Oke, emank ngaret banget update fic ini, jadi selain mohon maaf yang sebesar-sbesarnya, Q gk akan ngomong ap2 lagi, trus makasih ya buat review2 kalian :D
Enjoy read~
Day 7. Sorrow (part II)
...hingga bait terakhir...
Ahh—
Gelap—
Mukuro merasakan hatinya begitu gelap dan sakit. Rasanya bukan seperti ketika ia terjatuh ke dalam jurang atau terutusuk pedang tajam, tidak—ini adalah perasaan yang ia kenal betul—perasaan yang dimiliki oleh iblis.
Sempat Mukuro berharap bahwa apa yang disaksikan olehnya lima detik yang lalu hanyalah sebuah mimpi atau ilusi bodoh Demon Spade—yang tentu saja segera ia sadari bahwa semua ini adalah kenyataan. Kedua mata birunya memberikan delikan tajam diliputi dengan keinginan membunuh, sementara kedua tangannya mengepal menampung emosi yang nyaris tak terkendali. Di depannya, dua sosok yang masih berdekapan erat memasang ekspresi panik dan shock sekaligus, mematung hingga akhirnya salah satu dari mereka melepas pelukan, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu.
"Kau tak perlu memberi penjelasan apa pun!" Geram Mukuro, suaranya terdengar kejam melebihi Xanxus. Ini adalah pertama kalinya Mukuro menggertak Tsuna, hingga membuat gadis itu tersentak dan matanya mulai berkaca-kaca. Sementara Giotto yang tahu bahwa Mukuro sedang salah paham tidak berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi, ia hanya diam merasakan aura kematian yang begitu besar mengelilingi Mukuro seperti ribuan kupu-kupu yang berebut mengelilingi setangkai bunga.
"Ayo pulang, Tsuna..."
Tsuna memperhatikan uluran tangan Mukuro yang mengajaknya pulang. Entah mengapa kali ini hatinya merasa ragu untuk menyambut tangan yang pernah menyentuhnya itu. Tsuna tahu bahwa yang menantinya di bawah sana bukanlah dekapan kasih sayang atau ciuman penuh cinta dari laki-laki itu, ia akan menerima hadiah seperti yang pernah disumpahkannya dulu—Kematian. Tapi apakah hal yang ia lakukan tadi termasuk sebuah pengkhianatan? Alasan wanita itu bercumbu dengan pemimpin Άngelos adalah demi bertemu dengannya—dengan Mukuro, yang sekarang diam berdiri di depannya menunggu Tsuna kembali.
"Aku tidak akan menyerahkan Tsuna padamu!"
Kata-kata Giotto bukanlah sebuah pernyataan, ia maju menghalangi Tsuna yang ketakutan menghadapi Mukuro sambil bertekad kuat: apapun yang terjadi ia tidak akan pernah membiarkan Mukuro membawa Tsuna pergi lagi.
Yah—sudah menjadi legenda bahwa 'melindungi wanita yang dicintai' adalah salah satu ciri khas kaum Άngelos, namun 'mendapatkan wanita yang diinginkan' adalah ambisi bagi kaum Diávolos—dan sekarang, Mukuro menginginkan Tsuna lebih dari apapun. Keinginannya yang kuat membuat Mukuro menggunakan senjata yang tidak pernah ia gunakan sejak bertemu Tsuna, dan mengeluarkan sifat aslinya sebagai kaum bersayap hitam.
"Kufufu, kalau kau tidak akan menyerahkannya, aku yang akan mengambilnya sendiri." Senyum sinis yang kejam menghiasi wajah Mukuro. Dari tangan yang sempat ia ulurkan, kini tergenggam sebuah trident hitam mengkilat. Sementara Giotto mengeluarkan pijar api keemasan di kedua tangannya, Tsuna menggigit bibir ketakutan, ia tahu sekeras apapun memohon pada Tuhan, pertempuran sengit di antara kedua orang yang berharga baginya tetap akan berlangsung di kamar luas itu.
.
.
.
Seiring dengan berdentangnya lonceng kematian di tengah malam
Kini sang puteri hanya bisa pasrah menerima
Ketika semua yang dimilikinya menghilang dengan cepat
Berubah menjadi kabut putih mematikan
Cinderella telah kehabisan waktu
.
.
.
"Giotto hentikan!"
Senjata saling beradu.
"Mukuro! Kalian berdua! Kumohon hentikan!"
Berusaha saling menghancurkan.
"Aku tak ingin melihat kalian berdua berkelahi!"
Nafsu membunuh yang berkobar.
Kedua pemuda kini bertarung untuk tujuan yang sama, keduanya dibutakan oleh ambisi dan tekad. Tak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah, tak peduli berapa banyak luka yang harus ditanggung, bagaimanapun caranya, Tsuna harus dimenangkan.
Mukuro mengayunkan trident-nya ke arah Giotto secara bertubi-tubi, namun walau sesekali ujung senjatanya yang tajam mengenai lengan atau dada targetnya, luka yang diterima oleh pemimpin kaum bersayap putih itu tak lebih dari sekedar goresan kecil. Sementara nafas Mukuro mulai terengah-engah, luka di pelipis dan bahu kanannya akibat serangan kritikal Giotto membuat pemuda itu sulit bergerak karena menahan sakit yang tak bisa ia abaikan.
'BRAAAAKK'
Satu serangan kuat menghantam kepala Mukuro hingga ia terlempar dan menabrak tembok. Pandangan Mukuro mulai kabur, dan ia mulai kewalahan untuk berdiri tegak. Kondisi mengenaskan yang dialami Mukuro membuat Tsuna berteriak histeris dan mulai menangis.
"Kalau kau pergi sekarang, aku akan melepaskanmu dalam keadaan hidup." Kata Giotto.
Mukuro mendecih sebelum menjawab, "Aku tidak akan pergi tanpa membawa wanitaku."
Jawaban egois yang keluar dari mulut Mukuro membuat keadaan semakin buruk, Giotto menendang kepalanya dengan kekuatan penuh hingga Mukuro lagi-lagi membentur tembok dengan keras—meninggalkan retakan besar permanen dan rasa sakit yang luar biasa di kepala si pria berambut zig-zag.
"Kau pikir kaum kami tidak mampu membunuh?" gertak Giotto, "Ini peringatan terakhir. Pergi, atau mati?"
Mukuro tersenyum sinis sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Fuu—kufufu—kau tuli ya? Sudah kubilang—uhuk—" Bangkit dengan bantuan trident-nya, pandangan penuh keinginan membunuh tak memudar sedikit pun dari bola mata birunya yang gelap,"Aku tak akan pergi—TANPA MEMBAWA WANITAKU!"
Giotto mengerutkan keningnya, entah kebodohan apa yang dimiliki Mukuro hingga ia bertindak keras kepala seperti itu. Padahal kalau laki-laki itu terus mempertahankan ambisi, bisa-bisa ia mati dan selamanya tidak akan bisa bertemu dengan Tsuna.
Tak ada jalan lain selain membunuhnya, pikir Giotto. Ia melirik Tsuna yang duduk lemas di pojok ruangan sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sedikit perasaan bersalah merengkuh hati Giotto ketika ia melihat kesedihan yang terpancar dari aura gadis tersebut.
Tapi aku tak bisa membiarkan Tsuna melihat pemandangan yang mengerikan.
"Mukuro, kalau kau bersikeras akan membawa Tsuna, kau harus membunuhku dulu!" Giotto mengepakkan keenam sayapnya dan terbang ke luar jendela setelah mengajukan tantangan.
"Jangan! Mukuro, jangan melawan Giotto!" Tsuna berteriak ketika Mukuro mengeluarkan sepasang sayap hitamnya, suara tinggi yang dipaksakan itu berhasil menarik perhatian Mukuro, mata mereka bertemu. "Jangan lanjutkan pertarungan ini, aku akan pulang bersamamu—jadi tolong—hentikan—"
Kata-kata Tsuna nyaris saja membuat Mukuro beralih haluan, namun yang dipertaruhkan di sini bukan hanya tentang wanita, namun juga menyangkut harga diri, ego laki-laki.
"Aku akan mendapatkanmu setelah aku membunuhnya." Dengan begitu, Mukuro terbang menyusul Giotto.
Langit kala itu berada dalam kegelapan yang paling gelap, cahaya bulan dan bintang tertutup awan hitam. Angin yang berhembus kencang menerpa sayap-sayap dan wajah Mukuro. Perih, tapi sungguh, berada di kegelapan seperti ini entah mengapa bisa membuatnya nyaman, jauh lebih baik daripada di ruangan terang yang luas seperti tadi. Ah—sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi seperti ini, insting liarnya sebagai makhluk berkepribadian kasar bergejolak. Darah iblis yang sempat disegelnya kini mengalir seiring dengan hembusan angin yang semakin kencang saat mengejar Giotto. Berada dalam keadaan liar seperti ini sungguh sangat menyenangkan.
Rasanya bebas...
Mukuro menambah kecepatan ketika sosok Giotto sudah di depan mata, ia menghunuskan trident-nya ke arah sayap kanan Giotto yang lagi-lagi berhasil menghindar. Ternyata melayang di udara cukup menguntungkan, kecepatan serangan Mukuro meningkat dan ia berhasil melukai pundak si pria bersayap emas itu dengan ujung senjatanya. Namun sayang, level kemampuan bertempur Giotto berada jauh di atas Mukuro, luka kecil seperti itu tak mengurangi tenaga pukulannya yang lagi-lagi berhasil mengenai titik vital Mukuro.
"Kenapa kau tidak memilih untuk mundur?" tanya Giotto dengan suara tinggi. Meski ia sudah yakin bahwa tak ada jalan lain selain mengakhiri hidup lawannya, tapi sebenarnya pemimpin kaum bersayap putih itu tidak ingin menodai tangannya dengan darah.
"Apa aku harus mengatakannya padamu berulang kali? Aku tidak akan pergi tanpa membawa wanitaku!"
"Tsuna sudah bukan milikmu lagi, Mukuro!"
"IA MILIKKU!" Raung Mukuro, "Ia tetap milikku. Tubuhnya, jiwanya, semuanya milikku, dan hanya aku yang boleh menikmatinya."
"MUKURO!"
Satu pukulan keras di perut.
Satu tendangan cepat di bahu.
"Urgghh!"
"Aku tidak akan membiarkanmu membawanya!"
Satu hantaman keras di kepala.
"GAHHH!"
Sial...
Tubuh Mukuro terhempas ke bawah setelah serangan terakhir yang diterimanya, kesadarannya perlahan-lahan menghilang ketika ia meluncur ke bawah dengan cepat. Ternyata pemimpin kaum 'Angelos memang kuat, iblis tak berkekuatan seperti Mukuro sama sekali bukanlah tandingannya. Kalau saja sejak awal ia tidak membiarkan Tsuna pergi, mungkin tidak akan berakhir seperti ini.
Sambil tersenyum lirih penuh penyesalan, Mukuro menutup mata ketika kepalanya sudah dekat dengan tanah, siap-siap menghadapi kematian yang akan menjemputnya.
"Dikalahkan oleh rival sendiri, bukankah itu cara yang menyedihkan untuk mati, Rokudo Mukuro?"
Mukuro membuka mata, ia merasakan sesuatu—atau seseorang, memangku tubuhnya yang terkulai. Siapa pun dia, yang jelas orang itu telah menyelamatkannya dari ancaman kematian. Sementara Giotto memicingkan mata melihat sosok yang tiba-tiba berada di samping Mukuro, laki-laki dengan rambut double zig-zag dan memiliki pandangan yang sama dengan Mukuro.
"Demon Spade—" gumam Mukuro sambil berusaha berdiri tegak.
"Nufufu, seperti itu kah wajah yang kau tunjukkan pada orang yang telah menyelamatkanmu?" Mukuro memperhatikan kawannya itu dari atas sampai bawah. Spade dipenuhi dengan cipratan darah tapi ia sama sekali tak terluka, bahkan tidak tergores sedikit pun. Mengingat bahwa tadi laki-laki itu juga menghabisi ratusan anak buah Giotto sendirian, iblis yang satu ini pastilah lebih kuat.
"Spade—aku minta sedikit bantuan darimu." ujar Mukuro. Sebenarnya ia enggan mengemis bantuan dari saudara kembarnya itu namun jika ingin mengalahkan Giotto, mungkin hanya inilah satu-satunya cara. "Buatkan aku ilusi untuk mengecohnya."
"Hmm—ini pertama kalinya kau meminta bantuanku." Spade menyeringai. "Tapi kau ingat syarat yang perrnah kukatakan waktu itu kan?"
"—Ya." Mukuro mengangguk pelan, "Aku akan meminjamkan Tsuna padamu semalam."
Seringai Spade semakin lebar saat Mukuro menyetujui persyaratan yang ditawarkannya, "Baiklah."
Mukuro sekali lagi mengepakkan kedua sayapnya dan terbang menghampiri Giotto yang masih melayang di udara, ia mempersiapkan trident-nya, mengunci tenaga penuh untuk menyerang Giotto. Sedangkan Giotto sendiri mengumpulkan semua tenaganya dalam satu kepalan, pijar api keemasan berkobar di tangan kanannya. Ketika ia bersiap-siap untuk menghantam Mukuro yang semakin mendekat, tepat dua meter sebelum mereka berkontak, wujud Mukuro tiba-tiba berubah menjadi seseorang berambut pirang dengan 6 sayap emas.
Apa—?
Detik singkat yang berhasil membuat Giotto lengah merupakan kesempatan emas bagi Mukuro. Kali ini serangan yang dilancarkannya kena telak, Giotto terbatuk keras ketika trident Mukuro menusuk pinggang kirinya, menimbulkan luka yang cukup dalam hingga darah merembes ke pakaiannya.
Sambil menahan sakit, Giotto terbang menjauh, matanya memicing ke arah Mukuro. Barusan sekali ia yakin bahwa wajah iblis itu berubah menjadi wajah seseorang—ya, wajah dirinya. Seolah-olah ia baru saja berhadapan dengan bayangannya sendiri. Tapi dari mana ilusi itu datang? Mukuro seharusnya belum memiliki kemampuan sebagai Diávolos sejati.
Apa karena iblis yang satunya?
Giotto mengerling ke arah Spade yang hanya berdiri diam menyaksikan pertarungan mereka sambil tersenyum santai hingga ia tidak menyadari bahwa Mukuro sudah melancarkan serangan lagi ke arah kepalanya. Kalau saja bukan karena intuisi yang kuat, tonggak besi hitam Mukuro pasti sudah menancap di ubun-ubunnya.
Serangan Mukuro kian cepat, padahal tubuhnya sudah terkoyak seperti itu. Giotto merasakan bahwa setiap ayunan trident yang diarahkan kepadanya semakin lama semakin nyaris mengenai tubuhnya, dan saking cepatnya serangan itu, Giotto hampir tidak sempat melancarkan serangan balik.
"Kau tahu, Tsuna pernah bersumpah," gumam Mukuro ditengah-tengah serangannya, "—Bahwa ia akan setia padaku selamanya."
"Tch!"
"Bila ia melanggar sumpahnya—" wujud Mukuro lagi-lagi berubah, kali ini tubuhnya menyerupai seorang laki-laki berambut merah muda dengan wajah bertato, sosok yang dikenal Giotto dengan baik hingga sukses membuatnya stun dan menerima serangan kritikal kedua Mukuro, "—Ia akan mati!"
Darah yang keluar di pinggang Giotto semakin banyak, kali ini ditambah dengan luka baru yang bersarang di bahu kanannya. Luka itu dalam sekali, hingga membuatnya mengerang dan meringis ketika rembesan darah tampak mencolok menghiasi permukaan pakaiannya. Nafasnya mulai tersenggal-senggal tak beraturan, sudah lama sekali ia tidak terluka separah ini, dan rasanya—menyedihkan.
Aku tak boleh terus-terusan tertipu, aku akan tetap menyerangnya walau ia berubah wujud lagi.
Giotto dan Mukuro sama-sama menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk menyerang. Si pemilik 6 sayap lebih berhati-hati sekarang, persiapan kalau-kalau Mukuro mengubah wujudnya menjadi sosok yang ia kenal lagi. Pertarungan mereka sudah hampir mencapai klimaks, kedua warrior itu mulai kehabisan tenaga. Kalau mereka tidak segera mengakhiri duel ini, maka keduanya akan tumbang.
Mukuro yang sadar bahwa energinya sudah semakin menyusut berniat melakukan serangan terakhir, ia terbang ke arah Giotto dengan kecepatan dan kekuatan maksimalnya. Giotto sendiri bersiap-siap untuk menyambut serangan terakhir dari sang iblis, ia mengumpulkan energi terakhir dari setiap sel-sel di tubuhnya.
Semuanya dipertaruhkan di serangan terakhir ini.
Dan pemenangnya—adalah orang yang paling terakhir berdiri.
'ZRAAASH'
Terengah-engah.
Nafas lelaki itu terhenti untuk beberapa detik.
Sebuah trident panjang menembus dada dan sayapnya, seperti sebuah tonggak besi menusuk burung yang sedang terbang. Ironisnya, pemburu yang memegang besi tajam itu adalah seorang wanita. Ah bukan—dia adalah laki-laki, berwujud wanita berambut cokelat panjang dengan kilauan mata karamel yang memikat.
Giotto yang semula terbelalak, kini tersenyum lembut ketika mata mereka bertemu dalam selang keheningan yang cukup lama. "Huff—aku tak menyangka aku akan melihat wajahmu di detik kematianku, Tsuna—"
Mukuro menarik kembali trident dari tubuh lawannya, membiarkan Giotto jatuh dan mendarat di tanah dengan suara keras.
.
.
.
Kebenaran tidak selamanya menang
Pertaruhan mereka dimenangkan oleh Pangeran Hitam
Kematian Pangeran Putih akan menjadi kekuatan baru
Kekuatan yang membuatnya menjadi makhluk hitam sejati
.
.
.
Mukuro mendarat menghampiri tubuh Giotto yang sudah tak bergerak, ia berdiri di sampingnya, mengatur nafas sejenak kemudian mengacungkan tridentnya tinggi-tinggi ke arah langit gelap.
"O φεγγάρι, μου χορηγήσετε μεγάλη δύναμη για τη ζωή που έχω θυσιάσει. Για το καλό όλων των διαθηκών δημιουργός σας, μου κάνει μια πραγματική διάβολος, όπως έχει προορίζονται..."
"(O moon, grant me the great power for the life I've sacrificed. For the sake of all your creator wills, make me a true devil as it has been destined...)"
Sinar rembulan yang semula bersembunyi di balik awan hitam kini menghujani tubuh Mukuro dengan cahaya kemerahan, seolah-olah menyahut seruan dan meyambut kemenangan yang telah ia raih. Bersamaan dengan cahaya merah yang kini menimpa kedua matanya, Mukuro merasakan suatu kekuatan bangkit dari denyut nadi dan jantungnya, mengalir sinkron dengan aliran darahnya, membiarkan dirinya bersatu dengan kekuatan baru yang akan ia terima.
Sebelah matanya berubah menjadi merah setelah seruan yang ia ucapkan, pada pupilnya yang senada dengan warna darah terukir simbol kanji 6, jumlah yang sama dengan sayap Giotto. Ia kini telah menjadi Diávolos sejati.
Setelah menerima hadiah atas persembahannya, Mukuro terbang ke tempat di mana Tsuna berada. Sesuai yang ia duga, wanita itu masih diam di sudut ruangan yang hancur sambil duduk memeluk kedua lutut. Gadis itu mengangkat kepalanya ketika menyadari kedatangan Mukuro.
"Mukuro—"
Alih-alih menyahut, laki-laki yang dipanggilnya itu merentangkan kedua tangannya untuk mengundang Tsuna berlarut dalam pelukan.
"Mukuro—maafkan aku. Aku tidak—"
"Aku sudah memafkanmu, kemarilah—ayo kita pulang."
Kata-kata Mukuro membuat Tsuna terkejut, tapi ia senang sekali karena lelaki yang dicintainya itu ternyata memberinya ampunan. Tsuna berlari kecil menghampiri Mukuro dan memeluknya erat-erat, betapa ia sangat mencintai pria dalam pelukannya ini. Dalam hati gadis itu berjanji apapun yang terjadi, ia tidak akan melepaskan diri darinya lagi.
Mukuro membalas pelukan yang terkasih satu-satunya, membelai kepalanya pelan sambil tersenyum lembut.
Ini semua sudah berakhir...
'JLEEB'
Bagai petir yang menyambar tulang rusuk, tiba-tiba Tsuna merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya, ketika ia menunduk, mata trident yang tajam mencabik perut hingga ujungnya yang paling tinggi menembus punggung sang gadis.
"Kenapa—Mukuro—?" Kesadaran Tsuna tiba-tiba menurun drastis, tenaganya lenyap seketika hingga pelukannya mengendur.
"Kufufu, indah kan Tsuna? Kau mengkhianatiku setelah mengucapkan sumpah palsu, dan aku membunuhmu setelah membohongimu."
"Mukuro—padahal aku sangat—mencintaimu." Tubuh Tsuna merosot terus, hanya butuh waktu 10 detik sampai akhirnya tubuh wanita itu terbaring di lantai dikelilingi oleh genangan darah, air mata mengalir dari kedua sudut matanya yang sudah tak lagi bersinar, aura memikat yang sempat terpancar kini menghilang perlahan-lahan dari tubuhnya.
"Aku juga mencintaimu, Tsuna—" sahut Mukuro sambil mencabut trident-nya dari tubuh Tsuna kemudian menjilat darah yang menempel di ujungnya. "—Aku sangat mencintaimu."
Tak lama setelah Tsuna berhenti bernafas, Spade dan Byakuran datang. Mukuro menoleh ke arah mereka berdua, sebelah matanya yang masih berwarna biru meneteskan air mata, tapi bibirnya melengkung membentuk senyuman, "Sepertinya aku tak bisa meminjamkan Tsuna padamu semalam, Spade."
.
.
.
Hanya sampai sini saja perjalanan cinta Cinderella
Mati di tangan orang yang ia cintai sepenuh hati
Kesalahpahaman yang terjadi tak pernah terungkap
Hingga akhirnya Pangeran Hitam menyadari semua kesalahannya
Bertahun-tahun ia larut dalam kesedihan
Pangeran Hitam tak bisa hidup tanpa ditemani sang puteri
.
.
.
"Ada apa memanggilku, Rokudo Mukuro?" seorang lelaki muda, berambut merah dengan wajah yang dipenuhi plester menghampiri Mukuro yang berdiri membelakanginya.
"Aku butuh bantuamu," jawab Mukuro tanpa membalikkan badan, "Kau bisa mencari jiwa yang hilang bukan?"
Laki-laki berambut merah itu diam sebentar, seolah-olah ia tahu apa yang akan dikatakan Mukuro selanjutnya.
"Aku ingin kau mencarikan jiwa Tsuna untukku."
"Maaf Mukuro, tapi aku tidak bisa."
"Kau harus bisa, Enma!" Mukuro membalikkan badan, menghampiri laki-laki yang lebih pendek darinya dan mencengkram kedua bahunya kuat-kuat, "Sejak kematian Tsuna, sebelah mataku tak bisa berhenti mengeluarkan air mata!"
Kozato Enma memandangi mata biru Mukuro yang gelap dan berkaca-kaca, seperti sedang menahan kesedihan dalam waktu cukup lama. Sementara yang sebelahnya lagi—merah membara, jahat, dan penuh dengan emosi.
Enma melepaskan cengkraman tangan Mukuro dari bahunya sambil berkata pelan, "Sebelum kau minta, aku sudah berusaha mencari jejak pergi jiwanya, namun sampai sekarang belum ada kepastian siapa yang memiliki jiwa Tsuna. Satu-satunya petunjuk yang berhasil kutemukan, ia berada di suatu tempat di dunia tengah bagian timur."
.
.
.
Mengetahui belahan jiwanya berada di Timur
Pangeran Hitam seorang diri pergi ke sana
Mencari jiwa kekasihnya di setiap wanita yang menarik
Bertahun-tahun mencari tanpa henti
.
.
.
Suara erangan pelan terdengar nyaring di kamar gelap dan sempit, nafas yang panas dan memburu terdengar samar dibalik suara angin malam yang berhembus dari jendela terbuka, memainkan tirai yang menutupi siluet dua sosok telanjang di atas sebuah ranjang. Desahan nafas akibat mencoba merasakan kenikmatan duniawi semakin meliar ketika sentuhan demi sentuhan yang merangsang datang bertubi-tubi.
"Ahhh—nnnh—AHH!"
Mukuro memperhatikan detail tubuh wanita pasangannya sambil menelusuri setiap permukaan yang ingin ia sentuh, membuat pasangannya semakin mengerang senang. Tubuh yang cantik, kulit halus yang mempesona, gerakan-gerakan dan ciuman liar, remaja ini sempurna. Namun Mukuro tidak merasakan kepuasan apapun, satu jam ia menjamahinya namun sama sekali tidak merasa senang. Mukuro mencium si wanita dan menggigit bibir bawahya hingga berdarah, ia tak merasakan kenikmatan apa-apa. Setelah klimaks yang singkat, akhirnya laki-laki itu menikam perut sang gadis sambil bergumam kecewa.
"Kau juga bukan terkasihku satu-satunya."
Setelah selesai berpakaian, Mukuro membawa tubuh yang sudah terkoyak itu ke dalam sebuah ruangan dimana tergeletak mayat-mayat wanita telanjang lainnya. Kemudian ia duduk di sebuah kursi di depan jendela, merenung sambil menikmati segelas anggur.
"Di mana pun kau berada, aku pasti akan menemukanmu."
Jam berikutnya Mukuro terbang dari sebuah mansion tua yang ia tinggali, melesat menuju perumahan untuk mencari wanita-wanita lain yang mungkin memiliki jiwa Tsuna, ketika melewati sungai besar, ia melihat seorang gadis berambut panjang yang berdiri sendirian di tepi jembatan.
"Bukankah berbahaya untuk gadis cantik sepertimu berada di tempat ini sendirian, nona?" ujar Mukuro. Gadis itu menoleh terkejut, sebuah perban tampak menutupi sebelah mata ungunya.
"Kau—siapa? Dan sayap itu—?"
"Oya? Aku terkejut kau bisa melihat sayapku." Mukuro menghampiri sang gadis, "Apa yang terjadi padamu? Hanya orang-orang yang pernah melihat kematian dan mengalami kesedihan yang bisa melihat sosok asliku."
Gadis itu menunduk, tangannya bergetar, "Aku—aku baru saja membunuh orang," katanya. "Ayahku—ia selalu memukuliku tiap sedang mabuk atau marah, beberapa jam yang lalu aku tak sengaja menikamnya dengan pisau cutter saat ia mencoba memukulku dengan menggunakan botol bir. Sekarang aku tak memiliki siapapun, aku tak punya tempat untuk pulang, rasanya aku ingin mengakhiri hidupku."
Gadis itu mulai terisak. Mukuro tahu gadis itu bukanlah wanita yang ia cari, namun ia dapat merasakan kesedihan yang dialaminya. Ia mengerti bagaimana rasanya membunuh orang yang dicintai kemudian menyesal setelahnya.
"Sepertinya kau dan aku memiliki kesamaan. Bagaimana kalau kau ikut denganku?" Mukuro memeluk gadis itu dari belakang dan memainkan rambut panjangnya, "Siapa namamu?"
"—Nagi."
"Nagi—lupakan masa lalumu, mulai sekarang kau adalah Chrome Dokuro, pelayanku yang setia."
.
.
.
Kehadiran si pelayan di sisi sang Pangeran mengurangi kesedihannya
Mereka mengerti satu sama lain
Saling mengisi kekosongan
Bersama-sama, keduanya mencari milik mereka yang hilang
Hingga akhirnya suatu hari titik terang menghampiri sang Pangeran
.
.
.
Kozato Enma berjalan cepat menuju ke sebuah ruangan, di tangannya terdapat sebuah kristal merah kecil yang menyala.
"Chrome, di mana Mukuro?" tanya Enma saat ia berpapasan dengan gadis pelayan Mukuro.
"Mukuro-sama ada di dalam." Sahutnya sambil membuka sebuah pintu tinggi. Tanpa bertele-tele Enma langsung masuk menuju ruangan yang dimaksud, di depannya berdiri Mukuro yang menghadap ke luar jendela sambil meminum segelas anggur.
"Ada apa Enma?" tanya Mukuro tanpa menoleh.
"Kau harus melihat ini." Enma menunjukkan kristal merah yang digenggamnya pada laki-laki bermata bi-color itu. Mukuro meletakkan anggur di atas meja kemudian menutup mata, mencoba menerawang kristal yang kini menyala terang di tanganya.
Lama.
'TRAAANG'
Setelah beberapa menit hening, Mukuro tiba-tiba melempar kristal yang digenggamnya hingga memantul ke dinding. Chrome memperhatikan gerak-gerik tuannya yang tiba-tiba berubah, laki-laki itu seperti kehabisan nafas, tangan kanannya menutupi mata merahnya, beberapa peluh keringat mengalir dari dahi.
"Mukuro-sama, kau tidak apa-apa?"
"Fuu—Kufufu. Jadi begitu rupanya? AHAHAHAHAHAHA—HAHAHA. Pantas saja aku sulit menemukanmu."
"Mukuro-sama?"
"Chrome—" Mukuro berjalan ke arah Chrome dengan senyuman dingin terpampang di wajahnya, dalam satu gerakan laki-laki itu mencium bibir pelayannya, kemudian memeluk tubuh sang gadis erat-erat sambil berbisik pelan.
"Kufufu—akhirnya aku menemukannya, Chrome. Aku menemukan Tsuna—ah, bukan—"
.
.
.
"Tsunayoshi—"
.
.
.
Yahhh—Q tw lama banget fic ini update nya. Soalnya Q sempet kena WB juga sih, gara2 kebanyakan main Harvestmoon fufu. Terus gara2 lagi seneng mainan game FB juga jadi semua fic ley keteteran AAAAAAAA...
Yahh, reader—setelah chapter ini sebagian misteri udah terungkap kan? Walau ada juga misteri lainnya yang belum terungkap, tapi nanti pasti dibeberkan kok. Terus ley mw tepat janji dehh, pokoknya bakal sering update!
Sesering apa? Yah kita liat aja nanti *smirks*
Oh btw, review please? :D
