Previous Chap :
"—Hei, lihat. Itu Hinata."
Kalimat Sai yang memotong kata-kata Naruto langsung membuat ketiganya menghentikan langkah.
Awalnya Sasuke hanya diam. Namun, sesudah mengikuti arah pandangan Sai, seringaian muncul di bibirnya.
"Hn, kurasa ini kesempatan yang tepat untuk menuruti apa kata Karin." Gumam Sai sambil tersenyum kepada Sasuke dan Naruto—khusus si bocah Namikaze itu, ia masih bingung.
Sasuke mendengus. "Ya, sekalian untuk memancing Pein, dan satu lagi... hiburan untuk kita."
.
.
Normal POV
"Maksud kalian berdua tuh apa?"
Dengan tampang keheranan yang tercetak jelas, Naruto berlari untuk segera membalap Sasuke. Lalu setelah sudah di depan kedua sahabatnya itu, ia berjalan mundur dengan memandang wajah mereka. "Teme, sebenernya kalian berdua ini merencanakan apaan sih?"
Sasuke berdecak kesal dan membalas tatapan sapphire itu. "Kau tinggal mengikuti kami."
"Tapi aku kan tetap tidak ngerti!" Teriaknya frustasi, tapi masih tetap mengikuti langkah kaki Sasuke dan Sai yang akan mendatangi Hinata.
.
.
.
NERDS
"Nerds" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Pein Rikudou x Hinata Hyuuga]
Romance, Friendship, Drama
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
SEVENTH. Tersampaikan, Atau...?
.
.
Setelah menghela nafas panjang, si pemilik rambut oranye itu mencoba untuk menutup mata dan tertidur. Tapi belum sampai terlewat lima detik, ia sudah kembali terjaga. Pandangannya lurus ke arah langit-langit kamar. Ia tidak bisa menyangkal kalau saat ini ia benar-benar tidak tenang.
Ada suatu perasaan yang mengganjal. Entahlah... rasanya menyesakan.
Ya, dia menyesal dengan kelakuannya—kelakuannya yang bodoh.
Mungkin Hinata berpikir kalau pada saat itu, Pein tidak sadar atas perbuatannya sendiri.
Memang dia sempat dibuat setengah sadar karena alkohol, tapi itu sudah dari kemarin malam. Dan kenyataannya ia sama sekali tidak mabuk.
Keadaannya sadar—walaupun ia tidak sengaja melakukan hal itu. Rasanya seperti menonton dirinya sendiri melakukan hal hina tadi kepada Hinata.
Ia membenarkan posisinya menjadi terduduk. Dengan mata yang kembali dipejamkan ia menundukan wajah. Dalam keheningan seperti ini ia berusaha untuk tidak memikirkan hal sepele itu lebih lanjut. Ya, memang sepele bagi Pein yang 'dulu'. Tapi sangat tidak sepele bagi dirinya yang sekarang—sesudah mengenal gadis indigo itu.
Ia sendiri pun heran... ada apa dengan dirinya?
. . .
Bruk.
Suara itu membuatnya refleks membuka kedua matanya dengan malas, lalu dengan gerakan pelan ia menatap benda yang baru saja terjatuh melalui ekor matanya. Tapi setelah ia menangkap barang yang ternyata buku, ia menoleh. Matanya terkunci pada buku-buku yang awalnya sengaja dibawakan Hinata untuknya. Buku itu tadinya berdiri dengan menyandar di tembok sebelah pintu, tapi sekarang bukunya sudah tergelatak begitu saja di lantai.
Hinata Hyuuga IPA XII.
Kenapa buku itu mendadak jatuh?
Apa hal itu merupakan suatu petanda...? Sesuatu yang sama dengan petanda yang seperti dulu, di saat Hinata sedang dilabrak oleh Karin dan yang lainnya?
Ia bergerak turun dari kasurnya sambil mengambil kacamata yang ada di meja sebelah kasur. Setelah memakainya, ia berjalan mendekati lemari untuk mengambil jaket yang berwarna senada dengan kausnya. Tapi belum sampai tiga langkah untuk menghampiri pintu, ia mendadak berhenti.
Ia berdecih sebentar sambil menyisir poninya kebelakang dengan kesal.
Untuk apa dia harus memeriksa keadaan Hinata?
Apa ia takut akan terjadi hal buruk pada gadis itu?
Hal buruk sudah saja terjadi pada Hinata...
Tadi. Ya, karena dirinya sendiri.
Dirinya yang merupakan hal buruk itu.
.
.
~zo : nerds~
.
.
Hinata's POV
Sekarang aku terduduk di salah satu bangku taman yang di penuhi salju, masih dengan mata yang sembab dan pipi yang memerah. Tapi aku sudah tidak menangis, aku hanya perlu mengosongkan pikiranku, ya hanya itu.
Sore sudah menjelang, bahkan lampu-lampu taman sudah menyala. Kulihat taman yang sempat ramai oleh orang-orang, tapi mereka menghilang satu persatu untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Sampai akhirnya hanya tinggal aku di sini. Sendiri. Sebenarnya aku harus pulang, tapi aku tidak ingin.
"Ini sudah malam, kenapa masih ada di sini?"
Aku terkesiap, suara itu membuatku langsung menoleh ke arah suara—tentu saja aku kaget. Kulihat ketiga orang yang berjalan menghampiriku, aku menyuruh otot-otot bibirku kembali berkerja dan membentuk senyuman.
"Se-Selamat sore, Naruto-kun, Sai-kun dan—" Aku memberi salam ke setiap orang dimulai dari kanan ke kiri, tapi mendadak kalimatku berhenti saat melihat sosok itu, sosok di sebelah Sai. Sosok yang kutakuti. "Uchiha-san."
Cepat-cepat aku memindahkan mata lavenderku dari mata Sasuke dan menatap Sai. Sai membalas senyumanku, tapi matanya tidak. Pandangannya datar, namun mendadak alisnya sedikit tertekuk melihat penampilanku yang ada di depannya. "Hinata, kau tampak ketakutan dan—" ia sengaja menggantungkan kalimatnya untuk menatap Sasuke. "—Berantakan."
Kali ini Sasuke yang memandangku dari atas ke bawah. "Kau tidak apa-apa—?" Lalu dengan pandangan aneh ia mulai berjalan mendekatiku sambil menjulurkan tangan kanannya—berniat menyentuh puncak kepalaku.
"—Tidak! Ja-Jangan sentuh aku!" Aku langsung menepis tangannya sebelum ia sampai menyentuh ubun-ubunku. Dan tentu saja hal itu membuat Naruto menjadi terkejut. Sedangkan Sasuke? Ia hanya tersenyum sinis.
Pandangan Naruto seakan bertanya. Ia heran. Tentu saja ia heran. Tapi Sai tidak.
"Hinata-san, mau pulang bersama kami?" suara Sai memecahkan lamunanku. Cepat-cepat aku mengeleng.
"Tidak perlu, Sai-kun..." Aku tampak semakin gelisah, dengan buru-buru aku langsung melangkahkan kakiku untuk menghindari mereka. "...Aku du-duluan."
Tapi sebelum aku berjalan sampai dua langkah, Sai langsung menarik kerah seragamku dari belakang sehingga membuatku terjatuh dengan kasar ke tumpukan salju yang dingin.
Aku yang kaget hanya bisa semakin cemas saat kedua tanganku ditahan oleh Sai sehinga tidak dapat digerakkan. Mataku memberat oleh air mata yang tertampung. Tapi tetap saja salah satu sudut bibirnya terangkat. Sasuke pun melonggarkan ikatan dasi yang mengalungi lehernya.
"...Le-Lepaskan aku... Kumohon...!" Dengan menahan tangisan yang hendak keluar, aku memohon padanya.
"Hwaa! A-Apa yang kalian lakukan ke Hinata-chan!" Naruto berteriak khawatir.
.
.
~zo : nerds~
.
.
Normal POV
Dengan jaket tebal yang sudah membalut tubuhnya, ia berjalan ke arah yang tidak terarah. Tidak peduli salah atau benar, Ia hanya mengikuti jalan yang menurutnya orang itu lewati. Sampai akhirnya ia berada di dekat taman—tempat yang sebelumnya pernah ia kunjungi dengan Hinata.
Sebenarnya apa yang saat ini ia lakukan? Pein sendiri pun tidak tau.
Mencari Hinata?
Kalaupun menemukannya... untuk apa?
Hinata tak akan mau melihatnya lagi.
Jadi, untuk apa dia mencarinya?
"He-Hentikan!"
Ia menghentikan langkahnya saat ia mendengar sesuatu dari kejauhan.
Suara Hinata.
"..."
Entah apa yang merasukinya, bukannya semakin mempercepat langkah menuju asal suara, ia malah terdiam.
Ia terus berpikir.
Hinata
Bukan siapa-siapanya.
.
.
~zo : nerds~
.
.
Dengan sekali tarikan, Sai membuat Hinata menjadi tidak dapat berkutik. Hinata berteriak dan meronta, tapi percuma... walaupun suaranya menggema, tidak akan ada orang yang berlalu lalang di taman, apalagi di sore yang sering diberitakan akan sering terjadi badai salju dadakan seperti ini.
Tapi saat Sai membawa Hinata ke hadapan Sasuke, pandangannya terhenti di lipatan leher gadis itu. Tampaknya pria berambut biru dongker itu terkejut dengan apa yang ia temukan di kulit putih yang ia lihat. Lalu, ia alihkan pandangannya ke mata Hinata dan tertawa meremehkan.
"Heh, lihat ini... sepertinya dia baru pulang dari tempat pacarnya."
Hinata terdiam.
Sasuke menyeringai. "Barusan bersenang-senang, ya?"
"Hh, murahan." Sambil menyunggingkan senyum palsu, Sai menghinanya dengan tajam.
"Biasanya cewek murahan menunjukan hal yang biasa, tapi bagaimana kalau cewek murahan itu seorang Hinata Hyuuga? Pasti berbeda..." Masih dengan menatap lavender di depannya, Sasuke sengaja bergumam seakan berpikir.
"Tidak!" Hinata menggeleng sambil menutup rapat-rapat matanya, ia benar-benar takut dengan hal ini. dan terutama... Sasuke. Seseorang di depannya.
"Pein..." Bisiknya. Tidak tau kenapa hanya nama itu yang ia pikirkan.
"Yang di depanmu ini kami, bukan temanmu itu." Desisnya sambil menarik dagu Hinata agar lavender itu menatapnya. Lalu salah satu alisnya terangkat. "Apa dia orang yang membuat ini?"
"Pein... tolong aku...!" Jeritnya histeris dan tidak bisa lagi menahan tangisannya yang hendak pecah. "TOLONG AKU—HMPH!"
"Berisik." Sasuke langsung membungkam mulut Hinata menggunakan tangan kanannya—sedikit berharap tidak ada yang mendengar mereka di tempat yang sebenarnya sangat beresiko seperti tempat umum ini. "Tidak ada yang akan mendengarmu—"
BUKH!
Suara pukulan itu mengisi suasana hening di taman. Disertai suara Sasuke yang jatuh terduduk menabrak salju, refleks semua mata mengarah kepada orang yang sekarang berada di depan Hinata—menggantikan posisi Sasuke.
Sasuke meremas salju untuk mengurani rasa sakit yang terasa di tengkuknya, lalu dengan emosi, ia berdecih keras dan mencoba berdiri. Pandangan Sasuke seakan berkata kalau dia akan membunuh orang yang berani-beraninya memukul dirinya dari belakang. Tapi saat melihat siapa pelakunya, ia terdiam.
Bukan takut, melainkan pandangannya berubah menjadi benci—dendam.
Dengan tubuh yang gemetar ketakutan, gadis itu berusaha membuka sedikit matanya, dan mengintip dari balik bulu matanya—untuk melihat siapa yang melakukan hal itu pada Sasuke. Tapi belum sampai Hinata menaikan pandangannya ke wajah seseorang di depannya, suara Naruto sudah menghentikannya.
"Hawa itu..." Ucap Naruto tidak percaya. Memang berbisik, tapi dengan suasana yang seperti ini, semua sudah pasti bisa mendengar.
Kalimat Naruto langsung membuat tubuh Hinata menegang, jantungnya berdetak tak terkendali.
Tanpa dilihat pun, Hinata tau siapa pemilik rambut oranye itu. Dan dia kembali menolongnya.
Jujur, Sasuke kaget. Ia memang tidak terlalu tau tentang anak baru yang akhir-akhir ini dekat dengan Hinata, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau yang menjadi temannya adalah...
"Ketua Akatsuki."
"Hah, bagaimana bisa?"
Sai melepaskan pegangannya dari Hinata, sehingga cewek itu langsung berlari kebelakang pohon untuk bersembunyi. Kemudian, Sai menatap punggung Sasuke yang membelakanginya.
"...Sasuke, kita mundur dulu. Atau nanti kau yang nantinya akan berakhir koma di rumah sakit seperti Suigetsu."
Ya, Akatsuki memang tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Taka, kelompok yang dipimpinnya.
"Ck, terserah." Dengan angkuhnya ia berjalan menjauhi taman, lalu jejaknya disusul oleh Sai dan Naruto di belakangnya.
.
.
~zo : nerds~
.
.
Setelah kepergian mereka bertiga, suasana di taman mendadak hening. Tidak ada yang bersuara selain suara angin sore dingin yang berhembus.
Menghadapi kesunyian di sana, Pein mulai menolehkan wajahnya ke arah persembunyian Hinata—melihat gadis itu yang sedang menyenderkan punggungnya di pohon, dan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya yang tertunduk.
"..."
Setelah dirinya berhenti bergerak dan sudah tidak ada lagi suara di sekitarnya, kupingnya mulai menangkap suara isakan kecil dari gadis itu.
Hinata kembali menangis.
Jujur, Pein lumayan lelah dengan keadaan tersebut. Bisa dibilang ini adalah bulan-bulan terlangka di dalam hidupnya—karena ia benar-benar berbeda 90 derajat dari dirinya yang dulu. Ia menjadi lebih baik, persis seperti keinginan ibunya.
Mau tidak mau Pein mulai mendekati Hinata—membuat suara gesekan dari salju dan sendal yang dipakainya. Semakin Pein mendekat, gadis itu semakin terlihat gemetaran, bahkan isakannya mengencang.
Setelah ia berada tepat dua meter dari Hinata, langkahnya berhenti. Ia hanya terdiam memandangi Hinata. Hinata yang hanya memakai seragam sekolah—yang tentunya sudah lumayan berantakan—tidak lagi memakai mantel dobel tiga yang pernah ia ingatkan untuk dirinya.
"Kau baik-baik saja?" Akhirnya Pein memecah keheningan dengan nada datarnya, membuat yang ditanya sedikit tersentak kaget.
"..."
"Masih marah?"
"..."
Ia semakin berjalan mendekatinya dalam beberapa langkah. "Kuanggap jawabanmu adalah 'ya'." Setelah tepat satu meter di depan Hinata, Pein membuka jaket Hitamnya. Ia tidak peduli akan udara dingin yang langsung menerpa kulit badannya—yang hanya terbalut kaus tanpa lengan.
"..."
Kemudian dia mengambil tangan Hinata, tidak peduli kalau gadis itu sedikit mempertahankan tangannya untuk tetap di wajah. Sesudahnya, ia langsung memasukan tangan Hinata ke lengan jaketnya. Dan ia pun melanjutkannya dengan menarik tangan yang lainnya untuk dimasukan ke dalam lengan jaket di bagian kiri.
Setelah selesai, ia melepaskan kedua tangan Hinata yang sempat ditahanny. Hinata langsung kembali menutup wajahnya yang memerah karena menangis dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Menyadari beban apa yang sedang dialami gadis berponi rata itu, ia menjadi sedikit paham keadaan. "Masih takut denganku?" Tanyanya—yang lagi-lagi dengan nada datar.
"..."
"Seharusnya kau lebih pandai melawan kalau ada orang yang memaksamu—" Mendadak ia berhenti berbicara, lalu terdiam dan membiarkan suara angin kembali terdengar.
"Aa, maaf. Aku lupa. Aku juga sama saja seperti mereka."
Masih tidak ada suara dari Hinata.
"Jujur, aku bukan orang baik." Ia menyentuh puncak kepala Hinata dan mengusapnya dengan pelan, membuat yang punya menjadi sedikit tenang. Tapi dengan cepat ia melepaskan, dan membalikan tubuhnya untuk berjalan pergi.
Sesudah beberapa langkah, ia berhenti untuk menolehkan wajahnya. "Tapi entah kenapa kalau di depanmu, aku selalu otomatis berusaha untuk menjadi lebih baik."
Mendengarnya, kedua mata Hinata terbelalak kaget.
"Mungkin arti baikku bukanlah arti baik di pikiranmu..." Ia kembali berbalik, dan berjalan meninggalkan Hinata sendirian di sana. "Jadi, lebih baik kau menjauh dariku."
.
.
~zo : nerds~
.
.
Hinata's POV
Beberapa jam yang lalu, dia memang bukan Pein yang kukenal. Tapi di saat ini, dia sudah menjadi Pein yang sering menjadi teman bicaraku—meski yang sekarang jadi lebih terkesan perhatian. Dan entahlah, kalimatnya tadi membuatku terasa nyaman.
Setelah beberapa saat, kulepaskan kedua tanganku dari wajah. Aku menatap punggungnya yang semakin lama menjauhiku.
Jantungku berdetak kencang.
Aku tidak menyangka, dan aku... aku benar-benar senang.
Itu kalimat terpanjangnya yang pernah kudengar.
Dan juga, aku yang tadi meneriaki namanya hanya untuk membuatku tidak takut. Aku... sama sekali tidak menyangka dia benar-benar menolongku.
"Pein..."
"Pein, tunggu..."
Aku mencoba melangkah untuk mengejarnya. Tapi aku hanya bisa melihat punggungnya yang sudah semakin menjauh. Aku mempercepat ayunan kakiku. Aku tau, mungkin nantinya aku akan terjatuh—mengingat betapa payahnya aku di dalam bidang olahraga. Tapi aku ingin meraih punggungnya, aku harus mengucapkan terimakasih walaupun ujung-ujung aku pasti akan menangis lebih kencang.
"Pein—kyaa!"
Sruuk!
Aku merasakan perih saat kulit wajahku bergesekan dengan salju yang dingin. Aku kembali menangis, membuat wajahku terasa lebih dingin karenanya. Sambil mengeratkan jaket miliknya yang kukenakan, kutegakan wajahku untuk melihat punggungnya. Dan sekarang... ia hilang. Pein sudah tidak ada.
Dan aku takut kalau di saat inilah aku terakhir kali melihatnya.
Aku menangis.
Kalau aku terluka, pasti aku mengeluarkan airmata, tapi tidak untuk saat ini. Aku menangis karena menangisinya. Dia yang tidak bisa kuraih.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Maaf telat update! Biasalah, atasan marah-marah mulu *SMA aja belom* semoga masih ingat dengan fic yang satu ini. kemaren aku wisuda! Hehe, aku udah bakal SMA #girang. Terimakasih untuk kyu's neli-chan yang mau mengingatkanku untuk mengupdate fic ini (kalo ngga bakal tetep lupa tuh -,-)
Eehn, aku maunya sih chap ini complete di chap 10, tapi aku cepetin jadi ke chap 8 :p. Jadi kalo ada yang kecepetan maafin ya, habisnya aku mau buat fic lain yang ngambil (sedikit) ide dari fic ini. Tapi masih lama dan pairnya bukan crack lagi, jadi SasuSaku dan NaruHina :)
-edited : 28/02/12-
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
uchihyuu nagisa, Ekha, HaruMichi, Haru, Nanairo Zoacha, Fujisaki Fuun, ulva-chan, Hana, Hina bee lover, Ryotaro No Kawaii, Kurokawa sinju, Lollytha-chan, Shaniechan, Sora Hinase, dasyaELF-SHAWOL, lawliwet cute, mayu masamune, Mizukichan Aino Yuki, Reviewer bodo, Dark Blizzard734, Deidei Rinnepero13, Namikaze Haruna, Dei-kun Love Ai-chan, Oscuro Ensin Khafilah Ahmed, Putri Luna, Vytachi W. F, mayraa, HinataLawliet, mei2, kyu's neli-chan, Ichinikyuu Rin, Zodiac 45, hanna rurin, vicky, d. k, ririrea.
.
.
Pojok Balas Review :
Pein mabuk atau sadar? Wah... maaf yaa! Saking stress-nya kemaren, aku lupa nulis banyak penjelasan tentang Pein ya? Hehe Iya pein setengah sadar gitu. Chap kemaren harusnya lebih panjang ya. Kependekan, ya? -_- Maaf, soalnya aku malu kalo ngetik 'terlalu jauh'. Zoroute ganti penname jadi Zoroutecchi, ya? Iyaa... ini supaya namaku ini mirip cewek. Karena sempet ada yang ngira aku cowok -_- (ngga ada bedanya sih, kayaknya ==") Nah, untuk panggilanku... aku nerima kok di panggil panjang-panjang atau singkat. Tapi banyak yang udah manggil aku zo :3 Sasuke jadi tokoh antagonis ya? Iya. Habis aku suka kalo Sasuke jahat sih ;) Pasti seru kalo Sasuke sama Pein berantem buat rebutin Hina. Akusendiri ngga jamin Sasu bakal suka Hinata di sini... abis bisa WB kalo gitu. tapi kalo NaruHinaPein aku juga udah mau buat (tapi di lain fic) Chap depan panjangin, ya! Aku ngga janji nih, habis tergantung mood sama cerita sih hehe. Authornya lucu. Lhoh kok? ==a tapi terimakasih :3 Sasuke sama Sai mau ngapain? Seperti yang diatas ceritaiin hehe. Pein kok ngga ngejar Hinata? Tapi nanti bakal ditolong sama Pein kan? Kalo soal Pein ngga ngejar Hinata... menurutku agak kurang pantes untuk sifat Pein yang di sini aku deskripin. Tapi dia nolongin kok. Sekali-sekali buat akatsuki dibikin keren ya? Soalnya rata-rata humor semua sih. Iyaaa ^^ Bikin NaruIno dong. Wah aku ngga ngerti sih sebenernya Nerds sama NaruIno nyambungnya dari mana... tapi kalo NaruIno sih aku udah punya ide, tapi kayaknya masih lama buat ku publish. Apa Hinata bakal benci sama Pein? Hinata kubuat cuma takut sama Pein, ngga nyampe benci kok ;) Hinata jangan nyampe diapa-apain ya? Iyadong, selama rated masih T haha :p Buat fic ini bakalan tamat di chap 10 ya? Wah aku pengennya segitu sih, tapi aku sepertinya udah kena WB duluan huhu ==" Jadi, tamatnya di chap besok.
.
.
Next Chap :
"Pein, kapan kau mengangkat telfonku...?"
"—kami menyuruhmu menelfonnya bukan untuk pacaran!"
"Tapi aku bahagia..."
"Bahagia karena kamu datang..."
.
.
Review kalian adalah semangatku :'D
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
