Baru kali ini aku merasakan ketakutan melebihi apa yang ada, entah kenapa. Tidak bisa membayangkan jika aku dalam posisinya yang melihat orang tuanya bertengkar hebat—untuk seusianya dia tidak pantas melihatnya.
Oh Tuhan, ini cobaan yang kau berikan untukku… batin Sasuke dalam hati.
Standar Disclaimer Applied
.
.
Fate © Tsurugi De Lelouch
-Part 7-
Maybe Sequel of "Selfish" by Morena L
.
.
.
(Main chara)
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
.
.
"I don't take any profit from this story"
*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*Y*
.
.
.
Jika kau berpikir aku kabur dari masalah
Memang aku terlalu pengecut untuk menaikkan harga diri
Aku menyesal telah menghancurkanmu
Tapi, apakah aku pantas dimaafkan olehmu
.
.
.
-7-
"Ayah… Ibu…, kenapa kalian bertengkar?"
Suara Akira yang tidak cadel lagi ini membuat dua insan ini tidak berkutik. Mereka berdua tidak menyangka jikalau anak kesayangan mereka berdua melihatnya. Uchiha Sasuke-pun langsung bangkit dan mendekati Akira, namun bocah itu-pun sedikit menjauh dengan berjalan mundur. Dengan memegang guling bergambar robot transformer, dia memandang takut sang Ayah yang perlahan mendekati dirinya. Ini yang membuat Sasuke merasakan kehampaan memandang anaknya sedikit menjauh darinya.
"Kami tidak bertengkar, Akira." Sasuke bergerak cepat dan langsung merengkuh bocah tampan. Akira sedikit memberontak dan perlahan air mata mengalir dari matanya lalu membasahi pakaian Ayahnya.
Sakura terenyuh melihat Akira kembali bersedih dan dia yakini tangisan itu—menyakiti hatinya perlahan sebagai Ibu. Dia tidak merasa pantas selalu membuat anak kesayangannya menangis. Dirinya mengingat sebelum ia menikah dengan Sasuke. Akira sering menangis dan ketika melihat gambar keluarga utuh—entah aku rasakan dia rindu dengan suasana itu. bahkan melihat gambar Ayahnya—dia bersikeras menyebutnya. "Pa…pa…"
Perlahan wanita musim semi ini mendekat lalu mengusap surai kehitaman milik Akira dengan lembut. Akira mendongak ke atas dan mendapati sang Ibu tersenyum seolah mengatakan Ayah dan Ibu tidak bertengkar, Akira.
"Akira sayang, sekarang memanggil Ayah padahal dulunya Papa kan?" seru Sakura membuat Sasuke terkejut bukan main atas pernyataan istrinya.
"Benarkah begitu, Akira?" tanya Sasuke dengan mengusap bahu anaknya.
Akira mengangguk dan menunduk lagi. "Bolehkah Akira tidur bersama kalian? Soalnya Akira takut dengan hantu…" cicitnya.
Sasuke menepuk kepala Akira. "Masa anak Ayah takut sama hantu?" ucapnya sambil mencubit hidung mungil Akira.
"Sakiiit…" ringis Akira mengusap hidungnya. "Hari ini saja? Ya… ya…" pintanya.
"Iya sayang," jawab Sakura.
Mata kelam Akira berbinar lalu mengulurkan tangannya seolah meminta gendong oleh Ayahnya. Sasuke pura-pura tidak mengerti hanya memandangnya saja. "Kenapa Akira?"
"Papa… gendong Akira ya…"
Adik dari Itachi Uchiha ini membeku mendengar panggilannya selain Ayah—dari Akira. Ada rasa hangat yang melimpah ruah dan dirinya menggendong anak tampannya walau sekarang agak sedikit berat. Sasuke langsung berdiri dan menepuk-nepuk punggung Akira dengan lembut—lalu guling yang dipegang Akira itu pun dibawa oleh Sakura.
Lama kelamaan Akira tertidur di gendongan Sasuke. Dirinya berdiri mendekati kaca pembatas balkon dan masih mengusap punggung Akira dengan lambat. Wanita musim semi ini perlahan mendekati sang suami dan anaknya dan kini berdiri disamping mereka berdua. Sakura sedikit melupakan pentengkaran karena kehadiran Akira di tengah-tengah mereka—seolah lenyap begitu saja emosi yang melingkupi atmosfer kamar mereka.
Dengan sedikit gemetar, Sakura memegang rambut Akira dan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Sasuke. Mereka sama-sama terdiam lalu ketika Sakura menurunkan tangannya darisana, Sasuke menahan pergelangan tangan Sakura sampai mata keduanya saling bertemu. Entah dorongan darimana, kepala Sasuke menunduk hingga mendekati wajah sang istri.
Begitu juga Sakura meletakkan tangannya di bahu Sasuke lalu memejamkan matanya. Seakan kedua kutub yang saling tarik menarik, bibir mereka saling bertemu sebentar lalu melepaskannya. Sorot mereka berubah dan merasa kecanduan akan ciuman keduanya. Mereka melakukan berulang kali dengan intensitas waktu dua detik saja.
Mereka sadar langsung memalingkan mukanya masing-masing. Sakura yang merasakan keheningan pun beranjak darisana lalu bergerak ke tempat tidur—dan merebahkan tubuhnya disana. Begitu juga dengan Sasuke yang menggendong Akira, dia pun bergerak lalu meletakkan tubuh anaknya di kasur mereka dengan lembut.
Terasa kecanggungan diantara mereka berdua, bahkan sama-sama membisu. Pria berdarah Uchiha ini juga merebahkan tubuhnya di kasur dan bergerak ke samping. Bersamaan pula Sakura bergerak—hingga keduanya berhadapan satu sama lain—lalu memandang anaknya yang berada di tengah-tengah keduanya.
Akira, buah hati mereka sebagai dinding penengah kedua orang tuanya. Dialah sebagai peredam dari pentengkaran antara orang tuanya—walau tidak sepantasnya bocah kecil mengalami seperti ini—tapi sudah merupakan takdir yang harus ia terima. Seharusnya orang tuanya sadar kalau tidak sepantas selalu bersikap egois. Mereka sudah mempunyai malaikat kecil yang mengharuskan keduanya menghargainya setiap saat. Seorang anak adalah sebagai pemersatu antara Ayah dan Ibu-nya.
"Sakura, apakah kita adalah orang tua yang egois?" tanya Sasuke dengan hati-hati mengusap rambut sang istri.
"Sebernanya tidak, aku yang egois. Hanya mementingkan Akira saja tanpa—" Sakura menggigit bibirnya hingga tangan Sasuke berhenti tepat di wajah istrinya.
"Tanpa?"
Sakura menurunkan tangan Sasuke yang berhasil menyentuh permukaan wajahnya nyaris mengenai bibirnya. "—tanpa mementingkan perasaan lelaki yang sudah menjadi suamiku dan orang masa laluku, Sasuke."
Sembari mengusap rambut merah muda milik istrinya lalu mengecup dahi Sakura singkat. "Hn, sekarang tidurlah." Sasuke tidak menggubris perkataan istrinya. Dia sudah menduga kalau Sakura menyimpan sedikit—minimal perasaan pada orang itu. siapa lagi kalau bukan—Sasori. Dirinya langsung bergerak dengan membelakangi istrinya.
Tapi Sasuke tidak menyadari kalau Sakura menutup mukanya dengan tangan—seolah merasa bersalah telah menyimpan sedikit perasaan pada Sasori. Kalau tidak ada Sasori, pasti dirinya sudah berada di alam fana. Karena Sasori yang selalu menyelamatkannya ketika dia berusaha melakukan aksi bunuh diri. Sasori juga yang memberi kalung sebagai kenangan, namun tiga tahun berakhir dengan dia menikah dengan orang yang telah menghamilinya. Siapa lagi kalau bukan Sasuke Uchiha.
"Maafkan aku."
Keduanya mengucapkan secara bersamaan di dalam hatinya, tanpa seorangpun yang tahu. Lalu mereka berdua terlelap dan tidak sadar—Akira tersenyum di dalam mimpinya. Karena berhasil membuat orang tuanya tidur bersama dengan dirinya. Walaupun kondisi tidak sebanding dengan kenyataannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Prang
Suara gelas yang dilempar sengaja oleh seseorang hingga menimbulkan serpihan tajam bertebaran di lantai. Seolah tidak peduli, dia membiarkan pecahan gelas itu tergeletak disana karena dirinya menganggap gelas itu bagaikan hatinya. Kini hatinya telah hancur tak bersisa—mengingat kalau sang pujaan sulit diraih. Bahkan lawannya kali ini sudah mengenggam hati wanita pujaan hatinya. Wajar saja—karena lawannya adalah suami dari wanita itu sendiri.
Cih, dia berasa pengecut sekarang. Buat apa dia menyimpan perasaan tak kasat mata ini terlalu lama. Dulunya dia berharap kalau wanita pujaan hatinya menjadi—miliknya. Namun roda berbalik ketika lelaki itu datang dan menghancurkan impiannya. Walau wanitanya dulu membenci sosok suaminya namun perlahan itu berubah. Dan satu yang menjadi penghalangnya—adalah Akira. Anak dari wanita pujaan hatinya dan lelaki itu. ikatan tak kasat mata membuat dia tak tega dengan kepolosan anak itu jika—menyangkutpautkan tentang orang tuanya. jikalaupun dia menikah dengan wanita pujaannya—dia tak pantas menjadi Ayah dari Akira.
Karena lelaki itu adalah Ayah kandung dan dia tidak bisa menyalahkannya.
"Sudah kuduga kau masih disini? Dan kenapa kamarmu mirip kapal pecah heh?"
Mata Hazelnut-nya memicing ke arah kanannya dan mendapati sosok sahabatnya yang tengah tersenyum meremehkan. Seolah mengatakan, kau sudah kalah. Mengapa masih mengejarnya?.
"Memang apa urusanmu, Deidara?" seru Sasori menatap tajam Deidara.
Deidara mendekati dan menyayangkan kondisi kamar sahabatnya. Ini pasti gara-gara Sakura. dirinya pun nyaris menginjak serpihan gelas jika matanya tak fokus melihat lantai. "Jangan katakan kau akan bunuh diri sebentar lagi, Sasori." Lelaki berambut pirang itu mengambil pecahan gelas itu dengan hati-hati dan menunjukkan pada Sasori.
Sasori tersenyum hambar. "Kau menginginkannya? Baiklah akan ku lakukan."
Kakak dari Ino Yamanaka—kini menjadi Shimura ini tanpa tendeng aling menonjok muka baby face milik Sasori. Beruntung pecahan itu berada di tangan kanan Deidara, kalau sampai ia melayangkan tangannya yang memegang pecahan kaca—bisa-bisa dia melakukan penganiayaan pada Sasori.
"Hentikan dengan muka sokmu, Sasori. Harus akui kalau kau menyimpan perasaanmu pada Sakura, tapi tidak segitunya kau frustasi sampai menghancurkan kamarmu—karena dia tidak menerimamu, baka!"
Sasori menghapus noda darah yang membekas di sudut bibirnya. Lalu dia menatap sahabatnya. "Kau tidak mengerti apa yang kurasakan. Seolah harapan palsu yang kuterima. Dulu aku berani menyatakan perang pada Uchiha itu, tapi sekarang semangatku lenyap ditelan bumi ketika mendapati Sakura menolakku!"
"Masih banyak perempuan lain, Sasori. Dia sudah milik Uchiha dan kau tidak bisa meraihnya—sejauh apapun kau berusaha," ucap Deidara. Dia menginginkan sahabatnya untuk menyerah sebelum hati menjadi mati. Dirinya tidak mau melihat Sasori terpuruk hanya gara-gara Sakura. dia tahu ini membuat Sasori marah padanya—tapi apa salahnya dia membantu sahabatnya.
"Tidak ada yang sama seperti—"Sasori memperlihatkan kalung yang berbandul lambang Akasuna pada Deidara. "—dia. Dan kau tahu, Deidara. Sakura masih memakai benda ini. Itu berarti dia masih—"
"Stop it, Sasori. Mungkin dia memakai itu karena sebagai kenangan saja—bukan karena untukmu," geram Deidara.
"Dia memakainya karena memiliki perasaan padaku. Kalau dia tidak mempunyai perasaan, mengapa sampai sekarang dia memakainya," seru Sasori.
Deidara tak menyangka karena hanya Sakura. Sahabatnya memiliki pendapat seperti itu, mungkin Sakura dulu punya sedikit perasaan. Tapi sekarang bagaimana Sasori bisa berargumentasi kalau Sakura masih sama seperti yang dulu.
"Sudahlah, Sasori. Kau hanya menyakiti dirimu saja," pinta Deidara.
"Kalau saja Uchiha itu tahu kalau benda itu masih dipakai oleh istrinya. Bagaimana jadinya?" Sasori masih berbicara seolah hanya dia yang disana—tidak ada Deidara.
Deidara menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu terobsesi, Sasori." Dia mengindahkan perkataan sahabat yang tengah patah hati karena Sakura Uchiha.
"Aku tidak terobsesi, Deidara." Sasori tersenyum tipis seraya melihat bandul itu dan dia bergumam dalam hati. "Kita pasti bersatu, Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kandungannya sangat sehat sekali, Nyonya Uzumaki," seru dokter cantik bernama Shizune ketika memeriksa kandungan Hinata yang menginjak tujuh bulan.
Hinata mengusap perutnya dengan lembut. "A-arigatou, Shizune-senpai." Wanita itu perlahan berdiri namun dibantu oleh suaminya sendiri—Naruto.
Dengan senyuman manisnya, Hinata berterima kasih pada Naruto sudah menemani seharian ini sampai meninggalkan pekerjaannya. Ia tahu kalau kemarin dia sempat mengejar Akira dengan kondisi seperti ini membuat malam harinya dia drop—sampai Naruto nyaris frustasi dan menyalahkan karyawannya kemarin. Bahkan sampai mengarah pada Sasuke—sahabatnya. Segitukah seorang Naruto yang kalut yang biasanya bersikap ceria.
"Hm, Naruto-kun."
Naruto mengulum senyuman andalannya. "Ada apa Hinata-chan?"
"Hari ini kau harus minta maaf dengan sahabatmu," seru Hinata.
Dahi Naruto mengerut, dia tidak pernah tahu kalau pernah marah pada Sasuke. Memangnya dia marah soal—astaga gara-gara kondisi istrinya sempat drop membuat dia melimpahkan kesalahan pada Sasuke. Padahal saat itu kondisi Sasuke—ia perkirakan sedang menghadapi masalah yang lebih berat.
"Aku lupa dengan hal itu, Hinata-chan," kilah Naruto menggaruk kepalanya.
Hinata pun berdiri dan tangannya menepuk wajah suaminya. "Kita tahu kondisi Sasuke dan Sakura masih seperti itu. Aku kasihan dengan Akira, Naruto-kun. Masih kecil, dia sudah melihat orang tuanya—"
Jari telunjuk Naruto menghentikan perkataan Hinata. Sontak wajah Nyonya Uzumaki ini memerah. "Tidak perlu menghawatirkan mereka. Percayalah mereka akan menjadi keluarga yang bahagia—seperti kita nantinya." Nyaris dia memeluk Hinata kalau saja Shizune berdehem pelan dengan pasangan muda itu.
"Kau melupakanku, Tuan Uzumaki," seru Shizune.
"Ah-eh, gomen Shizune-san." Naruto hanya menyengir kecil sedangkan Hinata merona malu.
Setelah pemeriksaan itu, Shizune mempersilahkan pasangan Uzumaki ini keluar dari ruangannya. Sembari keduanya keluar dari ruangan itu, alangkah terkejut melihat sahabatnya berada disana. lalu keduanya menghampiri sahabatnya tengah menyenderkan tubuhnya di dinding—seolah menunggu sesuatu.
"Sasuke!"
Pemilik nama itu menoleh dan agak terkejut, namun dia tersenyum tipis. "Suatu kebetulan kita bertemu disini, dobe… Hinata."
"Memangnya ada keperluan apa disini kau, teme?"
Sasuke tidak menjawab lalu jarinya menunjukkan ke ruangan. Naruto dan Hinata melihat ruangan itu, kemudian mendapati Sakura berbicara dengan Tsunade—Ibu kandungnya. Tampak serius, akan tetapi pintu dibiarkan terbuka karena ada Akira yang tak bisa diam. Sehingga dengan berat hati, Tsunade membiarkan pintu ruangannya terbuka—namun tidak lebar.
"Akira ikut?" seru Naruto.
Tepukan mengarah pada bahu Naruto sehingga mata biru langit mengarah pada Sasuke. "Jika kami pergi, dia selalu ikut. Lagipula kami akan belanja bulanan hari ini."
Naruto gantian dengan menyikut lengan Sasuke. "Kalian sudah akur ya?" ucap anak tunggal dari Minato dan Kushina, namun mendapat lirikan tajam dari Sasuke.
"Urusai na…" desis Sasuke.
"—kalian berdua ternyata disini." Sakura keluar dari ruangan itu dan menghampiri Naruto dan Hinata serta suaminya. Tentu saja Akira mengekor dari belakang Ibu-nya. Bahkan Tsunade menggeleng kepalanya melihat tingkah bocah—cucunya yang hiperaktif seperti Ibu-nya.
"Sakura-chan…." Pekik Naruto dan langsung mendapat tepukan kuat dari sahabatnya—Sasuke.
Sakura hanya mengulum senyuman manisnya. "Ini rumah sakit, bukan panggung konser, Naruto," ujarnya.
"Iya om Naruto inii… nggak tahu malu," celetuk Akira.
Naruto mengepalkan tangannya untuk menjitak kepala Akira, akan tetapi tertahan oleh Hinata. Seketika Naruto menoleh ke samping dan mendapati Hinata tersenyum manis namun artian berbeda.
"K-kalau begitu kami permisi dulu. Bye…" seru Naruto segera mengenggam tangan Hinata dan perlahan menjauhi mereka yang kebingungan—dengan sikap tiba-tiba Naruto dan Hinata.
Namun Akira yang berbicara memecah keheningan diantara dia, Ayah dan Ibunya. Seolah terkejut mendengar perkataan Akira. Sasuke menepuk dan sedikit mengacak rambut milik anak kesayangannya itu, dan Sakura hanya terkikik pelan melihat Akira tengah memberengut kesal seakan ngambek dengan Sasuke.
"Tajam sekali perkataanmu, Akira," tegur Sasuke dengan masih mengacak rambut anaknya itu.
"Memang begitu kenyataannya. Tante Hinata menakuti Om Naruto, lihat saja tadi Om Naruto langsung menghentikan ucapannya," gerutu Akira memaksa tangan besar Ayahnya untuk turun dari kepalanya.
Sasuke pun menurunkan tangannya dari kepala Akira. "Hn, bilang saja itu pada Om Naruto dan Tante Hinata nanti ya," ucapnya.
"Ti-tidak…"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Ku kira kita mau belanja bulanan hari ini. Akira mau mainan baru kan?" bujuknya.
Sekejap sudah gerutuan Akira dengan diganti nada riang yang dikeluarkan dari bibirnya. "Pokoknya Ayah harus membeli mainan. Kalau tidak, Akira akan ngambek seharian…" dengus Akira menunjuk jarinya ke wajah Ayahnya.
Sasuke mengerutkan dahinya. "Siapa yang menyuruhmu begitu, Akira?"
"Mamaaa…"
Adik dari Itachi Uchiha melirik istrinya. "Apakah benar?"
"Akiraa…, kau memakai alasan Mama demi mainan," seru Sakura.
"Tapi kan…" sahut Akira memasang wajah sedihnya.
"Oke, cukup. Kita pergi. Keburu malam." Sasuke menghentikan sedikit adu mulut antara mereka dan pergi meninggalkan keduanya.
"Papaaa… tunggu…"
Bersamaan itupula Tsunade yang melihat interaksi mereka—sangat bersyukur. Karena kehadiran Akira, bisa mempersatukan sikap egois antara kedua orang tuanya. Dia hanya tersenyum tipis dan berdoa agar mereka hidup bahagia dalam kenyataan—bukan sandiwara belaka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Astaga, kenapa kau membeli ini lagi, Sasori?"
Pemuda berambut merah darah menolak barang yang disodorkan oleh Sasori. Bahkan dia nyaris melempar barang itu—jika saja Temari menahan pergelangan Gaara yang ingin membantingkan buah kesukaannya ke lantai.
"Oi…Oi, aku tidak ingin kalian bertengkar gara-gara buah kesukaanku?!"
Sasori dan Gaara saling menjauhkan dirinya masing-masing. Lalu Temari merebut kantong berisi buah kesukaannya, Wanita yang kini bermarga Nara ini menatap kakak sepupunya itu dengan pandangan menelisik.
"Apaakah hanya ini yang ku pinta, Sasori-nii?" seru Temari.
Sasori malah membuang mukanya. "Kalau mau beli, minta saja dengan suami pemalasmu, Temari!" geramnya.
"Kapan lagi aku meminta pada kakak sepupuku di Konoha? Lagipula aku warga Suna sekarang," ucap Temari sambil memakan buah kesukaannya—apel.
Tangan Sasori mengambil kunci motornya lalu meninggalkan kedua orang yang memiliki ikatan darah disana. Hingga sampai suara dingin milik adik sepupunya membuat dia menoleh ke belakang.
"Jangan gara-gara patah hati, kau akan bunuh diri setelah ini, Sasori."
Sasori berdecih dengan sikap Gaara yang tak pernah memanggilnya sebagai kakak, dia menyeringai tipis. " Kau orang kedua yang mengatakan itu, Gaara."
Gaara menautkan alisnya. "Memang kau berniat melakukan itu?" tanyanya.
"Hn, tidak. Ku kira—ah. Lihat saja nanti," seru Sasori dan kemudian keluar dari kediamannya.
Setelah Sasori menjauh, Temari menepuk bahu Gaara singkat. "Darimana kau tahu hal itu, Gaara?" ujarnya.
"Coba saja kau lihat kamarnya sekarang, Nee-san." Lalu Gaara juga meninggalkan Temari disana dan itu—membuatnya menggelengkan kepalanya.
"Dasar…"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hiruk pikuk pada suatu pusat perbelanjaan mampu membuat seorang Sasuke Uchiha tidak menyukai kebisingan—menggerutu tidak jelas walau hanya dalam hati. Salah dia mememilih hari Sabtu yang sebagian orang libur dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang tercinta. Namun, dia memang sempat pada hari ini saja. Begitu juga dengan istrinya, Sakura.
Kini dia mendorong trolli dan matanya melihat isi keranjang dan menggelengkan kepalanya. barang-barang yang dibutuhkan cukup banyak karena ini tanggal muda. Ada buah-buahan, susu anaknya—bahkan susu miliknya juga. Walau seperti ini, dia membutuhkan kalsium untuk tetap sehat, bukan.
"Ayah, boleh kan aku mengambil cokelat?"
Sasuke tidak habis pikir, cokelat yang merupakan makanan yang tidak disukainya—menjadi kesukaan sang anak. Rasa manis yang membuat tenggorokan sakit dan sampai sekarang dirinya sangat menghindar makanan atau minuman yang manis.
"Papaaa…"
Suara Akira agak nyaring membuat Sasuke tersentak. Dia mengeluarkan senyuman tipisnya. Dengan mencubit hidung kecil Akira, dia mengambil barang—cokelat itu masuk ke dalam trolli. Tanpa kata dan Akira tahu kalau jika Ayah mengambilnya berarti boleh, maka dari itu dia mengambil lagi sedikitnya dua batang cokelat. Lalu ketika Akira mengambil yang ketiga—suara lembut milik Sakura memberhentikan Akira mengambilnya.
"Cukup dua, Akira."
"Tapi Ibuu…"
"Akira, jangan berlebihan," tegur Sakura yang meletakkan dua macam sayuran—kangkung dan sawi ke dalam trolli. Tanpa menyadari, Sasuke menatapnya sampai Sakura membalas tatapan dengan sengit.
"Kenapa menatapku seperti itu, Sasuke?"
"Tidak ada. Memag salah menatap istrinya?" ujar balik Sasuke.
Sakura memalingkan wajahnya dan kembali mengambil benda yang masih harus dibeli. Akira menatap bingung dan tersenyum jahil. "Ibu pasti malu ditatap sama Ayah…"
"Masih kecil sudah pintar hm?" seru Sasuke mendorong pelan trolli sampai di bagian minuman.
Akira malah terus mengatakan itu berulangkali, walau terlihat Sasuke menahan emosi untuk mencubit hidung anak kesayangannya. Namun dia mengulum senyum hanya diperuntukkan untuk keluarganya. Dan kedekatan menimbulkan keirian di mata yang melihatnya.
Setelah mendapati Sakura tak jauh dari posisinya dan Akira berada. Dia pun sibuk memilih merk minuman sampai tangannya mengambil, akan tetapi secara bersamaan—tangannya bersentuhan dengan tangan yang lain. Sasuke menoleh ke samping lalu terkejut ketika melihat lelaki berambut merah pucat.
"Kau… hn, Sasori."
Saosori hanya menatap datar saja lalu mengambil merk minuman lalu pergi meninggalkan Sasuke. Namun langkahnya terhenti ketika lelaki bermata hitam kelam tersebut—memancing dengan sebuah kalimat berupa pertanyaan dan—Sasori menoleh dan menatap kembali Sasuke.
"Aku tidak mau membuat keributan di tempat ramai. Dan menurut persepsiku—kau tidak suka hal yang berisik," ujar Sasori.
Sedikit menyeringai. "Sebernanya aku tidak menginginkan ini, namun melihat kalung yang dipakai oleh Sakura. Sepertinya kau yang memberikannya hei, Sasori?" tanya Sasuke.
"Kau merasa cemburu?" pancing Sasori.
Meskipun lelaki bernama Sasori itu berusaha membuat Sasuke memukulnya dan memicu keributan, akan tetapi—Sasuke sendiri hanya membalas dengan datar namun dengan nada dingin dan mengancam.
"Tidak. Aku hanya penasaran—buat apa kau memberikannya—jelas-jelas sekarang dia istriku," Sasuke tersenyum menang melihat mata Sasori berkilat marah padanya. Well, dia berhasil dipancing.
Sasori belum menyadari kalau emosinya tengah menaik dan nyaris dia berteriak kecil—jikalau dia tidak mengingat berada di pusat perbelanjaan. Lelaki itu menepuk dahinya dan kembali menatap Adik dari sahabatnya—Itachi Uchiha. Dia sedikit tertawa pelan, "Apa hakmu kalau aku memberikannya karena kami saling menyukai heh, Sasuke?"
"Itu dulu. Karena saat kau bertemu dengannya, dia dalam kondisi terpuruk—dan kau menyelamatkannya. Bagaimana bisa dia cepat berubah dan menyukaimu hn?" Sasuke merendahkan suaranya demi menekan amarah yang mulai naik.
"Memang kau bisa memperkirakan bagaimana suka itu muncul? Itu tak bisa dilogika-kan dalam perhitungan apapun, Sasuke," geram Sasori.
"Benci dan cinta dipisahkan dalam lapisan paling tipis. Dia dulu membenciku—bahkan tak mau menolehku—dan lihatlah sekarang kenyataannya kalau dia perlahan menerimaku." Seringai Sasuke semakin lebar melihat Sasori berbalik arah dan tak menggubris perkataannya.
Beberapa langkah kaki, Sasori sekilas menoleh dan bertemu pada iris kelam milik Sasuke. "Dengar ya, Sasuke. Walau dia sudah menjadi milikmu. Namun—perasaan sukanya padaku yang sedikit akan berubah menjadi cinta. Kita belum selesai berperang, jaa…"
Raut muka Sasuke menahan emosi dan tangannya mengepal seolah ingin menonjok wajah Sasori itu. akan tetapi segara ia kendurkan ketika melihat Akira berlari menghampirinya. Tadinya dia bersyukur kalau pembicaraannya dan Sasori tak terdengar oleh Akira—karena kondisi yang ramai dan kemungkinan hanya dia dan Sasori yang menikmati pembicaraan itu.
Namun berbalik pada diri—Sakura yang melihat siluet suaminya tengah berbicara serius dengan Sasori. Dia merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua lelaki itu dan dirinya tak menyadari kalau yang dibicarakan Sasuke dan Sasori adalah dia. Dirinya pun kembali ke arah suaminya dan sempat seseorang berbisik padanya—terdengar sayup-sayup. Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat sosok Sasori tengah tersenyum—kemudian menghilang dari orang yang berlalu lalang.
Telinganya berdengung mendengar kalimat itu berulang kali memasuki otaknya.
"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. *To Be Continued*
Wulanz Aihara Uchiha
Kembali dengan karyaku satu ini, maaf sudah dua bulan baru update. Ini saja mencuri waktuku mengetiknya hahaha… apalagi sedang masa sibuk-sibuknya. Namun, melihat review yang meminta cepet update atau sekedar penasaran saja, maka dengan senang hati aku melanjutkannya.
Apakah ceritaku semakin membosankan atau apalah? Maklum aku kehilangan mood untuk menulis akhir-akhir ini, namun ketika mendengar lagu—aku terus mengetiknya hingga selesai sampai sekarang ini.
Aku tak tahu akan mengupdatenya kapan, yang jelas menunggu waktu luang yang cukup sehingga aku bisa lebih berkonsentrasi mengetiknya hihihi :D
Makasih juga buat kritik dan sarannya, aku bangga dan menerima dengan senang hati.
Oke sekian bacotanku. Bye… ^^
Thanks for reading and reviewing my story
karimahbgz, Mr. J, Tania Hikarisawa, Ajisai Rie, Asakura Ayaka, poetry-fuwa, "Guest", Hanna Aiko, Azakayana Yume, Nedya-Chan, bluepinkgirl, Kim Keyna, Rie saka, hachikodesuka, sasusaku uciha, iya baka-san, K, Nara Kenkari, Guest, anggraini, Guest, Rue-zoldyck, bitter cheese, hiruka aoi sora, Kikkawa miharu sasusaku, Neko Darkblue, Fumie Ai, Summer, blyskue, PL Therito, Deshe Lusi, Guest, Brown Cinnamon, sasusaku kira, , tita, melyarahmawinarti, Sparyeulhye, Haruchi Nigiyama, Guest, Hikari Matsushita, akasuna no ei-chan, , Deauliaas, Morena L, MuFylin, poetri-chan, Raditiya, Ichikawa soma, Morena gak login, firuri ryuusuke, Dhel a fey, Utsukushii Haruhi, HELLoIRIS, Guest, Haruchi Nigiyama, Kim lita xi yusung, AgthaRitha, Jellalna, Putri Hassbrina, Tania Hikarisawa, K, Hany-chan DHA E3, ocha chan, Kikkawa miharu sasusaku, aguma, white moon uchiha, blyskue, , , sasusaku kira, Seiya Kenshin, yuriko danno, VILocKey, Hikari Matsushita, angodess, poetri-chan, Novrie TomatoCherry, Vermthy, SasuSakuSasoGaa, Bunga Sakura, hiruka aoi sora, azriel, hanazono yuri, nabilla, Sanny UchiHaruno Swift, sasuke, WonderWoman Numpak Rajawali, Kazu-chan, Uchiha maiia, nadya Harvard, syifafadilah, Queennara, Azi-chan, Hany-chan DHA E3, barbeque, Nice Reviewer, Brown Cinnamon, Guest, YunSa uchiha, K, anzu qyuji, Dark Courriel, emerallized onyxta, summer dash, bluepinkgirl, Seiya Kenshin, firuri ryuusuke, Kekayi Nina, , Kim yeri a.k.a lita yeoja savers'Elf, Haekal Uchiha, Guest, ocha chan, Dark Courriel, Guest, cheryxsasuke, WatchFang, Ai Nekozawa Dark Angel, Salmonella Typhosa, Guest, Anka-Chan, Aoi Lia Uchiha, jideragon21, Fortunemelo, sasuke scs, Heart Monochrome, menyelinap malam-malam, Brown Cinnamon, Lita yeoja s-saver'elf and i'm j-pop'k-popvers, Seiya Kenshin, NE, northern light, kikkawa miharu sasusaku, Ichikawa soma, Alifa Cherry Blossom, Neko-DarkBlue,white moon uchiha, Ricchi, nadya Harvard, anzu qyuji, Arakafsya Uchiha, Guest, chidori, Guest, pha chan, Anisa Phantomhive, Dark Courriel, Anka-Chan, amu, Arakafsya Uchiha, W, PinkyNavy, Akari Chiwa, jideragon21, Ai Nekozawa Dark Angel, syifafadilah, hachikodesuka, CN Bluetory, Ricchi, sunny, white moon uchiha, Seiya Kenshin, happy. , Universal Playgirl, UchiHarunoKid, Yumi Murakami, Usui Takumi Wife, chezahana-chan, SugarlessGum99, ahalya, Zecka S. B. Fujioka, Ichikawa soma, chibiusa, Gadis desa, hamster-pink, cheryxsasuke, Haekal Uchiha, Natsumo Kagerou.pengamat tertawa, Bea-chan, Elang23, kasih hazumi, The Deathstalker, Andrea brittania fleischer, nandaliciouss, Dark Courriel, Kitsuri Mizuka, Kumada Chiyu, Azi-chan.
*Maaf bila ada nama yang salah atau ganda^^*
Tsurugi De Lelouch
Palembang, 10 November 2013
