu mendengar suara yang tadi mengajaknya bicara.

Uchiha.

Sasuke.

Sasuke mendekat ke arah Gaara. Gaara melirik sekilas. Dia melihat apa yang ada di tangan kanan Sasuke dan mata turquoise Gaara melebar.

Di tangan kanan Sasuke beristirahat sebuah cambuk dengan tiga ekor yang dipenuhi duri!

Jantung Gaara langsung berdetak tiga kali lebih cepat. Rasa sakit yang mengerikan langsung memenuhi benaknya. Rasa sakit yang akan muncul jika sampai ketiga ekor berduri dari cambuk Sasuke itu melakukan kontak fisik dengan kulit punggungnya yang sudah setengah hancur.

"Bagaimana? Siap menerima hadiahmu?" tanya Sasuke, memiringkan kepalanya dengan senyum sadis yang sangat mengejek.

"J-j-jangan.." suara Gaara yang serak akibat tenggorokannya yang kering keluar membentuk satu kata yang membuat mata Sasuke melebar.

"Kau memohon padaku? Oh!" kata Sasuke dengan nada mengejek.

"K-ku-kumohon.. S-S-Sasuke-s-sa-san.. j-ja-jangan.. m-me-menyiksa-ku.. l-l-lagi.. k-ku-kumohon.." entah apa yang mendorong Gaara untuk mengatakannya. Namun setelah dia mengatakannya dengan terbata-bata, entah kenapa hatinya langsung merasa menyesal dan image Hinata muncul di benaknya.

Image Hinata yang sedang tersenyum manis ke arahnya.

"Sayang sekali, Monster." terdengar respon Sasuke.

CRAKK

Rasa sakit yang luar biasa menyergap punggung Gaara.

"Uaaaaghh!" suara jeritan Gaara yang memilukan langsung menggema. Darah merah mengalir deras dari luka di punggung Gaara yang menyerupai tiga cakaran panjang yang bercabang-cabang.

"Ugh! Ugh! Uaaakh!" Gaara mengerang kesakitan. Punggungnya serasa terbakar. Rasa sakit yang dirasakannya sekarang dua kali lipat lebih parah dari cambukan pertama yang diterimanya kemarin.

Sasuke tertawa keji.

"Ini baru permulaan, Monster." kata Sasuke.

"Permulaan dari penderitaanmu yang sebenarnya!"

-TBC-


Huuuftt

Kok perasaan tambah aneh ya?

Gomenasai, Minna-sama

Susah juga bikin adegan kayak gini. Fire sampe minta bantuan cece Fire yang notabene pengarang cerita crime dan romance. Huahh!

Maaf ya bagi para Readers kalo misalnya chapter yang satu nie nggak jelas sama sekali. Kali ini sih Fire beneran nyadar kalo chapter yang satu ini sangat sangat aneh. Nggak jelas juntrungannya. Yang mungkin jelas ya cuma pas Hinata itu.

Tapi Fire sangat berharap kalo Minna-sama tetep suka sama chapter yang satu nih

Akhir kata..

Read and Review ya?

Review sangat ditunggu lo!

Arigato sebelumnya