Anime Boy
Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Romance/Friendships/Schoolife
YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC
DON'T LIKE DON'T READ
Minatozaki Sana, Tzuyu-TWICE member
Chapter 7: Senpai no Kokoro
.
.
.
.
"Kook.."
"Jungkook!"
Lelaki itu bergeming, menatap kosong gelas kaca berisi cairan kuning cerah di tangannya.
"JEON JUNGKOOK!" Kali ini berhasil. Jungkook tersentak, ia hanya mendongak dan menatap malas lelaki berambut merah yang duduk di hadapannya.
"Astaga, apakah aku berbicara dengan patung!?" Jimin menyedot sengit susu kotak rasa pisangnya, kesal diabaikan.
"Baiklah sahabat bantetku tersayang, ada apa?" Jungkook membanting bukunya menutup. Saat ini mereka tengah berada di kantin, ia tak mau mood nya rusak lebih jauh lagi hanya karena acara makan siangnya terganggu oleh rengekan ngenes Jimin yang masih galau ditinggal Yoongi latihan.
"Taehyung senpai-mu mana?"
Mata Jungkook melebar, ia menatap Jimin dengan death glarenya namun lelaki berambut merah itu justru menatapnya balik dengan wajah innocent dan watados.
"Dua hari ini kalian jarang bersama. Ingat hari-hari sebelumnya kalian selalu menempel seperti surat dan perangko?"
"Lalu apa urusanku? Aku bukan pengasuh makhluk absurd antah berantah itu." Jungkook menopang dagunya pura-pura tak acuh. Haha, keluar lagi angkuhnya.
Jimin menggeleng dan mendengus tertawa,"Eyy~ jangan bilang begitu, kau menikmati kebersamaan dengan senpai absurd itu kan?"
BLUSH
"PARK JIMIN SHIT BERANINYA KAU—"
"AMPUN!" Jimin buru-buru membentuk peace sign dengan kedua jarinya ketika Jungkook berancang-ancang menuangkan jus jeruk ke atas kepalanya. Untung saja pandangan aneh dari semua siswa yang berada di kantin berhasil mencegah Jungkook melakukannya. Tidak, kalau mereka tidak ingin menjadi pusat perhatian lebih jauh lagi.
Kelihatannya setelah bosan ditinggal Yoongi lelaki berambut merah itu mulai berani bertingkah absurd dan mengacau lagi.
"Kau bertengkar dengannya? Kalian aneh sekali belakangan ini." Jungkook duduk dan menghela nafas kasar.
Bukan, Taehyung bersikap sama seperti biasanya. Jungkooklah yang aneh.
Hubungan mereka masih baik-baik saja seperti hari-hari sebelumnya. Taehyung tak pernah absen berangkat atau pulang bersama Jungkook tiap hari, kecuali jika ada kegiatan klubnya. Taehyung juga sama sekali tak menyinggung soal insiden di perpustakaan dan lapangan basket kemarin. Begitu pula Jungkook, mulutnya bungkam meski ada sejuta pertanyaan yang menghantuinya setiap malam.
"Apapun itu," Jimin yang merasa terabaikan menyeletuk kesal. "Selesaikan masalah kalian. Sudah tempat tinggal bersebalahan, bertemu 24 jam dan tebar skinship setiap hari di sekolah masih saja hubungan kalian tidak jelas begini."
"S-Siapa yang tebar skinship!? Lagipula tak ada yang perlu dijelaskan, aku dan otaku pervert itu tak lebih dari sunbae dan hoobae!" Haha, Jungkook bahkan tak yakin dengan apa yang dikatakannya. Suaranya jelas terdengar gemetar tadi, dan itu tak luput dari telinga resek Park Jimin yang telah menjadi sahabatnya selama sepuluh tahun.
"Jangan mengelak Jungkook, aku tahu ada yang tidak beres." Jungkook rasanya ingin tertawa ketika raut wajah Jimin yang biasanya najisin dan ngenes berubah serius ala detektif-detektif. Sayangnya sikon tak mendukung. Oke, tak ada salahnya sekali-kali Jungkook membiarkan dia tampil keren.
"Semuanya baik-baik saja Park Jimin." Jungkook berkata tegas, malas membahas lebih lanjut. Apalagi dengan mulut bocor Jimin yang gemar menggosip itu.
"Kau yakin? Ah, kebetulan. Taehyung sunbae!"
Sumpit yang terjepit di tangan Jungkook terlepas. Matanya membelalak saat menangkap figur kurus Taehyung berjalan santai ke arah meja yang ditempati mereka.
"Hai bantet, lama tak melihatmu!" Taehyung nyengir lebar dan menepuk keras bahu Jimin hingga lelaki itu meringis. What the hell, tenaganya tidak main-main.
"Ah sunbae masih ikut kegiatan klub?" Jimin sok akrab dan Jungkook memutar kedua bola matanya, menopang dagu untuk menunduk menghindari onyx Taehyung yang sepertinya terus meliriknya sembunyi-sembunyi.
"Iya, kami sibuk untuk persiapan. Bicara tentang klub, kau ikut pertandingan latih tanding nanti siang kan?"
DEG
Jungkook berdeham canggung, berusaha menetralkan raut wajahnya. Entah kenapa ia langsung merasa bersalah lagi.
"Tentu saja! Demi Yoongi hyung, aku rela bertanding sampai muntah darah sekalipun." Jimin menepuk dadanya bangga dengan wajah masokis dan penuh obsesi yang terlihat menggelikan, membuat Taehyung dan Jungkook langsung mulas mendadak.
"Senpai maaf, aku—" Suara Jungkook tercekat, pandangannya bertemu selama beberapa detik dengan Taehyung. Sial, rasanya canggung sekali.
"Santai saja, masih ada banyak pertandingan." Mata Jungkook melebar merasakan tangan kurus Taehyung mendarat di kepalanya dan mengusapnya pelan. Wajahnya merah sampai ke telinga dan ia menahan nafas, bahkan tak sempat protes atau mengomel saat Taehyung menyambar gelasnya dan menenggak jusnya hingga tinggal setengah tepat di bagian yang sama bibirnya menempel tadi
"Sampai jumpa di lapangan!" Rectangle mouth Taehyung membentuk senyum lebar, dan lelaki itu melesat secepat kilat keluar dari kantin.
"Hee, boleh juga." Jimin bersiul seperginya Taehyung. "Dia hanya datang menemuimu dan.." melirik iri kearah gelas berisi jus jeruk di hadapan Jungkook.
Jungkook hampir tak mendengar apa yang dikatakan Jimin. Matanya menatap kosong jus jeruk yang tinggal setengah pada gelas di genggamannya. Hanya sentuhan sederhana dari Taehyung dan wajahnya sudah hampir matang seperti ini.
Beruntunglah para fujoshi sedang tidak ada di sini.
...
"Jungkook, bagaimana dengan sweater ini?"
Jungkook tersentak. Entah sudah berapa lama dia melamun. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah Tzuyu melambaikan selembar sweater rajut berwarna pink cerah di depan wajahnya.
"Bagaimana kalau ini dipakai Suzy eonnie?" Tzuyu tersenyum, menempelkan sweater itu di tubuhnya dan menghadap kaca seolah dia benar-benar memakainya.
"Err.. bagus sekali, kelihatan manis." Jungkook tertawa kaku, tenggorokannya terasa kering. Mereka sudah berputar-putar selama hampir satu jam di toko pakaian. Ia benci berpura-pura, tapi mau apalagi. Dipikir-pikir Jungkook malah sama sekali belum pernah melihat Suzy.
"Bagaimana dengan yang berwarna oranye ini? Keduanya bagus, aku jadi bingung."
Oranye, di benak Jungkook otomatis terbayang surai berwarna oranye yang berkibar. Ah, Taehyung sedang apa? Bagaimana pertandingannya?
"Jungkook!" Tzuyu berseru kesal.
"Ma-Maaf." Jungkook menggaruk tengkuknya canggung. Sial, dia jadi penasaran dengan pertandingannya.
"Maaf kau lelah ya? Ayo kita istirahat dulu." Tzuyu tertawa, mengembalikan lagi sweater pada rak dan menarik Jungkook ke cafe terdekat. "Tunggu sebentar." Ia memberi isyarat agar Jungkook mencari tempat duduk sebelum berlari kecil ke kasir untuk memesan sesuatu.
Jungkook mengela nafas, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mengeluarkan ponsel.
3 received messages
From: Jiminshit
Selamat bersenang-senang sialan, pertandingannya di mulai. Tahu nama sekolah mereka? Nekomana High School, terdengar menggelikan.
Jungkook menaikkan alisnya membaca pesan masuk pertama. Tanpa berniat membalasnya, ia berlanjut ke pesan kedua.
From: Jiminshit
Taehyung bermain! Astaga dia memang hebat, kau tahu bagaimana seksinya senpaimu itu ketika bermain basket dengan tubuh penuh keringat!? xDxD
Wajah Jungkook memerah otomatis. Dia bisa membayangkan kaus basket tipis yang dikenakan Taehyung basah dan menerawang, keringat yang membasahi setiap helai surai oranyenya meleleh ke rahang tegas hingga ke leher jenjangnya, dan ketika dia melakukan jump shoot kausnya akan tersingkap memperlihatkan lekukan abs pada perut berkulit eksotis yang..
PLAK!
GOD DAMN IT PARK JIMIN SIALAN!
Jungkook terengah, bekas tamparan merah di pipinya hampir tak terlihat karena seluruh wajahnya kini merah Tuhan, mimpi apa semalam sampai Jungkook berani berfantasi seliar itu tentang Taehyung!?
Oke, Jungkook memang bukan anak kecil lagi dan pastinya otaknya sudah jauh lebih kotor dari fantasinya barusan karena begitu seringnya menonton chara-chara manis beroppai besar di layar komputernya.
Tidak, untuk kasus Taehyung sebenarnya Jungkook pernah melihat langsung tubuhnya walaupun samar. Dan otak Jungkook otomatis memutar kejadian beberapa minggu lalu, dimana hujan lebat terjadi mati lampu dan Taehyung berlari menerobos hujan, melucuti semua pakaian basah kuyup nya kecuali bokser hitamnya kemudian merangkak ke atas ranjang dan memeluk Jungkook yang setengah telanjang pula.
Tunggu, kenapa jadi terdengar erotis? Bukankah Jungkook ketakutan setengah mati dan hampir menangis waktu itu karena phobianya?
TAPI WHAT THE HELL BUKAN SAATNYA JUNGKOOK BERFANTASI TENTANG KIM BRENGSEK TAEHYUNG DI WAKTU YANG TIDAK TEPAT SEPERTI INI
"Jungkook, maaf menunggu lama!"
Ah, dan di saat Jungkook bersama seorang perempuan lebih tepatnya.
"Eh kau tidak demam kan? Wajahmu merah sekali." Tzuyu duduk di kursi seberang dan mengulurkan segelas kopi berisi caramel macchiato dingin pada Jungkook.
"Terimakasih, aku baik-baik saja." Jungkook berdeham, berusaha mengubah rautnya menjadi kembali datar dan tenang.
"Oh baiklah, santai saja." Tzuyu tersenyum, dan Jungkook membuka ponselnya lagi di bawah meja untuk membaca pesan ketiga yang hampir dilupakannya.
From: Jiminshit
Gawat, mereka tak sepayah yang kukira. Para senior tak berkutik.
Kedua bola mata gelap Jungkook berkedip beberapa kali. Setitik keringat dingin meluncur di atas pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Jungkook, ada sesuatu?" Tzuyu meletakkan ponsel berwarna merah jambu yang sedari tadi dimainkannya. Matanya melebar penasaran sekaligus khawatir. Tuhan, seandainya Jungkook tidak menyimpang pasti ia sudah diabetes karena kawaii overload.
"Tidak, etto.. apakah kau masih belum menentukan hadiah pertunangannya?" Jungkook meraih gelas kopinya dan melahapnya dalam tegukan besar.
"Maaf, kau terburu-buru ya? Ada urusan setelah ini?"
"Bukan, eh..lupakan saja." Jungkook menelan ludah gugup, matanya terpaku pada jam digital di layar ponselnya.
"Pergi saja."
"Ma-Maaf?"
Tzuyu tertawa kecil, seulas senyum tipis melengkung di bibirnya. "Pertandingan basket. Taehyung menunggumu kan?"
...
Jungkook berlari tergesa, nafasnya tersengal ketika ia masuk melewati gerbang sekolah. Area di sekitar halaman sekolah masih ramai, terdengar sorak-sorai yang didominasi oleh suara-suara melengking para siswi.
Jungkook mempercepat langkahnya. Perjalanan dari pusat perbelanjaan ke sekolah makan waktu 45 menit dan empat pesan yang dikirimnya untuk Jimin belum mendapat balasan, jadi ia sama sekali tidak tahu bagaimana perkembangan pertandingan. Biarpun ini pertandingan latih tanding, Jungkook tak ingin melewatkan sedetikpun.
Apakah Taehyung bisa mengatasinya?
Pertanyaan pertama terlintas di kepala Jungkook dan mendadak ia merasa bersalah. Dipikir-pikir ia bahkan belum sempat menyemangati Taehyung sebelum pertandingan. Apalagi Jungkook merasa sedikit kaku bersama Taehyung sejak insiden di perpustakaan. Apa yang harus dikatakannya kalau bertemu Taehyung nanti?
Berjuanglah senpai
Tidak, terlalu mainstream Jungkook jadi mulas sendiri.
Jangan sampai kalah
Memalukan, terlalu menuntut. Jungkook bukan seorang diktator. Salah-salah malah Taehyung melakukan sesuatu padanya.
Sorak sorai semakin terdengar riuh dan jelas, Jungkook tiba di tribun penonton yang dipenuhi oleh lautan seragam abu-abu para siswa Bighit. Kepalanya bergerak kesana kemari hingga kakinya membawanya pada sesosok familiar yang duduk di barisan depan tribun.
"Seokjin sunbae!"
"Oh Jungkook, kau datang terlambat. Kukira kau mendukung Taehyung." Lelaki bersurai merah marun itu tersenyum tipis, namun raut ketegangan tak luntur dari wajah rupawannya. "Pertandingan telah sampai di akhir quarter ketiga dan.. yah, ada sedikit masalah."
Uwaah sudah babak ketiga, selama itu ya Jungkook pergi!?
Obsidian gelap Jungkook menyapu lapangan basket yang terbentang tepat di depannya. Ia bisa melihat Jimin yang duduk di bangku cadangan Bighit melambaikan tangan kearahnya dari pinggir lapangan sambil tersenyum idiot. Sepuluh orang yang ada di lapangan masih sibuk bermain. Dari Bighit yang berseragam biru tua Jungkook bisa melihat kelima pemain inti tim basket Bighit yang disebut-sebut jenius: Min Yoongi kelas tiga si point guard, Kim Namjoon kelas tiga power forward, Choi Minho kelas dua center, Kwon Hoshi kelas satu shooting guard dan.. Kim Taehyung, small forward.
Entah perasaan Jungkook saja atau Taehyung memang terlihat sedang diliputi api kemarahan. Bukankah ini hanya pertandingan latih tanding?
Dan mata Jungkook melebar nyalang melihat angka yang tertera di papan skor.
Bighit 65 – Nekomana 76
Sebelas angka. Jarak yang terlalu jauh untuk Bighit yang mempunyai kemampuan dan pengalaman lebih unggul dari tim baru seperti Nekomana.
"Etto, Seokjin sunbae—"
Jungkook tidak sempat meneruskan kata-katanya. Tenggorokannya mendadak tercekat ketika Taehyung berlari membelah lapangan dengan fokus luar biasa mendribble bola ditangan kanannya, mundur sampai ke garis three point yang kebetulan tidak dijaga.
"Dia melakukannya!" Mata Jungkook berkilat antusias.
"Oh tidak—terlalu gegabah.." Seokjin mengerang.
Jungkook menahan nafasnya saat Taehyung melompat, membidikan bola berwarna semencolok rambutnya begitu mulus ke arah ring. Namun mendadak semua terlihat slowmotion di mata Jungkook ketika pemain Nekomana bertelinga lebar nomor 7 berlari cepat dengan refleksnya yang luar biasa dan pertahanan baja berhasil memblok serangan itu sebelum masuk ke dalam ring.
Erangan kekecewaan para siswa Bighit menggaung di udara. Jungkook hanya mengerutkan dahinya. Pandangannya terkunci pada Namjoon yang menepuk bahu menegang Taehyung yang tampak membara.
Bola kembali berada di pihak Nekomana. Pemain bertelinga lebar yang tadi memblok three point Taehyung kini melakukan crossover rumit yang terlihat menjengkelkan di mata Jungkook, namun dihadang oleh Hoshi dan Minho. Double team, ini jelas menyusahkan. Namun dengan penuh kesengajaan si telinga lebar itu sedikit memundurkan tubuhnya, hingga mau tak mau Hoshi yang terlihat lebih agresif dalam penjagaan otomatis mengikuti pergerakannya dan menubruk tubuhya.
Peluit dibunyikan dan Jungkook melihat wasit mengacungkan tangannya ke atas. Sekali lagi erangan para siswa bighit terdengar.
"Foul untuk Bighit!? Astaga apa wasit itu buta?" Baru pertama kali Jungkook bisa begini emosi saat menonton pertandingan olaharaga yang tidak resmi.
"Percuma Kook, Nekomana tim yang hebat tapi juga cerdik. Mereka melakukan kecurangan dengan begitu rapi hingga luput dari mata wasit." Seokjin bergumam masam, kedua alisnya saling taut emosi.
Jungkook hanya bisa menggeram tertahan ketika si pemain bertelinga lebar melakukan hadiah pelanggaran free thrownya. Dan tentu saja masuk dengan mulus, hingga kini skor Nekomana telah menjadi 78. Kesenjangan angka makin membesar.
Tepat setelah Namjoon berhasil merebut rebound, peluit yang menandakan berakhirnya babak ketiga berbunyi. Jeda pergantian babak, semua pemain memecah keluar lapangan untuk mengisi energi. Taehyung menendang bangku cadangan dengan begitu emosi dan begitu kerasnya, mengundang bisik-bisik meradang di seluruh barisan tribun penonton.
"Kurasa aku harus pergi." Jungkook menelan ludah, mengabaikan raut parno yang mulai tampak di wajah Seokjin, ia turun dari tribun penonton dan berlari kecil menuju sudut pemain Bighit.
"Taehyung tenanglah, kalau begini kau bisa terkena technical foul." Yoongi menghela nafas lelah, menyeka keringat yang membanjiri lehernya. Sebagai kapten dan point guard yang menjadi otak untuk serangan, sudah seharusnya dia tenang dan dapat mengontrol anggotanya sendiri.
"Kau sudah mendapat tiga kali foul. Ayolah, ini hanya latih tanding biasa." Namjoon sama pusingnya. Pada foul keempat, pemain akan didepak keluar lapangan dan dilarang bermain kembali.
"Latih tanding biasa!? Mereka tim brengsek super busuk yang sudah dua kali mengalahkan kita di kejuaraan interhigh kemarin!" Taehyung menggelap, suara seraknya yang menggelegar membuat para pemain cadangan melangkah mundur tanpa diminta.
"Taehyung, tenang sedikit." Sana melirik khawatir ke arah guru pembimbing, namun yang bersangkutan hanya menggeleng pasrah. Sepertinya dia terbiasa dengan keadaan Taehyung yang sering kambuh di tengah pertandingan.
"Tapi kumohon, kenapa kau obsesi sekali sih mengalahkan Park Chanyeol?"
"AKU HARUS MENGALAHKANNYA!" Semua anggota tim termasuk Yoongi dan Namjoon tersentak horror di tempat. " Dia..memblok hampir semua three point ku hari ini." Taehyung mengacak rambut oranyenya. Luapan emosi telah berganti menjadi panik dan frustasi. "Setelah semua ini.. aku tak yakin bisa bermain lebih baik la.."
BYUR
"Brengsek, dingin sialan!" Taehyung spontan mengumpat merasakan air sedingin es mengguyur rambut oranyenya. "MAU KUBUNUH KAU ORANG YANG TAK BISA BACA SITUASI!?"
Oh, gawat. Siapa orang bodoh yang berani cari mati di saat Taehyung sedang meledak-ledak begini? Kalimat itu serentak terlintas di benak seluruh anggota tim yang melotot horror dengan tubuh kaku.
"Dinginkan kepala kosongmu dengan itu."
Mata tajam Taehyung melebar. "Ka-Kau.."
Jungkook mendecak dan mencampakkan botol air dingin kosong yang didapatnya dari Sana tadi ke tanah. Suasana di tim Bighit mendadak tegang.
Jungkook melangkah kaku, lututnya gemetaran melihat Taehyung memandangnya dengan kedua onyx panasnya yang begitu horror. Sesaat ia ragu dan ingin berbalik. Hey, Jungkook tahu dengan sangat baik mendekati Taehyung yang emosi itu sama saja memperpendek umurnya sendiri. Tapi dia sudah sampai sejauh ini.
"Kau menyedihkan." Nada congkak yang sudah sangat lama tak digunakan meluncur kembali dari bibir tipis dengan gigi kelinci yang mencuat keluar itu.
Jungkook sekali lagi menelan ludah horror. Taehyung tak membuka suara sedikitpun tapi justru ini malah membuatnya menakutkan. Titik-titik air menetes lambat dari ujung surai oranye setengah basah.
Jungkook maju, melemparkan handuk sampai menyelubungi kepala Taehyung yang basah kuyup dan menggeram, Taehyung masih tak bereaksi. Entah marah atau tidak, sulit ditebak.
"Hey, kau bukan Midorima tentu saja tidak semua threepoint mu bisa masuk."
Jungkook mencengkeram kasar kerah kaus basket lalu mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari wajah frustasi Taehyung yang sialnya masih saja tampan walaupun sedang berkeringat.
Selagi emosinya ikut meluap-luap, sekelebat ide menantang muncul di kepala Jungkook. "Hey, dengar.." Ia tak yakin ini akan berhasil, tapi tak ada salahnya dicoba. "Bagaimana kalau kita membuat taruhan?"
Seperti yang telah diduga Jungkook, Taehyung langsung menegakkan kepalanya begitu mendengar kata terakhir.
Jungkook memajukan wajahnya lebih dekat lagi. Orang-orang yang ada di sekitar pasti mendadak heboh karena mengira mereka berciuman. Tapi Jungkook yang sudah kebal berkat para fujoshi resek di klub tak memperdulikannya.
"Kalau kau menang aku akan menuruti semua permintaanmu selama satu hari." Jungkook merasa wajahnya mendadak memanas dan perutnya bergejolak mulas. Ugh, dialog mainstream sekali terlebih saat ini ia berbisik tepat di depan bibir menggoda iman Taehyung. "Tapi kalau kau kalah, kau yang harus menuruti permintaanku."
Mainstream dan menggelikan tentu saja. Salahkan otak miskin ide Jungkook yang sudah teracuni oleh drama picisan rekomendasi Jimin dan doujinshi-doujinshi kawaii overload yang dibacanya online lewat komputernya belakangan ini.
Well, seperti yang dikatakan Baekhyun sebelumnya, sepertinya Taehyung memang suka tantangan. Jungkook tak bisa mencegah lututnya gemetar lebih keras lagi saat melihat kedua onyx gelap Taehyung berkilat kesenangan.
"Kau berani menantangku?" Jungkook sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Taehyung, namun dia bisa melihat bibir tipis di hadapannya itu menyeringai tipis memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi. "Baiklah, deal."
"Ka-Kalau sampai kalah kubunuh kau senpai brengsek!" Jungkook berseru dengan wajah merah padam. Astaga kenapa dia malu sekali.
"Serahkan padaku." Taehyung melempar balik handuknya pada Jungkook yang kewalahan menangkap dan menoleh singkat. "Terimakasih sudah datang." Seringai mengerikan itu lenyap, tergantikan senyuman lebar bocah yang biasanya.
Jungkook berkedip beberapa kali sampai Taehyung kembali ke lapangan dan disambut oleh rekan-rekan setimnya.
Taehyung si senpai otaku brengsek telah kembali.
"Astaga kau yakin menantang Taehyung taruhan seperti itu?" Jungkook tersentak, rupanya Seokjin mengikutinya dan sudah berdiri di sampingnya dari tadi.
"Aku tak bermaksud meremehkannya, kukira hal-hal seperti ini bisa membuat senpai brengsek itu sedikit bersemangat." Jungkook berdeham dan memalingkan wajahnya yang merona tipis.
"Haha, kau memang tak boleh meremehkannya Kook!" Seokjin menepuk keras bahu Jungkook hingga pemiliknya terbatuk. Astaga tampang lemah lembut seperti perempuan begitu tak disangka tenaganya luar biasa. "Ngomong-ngomong kau tahu apa julukan Taehyung waktu kelas satu?"
Jungkook menaikkan sebelah alisnya, menggeleng singkat.
"Dengar, sejak kelas satu semua orang menyebut Taehyung.." Seokjin berbisik dramatis seraya tersenyum simpul.
"...Sang Raja Lapangan."
Dan saat itu juga, three point Taehyung melambung masuk ke dalam keranjang basket Nekomana.
Peluit berbunyi.
...
...
Jungkook benar-benar tak menyangka kalau hasilnya akan menjadi seperti ini.
Bighit 98 – Nekomana 79
"Mereka menang! Astaga, Kook!"Jungkook bahkan tak mendorong atau meninju Jimin yang memeluknya begitu antusias dan heboh dengan air mata berlinangan di pipi tembamnya.
Tidak, ini memang mainstream dan tidak masuk akal.
TAPI YATUHAN INI BUKAN CERITA KOMIK ASTAGA
Taehyung berhasil mengambil alih permainan di awal babak dan membabat habis semua pemain Nekomana. Entah memang berbakat atau karena Taehyung alien yang punya kemampuan misterius, dia mencetak 20 angka sendirian. Dan layaknya senpai-senpai sok keren di manga-manga shoujo, di detik-detik menjelang waktu permainan selesai—meski sudah jelas Bighit pemenangnya karena mereka lebih unggul—Taehyung mengakhirinya dengan Jump Shoot spektakuler yang sungguh –sangat sengaja—didramatisir.
Oke, terserah.
Setidaknya Jungkook sekarang bisa bernafas lega karena Taehyung tidak terlihat semenyeramkan tadi.
"Jungkook terimakasih! Bujuk rayumu kelihatannya mempan pada si idiot itu!" Jungkook hampir kehabisan nafas ketika seorang wanita bertubuh pendek menerjang langsung memeluknya. Surai berwarna magenta berkibar di depan matanya.
"Sa-Sana sunbae?" Jungkook meronta canggung menyadari siapa perempuan yang tengah memeluknya ini.
"Oh, maaf mengagetkanmu. " Sana buru-buru melepas pelukannya dan menjaga jarak. "Si bodoh itu mencintai basket dan tidak pernah meremehkan semua pertandingan yang diikutinya, tapi dia selalu saja emosian di tengah pertandingan. Dasar, dia terlalu gampang terprovokasi. Biasanya butuh waktu 15 menit menenangkannya dengan dampratan Yoongi dan seongsaenim, tapi kali ini.." Sana tersenyum kecil, dengan ekor matanya menunjuk pada Taehyung yang kini dikerubuti rekan-rekan setimnya sambil tertawa-tawa. "Cukup berkat perkataan dan kedatanganmu dia bisa tenang begitu cepat. Kau pasti orang yang spesial bagi si idiot itu."
BLUSH
"T-TIDAK SEPERTI ITU!" Wajah Jungkook makin panas mendapati Sana tertawa kecil. Astaga, tentu saja dia malu.
"Aih lucunya, ternyata tipe Taehyung tsundere seperti ini ya~"
"Su-Sunbae!" Ya tuhan, jangan bilang kalau Sana juga seorang fujoshi.
"Hehe maaf, hanya bercanda. Yosh, aku masih ada banyak pekerjaan. Terimakasih untuk hari ini Jungkook, sampai jumpa lagi!" Perempuan berambut magenta itu melambaikan tangan dan tersenyum lebar, membuat Jungkook tertegun sesaat.
Wajahnya benar-benar imut seperti boneka dan perempuan itu punya aura kedewian misterius yang membuatnya terlihat mempesona. Andaikan hati polos Jungkook belum teracuni oleh ketampanan brengsek Kim Taehyung dia pasti sudah tergila-gila dengan Minatozaki Sana.
Dan seperti apa yang didengarnya dari Jimin, memang banyak anggota tim yang tertarik padanya. Jungkook bahkan bisa melihat dari kejauhan beberapa siswa cadangan kelas dua berusaha menarik perhatian Sana selagi perempuan itu membagi-bagikan botol air minum dari kotak pendingin.
Apakah Taehyung juga tertarik?
Mendadak kejadian yang disaksikannya dari jendela perpustakaan tempo hari kembali berkelebat di benaknya.
Jungkook menggelengkan kepalanya keras-keras. Sana perempuan baik, dia tidak boleh berprasangka buruk.
Jungkook berpikir demikian, sebelum membawa langkahnya meninggalkan lapangan basket yang masih dipenuhi sorak sorai para siswa Bighit dari tribun penonton.
...
Jungkook duduk di atas rerumputan dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar di belakangnya. Halaman belakang sekolah, letaknya tepat di sebelah gudang penyimpanan peralatan olaharaga dan cukup jauh dari lapangan basket. Setidaknya tempat sepi dan terasing begini bisa memulihkan telinga Jungkook yang berdengung akibat sorakan-sorakan para pendukung di tribun penonton tadi.
"Sekarang kau percaya dengan kemampuan Raja Lapangan?"
Jungkook menyumpah serapah hampir jantungan ketika kepala berambut oranye Taehyung mendadak muncul di sampingnya.
"Berhenti memaki kelinci tsundere, kau tidak mau mengucapkan selamat atau apa?" Lelaki itu mengibas surai oranyenya dengan dramatis hingga membuat mayat para fangirl yang diabetes bergelimpangan di tribun penonton sementara perut Jungkook mulas dadakan.
"Dari tadi Raja Lapangan terus, memangnya kau Kageyama Tobio hah?" Jungkook buru-buru menggeser duduknya jauh-jauh saat Taehyung mengambil tempat di sebelahnya.
"Ck, Sana yang memberikan julukan itu waktu kelas satu." Taehyung menggaruk tengkuk dan memalingkan wajahnya malu.
Dan saat itu juga Jungkook berkesimpulan bahwa makhluk absurd antah berantah yang nyasar ke dunia otaku itu ternyata juga bisa mempunyai rasa malu.
Tapi mendengar nama Sana kembali disebut, kerutan muncul tanpa sadar pada dahinya.
"Bagaimana kencanmu?"
Glup
"A-Apa?" Jungkook menoleh kaget, namunTaehyung memilih menghindari kontak mata langsung.
"Yah, dengan Tzuyu?" Taehyung mendecak ketus. Entah telinga Jungkook yang bermasalah atau apa, ia jelas-jelas mendengar suara Taehyung meninggi saat menyebut nama perempuan itu.
"Hmm.. gagal kurasa?" Alis tebal Jungkook naik sebelah. Niatnya urung untuk bertanya darimana Taehyung tahu soal perihal kencan brengseknya begitu death glare melayang ke arahnya. Lagipula sejak datang ke sekolah dan bertemu Taehyung Jungkook benar-benar nyaris lupa soal kencannya dengan Tzuyu yang bisa dibilang..
-Flashback-
"Maaf, kau terburu-buru ya? Ada urusan setelah ini?"
"Bukan, eh..lupakan saja." Jungkook menelan ludah gugup, matanya terpaku pada jam digital di layar ponselnya yang menunjukan pukul setengah tiga sore.
"Pergi saja."
"Ma-Maaf?"
Tzuyu tertawa kecil, seulas senyum tipis melengkung di bibirnya. "Pertandingan basket. Taehyung menunggumu kan?"
"Aku tahu semuanya." Tzuyu tersenyum masam menyadari raut terkejut di wajah Jungkook.
"Tapi kita bahkan belum memilih hadiah pertunangan untuk Suzy-noona." Jungkook memaksa tersenyum, meletakkan gelas kopinya yang telah kosong.
"Jungkook, entah kau terlalu polos atau terlalu baik." Tzuyu tertawa sumbang, mengingatkan Jungkook pada nenek sihir jahat di film-film disney yang ditontonnya waktu kecil dulu. "Tapi Suzy-noona tidak bertunangan. Walaupun hampir kepala tiga, semua tetangga di sekitar rumahku tahu kalau dia akan menjomblo seumur hidup karena tidak punya pekerjaan." Raut Tzuyu berubah serius.
Jungkook hampir kehilangan suaranya. Ia menelan ludah bulat-bulat sebelum dengan hati-hati membuka mulutnya. "Jadi.. kau berbohong?"
"Benar." Tzuyu menjawab tanpa basa basi. Wajahnya perlahan mengeras. "Semuanya.. hanya agar aku bisa keluar denganmu dan menjauhkanmu dari Kim Taehyung."
Jungkook meledak. Kedua alisnya menukik tajam dan matanya berkilat dingin. Jemarinya mencengkeram erat ponsel di satu tangan.
"Kau perempuan yandere gila."
Hanya sebaris kalimat dengan nada ketus itu yang terucap dari bibir Jungkook, sebelum ia menyambar jaket dan meninggalkan cafe lalu berlari ke pemberhentian bus terdekat.
-Flashback End-
...buruk untuk kencan pertamanya seumur enam belas tahun kehidupannya yang ngenes.
"Sudah kuduga tsundere sepertimu takkan bisa mendapatkan pasangan." Taehyung meledek, setengah lega. Dan Jungkook nyata mendengar lelaki itu menghela nafas dalam-dalam meski samar.
"Kau brengsek." Jungkook memaki. Hey, biarpun dia tidak tertarik dengan perempuan di dunia realita, diejek oleh orang yang sama-sama ngenes itu menyakitkan. Namun perasaan lega yang sama berdesir di dada Jungkook. Kelegaan terbesar karena Taehyung kelihatannya tak ingin membahas lebih lanjut soal kencan gagalnya dengan Tzuyu siang ini.
"Hei—apa yang kau lakukan?" Jungkook merasakan beban berat menimpa bahunya. Dan jantungnya hampir copot menyadari benda berat yang ada di bahunya itu adalah kepala Taehyung sendiri.
"Sebentar saja, pinjamkan bahumu." Taehyung mengerang, semakin pewe menyandarkan kepalanya ke bahu sempit beraroma teh hijau itu.
"O-Oke.." Jungkook memalingkan wajah meronanya ke samping. Sial, dia tidak akan heran kalau dia kena penyakit diabetes setelah ini.
1 detik..
5 detik..
"Se-Senpai..?" Jungkook memanggil pelan, jantungnya berpacu cepat. Dan suara dengkuran haluslah yang menyahutnya.
Jungkook melotot horror. Oi oi, serius?
WHAT THE HELL YANG BENAR SAJA TAEHYUNG TIDUR DI PUNDAKNYA INI BUKAN MANGA SHOUJO ASDFGHJKLLJ%^%&^&$!
Jungkook dengan gerakan super pelan perlahan memutar kepalanya kembali, sehingga ia kini bisa melihat langsung wajah tidur Taehyung yang selembut malaikat menempel di bahunya dan membuat frekuensi detak jantungnya mendadak meningkat. Aroma lemon familiar yang bercampur keringat dan bau matahari dari kaus putih yang dipakai Taehyung menggelitik penciumannya.
Jungkook hampir tak berani bernafas atau bergerak sejengkalpun. Angle ini pas sekali. Kedua biner hitamnya tak sanggup melewatkan barang sedetik untuk mengalihkan pandangan. Ini bukan pertama kalinya Jungkook melihat wajah Taehyung dari dekat, bahkan dalam beberapa insiden tak terduga ia pernah bertatapan dengan senpai brengsek itu dalam jarak yang lebih sempit lagi. Tapi perasaan kali ini berbeda. Ada rasa hangat yang berdesir aneh jauh di dalam dadanya dan berhasil membuat wajahnya terbakar lebih dari biasanya.
Dengan spontanitas yang muncul di kepalanya, Jungkook merogoh ponsel dari saku celananya dan mengaktifkan mode self camera.
Ckrek
Satu kali jepretan, Jungkook mendengus tertawa. Meski self camera, layar lebar ponsel pintar di genggamannya itu sebagian besar didominasi oleh wajah tidur Taehyung dengan mulut terbuka. Wajah Jungkook hanya mengintip malu-malu di balik surai oranye Taehyung yang berantakan.
"Jungkook.."
Jungkook tersedak, nyaris menjatuhkan ponselnya yang terangkat tinggi untuk memotret tadi. Dan lelaki bersurai gelap itu mendesah lega mendapati Taehyung masih tertidur nyenyak di bahunya. Mengigau, menggeliatkan badan makin merapatkan kepalanya pada bahu yang lebih muda bak anak kucing.
Jungkook bahkan tidak tahu mengapa kesempatan langka untuk menyaksikan wajah tidur seorang Kim Taehyung si pangeran anime yang digilai oleh para siswi dan ditakuti seantero Bighit High School ini menghampirinya. Ia tersenyum kecil menyadari belah bibir tipis senpainya sedikit terbuka. Aroma lemon dan surai oranye sehalus kapas Taehyung yang menggores pipi mulusnya sedikit membuatnya terlena dan merasa nyaman.
Mendadak kedua matanya terasa berat. Samar-samar, telinganya dapat menangkap suara Minatozaki Sana yang berteriak-teriak jauh di lapangan basket. Sepertinya setelah ini klub basket masih akan berlanjut latihan.
Oh ya. Jungkook masih belum mengerti kenapa insiden yang disaksikannya dari jendela perpustakaan itu bisa terjadi. Otaknya masih bisa membayangkan jelas insiden yang baru terjadi tempo lusa kemarin.
Jungkook penasaran, dia bisa saja membangunkan Taehyung saat ini juga dan memaksanya menceritakan kebenarannya.
Tapi tidak. Tidak mungkin Jungkook merusak suasana yang dibangun susah payah ini.
Masa bodoh dengan insiden itu. Masa bodoh dengan Minatozaki Sana. Masa bodoh Taehyung masih menyukai perempuan.
Kedua matanya semakin memberat. Kepalanya miring ke samping, surai hitam beradu dengan surai oranye.
Dan semuanya gelap.
TBC
Nekomana: nama plesetan dari tim Nekoman di anime Haikyuu!
Foul: pelanggaran(basket)
Crossover: dribble dengan cara memantulkan bola dari tangan kiri ke tangan kanan atau sebaliknya. (basket)
Midorima: Salah satu tokoh dari Kuroko no Basket yang dikenal sebagai miracle shooter.
Kageyama Tobio: Salah satu tokoh dari Haikyuu! Yang di masa lalunya disebut-sebut sebagai Raja Lapangan karena kejeniusannya sebagai setter.
A.N:
Ohayou minna! Yosh, akhirnya saya bisa lanjutin lagi ff ini^^ maaf atas keterlambatan update dan ceritanya yang tidak memuaskan. Lalu karena banyak rikues supaya jangan ditamatkan di chapter ini, saya ulur lagi deh ceritanya.
Dan untuk pertandingan basket yang nyelip di ff ini, saya mohon maaf dengan sangat kalau abal-abal T_T saya bukan anak basket, semuanya saya tulis berdasarkan pengalaman nonton pertandingan basket sekolah, nyari-nyari di internet dan nonton anime. Dan lagi anime sport yang lagi saya tonton adalah anime tentang voli jadi.. yah gitulah/nangis di pojokan.
Sebenarnya saya takut kalau ff ini menggantung tidak jelas karena belakangan pun saya lagi stuck sama otp dua dimensi super unyu dan sekseh/? Yaitu KageHina dan RivaEre, saya tidak bisa berhenti baca doujinshinya dan ini jadi salah satu alasan keterlambatan update juga /_\\ tapi saya berterimakasih sekali untuk para readers yang bersedia mengikuti cerita sampai ke sini/bow
Terimakasih banyak untuk koreksinya, semua review, fav, follow dan juga readers yang menyempatkan diri buat nyapa saya ^^
Sampai jumpa di chapter depan semuanya!
...
...
(OMAKE)
"Aku tak bisa percaya! Tertidur beradu kepala denganmu seperti itu!"
"Kk~ kau lucu sekali Kook!"
"Ewh, kau ngiler di blazerku, brengsek!?"
"Itu tanda cinta, Kookie~"
"Jim, ambilkan ember. Kurasa aku mau muntah sekarang."
"Omong-omong kau tidak lupa soal taruhannya kan?"
"..."
"..."
"Shit."
...
...
