Aku membuka mata perlahan, dan yang kulihat hanyalah gelap. 'dimana ini?' tanyaku dalam hati –bingung.
Sebuah suara menggema di telingaku, ''berjalanlah ke depan!'
Aku terdiam dan mencoba menganalisa suara yang sepertinya tidak familiar bagiku.
Aku... tidaklah tau arah manakah 'depan' itu. Haruskah aku maju? Atau... berbalik kebelakang?
Menoleh ke kanan, lalu berjalan pelan... Aku ragu. Berbalik ke arah kiri dan yang kutemui adalah tidak ada.
Pelan. Berjalan menuju tempatku semula. Tetapi, yang kutemui hanyalah kegelapan mencekam yang mencekikku hingga aku jatuh tersungkur...
Kemudian suara itu kembali dengan nada yang berbeda, "Ini semua salahmu!"
"Pada akhirnya, semuanya akan lenyap, bukan? Lantas apa bedanya lenyap sekarang dan nanti?!"
Tiba-tiba rasa sedih melingkupi indra perasaku, menangis dalam gelap menyiksa...
Sentakan keras menghantam bahuku memaksa untuk bangun... menarikku untuk berjalan ke arah yang aku tidak tau dimana.
Pertanyaan dibenakku ketika dua orang yang aku tidak tahu siapa menarikku ke kegelapan yang lebih menakutkan, 'Haruskah aku lenyap?' ...
not mine, but of course Death Note is belongs to Tsugumi Ohba and Takeshi Obata
Asesino is belongs to Me
Crime/fake(?) Romance
T plus
Warn: Miss typo(s), laba-laba story, alur kecepatan, romance berantakan, pendeskripsian yang blur, etc.
a/n: I'm not a perfect writer, and this story is still far from the word "perfect". therefore, I expect criticism and suggestions that build this story become more "perfect".
Douzo~~
^O^)/
-HAH!
Aku terbangun dari tidurku dengan posisi terduduk, kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 p.m, 'masih terlalu pagi, rupanya''.
Aku menghela nafas panjang, "Mimpi apa itu?" Gumamku tak sadar. Tanpa bisa kucegah, air mata mengalir deras dari manik soft brown milikku dan isakkaku pun memecah kesunyian.
Aku tidaklah mengerti, kenapa aku menangis? Mimpi apa itu? Aku sungguh tidak bisa menghentikan air mata ini. Apa yang terjadi?
Dengan mata yang basah, aku memandang figura yang berada di meja nakas sebelah tempat tidurku. Aku dan seorang gadis blondie yang menampilkan senyum yang sangat lebar dan aku yang tengah berdiri di sampingnya dengan tangan membentuk huruf V.
Otakku memutar memori kelam sebelas tahun lalu.
Sebuah memori kelam yang nyaris membuatku selalu ingin menyapa dewa kematian secara langsung.
Saat itu... aku memiliki keluarga yang sungguh sangatlah harmonis. Dengan seorang ibu yang bagaikan malaikat, kakak laki-laki yang jahil dan selalu menemaniku dan seorang ayah yang sangat tegas dan penyayang bersamaan.
Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi saat itu, yang kuingat hanyalah aku sedang bermain hide and found bersama kakakku ketika aku memilih untuk bersembunyi dibawah meja makan, beberapa orang berbaju jas dan berpenampilan rapi datang kerumahku dan mencari ayahku yang kebetulan sedang berada di rumah pada hari itu. Aku tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, namun ketika orang-orang itu keluar dari ruang kerja ayahku, mereka memaki ayahku dan menutup pintu rumah dengan keras dan menyebabkan aku kaget dan refleks memeluk kakakku ketika ia berhasil menemukanku.
Hanya itu kejadian janggal yang aku lihat. Tidaklah ada perbedaan yang begitu nampak terjadi di rumahku. Hanya Ayah yang lebih sering berada di rumah, dan tentu saja membuatku sangat senang karena akhirnya aku bisa bermain dengan Ayah.
Seminggu setelahnya...
Aku tengah bermain di halaman rumah bersama dengan ibuku. Kami duduk di ayunan dan ibuku membacakan sebuah dongeng sambil memangkuku.
"Linda, ingatlah bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada orang yang kamu sayangi," ucap ibu sambil mengusap lembut rambut merah identik dengannya.
"Umm... aku akan selalu melindungi orang-orang yang aku sayangi, Mom," jawabku dengan semangat.
Aku selalu merasa bingung jika Mom mulai mengungkit kata-kata itu. Ya, ini bukan kali pertamanya aku mendengar Mom berkata seperti itu dan jawabankupun masih tetap sama. Ketika Mom berkata seperti itu, wajah Mom terlihat letih, pandangannya pun mengosong dan tersenyum hambar. Aku tidak suka melihat Mom seperti itu, dan dengan alasan itu pula aku selalu membalasnya dengan senyum semangat dan memeluk Mom erat, ingin membuat rasa cemasnya menghilang.
"Mom sangat menyayangimu, Linda, sangat." Mom menangis, aku panik ketika mendapati Mom menangis sambil membalas pelukanku. Tidak ada isakkan tangis disana, hanya tangis yang keluar dari bola mata coklat muda sendu milik Mom. Aku yang tidaklah mengerti, mencoba memeluk Mom lebih erat, meyakinkan Mom bahwa aku disini dan akan tetap begitu.
Putaran waktu terasa begitu cepat.
Malam kelam itu terjadi, aku mendengar letusan keras ketika aku sedang berada di kamar tidurku. kemudian secara spontan, aku berlari menuju pintu kamarku untuk keluar. Kudengar suara teriakkan kakakku dan letusan kedua pun terdengar.
Aku memberanikan diri untuk keluar dari kamarku. Dan, ya, aku sangat menyesali keputusan itu, bahkan hingga kini.
Badanku bergetar keras, aku tidaklah bisa mengendalikan badanku. Dengan upaya yang keras, aku meraih handphone yang letaknya disebelah bantalku dan menekan sebuah nomor lama –panggilan cepat.
"Moshi moshi,"
"..."
"Linda? Ada apa?"
"...Sei, bisakah kau datang ke apartementku sekarang?" Ujarku setengah berbisik. Aku hampir tidak mengenali suaraku, terdengar sangat gemetaran.
"Baiklah, sekarang kau harus menenangkan pikiranmu dulu, kau terdengar sangat gemetaran!" Perintah Sei padaku.
Tanpa jeda yang berarti, aku mematikan sambungan teleponku dengan Sei dan berbaring terlentang di ranjangku. Aku menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Air mata tidaklah berhenti mengalir dari kelopak mataku.
Tiba-tiba suara isakan tangis yang sangat menyayat hati terdengar di telingaku, aku tidaklah mengenali suara yang berasal dari pita suaraku sendiri, yang kusadari hanyalah aku meremat bajuku di depan dada dengan sangat keras.
Badanku masih saja bergetar hebat, tidak dapat kukendalikan, aku hanya menangis dan menutupi wajahku dengan telaoak tanganku sampai aku mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan cepat dan langkah kaki yang sepertinya tengah berlari menuju ke arahku.
Sebuah tangan yang berukuran lebih besar menangkap pergelangan tanganku dan membukanya. Seketika itu juga aku langsung bangkit dan memeluk pemuda itu, aku menangis lebih keras dan pemuda itu dengan perlahan menepuk punggunggu, berniat menenangkanku.
"Hiks...hiks...hiks...Aku sudah tidak sanggup lagi, Sei," Ujarku putus asa kepada pemuda itu –Sei.
"Sstt... Kau tidak boleh mengatakan itu, Linda. Aku tahu kau orang yang kuat, aku tahu kau pasti bisa melalui ini semua." Terdengar napas yang memburu dari Sei. Aku tahu dia pasti langsung berlari menuju apartementku ketika aku memintanya datang kesini. Sei sangat baik, aku tahu itu.
Hanya pada Sei aku bisa memperlihatkan sisi lemahku. Aku tidak tahu kenapa, tetapi pancaran matanya menyiratkan ketenangan untukku ketika aku pertama kali meihat manik hitam kelammnya itu. Seperti kakak kandungku, ia sangat baik padaku.
"Apa karena kau akan bertemu dengan Mello, hingga kau menjadi seperti ini lagi?" Tanya Sei setengah berbisik.
Aku hanya diam dan mengeratkan pelukanku padanya.
.
.
Aku memperhatikannya ketika ia tertidur, matanya yang memanas karena terlalu banyak menangis dan air mata –yang aku tidak tahu kenapa selalu mengalir padahal sekarang ia tengah tertidur. Kuseka air mata di wajahnya menggunakan handuk kecil yang telah kubasahi dengan air hangat.
Gadis yang sangat aku sayangi seperti adik kesayanganku. Aku selalu tidak tahan melihatnya menangis dan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu berusaha membuatnya melupakan rasa sakit tentang memori kelam itu, ya, walaupun aku tahu itu hanya sementara.
Sangat bohong sekali jika aku mengataka bahwa aku sangat mengerti gadis merah ini, karena pada kenyataannya, aku tidaklah mengalami hal yang gadis ini rasakan. Aku hanya mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian dan aku selalu berusaha menjadi sandarannya ketika ia merasa dunia terlalu memaksanya untuk jatuh. Aku menghiburnya semampuku, sungguh, walaupun pada akhirnya aku tahu bahwa dia sendirilah yang harus menghadapi itu. Hei, aku tahu bahwa bicaraku terlalu kejam, tetapi itulah faktanya. Aku hanya bisa menyemangatinya, hanya itu. Dan itu membuatku merasa sangat tidak berguna untuknya.
Disinilah aku, berlari seperti orang gila ketika Linda –gadis merah itu, meneleponku dengan nada gemetar yang begitu terdengar. Aku mengetahui bahwa Linda mengidap PTSD atau gangguan stess pasca trauma, trauma akan kejadian yang menimpanya dulu, menyebabkan ia selalu mengalami gemetar yang hebat, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Linda dulu sempat hilang ingatan walaupun hanya beberapa minggu, tetapi itu tetap membuatku khawatir. Itu terjadi ketika Linda mengingat atau mengalami stress yang berlebih. Beruntung kali ini Linda bisa mengendalikan dirinya sehingga ia masih bisa sadar ketika aku sampai disini.
Aku mengamati wajahnya sejenak sebelum mengambil selimut cadangan di dalam lemarinya dan beranjak menuju sofa yang berada di depan tempat tidurnya. Kalian bertanya kenapa aku bisa seleluasa ini di rumah Linda? Well, karena aku sudah terlalu sering berada disini dan bahkan aku mengetahui kata kunci apartementnya.
.
.
Aku terbangun ketika mendapati cahaya silau menyapa wajahku. Perlahan aku mengejapkan mata untuk membiasakan mataku dengan cahaya matahari yang sudah meninggi.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamarku ketika aku tidak mendapati keberadaan seorang pemuda yang tadi malam –atau pagi? kutelepon untuk datang ke sini.
Karena tak kunjung menemukannya, aku memutuskan untuk berjalan keluar kamar. Tercium samar-samar wangi masakan yang menggugah seleraku. Aku berjalan ke arah dapur dan mendapati pemuda itu –Sei tengah memasakkan sesuatu yang tercium enak.
"Kau sedang memasak apa, Sei?" Tanyaku dan mendapar tespon kaget dari Sei
Aku tertawa pelan dan berkata, "Haha... kau terlalu mudah untuk terkejut, kau tau?" Kataku sambil meraih gelas di rak piring dan menuangkan air putih kemudian meminumnya.
"Siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba ada orang yang tidak tahu dari mana datangnya menyapa dengan suara serak seperti monster itu," Gumam Sei yang kemudian mendapat sikutanku pada tulang rusuknya.
"Hei... Suaraku baik-baik saja, kau dengar itu?" teriakku setengah bercanda di dekat telinganya dan kemudian beranjak ke meja makan dan melihat susu hangat telah terhidang dengan rapi.
"Ha-ah... suaramu selalu mampu mebuat telingaku berdenging," Ucap Sei seraya menggelengkan kepalanya pelan dan kemudian menuangkan entah apa itu yang sepertinya sup ke dalam dua buah mangkuk.
"Kau masak apa, Sei?" Tanyaku penasaran.
"Sup tomat," Jawabnya singkat dan menyodorkan satu mangkuk ke depanku.
"Kau lebih cocok menjadi ibu-ibu ketimbang laki-laki, kau tahu?" Kataku dengan pandangan berbinar ke arah mangkuk yang penuh dengan sup tomat buatannya. Kuakui, masakan Sei adalah yang terbaik.
"Aku anggap itu pujian, Linda," Jawab Sei sambil menjitak pelan kepalaku sebelum mengambil tempat duduk di depanku.
"Awww... itu memang pujianku yang kulontarkan sepenuh hati," Jawabku dengan kedua tangan terkepal di depan dada dan memasang mimik seinnocent mungkin.
" Ya..ya..ya... Kau makan atau tidak?" Tanya Sei bosan. Aku tertawa lepas melihat ekspresi Sei yang terkenal pendiam dan minim ekspresi itu. Hahaha... rasanya lucu sekali.
.
.
Aku senang melihat tawa lepas yang ditunjukkan Linda pagi ini. Aku sengaja bangun pagi-pagi sekali dan berbelanja karena kulihat tidak ada satupun bahan makanan yang bisa dibuatkan menjadi makanan di lemari es Linda.
Aku juga sengaja membuatkan makanan favorit Linda. Ya, sup tomat adalah makanan favorit Linda –setahuku. Ha-ah rasanya senang sekali melihat Linda tertawa seperti ini. Tidak seperti tadi pagi, ia hanya menangis sampai ia jatuh tertidur.
Selalu ada matahari setelah badai, benar?
"Linda, setelah makan, segeralah berkemas-kemas. Kita akan memasang peralatan dan bersiap-siap untuk bekerja." Kataku cepat.
"Eh? Bukankah masih ada tiga hari lagi?" Kulihat raut Linda yang bingung. Akupun juga begitu ketika 'pak tua' itu memberi tahu bahwa rencana dipercepat.
"Well, mata-mata mereka bilang kalau si 'Pengacau' bergerak lebih cepat dari pada kita." Sei sangat berhati-hati untuk menyebut nama si 'Pengacau' karena nama itulah yang membuat Linda menangis tadi pagi, Mello.
Kulihat mata Linda membola sesaat sebelum kembali normal. Apa aku salah? Hei, katakan padaku jika timming yang kuambil ini salah. Tetapi jika tidak segera kukatakan, rencana 'Pak Tua' itu akan berantakan dan kami akan terkena masalah jika hal itu terjadi. Jadi.. ayolah..
"...Aye aye captain," Jawab Linda semangat. 'Untunglah dia tidak terlalu shock.' kataku membatin.
"kalau begitu, aku mandi dulu baru setelah itu kita pergi. Dan kau tentu tau kamar mandi yang mana yang bisa kau gunakan, bukan begitu, Sei?" Jawab Linda yang entah kenapa menaikkan kedua alisnya bersamaan.
"Kau pikir aku sudah berapa kali ke sini, Linda?" Tanyaku sambil berkacak pinggang dan diikuti tawa yang membahana dari arah kamarnya. 'Ha-ah, dasar anak itu,'
.
.
'Aku tidak boleh menangis,' patriku di dalam hati. Jangan lagi, aku tidaklah mau merepotkan Sei yang sudah sangat baik kepadaku. Aku tidak mau menyusahkannya, untung saja Sei tidak menyadari perubahan ekspresiku ketika ia mengatakan si 'Pengacau'. Haha... tentu saja aku tahu bahwa itu adalah Mello, dan aku juga tahu bahwa targetku adalah Matt, temanku sewaktu sekolah dasar. Miris? Memang, aku harus membunuh sahabatku dan membunuh 'adik'ku jika ia mengacau rencana ini. Aku merasa seperti memakan buah simalakama. Tetapi aku adalah seorang pemunuh bayaran, ingat? Aku memang harus membunuh walaupun aku tidak mau. Ya. Walaupun itu sangat teramat berat untukku.
.
.
"Sei, aku ingin mengunjungi Taman Kota, boleh kah?" Tanya Linda ketika ia sudah berada di dalam mobil mustang biru dongker milik Sei.
"Hmmm... Untuk apa kau ke Hutan Kota, Linda?" Tanya Sei penasaran karena setahunya Linda tidak suka tempat yang sunyi.
"Entahlah, menenangkan pikiran, mungkin?" Jawab Linda sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Baiklah, aku akan melakukan pengintaian sendiri, kalau begitu." Jawab Sei seraya mengemudikan mobil menuju Hutan Kota.
.
.
Sei menepikan mustangnya ketika ia sampai di areal parkiran Hutan Kota. Kemudian Sei berkata, "Sudah sampai, Nona." Ketika mendapati Linda terlihat melamun memandangi jendela di sampingnya.
"Ah, kau benar," Kata Linda ceria sambil membuka pintu penumpang dan keluar dari dalam mobil, "Sei, tidak usah menjemputku. Aku akan pulang menggunakan bus." Ujar Linda dari luar mobil dan dijawab anggukan oleh Sei.
Dan mobil Sei pun hilang dari pandangan Linda.
Perlahan Linda berjalan memasuki Hutan Kota dan mengagumi ke asrian hutan ini. Linda bersenandung pelan, berjalan santai menuju sebuah pendopo yang disediakan untuk pengunjung Hutan Kota.
Di bagian utara pendopo, terdapat sebuah kolam ikan kecil yang diisi oleh ikan mas koi. Linda terlihat sangat senang ketika berada di hutan ini, sangat terlihat ketika Linda memberi makan ikan koi tersebut dengan makanan yang disediakan oleh pengelola hutan ini.
Setelah merasa puas, Linda melanjutkan perjalanan menuju deretan pohon pinus yang tumbuh subur di sebelah selatan hutan. Memutuskan untuk memasuki tengah hutan pohon pinus karena mendengar riak air yang terdengar mengundangnya untuk melihatnya.
Dan saat itulah jantung Linda berdegup kencang, hingga Linda merasa jantungnya akan terlepas dari rongga dadanya.
Gadis itu, Gadis blondie yang kini memiliki tinggi yang hampir sejajar dengannya, padahal dulu gadis itu hanyalah sebahu Linda, tengah menatap kosong ke arah danau yang ingin ia kunjungi.
Linda tidaklah pernah berencana mengunjungi Hutan Kota ini, hanya pikiran yang tiba-tiba terlintas ketika melihat sebuah rambu-rambu lalu lintas yang menuliskan "Hutan Kota 25 km" di jalan raya tadi.
Linda rindu dengan gadis itu, sangat, tetapi kakinya seperti terpaku di tanah. Linda ingin memeluk Mello walau hanya sebentar. Ia tidaklah bisa melangkah, ia hanya bisa memandangi gadis itu sampai sebuah suara yang tidak ia kenali keluar dari dalam tenggorokannya yang kering, "...Mello?"
Sepertinya Mello mendengarkan gumaman Linda karena ia kini membalikkan badan dan melihat tepat ke arah manik soft brown milik Linda.
"...Linda? Kau kah itu?" tanya Mello dengan ekspresi yang sangat sulit untuk dibaca.
Linda terlihat menganggukkan kepalanya kaku. Telihat jelas bahwa Linda tidaklah siap dengan situasi yang terjadi saat ini.
.
.
Sejujurnya aku merasa tidaklah sanggup menampakkan diriku pada sosok pirang yang kini tengah menatapku datar. Aku mengutuk kakiku karena ia membawaku menemuinya –walaupun tidak sengaja.
Kesunyian ini sungguh menyakitkan. Aku berharap Mello akan menampakkan ekspresi yang sama seperti dulu. Aku berharap Mello akan terus mengikutiku seperti dulu. Tetapi munafik jika aku meminta hal itu setelah sekian banyak dosa yang kuperbuat terhadap Mello.
"..."
"...Lama tak melihatmu," ujarku sambil memijit tengkukku pelan, "Apa kabar?" mencoba untuk bersikap biasa.
Mello tidak menjawab. Ya Tuhan, aku sekarang benar-benar merasa menjadi manusia paling terkutuk di muka bumi ini. Mello...
Aku bersumpah atas nama Tuhan, aku ingin memeluknya, mengatakan maaf jutaan bahkan ribuan kali, aku ingin mengatakan bahwa ini bukan inginku. Bukan aku yang menginginkan mengalirnya cairan kental berwarna merah dan berbau anyir ditanganku. Bukan aku yang menginginkan keluarganya untuk mati ditanganku.
Kuakui akulah yang membunuh mereka, akulah yang menebas kepala Rumah Tangga Kheel, akulah yang menusukkan belatiku tepat di jantung Mrs. Kheel. Aku tidaklah mengelak tentang hal itu, tidak. Tetapi aku hanya ingin agar Mello mendengarkanku, terserah ia akan memaafkanku atau tidak.
"Aku minta ma-.."
"Untuk apa kau meminta maaf?" Potong Mello dingin.
Aku memandang Mello dengan gelisah, aku tidak ingin menangis, sungguh. Aku memujit tengkukku untuk menetralkan rasa perih di mataku.
"Untuk semuanya, tentu saja." ,kataku kering, "Aku-"
"Jika kau mengatakan itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Aku yakin aku akan langsung menghambur ke arah pelukanmu. Tapi tidak sekarang. Kau tentu tau alasannya, Linda"
Mendengar perkataan itu, pertahananku goyah. Aku menutup mulutku dengan telaoak tangan, berusaha menahan isak tangis yang hendak melompat dari pita suaraku sebelum aku jatuh terduduk, "Aku tidak pernah bermaksud untuk membunuhmu, Mello. Sungguh," Ujarku terisak
"...Tetapi kau bermaksud membunuh seluruh keluargaku. Bukan begitu, Linda-nee."
Dengan cepat, kilasan memori kelam menggelayuti pikiranku, aku jatuh terduduk dan...
_FLASHBACK_
Linda kecil tengah mengamati suasana rumah diluar kamarnya. Ia melihat ada banyak sekali cairan kental dan berbau amis yang ia tidak ketahui itu apa karena minimnya pencahayaan di koridor penghubung kamarnya. "kakak..." panggil gadis kecil itu sambil berjalan pelan menuju tangga.
Linda nyaris berteriak ketika ia menemukan banyak sekali mayat di sekitar tangga. Linda menutup mulut rapat ketika melihat kakaknya sedang mengerang kesakitan akibat luka tembakan di perutnya.
"Apa yang kau lakukan, tolol?" kata seorang yang memakai topi sabo berwarna coklat tua kepada temannya yang lain yang tengah mengusap kepalanya yang di pukul olehnya,"Bos bilang bawa anak-anaknya hidup-hidup, bukan?" Lanjutnya berang.
"Hidup-hidup bukan berarti tidak terluka, Kal." Kata pemuda itu membela diri.
"Kau benar, Kal. Jika anak ini kehabisan darah, akan kutembakkan kepalamu yang bodoh itu dengan senjata apiku," Jawab lelaki yang menggunakan topi sabo –Rodd, "Sekarang angkut anak itu ke dalam mobil dan cari anak perempuan yang bernama Linda." Sambung Rodd.
Linda terkejut ketika mendengar namanya dipanggil, ia tidaklah tahu harus melakukan apa, ia bingung apakan harus bersembunyi atau lari sampai ia mendengar suara lirih kakaknya, "Ti...tidak... jangan membawa adikku," Ujar kakaknya lemah dan terlihat sedikit meronta walaupun itu tidaklah berarti apa-apa.
-BUUGGH
Terdengar hantaman keras yang berasal dari pemuda yang bernama Kal tadi yang menghantam kepala kakaknya menggunakan pegangan pistol.
Seketika itu juga Linda berteriak dan berlari ke arah Kal.
Linda yang saat itu tengah memegang sebuah tongkat baseball, mengarahkan tongkat itu kearah Kal secara membabi buta. Dan...
-GRREEPP
Linda tertangkap dengan mudah oleh Rodd.
"Kalau aku jadi kau, aku akan lari dari rumah dan bersikap tidak mengenal anak laki-laki ini," Ujar Rodd sambil memegang kerah baju tidur Linda.
Kemudian Kepala Linda terasa berdenging karena dihantam sesuatu dan... semuanya menggelap...
.
.
Linda tersadar dari dunia gelapnya ketika sebuah bisikan halus terdengar di telinganya.
"...nda..Linda.."
Linda membuka matanya perlahan dan mendapati sosok kakaknya tegah meringkuk di sampingnya dengan posisi tangan dan kaki yang terikat.
"ka...kakak..." Ujar Linda sambil terisak pelan, "Kita dimana, kak?"
"Kakak tidak tahu, Linda. Begitu sadar, kakak sudah berada di sini." Ujar Kakak Linda tersenyum kecut.
"Bagaimana ini, kak? Aku takut." Ujar Linda kecil sambil mencoba mendekat ke arah kakaknya tetapi nihil. Linda tidaklah bisa mendekat ke arah kakaknya itu.
"Tenanglah Linda, semuanya akan baik-baik saja." Ujar Sang Kakak mencoba menenangkan adik tersayangnya walaupun ia sendiri tidak tahu akan kebenaran dari kata-katanya.
.
.
Semuanya berjalan sangat lambat, Setahun berada di tempat gelap ini terasa bagaikan satu abad lamanya.
Linda dan kakaknya diperlakukan sangat tidak berkeprimanusiaan. Mereka hanya diberikan makan satu kali sehari dan itu pun nasi basi.
Linda pernah memuntahkan makanan yang diberikan oleh lelaki yang ia ketahui bernama Rodd dan berakhir ia yang mendapatkan lebam biru di sekitar matanya, Linda hampir saja mati saat itu jika saja kakaknya tidak mencoba membantunya. Naas bagi kakak Linda, ia mengalami patah lengan karena di hantam oleh kayu balok berukuran satu meter dengan ketebalan sepuluh sentimeter.
Kakak Linda tidaklah pernah mengeluh. Linda tidak pernah melihat kakaknya ini menangis bahkan ketika tangannya dipatahkan secara tidak manusiawi oleh Rodd. Kakaknya hanya berkata, "Semua akan baik-baik saja Linda, tenang saja, aku tidak apa-apa," dan selalu begitu.
"Selalu ada pelangi setelah badai", itulah kata-kata yang selalu Linda ingat dari sekian banyaknya dongeng yang dibacakan oleh ibunya.
Tetapi ia sekarang menyangsikan perkataan itu, ia hanyalah gadis kecil yang diculik dengan alasan yang bahkan tidak ia ketahui. Disiksa dan tersiksa melihat kakaknya disiksa oleh Rodd atau Kal.
Ia sudah tidak mengharapkan adanya pelangi di dalam hidupnya, sudah tidak lagi.
.
.
18 Bulan kemudian...
Pagi itu, Linda terbagun akibat siraman air di wajahnya. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Kal, "Bangun anak sampah!" Hardiknya.
Dengan kepala yang pusing, Linda mencoba bangkit dari tidurnya dan duduk menyender pada dinding ruangan kusam itu, "Bersiap-siaplah, Tuan Teru akan menemuimu!" Kata lelaki tua itu cepat.
Linda menatap kakaknya bingung, Linda dan Kakaknya tidaklah mengenal siapa Teru yang disebutkan oleh Kal, karena setahu mereka hanya ada Rodd dan Kal yang 'merawat' mereka.
Beberapa menit setelahnya, seorang dengan perawakan pendek, rambut pirang dan badan yang tidak bisa di bilang gempal ataupun kurus memasuki ruangan mereka. Perempuan itu menarik lengan Linda kasar yang menyebabkan Linda mengaduh kesakitan.
Terdengar protesan tidak suka dari kakaknya dan dihadiahi tamparan oleh perempuan itu.
"Tenanglah, Tampan. Aku hanya akan memandikan adikmu ini, tidak lebih." Jawab perempuan itu dengan senyum mengerikan dari wajahnya.
"Wedy, cepatlah! Tuan Teru satu jam lagi akan datang!" Teriak suara yang sepertinya milik Rodd di seberang ruangan.
"Aku tahu, brengsek!" Ujar perempuan yang dipanggil Wedy itu kasar.
"Well.. well, aku tidak mau di amuki oleh si bajingan Rodd. Ayo cepat, nanti kita terlambat." Ujar Wedy cepat dan menarik lengan Linda.
Linda hanya mengikuti langkah Wedy yang cepat dengan kaki mungilnya menuju ke sebuah ruangan kecil yang sepertinya adalah kamar.
Linda melirik takut-takut ke sekeliling rumah penyekapannya. Cahaya yang menyilaukan memaksanya untuk berkedip cepat dan membuat matanya berair.
Linda dimandikan dan di pakaikan baju yang bagus dan layak. Lupakan tentang lebam-lebam yang ia dapatkan selama penyekapan, ia terlihat sangat cantik dan manis.
Wedy mengambil peralatam make-up miliknya dan mulai menutupi lebam-lebam itu, "Aku tidak mau kena masalah ketika Tuan Teru melihatmu dalam keadaan mengenaskan." Ujar Wedy berbasa-basi.
Linda memberanikan dirinya untuk bertanya, "Siapa Tuan Teru itu, Miss. Wedy?" Bersikap sopan, seperti yang diajarkan oleh ibunya.
Wedy terlihat terkejut mendengar suara pelan dari Linda, dan kemudian senyum tulus terpatri dari wajah bulatnya, "Tuan Teru adalah seorang lelaki yang baik, aku yakin kau akan menyukainya nanti." Ujar Wedy sambil mengusap pelan kepala Linda.
"Maafkan aku karena aku bersikap kasar kepada kalian. Rodd bisa saja menembak kepalaku jika ketahuan memperlakukan kalian dengan lembut," Lanjut perempuan bulat itu sambil memperhatikan penampilan Linda, "Lihatlah, Nak. Kau tampak sangat cantik." Lanjutnya berdecak kagum.
Linda mengamati pentulan dirinya dicermin. Ia akui, ia sangatlah cantik, seperti sebelum kejadian buruk ini menimpa dirinya dan kakaknya. Tapi matanya masih menyiratkan kesedihan.
"Kau harus berkelakuan baik di depannya ya, Nak." Ujar Wedy sambil membuka pintu dan menuntun Linda keluar dari kamar itu ketika mendengar Kal mengetuk pintu kamar dan mengatakan bahwa Tuan Teru telah tiba.
Linda tersenyum kaku ketika seorang lelaki yang kira-kra umurnya setengah abad mendekatinya perlahan, "Apakah kau Linda?" Tanyanya ramah dan di jawab anggukan oleh Linda.
Lalu lelaki itu menuntunnya ke arah sebuah sofa merah maroon ditengah ruangan. Dan terlihat disana seorang gadis yang sepertinya setahun atau dua tahun lebih mud dibandingkan Linda. Gadis kecil itu memiliki rambut blondie dan mata sekelam malam, menatap bosan ke arah lelaki yang dipanggilnya ayah, memintanya untuk segera pulang.
"Hai manis, kenalkan ini anakku, Mello," Ujar lelaku yang sepertinya dan memang adalah Tuan Teru sambil membimbingku untuk menjabat tangan anaknya –Mello.
"Hai Linda," Sapa anak itu ceria sambil membalas jabat tanganku. Aku hanya mengagguk canggung dan balas mengatakan "Hai," padanya.
.
.
Semuanya berjalan sangat cepat, Linda lebih sering diperbolehkan untuk keluar dari kamar penyekapan, daripada kakaknya, Linda diizinkan untuk bersekolah dan Linda juga diberikan makanan layak oleh Rodd yang tentu saja selalu dibagi dengan kakaknya walaupun selalu ditolak dengan halus.
Satu hal yang selama ini tidak dimengerti oleh Linda, ia diajari merakit senjata, menembak dan membuat bom oleh Kal dan Rodd. Mereka selalu mengajarkan itu pada kamis sore, dan ketika Linda bertanya kepada mereka, mereka hanya menjawab dengan jawaban tak jelas dan menyuruhku diam atau lima buah peluru bersarang di kepalanya.
Linda sangat menyayangi kakaknya, ia bahkan menangkap kupu-kupu yang ia temui di taman sewaktu ia bermain dan memberikannya kepada kakaknya. Saat memberikannya, Linda berkata dengan semangat bahwa ibu dan ayah telah menjelma menjadi kupu-kupu agar selalu berada di dekat Linda dan Kakaknya. Dan selalu saja, kakaknya tersenyum sangat tulus walaupun Linda tahu didalam senyum itu terdapat luka yang sangat.
Sebenarnya kakaknya juga diizinkan untuk keluar, tetapi karena kaki kakaknya yang telah patah memaksanya hanya terduduk di kursi tepat di dinding sebelah luar ruang penyekapannya dan memandangi Linda yang tampak bahagia apa lagi ketika sahabat barunya, Mello, datang berkunjung.
.
.
Selalu ada badai yang menunggu dibalik cuaca yang cerah, bukan?
Linda merasa sangat bahagia karena sudah di'bebaskan' selama dua tahun belakangan ini, hubungannya dan Mellopun berjalan sangat baik.
Mello sering berkunjung ke 'rumah' Linda dan banyak sekali bercerita tentang apa sana. Dan Mellopun juga selalu menunggu Linda untuk menceritakan dongeng yang dulu sering sekali dibacakan oleh ibunya.
Mereka bagaikan saudara kandung karena tidak bisa dipisahkan, bahkan oleh Teru sekalipun, dan Teru hanya tertawa ketika mendapat sungutan dari anak semata wayangnya ketika ia mengajak Mello yang sedang bermain dengan Linda untuk pulang.
Kemudian, ancaman manis nan mematikan terlontar dari mulut menghitam milik Rodd ketika kakaknya jatuh sakit dan harus dilarikan kerumah sakit segera. Linda yang tengah panik dengan keadaan Sang Kakak hanya bisa menyanggupi tanpa tahu apa 'tugas' yang harus ia kerjakan.
Ketika Linda baru pulang dari sekolah, ia di panggil oleh Kal untuk menjelaskan 'tugas' apa yang harus dikerjakannya agar kakaknya mendapatkan perawatan maksimal.
"Kau harus membunuh semua orang bernama 'Kheel'," Ujar Kal sadis sambil menyodorkan sebuah kopor besar yang Linda tidak tahu isinya apa.
Linda tahu siapa 'Kheel', karena itu adalah nama keluarga 'adik' tersayangnya, Mello.
Linda terjebak di dalam dilema yang luar biasa. Ia tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi ia sangat menyayangi kakaknya, di sisi lainnya ia juga menyayangi Mello.
Ia tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Rodd dan Kal memberikan waktu satu hari penuh untuk Linda berpikir, karena keadaan kakaknya yang sudah sangat kritis.
Linda yang memang telah dibekali pelajaran tentang 'pembunuh' walaupun tanpa ia sadari tentu tidaklah terlalu sulit untuk membunuh satu keluarga apa lagi jika ditambah Rodd, Kal dan teman-teman mereka yang lain.
Pendirian Linda tetaplah teguh pada jawaban "Tidak," sampai sebuah telepon dari Rumah Sakit tempat kakaknya dirawat mengatakan bahwa kakakknya harus segera di operasi akibat keracunan makanan dan juga pembusukan pada luka di kakinya yang patah.
Linda menangis keras. Sangat keras. Seperti kala ia mendapatkan ayah dan ibunya terbaring bersimbahkan darah tepat di bawah kaki kakaknya pada saat ia diculik.
Ia akan kehilangan kakaknya, 'Tidak... Tidak... Aku tidak mau kakakku mati,' patriku di dalam hati. Bisikan setan merayap di telingaku dan aku menyanggupi 'tugas; yang diberikan oleh Rodd dan Kal. Ya, membunuh keluarga 'Kheel', termasuk Mello dan Tuan Teru.
.
.
Dengan langkah tergesa-gesa, aku berjalan ke dalam rumah megah milik keluarga Kheel yang selama ini memperlakukanku dengan sangat baik. Sangat.
Kemudian semuanya terjadi dengan sangat cepat, hingga aku berada di sebuah ruangan -yang Linda tidaklah tahu ruangan apa yang berisi Mello yang tengah dipeluk oleh ibunya dan Tuan Teru yang berjaga di depannya,
"Linda, apa uang kau lakukan, Nak? Ayo kemari keadaannya sedang tidak baik disini," Ujar Teru sangat baik dan tidak menaru kecurigaan apapun terhadap Linda, sampai...
"Hiks...Hiks...Maafkan Linda, Tuan Teru...Maaf.." Hanya kata-kata itulah yang selalu Linda ucapkan ketika dengan ringannya tangan Linda mengayun dan menebas kepala orang yang telah memberikan pelangi kepadanya.
Kemudian Linda mendengar ibu Mello berteriak histeris memanggil suaminya yang kini telah meregang nyawanya dengan kepala terlepas dari singgasananya. Kemudian wanita itu memeluk suaminya dan terdengarlah jeritan tertahan karena sebuah belati menancap tepat ke arah jantungnya.
Berakhirlah kehidupan keluarga Kheel, jika Mello tidak di hitung.
Linda hanya menangis melihat hasil perbuatannya, melihat darah yang mengotori tangan Linda. Linda hanya mengucapkan maaf kepada dua raga yang telah ditinggalkan oleh jiwanya. Ia tahu kata 'maaf' tidak akan bisa memanggil jiwa itu kembali ke peraduannya semula. Ia tahu.. sangat tahu...
Linda menoleh ke arah Mello yang kini menatap kosong ke arah ayah dan ibunya yang telah bergelimang darah dan kepala ayahnya yang menggelinding tepat di depan kakinya.
"Linda-nee... Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Mello kosong.
"Maafkan aku, Mello... Maaf..." Hanya itulah yang sanggup Linda katakan, hanya itu. Ia tak sanggup untuk bercerita tentang kakaknya dan hidupnya, karena selama ini ia selalu menyembunyikannya, tidak mau membuat Mello khawatir terhadap dirinya.
"Pembunuh!" Ujar Mello pelan dan mematikan hati Linda saat itu juga.
"Linda, apakah kau sudah membunuh semuanya." Teriak Rodd dari seberang pintu yang sengaja Linda kunci.
Dengan terbata-bata, linda menjawab, "Sud...Sudah, Rodd. Tugasku selesai," Kemudian Linda mendekati pintu, berbisik pelan pada Mello, "Larilah, Mello. Aku telah menyiapkan tangga di balik jendela itu, kau bisa kabur dan aku pastikan kau selamat hingga mencapai jalan raya. Maafkan aku, Mello. Aku menyayangimu." Ucap Linda pelan, sangat pelan dan membuka pintu kemudian menutupnya kembali...
Dan ketika Linda sampai di'rumah'nya, hanyalah jasad yang ia kenali sebagai kakaknya tengah terbujur kaku di atas sebuah ranjang yang diletakkan di ruang tengah 'rumah' itu.
.
.
Ya, kakakku telah meregang nyawa tepat disaat aku membunuh ibu Mello. Kakakku meninggal akibat keracunan parah disertai dengan infeksi yang telah menyebar di seluruh tubuhnya akibat luka patah kaki yang di deritanya saat menolongku yang kala itu disiksa oleh Kal dengan sebuah pipa besi yang besar.
_END OF FLASHBACK_
"Maafkan aku, Mello. Aku sunggu minta maaf. Walaupun aku tahu kata 'maaf' tidak akan mempu menghapuskan lukamu selama ini, walaupun aku tahu kata maaf tidak akan bisa menghidupkan keluargamu kembali, tetapi aku merasa aku harus mengatakan 'maaf' bahkan hingga jiwa kotorku ini ditarik paksa oleh malaikat kematian, aku tetap akan mengatakan maaf untukmu, Mello. Kau tetaplah Adik kecilku yang sangat aku sayangi melebihi apapun didunia ini. Percayalah," Kataku gemetar dan kemudian dengan tenagaku yang tersisa, aku melangkahkan kaki menjauh dari danau itu, menjauh dari 'adik'ku.
To Be Continued
At Linda's School
Baru inilah aku mulai menginjakkan kakiku di sekolah lagi, walaupun bukan seperti sekolah lamaku yang megah dan sangat bagus untuk ukuran pendidikannya dan walaupun aku harus mengulang dua tahun dan menyamarkan umur serta nama keluargaku, tetapi aku senang aku sudah bisa bersekolah dimanapun itu. Ya, sangat senang.
Disinilah akumenemukan sahabat-sahabatku, Matt atau Mail Jeevas dan Michael Nicholas. Aku menemukan sahabat yang tak pernah kudapatkan bahkan sebelum aku kehilangan keluargaku. Sahabatku hanyalah kakakku dan sekarang aku harus menggeser posisi kakakku dengan kedua sahabatku. Tetapi kakakku akan selalu menduduki tempat sahabat terspesial dihatiku. Selalu.
Semua kejadian manis itu hanya berlangsung tiga tahun, karena Kal dan Rodd memaksaku untuk ikut mereka ke Jerman, bekerja sebagai pembunuh bayaran.
Padahal aku telah berjanji akan memasuki sekolah menengah pertama bersama-sama dengan sahabat-sahabatku. Tetapi janji itu harus pupus bersamaan dengan harapanku.
Ya, badai selalu menyertai langkaku.
_End of Linda's School_
A/n: Gaje? Benar sekali
Saya mengakui hal itu karena saya sendiripun gaje ga ketulungan
Apakah cerita ini bagus?
Hurtnya dapat ga?
Atau jangan-jangan ceritanya ngasal banget?
Maafkan saya, kalau begitu
Saya menerima kritikan dan saran apapun untuk memperbaiki cerita laba-laba saya
Yaahh... manusia tak luput dari kesalahan :D
Terimakasih untuk temanku tersayang YoruChan Kuchiki-Chan, Mella-san, Glowin'R-Chan, Fiz-san, Soran Lahmeer-san dan fuyu cassiopeia-sandan Isabel-san. (:
Sincerely, January 2014
.
.
*Sign*
