Passive Aggressive Love

Genre : Romance, Drama, Hurt

Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun and other

Rate : T

Warning : Genderswitch, OOC, bad diction, miss typing

Desclimer : I just borrow their name as the cast of this story. All belongs to God and this story is absolutely mine. Please don't read if you don't like this story


Chapter 6 : Something Crazy


Henry menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Pukulan Kyuhyun di rahangnya begitu kuat. Ia yakin bahwa rahang dan sudut bibirnya sudah membiru saat ini. Rasanya memang sakit, tapi tidak sesakit ketika ia mengetahui kenyataan yang begitu mengejutkannya.

"Jangan pernah mendekati istriku lagi!"

Ia teringat perkataan Kyuhyun yang penuh penekanan juga peringatan.

"Istri? Huh? Apa pria itu bercanda?" ia menggumam pelan. Mencoba tidak mempercayai apa yang telah didengar oleh pendengarannya dengan sangat jelas.

"Lee Sungmin tidak mungkin sudah menikah, bukan?" Henry merasa harapan yang tertata rapi dalam angannya hancur tak bersisa seketika.

Ia berdecih. Menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengambil ranselnya yang terhempas jatuh ketika Kyuhyun memukulnya. "Aku pasti sudah gila," ucapnya seraya menyandang ransel ke sebelah pundaknya.

Henry melangkah menuju mobilnya dengan perasaan berkecamuk. Antara tak percaya, hancur dan juga kesal. Ia membuka pintu dan menghempaskan tubuhnya di kursi kemudi dengan kencang setelah melempar ranselnya ke samping kursi kemudi. Henry menutup pintu lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.

"Katakan bahwa apa yang dikatakan pria itu tidak benar, Minnie-ya…" Henry berbicara seolah ada Sungmin di depannya.


Sungmin tertidur dengan pulas dalam dekapan Kyuhyun. Bibir gadis itu tersenyum dalam tidurnya. Sungmin teramat bahagia hingga senyumannya sampai ke alam mimpinya.

Gadis itu menggeliat pelan kala sinar matahari mengusik acara tidurnya. Kemilau emasnya menusuk kelopak matanya, membuat Sungmin perlahan membuka kedua mata indahnya.

"Sudah pagi?" gumamnya hampir tak bersuara ketika menatap ke sekeliling. Suaranya tertahan di tenggorokan, mungkin karena ia baru saja bangun dari tidur indahnya.

Sungmin mengalihkan pandangannya ke samping kanan. Bibirnya mengukir senyum manis menatap wajah tertidur Kyuhyun. Wajah favorit Sungmin. Kyuhyun begitu tampan saat tertidur.

"Oppa, ireona," Sungmin memanggil Kyuhyun pelan. Bermaksud membangunkan suaminya, namun Kyuhyun tidak bereaksi sama sekali.

"Oppa," panggilnya sekali lagi. Kali ini dengan sedikit mengguncang lengan Kyuhyun. Namun sepertinya usahanya untuk membangunkan Kyuhyun kembali tak berhasil.

Sungmin berdecak pelan. Sudah pukul tujuh pagi, Kyuhyun bisa terlambat jika tidak segera bangun. Harus bagaimana lagi ia membangunkan Kyuhyun?

Bibir merahnya tiba-tiba tersenyum jahil. Sungmin mendapatkan ide untuk membangunkan suaminya. Perlahan ia mengangkat jemarinya dan memainkannya di wajah Kyuhyun. Sungmin menuntun jemari lentiknya untuk bergerak mengikuti garis wajah suaminya. Mulai dari rahang, dahi dan mata.

Jemari Sungmin terhenti di kelopak mata Kyuhyun, kemudian jari-jarinya memainkan bulu mata Kyuhyun. Sungmin tertawa geli saat memainkan kedua bulu mata suaminya.

"Apa itu tidak geli? Kenapa oppa tidak bangun juga?" Bibir Sungmin mengerucut ketika Kyuhyun sama sekali tak terganggu dengan aktifitasnya.

Sungmin tidak menyerah. Ia kembali menggerakkan jemarinya menyusuri garis hidung mancung Kyuhyun, lalu turun ke bibir tebal milik Kyuhyun. Jemari Sungmin bergerak teramat pelan di kedua belah bibir Kyuhyun, menggelitik permukaan bibir itu.

"Ini pasti sangat geli," ucapnya menahan tawa. Namun beberapa saat kemudian ia mendengus pelan karena Kyuhyun kembali tidak merespon ulah jemari nakalnya.

"Oppa benar-benar tukang tidur," gerutunya. Jemarinya masih bergerak pelan di bibir Kyuhyun.

Sungmin tiba-tiba menggigit bibir bawahnya. Bibir Kyuhyun yang berada dalam kungkungan jemarinya terlihat begitu menggiurkan. Seolah menggodanya untuk menyesap bibir itu. Gadis itu berpikir sejenak. Bukankah Kyuhyun sama sekali tidak terganggu dengan kejahilannya? Itu artinya…Kyuhyun tidak akan bangun jika ia mencuri ciumannya, 'kan?

Dengan gerakan pelan, Sungmin mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuhyun. Perlahan menghapus jarak di antara wajah mereka. Dan ketika permukaan bibirnya sudah menyentuh bibir Kyuhyun, ia menggerakkan bibirnya pelan. Mengulum bibir bawah dan bibir atas Kyuhyun bergantian.

Kedua matanya terpejam menikmati ciuman sepihaknya. Sungmin merasa sudah cukup, ia berniat melepaskan bibirnya dari bibir Kyuhyun. Namun Kyuhyun tiba-tiba menahan tengkuknya, memenjarakannya di antara jari-jari kuatnya. Sungmin benar-benar terkejut hingga matanya membola. Dan ia lebih terkejut lagi ketika Kyuhyun menggigit kuat bibir bawahnya. Membuatnya membuka mulut secara refleks, dan saat itu juga ia merasakan lidah Kyuhyun menari dalam rongga mulutnya. Menciumnya dengan panas dalam beberapa detik.

"Istriku nakal sekali, huh?" ucap Kyuhyun setelah melepaskan ciumannya.

"O—oppa sudah bangun?" Sungmin berujar dengan wajah semerah tomat. Ia sangat malu karena sudah tertangkap basah mencuri ciuman Kyuhyun.

"Hm," Kyuhyun terkekeh jahil melihat wajah merah istrinya. Begitu lucu, manis sekaligus menggemaskan. Ia menggeser tubuhnya semakin mendekati Sungmin, lalu meletakkan telapak tangannya di kening gadis itu. Memeriksa apakah istri cantiknya itu masih demam atau tidak.

"Demammu sudah turun. Pantas saja nakal sekali," Kyuhyun kembali terkekeh. Menggoda istri agresifnya. Sebenarnya Kyuhyun sudah bangun ketika Sungmin memanggil dan mengguncang badannya pelan.

"Oppa!" Sungmin memekik kecil dan memukul dada Kyuhyun pelan. Ia tidak tahan digoda oleh Kyuhyun. Wajahnya yang sudah merah bertambah merah karenanya.

"Jika sudah bangun kenapa tidak langsung bangun?" bibir Sungmin mengerucut kesal. "Cepatlah bangun jika oppa tidak ingin benar-benar terlambat," ujarnya lalu bangun dan turun dari tempat tidur. Gadis itu berjalan dengan kesal menuju dapur untuk membuat sarapan.

Kyuhyun masih tertawa lucu melihat Sungmin yang tampak kesal. Setelah puas mengerjai istrinya, ia bergerak melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kyuhyun menepikan mobilnya di depan gedung kampus Sungmin. Ia melirik Sungmin yang hanya diam menatap jendela mobilnya sepanjang perjalanan mereka menuju kampus Sungmin. Ia mendesah pelan. Sepertinya Sungmin masih kesal dengannya.

"Sayang, kau tidak ingin turun?" tegurnya pelan kepada Sungmin.

Sungmin bergerak membuka sabuk pengamannya dan membenarkan letak tas tangannya. "Aku juga akan turun," ia menjawab sedikit ketus lalu membuka pintu mobil Kyuhyun.

Kyuhyun menahan lengan Sungmin dan membalik tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Kau marah?" tanyanya.

"Ani," Sungmin menjawab tanpa menatap Kyuhyun.

Sekali lagi Kyuhyun mendesah pelan. "Mianhae. Oppa tahu kau masih kesal dengan oppa," ia meraih rahang Sungmin agar gadis itu menatap matanya.

"Sudahlah, oppa. Aku harus segera masuk. Sebentar lagi kelasku dimulai." Sungmin melepaskan tangan Kyuhyun dari wajahnya lalu kembali membuka pintu, namun Kyuhyun lebih cepat. Ia menarik tubuh Sungmin dan mencium gadis itu tepat di bibirnya.

Sungmin terkejut ketika Kyuhyun tiba-tiba menciumnya. Kyuhyun menciumnya dengan lembut dalam beberapa detik, setelah itu Kyuhyun melepaskan pagutannya. Wajah Sungmin bersemu merah menerima ciuman tiba-tiba Kyuhyun. Ia bahkan tidak bisa membalas perlakuan Kyuhyun karena begitu terkejut.

Kyuhyun tersenyum melihat rona merah di pipi istrinya. Ia mengelus sebelah pipi Sungmin. "Sekarang sudah tidak marah lagi?"

"Oppa!" Sungmin memekik pelan dengan wajah merona. "Bagaimana aku bisa marah jika oppa menciumku?" gumamnya pelan.

"Geurae. Lain kali oppa akan menciummu saat kau marah," Kyuhyun terkekeh kecil. Ia kembali menggoda Sungmin.

Bibir Sungmin mengerucut sebal. "Aku akan benar-benar marah jika oppa menggodaku lagi."

"Arasseo, arasseo…" Kyuhyun kembali tertawa kecil. "Masuklah. Oppa tidak mau kau terlambat."

"Ne," Sungmin mengangguk pelan. "Aku pergi, oppa," pamitnya lalu melangkah turun dari mobil Kyuhyun.

Sungmin melambai ke arah sebelum melangkah masuk ke gedung kampusnya. Kyuhyun tersenyum lalu menjalankan mobilnya.


"Minnie-ya!"

Sungmin menghentikan langkahnya dan menoleh ketika mendengar suara teriakan dua orang gadis yang sudah sangat dihafalnya. Dan benar saja, ia mendapati Eunhyuk dan Ryeowook berlari ke arahnya.

"Minnie-ya, Kyuhyun oppa mengantarmu?" Ryeowook bertanya tak percaya dengan nafas tersengal.

Sungmin terkekeh pelan. "Kalian berlari ke arahku hanya untuk menanyakan ini?"

"Ya! Jawab saja pertanyaan kami, Minnie-ya!" Eunhyuk berteriak sebal menatap Sungmin.

"Ne. Waeyo?" Sungmin menjawab tanpa beban.

Eunhyuk dan Ryeowook mendengus kesal menerima jawaban Sungmin. "Kenapa kau bilang?" gadis itu berteriak bersamaan.

"Ya! Kenapa kalian berteriak?" Sungmin mengelus pelan kedua telinganya yang terasa berdengung.

"Kau tahu. Semalaman kami menunggumu di rumah kami, dan ternyata kau sudah berbaikan dengan Kyuhyun oppa. Kenapa kau tidak memberitahu kami?" Eunhyuk berujar kesal.

"Ituu…" Wajah Sungmin memerah memikirkan kenapa ia tidak datang ke rumah mereka dan bagaimana ia bisa berbaikan dengan Kyuhyun.

Ryeowook menyipitkan matanya melihat wajah Sungmin tiba-tiba memerah. "Ya! Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah, Minnie-ya?" ia bertanya curiga.

"Ne. Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?" Eunhyuk ikut menatap ke wajah Sungmin.

Sungmin memegangi pipinya yang terasa panas. "Aniya!" ujarnya lalu melangkah pergi sebelum Eunhyuk dan Ryeowook bertanya macam-macam.

"Ya! Lee Sungmin! Kau harus menceritakannya pada kami!" Eunhyuk dan Ryeowook berjalan cepat mengejar Sungmin.


"Mwo?!"

Lagi-lagi Eunhyuk dan Ryeowook berteriak kencang di telinga Sungmin setelah gadis itu menceritakan bagaimana ia bisa berbaikan dengan Kyuhyun. Seisi kelas sampai melihat ke arah mereka, beruntung dosen yang mengajar mereka belum datang.

Sungmin berdiri lalu membungkuk sopan meminta maaf. Ia menatap Eunhyuk dan Ryeowook sebal. "Ya! Kita sedang di kelas, jadi jangan berteriak. Kalian membuatku malu."

Eunhyuk dan Ryeowook tersenyum lebar tanpa dosa. "Mian," ucap mereka hampir bersamaan.

"Kami hanya terkejut mendengar ceritamu, Minnie-ya," Ryeowook terkekeh pelan.

"Ne," Eunhyuk mengangguk membenarkan. Ia menggeser bangkunya mendekat ke arah Sungmin.

"Ya!" ia menyenggol bahu Sungmin sambil tersenyum jahil. "Bagaimana rasanya dicium oleh Kyuhyun oppa?" Eunhyuk menggoda Sungmin.

Ryeowook ikut menggeser bangkunya mendekati Sungmin. Sekarang gadis itu terjepit oleh Eunhyuk dan Ryeowook. "Ne. Bagaimana rasanya, Minnie-ya?" gadis itu ikut bertanya antusias.

"Mmwoya?" Sungmin benar-benar terpojok. "Kenapa kalian menanyakannya? Bukankah kalian sudah sering merasakan ciuman Donghae oppa dan Yesung oppa?"

"Aish!" Eunhyuk berdecak sebal. "Tapi ini berbeda, Minnie-ya. Kyuhyun oppa belum pernah menciummu sebelumnya. Jadi, bagaimana rasanya?"

Sungmin menggeleng tak percaya. "Aigoo…kalian benar-benar ingin tahu?"

"Ne!" Eunhyuk dan Ryeowook berseru kompak.

"Mmm…rasanya..." Sungmin tampak berpikir. "Bimil (rahasia)," ia sengaja mengerjai Eunhyuk dan Ryeowook.

"Ya!" Eunhyuk dan Ryeowook berseru kompak hingga Sungmin tidak bisa menahan tawanya.

Mereka mungkin sudah membalas kejahilan Sungmin jika saja Profesor Nam belum masuk ke dalam kelas. Eunhyuk dan Ryeowook kemudian menggeser bangku mereka ke tempat semula dengan menahan kesal.


Studio Musik, 10.30 AM

Henry memetik asal senar gitar listrik yang berada di pangkuannya. Seharusnya ia berada di kelas dan mengikuti pelajaran Profesor Jang, namun ia lebih memilih untuk membolos hari ini. Henry tidak bisa berkonsentarsi. Pikirannya selalu terpecah dan tertuju kepada Sungmin dan ucapan juga Kyuhyun semalam.

"Jangan pernah mendekati istriku lagi!"

Kata-kata itu kembali terngiang di benaknya.

"Arrgghh!" Henry memetik semua senar gitar secara kasar. Membuat bunyi bising dari gitar listrik itu menggema memenuhi studio.

Ia meletakkan gitar listrik itu lalu menyeka wajahnya kasar. Nafasnya memburu menahan sesak dan juga kesal yang memenuhi dadanya. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Sungmin sudah menikah.

Menikah? Henry berdecih dalam hati. Apakah ia sudah benar-benar gila? Bagaimana mungkin seorang gadis berusia sembilan belas tahun menggadaikan masa remajanya dengan sebuah pernikahan? Ini benar-benar konyol menurutnya.

Henry menatap ke arah pintu ketika mendengar pintu studio terbuka. Ia mendapati Sungmin melangkah masuk ke dalam studio. Gadis itu terkejut menatapnya.

"Henry-ah…kau di sini?" tanyanya. Henry tidak menjawab Sungmin. Ia hanya tersenyum tipis.

Sungmin berniat memainkan bagian pianonya sekali lagi, tapi ia justru menemukan Henry di sini. Gadis itu kemudian melangkah mendekati Henry. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di depan pemuda itu.

Keadaan menjadi canggung. Keduanya sama-sama menunduk dan membisu. Sungmin meremas kedua tangan yang berada di pangkuannya. Ia harus meminta maaf kepada Henry. Gadis itu akhirnya memberanikan diri menatap wajah pemuda di depannya. Ia melihat lebam di sudut bibir dan juga rahang Henry. Itu pasti karena pukulan Kyuhyun semalam.

"Henry-ah…mianhae," ucap Sungmin menyesal.

Henry mendongak menatap Sungmin. "Kenapa tiba-tiba meminta maaf?" Alisnya berkerut heran.

Tangan Sungmin terangkat ragu untuk menyentuh sudut bibir Henry, tepat pada luka lebam itu. Henry meringis kecil karena sentuhan kecil Sungmin. Ia terkejut karena lukanya tiba-tiba disentuh, namun ia merasakan sebuah getaran yang merambat di dadanya ketika jemari Sungmin menyentuh sudut bibirnya.

"Sakit?" Sungmin menatap Henry penuh sesal.

"Aniya. Sudah tidak apa-apa," Henry menjawab pelan kemudian menurunkan tangan Sungmin dari sudut bibirnya. Luka akibat pukulan Kyuhyun memang sudah tidak apa-apa, meski Henry tidak memungkiri jika masih terasa perih. Namun luka yang baru terbentuk di hatinya jauh lebih perih.

"Mianhae. Kyuhyun oppa tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Jadi…aku meminta maaf atas nama Kyuhyun oppa. Jeongmal mianhae, Henry-ah…" Sungmin benar-benar minta maaf dengan tulus.

Henry tersenyum tipis. "Gwaenchana. Ini hanya luka kecil, jadi tidak perlu meminta maaf seperti ini."

Pemuda itu menatap Sungmin sejenak kemudian terdiam. Pandangannya beralih turun ke tangan Sungmin yang berada di pangkuan gadis itu. Henry hanya ingin memastikan bahwa Sungmin sudah benar-benar menikah atau itu hanya gurauan pria yang mengklaim Sungmin sebagai istrinya saja saja. Dan benar saja, ia menemukan sebuah cincin emas putih dengan berlian yang berkilauan di tengahnya, tersemat dengan indahnya di jari manis kanan Sungmin.

Bibirnya tersenyum getir. "Jadi benar kau sudah menikah?" Henry bergumam tanpa sadar seraya masih memandang cincin yang melingkar di jari Sungmin.

"Ne?" Sungmin terkesiap mendengar ucapan Henry.

Henry kini menatap Sungmin, tepat ke dalam mata bening gadis itu. "Apakah pria yang semalam memukulku adalah suamimu? Kau benar-benar sudah menikah?"

Sungmin terkejut Henry menanyakan hal itu. Ia kemudian mengangguk lemah, "Ne".

Sebuah panah kini tertancap tepat di hati Henry. Hatinya benar-benar perih mendengar pengakuan Sungmin. Ia bahkan belum sempat menyatatakan perasaannya kepada Sungmin, tapi gadis itu sudah lebih dulu dimiliki oleh orang lain. Menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya sudah menikah membuat perasaanya hancur. Bibirnya perlahan mengukir sebuah senyuman menyedihkan.


"Jadi…selama ini Sungmin salah paham tentang hubungan kita?" Kibum bertanya tak percaya setelah mendengar cerita Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk, "Hm."

"Ini salahmu juga karena tidak pernah menceritakan tentangku kepada Sungmin, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun menghela nafas lalu membenarkan posisi duduknya di hadapan Kibum. "Mmm…aku hanya berpikir itu tidak terlalu penting. Dan aku tidak pernah menyangka jika akan terjadi hal seperti ini."

Kibum menggeleng pelan. "Pantas saja Sungmin salah paham dengan hubungan kita. Gadis mana yang tidak terluka melihat suaminya memeluk wanita lain, huh?" ia berujar sedikit kesal.

Kyuhyun tersenyum tipis. "Geurae. Aku memang bersalah, Kibum-ah."

"Ya. Kau memang bersalah," Kibum mendengus sebal namun bibirnya tersenyum kecil. "Tapi aku senang karena kalian sudah berbaikan."

"Jangan pernah membuatnya menangis lagi, Kyu. Sungmin masih sangat muda. Jangan salahkan aku jika nanti dia akan mencari pemuda yang lebih tampan darimu," ancamnya setengah menggoda.

"Aniya. Itu tidak mungkin. Sungmin hanya mencintaiku," Kyuhyun menjawab penuh percaya diri.

Kibum berdecih pelan. "Arraseo, arraseo…kita lihat saja nanti," ucapnya lalu tertawa kecil. Kyuhyun ikut tertawa mendengar ucapan Kibum.

"Bagaimana rasanya jujur, Kyuhyun-ah? Bukankah rasanya lebih baik?" Kibum bertanya setelah tawanya mereda.

Kyuhyun tersenyum lalu mengangguk pelan. "Hm. Rasanya benar-benar melegakan, Kibum-ah. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu."

"Ya. Seharusnya memang begitu. Dan jika kau melakukannya, mungkin Sungmin tidak akan pernah mendengarkan kata-kata teman-temannya untuk menggodamu," Kibum kembali terkekeh. Wanita itu sepertinya senang sekali menggoda Kyuhyun.

"Ya! Hentikan, nyonya Choi," Kyuhyun berdecak sebal namun ia tidak bisa menahan tawanya.


Sungmin berjalan setengah melamun menyusuri koridor rumah sakit. Ia memikirkan wajah sedih Henry ketika mendengar pengakuannya jika ia sudah menikah.

'Kenapa Henry memasang wajah seperti itu?' batinnya tak mengerti. Ia tersadar ketika paper bag yang dibawanya tidak sengaja terjatuh.

"Oh?"

Sungmin terkesiap lalu memungut paper bag yang terjatuh di lantai. Saat melihat ke sekeliling, ia baru tersadar jika beberapa meter lagi ia akan sampai di ruangan Kyuhyun. Sungmin melirik arlojinya. Sebentar lagi istirahat makan siang. Ia tersenyum tipis lalu mempercepat langkahnya menuju ruangan Kyuhyun.

Siang ini Sungmin ingin memberikan kejutan untuk Kyuhyun. Gadis itu membawa dua kotak bento yang baru saja dibelinya dari restoran siap saji. Entah mengapa ia ingin sekali makan siang siang bersama Kyuhyun.

Sebentar lagi Sungmin akan sampai ruangan Kyuhyun. Bibirnya tersenyum manis membayangkan Kyuhyun akan senang dengan kejutannya. Kakinya melangkah menghampiri pintu ruangan Kyuhyun.

"Oppa…" Senyuman manis Sungmin memudar dari bibir merahnya.

Langkah Sungmin terhenti di ambang pintu ruangan Kyuhyun ketika mendapati Kyuhyun sedang berbincang hangat dengan wanita yang duduk membelakanginya. Kyuhyun bahkan tertawa dengan lepas.

Dada Sungmin bergemuruh sesak. Tenggorokannya terasa panas. Kyuhyun tidak pernah tertawa begitu lepas di depannya. Dan itu membuat hatinya perih. Tanpa bisa dicegah, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.

Kyuhyun seperti mendengar suara Sungmin memanggilnya. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya dari Kibum, dan ia menemukan Sungmin berdiri di depan pintu dengan air mata berjatuhan.

"Minnie-ya…" ucapnya pelan kemudian berdiri. Kyuhyun terkejut menemukan Sungmin tiba-tiba muncul di depannya.

Kibum menoleh ke belakang dan ia juga terkejut melihat seorang gadis berdiri tepat di depan pintu. Wanita itu bangkit dan ikut berdiri.

Sungmin tersenyum lalu menyeka air matanya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengganggu. Aku akan pergi." Gadis itu membungkuk sopan sebelum berjalan cepat meninggalkan ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun segera berlari mengejar Sungmin tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Kibum. Kibum tersenyum melihat Kyuhyun mengejar Sungmin. Wanita itu kemudian melangkah keluar ruangan Kyuhyun. Ia merasa perlu mengikuti Kyuhyun mengejar Sungmin.


Sungmin berjalan setengah berlari menerobos lorong koridor sambil menyeka air matanya. Ia tahu bahwa wanita itu adalah sahabat Kyuhyun, namun tetap saja hatinya terasa perih menyaksikan kedekatan Kyuhyun dengan wanita itu. Sekalipun wanita itu adalah sahabat suaminya.

"Minnie-ya!"

Kyuhyun akhirnya berhasil menangkap lengan Sungmin dan menghentikan langkah gadis itu. Hatinya meringis melihat air mata Sungmin kembali bergulir pipi gadis itu. Ia segera menarik pinggang Sungmin dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Tangannya bergerak lembut membelai punggung Sungmin.

Suara tangisan Sungmin pecah ketika Kyuhyun memeluknya. Ia senang karena ternyata Kyuhyun mengejarnya dan memberikan sebuah pelukan untuknya. Ia ingin menumpahkan rasa cemburu yang membakar dadanya dengan menangis di dada Kyuhyun.

"Uljima," Kyuhyun berbisik lembut di telinga Sungmin. Ia menunggu hingga Sungmin tenang dalam pelukannya.

Kyuhyun melepaskan pelukannya setelah merasa Sungmin sudah tenang. Ia menyeka air mata Sungmin dan tersenyum lembut. "Kenapa tidak memberi tahu oppa jika kau akan datang, hm?"

Sungmin menggeleng pelan lalu menunduk menghindari tatapn Kyuhyun, "Aku hanya—"

"Sungmin-ssi…"

Kyuhyun dan Sungmin menoleh ketika seorang wanita memanggil Sungmin. Wanita itu—Kibum— tersenyum lalu menghampiri mereka.

"Kurasa Kyuhyun tidak akan pernalkanku kepadamu," Kibum melirik Kyuhyun lalu tersenyum ke arah Sungmin. "Aku Kim Kibum. Sahabat Kyuhyun," ia mengulurkan tangannya di hadapan Sungmin.

Sungmin tertegun Kibum tiba-tiba memperkenalkan diri. Tangannya terulur ragu menjabat tangan Kibum. "Lee Sungmin," ucapnya pelan.

"Mungkin bagi Kyuhyun perkenalan kita tidak penting. Tapi bagiku sangat penting. Aku tidak ingin membuatmu salah paham lagi dengan hubungan kami, Sungmin-ssi," Kibum mulai menjelaskan. "Kami sudah dekat sejak kuliah dulu, jadi sangat sulit untuk menghilangkan ketergantungan satu sama lain. Kami sudah seperti saudara. Itu yang membuat kami terlihat sangat dekat, Sungmin-ssi."

"Tapi percayalah. Kyuhyun sangat mencintaimu. Dan aku sangat mencintai suami dan juga anakku," Kibum berucap jujur dan Sungmin bisa melihatnya. Ia lega mendengar Kyuhyun ternyata sangat mencintainya.

"Dan untuk kencan kalian…aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal karena sudah menghancurkannya," ucapnya menyesal.

Sungmin tersenyum canggung. "Ne. Gwaenchanayo, Kibum-ssi."

Kibum menghela nafas lega lalu tersenyum. "Baiklah. Kuharap tidak akan ada lagi kesalah pahaman di antara kita."

"Ne," Sungmin mengangguk.

"Kalau begitu, aku permisi. Sampai nanti, Kyuhyun-ah. Sampai jumpa, Sungmin-ssi," Kibum membungkuk sekilas sebelum melangkah pergi.

Sungmin menatap kepergian Kibum dengan perasaan bersalah. Kibum benar-benar wanita yang baik. Ia merasa malu karena sempat menuduh Kyuhyun berselingkuh dengan Kibum.


"Sayang, kau membawa sesuatu?" Kyuhyun memperhatikan paper bag yang di bawa Sungmin setelah mereka duduk di bangku taman rumah sakit.

"Ne," Sungmin menoleh menatap Kyuhyun lalu mengambil paper bag yang terletak di sisi kanannya. "Aku membawakan bento untuk oppa," ucapnya.

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. "Kau membuatnya?"

Sungmin menggeleng. "Aniya. Aku membelinya sebelum ke sini," jawabnya seraya menyerahkan sekotak bento untuk Kyuhyun.

"Gomawo," Kyuhyun menerima sekotak bento itu dengan senang hati.

Sungmin tersenyum ketika Kyuhyun mulai memakannya. Ia ikut membuka bento miliknya, namun pergerakan tangannya terhenti saat hendak memasukkan bento itu ke mulutnya. Sungmin tiba-tiba teringat tentang tuduhannya kepada Kyuhyun dan juga Kibum. Ia merasa jahat karena sudah berprasangka buruk kepada Kyuhyun dan juga Kibum. Perasaan bersalah itu kembali menghampirinya.

"Oppamianhae," Sungmin menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia benar-benar malu mengingat hal itu.

Dahi Kyuhyun berkerut kecil menatap Sungmin. Ia menghentikan acara makannya. "Waeyo?"

Sungmin mengangkat wajahnya untuk menatap Kyuhyun. Ia takut jika Kyuhyun akan marah karena hal ini. "Aku…aku pernah menuduh oppa berselingkuh dengan Kibum-ssi. Mianhaeyo, oppa…"

"Kau menuduh oppa berselingkuh dengan Kibum?" Kyuhyun menatap Sungmin tak percaya.

Sungmin kembali menunduk, "Ne." Ia sudah siap jika Kyuhyun akan marah kepadanya.

Bukannya marah, Kyuhyun justru tertawa kecil. Ia baru menyadari sesuatu. "Jadi...kau menangis karena melihat oppa bersama Kibum?" Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin agar istri cantiknya itu menatapnya.

"Ne?" Bagaimana Kyuhyun bisa tahu? Sungmin melepaskan tangan Kyuhyun dari dagunya. "Aniya. Aku tidak menangis. Mataku hanya kemasukan debu," kilahnya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Kyuhyun.

Bibir Kyuhyun tersenyum lebar melihat reaksi Sungmin. Ia tahu Sungmin berbohong. "Kau cemburu?"

Sungmin terlihat kesal. Apa Kyuhyun sengaja menggodanya? "Ani!" serunya ketus masih dengan muka berpaling.

Kyuhyun tertawa kecil memandang Sungmin yang terlihat kesal. Mendengar tawa Kyuhyun, Sungmin semakin kesal. Ia menatap Kyuhyun sebal.

"Mianhae. Jangan marah," Kyuhyun mengelus sebelah pipi Sungmin pelan. "Atau kau ingin oppa menciummu lagi?" ucapnya menahan tawa.

Pipi Sungmin memanas mendengar ucapan Kyuhyun. "Oppa!" ia memukul bahu Kyuhyun pelan dan Kyuhyun kembali tertawa.


Henry masih betah berada di studio selepas Sungmin pergi beberapa menit yang lalu. Pemuda itu benar-benar kacau mendengar pengakuan Sungmin bahwa gadis itu benar-benar sudah menikah.

Tangannya mengepal kuat. Ini benar-benar tidak adil menurutnya. Henry sudah memendam perasaannya selama bertahun-tahun kepada Sungmin, dan hanya menjaga cintanya untuk gadis itu. Seharusnya ia juga mendapat kesempatan yang sama untuk mencintai gadis itu, seperti Kyuhyun yang menjadi Sungmin.

Henry tiba-tiba memikirkan sebuah hal gila di benaknya. Sesuatu yang sangat egois. Ia sudah melihat bagaimana hubungan Sungmin dengan suaminya kemarin— yang sebenarnya hanya sebagian kecil yang ia ketahui. Jadi, mungkin ia mempunyai kesempatan untuk mendekati gadis itu.

Tapi kebimbangan tiba-tiba melanda hatinya. Membuat Henry harus memikirkannya sekali atau bahkan berkali-kali lagi. Ia menyeka wajahnya frustasi lalu menghela nafas panjang.

'Aku harus bagaimana?' ia membatin resah.


Sungmin berlari kecil menyusuri koridor kampus. Setelah mendapat pesan dari Henry, gadis itu bergegas kembali ke kampus. Padahal sebenarnya Sungmin sudah tidak ada kelas lagi siang ini.

Henry berkata jika mereka akan berlatih bersama siswa musik terapan dan musik modern yang sudah ditunjuk oleh profesor Jang.

Sungmin membuka pintu studio dengan nafas tersengal, namun ia tidak melihat siapapun kecuali Henry yang tengah duduk menghadapnya. Tangannya mengenggam sebuah violin.

"Henry-ah…mereka belum datang?" tanyanya saat menghampiri Henry.

"Belum," Henry menjawab singkat.

Sungmin mendesah lega. Ia melepaskan tas tangannya lalu duduk di kursi di sebelah Henry, namun ia tertegun ketika Henry bergerak bangkit dan tiba-tiba memainkan violin di depannya. Henry memainkan bagian reff lagu Lucky milik Jason Mraz dengan sangat indah. Sungmin bahkan sampai tak bisa mengalihkan fokus pendengarannya dari melodi indah yang sedang dimainkan Henry.

Henry tersenyum setelah permainannya selesai. Ia menatap Sungmin yang masih terkejut menatapnya. Ia meletakkan violin-nya di kursi lalu berjongkok di depan Sungmin dan menggenggam sebelah tangan gadis itu.

"Henry-ah…" Sungmin terkesiap ketika Henry tiba-tiba menggenggam tangannya.

"Mungkin kau berpikir aku sudah gila. Tapi aku harus mengatakan ini. Aku mencintaimu, Lee Sungmin. Aku mencintaimu sejak aku pindah ke Kanada tujuh tahun yang lalu," Henry sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.

Sungmin benar-benar terperangah mendengar pengakuan Henry. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. Ini begitu tiba-tiba dan gila. Benarkah Henry baru saja mengatakan perasaannya?

Gadis itu bergerak bangkit dan melepaskan tangan Henry yang sedang menggenggam tangannya. Henry juga ikut bangkit ketika Sungmin berdiri.

"Maaf, Henry-ah…aku sudah menikah dan—"

"Aku tahu," Henry memotong cepat. Ia tidak mau mendengar lebih banyak ucapan Sungmin yang akan mengiris hatinya. Ia tahu jelas bahwa Sungmin sedang menolaknya. "Tapi…apa kau bahagia?" ucapnya.

"Apa maksudmu?" Sungmin benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Henry.

"Kau yakin jika suamimu benar-benar mencintaimu?"

"Ne?" Sungmin benar-benar tidak habis pikir dengan Henry. "Tentu saja Kyuhyun oppa benar-benar mencintaiku," suara Sungmin mengecil di ujung kalimatnya. Apa Henry ingin mencoba membuatnya meragukan Kyuhyun…lagi?

Henry tersenyum masam. "Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pernah menyakitimu dan membuatmu menangis."

Ucapan Henry benar-benar membuat keraguan Sungmin kembali muncul. Kyuhyun memang sudah menyakitinya dan membuatnya menangis. Tapi tidak, Sungmin yakin Kyuhyun benar-benar mencintainya. Kepalanya menggeleng pelan.

"Keumanhae, Henry-ah!" ucapnya marah. "Kau tidak tahu apapun tentangku dan Kyuhyun oppa!"

Sungmin merasa ia tidak bisa lagi bersama Henry di tempat ini. Ia segera mengambil tas tangannya dan melangkah pergi. Namun saat melewati Henry, Sungmin merasa ada yang menarik lengannya. Dan matanya membulat sempurna ketika Henry memegang tengkuknya dan mencium bibirnya.


TBC

Ada yang masih ingat cerita ini? Mianhae. Sepertinya sudah terlalu lama saya menelantarkan ff ini. /\

Maaf kalau chapter ini mengecewakan teman-teman. I have no feeling when wrote this chapter. Jadi maaf jika hasilnya seperti ini :(( Jadi silakan jika ada yang mau mengkritik atau memberikan saran agar saya bisa menulis dengan lebih baik lagi :)

Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah mendukung dan masih mau membaca cerita jelek saya. Cerita ini tidak akan berlanjut tanpa review dari teman-teman. Dan selamat datang untuk reader baru. Semoga chapter ini tidak mengecewakan (meski sebenarnya mengecewakan). Mohon maaf tidak bisa membalas review teman-teman satu persatu.

Sekali lagi maaf dan terima kasih.

Special Thanks to:

I am E. L. F and JOYer, Shywona489, Maximumelf, 1004hoteuk, LittleMing137, endah. kyumin137, NAP217, keykyu, angelicKYUMIN, Guest, ajid kyumin, Lilin Sarang Kyumin, AoaoaoaoaoKM, KikyWP16, abilhikmah, Lady Azhura, hyuna, emi. mardi, airi. tokieda, JOYELPEU137, diynazha. gint, HitaManis, Kikyu Cho, ayyu. annisa. 1, aryaahee, Ky, KimShippo, JSJW407, sider imnida, cloudswan, Heldamagnae, riesty137, Babyjoy, kyuki, queen harkyu, sandrimayy88, zaAra evilkyu, Baby's Kyumin, dhinarizki, Yoldaspa, Joygyumin, imAlfera, danactebh, sandra. devina, Chikyumin, Yaya saya, ChristyTaniaElf, ajolbada, wonnie, kyumin, dirakyu, Kyumin joyer, Ai Rin Lee, nananhf, ChoKyunnie, Miyoori 29, mingstares, PaboGirl, indah. elfii, minnie kyumin, Cho MeiHwa, SazkiaSiwonestELF, AmyKyuMinElf, babychoi137, TsubakiMing, SEungyo, dessykyumin, Guest, Love Kyumin 137, dewi. k. tubagus, nova137, Santiyani. febby, Kang Dong Jae, teras fanfiction, Ria, fariny, kimteechul, kime, intankyuhyunelf, Guest martia elfishyekyuminhyuk, sha. nakanishi, cho hyo woon, Aey raa kms, Mayora22, KobayashiAde, imSMinL, cintakyumin137, Alunaa, Violetta, haegvrl, Lova9irl, Nayoung, Thania Lee, ChanMoody, Princess JOYELF137, fivah, melee, asdfghjkyu, Guest, cywelf, SMyLee, minimi kyu, zee Konstantin, bunnyblack. FLK. 136, YongSunByun, loveKM, aprilbunny9, liyahseull, Minhyunni1318, sitara1083, nurganeffi, Shallow Lin, kyumin1001, lalakms, teukiangle, Guest, kyukyu, AKYUNG, ChuCholine, leejisung4, Qiqii, q, chonaira, leeee, Ristinok137, Harusuki Ginichi - 137411

See you next chapter

Mind to review again? :)