Balasan review~ :

Kyulennychan : Syukurlah kamu menyukainya Lenny-san. Anooo, apa ini cukup kilat? Seperti biasa mohon maaf bila chapter ini sampai mengecewakan

aster-bunny-bee : Huhuhu, arigatō Aster-san :') Karma is always cute~ Yaaah, kalo sampe ada yang berani-berani blackmail mereka sih, cari mati namanya itu

Kitsune857 : Bukan kok, bukan kencan (ini Karma yang ngetik). Berhubung author masih polos (#huek), jadi fic ini mungkin baru ada adegan kissu di chapter akhiran, atau mungkin ga akan ada sama sekali, apalagi yang lebih. Gomennasai m(_ _)m. Lagipula Gakushuu cowok baik-baik kok~

SugaTeaCoocies : Siip, saya sudah melanjutkannya. Omatase~

Hwang635 : Ohoho, begitu kah? Chapter ini banyak kok~ Gatau juga sih#plak

Axrine Scott : Aduh, gomen. Untung belum lumutan, maaf lama (Karma : BUKAN KENCAN WOII #blushingtapibawagolok)

Asaaaaa : Yokatta kalau chapter kemarin keren, hehe, makasiih Asa-san, atau Arashi-san~ Gomen, adegan kissu mungkin masih jauh, atau ga ada, gimana mood saya sih, wkwk

Hhaii : Yah, kemarin otak saya memang agak bermasalah, hehe gomen~

DeMinor27 : Makasiiih banyak pujiannya :D Saya usahakan bakal dilanjutkan sampai tamat kok meski mungkin updatenya bakal lelet, hehe. Dukungan kalian selalu menjadi penyemangat saya untuk melanjutkan cerita ini, duh saya ikut baper :v


Ansatsu Kyoushitsu © Yusei Matsui

But this Story is Mine

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Humor (mungkin)

Pairing : Asano Gakushuu X (female) Akabane Karma

WARNING! : GenderBender, fem!Karma, OOC parah, Alternative Universe (AU), typo(s), alur kecepetan, De eL eL;

Bila ada kesamaan ide atau alur cerita, mohon maaf. Saya tidak bermaksud sedikitpun meniru apalagi menjiplak. Cerita ini murni ide sinting author yang terlalu lelah menjalani keseharian di dunia nyata. Jadi bikin cerita yang ga kalah gajelas dibanding authornya. Selamat menikmati~ DLDR! Mohon maaf jika mengecewakan dan tidak sesuai harapan.


Entah sudah berapa kali Gakushuu melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Rencananya di hari Minggu mereka akan bertemu di depan taman bermain kota, namun sudah 15 menit dari waktu janjian dan Karma belum juga datang. Tapi dipikir-pikir bukan Akabane Karma kalau tepat waktu sih. Namun tanpa menunggu lebih lama, gadis yang ditunggunya akhirnya datang.

Gakushuu tercengang. Karma mengenakan dress biru muda selutut dengan cardigan putih berlengan panjang, lalu panthople hitam dikenakannya sebagai alas kaki dan rambut merah sepinggangnya dibiarkan terurai alami. Penampilannnya memanglah sederhana, namun terkesan sangat manis. Gakushuu sendiri mengenakan kemeja putih polos dengan lengan yang digulung hingga siku, celana jeans biru gelap, dan sepatu kets hitam dengan aksen putih. Terlihat santai, namun yang kita bicarakan adalah Gakushuu di sini, jadi aura karismatik miliknya tetap menguar.

PLAK! Dan 1 geplakan di kepala menyadarkan Gakushuu dari ehemkekagumannyaehem.

"Apa yang kau lakukan?!" protes Gakushuu sambil mengusap kepalanya. Iyalah, Karma menggeplak kepalanya tanpa ragu menggunakan segenap kekuatan.

"Aku sudah memanggil namamu berkali-kali tapi kau tidak sadar juga, ya sudah, yang terpikirkan olehku hanyalah memukul kepalamu," sahut Karma dengan watados-nya.

"Tidak usah memukulku juga bisa kan?!"

"Tidak bisa! Masalah?!"

Dan mereka debat di depan gerbang taman bermain. Iya asli, bahkan mereka tidak sadar sudah menjadi pusat perhatian.

"Hihi, pasangan yang sedang debat itu lucu ya,"

"Benar, benar! Mereka berdua terlihat cocok,"

2 orang gadis malang yang ternyata komentarnya terdengar mendapat tatapan tajam dari Gakushuu dan Karma. Dan 2 gadis itu memilih pergi secepat mungkin. Oke, tapi sebelum pergi mereka yakin sempat melihat semburat merah tipis di pipi keduanya.

'Mereka memang pasangan!' begitu kira-kira batin kedua gadis itu.

Kita kembali pada 2 remaja yang saat ini saling diam-diaman setelah insiden-disangka-pasangan tadi. Keduanya tidak mengatakan apapun, hanya berjalan bersebelahan, memberikan karcis pada petugas, lalu masuk ke dalam taman bermain.

"Kukira kau akan menggunakan penampilan laki-laki," ucap Gakushuu memecah keheningan.

"Kalau menggunakan penampilan laki-laki aku akan merasa tidak nyaman dan sulit menikmati hari ini, kemungkinan orang lain mengenaliku sebagai Akabane Karma juga kecil, lagipula akan menjadi gosip tidak enak jika melihat Ketua OSIS bermain bersama murid kelas E, anak gedung utama kan banyak tukang gosipnya," jelas Karma.

"Benar juga sih, lalu sekarang kita naik apa?"

"Kalau ke taman bermain itu wajib naik roller coaster!" Karma menjawab semangat.

Entah kenapa jawaban Karma membuat Gakushuu terdiam, dan diamnya Gakushuu membuat Karma heran.

"Hoho~Jangan bilang kau takut naik roller coaster?" goda Karma.

Gakushuu berdecak pelan. "Aku hanya tidak pernah menaiki itu, ini pertama kalinya aku ke taman bermain di usia remaja,"

Karma memasang seringai menyebalkan.

"Kalau begitu kita lihat seberapa takutnya kau nanti~"

"Aku. Tidak akan. Takut. Akabane,"

"Sebenarnya selama ini aku risih saat kau memanggilku dengan marga, aku lebih nyaman dipanggil dengan nama kecilku," ujar Karma.

"Terserah saja...Karma,"

Senyuman Karma merekah, dengan semangat berlebih ia menarik-narik tangan Gakushuu untuk mengikutinya.

"Ayo cepat! Antrian roller coaster biasanya sering panjang,"

"Bukannya bibimu memberi tiket premium agar kita tidak mengantri ya?"

"Oh iya, sudahlah, pokoknya ayo cepat Gakushuu!"

Sekejap Gakushuu tersentak, namun ikut tersenyum kemudian.

'Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali ada yang memanggilku dengan nama itu, tapi kenapa aku merasa senang ya?'

.

.

Karma tersenyum senang sambil mmerapikan rambutnya yang agak berantakan setelah menaiki roller coaster barusan, sedangkan Gakushuu terlihat agak pucat namun tetap berusaha terlihat biasa. Ia bersyukur gadis di sebelahnya tidak sadar akan wajah pucatnya. Mungkin sih, kelihatannya Karma tidak sadar.

"Fiuh, aku puas sekali berteriak tadi," ucap Karma sambil tersenyum senang.

"Heh, kau berteriak-teriak seperti orang stress," ejek Gakushuu.

"Sekolah di Kunugigaoka itu membuat stress, kita kemari memang untuk melepas stress, khususnya untukmu sih," Karma memelankan nada bicaranya pada 3 kata terakhir, sengaja agar Gakushuu tidak medengarnya.

"Lagipula kau sendiri berteriak sama kerasnya denganku," lanjut Karma dengan senyuman mengejeknya.

Gakushuu hanya berdecak pelan tidak bisa membalas meski dia sangat ingin menyingkirkan seringai kemenangan gadis di hadapannya.

"Lalu? Sekarang kau mau yang mana lagi? Aku tidak tau wahana apa saja di sini," kata Gakushuu mengalihkan pembicaraan.

"Mau ke Labirin Shinobi no Toride?"

"Apa itu?"

"Nama lainnya rumah perangkap ninja, labirin itu memiliki 3 tingkat, yang pasti kita mengandalkan keberuntungan dan kecerdasan karena di sana ada check point yang meminta kita untuk memecahkan suatu masalah, biasanya anak-anak yang ke sana, tapi seumuran kita juga banyak, bagaimana?" jelas Karma.

"Kecerdasan eh?" Gakushuu menyeringai.

Karma lebih dari mengerti arti dari seringaian itu, selanjutnya ia menyeringai dengan seringaian yang sama.

"10 menit cukup?" tantang Karma.

"Kalau berdua sekitar 8 menit juga kita bisa selesai," sahut Gakushuu yakin.

.

.

Penjaga pintu keluar wahana yang dimasuki Gakushuu dan Karma menganga. Mereka benar-benar keluar dengan sangat cepat. Normalnya orang-orang yang memasuki wahana ini akan memakan waktu paling sebentar 20 menit. Tapi yah, yang kita bicarakan di sini adalah Gakushuu dan Karma. Keduanya berhasil keluar dalam waktu kurang dari 10 menit.

Karma dengan kemampuan assassin-nya, dan Gakushuu dengan kemampuan martial art-nya. Perangkap di labirin yang mereka lewati bukanlah hal yang sulit, terlalu mudah malah. Terutama ketika kecerdasan mereka disatukan. Baiklah, soal kecerdasan jangan ditanya.

"...seru sih, tapi terlalu mudah," gumam Karma.

"Setuju, mungkin tingkat kesulitannya harus dinaikkan," Gakushuu menyetujui perkataan Karma.

Itu sih kalian saja yang otaknya sudah tidak normal dibanding anak seumuran lainnya.

.

.

Sekarang mereka berhenti di depan sesuatu berdekorasi seram. Rumah hantu.

"Rumah hantu sepertinya menyenangkan," gumam Karma.

"Mungkin begitu," sahut Gakushuu.

'Terakhir kali aku ke gua yang dijadikan rumah hantu oleh Koro-sensei sih, tapi rasanya biasa saja,' pikir Karma.

"Aku tidak boleh masuk rumah hantu di sini dulu, jadi aku tidak tau, ayo masuk," ajak Karma.

Saat masuk yang pertama kali mereka lihat adalah gelap. Hawa dingin menerpa, samar-samar warna merah terlihat di berbagai sudut yang terdapat lampu redup.

"Atmosfirnya lumayan," Gakushuu memecah keheningan.

"..." Karma yang tumben-tumbenannya tidak membalas membuat Gakushuu menyernyitkan dahi heran.

Ketika menoleh, gadis itu masih ikut berjalan di sebelahnya. Namun karena gelap Gakushuu tidak bisa menebak apalagi melihat ekspresi Karma.

'Ra-rasanya waktu itu aku tidak takut sewaktu Koro-sensei menakut-nakutiku di gua Ryukyu─atau apalah itu, k-kenapa di sini rasanya berbeda ya? Atau hanya perasaanku saja?'

"Karma?" panggilan dari Gakushuu berhasil membuat Karma sadar dari pikirannya sendiri.

"Y-ya?" Gakushuu yang salah dengar atau barusan Karma memang menyahutinya dengan tergagap?

"Kau takut?" ejek Gakushuu.

"Ti-tidak mungkin a-aa-aku takut yang s-sseperti ini─kyaaa!"

Duagh! "ARGH!"

"...setelah menjerit tadi kau melakukan apa?" tanya Gakushuu ketika barusan ia seperti mendengar teriak kesakitan seseorang.

"Bu-bukan aku yang menjerit kok!" sangkal Karma.

"Barusan apa yang kau lakukan?" tanya Gakushuu lagi.

"E-errr, a-aku menendang sesuatu?" daripada menjawab nada bicara Karma lebih seperti bertanya.

'Lebih tepatnya, sepertinya barusan kau menendang seseorang,' pikir Gakushuu sweatdrop.

"Bba-barusan ada yang menyerang dengan menarik kakiku! J-jadi reflek aku menendangnya!" Karma membela diri.

"Sou ka," Gakushuu menyahuti dengan nada tidak percaya.

Tiba-tiba Karma merasa tangannya digenggam seseorang─bukan hantu kok, tapi Gakushuu. Baru saja Karma ingin melepaskan tangan itu, perkataan Gakushuu mencegahnya.

"Kalau takut bilang saja, kalau berani kau mau kutinggalkan sendiri di sini?"

'Dasar tuan sadis!' batin Karma mengutuk pemuda itu.

'Mulut sialan, bisa tidak mengatakan sesuatu yang lebih menenangkan?!' sebenarnya tanpa Karma mengutuk pun Gakushuu sudah mengutuk dirinya sendiri.

.

.

Begitu keluar dari rumah hantu Karma langsung menarik tangannya dari genggaman Gakushuu.

"Heh, jadi Akabane Karma takut hantu ya?"

"Dan Asano Gakushuu tidak kuat menaiki wahana ekstrem ya?" balas Karma tak kalah tajam.

'Jadi sebenarnya dia sadar saat turun dari roller-coaster tadi?!' Gakushuu membatin tidak percaya.

Detik berikutnya mereka sudah beradu deathglare.

"Sekarang kita naik space shoot*," Karma berucap mutlak, entah kenapa Gakushuu tidak bisa menolak. (*seperi wahana hysteria di Duf*n).

Akabane Karma sangat mengerikan ketika balas dendam. Sekarang giliran Karma yang menggenggam tangan Gakushuu, jangan salah paham, bukan dengan niat menggandeng loh. Karma melakukannya untuk menyeret pemuda itu. Mata violet Gakushuu terbelalak horor melihat tower yang tingginya entah berapa ratus meter. Seringai sadis Karma terukir.

"Aku ingat, menaiki ini rasanya sangat menyenangkan loh~" Gakushuu tidak bisa mempercayai perkataan setan merah ini.

.

.

"...hei Gakushuu, sepertinya aku berlebihan, lebih baik kau pergi ke kamar mandi, aku akan mencari minuman dingin dulu," ucap Karma sedikit merasa bersalah karena melihat wajah Gakushuu yang sangat pucat.

Gakushuu yang tidak memiliki kekuatan untuk membalas hanya menuruti perkataan Karma dan pergi ke kamar mandi terdekat. Di wastafel pemuda itu mencuci wajahnya kemudian melihat ke arah kaca. Bibrnya mengukir senyuman tipis. Entah kenapa mendadak ia teringat Karma.

Rasanya hari ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Jalan-jalan di taman bermain, bersenang-senang menghabiskan waktu tanpa memikirkan yang namanya belajar, OSIS, dan ayahnya. Membuang-buang waktu yang pasti menurut ayahnya sangat tidak berguna. Tapi rasanya sangat menyenangkan, mengingat kehidupannya beberapa tahun ke belakang sangatlah monoton. Sebelum bertemu Akabane Karma.

Setelah mencuci wajah sekali lagi dan merasa sudah lebih segar, akhirnya Gakushuu keluar dari kamar mandi kemudian duduk di bangku kosong terdekat. Ia menghela napas panjang. Setidaknya keadaannya sekarang sudah lebih baik dibanding sebelumnya.

"Fight! Fight! Fight!" tidak jauh dari tempatnya duduk, kerumunan orang bersorak-sorak, seperti ada orang yang bertengkar atau bertarung lebih tepatnya.

'Ugh, berisik sekali, kepalaku masih sedikit pusing,' keluh Gakushuu dalam hati.

"Apa huh?! Kau masih mau menggodaku sialan?!"

'Kedengarannya seperti suara Karma─tunggu, KARMA?!' mengabaikan sakit di kepalanya Gakushuu langsung menerobos kerumunan orang itu.

Benar saja, gadis bersurai merah panjang tengah memelintir seorang anak SMA yang memiliki ukuran badan 2 kali lipat dari gadis itu.

"A-a-ampun! L-le-lepaskan tanganku!"

"Heh, tadi saja kau tidak mau melepaskan tanganku, kenapa aku harus?" tanya Karma dengan senyuman manisnya. Iya manis, kalau saja ia tidak sedang memelintir tangan orang.

Gakushuu hanya bisa pokerface. Yah, di manapun dan kapanpun Karma tetaplah Karma. Sambil menutupi wajah karena menahan malu, pemuda bersurai jingga itu menerobos kerumunan lebih dalam dan menarik Karma yang mengacungkan jari tengah pada lawannya tadi.

Dapat dipastikan siswa SMA barusan trauma untuk menggoda perempuan.

.

.

"Daijobu ka?" ia mendapat pandangan aneh dari Karma ketika menanyakan hal itu.

"Err, kau tidak memarahiku?"

"Kau mau kumarahi?" tanya balik Gakushuu.

"Bukan begitu juga sih," jawab Karma.

"Lagipula kau tidak salah, laki-laki itu yang mulai bukan? Bahkan..." Gakushuu menggantungkan kalimatnya kemudian meraih tangan kanan Karma lalu sedikit menggulung lengan cardigannya. Ada bekas cengkraman berwarna merah di sana.

"Lenganmu sampai terluka begini," lanjut Gakushuu.

Karma reflek menarik tangannya dengan wajah yang merona.

'Asdfghjkl, dia kerasukan malaikat manaaa?! Biasanya jahat kayak setan!' duh sebelum mikir gitu, lebih baik kamu ngaca dulu Karma.

"Bagaimana kau tau?"

"Saat memelintir tangan orang itu tangan kananmu sedikit gemetar seperti menahan sakit, dan...sebenarnya aku melihat ketakutan di matamu sekilas," jelas Gakushuu.

"Hanya sedikit sakit, tapi yah, aku agak trauma digoda preman─atau semacamnya─sejak aku masuk rumah sakit waktu itu," gumam Karma pelan, Gakushuu mendengarnya namun pura-pura tidak mendengar.

"Ngomong-ngomong sekarang sudah siang, mau makan siang di mana?" Gakushuu bertanya untuk mengalihkan pembicaraan yang mulai kurang mengenakkan.

"Aku hampir lupa, aku membuat bekal dan menaruhnya di loker tempat penitipan barang, mau makan di taman?"

"Tidak masalah,"


Setelah menggelar karpet di atas rumput hijau, Gakushuu dan Karma duduk di atasnya sambil mengeluarkan 4 kotak bekal dari tas yang mereka ambil dari tempat penitipan barang. Terdapat 2 kotak bekal berisi nasi dan 2 kotak lagi berisi lauk. Karma mengambil 2 kotak untuknya dan 2 kotak lagi untuk Gakushuu. Begitu kotak yang berisi lauk terbuka, Gakushuu menyernyit.

"Kau bisa membuat masakan Prancis seperti Beef Bourguignon?" tanyanya.

"Orang tuaku traveller, jadi dulu di rumah kaa-san sering mengajarkanku untuk memasak makanan dari negara lain, tapi sebenarnya aku lebih suka masakan Jepang sih, aku hanya membuat masakan luar negri sesekali untuk bersenang-senang karena caranya yang agak sulit justru menyenangkan,"

Gakushuu tersenyum. Ekspresi Karma yang lembut namun bersemangat sangat lucu untuk diperhatikan entah kenapa. Terutama ketika membicarakan hobinya, memasak.

"Gakushuu, jangan senyam-senyum terus, serem,"

Senyuman Gakushuu langsung berganti menjadi delikan. Enak saja, dengan senyuman seperti ini Gakushuu pernah mengalahkan Sakakibara dalam hal menggaet perempuan di sekolah.

"Urusai,"

.

.

"Gochisaosama," gumam keduanya bersamaan.

"Huft, sepertinya kau membuat terlalu banyak, rasanya kenyang sekali," ucap Gakushuu.

"Sepertinya begitu, aku juga merasa terlalu kenyang, padahal kau sisakan saja kalau sudah kenyang," kata Karma.

"Makanan lezat itu tidak boleh disisakan,"

Karma langsung memalingkan wajahnya yang merona karena pujian tidak langsung barusan.

"Hoo, ternyata seorang Akabane Karma bisa malu juga ya," goda Gakushuu. Ya, melihat wajah itu merona juga merupakan kesenangan barunya.

"Berisik!" seru Karma sambil melempar tutup kotak bekal terdekat yang tentu dapat dihindari dengan mudah oleh Gakushuu.

Pemuda bersurai jingga itu hanya tertawa-tawa, membuat wajah Karma semakin menyaingi warna rambutnya. Memang bukan pertama kali lagi Karma melihat Gakushuu tertawa, namun tawa lepas juga ekspresi senang yang memang sangat jarang berada di wajah ehemtampanehem itu sangat tidak baik untuk jantungnya. Yah~ Karma sendiri tidak tau bahwa wajah meronanya berdampak buruk juga bagi jantung Gakushuu, yang ditutupi dengan tawa oleh yang bersangkutan.

.

.

Berhubung mereka baru makan dan tidak memungkinkan untuk menaiki wahana yang memacu jantung, jadi mereka pergi ke game centre atas saran Karma sebagai pemandu. Yang pertama Karma tunjuk adalah tap dance. Begitu permainan dimulai, aura persaingan mereka langsung menguar kuat. Karma menang tentu saja, game centre merupakan salah satu markasnya ketika membolos sewaktu masih di gedung utama dulu. Gakushuu sendiri meski baru memainkannya memiliki skor yang cukup besar sebagai ukuran pemula.

"Huff, ini cukup melelahkan,"

"Banyak bergerak itu bagus setelah makan siang bukan?"

"Benar juga sih," Gakushuu menyetujui.

"Hei," tiba-tiba seseorang menepuk pundak Karma, yang membuat gadis bersurai merah itu sedikit terlonjak.

Begitu menoleh pada seseorang yang menepuk pundaknya, Karma harus menahan diri untuk tidak langsung kabur dari tempatnya.

"Kulihat kau cukup hebat memainkan tap dance itu, bagaimana kalau kau coba melawanku?" tanya gadis bersurai hitam─Kanzaki Yukiko. Iya yang temannya dari kelas E, memang siapa lagi coba? Itulah yang membuat Karma ingin kabur.

"I-itu, a-aa-aku masih ada urusan lain jadi aku pergi dulu, dah!" dengan begitu Karma langsung menarik Gakushuu dari TKP.

Beruntung Kanzaki sepertinya tidak menyadari keberadaan Gakushuu karena pemuda itu langsung menghadap ke arah lain begitu sadar Kanzaki lah yang menyapa Karma. Mereka berhenti setelah berada agak jauh dari Kanzaki.

"Dia tidak mengikuti kan?" tanya Karma memastikan.

"Tidak, lagipula kelihatannya dia tidak sadar," jawab Gakushuu.

"Kuharap begitu, aku harus lebih berhati-hati,"

"Jangan terlalu memikirkan hal itu, kau bilang tadi pagi juga kemungkinan orang lain mengenalimu sebagai Akabane Karma juga kecil bukan? Barusan juga temanmu tidak sadar bahwa orang yang barusan bicara padanya adalah Karma yang sekelas dengannya," ujar Gakushuu.

"Hmmm benar juga," Karma bergumam.

"Ah, di sana ada permainan basket," tunjuk Gakushuu.

"Skor kita saat ini 1-0, yang lebih sedikit memenangkan game di sini traktir es krim," balas Karma.

"Aku pasti menang," ucap keduanya bersamaan.

Kilat imajiner tercipta ketika violet dan merkuri bertatapan. Jangan lupakan aura persaingan yang kembali ada.

Permainan memasukkan bola basket ke keranjang dimenangkan Gakushuu dengan selisih poin tipis. Karma yang tidak terima meminta tanding ulang, yang dimenangkan Karma. Dilanjutkan ke permainan selanjutnya.

3 kali balap mobil, 2 kali balap motor, 2 kali game tembak-tembakan, dan 5 kali tenis meja kemudian...

Skor akhir 7-8. 'Kompetisi' dimenangkan oleh Asano Gakushuu. Bahkan meski hanya bermain keduanya kelelahan.

"Heh, aku menang," senyuman sombong ditampakkan, tatapan tajam menjadi balasan.

"Cih, aku hanya mengalah di pertandingan terakhir barusan," ucap Karma sebal.

.

.

"Paman! Aku pesan satu es krim stroberi dan satu es krim mint," pesan Karma.

"Baik, tunggu sebentar!"

Karma menyerahkan beberapa yen pada penjual es krim yang memberikan es krim padanya, kemudian memberikan es krim mint pada Gakushuu. Tampangnya masih cemberut, tidak terima dengan kekalahannya.

"Oi tampangmu jangan cemberut begitu," kata Gakushuu.

'Lucu sih,' tambahnya dalam hati.

"Cih," Karma memalingkan wajahnya.

Gakushuu menghela napas panjang, lalu perhatiannya beralih ke arah kincir raksasa yang berjarak tidak terlalu jauh dari mereka.

"Setelah selesai makan es krim, kau mau naik ferris wheel?"

Ekspresi Karma sempat terlihat senang, namun sepertinya gadis itu masih keras kepala untuk mempertahankan topeng cemberutnya. Gakushuu anggap jawaban Karma 'ya'

.

.

Matahari mulai terbenam ketika mereka masuk ke ferris wheel. Perlahan ferris wheel mulai bergerak naik, lalu berhenti ketika mencapai puncak. Dari ketinggian mereka bisa melihat matahari terbenam dengan lebih jelas. Diam-diam Gakushuu memperhatikan ekspresi Karma yang sudah tidak cemberut lagi. Bahkan ia sudah terlihat antusias memperhatikan matahari yang tenggelam.

"Aku lupa kapan terakhir kali naik ini," gumam Karma.

"Bahkan aku lupa kapan terakhir kali bermain," balas Gakushuu.

"Kasihan," Karma mengejeknya, namun Gakushuu hanya tertawa.

Hening kembali lagi, namun tidak berlangsung lama.

"Hari ini menyenangkan," sekarang Gakushuu yang memulai pembicaraan.

"Heh, tentu saja, memangnya siapa yang sudah megajakmu kemari," Karma memang menyahutinya dengan nada sombong, padahal ia senang ketika tau bahwa Gakushuu menikmati hari ini.

"Tapi harus kuakui, hari ini memang menyenangkan, aku tidak menyangka bermain bersama denganmu akan se-menyenangkan ini," perkataan Karma yang kelewat jujur membuat rona tipis pada Gakushuu muncul.

"Aku merasakan hal sama, bermain bersamamu menyenangkan,"

"Terima kasih," ucap keduanya bersamaan.

Karma dan Gakushuu terlihat sedikit kaget sewaktu bicara bersamaan, namun selanjutnya mereka tertawa lepas. Meski tidak tau apa yang mereka tertawakan sih. Ketika matahari sudah tak terlihat, ferris wheel kembali bergerak perlahan dan turun.

Tanpa terasa hari ini berakhir, padahal di dalam hati mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama.

Dan ketika memikirkan hal itu mendadak Karma mengingat sesuatu.

"Aku baru ingat! Malam ini akan ada festival, jadi...apa kau mau..." sial, Karma merasa bukan dirinya saja. Gugup itu bukan sifatnya please.

"Kurasa pulang agak malam tidak masalah bagiku," tanpa Karma menyelesaikan perkataannya Gakushuu sudah mengerti, meski sebenarnya melihat seorang Akabane Karma gugup itu merupakan hiburan tersendiri.

Tapi Gakushuu mengetahui satu hal.

Dia juga merasa masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Karma.

.

.

Masih di area taman bermain namun di wilayah yang lain, ternyata memang ada festival yang tengah diadakan. Stand-stand penjual makanan dan permainan sederhana didirikan. Lampu-lampu berwarna kuning bersinar terang menyinari sekitar festival yang dipenuhi orang-orang. Gakushuu dan Karma masih berdiri di sepan pintu masuk, memperhatikan sekeliling festival.

"Sudah kuduga akan ramai, tapi aku tidak mengira akan seramai ini," gumam Karma.

"Bukan festival namanya kalau tidak ramai," sahut Gakushuu.

"Iya sih, tapi terakhir kali ke festival dengan teman sekelas dan wali kelasku festivalnya tidak seramai ini, tapi siapa peduli, ayo cari makanan untuk makan malam,"

"...kita makan malam di sini?" Gakushuu bertanya ragu.

Karma memutar bola matanya malas.

"Memang untuk apa lagi aku mengajakmu kemari selain bermain dan mencari makan malam? Dasar tuan muda,"

"Selain urusan sekolah aku jarang keluar rumah, apa yang kau harapkan dari seorang Asano Gakuhō? Anaknya berkeliaran bebas di malam hari?"

"Eh?! Lalu bagaimana malam ini?!" tanya Karma agak panik.

"Tenang saja, kudengar dari pelayan malam ini ayah tidak akan pulang dan akan pulang besok siang," jawaban Gakushuu membuat Karma menghela napas lega.

"Baiklah, makanan pembuka permen apel, untuk makanan inti kita beli yakisoba, minumannya mungkin jus, makanan penutup takoyaki dan gula kapas, itu makanan wajib festival," ujar Karma sambil mulai memasuki wilayah festival.

Namun sebelum benar-benar memasuki kerumunan orang, Gakushuu segera menarik tangan Karma dan menggandengnya.

"A-aku tidak ingin kau tersasar sendiri di tengah kerumunan orang ini, jadi jangan lepaskan tanganku," ucap Gakushuu sambil memalingkan wajahnya yang entah memang merona atau hanya karena cahaya lampu festival.

"Hoho, bilang saja kau yang takut tersasar," goda Karma, meski pipinya sendiri juga memerah.

"Ck, sudahlah, ayo cari makanan yang katamu makanan wajib festival itu," Gakushuu benar-benar tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.

Karma tertawa, namun akhirnya balik menggandeng Gakushuu.

"Ayo cari permen apel!"

Mereka menghampiri stand permen apel yang pertama dilihat. Tapi ketika sudah sampai di sepan stand, Karma tercengang meski tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun.

"Kalian mau pesan apa?" suara yang kelewat familiar itu bertanya dengan nada agak menggoda, Gakushuu tidak menyadarinya dan yang menyadari itu hanya Karma.

"Tadi kau bilang apa nama stand ini Karma?" tanya Gakushuu.

Ketika nama kecilnya disebut, bisa dirasakan oleh Karma makhluk kuning penjual takoyaki di hadapanya menyeringai semakin lebar, apalagi ketika menyadari tangan Karma yang saling bertautan dengan Gakushuu. Karma menatap Koro-sensei (iya benar, gurita wali kelasnya yang mendadak menjadi penjaga stand) dengan tatapan setajam silet. Sebenarnya agak mengherankan Gakushuu tidak menyadari penampilan abnormal penjual di hadapan mereka, tapi Karma sangat bersyukur pemuda itu tidak menyadarinya.

"Permen apelnya 2 ji-san," jawab sekaligus pesan Karma dengan nada datar.

'Cih, gurita sialan,' batin Karma, sama sekali tidak mau menatap Koro-sensei.

Koro-sensei memberikan 2 permen apel pada Gakushuu, dan begitu Karma hendak membayar Gakushuu menghentikannya.

"Tadi kita bermain di taman bermain dengan tiket pemberian darimu, untuk festival ini aku saja yang membayar," kata Gakushuu ketika Karma melempar pandangan bertanya.

Karma dengan senang hati menerima permen apel gratis dari Gakushuu dan mulai memakannya. Tapi mengingat Koro-sensei ada di hadapannya, Karma mengajak Gakushuu untuk kembali berjalan-jalan sambil menghabiskan makanan pembuka mereka.

"Karma, apa itu stand tembak-tembakan?" yah, Gakushuu memang banyak bertanya namun Karma tidak mempermasalahkannya sama sekali karena sudah lebih dari mengerti mengapa banyak yang tidak diketahui olehnya.

"Benar, mau coba bermain di sana?" Karma bertanya balik.

Gakushuu mengangguk kemudian menghampiri stand tembak-tembakan itu. dan Karma bernapas lega ketika melihat bukan Koro-sensei yang menjaga stand melainkan manusia biasa.

"Kau tidak bermain?"

"Aku melihat saja," jawab Karma. Sebenarnya ini permainan yang terlalu mudah baginya, bahkan ia sudah terbiasa 'bermain' tembak-tembakan di kelasnya dengan jarak yang lebih jauh.

Setelah membayar penjaga stand memberikan senapan pada Gakushuu. Diam-diam Karma merasa sedikit...kecewa ketika Gakushuu melepaskan gandengannya, namun Karma mengabaikan perasaan asing itu.

Ketika mengalihkan pandangan ke hadiah yang berjajar, perhatian Karma tertuju pada gantungan boneka kelinci putih dengan pita oranye kecil di telinga kanannya. Normal bukan? Meski tidak mau mengakuinya Karma cukup menyukai benda-benda yang imut. Kini Karma ganti memperhatikan Gakushuu yang sibuk membidik entah kemana.

'Mulai dari cara memegang senjata dan membidik, dia cukup bagus untuk orang biasa─eh tunggu, aku hampir lupa Gakushuu bukan orang biasa,' pikir Karma.

Sekarang Gakushuu menarik pelatuk senjatanya, peluru palsu itu langsung menjatuhkan─eh? Bukannya itu kelinci putih yang diperhatikan Karma tadi?

Gakushuu tersenyum puas, penjaga stand memberikan kelinci putih itu padanya.

"Untuk pacarmu ya nak?" tanya penjaga stand berbisik dengan nada menggoda.

"Di-dia bukan pacarku!" sangkal Gakushuu pelan.

Sang penjaga stand hanya tertawa pelan, namun memang benar Gakushuu memberikannya pada Karma.

"Eh, darimana kau tau?" tanya Karma bingung.

"Tadi kau memperhatikan itu cukup lama, jadi kukira kau menginginkan itu, lagipula aku juga bingung ingin menembak yang mana," jawab Gakushuu.

Karma tersenyum manis. "Terima kasih!"

"Tidak perlu dipikirkan, ayo cari yakisoba dan jus, aku sudah lapar," mengabaikan perasaan aneh ketika melihat senyuman manis Karma, Gakushuu kembali menggandeng tangan mungil gadis itu.

Sekarang Karma menatap boneka kecil di tangan kirinya dengan senyuman yang sama sekali tidak luntur sedikit pun sambil mengikuti langkah Gakushuu.

'Sudah lama sejak terakhir kali aku menerima barang dari orang lain,' batinnya senang.

Karena haus, stand yang mereka cari lebih dulu adalah stand yang menjual jus. Tanpa bertanya lagi Gakushuu sudah memesan.

"Jus jeruk dan jus strawberry 1," Gakushuu mengalihkan pandangannya pada Karma. "Kau mau itu kan?"

"Memangnya apalagi yang menjadi favoritku selain itu?"

.

.

Setelah cukup kenyang dengan makan malam yakisoba dan jus, sekarang saatnya mencari makanan penutup, yaitu takoyaki.

Tapi...

Tadi stand permen apel, lalu sekarang kenapa Koro-sensei ada di stand takoyaki juga?! Oh iya, sensei-nya memang sering mengambil alih stand yang tutup lebih dulu.

"Irrasahimasen, apa yang ingin kalian pesan?" tanya Koro-sensei dengan watados-nya.

"Takoyaki dengan gurita kuning," bisik Karma, yang pasti terdengar oleh pendengaran tajam wali kelasnya.

Koro-sensei merinding begitu mendengar jawaban Karma. Gakushuu menyernyitkan dahi ketika menyadari ekspresi negatif gadis di sampingnya.

"Eh, takoyaki dengan mayonaise kuning (?) maksudku, ehehe," Karma meralat jawabannya dan langsung menghilangkan tatapan tajamnya.

"Takoyaki biasa 2," pesan Gakushuu seakan tidak terjadi apa-apa.

"Ha-hai!" jawab Koro-sensei agak gugup karena setiap Gakushuu tidak sadar Karma memandanginya sinis.

Tidak butuh waktu lama untuk menyajikan 2 porsi takoyaki dengan kecepatan 20-mach-nya. Karma buru-buru mengambil pesanan mereka dan menarik Gakushuu untuk pergi menjauh dari stand takoyaki itu.

"Kenapa terburu-buru?" tanya Gakushuu heran ketika akhirnya mereka menjauh dari tempat tadi.

"Penjual takoyaki tadi...kenalanku, dan dia adalah penggosip ulung, bisa gawat kalau dia menyebarkan pada teman sekelasku bahwa aku dengan ketua OSIS," hei Karma tidak sepenuhnya berbohong kan? Meski Koro-sensei tidak mungkin setega itu.

"Sou ka, dia tau wujudmu yang asli?"

"Dia orang pertama yang membongkar wujud asliku sih, tapi tidak perlu dibicarakan,"

"Dia mirip penjual permen apel tadi," gumam Gakushuu.

Dheg! Karma mendadak merasa jantungan.

"Mungkin mereka saudara ya," lanjutnya, dan Karma langsung membuang napas lega.

"Sepertinya begitu," sahut Karma (berusaha) tenang.

"Ngomong-ngomong sudah jam 8, kita mau pulang kapan?" Gakushuu melihat jam di ponselnya.

Karma terdiam sebentar. "Sebentar lagi, setelah takoyaki ini habis,"

Baik Gakushuu maupun Karma berusaha memakan takoyaki masing-masing selambat mungkin.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh, langit sudah berubah menjadi biru gelap mendekati hitam. Kedua remaja Kunugigaoka ini memutuskan segera pulang sebelum terlalu malam. Keduanya berjalan santai dengan keheningan nyaman yang menyelimuti mereka, menikmatinya dengan tangan yang saling bertautan. Senyuman tidak pernah lepas dari wajah Gakushuu setiap mengingat seharian ini yang dihabiskannya untuk bersenang-senang dengan Karma.

Satu hari yang Gakushuu kira tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Bermain bersama uhukkencanuhuk seorang perempuan, terlebih seorang Akabane Karma. Seorang gadis yang sejak pertama kali ditemuinya sudah Gakushuu anggap sebagai orang yang harus dihindari karena sama-sama manipulatif dan pastinya tidak bisa dimanipulasi.

Hari ini seperti mimpi, dan kalaupun bisa Gakushuu belum ingin mimpinya berakhir.

"Karma," panggil Gakushuu tiba-tiba.

"Hm?" sahut Karma seadanya.

"Terima kasih banyak untuk hari ini,"

"Tidak perlu berterima kasih lagi, aku juga menikmatinya kok, lagipula kau membayar semua jajananku di festival,"

"Tetap saja, kalau kau tidak mengajakku jalan-jalan kemari, mungkin aku sudah lupa bagaimana rasanya bersenang-senang,"

"Kalau begitu syukurlah, tujuan utamaku memang itu,"

"Tujuan utama?"

"Ya, sewaktu aku menemukanmu tertidur di ruang OSIS dulu, aku tiba-tiba membayangkan...entah sejak kapan kau seperti ini, tenggelam dalam kesibukan sebagai ketua OSIS, sibuk mengejar peringkat satu dalam segala bidang, dibanding aku yang selama ini hidup dalam kebebasan kau hidup di dalam sangkar, apalagi ditambah tekanan dari ayahmu, aku tidak bisa membayangkan seberat apa hidupmu, jadi setidaknya aku ingin meringankannya meski sementara dan hanya sedikit," jelas Karma.

"Ah iya, ngomong-ngomong hanya bermain denganku hari ini tidak akan mempengaruhi nilaimu kan?"

Gakushuu mendengus pelan. Akabane Karma itu memang hobi menghancurkan suasana. Tapi tidak masalah, justru itu membuat Gakushuu merasa bahwa bersama Karma itu selalu menyenangkan dan tidak akan pernah membosankan. Mesti kelakuannya agak minta digampar juga sih.

"Aku bukan kau yang nilainnya turun karena lengah, nona peringkat tiga belas,"

Perempatan muncul di kepala Karma. Memang ia paling sensitif kalau peringkatnya yang itu sudah disebut-sebut. Terlebih oleh Asano Gakushuu.

Detik berikutnya, justru Gakushuu sudah kena gampar tanpa sempat menghindar.

.

.

.

To be Continued~

Kembali berakhir dengan gejenya, gomen readers T_T

Semua review kalian benar-benar menjadi penyemangat saya, bahkan bisa mencapai 4,5k words lebih, saya benar-benar ga nyangka bisa ngetik sebanyak ini, ini semua berkat kaliaaan, hontōni arigato gozaimasu~ :'D

Saya gak pernah kencan sekalipun, emang ga pernah niat juga sih. Jadi mohon maaf saja kalau chapter sekarang jadinya begini. Referensi saya hanyalah komik shoujo dan novel romance :v

Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri untuk membaca :D

Review Puhleeeasee m(_ _)m