Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatoshi

The Phantom and The Emperor Vampire © Akashi Veila

.:

(xxx)

:.

"Jangan terlalu percaya diri," kata Tetsuka, kedua matanya menggelap entah karena apa. "aku lebih senang mendeklarasikan diriku sebagai mautmu, Seijuurou-kun." Akashi tertawa, sempat melirik Imayoshi yang berada jauh di bawahnya kesusahan melawan beberapa suruhannya sebelum kembali menatap gadis dalam rengkuhannya yang kini benar-benar berubah. "Senang mendengarnya, Tetsuka."

Remaja berhelaian aquamarine itu menampilkan senyum manis yang entah kenapa membuat indra pengelihatannya kembali seperti semula, ia merangkul mesra Akashi. "Sudah berapa lama, hm? Aku kehilangan hitunganku,"

Akashi tidak langsung menjawabnya, dia masih menikmati hembusan angin malam yang menerpa lembut kulitnya, "Entah, aku tidak pernah menghitungnya." Tetsuka mendengus geli, ia menatap lurus manik heterocome itu namun dengan sedikit kilat jenaka, "Tipikal," sindirnya halus.

"Senang mendengarnya," balas Akashi tenang, tidak kehilangan ketenangannya sama sekali, "aku memang seorang Akashi." Suara tawa terdengar nyaring di langit malam Tokyo, Tetsuka menutup mulutnya, mencoba menghentikan tawa tak berujung ini. Meski dia sendiri tidak tahu, dimana letak kesalahan-dirinya atau Akashi? Entah-nya. Akashi tetap stay cool namun sebelah tangannya terulur kedepan, "Mau berdansa di langit yang lebih tinggi?"

Tetsuka menghentikan tawanya dalam sekejap dan menyambut uluran tangan Akashi dengan anggun, "Yes, please." Dan Akashi menarik lembut tangan remaja itu menuju ke langit yang lebih indah.

"Hm, kau punya selera yang cukup bagus."

Akashi tersenyum transparan, "Sindirian yang menakjubkan."

"Kau-tidak, semua Akashi itu aneh."

Senyum itu tidak terhapus ketika nada lawan bicaranya terdengar bingung, "Kau hanya tidak mengerti jalan pikiran kami." Jawabnya kalem, dia mulai melakukan step by step dalam berdansa dengan sempurna. Tentu dengan Tetsuka yang mengikutinya dengan sempurna. "Itu namanya aneh."

Akashi mendengus, "Diamlah. Kita berdansa, bukan bertukar pikiran."

Tetsuka tersenyum mendengarnya, tidak menjawab lagi, hanya mengikuti setiap gerakan yang dihafalnya lalu mempraktekkannya. Membiarkan sunyi merengkuh mereka dan malam menaungi mereka. Bahkan ketika erangan dari Imayoshi terdengar-meski samar-mereka menghiraukannya.

Namun ketika jarum detik melewati angka dua belas, semua berubah. "Akashi-kun," panggil remaja aquamarine ini pada sosok tomat di hadapannya dengan nada menusuk, "apa yang kau lakukan?"

Sebelah alis Akashi terangkat terhibur, "Maksudmu—Apa yang kita lakukan?" ulangnya dengan nada bergurau yang khas meski dibungkus dengan nada tenangnya, Tetsuka merotasi kelerengnya, dia kemudian melihat sekitar. Dia tertegun, "Akashi-kun?"

"Ya? Apa akhirnya kau mau mengungkapkan perasaanmu? Tentu akan kuterima dengan senang hati—"

"Jangan narsis. Aku mual." Ucapnya pedas, Akashi terkekeh yang entah kenapa terdengar mengerikan juga misterius. Akashi menatapnya, Tetsuka balas menatapnya. Mencoba menggali apa yang ada di pikiran dua belah pihak. Akashi tertawa dalam hati ketika menemukannya, "Dari awal?"

"Semua yang kau tahu. Aku mulai merasa kalau kau punya sesuatu yang aneh." Tutur remaja ini datar, kedua matanya sempat melirik ke bawah dan menemukan sosok yang tadi dipermainkan(Tetsuka lebih suka kata ini) oleh Akashi sudah hilang. Akashi menarik tubuh mungil Tetsuka, "Hapus kata mulai karena kau akan benar-benar merasakan kalau aku memiliki sesuatu yang bukan kau maksud."

Tetsuka hanya diam mendengarnya, dia tahu itu. Dia tahu kalau Akashi pasti akan membuatnya merasakan dengan benar apa yang dimilikinya. Dia seperti itu, tapi Tetsuka tidak tahu kenapa dia punya pemikiran seperti itu. "Lets see then."

.: :.

:. .:

"Kau menceritakannya?!"

"Jangan bodoh, Shintarou. Lihat, checkmate."

Remaja berhelaian go green itu tercekat, kedua mata emeraldnya memandang papan shogi yang ada di meja sebagai pemisah antara dirinya juga pewaris tunggal Akashi itu. Ia memejamkan matanya, mengatur detak jantung yang mulai memburu. Juga nafasnya. "Aku serius Sei," Midorima membuka mata dan memandang Akashi yang duduk di hadapannya lurus. "katakan sejujurnya."

Akashi menggedikkan bahu acuh tak acuh, "Menurutmu?"

"Akashi Seijuurou." Panggil Midorima dengan nada rendah, Akashi meliriknya sekilas kemudian memasang seringai jenaka. Salah satu tanda kalau dia terhibur. "Menurutmu?"—Atau tidak sama sekali.

Akashi mendesah, ia melemparkan tiga bidak shogi yang dipegangnya ke papan permainan dengan kasar kemudian pergi, "Lebih baik gunakan logikamu untuk mencari tahu tentang sihir yang muncul kemarin. Aku rasa itu berhubungan dengan Imayoshi," Akashi berhenti di ambang pintu dan melihat pemandangan yang terlihat dari jendela besar di hadapan pintu ruangan yang ditempatinya tadi. "dan antek-anteknya."

Blam.

Pintu besar itu tertutup dan meninggalkan Midorima yang masih duduk dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.

.: :.

:. .:

"Jadi, kenapa kau bisa pulang selarut ini, Tetsu-chan?"

Ini hari yang sangat panjang, pikir Tetsuka. Setelah kesialannya, kekesalannya, kewarasannya, sekarang kepribadiannya juga? God, apa ada yang lebih buruk? Dia merasa hidupnya benar-benar kacau sekarang. Remaja ini menghela nafas pendek, "Aku-kami ada tugas kelompok—"

"Sampai melewati jam malam?" Tetsuka menahan nafas, dia harus berbohong. Hell, mana ada yang percaya kalau dia bilang aku baru saja diserang dua makhluk tampan tapi gay yang berbicara vulgar seenak dengkul dan melayang di angkasa bersama dengan seorang vampire? Ha. "—sampai melewati jam malam. Aku benar-benar minta maaf Okaa-sama, Otou-sama. Aku sudah membuat kalian khawatir."

Toru-Ayah Tetsuka menghela nafas dan kembali menonton acara tv kesukaannya sedangkan Shiina-Ibu Tetsuka menatap anak putri semata wayangnya ini dengan tatapan menyelidik dan khawatir. Dia tidak percaya sebenarnya, kerja kelompok macam apa yang harus melibatkan fisik? Lihat, seragam putrinya kotor. "Ya sudah, karena ini sudah larut lebih baik Tetsu-chan tidur saja. Jangan lupa baju untuk besok—"

"Soal itu," potong Tetsuka, ia memandang ibunya yang balik menatapnya. Aku akan mengatakannya karena aku tidak mau berbohong lagi!—"aku besok tidak sekolah—"

"Astaga! Kau mau membolos?! Tetsu-chan, ibu tahu kau punya kesibukan tapi pendidikan itu lebih penting! Jangan. Membolos. Itu prinsipmu kan? Kenapa kau langgar?" Cerocos Shiina dengan nada kaget, ekspresinya juga mendukung nadanya. Wanita ini kemudian menatap suaminya yang masih kalem, "Anata! Kau juga! Bantu aku di sini!"

Toru mengernyitkan dahinya kemudian memandang istrinya yang tampak murka, namun tetap cantik sih. Abaikan. Kemudian memandang Tetsuka, "Alasan?" tanyanya kalem namun menuntut, tak mau kena murka sang istri. Bisa tidak dapat jatah setengah tahun dia. Tetsuka tampak gugup namun segera menjawab, "Akashi -kun... dia mengajakku untu—"

"Ara, Akashi-kun? Kau bisa pergi, akan Ibu siapkan baju spesialmu."

Potongan dari Shiina barusan efektif membuat Tetsuka memasang wajah tidak elit, menghapus semua imej kuudere miliknya. Ibunya apa-apaan sih?—"Okaa-sama tidak marah…?" tanyanya takut-takut, yah, lebih ke penasaran sih. Habis siapa yang tidak penasaran dengan sosok di hadapan Tetsuka ini? Ayahnya saja butuh waktu beberapa hari sebelum akhirnya tahu apa yang ibunya pikirkan. Apalagi dirinya?

Shiina tertawa melihat air wajah putrinya yang mendadak berubah lebih kawaii-menurutnya-, dia menepuk pelan pundak putrinya, "Sudahlah, lebih baik Tetsu-chan mandi dan makan lalu tidur. Tidak baik membuat seseorang-terutama laki-laki menunggu." Ucapnya dengan nada riang yang efektif membuat Toru hampir memuntahkan kopinya kalau tidak dia tahan. Alhasil, kopinya keluar lewat hidung—bercanda. Dia bergumam sesuatu namun dihiraukan. Poor Toru.

Tetsuka meringis melihat keadaan ayahnya, ibunya ini memang parah. "Umh, baiklah, aku ke atas dulu. Oyasumi, Okaa-sama, Otou-sama." Ucapnya sopan lalu kembali ke kamarnya dengan uh… perasaan aneh.

Shiina yang sedari tadi hanya tersenyum kemudian memandang laki-laki yang berstatus sebagai suaminya dan duduk di sebelahnya. "Toru-kun, mereka sudah bergerak."

Toru melipat korannya dan menatap dalam istrinya yang kini terlihat cemas, dia tersenyum untuk menenangkannya. "Mereka tidak akan bergerak, tenang saja." Ujarnya kalem, dia kemudian merengkuh wanita yang dicintainya itu ke dalam pelukannya. Dia tahu setelah mengatakan hal itu, istrinya ini tidak akan tenang begitu saja.

Keras kepala. Toru mendengus dalam hati dan melirik Shiina yang mulai tenang, itu bukti kalau Shiina juga seorang Akashi.

TBC

Tuh kan, saya kehilangan alur *pundung* cerita ini malah mencar kemana-mana. Tapi, makasih buat kalian yang udah mau baca, review, follow dan fav cerita ababil ini. Meski agak nurun sih, tapi nggak masalah. ^^

Untuk chap depan saya usahakan untuk update kilat. Mumpung otak lagi jalan gara-gara UKK *sedeng*. Ini buat balasan review kalian beb :* #dibuang

Tidaak! sei-kun udha jadian *mewek*

Btw, makasih atas reviewnya. Saya terharu kamu mau menunggu fic ababil karya saya ini XD. review terus ya? Minta doa juga buat nilai UKK *geplaked

Bona Nano

Tetsuka kenapa? tidak, nak, kamu kenapa?! Jangan mati dul, nanti Sei-kun jadi jones *meratapi nasib* *abaikan*

Well, no prob babe. Temen saya semua juga pada komen-komen dengan rumus(?) yang tidak saya mengerti. Dan jawaban saya hanya 'nanti ya, di chap depan mungkin ada.'

Makasih udah review ya *mata blink-blink*, review terus :*

Dan buat kalian yang udah mau fav and follow makasih ya~