SMent Fanfic
The Love That Surrounds Me
©MikiHyo
.
Cast : Choi Siwon, Choi Minho, Krystal Jung, Kwon Yuri, SMent & Others
Genre : Drama, Family, Romance, School Life
Rating : PG-15
Length : Part (On Going)
Summary : Minho kembali ke kota kelahirannya dan bertemu dengan Krystal, anak dari Taecyeon dan Jessica yang merupakan sahabat kedua orang tuanya, Siwon dan Yoona. Keterpurukannya atas campakan dari Yuri membuat Minho berubah menjadi dingin termasuk pada Krystal. Namun rumah yang saling berhadapan bahkan SMA dan kelas yang sama, akankah Minho dan Krystal tetap bersikap layaknya orang asing satu sama lain?
.
.
Part 6
.
.
Minho hanya duduk termenung dikursinya. Ini adalah hari pertama sekolah, namun Minho sudah memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Sangat terlihat dari sikapnya yang selalu menyendiri sekarang. Benar-benar khas seorang Choi Minho.
"M-Minho..?" namun sebuah suara yang familiar telah berhasil memecahkan lamunan tanpa artinya. Minho pun menoleh kearah kursi yang ada disampingnya.
"Kau.." Minho kembali dibuat terkejut dengan kehadiran gadis itu. Gadis pembawa bunga yang sudah memberikan kesan buruk disaat pertama kali mereka bertemu, namun keberadaan gadis itu justru yang menjadi paling dekat dengannya sekarang.
"O-Oh... A-Annyeong..." ucap Krystal dengan terbata. Ia pun tak menyangka bahwa dirinya akan sekelas dengan laki-laki yang baru memasuki kehidupannya itu. Bahkan duduk bersebelahan.
Minho tak menyahut apapun. Kepalanya menggeleng samar, dan kini ia sudah kembali berkutat dengan dunianya sendiri. Menatap kosong objek yang random berganti diluar jendela sana.
Krystal pun hanya bisa diam dan duduk manis dikursinya. Sesekali menoleh kearah laki-laki dingin itu walaupun ia tahu, Minho tidak akan menyahutinya.
Gadis berambut panjang itu pun menggigit bibir bawahnya saat ia merasa tidak mengenal siapapun dikelas baru ini.
"Ottoke? Tidak ada satupun yang kukenal kecuali Minho, tapi... tidak mungkin aku menyapa Minho kan!"
Manik matanya kembali melirik kearah samping.
"Apa yang sedang dipikirkannya ya? Kenapa ia suka sekali menyendiri seperti itu?" –batin Krystal.
Degup jantung Krystal berubah ritme. Entah kenapa ia merasakan suatu perasaan lain saat melihat wajah sendu Minho yang terus menatap kosong kearah luar jendela.
DEG DEG DEG
Perasaan lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Penasaran. Ya, ia sangat penasaran dengan seorang Choi Minho.
Namun ia pun merasakan hal yang lebih dari sebuah rasa penasaran. Entahlah, Krystal belum menyadari apapun itu.
Tiba-tiba Minho merubah arah matanya, menoleh kearah samping. Ia kembali terkejut saat menyadari Krystal tengah menatapnya dengan serius. Seketika Krystal pun terlonjak kaget saat arah pandang mereka bertemu.
Minho pun mendesis, seolah terganggu oleh tatapan itu. Membuat gadis cantik itu menunduk malu dengan semburat merah yang mewarnai pipi mulusnya. Suasana hening kembali tercipta, mungkin hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi keduanya.
.
.
Minho berjalan cuek melewati koridor yang dipenuhi kegiatan promosi klub. Ia tak tertarik sedikitpun, justru ia merasa terganggu oleh semua keributan ini. Padahal tak jarang ada Kakak kelas yang memandangnya kagum. Sepertinya ia akan kembali menjadi Pujaan sekolah seperti saat ia SMP.
Namun Minho tetap tak menggubris apapun. Ia pun memilih untuk pergi keluar dari gedung sekolah. Mungkin lingkungan luar seperti lapangan olahraga atau yang lainnya bisa terasa lebih baik.
Langkah itu membawanya kehadapan sebuah gedung olahraga yang berdiri megah. Iris hitam Minho hanya menatap kosong gedung besar itu. Segelintir memori kembali menggandrungi pikirannya. Memori yang mungkin lebih baik tidak ia ingat tiap melihat sebuah gedung olahraga.
Alunan musik. Sore hari. Gerakan Gymnastic.
Sialnya Minho mengingat semuanya. Kenangan itu terlalu kuat dalam otaknya. Kenangan yang seharusnya menjadi indah sampai-sampai menyakiti hatinya.
Aku akan masuk Klub Cheerleader di SMA itu. Aku harus bisa menjadi Kapten di Squad terbaik.
"Yuri..."
Minho terdiam. Laki-laki memejamkan matanya sejenak dengan paksa. Berusaha menghapus memori itu lagi dalam pikirannya. Ia pun menggelengkan kepala dan melangkah cepat menjauhi tempat itu.
Tangannya mengepal kuat. Tatapan matanya sangat tajam. Menandakan ia tengah berada di limbung emosinya sekarang.
SRAKK
Namun lamunannya pecah saat terdengar suara bola basket yang baru saja masuk kedalam ringnya. Arah matanya pun beralih kesebuah lapangan basket yang terletak disamping gedung olahraga.
Terlihat seorang laki-laki tengah bermain dengan lincahnya bersama bola itu. Hanya dia sendiri dilapangan seluas itu. Kelihatannya sedang berlatih, karena berkali-kali ia mencoba gerakan lay out yang terlihat sulit.
"Ash... gagal!" rutuknya spontan. "Padahal yang tadi bisa masuk, kenapa sekarang gagal?!" laki-laki itu pun terduduk pasrah ditengah lapangan. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Langkah itu salah. Seharusnya kau sudah memperhitungkan langkahmu pada drible pertama"
Dengan spontan laki-laki itu pun menoleh kearah Minho saat lelaki bermata bulat itu berbicara sesuatu. "Mwo?" wajahnya terlihat bingung menatap Minho.
Tanpa basa-basi Minho pun langsung mengambil bola basket yang tergeletak dibawah ring. Dengan langkah tepat ia segera mendrible bola basket itu menuju ring. Tertinggal beberapa meter didepan ring, Minho pun langsung melompat untuk memasukkan bola itu kedalam ring.
Lelaki itu pun langsung terpana kaku menatap Minho. Mulutnya sedikit menganga akibat aksi yang dilakukan Minho barusan. Benar-benar, baru kali ini ia melihat Slam Dunk seperti itu.
Minho masih mengatur nafasnya setelah melompat, kemudian ia pun berbalik kearah lelaki yang masih terus-terusan menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki itu.
"A-Aku belum pernah melihatmu. Apa kau... murid baru?" tanyanya.
Minho hanya mengangguk singkat dengan wajah datarnya.
Kini lelaki itu semakin memperpendek jaraknya dengan Minho. Ia masih saja menatap setiap lekuk bagian tubuh Minho dengan amat serius. Tak lama kemudian, senyum penuh arti pun tersungging di bibirnya.
"Sepertinya kau pemain yang hebat, mau masuk klub basket ini?" tanyanya dengan nada ramah penuh semangat. Namun senyum diwajahnya langsung menghilang saat Minho memberi jawaban...
"Tidak" telak Minho singkat. "Aku hanya tidak sengaja melihat latihanmu. Buruk sekali" ucapan Minho pun semakin tak enak didengar. Tanpa perduli walaupun lelaki dihadapannya –pasti seorang senior, dengan cueknya Minho pun melangkahkan kaki meninggalkan lelaki yang masih ternganga itu.
"YA! Tunggu! Aku tidak terima diejek oleh anak baru sepertimu!" kesabaran lelaki itu pun habis setelah ia diperlakukan seperti orang bodoh oleh Minho.
Mendengar nada penuh emosi, Minho pun menghentikan langkah dan berbalik menoleh kearah laki-laki itu. Menatapnya datar dengan sirat mata dinginnya.
"Terlalu cepat untuk meledek seniormu seperti ini, anak baru. Ck, benar-benar peringai yang buruk" gerutu lelaki itu. "Ayo kita bertanding! Masukkan 5 bola di Ring. Jika aku kalah, maka aku akan mengakui kemampuanmu, tapi jika aku yang menang, kau harus minta maaf padaku!" jelas lelaki itu dengan penuh semangat. Ia pun menantang Minho dengan lantang.
Minho sedikit mengerutkan dahi setelah mendengar tantangan itu. Baginya hal itu benar-benar mengganggu, bertemu lelaki bodoh yang seenaknya saja membuat tantangan. Minho menghela nafas sejenak, kemudian ia melirik sekeliling lapangan basket yang kosong.
'Kemana semua orang diklub Basket? Apa sedang melakukan kegiatan promosi? Jadi hanya ada orang ini yang tersisa' –batin Minho.
"Ya, anak baru! Apa kau tidak mendengarku? Atau kau takut melawanku?" laki-laki itu tersenyum lebar pada Minho, sekaligus meremehkan.
Melihat hal itu, sirat mata Minho semakin menusuk tajam kearah Seniornya itu. Ia memang tidak suka diremehkan. Walaupun sekarang sifatnya dingin dan terkesan cuek, namun sifat aslinya yang tidak mau mengalah seperti Yoona tetap tertanam dalam dirinya.
"Hahaha, tentu saja kau akan kalah anak baru!" lelaki itu semakin tertawa meledek.
"Berhentilah tertawa atau kau akan menyesal, karena aku tidak menerima kekalahan" Minho mulai terpancing emosi. Ia pun semakin menatap tajam seniornya itu, membuat lelaki dengan tinggi menjulang itu sedikit bergidik ngeri.
'Ck! Apa-apaan tatapannya itu?!' –batin lelaki itu.
"Wew, percaya diri sekali. Itu artinya kau menerima tantanganku?" lelaki itu kembali tersenyum tajam kepada Minho. Namun Minho tampak cuek sama sekali, ia malah berjalan menjauh untuk mengambil bola basket yang masih tergeletak di bawah Ring.
Dua laki-laki itu pun berdiri ditengah lapangan. Menatap tajam sama lain. Dengan santai Minho melempar bola ke seniornya itu.
"Kau yang mulai" ucap Minho singkat.
Lelaki itu pun tergelak, "Hah, sombong sekali anak ini. Baik, jangan sesali perbuatanmu" ia pun bersiap untuk melempar bola keatas. Selang beberapa detik kemudian, bola pun terlempar keatas dan pertandingan dimulai.
Dalam gerakan pertama Minho berhasil merebut bola dari lelaki itu. Ia pun mendribble dengan baik mendekati Ringnya. Lelaki itu pun segera menyusul langkah Minho, mencoba untuk merebut bola. Namun hal itu tidak semudah yang ia bayangkan, gerakan Minho sangat cepat.
Minho pun berhasil melepaskan pertahanan seniornya itu, dengan cepat ia berlari menuju Ring, dan...
BRAKK
Satu lemparan dari Minho berhasil masuk kedalam Ring. Seketika mata seniornya itu pun membelalak. Bagaimana bisa tembakan itu terlihat bagaikan angin, cepat dan tiba-tiba saja sudah masuk melewati Ring.
"Kenapa diam? Cepat ambil bolanya, kau tidak mau pertandingan berlanjut?" ucap Minho cuek, seraya kembali ke posisinya.
"YA! Jangan sombong dulu, masih satu lemparan. Aku bisa menyusulmu" kini giliran lelaki itu yang terpancing emosi akibat ucapan Minho.
"Ck, memangnya yang sejak tadi sombong itu siapa?" Minho kembali menyahut cuek tanpa memandang kearah seniornya itu.
Pertandingan pun kembali dimulai, lagi-lagi bagaikan angin, Minho dengan cepat merebut bola dari laki-laki itu. Dan merebut kembali bola dari Minho ternyata tak semudah pikirannya. Berkali-kali ia berusaha merebut bola itu dari tangan Minho, namun gerakan Minho yang lincah tak sebanding dengan gerakannya. Minho seolah sudah sangat terlatih dalam memainkan bola.
Tak butuh waktu lama, lemparan kedua pun telah berhasil Minho lakukan. 2 skor unggul. Lelaki –senior itu semakin panas, pertandingan dimulai kembali. Namun tetap saja, Minho yang memimpin. Lemparan ketiga, keempat dan akhirnya kelima.
BRAKK
Lemparan sempurna Minho mengakhiri pertandingan.
10 – 0, lelaki itu kalah telak dari Minho tanpa berhasil mencetak angka satu pun.
"K-Kau... siapa kau sebenarnya?" dengan nafas terengah, lelaki itu menatap intens kearah Minho. Minho pun masih mengatur nafasnya, sesaat kemudian ia pun menatap balik lelaki itu.
"Choi Minho, anak baru seperti yang kau bilang tadi" sahutnya datar.
Lelaki –senior itu pun mendecak kesal, melihat tingkah Minho yang sama menyebalkannya seperti tadi, tidak berubah sedikitpun. Namun sedetik kemudian, senyum tersungging diwajahnya. "Baiklah, aku akui kemampuanmu dan kekalahanku hari ini. TAPI, aku tidak akan menerima kekalahanku dihari berikutnya"
"Ng?" Minho mengerutkan dahi, mendengar ucapan lelaki itu yang tak ia mengerti.
"Kau tidak mengerti? Tentu saja kau harus masuk klub Basket! Supaya kita bisa bertanding lagi suatu hari nanti!" seru lelaki –senior itu dengan suara lantang. Namun semangatnya kembali menghilang saat Minho dengan entengnya menjawab...
"Aku tidak berminat"
Dan tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan yang cukup ramai dari arah pinggir lapangan. Minho dan lelaki itu pun menoleh. Ternyata sudah ada sekumpulan orang yang berkumpul dan menyaksikan pertandingan mereka tadi.
Melihat dari seragam yang mereka kenakan, mereka pastilah sekumpulan anggota klub basket.
"Hebat Sekali! Lima lemparan sempurna sekaligus teknik bermain yang menakjubkan! YA! Hebat sekali!" seru beberapa orang dari mereka yang mulai berjalan menghampiri Minho dan laki-laki itu ditengah lapangan.
"Ya, dari mana kau belajar cara bermain seperti itu? Apa kau pemain basket? Tinggi sekali~" puji salah seorang dari mereka sambil mengukur ukuran tinggi badan Minho. Anggota yang lain pun ikut menatap Minho dari atas sampai bawah dengan pandangan takjub.
Minho sedikit bergidik melihat beberapa pasang mata yang tengah menatap intens setiap lekuk tubuhnya. Perasaannya mulai tidak enak.
"Ya, masih lebih tinggi tubuhku daripada dia! Kenapa kalian menatapnya seperti itu, hah?" lelaki –senior yang mulai merasa terasingi itu pun mengeluarkan protesnya. Ia menatap kesal kearah teman-teman satu klubnya itu.
"Dia siapa, Changmin-ah? Bagaimana bisa kau menemukan saingan sehebat dia? Aku belum pernah melihatnya" tanya seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari semuanya. Dilihat dari penampilannya, dia pastilah senior kelas 3 dan merupakan ketua klub ini.
"Dia murid baru Hyung" jawab lelaki –senior yang diketahui bernama Changmin itu. Laki-laki yang terlihat lebih tua itu pun kembali mengalihkan pandangannya kearah Minho.
"Kenalkan, namaku Jung Yunho. Aku ketua klub ini. Kau murid baru kan? Apa kau sudah memilih klub? Bagaimana kalau bergabung dengan kami? Kemampuan bermainmu sangat hebat" senyum lelaki bermata musang yang bernama Yunho itu.
"Kau benar Hyung! Kemampuannya sangat hebat, dia harus bergabung bersama kita" seru Changmin dengan suara lantangnya. Diikuti anggukan dari anggota lainnya yang masih memandang Minho dengan takjub.
"Siapa namamu?" tanya Yunho ramah.
"Choi Minho" jawab Minho singkat.
"Minho, eoh? Kalau begitu.. kau mau masuk klub ini kan?" Yunho pun ikut berharap pada Minho.
"Tentu saja harus! Dia sudah bermain dengan bola basket milik klub, kalau begitu dia anggota klub basket sekarang!"
"MWO?!" Minho hanya bisa membelalakkan mata, mendengar kata-kata Changmin yang selalu seenaknya. Sementara Changmin hanya tersenyum lebar penuh kemenangan kearah Minho.
"Wah, berarti kita mendapat anggota baru yang sangat hebat! Wah, ini luar biasa!" anggota klub basket yang lain pun mulai berseru senang.
"Minho-goon, mulai hari ini kami mohon kerja samanya ya" Yunho pun ikut tersenyum lebar kearah Minho. Sementara lelaki bermata bulat itu hanya bisa terdiam menerima sambutan yang benar-benar seenaknya ini.
Ia pun menatap tajam kearah senior cerewet yang dipanggil Changmin itu. Namun Changmin justru semakin tersenyum lebar kepada Minho, seolah ia mendapat sesuatu yang sangat mengasyikkan dalam hidupnya.
"Baiklah Minho, perkenalkan, namaku Shim Changmin. Mulai hari ini kau anggota klub basket SMA ini, aku akan menanti pertandingan kita berikutnya" senyum Changmin seraya menepuk pundak Minho dengan enteng.
Minho pun hanya bisa diam seraya menatap kesal kearah senior cerewetnya itu. Alisnya mengkerut dan raut wajahnya amat menunjukkan keemosiannya. Andai saja ia bisa menolak semuanya, namun ia tahu.. bicara seperti apapun terhadap orang seperti Changmin, tidak akan ada gunanya. Apalagi dengan semua sambutan dari anggota klub, bahkan ketua yang bernama Jung Yunho itu.
Minho pun hanya bisa meredam luapan emosinya. Bercoba untuk bersabar dan berpikir tentang hal baik. Setidaknya ini adalah basket, kegiatan yang sejak dulu memang disukainya, Minho pun berusaha tenang.
"Aigoo, aku tidak percaya kau masuk klub ini. Setelahnya, ayo kita bekerja sama" namun suara nyaring Changmin kembali merusak moodnya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menatap tajam kearah seniornya itu dan menunjukkan seolah ia benar-benar marah.
Namun Changmin hanya terkekeh melihat ekspresi itu. Ia justru semakin menggoda Minho, sepertinya Changmin benar-benar tertarik pada Minho.
'Shim Changmin... kau benar-benar laki-laki yang cerewet!' –batin Minho.
.
.
"Min~ Ho~" panggil Changmin dengan suara nyaringnya.
Namun Minho tak merespon.
"Min~ Ho~"
Lagi-lagi Minho tak merespon.
"MIN~ HO~" Changmin pun meninggikan nada bicaranya. Dan jika Changmin sudah meninggikan suaranya, alunan suara tenor itu pun seakan menyatu dengan udara satu sekolah ini.
Minho tak tahan lagi. Ia pun menghentikan langkah dan berbalik kearah Changmin dengan kasar.
"Jangan memanggilku kalau tak ada hal penting!" kesal Minho. Ia benar-benar kewalahan menghadapi tingkah senior barunya hari ini. Setelah seenaknya membuat ia masuk ke klub basket, Changmin pun selalu mengikuti langkah Minho. Saat istirahat ia pun menghampiri Minho, bahkan sampai saat pulang seperti ini.
Sepertinya laki-laki jangkung itu benar-benar tertarik pada Minho.
"Aigoo, kau itu benar-benar galak ya" Changmin mendecak santai melihat sikap Minho terhadapnya. Ia tahu Minho pasti sudah sangat kesal dengan tingkahnya, namun karena itu ia justru ingin menggoda Minho lebih dari ini.
"Ya, kau itu sudah jadi adik kelas kesayanganku. Bersyukurlah sedikit" goda Changmin lagi.
"Aku tidak akan bersyukur" sahut Minho dingin.
Changmin pun kembali tergelak. Ya Tuhan, ia benar-benar puas menggoda Minho sekarang. Changmin pun merangkul pundak Minho dan menatap dalam kearah wajahnya.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Minho sinis tanpa mau melihat kearah Changmin.
"Hmm, wajahmu tampan juga ya, lagi-lagi kita harus bersaing dalam hal ini" ucapan Changmin yang membingungkan terpaksa membuat Minho menatap kearah laki-laki yang lebih tinggi darinya itu.
"Ya, kau tidak mengerti? Apa kau tidak lihat wajah tampanku ini?" seketika garis mata Minho langsung berubah datar, menatap malas kearah Changmin.
"Ah, kau anak baru, jelas saja kalau tidak tahu. Aku ini termaksuk laki-laki yang populer di SMA ini lho~" ucap Changmin bangga pada dirinya sendiri.
Minho pun memilih melangkah pergi menjauhi Changmin. Namun dengan cepat, laki-laki jangkung itu menahan tangannya.
"Karena itu, kurasa sebentar lagi kau pun akan masuk kedalam list laki-laki populer bersamaku dan Yunho Hyung. Lagi-lagi kita bersaing ya, haha" Changmin tertawa tak jelas. Membuat Minho semakin merasa gerah dan kembali melangkahkan kakinya pergi.
"Y-YA! Kenapa kau mengacuhkanku?! Ya! Choi Minho!" Changmin pun berteriak untuk menghentikan Minho, namun Minho tetap saja melanjutkan langkahnya.
"Aish, dasar anak itu. Baiklah, sampai jumpa besok DONGSAENGIE~" seru Changmin manis.
"MWO?!" Minho pun langsung membalikkan badan mendengar panggilan yang menurutnya menjijikan itu. Namun bukannya bertemu sosok Changmin, ia justru hampir saja mendamprat Krystal.
"E-Eh...?" Krystal yang berada tepat dibelakang Minho langsung terdiam kaku, saat laki-laki dihadapannya tiba-tiba berbalik dan terlihat amat kesal.
Minho pun ikut terdiam saat matanya bertemu pandang dengan manik mata coklat Krystal. Gadis itu terlihat terkejut melihatnya. Minho pun mengalihkan pandangan sejenak kearah lain, dan dilihatnya Changmin sudah melangsang pergi menjauhi mereka.
Minho menghela nafas sejenak. Kemudian berbalik arah dan kembali melanjutkan langkahnya. Krystal yang tersadar pun langsung mengikuti langkah Minho dari belakang. Ia memberanikan diri untuk lebih mendekati Minho, bagaimana pun juga ia ingin memenuhi permintaan Eommanya untuk mendekati Minho.
"Ng... Minho-ah," derap langkah yang awalnya terdengar sunyi pun langsung berubah ketika Krystal mencoba mengeluarkan suaranya untuk memanggil Minho. Minho pun hanya menoleh sedikit tanpa menghentikan langkahnya.
Krystal kembali menarik nafas dalam untuk menghilangkan kegugupan serta rasa takutnya terhadap Minho yang dikenalnya mempunyai sifat dingin dan tak banyak bicara.
"Karena... rumah kita searah, kuharap kau tidak keberatan kalau aku berjalan dibelakangmu" ucap Krystal kemudian.
Langkah Minho pun berhenti mendadak.
DUGH
Membuat Krystal yang sejak tadi menundukkan wajahnya, tiba-tiba menabrak punggung Minho.
"Akh.." Krystal meringis pelan, namun dengan cepat ia meminta maaf pada Minho. "Ma-maafkan aku!" ucapnya dengan nada gemetar.
Namun Minho tetap diam. Ia malah mengalihkan wajahnya kesamping dan agak menunduk. Setelah itu ia mengangkat tangan, dan terlihat tengah menutup mulut dengan punggung tangannya. Sesaat kemudian pundak Minho terlihat samar bergerak naik turun.
Krystal pun memiringkan kepala, menatap Minho dengan bingung. "Ke-kenapa?" tanyanya penasaran.
Minho masih tak merespon ucapan Krystal. Namun gelagat anehnya sekarang mulai terbaca oleh Krystal. Sepertinya Minho tengah menahan tawa, karena sejak tadi sedikit terdengar kekehan pelan dari mulut Minho.
"Hmpth, kau... kenapa bicara aneh seperti itu?" Minho pun mengeluarkan suaranya yang sedikit terdengar naik turun. Jelas sekali kalau sekarang ia memang tengah menahan tawanya. Sepertinya ia tertawa karena kata-kata aneh Krystal barusan.
Dan melihat hal itu, Krystal pun langsung terdiam. Matanya seakan tak bisa berkedip melihat senyum digaris bibir Minho. Senyum yang baru pertama kalinya ia lihat dari seorang Choi Minho.
Debaran jantung Krystal semakin menjadi, darahnya berdesir merasakan perasaan aneh saat melihat wajah Minho.
"Kau... lebih cocok jika tersenyum..." ucap gadis cantik itu tanpa sadar.
Dan kini giliran Minho yang langsung terdiam sesaat setelah ia mendengar gumaman Krystal. Ia pun berbalik arah seutuhnya menatap gadis yang masih terpana melihatnya itu. Ketika manik mata mereka kembali bertemu, Krystal pun tersadar dari lamunannya. Ia pun ingat dengan apa yang dikatakannya tanpa sadar barusan.
"Ma-Maafkan aku, kata-kataku barusan..." Krystal langsung terlihat kalang kabut dihadapan Minho. Wajahnya memerah karena malu. "Minho-ah, aku minta maaf, kata-kataku..."
"...Sulit.."
Belum sempat Krystal menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba satu kalimat jelas terlontar dari mulut Minho, dan langsung membuat gadis itu terdiam. Manik mata coklat itu kembali menatap dalam Minho.
Entah apa yang bisa membuatnya membaca perasaan Minho sekarang. Hanya dengan menatap sirat mata yang terlihat kosong dan sendu itu, Krystal sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Minho.
Kata 'sulit' itu, Krystal sudah bisa merasakannya. Mungkin 'tersenyum' saat ini adalah hal yang sulit untuk Minho, atau mungkin ia sudah lupa bagaimana caranya.
Ia hanya bisa tersenyum dalam keadaan spontan seperti tadi, hanya karena mendengar ucapan aneh dari Krystal.
Kesunyian pun kembali mewarnai atmosfir diantara kedua orang itu. Senyum dan tawa samar diwajah Minho hilang seketika. Minho pun memilih untuk membalikkan badan dan kembali melanjutkan langkah.
Krystal pun melakukan hal yang sama. Ia langkahkan kakinya pelan dibelakang Minho, mengikuti bekas jejak lelaki yang ada didepannya. Wajahnya kembali tertunduk dengan raut wajah menyesal. Ia benar-benar merasa bodoh karena sudah mengatakan hal itu pada Minho.
Tanpa Krystal tahu, ternyata Minho menyadari sikapnya. Bahkan Minho ingat sejak pertama kali mereka bertemu, ia pasti sudah membuat gadis cantik itu takut karena sifat dinginnya. Walaupun kini ia bukan lagi orang yang perduli pada orang lain, namun menyadari sifat Krystal... Minho merasakan perasaan aneh dalam hatinya. Entah apa itu, sejak ia bertemu Krystal, ia jadi semakin penasaran dengan gadis itu.
"Namamu…" tiba-tiba saja Minho berucap ditengah kesunyian. Membuat Krystal langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar suara Minho.
"Ne?" sahutnya dengan agak terkejut. Mereka pun masih melanjutkan langkah menuju rumah mereka yang tak sampai 10 menit lagi akan terlihat.
"Selama ini aku selalu memanggilmu dengan sebutan 'kau', itu karena aku tidak tahu namamu" lanjut Minho tanpa menoleh kearah belakang.
"Na-Namaku...?" Krystal masih menalarkan ucapan Minho, sesaat kemudian pun ia kembali tersadar. "Ah! Ma-maaf, aku memang belum memperkenalkan diri langsung padamu, karena saat aku datang kerumah, kau langsung masuk kedalam kamarmu. Tapi... apa Siwon Ajjushi tidak memberitahu namaku?"
Seketika raut wajah Minho kembali mendingin begitu ia mendengar nama Siwon. Entah kenapa nama Ayahnya itu selalu bisa membuat darahnya berdesir jika harus mengingatnya.
"Dia terlalu sibuk untuk memberitahuku hal itu" ucap Minho singkat.
Lagi-lagi Krystal langsung terdiam saat ia sudah bisa mengerti keadaan Minho. Ia ingat bahwa hubungan Minho dengan Ayahnya, Siwon tidak berjalan begitu baik. Bibir Krystal menjadi kelu, lagi-lagi rasa bersalah hinggap dihatinya.
Tak terasa kini mereka sudah sampai didepan rumah masing-masing. Mereka pun menghentikan langkah, Krystal berbalik arah menghadap Minho.
"Maaf... aku terlambat memperkenalkan diriku. Namaku, Krsytal. Jung Krystal" Krystal pun berhasil melaksanakan niatnya untuk memperkenalkan diri pada Minho.
Sementara Minho hanya mengangguk setelah mendengar nama Krystal. Ia pun berbalik arah menuju rumahnya yang tepat berada didepan rumah Krystal. Minho pun memasuki rumahnya yang terlihat gelap, begitu juga Krystal yang langsung membuka pagar rumahnya sesaat setelah ia melihat Minho masuk kedalam rumahnya.
'Rumahnya gelap sekali. Itu artinya tidak ada orang disana, dan Minho hanya sendiri' –batin Krystal.
Ia pun memeggang gagang pintu rumahnya dan membukanya. "Aku pulang" ucapnya setelah ia masuk.
Dari dapur, Jessica yang mendengar kepulangan anaknya pun langsung keluar dan menghampiri Krystal yang masih berada diruang tengah.
"Kau sudah pulang? Kemarilah, tadi Eomma sedang mencoba untuk membuat Jus" ucap Jessica dengan senyum manisnya seraya mengajak Krystal untuk masuk kedapur. Didalam dapur, ia pun langsung menyodorkan segelas minuman dengan warna yang menarik kepada Krystal.
"Minumlah, setelah ini kau mandi dan bantu Eomma menyiapkan makan malam" senyum Jessica seraya memberi perhatian pada putri semata wayangnya itu. Krystal pun tersenyum tipis membalas senyuman Eommanya.
"Kalau begitu aku kekamar dulu, Jus ini kubawa saja. Gomawo Eomma" senyum Krystal seraya beranjak dari kursi makannya. Jessica hanya mengangguk dan kembali pada pekerjaannya.
Krystal membuka pintu kamarnya dan masuk perlahan bersama segelas Jus ditangan kirinya. Ia letakkan Jus manis itu diatas meja belajarnya dan duduk di kursi. Garis matanya menyendu, gadis cantik itu kembali termenung mengingat Minho.
"Setiap hari Eomma menyambutku dengan hangat seperti ini..." Krsytal menatap sendu Jus didepan matanya.
"Kalau kau... siapa yang menyambutmu dirumah?" bibir tipis Krystal kembali bergumam. "Apa kau... kesepian?"
.
.
Beberapa hari berlalu setelah hari itu. Minho terpaksa mengikuti semua kegiatan dari klub Basket, akibat aksi seenaknya dari Changmin. Hari-hari mereka pun diwarnai dengan pertengkaran kecil yang selalu berakhir tidak jelas, Changmin benar-benar tidak bisa meninggalkan rutinitasnya untuk menggoda Minho.
Dan ucapan Changmin terbukti benar, hanya dalam beberapa hari, Minho pun masuk kedalam list laki-laki terpopuler di SMA itu. Hal itu menjadi batu loncatan bagi Changmin untuk benar-benar menggoda Minho. Namun kehadiran Changmin pun tidak terlalu buruk bagi kehidupan Minho disekolah. Setidaknya Changmin selalu siap menemaninya setiap saat, dalam arti lain, Changminlah teman Minho sekarang. Disaat ia sangat menutup diri dari teman-temannya, setidaknya ada Changmin yang terus-terusan mendekatinya.
Selain Changmin, hubungan Minho dengan Krystal pun menunjukkan kemajuan. Sejak hari itu, Krystal lebih memberanikan diri untuk menjadi teman bicara Minho agar laki-laki itu tidak merasa kesepian. Dan lagi, Minho lebih terlihat nyaman mengobrol dengan Krystal dikelas dibanding dengan teman-teman barunya yang lain. Itu karena ia sudah mengenal Krystal terlebih dahulu.
"Aku tidak menyukaimu" tanpa kata maaf, Minho langsung mengeluarkan kata-kata telak untuk menolak perasaaan seorang gadis yang kini tengah menyatakan cinta padanya.
"M-Mwo...? K-Kau menolakku?" gadis itu terlihat tak percaya.
Minho pun tak mau menggubris lebih dari ini. Dengan tatapan cuek, ia berbalik dan melangkah meninggalkan gadis itu.
Dan kini sepasang langkah jenjang pun ikut mengikutinya dari samping, siapa lagi kalau bukan Shim Changmin.
"Uwaa, lagi-lagi ada gadis yang menyatakan perasaan" senyum lebar Changmin, memulai rutinitasnya untuk menggoda Minho dipagi ini. Sementara Minho tetap berjalan dengan cuek, tanpa mau menoleh kearah Changmin.
Changmin pun dengan santainya merangkul Minho seraya menepuk-nepuk dada Minho dengan tangannya yang sudah melingkar dipundak laki-laki bermata bulat itu.
"Ya, jangan berwajah datar seperti itu terus, dongsaengie~"
Minho pun kehilangan kesabarannya. Dengan cepat ia melepaskan tangan Changmin dengan paksa dari pundaknya.
"Kubilang jangan memanggilku seperti itu!" kesal Minho. Namun Changmin justru semakin tertawa lepas.
"Hahaha, hebat sekali... aku punya Junior yang berani membentakku. Minho-ah, kau benar-benar jadi hoobae kesayanganku, tidak akan kubiarkan orang lain mengambilmu dariku" lagi-lagi laki-laki jangkung itu menggoda Minho.
"Kau pikir aku ini Kekasihmu" cibir Minho.
Langkah mereka berdua pun terhenti didepan tangga.
"OK, kita pisah disini. Pulang sekolah nanti, aku akan menunggumu di klub. Kita ada latihan" senyum Changmin lebar, seraya memberi peringatan kepada Minho tentang klub basketnya.
"Ck" Minho pun hanya membuang muka dengan raut wajah malas.
Mereka pun berpisah. Kelas Changmin berada di lantai 1, sedangkan Minho dilantai 3. Ia pun berjalan menaiki anak tangga. Namun saat ia berbelok, tiba-tiba saja tubuhnya bertubrukan dengan seseorang.
BRUGH
Beberapa buku yang dibawa orang itu pun terjatuh. Dengan cepat orang yang ternyata seorang gadis itu pun mengambil buku-bukunya lalu berdiri.
"M-maaf, aku tidak melihat—" Krystal pun terdiam begitu melihat orang yang ada dihadapannya adalah Minho. Ia tak menyangka kalau orang yang ia tabrak tadi ternyata Minho.
Jantungnya kembali berdegup aneh, perasaan lain lagi-lagi muncul.
"Aku juga minta maaf" sahutan datar Minho pun membangunkan Krystal dari lamunannya. Dengan cepat gadis itu pun membungkuk dan mengangguk sekali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang menyusul dari arah belakang Krystal. Seorang gadis lain pun menghampiri Krystal.
"Ya, gwenchana?" tanya gadis yang sepertinya melihat Krystal terjatuh sebelumnya.
Mendengar suara gadis itu, seketika mata Minho langsung membelalak lebar dan ia terdiam membeku ditempat.
"Ne, gwenchana. Gomawo, Yuri sunbae" senyum Krystal pada gadis yang sudah mengkhawatirkannya itu.
Gadis bernama Yuri itu pun mengangkat wajahnya dan kemudian melihat ke arah Minho. Seketika ia ikut membeku saat melihat seseorang yang amat dikenalnya berdiri disana. Ternyata gadis itu adalah Yuri, Kwon Yuri. Gadis yang pernah dengan sangat Minho cintai, sekaligus gadis yang juga menghancurkan hati Minho.
"...Yu..ri.."
Suasana pun berubah hening seketika. Minho dan Yuri hanya saling menatap tajam satu sama lain. Membuat Krystal yang menyadari suasana aneh ini pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Minho-ah?" panggil Krystal pelan.
Namun mata Minho masih terfokus kearah Yuri, seolah ia tidak mendengar apapun. Yuri pun mulia terlihat gelisah, ia mengalihkan matanya dari pandangan Minho, dan terlihat seperti orang yang gugup.
Tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi.
"K-Krystal-ah, a-aku... kembali kekelas duluan" Yuri pun dengan cepat meninggalkan kedua adik kelasnya tanpa berkata apa-apa lagi. Ia benar-benar terlihat gelisah.
Krystal pun langsung beralih menatap Minho dengan tatapan bingung. Namun ia langsung terdiam saat melihat ekspresi wajah Minho yang terlihat kalut. Entahlah, seperti kecewa, kesal dan terkejut menjadi satu.
'Se-sebenarnya... ada apa? Mereka saling mengenal?' –batin Krystal.
.
.
Minho POV
.
Gadis itu... Yuri..
Aku tak menyangka ternyata dia bersekolah disini, dan kami akan bertemu kembali seperti ini.
Kutundukkan wajahku sejenak. Sejak tadi apa yang guru jelaskan dipapan tulis, tak satupun bisa masuk kedalam otakku. Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasu sekarang. Yang ada dipikiranku hanyalah Yuri.
Ya Tuhan... dia adalah Yuri.
Tapi kenapa... ekspresi wajahnya saat melihatku... bahkan ia tak mau menatap wajahku lebih lama. Apakah dia... membenciku?
Kwon Yuri...
.
.
Jantungku masih saja berdetak tak karuan, perasaanku masih belum bisa tenang. Pertemuanku dengan Yuri siang tadi, benar-benar menyisakan perasaan yang mendalam dihatiku.
Dalam keadaan seperti ini, aku tidak mau bertemu dengan siapapun. Sekalipun si Jangkung itu mungkin tengah mencariku untuk latihan di klub, aku tidak akan memperdulikannya. Yang ada didalam benakku sekarang hanyalah Yuri.
Aku pun melangkahkan kaki menuju atap. Sama seperti disekolah sebelumnya, atap adalah tujuan utamaku jika aku ingin menyendiri sama seperti saat ini. Aku pun menyandarkan tubuh di pagar kawat atap, mulai termenung atas kejadian yang terjadi hari ini.
Aku ingat dengan ekspresi wajahnya saat itu. Ia bahkan menghindari kontak mata denganku. Ia sama sekali tidak mau melihatku ketika ia tahu siapa aku. Apa dia membenciku? Apa dia berusaha untuk menghindariku? Dia tidak suka kita bertemu lagi seperti ini?
KRAKK
Tanpa sadar aku sudah berbalik badan dan memukul kuat pagar kawat itu lalu meremasnya.
"Sial..."
"Min... ho...?"
DEG
Suara ini?!
Dengan cepat aku pun berbalik. Tubuhku langsung membeku saat kulihat Yuri tengah berada dihadapanku sekarang.
"Yuri.." bibirku menjadi kelu.
Yuri hanya diam dan menatapku dalam. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Ekspresi wajahnya tidak bisa kutebak, ia terlihat seperti orang yang menyesal sekaligus takut, namun ia juga terlihat seperti enggan untuk bertemu denganku.
Lagi-lagi emosi mengusai pikiranku saat kuingat ekspresi tidak mengenakannya itu.
"Kau... bagaimana kau tahu aku ada disini?" tanyaku dingin.
"Itu... Krystal yang mengatakanya padaku. Ia bilang, ia melihatmu berjalan kearah sini" jawabnya pelan.
Aku pun terdiam sejenak. Krystal?
Benar juga, bukankah tadi mereka bersama. Apa mereka saling mengenal?
"Kau mengenalnya?" tanyaku lagi.
Ia pun mengangguk, "Krystal adalah... juniorku di klub musik"
"M-Musik?" aku terkejut heran. Yuri pun hanya menundukkan wajahnya.
"Bukankah kau bilang akan masuk klub Cheerleader?" tanyaku lagi.
"Itu... masa lalu, Minho..." hanya itu jawabannya. Bahkan ia tak masih tak mau melihat kearahku.
Seketika emosiku semakin menjadi. Aku tahu, ini bukan dirinya.
Ia tak mungkin menyerah dalam Cheerleader karena jelas-jelas ia pindah kesini hanya untuk menjadi Cheerleader SMA ini dan menunjukkannya pada laki-laki yang ia sukai.
Bukankah begitu?
"Minho-ah, jadi... kau juga pindah kesini?"
Aku pun semakin kesal saat ia justru mengalihkan pembicaraan dengan mudahnya.
"Apa-apaan sikapmu itu!" bentakku dengan keras. Ia pun langsung terdiam dan mengangkat wajahnya menatapku terkejut.
"Kau bilang kau akan tetap menjadi Cheerleader, bahkan kau sampai bersusah payah untuk pindah kesini! Kenapa sekarang kau malah masuk ke klub musik dan mengatakan bahwa itu semua hanya masa lalu dengan entengnya, hah?!"
"Mi-Minho..." ia semakin menatapku takut.
"Kenapa? Kau tidak suka aku satu sekolah denganmu? Kau tidak suka melihatku lagi?!" nada bicaraku semakin meninggi.
"Minho-ah... k-kenapa kau jadi sekasar ini?" matanya membelalak tak percaya menatapku.
"Kau pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini?!" hardikku.
Kami pun saling terdiam menatap nanar satu sama lain. Manik hitamnya membulat sempurna, menatapku tak percaya. Ia terlihat sangat terkejut dengan semua perubahan sikapku.
Hatiku pun terasa janggal melihat ekspresinya yang seperti itu. Kusadari kata-kataku sudah kelewatan barusan, namun aku tidak bisa mengontrol emosiku. Rasa kecewa yang dibuatnya 2 tahun lalu masih mencoreng luka dalam hatiku.
"Oh, aku mengerti. Kau tidak suka melihatku ada disini karena kau takut aku akan mengganggu hubunganmu dengan orang yang kau sukai itu kan" aku tersenyum tipis.
"Kau pasti sudah bahagia sekarang. Berhasil masuk SMA yang kau inginkan untuk bersama dengan orang yang kau sukai, kau bahagia kan? Haha, indah sekali hidupmu sekarang"
PLAK
Dengan spontan Yuri langsung melayangkan tangannya kepipiku. Aku pun tersentak, ia baru saja menamparku?
Kulihat bulir-bulir air mata sudah membanjiri wajahnya. Ia menangis.
Sirat matanya berubah nanar, ia benar-benar kecewa padaku.
"Tolong... jangan bicara seolah kau tahu semuanya.." lirih Yuri.
"Kau bukan Minho yang kukenal" ia pun mengangkat wajahnya. Menatapku tajam dan benar-benar menunjukkan kekecewaannya.
Aku pun tersenyum dingin. "Oh, aku ingat. Kau pergi setelah mencampakkanku ya.. karena itu kau tidak tahu kalau Minho yang kau kenal dulu sudah tidak ada"
Sirat mata Yuri semakin manatapku nanar.
"Apa... maksudmu Minho?"
"Asal kau tahu, aku tinggalkan semua teman-temanku! Aku tinggalkan Donghae, sahabatku! Bahkan aku tinggalkan Ayahku, hanya karena keegosianku sendiri! Keegoisan yang timbul dari perasaan hancur yang kau buat!" bentakku seraya mencengkram kuat kedua pundaknnya. Emosi benar-benar mengusaiku sepenuhnya. Aku tidak dapat mengontrolnya apalagi saat kulihat wajah Yuri dihadapanku.
"Sekarang kau sudah bahagia kan? Mendapat semua yang kau inginkan dan berhasil menghancurkan perasaanku! Kau bahagia?!"
"MINHO! Sudah kubilang jangan berkata seolah kau tahu segalanya!" gadis itu pun tak tahan lagi dengan semua penekananku. Tangisnya semakin menjadi, "Kau... benar-benar menyakiti perasaanku..." tangis Yuri.
Aku pun terdiam. Perasaanku mulai stabil, namun rasa sakit ini semakin menjadi. Apalagi melihat air matanya, aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Sesungguhnya dia masih menjadi orang yang kucintai, aku benar-benar mencintaimu Kwon Yuri, tapi..
...hati ini sudah benar-benar hancur oleh penolakanmu waktu itu. Aku bahkan tak tahu apa aku bisa bangkit dan kembali menjadi Minho yang dulu atau tidak. Aku tidak tahu...
Perlahan kulepaskan cengkramanku dari pundaknya. Bisa kurasakan tubuhnya yang masih bergetar akibat terisak. Air matanya belum berhenti mengalir, ia benar-benar terlihat sedih sekarang.
Namun aku tak bisa langsung bersikap biasa. Keegoisanku masih ada disini. Aku tidak akan bisa tersenyum padanya.
"Berpikirlah," ucapku dingin. "Mana yang lebih tersakiti? Perasaanmu atau perasaanku?"
Aku pun melangkahkan kaki pergi meninggalkannya. Tak perduli ia masih terisak disana, tak perduli tubuhnya masih bergetar karena takut. Aku tak perduli walaupun hati kecilku menolaknya.
Aku pun sama kecewanya, dan rasa sakit itu tidak akan hilang begitu saja.
Lebih baik aku meninggalkannya sekarang.
.
Minho POV's end
.
.
Author POV
.
Minho duduk termenung di ruang tamu rumahnya yang gelap. Sendiri tanpa ditemani siapapun. Jangan tanya dimana Siwon. Setelah pindah kekota ini, ia semakin disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan hari-hari kepulangannya ke rumah bisa dihitung dengan jari.
Minho pun tak mau perduli lagi. Walaupun ia sangat membutuhkan sandaran sekarang, namun mengharapkan seseorang yang mungkin tak bisa ia harapkan pun justru hanya akan menyakitinya lebih dari ini.
Ia pun hanya bisa meredam semua masalahnya sendiri, membiarkannya menyiksa pikirannya sendiri dengan masalah yang berbelit.
"Kenapa... kenapa disaat aku bisa kembali bertemu denganmu, sikapmu justru seperti ini..." Minho menundukkan wajahnya. "Apa.. kau benar-benar tidak mau melihatku?"
Pikiran Minho tak bisa lepas dari Yuri. Ia pun sadar bahwa sifatnya juga ikut berubah. Ia bukan lagi Minho yang selalu bersikap ramah dan tersenyum sepanjang hari seperti dulu. Ia kini hanyalah seorang laki-laki dingin yang tidak mau memperdulikan keadaan sekelilingnya. Selalu menatap mereka dengan tatapan dingin dan tak segan-segan untuk berkata tajam.
Mungkin Yuri pun tidak mau melihatnya karena hal itu. Yuri benar-benar kecewa dengan perubahan sikap Minho. Namun Minho pun tidak bisa semudah itu merubah sikapnya. Bagaimanapun juga Yurilah yang membuatnya jadi seperti ini. Atau mungkin ia yang terlalu lemah untuk melawan keegoisannya.
Minho menghela nafas panjang untuk menghilangkan semua kepenatannya.
Ting Tong
Terdengar suara bel rumah berbunyi. Minho pun melirik kearah jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 07.00 malam. Ia sedikit terheran siapa yang akan berkunjung kerumahnya malam-malam begini, tidak mungkin Siwon. Sekalipun Ayahnya itu pulang, ia tidak akan pulang sedini ini.
Minho pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu itu perlahan, dan sesosok gadis cantik langsung terlihat dihadapannya.
"S-Selamat malam... Minho.." sapa Krystal yang terlihat gugup.
Minho hanya mengangguk singkat. Sebenarnya ia sedikit terkejut dengan kedatangan Krystal yang tidak biasanya, namun karena ia sedang bermood buruk hari ini, ia tidak mau bicara banyak.
"Maaf kalau aku mengganggu malam-malam begini. Aku hanya ingin mengantarkan ini…" ucap Krystal seraya menyerahkan sebuah kotak bekal bertingkat kepada Minho. Minho pun menatap bingung kotak itu sejenak lalu mengambilnya dari tangan Krsytal.
"Eomma mengkhawatirkanmu. Ia tahun Siwon Ajjushi belum pulang, karena itu ia takut kau belum makan apapun. Jadi dia membuatkanmu makanan itu" jelas Krystal.
Minho pun terdiam mendengar penjelasan Krystal. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan kalau sahabat Ayahnya itu begitu memperdulikan keadaannya sampai seperti ini.
"Ini memang bukan bekal yang istimewa, tapi Eomma harap kau mau memakannya" Krystal pun tersenyum manis. Membuat Minho semakin terdiam dan menatap dalam wajah gadis cantik itu. Lagi-lagi perasaan aneh memenuhi hatinya. Entah kenapa, melihat senyum Krystal seolah membangkitkan sesuatu yang tengah terpuruk didalam hatinya untuk menjadi lebih baik.
"Makanannya..."
"Ng?" Krystal pun menoleh kearah Minho saat laki-laki itu berbicara sesuatu.
"Ayo kita makan bersama"
Krystal pun semakin terkejut mendengar kalimat lanjutan dari Minho. "E-Eh? Makan bersama?" tanya Krystal tak percaya.
Minho hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datar, kemudian ia masuk kedalam rumah dengan membiarkan pintu rumahnya terbuka, pertanda ia mempersilahkan Krystal untuk mengikuti langkahnya.
Dengan langkah takut dan canggung, Krystal pun ikut masuk kedalam rumah Minho. Ia mengikuti Minho yang berjalan menuju dapur. Sesampainya didapur, ia pun melihat Minho tengah menyiapkan sepasang alat makan untuk digunakan.
Dengan segera ia menghampiri Minho dan membantu menyiapkan segalanya. Tak perlu waktu lama, hidangan yang Jessica buat pun telah tersaji nikmat diatas meja makan. Minho pun duduk dikursinya dan mempersilahkan Krystal untuk ikut duduk dihadapannya.
"Ng... maaf," ucap Krystal dengan suara pelan. Minho pun hanya melirik datar.
"Bukankah lebih baik kalau makanan ini untuk Siwon Ajjushi nanti? Eomma ku membuatkannya untuk keluarga kalian. Bagaimana kalau Siwon Ajjushi belum makan? Lebih baik makanan ini disimpan untuknya saja, lagipula aku sudah memakannya tadi dirumah" saran Krystal pada Minho.
"Sudahlah, dia tak akan pulang malam ini. Sayang jika makanan ini tidak dimakan, ini masih kan? Lebih baik kita makan sekarang" jelas Minho seadanya
"Siwon Ajjushi, benar-benar tidak pulang?" tanya Krystal lagi. Minho pun mengangguk.
'Itu artinya... dia benar-benar sendirian dirumah selama ini' –batin Krystal.
"Kenapa wajahmu begitu? Ayo kita makan sekarang" Krsytal pun tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Minho. Ia pun mengangguk dan memulai makan malamnya bersama Minho.
Makan malam ini benar-benar terasa kaku bagi gadis cantik berambut panjang itu. Minho yang awalnya bicara, kini terdiam lagi. Keheningan mewarnai atmosfir ruang makan ini.
Krystal pun mencuri pandang kearah Minho diam-diam. Entah sejak kapan, ia mulai sering memikirkan Minho. Entah kenapa yang muncul di pikirannya selalu Minho. Ia cemas dengan Minho yang selalu sendirian, baik di sekolah maupun di rumah.
Tak lama kemudian makan malam mereka pun selesai. Minho bersiap untuk membereskan meja makan, namun dengan cepat Krystal menahan tangannya.
"Ng?" bingung Minho sambil menatap gadis itu.
Krystal pun tersadar bahwa ia tengah mengenggam erat tangan Minho sekarang. Seketika ia pun melepaskan genggamannya dengan wajah yang merona merah.
"M-Maaf... maksudku, biar aku saja yang membereskannya" ucap Krystal gugup dengan wajah yang tertunduk malu.
"Kenapa? Kau kan tamu disini, lagipula aku yang mengundangmu, biar aku saja" ucap Minho santai.
Krystal pun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap Minho dalam. "Minho... kali ini, biar aku saja" ucapnya dengan raut wajah serius.
Minho pun terdiam begitu melihat tatapan dalam gadis cantik itu. Jantungnya berdebar aneh saat mata mereka saling bertemu pandang.
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja... kau pasti sering membereskan semua ini sendirian. Sekarang karena aku sedang ada disini, aku mau membantumu. Sekali ini saja, kalau boleh... Bukankah aku adalah temanmu?" tanpa sadar Krystal pun tersenyum lembut. Ia berusaha mengatakan kata-kata baik yang dikirannya bisa menghibur Minho.
Dan Minho yang mendengar semua itu pun langsung terdiam. Perasaan hangat seolah mengalir keseluruh tubuhnya. Ia tak menyangka bahwa gadis yang baru dikenalnya itu ternyata memperhatikannya seperti ini.
Melihat Minho yang masih juga tak merespon ucapannya, raut wajah Krystal pun kembali terlihat canggung. "Maaf, apa kata-kataku terlalu berlebihan? Aku pikir... kau sudah menganggapku temanmu, karena aku pun menganggapmu seperti itu..." ucap Krystal pelan.
Minho pun langsung mengalihkan wajahnya dari Krystal. Ia menutup mulut dengan punggung tangannya dan Krystal hanya bisa menatap bingung kearah laki-laki itu. Mulai terdengar kikikan pelan dari mulut Minho, sepertinya laki-laki itu sedang menahan tawanya lagi.
"Lagi-lagi bicaramu aneh" Minho kembali menatap Krystal, namun kali ini ia membawa senyuman. Senyuman manis yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin ia benar-benar sulit untuk menahan tawa karena ucapan aneh Krystal, karena itu ia tersenyum lebar seperti ini.
Sementara Krystal langsung terpana melihat senyuman itu. Bahkan kelopak matanya nyaris tak berkedip hanya untuk melihat senyuman Minho yang tak bisa diperkirakan kapan datangnya.
"Baiklah, kali ini tolong aku. Aku juga masih harus membereskan makan malamku yang ada di meja tamu" ucap Minho dengan senyum yang masih terlihat diwajahnya.
"Eh?! Kau sudah makan malam?!" seketika Krystal pun terkejut mendengar ucapan Minho.
"Iya, tadi aku masak sendiri" jawab Minho singkat.
"Apa kau tidak kenyang? Kenapa memaksakan diri untuk makan lagi?" tanya Krystal cemas.
Mendengar ucapan aneh lagi, Minho pun kembali tersenyum.
"Aku tidak memaksakan diri…" ucapnya.
"Lalu?" sahut Krystal.
Minho pun mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menoleh kearah gadis itu. "Bagiku yang tidak punya Ibu, bukankah menyenangkan jika ada yang membuatkan makanan untukku.? Karena itu aku menghargai Sica Ahjjumma" jelas Minho.
Krystal pun kembali tercengang dengan kata-kata Minho. Ia semakin mengerti bagaimana perasaan Minho sekarang. Dan Entah kenapa perasaannya juga ikut sedih mendengar kata-kata Minho.
"Kau sendiri juga kan? Kau bilang sudah makan, tapi masih menerima ajakanku. Hati-hati berat badanmu naik" ledek Minho sambil tersenyum.
Krystal pun tersadar dari lamunannya saat mendengar Minho meledeknya untuk pertama kali.
"E-Eh?!" kagetnya.
Minho hanya tersenyum tipis dan meninggalkan gadis itu didapur. Ia berjalan menuju ruang tamu untuk membereskan makan malamnya.
DEG DEG DEG
Jantung Krytsal berdebar tak karuan. Ia tidak percaya malam ini Minho mengajaknya makan malam. Bahkan laki-laki itu banyak tersenyum dan meledeknya seperti ini. Padahal Minho selalu berwajah dingin jika bersamanya, apalagi kelihatannya mood Minho sedang buruk hari ini.
Tapi yang Minho lakukan tadi…
Krystal membalikkan badannya kearah wastafel, menatap piring-piring kotor yang ada didalamnya.
"Ya Tuhan, apa itu Minho yang selama ini kutakuti?" gumam Krystal yang masih saja tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Mengingat senyum dan ledekan Minho padanya, tanpa ia sadari senyum manis pun tersungging di bibirnya.
Perasaannya terhadap Minho mulai berubah. Walaupun ia masih merasa canggung, gugup bahkan takut terhadap Minho, tapi ia sadar bahwa ia suka berada didekat laki-laki itu.
Krystal pun terus tersenyum sambil mencuci piring-piring kotor itu.
"Ini perasaan apa ya...?"
.
.
To Be Continued
.
A/N : Jjang! Apa kabar readers setianya TLTSM? Mianhae aku baru smpet update skrg, entah knp ngliat review2 bru di FFN, aku jd pny smgt lg lanjuti TLTSM ini, Gomawo! Smoga kdepannya TLTSM smakin bnyak peminatnya ya! Thank You~
.
Okuni Mikku : Mian updatenya lama, gomawo udh baca :)
FurimaDahlia : Gomawo atas dukungan & perhatiannya :)
annisa utomo : Done! Mian lama, gomawo udh baca :)
annisa : Mian updatenya lama, gomawo udh baca :)
