Disclaimer: I do not own InuYasha!
Warnings : OOC, blood/gore, fingering, and fluffy.
Dia terperangkap di antara dinding gua dan tubuh laki-laki itu, sebuah tangan besar dan kuat mencekik lehernya, Kagome terkesiap. Rintihan terselip dari mulut Kagome, saat merasakan cakar-cakar itu semakin dalam menembus kulit dan menusuk dagingnya. Kedua kaki Sesshoumaru menghimpit kedua pahanya, tubuhnya menekan Kagome, matanya menatap tajam penuh amarah. Segala usaha Kagome agar terbebas dari siksaan itu sia-sia, dia berjuang sekuat tenaga untuk memompa udara kedalam paru-paru. Kagome merintih kesakitan, dan rintihannya itu membuat youkai itu hampir tersenyum.
Kedua sudut bibir Sesshoumaru sedikit terangkat, matanya berkilat penuh dengan kemenangan. Kagome memejamkan matanya, tidak ingin melihat wajah puasnya. Rasanya dia sudah di ujung batas, di tepi jurang kematian yang menunggu untuk melahapnya. Disaat dia merasakan titik terendah di saat itulah youkai itu mengendurkan cengkramannya, walau masih memenjarakannya. Kagome megap-megap mengisi paru-parunya dengan udara, tulang lehernya terasa remuk, dan dadanya sakit. Matanya berkunang-kunang, bumi yang dipijaknya seakan berputar-putar di kakinya.
Sesshoumaru melepaskan tangan kanannya yang mencengkram leher Kagome, matanya memandangi bibir Kagome yang terbuka. Satu jarinya menelusuri pipi Kagome menggunakan ujung cakar dari jari telunjuknya, gerakannya mengambang. Cakarnya terus bergerak ke bibir bawah Kagome kali ini dengan penekanan turun ke leher, belahan dadanya lalu kepusarnya.
Tangannya berhenti disana, cakarnya menekan perut Kagome yang rata. Gerakannya sangat perlahan seperti tidak ingin melewatkan satu inchi pun, cakarnya berhasil membuat jejak goresan di semua tempat yang telah di telusuri olehnya. Goresan itu tidak terlalu dalam namun cukup untuk membuat darah mengalir keluar dari kulitnya, di bibir Kagome darah mengalir lebih deras bila dibandingkan tempat yang lain.
Kagome tidak mengerti apa yang coba dilakukannya, dia tidak mengerti sama sekali. Pertama-tama dia membawanya kembali dari kematian, pertemuan kedua dia menghina dengan kata-katanya, kemudian dia menolongnya lagi saat serigala besar bau itu hampir menggigit putus kepalanya. Baru saja dia hendak meremukan tulang lehernya hingga mati, dan sekarang?
Dengan was-was Kagome menanti siksaan apa lagi yang akan dilakukannya, dan dengan waktu yang dia miliki dia memikirkan berbagai cara untuk bebas dari cengkramannya. Walaupun dia terlihat terlalu kuat sebagai lawannya tapi pasti ada suatu cara yang bisa digunakannya untuk bebas, pasti ada! pikirnya.
Bau wanita ini sekarang bercampur dengan rasa takut, itu bagus karena dia memang harus merasa takut padaku pikir Sesshoumaru. Sedikit bermain dengan mangsa tidak akan ada bedanya, dia ingin melihat hanyou itu gemetar ketakutan. Dia ingin membuatnya memohon untuk melepaskannya dan memberinya kesempatan hidup lagi, dia harus tahu tempatnya, dia harus mengerti derajat seorang hanyou.
Tetapi tujuan awal itu menguap tak tersisa, bagaikan tetesan air di bawah terik matahari musim panas. Perbuatan Sesshuomaru selanjutnya diluar dari rencananya, hal yang akan dia sesali dan dia syukuri oleh sebagian dirinya di kemudian hari tapi tidak hari ini.
Bau darah Kagome tercium berbeda, lebih manis dibandingkan bau darah biasanya. Seperti bau madu yang bercampur dengan bau karat, membuat Sesshoumaru ingin merasakannya. Bibir mereka bertemu, darah wanita itu membasahi bibir Sesshoumaru. Bibir Kagome begitu lembut saat bertemu dengan bibirnya, begitu hangat dan basah oleh darah.
Desakan itu menyerang Sesshoumaru lagi, menghimpitnya dengan ketidak berdayaan untuk menolak. Dia menjilat darah Kagome yang sekarang membasahi bibirnya, merasakan rasa manis bercampur rasa besi. Sesshoumaru menarik diri untuk menatap bibirnya yang merekah, titik darah mengembang menjadi tetesan lain yang siap mengalir.
Kedua alis Kagome terangkat, dia amat sangat terkejut dengan tindakan youkai itu. Itu diluar ekspektasinya, kecupannya begitu lembut bila dibandingkan dengan cakarnya yang tajam menusuk. Kagome terperangah menatap youkai itu menjilat darah Kagome di bibirnya, wajah youkai dingin itu tetap datar tetapi matanya kini berkilat-kilat oleh sesuatu.
Melihat matanya membuat Kagome terhenyak, jantungnya mulai berdegup kencang. Kagome tidak mengerti apa yang dia rasakan, dia tidak mengerti apa yang dia tunggu tapi yang dia tahu saat dia melihat youkai itu menjilat darah di bibirnya membuat sesuatu di dalam dirinya begejolak, kini Kagome antusias menanti apa yang akan selanjutnya dia lakukan.
Tidak lagi terpikirkan oleh Kagome untuk berusaha bebas dari cengkramannya, keantusiasannya kali ini sama sekali berbeda dengan semua pengalaman berada di tepi maut yang pernah dirasakan olehnya. Semua pengalaman itu memang selalu membuatnya bersemangat, tetapi yang dirasakannya kali ini jauh berbeda dari yang sebelumnya.
Sesuatu yang baru untuknya ini membuatnya merasa lebih hidup, membuat darahnya mendidih, nyalinya bergetar menggelegar di dalam wujud suatu bentuk pengharapan. Berharap untuk sentuhan, tubuhnya berteriak meminta perhatian dari youkai tampan yang mematikan ini.
Kecupan pertama itu membuat Sesshoumaru semakin lapar untuk merasakan lebih dan lebih lagi dari dirinya, mata bulat yang besar menatapnya terkejut. Bibir wanita yang dicengkramannya terbuka, mengundangnya. Apa yang dilakukan Sesshoumaru bukanlah suatu tindakan yang akan dibanggakannya kemudian hari, walau begitu bukan berarti dia tidak menyukainya, dia bisa mendengar denyut jantung wanita itu semakin berpacu cepat dan kencang. Walaupun sedikit, dia bisa melihat nafasnya semakin memburu, dan bau kebangkitan hanyou cantik itu menyerbu penciumannya.
Bau itu membuat Sesshoumaru hampir gila, kehilangan akal, dan kehilangan kekuatannya. Kekuatan untuk mengontrol tubuhnya, mempertahankan harga dirinya. Kemampuan untuk mengendalikan diri adalah hal yang dibanggakannya selama ini., namun saat ini kebuasan Sesshoumarulah yang mengambil alih.
Kebuasaan dirinya yang terpenjara telah berhasil menerobos penjagaannya, tidak lagi bisa dihentikan. Sisi buasnya itu ingin menaklukkannya, dia ingin membuat wanita ini bertekuk lutut memohon padanya. Sessoumaru telah menaklukannya dalam pertarungan dan dia akan menaklukannya dengan cara lain. Hanya dengan memikirkan itu telah membuat satu sudut bibir Sesshoumaru sedikit terangkat.
Sesshoumaru memandang wajahnya, matanya terpejam, bibirnya terbuka, menyerah pasrah. Begitupun dengan tubuhnya yang kini rileks di dalam himpitannya, tidak ada lagi usahanya untuk berontak. Dia bisa saja menancapkan cakar tajam kelehernya dan memisahkan kepala itu dengan badannya dengan mudah, tetapi hasrat untuk membunuhnya telah surut tersapu gelombang nafsu.
Mahluk itu kini akan memuaskan hasratnya yang lain, yang selama ini ditahannya. Hasrat yang ditekannya itu kini berontak, meledak di tubuhnya yang semakin panas. Sesshoumaru mencium bibir Kagome, melumatnya dan memasuki gua hangatnya.
Mata Kagome terpejam, begitupun Sesshoumaru. Tubuh Sesshoumaru lebih menghimpitnya lagi, tubuh Kagome begitu sempurna melengkapinya, bagaikan dua potongan terpisah yang akhirnya bersatu. Ciumannya semakin mengganas, dan Kagome membalasnya. Mereka bergerak seirama, mulut Kagome begitu panas dengan hasrat yang sama dengannya.
Sesshoumaru menulusuri bibir Kagome dengan lidahnya yang bergerak menyusuri semua bagian dengan sentuhan ringan yang membuat tulang di tubuh Kagome meleleh. Tangan kanannya yang bersemayam di perut Kagome bergerak perlahan membelai bagian samping tubuh Kagome yang tersekspos, tidak terlindungi lagi oleh hadajubannya. Tubuhnya terasa dingin di tangan besarnya yang hangat, kulit Kagome begitu halus di tangan kasar Sesshoumaru.
Sentuhan Sesshoumaru membuat semua bulu halus di tubuh Kagome berdiri, membuat dadanya menegang, membuat hatinya bergetar, dan merinding untuk alasan yang bagus. Kagome bergerak memenuhi irama Sesshoumaru, nalurilah yang menuntunnya. Kagome bisa merasakan sebuah desakan di dalam dirinya, dia ingin merasakan semua bagian dewa penolongnya itu lagi dan lagi. Sentuhannya, ciumannya, tubuh hangatnya yang menghimpit membuat Kagome tenggelam di dalam kegilaan dan kehausan yang sepertinya tidak akan pernah hilang akan Sesshoumaru.
Taring Sesshoumaru dengan sengaja menggores sudut bibir bawah Kagome, cairan hangat merah itu mengalir lagi walau tidak sederas luka yang pertama dan tidak berlangsung lama karena Sesshoumaru menjilatnya secara perlahan. Tangannya menjelajah ke dada Kagome, ibu jarinya memainkan benda kecil yang telah menegang. Dia menariknya lembut dengan ibu jari dan telunjuknya, Kagome merintih kecil. Setelah itu Sesshomaru memberikan sentuhan malas dan ringan yang membuat tubuh Kagome menggelinjang.
Sesshoumaru menjilat bibir Kagome dengan lembut, lalu menelusuri jejak luka cakar yang dia ciptakan tadi dengan lidahnya. Lidahnya menyapu semua jejak darah di leher dan dada, luka yang terbuka perlahan menutup karena saliva Sesshoumaru yang menyembuhkan. Dia berhenti di salah satu bukit indah Kagome yang ditinggalkan, lidah Sesshoumaru mempermainkannya.
Kagome terpekik tertahan saat taring Sesshoumaru menggores kulit sensitif di bagian yang menggelap, Kagome berusaha menarik kedua tangannya yang masih diatas kepalanya dalam cengkraman Sesshoumaru agar terlepas. Genggaman Sesshoumaru di pergelangan tangan Kagome malah semakin mengencang, mencegahnya bergerak lebih banyak, ujung cakar Sesshoumaru menembus kulitnya yang lembut.
Taring itu menggigit Kagome cukup keras, tetapi tidak untuk menggores atau memotong benda kecil yang menegang di dadanya. Kagome menggeram saat kenikmatan dan rasa sakit bercampur menjadi satu, Sesshoumaru menarik diri. Memandangi lekuk tubuh indah setengah telanjang Kagome yang ternodai oleh jejak cakar dan taringnya. Bukit di dada Kagome masih bergerak naik turun dengan gairah, tubuhnya mengkilat oleh selapis tipis keringat.
Kulitnya dihiasi oleh seberkas darah di beberapa bagian, tapi tidak ada lagi luka di tubuhnya. Hanya dari pergelangan tangannya yang masih dalam cengkraman Sesshoumarulah darah kini mengalir, walaupun begitu Kagome tidak merasakan sama sekali sakit yang berasal dari sana karena pikirannya jauh teralihkan ke surga baru yang ditemukannya bersama Sesshoumaru.
Mata Kagome masih terpejam, tubuh Kagome menegang. Jantungnya berdetak semakin keras, kepalanya berdenyut-denyut. Bagian bawah tubuhnya pun ikut berdenyut, berteriak meminta perhatian dengan mengeluarkan cairan licin dan hangat lebih banyak dari sebelumnya. Cairan yang tidak pernah dia tahu dia miliki sebelum ini, walaupun dia sudah mencapai usia dewasanya satu tahun yang lalu tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk merasakan hal seperti yang sedang dialaminya sekarang ini.
Hanya Sesshoumaru yang berhasil membuatnya merasa begitu rapuh, begitu butuh penawar. Hanya dialah yang bisa memberikan penawar, sang dewa penolong yang kemungkinan besar musuh yang dikejar Kagome. Apapun yang terjadi nanti tidaklah masuk ke dalam pikiran Kagome, saat ini hanyalah bagaimana tubuhnya yang tegap besar itu menghangatkannya, memberikan penawar dari rasa nikmat yang menyiksa.
Kenikmatan yang menyiksa yang berasal dari setiap sentuhan Sesshoumaru yang membuat tubuhnya merinding, ciumannya membuatnya bergetar. Lidahnya membuat dia begitu rapuh, Kagome hanya bisa menunggu kebaikan hati Sesshoumaru untuk menuntunnya, memberikannya apa yang dibutuhkannya, apapun itu.
Rasa itu begitu membuat Sesshoumaru frustasi, kelembutan kulit wanita itu membuatnya ingin membelai seluruh tubuhnya. Sedangkan bentuk tubuhnya membuatnya susah untuk berpaling, rintihannya membuatnya ingin melakukan apapun untuk mendengarnya lagi, untuk memuaskannya dan untuk memuaskan dirinya sendiri. Tubuh Sesshoumaru semakin memanas, terbakar oleh gairah.
Baunya semakin kuat oleh kebangkitan yang semakin membanjir, wajahnya semakin menarik dengan rona gairah yang menghiasinya. Perhatian Sesshoumaru kembali ke bibirnya yang merah karena darah, Sesshoumaru menciumnya lagi. Tubuh bagian bawah Sesshoumaru yang menegang membuat fundoshi yang dipakainya menjadi tidak nyaman. Itu tidak luput dari perhatian Kagome, dia bisa merasakan benda yang keras itu menekan perutnya. Tanpa sadar Kagome menggerakkan pinggulnya untuk meredakan panas yang dia rasakan dibawah sana.
Gerakan yang dibuat hanyou itu sedikit meredakan rasa tidak nyaman yang dirasakan Sesshoumaru dari tempat yang sekarang penuh dengan aliran darah, bagian itu sudah sepenuhnya bangkit. Sesshoumaru menarik diri dari ciuman disaat itulah dia mendengar Kagome menggeram, geraman kekecewaan.
Seberapapun kuatnya, seberapapun keras kepalanya wanita hanyou ini atau wanita youkai manapun tidak akan ada yang sanggup menolaknya. Sesshoumaru menikmatinya, sangat. Tiba-tiba mata wanita itu terbuka, pandangan mereka bertemu.
Tatapan hanyou itu tidak lagi tajam menusuk, matanya seakan melontarkan tanya 'Apa yang kau lakukan? Apa yang kau inginkan?' itulah yang ditangkap oleh Sesshoumaru. Sesshoumaru menarik diri dengan tiba-tiba mundur, dia sudah tiga kaki jauh dari wanita itu.
Kagome terkesiap, saat cakar yang menusuk pergelangan tangannya terlepas tiba-tiba membuat darah mengalir lagi. Dia menggeram protes bukan karena sakit yang dirasakannya di pergelangan tangannya tetapi lebih karena serbuan Sesshoumaru yang mendadak berhenti. Apa yang terjadi dengannya, mahluk yang paling aneh yang pernah di temui oleh Kagome.
Youkai itu menatapnya dengan dingin, dagunya terangkat. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, itu membuat Kagome marah. Kagome marah kepada dirinya sendiri karena menginginkannya, Kagome kecewa karena dia telah menghentikan apapun yang tadi dia lakukan kepadanya. Dia menarik hadagi disisi tubuhnya untuk menutupi dadanya yang masih menegang oleh sentuhan Sesshoumaru.
'Sial!' Kagome mengutuk dirinya sendiri.
Sesshoumaru seperti tercambuk oleh kesadaran saat mata emasnya bertemu dengan mata biru indah milik hanyou itu. Mahluk yang selama ini dipandang rendah olehnya, lebih rendah dari manusia yang menurutnya hanyalah hama di dunia ini. Sesshoumaru tidak mengerti apa yang telah dilakukannya, apa yang menguasainya. Kebuasannya yang harus dipersalahkan, tentu saja pikirnya.
Kemana perginya pengendalian dirinya yang selama ini dibanggakannya? Apa yang dilakukannya dengan menolong hanyou rendah itu? Mengapa mencemari dirinya sendiri dengan tubuh wanita itu? Terpuaskan? Tidak, dia belum terpuaskan. Kebutuhan yang kejam semakin tumbuh di dalam dirinya.
Salah satu yang sekarang disangkal Sesshoumaru, mungkin akan selalu. Dirinya yang terlalu tinggi untuk bersentuhan dengan hanyou yang telah berkali-kali menyusahkannya, wanita itu seharusnya menjadi budaknya dan mengabdikan hidup kepadanya karena dia telah menolongnya.
Logika Sesshoumaru menendang kebuasannya mundur secara paksa, memenjarakannya lagi di sudut terdalam dirinya. Penjara itu akan mencegah kebuasan membuatnya kehilangan separuh harga diri yang selalu dipertahankan olehnya mati-matian, seperti saat ini. Di kesempatan lain Sesshoumaru tidak akan membiarkan hanyou rendahan sepertinya mencemarkan dirinya lagi.
Sesshoumaru berpaling meninggalkannya, disaat itulah dia mendengar suaranya.
"Tunggu!" suara Kagome sedikit pecah. "Siapa namamu?" tanya Kagome ragu-ragu "Agar aku bisa berterima kasih kepadamu" sambungnya.
Sosok anggun dihadapannya tidak berpaling, hening sejenak. Dengan acuh Sesshoumaru melangkahkan kakinya, dia tidak akan mengatakan kalau dia tidak butuh rasa terima kasih dari hanyou itu atau dari siapapun untuk yang kedua kalinya.
"Kumohon" suara lembutnya meraih telinga Sesshoumaru, membuat langkahnya terhenti.
"Dengan satu syarat" katanya dingin tanpa menoleh.
"Apa itu?" tanya Kagome cepat.
"Jangan pernah berada di jalanku lagi" suara baritonenya yang dalam bergema di gua.
Entah mengapa Kagome ragu untuk menyanggupinya, karena akhir-akhir ini takdir selalu melemparkan mereka di jalan yang sama. Bukan karena dia ingin menemuinya lagi, ya kan?
"Baiklah" akhirnya Kagome menyanggupi.
"Sesshoumaru" suaranya penuh dengan kebanggaan saat menyebutkan namanya.
"Terima kasih banyak, Sesshoumaru-sama" Kagome membungkuk, hanyou keras kepala di dalam dirinya menjerit. Apa yang kau lakukan bodoh, dia baru saja berniat membunuhmu lalu melecehkan dirimu. Dan yang kau lakukan sekarang malah berterima kasih kepadanya? Bodoh!
Sesshoumaru sedikit menolehkan kepalanya, memberinya pandangan menusuk dari sudut matanya "Jika sekali lagi kau berada dijalanku lagi, aku tidak akan segan-segan membunuhmu" dia berpaling, lalu melangkah pergi. Rambut silvernya yang panjang bergerak indah, berayun lembut seiring dengan langkahnya, perlahan namun pasti hilang ditelan kegelapan gua.
Hanyou tangguh telah kembali menguasai dirinya, Kagome tersenyum sinis. "Aku juga tidak akan segan, Sesshoumaru-sama" bisiknya, suaranya pasti terdengar oleh Sesshoumaru tetapi dia tidak perduli.
Kejadian sesaat tadi tidak akan mempengaruhi tujuan Kagome, hatinya akan tetap teguh. Semua yang terjadi adalah sebuah kebodohan, walaupun itu tidak menghapus fakta bahwa Sesshoumaru telah menolongnya berkali-kali. Kekeras kepalaan Kagome tidak akan membiarkan dirinya yang rapuh menguasai sepenuhnya, dia akan menyelesaikan apa yang telah dimulainya.
-.
Keesokan malam, hutan begitu sunyi, hingga bunyi angin bertiup pun tidak ada. Kagome sedang bertengger di dahan sebuah pohon besar, dia memeluk kedua kakinya, matanya terpejam, pikirannya menerawang. Kini disaat dia memejamkan mata bayangan-bayangan tentang ibunya yang selama ini menghantuinya telah menghilang, digantikan oleh memori yang membuat jantungnya berdebar lebih keras. Memori di hari yang sebelumnya, ingatan yang ingin dihapuskan oleh sebagian dari dirinya. Bayangan tentang youkai yang telah beberapa kali menyelamatkan hidupnya, youkai yang tidak dia mengerti sama sekali.
"Sesshoumaru" Kagome mengucapkan nama itu dengan lirih, dia tersenyum.
Nama itu sekarang menjadi kata kesukaannya, nama itu terasa manis bergulir dari mulutnya, nama itu terdengar indah di telinganya. Sesshoumaru adalah mahluk yang tidak dia mengerti, perbuatan dan ucapannya selalu bertentangan, dia seperti bergelut dengan dirinya sendiri. Mengucapkan nama itu membuat bayangan itu mengucilkan pikirannya, bayangan itu selalu tentang bagaimana bibir Sesshoumaru yang hangat bertemu dengan bibirnya, bagaimana dia menciumnya dengan antusias.
Bagaimana hangat tubuh Sesshoumaru saat menghimpitnya, bagaimana tangan kasarnya menjelajahi tubuhnya. Ingatan itu mengirimkan perasaan yang sama persis seperti yang dirasakannya saat bersentuhan fisik dengan Sesshoumaru. Jantung yang berdetak keras, tubuh yang semakin memanas. Bagaimana harum nafas Sesshoumaru saat membelai wajahnya, hangat nafas Sesshoumaru yang menggelitik lehernya.
"SIAL!" Kagome setengah berteriak, dengan tiba-tiba dia bangkit berdiri.
Dia mengutuk dirinya sendiri atas apa yang dia bayangkan dan rasakan saat ini. Tangannya terkepal kuat-kuat hingga membuat telapak tangannya memutih, dadanya bergerak naik turun. Matanya tidak lagi terpejam untuk menghalau bayangan itu kembali melintas di pikirannya, usahanya sia-sia kelebatan-kelebatan kejadian itu dapat dia lihat dengan mata terbuka dan terus menghantuinya. Dia benar-benar marah karena tubuhnya menghianatinya, dia bisa merasakan bagian bawah tubuhnya telah basah, sangat basah.
Dan yang paling tidak dapat disangkal adalah baunya, bau kebangkitannya adalah bukti jelas kebutuhannya. Kebutuhan alaminya dan kebutuhan semua mahluk entah itu hewan, manusia, youkai, ataupun hanyou seperti dirinya. Kagome tidak terbiasa dengan kebutuhan yang baru-baru ini dirasakannya, baru satu tahun dia mencapai usia matang untuk ukuran seorang hanyou. Tahap dimana tubuhnya mencapai kedewasaan dan akan terus bertahan seperti itu hingga beberapa ratus tahun ke depan hingga kematian karena usia tua menjemputnya, seperti sebagaimana semestinya seorang hanyou. Tetapi tidak dengan siklus kesuburannya, Kagome mempunyai siklus kesuburan seperti perempuan manusia pada umumnya.
Walaupun Kagome baru merasakan kebutuhan alamiah yang baru dirasakannya bukan berarti dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia pernah beberapa kali tidak sengaja melihat adegan intim manusia dengan manusia, youkai dengan youkai, di hutan yang dia lewati. Bahkan dia pernah tidak sengaja melihat manusia dengan youkai diruang tengah pondok kecil yang dia tempati dulu, mereka adalah kedua orang tuanya.
Saat itu dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, yang dia tahu hanyalah ibunya yang dikelilingi bau yang lucu sedang berbahagia karena bertemu lagi dengan ayahnya. Bau yang lucu itu barulah kini dia mengerti apa itu, bau kebangkitan yang kuat. Bau itu kini sedang menyelubunginya, membuat tubuhnya semakin panas. Dia duduk kembali bersandar di pohon, dia meluruskan kakinya, dengan santai berselonjor. Tangannya bersilang di dadanya, dia mencoba untuk menenangkan diri.
Dan lagi-lagi yang dilihat Kagome di benaknya adalah bagaimana tangan Sesshoumaru yang besar dan hangat menyentuh kulitnya, membelainya lalu meremas dadanya. Dia bisa melihat kejadian itu lagi, disaat dia melihat Sesshoumaru mempermainkan buah dadanya, bagaimana hal itu bisa mengirimkan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan, bahkan bayangkan sebelumnya. Lidah Sesshoumaru yang hangat menggelitiknya, mempermainkannya bersamaan dengan remasan tangannya membuat sekujur tubuh Kagome berteriak menginginkan lebih darinya. Tatapan Sesshoumaru saat menatapnya tajam dengan kilatan gairah di mata emasnya.
Tatapannya itu membuat Kagome terbakar oleh kebutuhan yang berkobar dalam api gairah yang tidak pernah menjilat tubuhnya. Sikap dingin Sesshoumaru membuatnya tertantang untuk mencairkan dengan kehangatannya. Kekuatan Sesshoumaru membuat Kagome ingin ditaklukan olehnya, kemisteriusannya membuat Kagome ingin memecahkannya. Kagome dapat mereka ulang kejadian itu di pikirannya, mata Sesshoumaru yang tajam menatapnya menjanjikan kenikmatan lain yang bisa diberikannya. Bibir Sesshoumaru menyentuh kulitnya, membuatnya merinding membayangkan bagaimana rasanya bila bibirnya itu menyentuh tempat pribadi miliknya.
Kagome membuka matanya, dadanya naik turun. Dia meraba bibirnya, tidak ada bekas luka yang tersisa. Namun entah bagaimana dia masih bisa merasakannya, rasa bibirnya yang hangat basah dan lembut masih sangat terasa di bibirnya. Kagome masih bisa merasakan rasa Sesshoumaru di lidahnya dan bau khas Sesshoumaru yang menyelimutinya.
Dia ingin merasakannya lagi, namun keegoisan dirinya kembali, dia tidak akan pernah membuat dirinya sendiri bergantung kepada siapapun hanya untuk melepaskan hasrat seaaat. Apalagi kalau bergantung kepada youkai yang kemungkinan besar adalah musuhnya. Dia bisa melakukannya sendiri pikirnya, hal seperti itupun bukan sesuatu yang tidak diketahuinya.
Perlahan jarinya bergerak turun ke lehernya, menelusuri tempat dimana Sesshoumaru membuat luka dengan cakarnya. Perlahan Kagome menyentuh dadanya, meremasnya dengan lembut. Dia membuka obinya, melonggarkannya tidak membuka sepenuhnya hanya agar cukup untuk tangannya bisa bebas bergerak. Dia menyelipkan tangannya kebawah hadaginya, dia meremas lagi dadanya dengan lembut, semakin lama semakin menambah kekuatannya. Dia memainkan puncak dengan jari telunjuknya, lalu berpindah ke yang satunya.
Kepalanya mendongak saat rasa yang Sesshoumaru berikan kembali dirasakannya, membuat dadanya terangkat naik. Kagome menarik tangannya keluar dari balik kimono lalu membasahi jari telunjuknya dengan menjilatnya lalu memainkan kembali puncak dada dengan jarinya yang basah. Dia membayangkan Sesshoumarulah yang menyentuhnya, membasahi bukit miliknya dengan lidahnya.
Mempermainkannya dengan tangan, bibir, dan lidahnya. Sebuah rintihan terselip dari mulut Kagome saat dia merasakan kenikmatan akan apa yang dia lakukan, dan itu membuat efek pada tubuh bagian bawahnya semakin jelas, sama seperti saat Sesshoumaru menyentuhnya.
Kagome memejamkan matanya, untuk lebih menikmati sensasi yang dihasilkan oleh tangannya. Tangannya yang lain bergerak turun secara perlahan ke perutnya, lalu ke pusarnya dari balik kimono pendeknya. Tangannya kemudian bersemayam di tempat perasaan itu berasal tempat itu telah basah, dia menekannya dengan telapak tangan.
Perasaan sedikit terpenuhi dan perasaan semakin lapar dirasakan Kagome disaat yang bersamaan saat tangannya berada di bawah sana. Kagome tidak benar-benar mengetahui apa yang dilakukannya, dia hanya mengikuti nalurinya. Ingatan itu bermain kembali di kepalanya, Sesshoumaru menatapnya, tangannya di tubuhnya, bibir Sesshoumaru bersentuhan dengan bibirnya, lidah dan taringnya di dadanya.
Tangan Kagome mulai bergerak maju dan mundur, kenikmatan menjalari tubuhnya walau belum benar-benar memuaskannya. Tangannya semakin brutal saat bayangan itu benar-benar dilihatnya lagi, bayangan Sesshoumaru berhasil membuat sensasi di tubuhnya berlipat ganda. Dia ingin kejadian itu terulang kembali, tangannya semakin cepat bergerak.
Dia ingin Sesshoumarulah yang memadamkan api di tubuhnya, karena dialah satu-satunya yang menyulutnya. Kagome merintih, tubuhnya bergetar. Dia hampir bisa mencapai sesuatu, disaat dia bisa merasakan kenikmatan yang dia harap diberikan oleh Sesshoumaru disaat itulah dia menyakiti dirinya sendiri dengan cakarnya.
Mata Kagome terbelalak "SIAL!" dia berteriak.
Teriakannya menggema di hutan yang sunyi itu dan membangunkan beberapa binatang yang tinggal di pohon tempatnya duduk. Cakarnya menggores alat vitalnya, tidak memotongnya tetapi cukup untuk membuat bagian bawahnya berlumuran darah seperti ritual bulanan yang harus dihadapinya sebagai wanita.
"Bajingan! Brengsek! Sial!" dia menekan tempat lukanya dengan hadaginya, dia membenturkan bagian belakang kepalanya ke pohon tempatnya bersandar berkali-kali dengan hentakan yang cukup keras.
"SIAL,SIAL,SIAAAL! Hidungnya berkerut, Kagome meringis menahan perih.
Dia kembali memejamkan matanya, dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menyengat. Dia membuka obinya, melongok sekilas keadaan dari tempat darah berasal. Yang terlihat olehnya hanyalah darah yang terus menerus mengalir, tidak deras tetapi cukup untuk membasahi hadagi dan kimononya. 'Sial' dia tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri atas apa yang dipikirkannya, sebagai ganti kebodohan yang dilakukan olehnya, dia harus mencari sumber air terdekat untuk membersihkan dirinya dari darah yang bercucuran.
"Terkutuk kau Sesshoumaru" wajahnya berkerut menahan sakit.
Desakan untuk segera memadamkan apa yang telah dibangkitkan oleh Sesshoumaru sesegera mungkin, sekarang terdengar amat sangat bodoh. Kagome bersumpah tidak akan membuat kebodohan yang sama, dia tidak akan membiarkan Sesshoumaru melakukan hal seperti itu lagi padanya. Bila suatu saat mereka bertemu lagi Sesshoumaru hanyalah musuhnya, sama seperti Kuroichi dan yang lainnya. Malam itu Kagome menghabiskan malamnya dengan mengutuk diri sendiri dan menahan sakit atas apa yang telah dilakukannya.
E/N : *Nyengirlebar* Kecelakaan sering terjadi ya kan? Apalagi kalau lo punya cakar di setiap jari sepanjang 3cm :p
Fundoshi : pakaian dalam untuk pria yang digunakan pada masa sengoku jidai.
Kenapa di fanfic gw iris mata Kagome gw bikin biru bukan cokelat? FYI, hampir di semua fanfic di InuYasha fandom entah itu Dokuga (situs khusus SessKag), Eternal Destiny (situs khusus InuKag), Flawless Addiction (situs khusus crossover Kagome x cowo/cewe/mahluk apapun (termasuk shinigami dr death note)) para penulis memakai warna mata Kagome kayak yang di manga, 'biru' bukan 'cokelat' kayak yg di anime dan gw termasuk salah satu dari una yg lebih suka mata Kagome versi manga ;)
Btw, sorry for the late update. Gw sedikit tersesat di jalan yang bernama 'Real Life', hope u guys enjoy it. Update berikutnya ttp ngikutin jadwal semula setiap sabtu, BHT ini udah gw tulis dr bulan Juli jadi tinggal edit sebelum update. Gw kebanyakan menggunakan kata 'dia' dibanding nama, dan itu bakalan ngebigungin bgt kalo gak di edit, dan chapter ini termasuk yg bikin gw pusing waktu ngedit. BHT yang gw tulis udah sampai chapter 14, udah ¾ cerita. Oh iya gw buka polling sederhana utk ending BHT, please vote if you interested.
I accept critism in a good manners, Thx for read and review ^.~
