"Apa?" Tom menatap Dumbledore dengan tatapan tidak percaya miliknya. "Jangan bercanda padaku, Albus Dumbledore."
"Kau tahu peraturannya, Tom" Dumbledore menghela nafas panjang. Kepala sekolah itu menunjukkan raut wajah menyesal, tapi ia bertingkah seolah tak dapat berbuat banyak. Ia terduduk di belakang meja kerjanya. Dahinya berkerut samar, dan reaksi itu memuakkan bagi seorang Tom Riddle.
"Hermione tidak bisa pergi tahun ini. Kita harus menunda setahun lagi. Dia bahkan belum berusia genap sebelas tahun─"
"Kau sialan serius mau membahas omong kosong ini padaku?" umpat Tom dengan desisan suaranya seperti ular. Rahangnya mengeras, matanya memerah persis seperti banteng mengamuk. "Namanya muncul dalam buku, Dumbledore! Namanya muncul disana setelah puluhan sialan tahun aku menunggunya!"
Guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu berjalan mondar-mandir dengan hentakan kaki yang keras pada setiap kali ia melangkah. Cuping hidungnya mengembang kempis; berusaha mengontrol emosinya yang saat ini berada pada titik didih puncak yang siap meledak. Sihir dari dalam diri Tom tak dapat membohonginya; Dumbledore bisa merasakan sihir Tom bergerak brutal seakan-akan siap untuk membunuh siapa saja yang berada didekatnya.
Oh yeah, Tom Riddle si mesin marah.
"Persetan dengan peraturan. Kau harus membuatnya hadir dalam tahun ini!"
Dengan tegas, Dumbledore menelengkan kepalanya; dengan fakta ia sejatinya berusaha mengabaikan sihir Tom yang semakin meledak-ledak dalam dirinya.
"Tom, aku sangat yakin kau paham betul tentang sistem ini," Dumbledore berusaha menjelaskan dengan nada bijaksana. Membuat perkataannya sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan kesalahpahaman antara mereka berdua. Berkonflik lagi dengan seorang Tom Riddle seperti dulu kala adalah petaka. Ia tentu tidak akan tinggal diam.
"Dia akan tetap hadir di Hogwarts, namun bukan untuk saat ini. Kita hanya perlu menunggunya satu tahun lagi, Tom. Bukankah saat ini yang terpenting adalah akhirnya kau tahu bahwa dia telah hadir dalam tahun yang sama denganmu?"
Ia berhenti mondar-mandir dan berdiri tepat dihadapan Dumbledore. Ia mendesah frustasi, tangannya berkacak pinggang dan dia terlihat kalut. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Dumbledore memutuskan untuk beranjak dari tempatnya kemudian mencoba mendekatinya. Ia bisa merasakan sihir dari dalam diri Tom mulai terkendali. Dumbledore mencoba meyakinkan Tom lagi dengan perkataan persuasifnya. "Hanya satu tahun dan setelah itu dia milikmu."
Perkataan Dumbledore berhasil membuat aura diruangannya menjadi tenang kembali dan tak ada lagi aura-aura gelap berasal dari sihir Tom. Mantan muridnya itu menoleh ke arahnya, matanya memandang lurus dan siapa pun tahu bahwa itu adalah tatapan depresi. "Kau tahu dengan pasti, Dumbledore." Suaranya bergetar. Ia berani bersumpah ada sebuah titik airmata di pelupuk mata Tom. "Aku takut dia menghilang lagi."
Ini kali pertamanya, seumur hidup Dumbledore melihat Tom sekalut ini setelah berpuluh-puluh tahun lamanya ia mengejar 'gadis obsesi-nya'. Menurutnya, ini adalah titik terendah Tom. Ia bisa merasakannya bahkan hingga ulu hatinya karena ia sangat paham bagaimana dulu frustasinya dia berurusan dengan masalah Grindelwald. Dan saat Dumbledore melihat Tom, ia seperti bercermin melihat dirinya sendiri meski dalam wujud yang berbeda. Ia tetap merasakannya; perasaan rapuh.
"Dia tidak akan hilang lagi, aku janji." mantap Dumbledore sembari memberikan senyuman hangat untuk mantan muridnya itu. Mereka terdiam selama beberapa saat dan diam adalah jalan terbaik untuk menetralkan suasana yang memanas sebelumnya terjadi. Sampai pada akhirnya, Dumbledore kembali bersuara. "Oh, apakah aku sudah memberitahumu bahwa kau bisa menemuinya tanpa harus menunggunya tahun depan?"
Tom mengernyitkan dahinya; "Maksudnya?"
Dumbledore mengangkat kedua bahunya, "Ya, secara teknis memang Hermione akan masuk pada ajaran baru tahun depan. Tapi semua itu butuh persiapan khusus─barangkali kau lupa bahwa ia kelahiran Muggle. Dan itu akan melibatkan tutor untuk persiapannya dalam sekolah nanti. Aku harap kau tak melupakan bagaimana pertama kali aku mendatangimu─"
Tom melotot mendengarnya.
"−memperkenalkan dunia sihir padamu, lalu aku─"
"Aku akan menjadi tutornya."
Tom menyeringai setelah itu dan entah mengapa Dumbledore lega dapat kembali melihat seringai itu tercipta pada wajahnya.
A/n : Budayakan membaca warning ya, fellas. Happy reading! :3
Another Miracle
.
.
By : voldemortslave
Warning : This story will have many chapters and i warned you from the first.
Disclaimer : Harry Potter © JK Rowling
Summary : Muncul dan pergi begitu saja, lalu meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan. Tom tak pernah menemukan gadis yang sekurang ajar dirinya. Ia harus mendapatkan gadis itu kembali untuk membayar atas semua yang ia lakukan padanya. Hermione Granger, adalah obsesi barunya.
7. Penyihir
Jaraknya hanya berkisar sembilan kaki dari rumah dengan tembok berbatu bata merah di hadapannya. Kurang lebih, sudah dua jam ia berdiri disini tanpa melakukan kegiatan yang pasti─selain menatap rumah itu tentunya. Dan selama dua jam itu pula, ia menghabiskan waktunya untuk berpikir keras; apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengannya, apa yang harus ia katakan nanti, dan hal-hal sederhana lainnya yang seharusnya bukan menjadi perkara besar bagi manusia seperti Tom Riddle yang ahli dalam mencari perhatian. Tapi, ia harus akui bahwa ia tegang setengah mati saat ini.
Ya, Tom Riddle tegang.
Sang Penguasa Kegelapan di masa ini─seharusnya─sedang tegang.
Bagaimana ia tidak tegang?
Dia berada di depan rumah gadisnya; Hermione Granger.
Sesuai dengan aturan Kementerian Sihir, dalam kasus seperti Hermione yang merupakan kelahiran Muggle ini memerlukan tutor khusus yang dapat menjelaskan tentang sekolah sihir dan membuat orangtua mereka mengerti secara keseluruhan untuk segala konsekuensi yang berlaku.
Tom langsung menyetujui penawaran itu tanpa syarat untuk menjadi tutor pemandu persiapan Hermione sebagai siswa didik baru di Hogwarts tahun depan. Ya, Riddle nyaris tidak mempercayai dirinya sendiri karena well, nyatanya ia dapat berdiri disini dan akan bertemu dengan gadisnya sebentar lagi dengan melalui cara yang legal. Oh, ia ingat bagaimana proses ia mendapatkan surat tugas dari Dumbledore untuk menjadi tutor Hermione. Ia meringis mengingatnya kembali.
Pekan lalu, surat pemberitahuaan penerimaan telah dikirimkan melaui pos konvensional yang biasa digunakan oleh Muggle. Orangtua Hermione setuju untuk membuat temu janji dengan tutor dari Hogwarts, yang mana itu merupakan lampu hijau yang baik untuk Tom.
Dan, disinilah dia. Berdiri layaknya penguntit idiot yang mengintai rumah Hermione.
Membayangkan Hermione dalam rupa bocah berusia sebelas tahun membuatnya merasa canggung. Sungguh sinting, dia akan bertemu versi Hermione kecil yang masih belum tahu apa-apa tentang dirinya dan oh, tentu saja tidak tahu menahu mengenai masa depan, apalagi histori yang pernah terjadi diantara mereka berdua.
Tom menggosok tengkuk lehernya; ini tentu saja tidak mudah bagi dirinya. Kalau saja dari segala alternatif-alternatif yang telah ia tempuh ada yang berhasil, barangkali ia tak perlu kebingungan menghadapi situasi saat ini dan bisa langsung bertemu Hermione dalam versi yang dewasa.
Celakanya, yang akan dihadapinya nanti bukan hanya orang yang dinanti-nantikannya selama ini, melainkan juga ia harus berhadapan dengan kedua orangtuanya. Memori tentang Hermione saat mengatakan alasan utama mengapa ia kehilangan orangtuanya di sebabkan oleh Tom, membuat salah satu alasan mengapa ia rela berdiri selama itu dipinggir jalan yang sepi ini selama berjam-jam─memikirkan matang-matang tentang apa yang harus ia lakukan terhadap orangtuanya. Tom memejamkan matanya, mulutnya kemudian menghembuskan nafas panjang;
Kenapa ia harus menjadi bajingan di masa depan?
Tangannya merogoh saku mantel yang dikenakannya, ia berusaha menghangatkan tangannya yang entah kenapa tiba-tiba terasa dingin. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia hanya perlu mengikuti ketentuan yang telah disepakati dirinya dengan Dumbledore setelah cekcok yang cukup melelahkan waktu itu.
Pada akhirnya, ia memantapkan dirinya untuk melangkahkan kaki menuju rumah yang sedaritadi menjadi objek pandangannya itu. Melewati pekarangan rumah yang ditanami beberapa mawar putih dan kemudian langkahnya berhenti tepat di depan pintunya. Memilih untuk menarik nafas panjang, sebelum ia benar-benar berani mengetuk pintu berbahan dasar kayu jati itu.
Tenang, batin Riddle meyakinkan dirinya sendiri. Semua akan baik-baik saja.
Ia mengetuk pintunya, setidaknya tiga kali ketukan. Tak sampai menunggu lama disaat pintu itu terbuka, Tom langsung berhadapan dengan seorang pria berkisar tiga-puluh tahunan dengan rambut klimis rapi yang disisir ke samping, menatap dirinya dengan bingung. Oh sial, ini pasti Ayahnya.
"Selamat siang, Mr. Granger," Tom memberikan senyuman terbaiknya. Mengerahkan pesona dan kharismanya semaksimal mungkin guna menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia mengulurkan tangannya, menawarkan jabatan tangan secara formalitas. "Saya Profesor Riddle. Kita sudah membuat janji hari ini─"
"Oh, oh, tentu saja!" tanpa pikir panjang, Mr. Granger langsung membalas jabatan tangannya sesaat setelah mendengar Tom menyebutkan titelnya. Ia tersenyum lebar, seakan-akan ia telah menantikan kehadiran Tom sedaritadi. "Profesor Riddle, sungguh sebuah kehormatan! Silahkan masuk!"
Mr. Granger menggiringnya ke dalam rumah minimalis itu. Mata Tom mengitari sekelilingnya, interior rumah ini sederhana dan hanya satu kata yang dapat menggambarkan rumah ini adalah; rapi. Dindingnya berwarna putih gading dan kelabu, selebihnya dekorasi rumah ini sangat simple.
"Jean! Profesor Riddle sudah datang!" Mr. Granger memanggil sebuah nama yang Riddle duga kuat adalah nama istrinya. Dugaannya terbukti ketika seorang wanita yang kisaran usianya tak jauh berbeda dari Mr. Granger datang menghampiri mereka dari arah dapur; lengkap dengan celemek yang menempel ditubuhnya. Wanita cantik itu tersenyum anggun dan auranya terlihat sangat bersahabat.
"Selamat siang, Mrs. Granger. Maafkan saya jika mengganggu siang hari keluarga anda." Tom mengulurkan tangannya; menawarkan sebuah jabat tangan.
"Ah, tidak sama sekali, Profesor. Kami benar-benar sangat senang dengan kehadiran anda." Ujarnya sembari membalas jabatan tangan dari Tom. Setelah itu, Mr. Granger membawa mereka menuju ruang tamunya dan mempersilahkan dirinya duduk di sofa yang seolah menawarkan kenyamanan itu. Oh, bagus sekali. Tom benar-benar ada di dalam rumah gadisnya dan sekarang ia duduk disofa bersama ayah dan ibunya.
"Kopi?" tawar Mrs. Granger.
Tom mengangguk, mengiyakan tawarannya. Kemudian Mrs. Granger menuangkan isi dari pot kopi yang terlihat masih panas itu ke tiga cangkir kopi lainnya.
"Kami telah membaca surat dari instansi anda, Profesor." Mr. Granger mengawali diskusi yang mulai serius. "Dan itu membuat kami sangat penasaran, apakah Hermione mendapatkan sebuah beasiswa sehingga dia mendapatkan tawaran untuk bersekolah di tempat anda, benar begitu?"
"Dia tidak pernah mengikuti tes beasiswa apapun disekolahnya, setahu kami." Timpal Mrs. Granger dan memperlengkap pertanyaan introgasinya kepada Tom.
Tom tersenyum, ia bisa merasakan bahwa kedua orangtua Hermione bukanlah orang yang mudah untuk ukuran muggle. "Tidak, ini bukanlah sebuah beasiswa. Sekolah kami percaya akan kemampuan spesial yang Hermione miliki dan kualitas yang kami cari."
"Kemampuan spesial?" Mrs. Granger mulai merasa tertarik akan arah pembicaraan ini. "Maksudmu dalam hal sains?"
"Begini," Tom berdeham, senyumnya tak pernah beranjak dari wajahnya seolah-olah ia memang terlahir dengan senyum memukau seperti itu. "Hermione. Apakah ia pernah melakukan sesuatu diluar akal sehat manusia biasa?"
Pasangan suami istri itu saling bertatapan; mengirim sinyal dan terlihat jelas dari raut wajah mereka bahwa mereka terkejut mengapa tebakan Tom benar. Tak ada satupun dari mereka berdua yang menjawab pertanyaan Tom. Mereka terdiam, kini menatap Tom dengan canggung.
"Misalnya ia dapat melayangkan sebuah benda, menggerakan benda tanpa menyentuhnya atau─"
"Dia membunuh kucingnya secara... tidak sadar," perkataan mengejutkan itu berasal dari Mrs. Granger. Ia menatap Tom dengan rasa cemas. Tangannya kemudian menggenggam tangan suaminya dengan erat, menatapnya dengan kilatan cemas; seakan-akan ini adalah hal tabu untuk mereka bicarakan. "Sebilah pisau, dari rak atas dapur yang tak bisa ia jangkau sama sekali─karena ia masih sangat kecil─tiba-tiba keluar dari rak, ia melayangkannya menggunakan tangan kecilnya dari jarak yang cukup jauh, lalu ia mengarahkannya pada kucingnya; Sammy."
"Apa kau menyaksikannya sendiri?"
"Dengan mata kepalaku, aku bersumpah." suara Mrs. Granger terdengar semakin cemas. Ia kemudian berbisik, sepelan mungkin entah apa yang ia takutkan. "Dia baru berusia 3 tahun saat itu, demi tuhan!"
Tom benar-benar tak tahu harus berkata apa. Informasi baru mengenai Hermione yang ia ketahui ini membuatnya terkejut sekaligus tertarik secara bersamaan. Hermione menggunakan sihir pertamanya untuk melakukan sebuah pembunuhan. Ini benar-benar menarik. Sangat menarik. Untuk beberapa alasan yang tidak ia ketahui secara pasti, hatinya berdesir.
Entah mengapa hal ini mengingatkannya kepada kelinci bodoh milik Billy Stubbs yang Tom bunuh saat ia berusia delapan tahun di panti asuhan neraka itu. Ia menggunakan sihirnya untuk membunuh kelinci dungu itu dan kemudian hal itu menjadi sebuah insiden yang hangat dibicarakan dipanti asuhannya kala itu. Billy Stubbs pantas mendapatkannya dan hingga saat ini, ia tak pernah menyesal sedikitpun melakukannya.
"Apa yang anda lakukan kala itu?"
"K-kami memutuskan untuk menganggap tidak terjadi apa-apa." Mr. Granger menimpali. Jemarinya mengusap punggung tangan istrinya. "Dia masih... terlalu kecil saat itu, kau tahu. Dia bahkan tidak tahu apa itu membunuh. Semua dilakukan secara tak sadar."
Tom mengangguk-angguk, "Apakah ada kejadian aneh lainnya setelah itu?"
"Ya, beberapa hal seperti; memecahkan televisi, menerbangkan pohon natal, dan─tunggu dulu," Mr. Granger mengerutkan dahinya dalam-dalam seakan ia tersadar oleh sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia memincingkan matanya kearah Tom. "Apakah sekolah anda merupakan sekolah khusus anak dengan keistimewaan? Maksudku, apa itu sekolah anak dengan keterbutuhan khusus? Gangguan mental? Apakah anda seorang psikiater?"
"Tidak, Mr. Granger. Aku adalah seorang guru dan bukan psikiater." Tutur Tom dengan gelengan kepalanya menjawab pertanyaan beruntun dari ayah Hermione. "Tapi ada beberapa poin yang benar; sekolah kami khusus untu anak dengan keistimewaan yang dimilikinya, namun sekolah kami bukan untuk orang gila."
"Jadi, apa jenis sekolah kalian sebenarnya─sebentar, apa nama tadi sekolahnya?"
"Hogwarts," Tom tersenyum simpul dengan menawan. "Sekolah kami adalah sekolah sihir."
Baik itu Mr. Granger maupun istrinya menganga secara bersamaan. Mereka terdiam, menganga seakan baru mendengar hal tergila yang pernah ia dengar seumur hidup mereka. Oh yeah, mereka bahkan tak berkedip.
"Sebentar, Profesor Riddle. Apakah anda baru saja ingin mengatakan bahwa putri kami adalah seorang... penyihir?" tanya Mr. Granger dengan nada menyelidik.
"Tepat sekali."
"Oh, aku tahu anak kita bukan orang gila! Aku bisa merasakannya!" Mrs. Granger lagi-lagi memecah kesunyian yang mereka ciptakan sendiri dari awal. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan penuh rasa lega. Ia tersenyum lebar dan perhatiannya beralih kepada Tom dengan rasa ketertarikannya yang membuncah. "Tapi, tapi─bagaimana anda tahu bahwa putri kami memiliki kemampuan yang dibutuhkan sekolah anda? M-maksudku, bagaimana anda bisa memastikan bahwa Hermione adalah memang seorang penyihir?"
"Nama Hermione sudah tertulis dalam daftar kami sejak ia lahir dan semua orang yang berada dalam daftar kami adalah seorang penyihir."
"Wow," Mr. Granger berdecak kagum. "Itu benar-benar... gila."
Tepat disaat decakan kagum itu berlangsung, suara pintu depan rumah mereka terbuka dan tertutup dengan suara debuman yang cukup keras. Seorang gadis kecil memasuki rumah ini dengan sedikit berlari dan berhenti di ruang tamu dengan membanting tas punggung yang ia hempaskan begitu saja dibawah kakinya.
"Mom, aku haus sekali! Kau tahu, aku pulang berjalan kaki karena coba tebak─bus sekolah kami berwarna kuning reyot yang jelek itu rusak! Dan coba tebak lagi, aku harus rela pulang bersama Diana Jill yang selalu mengejekku semak belukar berjalan itu! Oh, terima kasih Tuhan, betapa indahnya hari ini!"
Gadis kecil itu pergi menuju dapur dengan hentakan kakinya yang kesal dan langsung menyerbu ke arah lemari pendingin dengan dua pintu itu. Mengeluarkan sebotol limun, lalu meminumnya langsung dari botolnya dengan cuek.
"Mione, darimana kau belajar mengatakan itu?" Ibunya mengernyitkan dahinya setelah mendengar perkataan sarkas putrinya. Ia menatap ke arah Riddle dan suaminya, "Maaf, aku permisi untuk mengurusinya dulu."
Mrs. Granger beranjak dari duduknya, memungut tas punggung putrinya yang digeletakkan begitu saja, lalu menghampirinya di dapur. Mempertanyakan bagaimana reaksi Tom Riddle?
Oh, Tom Riddle tentu saja benar-benar sulit mencerna semua yang terjadi terlalu cepat. Ia sampai perlu mengedipkan matanya berapa kali, memastikan objek pandangannya tak salah. Matanya menatap lurus kearah bocah dengan rambut keriting yang mengembang itu, tengah memutar kedua bola matanya ketika Ibunya tengah mengomelinya.
Ia mengedipkan matanya lagi. Sekali lagi, lalu berulang kali dan mendapati objek pandangannya masih sama. Kemudian matanya melebar saat ia menyadari siapa bocah itu. Hatinya secara otomatis berpacu hebat tanpa dikomando, mulutnya terbuka kecil, dan dalam seketika dunianya berhenti.
.
.
Dihadapannya saat ini adalah;
.
.
Hermione Granger.
.
.
"Profesor Riddle?" teguran dari Mr. Granger membawanya kembali ke alam sadarnya. Tom menoleh ke arahnya dengan tatapan linglung. "Apakah semuanya baik-baik saja?"
Tom mengendalikan dirinya yang penuh topeng itu kembali bersama dirinya. Kontrol dirinya mendadak dapat bekerjasama dengan baik. "Ya, ya, tentu." Ujarnya dengan tersenyum tipis. Pada detik berikutnya, ia mulai ingat bagaimana caranya bernafas; menghirup oksigen dalam-dalam, menikmati bulir-bulir oksigen yang masuk ke paru-parunya, dan─
"─harus sopan. Nah, Mione. Ini adalah Profesor Riddle." Mrs. Granger memperkenalkannya dengan cara yang lembut meski nampaknya Hermione sama sekali tidak menunjukkan aura bersahabat. "Profesor Riddle, ini adalah putri kami, Hermione Granger."
Kini Hermione benar-benar tepat berada dihadapannya dalam jarak radius yang dekat. Oksigen dan alam semesta mendadak menyempit dalam dunianya. Oh, sialan, dalam sepersekon ingatannya tentang apa itu bernafas hilang entah kemana.
Tunggu dulu, apa yang terjadi?
Hermione menahan nafasnya. Ia ingat ia baru pulang sekolah, marah-marah akan apa yang terjadi padanya hari ini dan kemudian Ibunya menyuruh dirinya untuk berkenalan dengan teman Ayahnya atau semacam itu. Lalu─
─kenapa orang itu tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penyihir?
"Karena kau memang penyihir, Hermione." Suara berat yang menjelaskannya secara pelan membuatnya bergidik. Ia menoleh ke arah kedua orangtuanya, meminta kejelasan akan omong kosong ini. Tapi mereka bergeming dan bahkan raut wajah mereka harap-harap cemas saat orang ini menjelaskan secara rinci.
Hermione mengernyitkan dahinya; sebentar, ini sungguhan?
"Apa kau berpikir ini sebuah candaan?"
Ia melebarkan matanya, menatap orang dengan aura yang menurutnya menyeramkan itu dengan tatapan tak percaya. Dia mendengar isi kepalanya atau bagaimana?
Hermione kemudian melihat pria yang memperkenalkan dirinya sebagai profesor itu menghela nafas, dia tersenyum lembut ke arahnya tiba-tiba dan itu terasa aneh. Hermione pikir kelembutan orang itu tak cocok dilakukan olehnya entah mengapa.
"Aku bisa membaca pikiranmu."
Tidak mungkin.
"Mungkin saja, kau akan mempelajari membaca isi pikiran orang lain nanti di Hogwarts."
Mempelajari hal tidak sopan seperti itu? Sekolah macam apa itu?
Hermione melihat kernyitan dahi Profesor Tom dan sedetik kemudian ia terkekeh pelan. "Semua yang diluar akal pikiran manusia biasa bisa terjadi di sana."
"Sebentar, Tuan Profesor." Bocah perempuan itu berdeham layaknya orang dewasa yang hendak mengintrupsi pembicaraan. Ia mempelajari itu dari Ibunya. "Sejauh yang aku ketahui dan pelajari selama beberapa tahun ini bersama kedua orangtuaku, aku mendapati diriku adalah seorang telekinesis. Secara teori telekinesis, hampir semuanya berhubungan denganku dan─"
"Dan aku yakin ada banyak hal yang terjadi diluar teori telekinesis bukan?" Tom memotong ucapannya. Dia mencondongkan dirinya dari tempat dimana ia duduk. "Orangtuamu saat ini setuju dengan pendapatku. Karena mereka memang merasakan hal lebih dari dirimu."
Ia melongo, untuk sesaat ia merasa terintimidasi entah apa alasannya. Mungkin karena si profesor ini menggunakan nada bicara yang terdengar tak ingin dibantah atau mungkin karena suasananya saja yang memang menegangkan. Mata gelap profesor itu menatapnya seakan ingin melubangi isi kepalanya. Yang pasti, ia benar-benar tak nyaman saat ini.
Hermione menyipitkan matanya, "Apakah anda juga seorang penyihir?"
"Ya, benar."
"Buktikan karena aku perlu─"
Cangkir kopi dihadapannya melayang sejajar dengan dada Tom. Mereka semua melotot melihat hal itu dan bahkan Mrs. Granger sempat menjerit kaget.
"O-oke," Hermione menelan ludahnya, mencoba menghilangkan rasa tak nyaman dan rasa terkejutnya itu. "Jika benar aku penyihir, lalu apakah itu mengharuskanku bersekolah ditempat semacam itu?"
Tom memundurkan tubuhnya sedikit, ia jadi terlihat sedikit rileks. Dia menatap kedua orangtua Hermione sebentar, lalu manik matanya kembali pada Hermione dan tersenyum simpul, "Seorang penyihir harus dapat mengontrol sihir yang dimilikinya agar tidak merugikan orang disekitarnya. Terlebih, kau hidup dilingkungan Muggle─manusia biasa tanpa sihir─yang mana tak mengerti sama sekali akan hal semacam itu dan kemungkinan besar mereka akan menganggapmu sinting karena kau tak sama dengan mereka. Kau spesial, kau tahu itu? Tapi muggle di luar sana, tak menganggapmu demikian. Aku yakin kau sangat memahaminya."
Hermione bergidik, ia tak suka nada bicara Tom meski sebenarnya ia menuturkan setiap katanya dengan sangat teratur dan lembut. Intimidasi itu kian terasa, seakan-akan dialah bosnya.
"Tapi, sekolah kami tak bisa memaksa pilihan yang kalian inginkan. Kalian boleh menolak tawaran ini dan tetap melanjutkan apa yang telah kalian jalankan sebelumnya." Lanjutnya lagi. Kali ini ia mengeluarkan senyuman mematikannya. "Kami tak pernah memaksa."
Hermione menunduk, ia mendengar kedua orangtuanya mengatakan sesuatu dengan berbisik. Ia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun ia tahu pasti bahwa orangtuanya membicarakan dirinya dan masa depannya. Ia menyadari dia berbeda. Kedua orangtuanya sangat sering mengatakan dirinya spesial dan berusaha berpikiran positif bahwa anak mereka bukan orang gila. Tetapi, ia tak pernah tahu bahwa dirinya sespesial itu.
"Sayang?"
Ia mendengar Ibunya memanggilnya. Kepalanya mendongak menatap kedua orangtuanya. Tanpa mereka harus menuturkan apa yang ingin mereka katakan kepada putri semata wayangnya itu, ia sudah tahu apa keinginan mereka. Hermione menarik nafas panjang, "Kurasa... mungkin tempat itu cocok untukku,"
Hermione dapat melihat senyuman sumringah kedua orangtuanya dan ia berakhir berada pada dekapan Ibunya. Ujung matanya juga dapat merasakan bahwa ada senyuman lain diantara mereka semua;
Tom Riddle adalah satu-satunya orang yang tersenyum paling lega saat ini.
Dumbledore meneguk jus labunya, berusaha menetralkan tenggorokannya yang terasa serat karena panekuk pagi hari ini. Ia mengelap bibir dan jenggot putihnya itu dengan serbet di pahanya yang terkena sisa jus labu. Matanya melirik ke samping kirinya dan mendapati Tom Riddle sedang mengigit ujung bibirnya sembari menatap jam analog yang menjutai dari dalam jubahnya. Ia bahkan belum menyentuh sama sekali sarapannya.
"Kau menunggu sesuatu?"
Tom menoleh sebentar ke arahnya namun itu tak berlangsung lama. Ia memasukan jamnya kembali pada jubah hitamnya, "Semacam itu."
Alis mata Dumbledore terangkat satu, "Menunggu apa?"
Tom mendecakkan lidahnya. Alih-alih menjawab pertanyaan Dumbledore, ia justru menanyakan; "Kurasa pengiriman surat hari ini agak telat, bukan? Burung-burung bodoh. Maksudku, mengapa mereka lama sekali?"
Kini alis mata Dumbledore terangkat semua, "Kau menunggu surat?"
"Ya," untuk mendapatkan jawab itu, Dumbledore harus menunggu kira-kira sepuluh detik lamanya. Lalu ia melanjutkan, "Bukan hal yang penting."
Tom tiba-tiba saja meraih garpu dan pisaunya, lalu ia mulai mengiris kentang panggangnya dengan agak kasar. Dumbledore mengernyitkan dahinya curiga, seingatnya menunggu surat datang bukan merupakan kebiasaan Tom. Terlebih, dia bertingkah aneh dengan gelisah menunggu sebuah surat datang entah dari siapa itu. Apa mungkin ia menunggu surat dari para pengikutnya? Tidak, Dumbledore tahu surat dari pengikut bodohnya itu tak akan mungkin mengirim surat bersamaan dengan surat-surat lainnya secara publik saat sarapan seperti sekarang. Ini aneh, lantas surat siapa yang Tom tunggu melalui ruang publik hingga membuatnya secemas itu?
Suara kepakan ratusan burung hantu pengantar surat kemudian terdengar keras tak lama setelah itu. Mereka memasuki aula besar diiringi sorakan siswa-siswa Hogwarts yang bersemangat mendapatkan surat dari orang terkasih mereka. Ia buru-buru menoleh ke arah Tom dan ia kaget mendapatkan ekspresi Tom yang sangat jarang ditunjukkannya. Ketika burung hantu berwarna kelabu itu mendaratkan sebuah surat kabar dan seamplop surat, Tom tak dapat menyembunyikan wajah antusiasnya.
Tom mengabaikan gulungan surat kabarnya dan meraih amplop putih yang ditujukan untuknya. Dumbledore membenarkan letak kacamatanya. Ia tahu, ia tak akan mungkin dapat melihat siapa nama pengirim surat itu karena yang jadi masalah adalah; ini surat milik Tom. Dia bukan orang bodoh yang membiarkan suratnya bisa diintip secara cuma-cuma. Ia kemudian menjentikkan jarinya secara amat pelan dan sebuah kumbang keluar dari tangannya, lalu kumbang itu terbang di dekat Tom. Dumbledore menyipitkan matanya ketika mata kumbang itu sebenarnya menyambung dengan penglihatannya sendiri, ia dapat melihat nama pada bungkus amplop itu dan─
"Sopan sekali, Kepala Sekolah." Tom menepuk kumbangnya itu dengan sekali tepukan. "Sepertinya rasa ingin tahumu akan sesuatu yang bukan urusanmu itu semacam hobi ya?"
Sarkasme dari Tom membuat Dumbledore tak bisa melakukan hal lain selain tersenyum tanpa dosa. Tom beranjak dari kursinya dan ia membawa Daily Prophet serta surat dengan amplop putih itu bersamanya. "Saya permisi dulu, Kepala Sekolah."
Dan ketika Tom melenggang pergi meninggalkan meja makan khusus guru dan jajarannya itu, Dumbledore tersenyum simpul. Ia kemudian menarik nafas panjang dan memutuskan untuk kembali melanjutkan sarapan lezatnya yang diabaikannya sejenak tadi. Toh, Dumbledore sudah tahu itu surat dari siapa sekarang bahkan seisi-isinya juga. Kumbang yang diciptakan melalui sihirnya itu bukan sembarang pengintai, namun ia dapat mengerti isi keseluruhan surat itu. Well, sedikit lancang memang dan sepertinya ia harus menyetujui perihal ke-ingintahu-an ini adalah hobinya.
.
.
Dear Profesor Riddle,
Terima kasih untuk segala rekomendasi buku-bukunya. Saya sudah membeli semua buku yang anda sarankan dan saya berjanji akan mempelajarinya semua selama setahun ke depan. Ya, anda benar. Menunggu setahun lagi merupakan waktu yang cukup lama, sejujurnya saya juga tidak sabar untuk pergi ke Hogwarts.
Profesor Riddle, saya harus mengatakan bahwa pandangan saya tentang sihir mulai berubah semenjak membaca salah satu buku yang anda sarankan; Hogwarts: A History. Saya menjadi sangat amat tertarik mempelajari sihir lebih dalam lagi dan sepertinya menyenangkan menjadi penyihir. Maafkan saya apabila kesan pertama anda melihat saya waktu itu kurang menyenangkan. Saya harap anda memakluminya.
Saya harap anda tidak keberatan apabila selama setahun kedepan ini saya akan banyak merepotkan anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan saya dapatkan dari buku-buku ini.
.
.
Hermione Jean Granger.
Author's Time :
HEWO MUGGLES KESAYANGANKUUU!
Oke, kalian boleh marah-marah sekarang. Aku tahu kalian pasti kesel sama aku kan? Udah lama banget gak update, ditungguin ampe lumutan nyaris setengah tahun pula! WKWKWK, saya terima kekesalan kalian. Kalian berhak marah kok, pasti bosen ya dapet ucapan maap mulu dari w kan:(
Jadiii, you know i'm a college student in 1st year and i cannot spare my time for continuing this fanfiction bcs there's a ton important things who needed to be done. I'm not saying this ff ain't important for me; IT DOES OBVIOUSLY! But, I need to do my priority first. Get it?
Dimaafin jangan? Maafin ajala yayaya:(
Hihiw, udah ketemu tuh dua sejoli. Gimana gimana? Kurang greget kah? Pls review biar aku tahu reaksi kalian semuahhh. Thanks sudah bertahan dan menanti fanfic busuk ini. saya tahu menanti yang gak pasti rasanya gak enak tapi yakinlah semua akan indah pada waktunya~
...bcd.
.
.
.
THANK YOU SO MUCH MY READERSS, WUFYU TO THE MOON AND BACK!
.
.
.
Best regards,
voldemortslave
